Sunbae Or Hyung
.
All member BTS other
Family, Brother complex
School life (AU)
.
.
.
Part 15
.
.
.
Author Pov
Ruang OSIS masih dipenuhi oleh para anggotanya yang tengah mengadakan rapat. Tidak hanya anggota inti, para seksi juga ikut serta rapat untuk perayaan ulang tahun sekolah 2 bulan lagi. Yoongi yang masih menjabat sebagai ketua OSIS diminta untuk menjadi penanggung jawab langsung, meskipun seharusnya masa jabatannya sudah hampir berakhir. Sepertinya kepala sekolah menyukai cara kerja Yoongi, sehingga beliau meminta Yoongi untuk menunda pemilihan ketua OSIS baru.
Yoongi sendiri tidak keberatan, ia masih bisa menyesuaikan waktu belajarnya dan kegiatan OSIS. Karena bagaimanapun ia tidak kerja sendiri, ada budak-budak yang bisa ia perintah untuk menyelesaikan pekerjaannya. Tapi jelas, perayaan ini adalah tugas terakhirnya sebagai ketua OSIS.
"Meskipun aku menunda pemilihan ketua baru, tapi tetap saja kita harus mulai menyeleksi kandidat yang akan maju untuk pemilihan ketua OSIS. Bagaimanapun waktu yang kita miliki hanya sedikit karena bersamaan dengan persiapan acara ulang tahun sekolah. Jadi selain pengumuman acara ulang tahun, sampaikan juga mengenai pemilihan calon ketua OSIS periode ini. Setidaknya para kandidat bisa bersiap-siap dan bisa segera mengajukan pendaftaran. Cantumkan juga tanggal seleksi. Usahakan kita bisa memaksimalkan waktu yang ada."
Yoongi mengambil proposal yang sudah dibuat oleh sekretaris OSIS Bae Joo Hyun atau Irene, mengenai pemilihan ketua OSIS baru. Ia hanya perlu mengajukan proposal ini pada kepala sekolah, jadi setelah acara ulang tahun sekolah selesai, seleksi bisa langsung dimulai.
"Proposalnya sudah bagus. Nanti biar aku yang mengajukannya langsung. Karena kalau aku yang memberikannya sendiri, setidaknya kepala sekolah tidak terlalu banyak bicara" mendengar ucapan Yoongi semua anggota OSIS tersenyum, bahkan beberapa menahan tawa mereka. Memang siapa yang berani beradu argumen dengan Yoongi? Belum selesai bicara Yoongi sudah pasti membuat lawannya bungkam.
Ia beralih melihat proposal mengenai acara ulang tahun sekolah yang dibuat oleh Hoseok. Matanya meneliti setiap lembar kertas dan melihat susunan acara yang sudah mereka sepakati bersama.
"Bagus. Sekarang tinggal mengajukannya ke kepala sekolah. Tak perlu mencemaskan anggarannya, aku akan berusaha membuat kepala sekolah mengeluarkan uangnya untuk kesuksesan acara ini."
Lagi-lagi semuanya tertawa mendengar ucapan Yoongi.
CLEK
Terlihat Jungkook memasuki ruang OSIS. Setelah menutup pintu ia berdiri disamping Yoongi dan sedikit menundukkan kepala, "Maaf hyung. Aku terlambat"
Yoongi menatap Jungkook heran, "Darimana saja? Sepertinya kau hanya bilang ingin ke toilet sebentar"
"Tadi ada urusan sebentar hyung"
Yoongi menghelas napas, sepertinya ada yang tidak beres. "Baiklah. Segera duduk"
Jungkook dengan malas berjalan ke kursi tempatnya duduk yang berada disamping Yugyeom. Jungkook sebenarnya malas berurusan dengannya setelah apa yang terjadi pada Seokjin, namun ia tidak mau membuat orang lain curiga. Yugyeom sendiri tak berani menatap Jungkook, ia masih was was takut Jungkook benar-benar melaporkannya pada Yoongi, Tapi jelas percuma saja, Jungkook akan tetap melapor pada Yoongi tanpa sepengetahuannya.
"Baiklah. Setelah proposalnya disetujui, kita baru mulai menyiapkan semuanya. Tapi bukan berarti aku membiarkan kalian diam saja menunggu selama 2 bulan"
Yoongi menyeringai, "Yang kita undang ini salah satu band terkenal, belum lagi fans yang kemungkinan juga akan ikut datang. Jadi Irene dan Hoseok, mulai buat proposal pengajuannya pada pihak DAY6, setidaknya ketika mereka tidak bisa menghadiri acara, kita bisa menyiapkan proposal lagi untuk mengundang band lain. Sekalian tanyakan pada mereka, apakah akan membawa alat musik mereka sendiri atau kita yang menyiapkan. Suho dan Jaehwan, siapkan perlengkapan yang dibutuhkan, panggung dan juga sound systemnya juga."
Hoseok dan Irene mulai mencatat apa yang diminta Yoongi, sedangkan Jaehwan dan Suho juga mulai mencari perusahaan yang menyediakan sewa panggung dan sound systemnya.
"Jinyoung, Jisoo dan Doyoung, mulai cari sponsor yang akan ikut meramaikan acara ini. Setidaknya kita butuh 5 sampai 10 sponsor, kalau lebih dari itu bagus. Buat juga list tamu yang akan kita undang. Sekolah kita jelas memiliki alumni yang bukan sembarangan, namun kalian pilih yang sesuai dengan tema acara kita"
"Jimin, Yugyeom dan Jaebum, mulai cari perusahaan sewa tenda untuk acara bazaar, sekalian cari produsen makanan atau apapun yang akan kita ikutkan dalam bazaar. Untuk tahun ini aku tidak berminat meminta murid untuk ikut dalam bazaar. Aku ingin mereka menjadi konsumen, dan memberikan keuntungan pada produsen yang kita ajak kerjasama. Siyeon dan Haerin ikut bantu mencari juga, lebih banyak penjual yang ikut makin bagus. Karena acara ini terbuka untuk umum"
"Jungkook, Taehyung, Jaehyun, Mina, Wendy, dan Yuna, mulai kabari semua kelas untuk ikut mengisi acara. Kabari juga para ketua ekstakulikuler untuk ikut meramaikan. Kalau memang hanya sedikit yang ikut, kita tambah bintang tamunya"
"HAH?!"
Yoongi menghelas napas, "Aku kan sudah bilang, tak perlu memikirkan anggaran. Yang terpenting acara tahun ini harus lancar, meriah, dan memuaskan. Siapa suruh kepala sekolah mempercayaiku melakukan ini? Jelas aku tidak akan main-main"
"Makanya aku minta kalian yang sudah aku beri tugas, mulai jalankan sekarang. 2 bulan waktu yang sebentar, makanya aku meminta kalian mulai mengerjakannya agar tidak ada kendala lagi saat acara tiba. Kalau kita mulai menyiapkannya sejak awal, kita bisa meminimalisir kemungkinan terburuknya. Menyiapkan dari awal bisa memudahkan kita, jadi saat acara kurang beberapa hari lagi kita tidak terlalu kerepotan untuk mengurus banyak hal. Yang lain bisa membantu karena untuk saat ini itu saja yang perlu disiapkan. Untuk souvenir tamu undangan Namjoon dan Suran sudah mengurusnya. Sandeul dan Naeun sudah mengurus kue ulang tahun pesanan kepala sekolah. Jadi untuk saat ini masih itu saja. Ada yang ingin kalian tanyakan?"
Beberapa pertanyaan diajukan oleh para anggotanya. Yoongi dengan tenang menjawabnya sekaligus memberikan solusinya untuk kelancaran kegiatan mereka. Yoongi memang menjalankan tugas sebagai ketua OSISnya dengan baik. Banyak dari anggota yang menyadari itu. Meskipun Yoongi sukanya memerintah dan melakukan hal seenaknya, bahkan tak jarang memberikan pekerjaan berlebihan, hasil yang mereka capai selalu memuaskan. Jelas Yoongi tak pernah memberitahukan anggotanya kalau ia juga ikut berpikir keras saat ia di rumah. Yoongi juga ikut andil meskipun dibalik layar untuk kelancaran setiap kegiatan yang mereka lakukan. Itulah mengapa, Hoseok terkadang membawa berkas OSIS pulang ke rumah untuk ia berikan pada Yoongi.
"Baiklah, rapat kali ini cukup sampai disini. Kalau ada hal-hal yang ingin kalian sampaikan, kita lanjutkan dirapat minggu depan. Dan aku harap tiap tim yang aku beri tugas sudah ada progressnya saat rapat selanjutnya nanti."
Setelah Yoongi menutup rapatnya, para anggota mulai pergi meninggalkan ruang rapat setelah hampir 2 jam mendengarkan pengarahan Yoongi. Setelah membereskan barang-barangnya Yoongi juga ikut keluar diikuti Namjoon, Hoseok, Jimin, Taehyung, dan juga Jungkook.
Saat baru keluar ia melihat Seokjin yang tengah berbicara dengan seseorang yang belum ia kenal, "Jinnie"
Seokjin menoleh dan melihat Yoongi, "Hyung... sudah selesai?"
Seokjin berdiri dan memeluk Yoongi. Guanlin yang melihat itu berdiri dan sedikit membungkuk dihadapan Yoongi. "Perkenalkan saya Lai Guanlin. Teman sekelas Seokjin, sunbae"
"Dia yang menemaniku menunggu Yoongi hyung"
Yoongi menatap tajam Guanlin, ia belum pernah tau tentang teman Seokjin yang satu ini. Wonho juga tidak pernah membicarakan tentang Guanlin. Lantas bagaimana adik kecilnya bisa bersama dengan anak ini?
Yoongi lalu menatap Seokjin yang masih memeluknya, "Maaf hyung lama ya?"
Seokjin menggelengkan kepalanya, "Tidak apa-apa hyung. Guanlin tadi menemaniku disini, jadi tidak terasa lama. Hoam..." Yoongi menutup mulut Seokjin yang terbuka dengan tangannya.
"Ayo pulang"
Seokjin mengangguk dan beralih menatap Guanlin, "Terima kasih ya sudah mau menemaniku. Sampai jumpa besok" Seokjin tersenyum, sedangkan Guanlin hanya mengangguk kaku. Entah kenapa ia tidak hanya merasa Yoongi yang menatapnya, tapi 5 orang lain termasuk Jungkook juga ikut menatapnya.
"Hyung, ayo pulang dulu"
Ucapan Jungkook mengagetkan mereka. Jimin mengerutkan kepala menyadari sikap tak biasa Jungkook, "Kau baik-baik saja?"
Jungkook hanya mengangguk dan beranjak lebih dulu. Saat berada disamping Guanlin, ia menepuk pelan bahunya, "Terima kasih" yang dibalas anggukan pelan olehnya.
Yang lain masih terheran, belum lagi interaksi Jungkook dengan anak bernama Guanlin ini. Yoongi yang merasa juga harus berterima kasih kembali menatap Guanlin, "Terima kasih sudah menemani Seokjin"
"Sama-sama sunbae"
"Kalau begitu kami pergi dulu"
"Dadah Guanlin"
Guanlin balas melambai tangannya saat Seokjin pamit padanya. Setelah 6 orang sunbae dan Seokjin lewat, Guanlin menghelas napas. Entah kenapa tadi ia merasa terintimidasi dihadapan mereka ber enam. Menggelengkan kepala menghilangkan pemikirannya, Guanlin beranjak pergi menuju mobil jemputannya yang sudah menunggunya selama 2 jam itu.
.
.
.
Mereka baru sampai di mansion setelah 30 menit berkendara. Seokjin yang tertidur di mobil, Yoongi gendong dan meletakkannya di kamar. Setelah melepas sepatu dan menyelimuti adik kecilnya, Yoongi beranjak menuju ruang tengah tempat berkumpul mereka. Jungkook masih terlihat tak biasa saat Yoongi duduk disampingnya.
"Sejak kapan kau mengenal anak baru itu, Kook?"
Pertanyaan Yoongi berbuah helaan napas Jungkook. Ia lalu menatap hyung-hyungnya itu, "Anak itu satu-satunya yang tau kalau aku juga hyungnya Seokjin"
"Apa?!"
"Kau tidak main-main kan, Kook?!"
"Apa yang kau lakukan sampai dia tau?"
Jimin dan Taehyung menyerbunya dengan pertanyaan membuat kepalanya sakit. Jujur saja ia masih menyimpan emosi karena sikap Yugyeom tadi.
"Aku tidak sengaja, sungguh. Awalnya aku hanya berdua dengan Seokjin, tapi ternyata Guanlin juga ada disana, jadi terpaksa aku memberitahu kebenarannya"
Yoongi menganguk mengerti situasi Jungkook, "Kau percaya padanya?"
"Setidaknya aku lebih percaya padanya daripada Yugyeom"
Hoseok heran mendengar pernyataan Jungkook, "Ada apa dengannya?"
Jungkook menghela napas, dan menceritakan kejadian di toilet saat ia tak sengaja melihat Yugyeom mencengkram bahu Seokjin bahkan sedikit membentaknya. Guanlin juga sempat cerita padanya kalau kemarahan Yugyeom karena cemburu pada Chanyeol yang dekat dengan Seokjin.
"Aku sungguh tidak mengerti apa yang dipikirkan anak itu. Aku saja bahkan tak pernah membentak Seokjin, lantas beraninya dia? Memang dia siapa?! Kalaupun dia marah pada Chanyeol hyung, bukankah lebih baik marah padanya daripada harus menyakiti Seokjin atas kesalahan yang tidak pernah ia perbuat"
Seokjin bahkan tidak tau kalau dekat dengan Chanyeol membuat Yugyeom marah. Atau bahkan ia juga tidak mengerti maksud kemarahan Yugyeom padanya. Karena Seokjin hanya tau Chanyeol dekat dengannya hanya sebatas teman saja.
"Pantas saja aku melihat Yugyeom tidak nyaman berada didekatmu" ucap Hoseok. Ia sedikit kesal mendengar adik kecilnya mendapat perlakuan seperti itu.
Yoongi sendiri masih diam, begitupun Namjoon. Berbeda dengan Jimin dan Taehyung yang sudah terlihat kesal setelah mendengar cerita Jungkook.
"Aku tidak menyangka Yugyeom bisa melakukan itu pada Seokjin. Apa ia lupa dengan status Seokjin sebagai adik Yoongi hyung?" Jimin benar-benar ingin memukul anak itu.
"Kalau kemarahan sudah menguasainya. Ia tidak akan ingat apapun" Taehyung juga merasa kesal. Mereka selama ini berusaha bersikap lembut pada Seokjin, meskipun terkadang mood mereka sedang buruk, mereka tetap berusaha bersikap manis pada Seokjin. "Ada baiknya kita harus menjauhkan Seokjin dari Yugyeom, kan?"
"Dia akan tersisihkan dengan sendirinya" Yoongi menatap teman-temannya, "Seokjin jelas merasa takut dengan Yugyeom setelah kejadian itu, meskipun tidak terlalu berdampak buruk, tapi jelas Seokjin akan secara sengaja menjaga jarak dengan Yugyeom karena ketakutannya"
"Yoongi hyung benar. Seokjin jelas lebih tau, jadi jelas Seokjin akan sedikit menjaga jarak dengan Yugyeom. Kita tak perlu melakukan apapun, Seokjin akan melakukannya sendiri. Lagipula Seokjin juga memiliki teman yang peka, mereka dengan jelas akan menjauhkan Yugyeom dari Seokjin" Namjoon yakin dengan teman-teman Seokjin. Mereka bisa diandalkan.
Jungkook, Taehyung, dan Jimin menghela napas, menyadari apa yang dikatakan hyung mereka benar. Seokjin jelas lebih tau apa yang harus ia lakukan. Yang bisa mereka lakukan hanya mengawasi dari jauh saja. Lagipula teman-teman Seokjin juga bisa membantu mereka.
"Biarkan saja untuk sekarang. Masalah Yugyeom biar dia merasa bersalah sendiri nantinya. Aku juga akan bersikap seperti biasanya, jadi biarkan ia menganggap kalau kau tidak pernah mengatakan masalah itu padaku."
Yang lain mengangguk. Yoongi sendiri sedikit tidak nyaman, karena bagaimanapun setelah kejadian Yugyeom, ia tidak memepercayai siapapun yang mendekati Seokjin.
"Menurutmu Guanlin itu bagaimana, Kook?"
Pertanyaan Yoongi membuat Jungkook terdiam. Ia belum begitu tau tentang anak itu, "Aku tidak tau, hyung. tapi untuk saat ini aku lebih percaya padanya. Kalaupun ada niat jahat, Guanlin tidak akan mengikuti Seokjin sejak awal"
"Mengikuti Seokjin?"
Jungkook mengangguk, "Yoongi hyung meminta Seokjin untuk menunggu di depan ruang OSIS kan? Ternyata Guanlin juga mengikuti Seokjin kesana. Ia sembunyi jadi Seokjin tidak tau keberadaannya. Dan saat Yugyeom bertemu Seokjin juga, Guanlin masih disana. Bahkan ia juga mengikutiku ke taman belakang saat mencoba menenangkan Seokjin"
"Sainganku baik sekali" ucap Taehyung berbinar.
"Saingan apa?" tanya Jimin.
"Saingan memperebutkan cinta Seokjin" Taehyung tersenyum.
Jungkook mendengus, "Bukannya kau harus waspada padanya, bisa saja Seokjin lebih mencintainya daripada kau, hyung"
Taehyung menggeleng yakin, "Kalau saingannya baik, maka aku harus menjadi lebih baik lagi. Jadikan saingan sebagai motivasi"
"Kau gila Tae"
"Yak! Park Jimin!"
Jimin hanya terkekeh melihat Taehyung cemberut. Pemikiran Taehyung kadang sangat mengejutkan.
"Tapi kalau melihat sikap Seokjin padanya, anak itu mungkin memang baik. Seokjin terlihat nyaman saat bersamanya" ucap Namjoon. Ia melihat saat Seokjin tersenyum pada Guanlin. Seokjin tampa baik-baik saja dan tidak terganggu sama sekali dengan keberadaannya.
"Menurutku juga begitu. Aku rasa dia masuk dalam jajaran anak yang baik hyung" ucap Hoseok.
Yoongi mengangguk. Ia sedikit percaya pada Guanlin meskipun ia tidak percaya dengan maksud tersembunyi anak itu. Sudah jelas ia memang memiliki ketertarikan tersendiri pada Seokjin, bahkan rela meluangkan waktunya untuk mengawasi Seokjin. Alasan apalagi kalau bukan karena cinta.
"Baiklah aku rasa dia memang baik. Kalaupun dia melakukan hal buruk, teman Seokjin akan bereaksi padanya." yang lain mengangguk menyetujui.
Yoongi menghela napas, "Aku akan melihat Seokjin dulu. Kalian istirahatlah"
.
Pagi kembali hadir menyapa mansion tempat Seokjin dan hyungnya tinggal. Seokjin yang sudah selesai menyiapkan diri turun menuju ruang makan. Ia sudah melupakan kejadian antara dirinya dan Yugyeom. Namun Seokjin merasa ia harus sedikit menjauh dari sunbaenya itu, karena Seokjin sedikit takut sunbaenya itu akan marah-marah padanya lagi. Sedangkan Seokjin merasa tidak melakukan kesalahan apapun.
Mengenai hubungannya dengan Chanyeol sunbaenya itu, mereka hanya teman. Masa karena mereka jadi teman Yugyeom marah padanya? Seokjin jadi heran sendiri. Memang ada masalah kalau Seokjin berteman dengan sunbaenya?
Seokjin menggelengkan kepala dan melanjutkan langkahnya, "Pagi hyung"
Diruang makan sudah ada hyung-hyungnya yang tengah sarapan. "Pagi Seokjinie" ucap Jungkook lalu beranjak dan menggendong Seokjin menuju tempat duduknya. Seokjin sendiri tersenyum dang mengecup pipi Jungkook.
Setelah duduk, ia juga menyempatkan mencium pipi Hoseok dan Taehyung yang duduk disampingnya. Sedangkan Jimin dan Namjoon beranjak untuk mencium pipinya. Berbeda dengan Yoongi yang hanya tersenyum. Lagipula ia bisa mencium adik kecilnya saat di mobil.
Seokjin mulai memakan sarapannya. Tak lupa Ahn ahjumma sudah meletakkan bekal didalam tasnya untuk makan siang. Setelah sarapan mereka segera berangkat, dan seperti biasa Seokjin satu mobil dengan Yoongi. Sampai di sekolah suasana masih belum ramai karena masih sekitar 30 menit lagi jam masuk. Sebelum turun Yoongi mengelus rambut Seokjin dang mencium keningnnya.
"Belajar yang baik ne"
Seokjin tersenyum, "Ne hyung"
Saat mereka berdua keluar dari mobil terdengar teriakan yang memanggil Seokjin. Dan saat menolehkan kepalanya ia melihat Wonho yag berjalan kearahnya.
"Pagi Seokjin. Selamat pagi Yoongi hyung" terseyum menatap Seokjin, dan sedikit menunduk saat menyapa Yoongi.
"Pagi juga. Kalau begitu hyung pergi dulu ne Seokjin. Wonho titip Seokjin" Yoongi mengelus pelan rambut Seokjin dan beranjak pergi.
Wonho mengangguk, "Ne hyung" Wonho lalu menggandeng tangan Seokjin dan membawanya masuk. Belum sampai ke kelas terdengar teriakan lagi yang sedikit menganggu mereka.
"Wonho! Seokjin!" tidak perlu menoleh mereka sudah tau kalau itu suara Woojin. Woojin berlari dan mengalungkan lengannya dileher Seokjin dan Wonho.
"Selamat pagi"
"Pagi"
"Hai Seokjin, Wonho" Jihoon menyusul dari belakang dan ikut melangkah menuju kelas mereka. Suasana sangat menyenangkan saat mereka memasuki kelas sambil bercanda bersama. Seokjin yang akan duduk terheran saat melihat sebungkus cokelat dengan note yang menempel diatasnya. Seokjin mengambil note tersebut dan terkejut. Wonho yang melihatnya menyadari gelagat aneh Seokjin.
"Ada apa Seokjin?" Seokjin hanya menggeleng dan mengambil cokelat itu untuk ia berikan pada Wonho.
"Dari Yugyeom sunbae"
Wonho yang mengerti sikap Seokjin menerima cokelat itu tanpa bertanya. Seokjin duduk masih memikirkan isi note dari Yugyeom. Sebaris kata yang kembali membuatnya ingat akan ekspresi marah Yugyeom.
'Maafkan aku'- YG
Seokjin menghela napas.
"Pagi Seokjin"
Belum selesai perasaan takutnya, sudah harus bertambah perasaan tak nyaman saat Seulgi berdiri disampingnya dengan senyum manis yang dibuat-buat. Belum Sempat Seokjin menjawab. Ada seorang siswi yang menabraknya, entah sengaja atau tidak.
"Kau lagi-kau lagi...Dari kemarin aku melihatmu menghalangi jalan terus, Kang Seulgi. Kalau kau ingin mengencani Seokjin bilang saja terus terang" ucapan ketus itu membuat Seulgi meolehkan pandangannya. Seharusnya ia yang marah karena ditabrak.
"Bukankah seharusnya aku yang marah padamu karena menabrakku Kim Sejeong?"
Kim Sejeong, salah satu teman sekelas Seokjin menatap tajam Seulgi. "Kau ini sering sekali berdiri disini. Yang kau cari itu apa?" Sejeong sebenarnya tau kalau akhir-akhir ini Seulgi sering mencari perhatian Seokjin. Tidak tau apa yang ingin dilakukannya. Tapi tolong lihat keadaan sekitar, ia harus terus-terusan melewati Seulgi untuk menuju bangkunya.
"Bukan urusanmu"
"Kalau itu mengangguku, itu urusanku"
Seokjin sendiri hanya terdiam melihat pertengkaran 2 siswi yang membuatnya sedikit tenang karena Seulgi fokus membalas makian Sejeong. Wonho yang disampingnya seolah menikmati pemandangan pertengkaran itu, apalagi Woojin dan Jihoon mereka bahkan sudah berbalik dari bangku mereka untuk melihat pertunjukan gratis. Banyak siswa siswi yang masuk ke kelas memandang mereka berdua dengan aneh karena pagi-pagi sudah berolahraga mulut saja.
"Awas saja kau Sejeong" Seulgi yang sudah lelah berdebat kembali ke bangkunya dengan memandang Sejeong tajam.
Sejeong sendiri menjulurkan lidahnya mengejek teman sekelasnya yang tidak mau kalah dan seenaknya. Ia lalu menoleh kearah Seokjin, Wonho, Jihoon, dan Woojin yang menatapnya. Sejeong menunjukkan senyum manisnya. "Sepertinya kalian sangat menikmatinya ya?"
Mereka bertiga kecuali Seokjin tertawa. "Seru sih melihat wanita itu kalah setelah berdebat denganmu" ucap Woojin bangga. Jujur saja ia masih sangat membenci wanita itu yang suka sekali menganggu hari-hari Seokjin.
Sejeong hanya mengedikkan bahu seolah itu bukan masalah, "Wanita seperti itu memang harus dikasari baru mengerti kesalahannya. Masa matanya tak bisa melihat kalau Seokjin merasa tak nyaman? Dia mungkin pura-pura suka padamu"
Seokjin belum begitu mengenal Sejeong, tapi anak ini sama cerewetnya seperti Wonho dan Woojin. Sepertinya mereka cocok.
"Tentu saja. Kalau kau tau dari awal masuk sekolah Seulgi sudah menganggu Seokjin" Wonho sedikit berbisik memberi informasi padanya. Seperti pemikiran Seokjin, orang cerewet pasti cocok satu sama lain.
"Wah benar-benar. Awas saja dia menganggumu lagi Seokjin, aku akan maju menghadapinya"
"Eh?"
Sejeong tertawa, "Kita memang belum kenal lama, tapi melihatmu tak nyaman saat ada dia, aku kasihan juga. Lagipula aku juga tidak suka dengannya, wajahnya penuh dengan kebohongan"
Seokjin tidak tau harus bereaksi seperti apa, meskipun berbeda dengan Seulgi, ia masih merasa kurang nyaman saat berada didekat teman wanitanya. Dan sepertinya ia harus terbiasa mulai sekarang.
"Baiklah aku akan kembali ke mejaku. Dah semua" Sejeong melangkah dan saat didekat meja Seulgi ia sengaja mengggebrak mejanya hingga sang empunya terkejut. Sejeong tertawa sat melihat wajah marah Seulgi. Ia sungguh tidak peduli.
Woojin yang menyadari teman sebangkunya tidak bersuara menatap wajah memerah Jihoon, yang ternyata mengikuti pergerakan Sejeong. "Hey"
Jihoon terkejut saat Woojin menepuk bahunya pelan. Ada rasa berdebar saat ia melihat siswi tersebut dengan berani adu mulut dengan Seulgi. Belum lagi sikapnya pada Seokjin membuatnya semakin bertambah manis.
Jihon menepuk-nepuk pipinya menghilangkan pikiran bodoh yang hinggap. Sedangkan Woojin dan Wonho sudah menggoda Jihoon yang berusaha menyembunyikan raut malunya. Menyisakan Seokjin yang masih terpaku dengan kejadian barusan. ia hanya mampu menggelengkan kepala. Memang seperti kata Taehyung, wanita terkadang menakutkan.
Tapi benarkah perkataan Taehyung hyungnya itu? Buktinya Sejeong tidak semenakutkan itu dilihat dari wajahnya. Ia malah terlihat menarik karena berani mengutarakan pendapatnya. Seokjin sepertinya harus belajar darinya. Ia tersenyum, setidaknya harinya tidak terlalu buruk.
.
.
.
tbc
Haiiiiii
terima kasih atas semua dukungan kalian untuk cerita ini ya
maaf kalau masih ada typo yang bertebaran
semoga cerita ini masih bisa menghibur kalian
