Sunbae Or Hyung

.

All member BTS other

Family, brother complex

School life (AU)

.

.

.

Part 16

.

.

.

Author Pov

Seharian berada di sekolah dan mendapat banyak tugas jelas menjadi beban tersendiri untuk beberapa murid. Belum lagi sebentar lagi akan diadakan perayaan ulang tahun sekolah. Mereka jelas harus menyiapkan banyak hal untuk acara yang akan diadakan 1 bulan lagi itu, tanpa harus menunda tugas-tugas sekolah mereka.

Di kelas Seokjin, Lee ssaem sebagai wali kelas meminta anak-anaknya ini untuk memilih siapa perwakilan yang akan tampil dicara ulang tahun sekolah. Karena akan ada band musik terkenal, Lee ssaem sepakat untuk menampilkan permainan musik juga. Bisa akustik atau band, instrumental atau acapella, solo atau bahkan duet, yang disambut baik oleh semua siswa yang menyukai musik.

Seokjin hanya diam saja melihat teman-temannya bersemangat, sedangkan Wonho disampingnya sudah mulai ribut untuk ikut memilih kandidat yang akan tampil nanti. Jihoon dan Woojin juga dengan semangat menunjuk Lisa dan Chung Ha untuk battle dance meskipun mereka tau itu diluar tema yang mereka sepakati, yang disambut pelototan 2 siswi tersebut.

Akhirnya setelah perbincangan panjang, menunjuk sana sini, dan keributan lainnya, Lee ssaem menunjuk Jung Sewon dan Park Jihyo untuk tampil menyanyi, dengan Sewon yang memainkan gitarnya. Yang disambut teriakan selamat dari teman-temannya. Seokjin ikut bertepuk tangan saat 2 teman sekelasnya itu terpilih. Setidaknya acara pemilihan wakil kelas sudah selesai.

"Baiklah karena sudah ditentukan siapa yang akan tampil, Woojin, minta tolong nanti beritahukan pada Taehyung tentang hal ini. Kau tau dimana kelas sunbaemu itu kan?"

Woojin mengangguk. Ia mencatat nama perwakilan kelas mereka untuk ia berikan pada sunbaenya itu.

"Untuk Sewon dan Jihyo, terserah kalian ingin menampilkan lagu apa, ssaem membebaskan kalian. Tapi ssaem harap kalian menampilkan yang terbaik. mengerti?"

"Mengerti ssaem"

Lee ssaem mengangguk, "Kalau begitu kelas sampai hari ini, jangan lupa tugas rumah kalian minggu depan."

"Ne ssaem"

Lee ssaem keluar bersamaan dengan jam istirahat. Yang lain nampak heboh membicarakan perayaan ulang tahun sekolah yang katanya mengundang band terkenal. Sepertinya ketua OSIS mereka ingin membuat acara yang meriah. Yang lain mulai beranjak menuju kantin meninggalkan 4 orang yang masih duduk ditempat duduk mereka.

Seokjin masih membereskan bukunya, menghiraukan 3 temannya yang masih membicarakan acara perayaan tersebut.

"Sungguh Yoongi hyung benar-benar hebat. Acara ulang tahun sekolah mengundang band terkenal" ucap Woojin masih semangat.

Wonho mengangguk, "Jelas sekali. Tapi ku dengar ini acara terakhir sebelum Yoongi hyung mengundurkan diri kan?"

"Memang seharusnya acara ini sudah menjadi tanggung jawab ketua OSIS baru. Tapi pemilihannya malah dilakukan setelah acara perayaan. Kan kasihan Yoongi hyung" ucap Jihoon. Ia melihat di mading sekolah tentang pendaftaran calon OSIS baru yang akan diadakan setelah acara ulang tahun sekolah.

Jihoon yang tak mendengar suara Seokjin sejak tadi, bahkan terlihat tak bersemangat itu melirik temannya yang hanya menatap mereka berbicara. Tangannya bergerak untuk menempel di kening Seokjin yang dihadiahi tatapan bingung sang empunya. "Jinnie sakit?"

Wonho dan Woojin langsung menatap Seokjin lekat. Mereka berdua baru sadar kalau Seokjin memang tidak sesemangat biasanya. Seokjin menggeleng, ia baik-baik saja. Hanya sedikit lemas saja, entah kenapa.

"Aku baik kok. Memangnya dahiku panas?" tanyanya pada Jihoon yang tangannya masih melekat didahinya, lalu merambat untuk menangkup pipinya.

"Tidak. Tapi sedikit hangat. Kau yakin baik-baik saja kan?"

Seokjin mengangguk mendengar perkataan Jihoon. Kali ini Wonho yang menagkup pipi Seokjin dan menghadapkan kearahnya. Dan memang pipinya sedikit hangat. Dan dilihat dari 2 netra Seokjin yang menatapnya memang terlihat sedikit sayu.

"Seokjin ingin sesuatu, hm?" tanya Wonho lembut. Ia mengelus pipi Seokjin dan berharap bisa membuatnya lebih baik. Sedangkan Woojin berdiri disamping Seokjin dan menariknya mendekat, menyandarkan Seokjin pada tubuhnya.

Jihoon yang melihat Seokjin tampak lemas mungkin karena tanda-tanda dia akan sakit. Karena selama mengenal teman manisnya ini, Seokjin adalah anak yang selalu ceria. Jadi tidak mungkin Seokjin tiba-tiba lemas dan hanya diam saja seperti ini.

"Hei teman-teman. Ayo ke kantin" Daniel memasuki kelas mereka dengan tersenyum seperti biasanya. Saat mendekati mereka, ia bisa melihat Seokjin yang tampaknya hampir tertidur. "Seokjin kenapa?" ucapnya pelan, takut membangunkan Seokjin.

"Kami juga tidak tau. Sejak tadi ia hanya diam dan tubuhnya sedikit hangat. Mungkin mau sakit" ucap Jihoon menjawab pertanyaan Daniel.

Daniel mengangguk mengerti, kasihan juga teman manisnya ini.

"Kalau begitu aku pesankan makanan untuk kalian ya, kita makan disini saja untuk menemani Seokjin"

Woojin, Wonho, dan Jihoon terpengarah dengan ucapan Daniel. Entah mengapa sikap teman mereka ini sangat perhatian. Dan itu membuat mereka senang, Daniel adalah teman yang baik. Mereka mengangguk sambil tersenyum. Mereka sangat senang dengan perlakuan Daniel.

"Terima kasih ya. Maaf merepotkan" ucap Wonho. Ia merasa terbantu sekali dengan bantuan Daniel.

"Tentu saja tidak. Kalian kan temanku. Sudah seharusnya aku membantu kalian" ucapnya tersenyum dan beranjak untuk menuju kantin. Setelah itu hanya keterdiaman diantara mereka karena takut membangunkan Seokjin.

Beberapa saat kemudian Daniel datang dengan membawa beberapa bungkus roti dan susu kemasan, serta bungkusan makanan lainnya. Woojin lalu melepas pelukannya dan berjongkok disamping Seokjin. dengan pelan ia menepuk pipi Seokjin untuk membangunkannya.

"Seokjin, hei.. ayo bangun. Kau belum makan" Seokjin yang merasa gerakan dipipinya membuka mata. Ia melihat Woojin tersenyum menatapnya. "Ayo makan dulu. Kotak bekalmu ditas kan?" yang dibalas anggukan Seokjin.

Wonho lalu mengambil bekal Seokjin setelah mendapat persetujuan Seokjin. Sedangkan Jihoon merapikan meja untuk tempat mereka makan. Seokjin mengedarkan pandangannya dan melihat sosok Daniel tepat disebelah Jihoon.

"Daniel..."

Daniel menoleh dan menatap Seokjin, "Hai Seokjin" yang dibalas senyum kecil oleh Seokjin.

Daniel membantu Jihoon untuk meletakkan makanan mereka, dan Wonho menyiapkan bekal Seokjin. Meskipun terlihat tidak bersemangat, Wonho tetap ingin Seokjin makan. Takutnya nanti malah tambah sakit. Seokjin sendiri malah semakin lemas, makanan yang biasanya terlihat enak dimatanya itu malah membuatnya mual.

Mereka makan dengan sedikit pembicaraan, sedangkan Seokjin masih terdiam dan hanya melihat makanannya. Wonho yang berada disampingnya menyadari kalau Seokjin tampak tak ingin makan. Ia mengambil sendok ditangan Seokjin dan mengambil makanannya untuk ia suapkan pada Seokjin, "Ayo buka mulutmu"

Yang lain nampak diam saja membiarkan Wonho mencoba menyuapi Seokjin. Karena bagaimanapun Seokjin tetap harus makan. Karena takut tubuhnya semakin lemas. Tapi Seokjin menggelengkan kepalanya dan menunduk, ia sungguh malas untuk makan. Dan tanpa disadari kepalanya malah sakit sekarang.

"Ayolah sedikit saja ne? Nanti kau tambah lemas" ucap Wonho masih memaksa Seokjin yang masih membungkam mulutnya. Ia lalu meletakkan kepalanya dimeja dan matanya terpejam.

"Bagaimana ini?" ucap Wonho menatap 3 temannya. Ia khawatir pada Seokjin, tapi kalau dipaksa takut menangis anaknya.

"Coba biarkan saja dulu. Setelah selesai makan kita coba bujuk Seokjin lagi" ucap Jihoon. Ia juga khawatir. Tapi kalau Seokjin tidak mau ya susah juga. Akhirnya mereka melanjutkan makan dan membiarkan Seokjin tidur sebentar. Daniel tak bisa melakukan apa-apa karena ia juga tidak tau cara membujuk orang. Ia hanya bisa berdo'a Seokjin akan baik-baik saja.

Setelah selesai makan, Woojin yang membantu Jihoon membereskan meja mereka dibantu Daniel lagi. Sedangkan Wonho kembali membujuk Seokjin seperti yang mereka sepakati.

"Jin, hei..Seokjin..bangun" ucap Wonho sambil menepuk pelan lengan Seokjin. tak pergerakan sama sekali. "Seokjin...kau tidur kan?" ucap Wonho was was karena panggilannya tidak dijawab. Tangannya yang tadi menepuk lengan Seokjin beralih kepunggugnya dan menepuknya pelan.

"Seokjin"

"Kenapa?" tanya Woojin yang baru selesai buang sampah ia melihat Wonho yang tampak resah.

"Seokjin tidak mau bangun" ucap Wonho membuat Woojin bergerak menuju arah Seokjin. Ia melihat Seokjin yang tampak tenang. Saat tangannya menyentuh kening Seokjin, tangannya terasa panas. Dan ya, Seokjin demam.

"Seokjin...hei, bangun" ucap Wonho mengguncang tubuh Seokjin.

"Ada apa?" ucap Jihoon datang bersama Daniel.

Woojin dan Wonho masih fokus membangunkan Seokjin yang sama sekali tidak bergerak. Jihoon segera berlari dan ikut membangunkan Seokjin, "Seokjin, bangun" Jihoon mengambil sebelah tangan Seokjin dan menggenggamnya, terasa hawa panas dari tubuh Seokjin.

"Seokjin tidak pingsan kan?" ucap Daniel yang masih bingung.

"HAH?!" mereka bertiga kaget tentu saja, bahkan Daniel juga terkejut dengan kata-katanya sendiri.

"Kalian kenapa?" nampak Guanlin baru masuk kelas saat mendengar teriakan mereka bertiga. Tampak ditangannya terdapat buku, sepertinya dari perpustakaan. Matanya melihat Seokjin yang telungkup dimeja. "Seokjin kenapa?"

"Pingsan" ucap mereka berempat bersamaan. Mereka panik sampai tidak tau apa yang mereka katakan barusan.

Guanlin langsung berlari kearah Seokjin tak menghiraukan buku yang berjatuhan. Tangannya langsung menyibak rambut Seokjin, dan ia bisa merasakan panas ditubuh Seokjin.

"Dia demam"

"Bagimana ini?!" Wonho yang sudah sadar langsung panik.

"Bawa ke UKS cepat!" teriak Jihoon, membuat Woojin dan Daniel sadar. Mereka segera membantu mengangkat Seokjin.

"Biar aku saja. Kalian panggil Yoongi sunbae atau Jungkook sunbae saja" ucap Guanlin langsung mengambil alih Seokjin dan menggendongnya.

"Kenapa Jungkook sunbae?" pertanyaan Woojin membuat Guanlin terpaksa berhenti. Dalam hati ia mengutuk dirinya sendiri yang tak sengaja menyebut nama salah satu kakak Seokjin itu.

Guanlin membenahi posisi Seokjin sebelum berbalik menghadap mereka berempat yang ada dibelakangnya, "Nanti saja aku jelaskan. Lebih baik kalian panggil sekarang, aku harus membawa Seokjin dulu" ucap Guanlin lalu sedikit berlari menuju UKS.

Sedangkan Wonho dan Jihoon langsung berlari menuju ruang OSIS, sedangkan Daniel dan Woojin segera menuju kelas Jungkook. Mereka tidak terlalu mengerti mengapa Guanlin meminta Yoongi atau Jungkook. Maka dari itu mereka memangil keduanya saja.

.

Di ruang OSIS, Yoongi masih berbicara dengan Jinyoung dan Suho mengenai sponsor serta persiapan perlengkapan acara. Bersyukur pihak DAY6 menyetujui proposal mereka, hingga dipastikan acara tahun ini benar-benar meriah. Tugas-tugas anggota lain juga sudah hampir selesai, mereka tinggal menyiapkan beberapa hal dan mengkoordinasi lagi tentang tugas masing-masing untuk acara bulan depan tersebut.

"8 sponsor aku kira sudah cukup, tapi kalau ada pihak yang menghubungimu dan ingin menjadi sponsor acara kita, terima saja. Aku hanya membatasi 10, tapi kalau lebih ya bagus-bagus saja. Yang terpenting tetap kontak mereka untuk keberhasilan acara ini, pihak sponsor tetap harus tau hal-hal yang ada dalam acara. Proposalnya sudah kau berikan pada mereka kan?"

"Sudah, Yoon. Saat mereka menyetujuinya aku segera meminta Doyoung untuk mengirim proposalnya. Jisoo masih sibuk membuat undangan untuk para tamu dan alumni sekalian membantu Suran mengemas souvenir. Dan memang ada 3 sponsor yang menghubungiku kemarin, kalau menurutmu tidak apa-apa aku akan segera mengkonfirmasinya sekarang" Jinyoung kembali menatap laptopnya untuk segera mengirim email pada 3 sponsor baru mereka.

Suho disebelah Jinyoung masih berkutat dengan proposal pengajuan peminjaman panggung. Lalu menyerahkan bukti persetujuan pada Yoongi, "Untuk sound sytemnya sudah Jaehwan handle dan itu buktinya. Tinggal panggungnya saja. Mereka sebenarnya sudah setuju kerja sama dengan kita, hanya saja mereka ingin lebih tau tentang acara kita, jadinya aku harus mengirim proposal ini" ucapnya mengangkat proposal yang ia buat. "Sepulang sekolah aku akan kesana untuk memberikan ini"

Yoongi mengangguk. Meskipun acaranya masih 1 bulan lagi, Yoongi memang ingin semuanya sudah siap agar nantinya tidak kerepotan. Ia juga sudah mendapat laporan dari Jimin kalau persiapan tenda untuk bazaar juga sudah selesai, kelompok mereka tinggal mencari produsen yang akan meramaikan bazaar.

Tok Tok

"Masuk"

Yoongi membereskan berkas laoran teman-temannya saat melihat Wonho dan Jihoon memasuki ruang OSIS dengan raut wajah panik.

"Ada apa?" Yoongi merasa ada sesuatu yang buruk terjadi.

"Maaf hyung, Seokjin..." ucap Wonho terbata karena masih berusaha bernapas dengan benar.

Yoongi lantas berdiri begitupun Suho dan Jinyoung saat mendengar nama Seokjin. "Ada apa dengan adik Yoongi?" tanya Suho, Yoongi masih menunggu 2 anak ini bicara.

Jihoon yang masih terengah menatap Yoongi, "Seokjin...hah..UKS..."

Tanpa menunggu penjelasan Jihoon, Yoongi langsung berlari melesat keluar ruangan. Suho dan Jinyoung masih terkejut mendengar perkataan Jihoon, "Seokjin kenapa ada di UKS?" tanya Jinyoung pelan.

"Saat istirahat Seokjin sedikit panas, dan barusan ia pingsan" ucap Wonho yang sudah membaik. Wajahnya nampak memerah karena mereka berlari menuju ruang OSIS. Suho dan Jinyoung mengangguk. Mereka tidak berniat mengejar karena sebentar lagi sudah jam masuk.

"Terima kasih sudah kemari ya. Lebih baik kalian kembali ke kelas, sebentar lagi masuk. Yoongi mungkin akan membawa Seokjin pulang" ucap Suho. Ia yakin Yoongi akan bolos untuk adiknya itu.

Jihoon dan Wonho saling memandang. Ya mereka yakin juga Yoongi akan melakukan itu. "Kalau begitu kami permisi sunbae" ucap Jihoon sebelum pamit keluar bersama Wonho. Jinyoung dan Suho hanya mengangguk sebagai balasan.

"Kita ke kelas saja" ucap Jinyoung lalu beranjak pergi diikuti Suho.

.

Guanlin masih menggendong Seokjin yang tak sadarkan diri. Di koridor ia sadar banyak yang menatapnya, namun ia tak peduli. Bahkan ia juga melihat Yugyeom yang tengah bicara dengan temannya. Karena tidak ingin sunbaenya itu melihat Seokjin, Guanlin semakin merapatkan tubuh Seokjin kearahnya. Dan saat ia melewati Yugyeom beruntung mereka hanya melihatnya sekilas.

Yugyeom sendiri hanya diam saat melihat adik kelasnya berlari dengan membawa siswa lain digendongannya, sepertinya pingsan. Ia hanya berharap mereka baik-baik saja. Setelah anak itu lewat Yugyeom malah berkhayal, berharap dalam hati ia bisa seperti itu saat Seokjin tengah sakit. Yugyeom menggelengkan kepalanya saat membayangkan Seokjin sakit. Seharusnya ia berharap Seokjin selalu sehat, bukan malah sakit.

"Kau kenapa?" tanya Bambam, teman yang tengah bicara dengannya.

Yugyeom menggeleng, "Tidak apa-apa"

Mereka terus bicara sampai matanya tak sengaja melihat Jungkook berlari kearah anak tadi yang menggendong temannya, ia juga melihat sebelah tangannya membawa tas seseorang. 'Mau kemana dia?' memang setelah kejadian dirinya dan Seokjin, Jungkook sedikit berbeda. Tapi mereka masih cukup dekat meskipun tak seakrab dulu. Masih belum jelas juga kenapa sikap temannya sedikit berubah.

"Ayo masuk" ucap Bambam merangkul bahu Yugyeom dan masuk ke kelas mereka.

.

.

.

Guanlin sampai dengan sedikit terengah karena ia memang sedikit berlari. Saat membuka pintu ia bisa melihat dokter jaga yang masih ada disana terkejut melihatnya membawa Seokjin.

"Kenapa dia?"

Guanlin meletakkan Seokjin diranjang dan membiarkan sang dokter memeriksa keadaannya, "Dia demam. Dan sekarang pingsan"

"Pingsan?!" teriakan itu mengejutkan Guanlin. Jungkook terengah disampingnya. Matanya terlihat sangat khawatir dan beranjak menuju sebelah Seokjin. Ia meletakkan tas yang ia bawa yang merupakan tas Seokjin itu di lantai. Memang tadi Woojin dan Daniel menemuinya dan memberitahukan keadaan Seokjin sekaligus menyerahkan tas adiknya ini.

Jungkook hanya mampu diam saat dokter masih sibuk memeriksa Seokjin. Tapi belum selesai pemeriksaannya, pintu UKS kembali terbuka dan Yoongi yang berada disana. Ia langsung melesat kearah Seokjin yang masih belum sadar.

"Kenapa bisa begini?"

Jungkook dan Guanlin tidak mampu menjawab pertanyaan Yoongi karena memang mereka tidak tau apa yang terjadi pada Seokjin. Dokter jaga yang memeriksa Seokjin lantas menatap 3 orang yang masih berada disana.

"Jangan khawatir, Seokjin baik-baik saja. Suhunya memang tinggi tapi itu hanya demam biasa. Dia pingsan mungkin karena terlalu lemas dan pusing karena suhu yang tinggi. Akan aku siapkan obat untuknya"

Memang UKS di SHS seperti klinik dokter pada umumnya. Karena memang pihak sekolah ingin memaksimalkan kualitas fasilitas sekolah agar bisa menunjang kegiatan sekolah secara maksimal. Lagipula pihak sekolah juga menyewa salah satu dokter untuk menjaga di UKS selama jam sekolah.

Yoongi, Jungkook, dan Guanlin bernapas lega mendengar penjelasan dokter tersebut. Meskipun masih sedikit khawatir tentang Seokjin yang masih belum sadar. Yoongi mendekat dan menggenggam tangan Seokjin yang terasa panas, dan sebelah tangannya mengelus pelan rambutnya.

"Kau membuatku sangat khawatir, Jinnie." Ucap Yoongi lantas mencium kening Seokjin. Jungkook masih diam begitupun Guanlin.

"Terima kasih ya" suara pelan Jungkook mengagetkan Guanlin. Ia menatap sunbaenya itu yang masih melihat Seokjin. "Kalau tidak ada kau, entah apa yang akan terjadi pada adik kecilku"

Guanlin hanya menggeleng, "Bukan apa-apa, hyung. Sudah seharusnya aku membantu. Dan lagipula tadi juga ada Jihoon, Wonho, Woojin, dan juga Daniel saat Seokjin pingsan di kelas. Mereka yang ada disana, aku hanya membantu membawa Seokjin kemari"

"Meskipun begitu, aku tetap berterima kasih" ucap Yoongi yang masih mengelus rambut Seokjin, "Terima kasih sudah menjaga Seokjin"

Guanlin hanya bisa mengangguk kaku. Ia sebenarnya tidak terlalu nyaman berada diantara 2 orang yang beraura suram ini. Belum lagi ini pertama kalinya bagi Guanlin bicara pada mereka berdua. Dan juga ia masih diliputi kekhawatiran pada Seokjin.

Terlihat dokter tadi keluar dari ruangannya dan meletakkan sebungkus obat-obatan untuk Seokjin, "Berikan obat ini pada Seokjin, Yoongi. Dan meskipun nanti keadaannya sudah membaik, ia tetap harus menghabiskan obatnya untuk memulihkan keadaannya. Perbanyak minum air putih dan jangan biarkan Seokjin kelelahan dulu. Biarkan ia istirahat total untuk mempercepat proses penyembuhannya" ucap dokter tersebut dan menepuk pelan bahu Yoongi. "Lebih baik kau bawa pulang adikmu dan biarkan ia istirahat di rumah."

Yoongi mengangguk, "Baiklah. Terima kasih Minwoo hyung" Han Minwoo, sang dokter hanya tersenyum dan sedikit menjauh untuk memberikan ruang Yoongi untuk menggendong Seokjin.

"Jungkook dan Guanlin kembalilah ke kelas, biar aku yang pulang mengantar Seokjin. Kau tetap disini dan jangan ikut pulang denganku, Kook."

"Tapi..."

"Tetaplah tinggal. Lagipula aku butuh kau untuk memberitau anggota OSIS untuk menunda rapatnya dulu. Beritau mereka juga untuk menyelesaikan tugas mereka sampai rapat berikutnya" ucap Yoongi lalu menggendong Seokjin, dan sebelah tangannya membawa obat Seokjin. Sedangkan tas Seokjin ia sampirkan dibahunya.

Sebenarnya Jungkook ingin ikut merawat Seokjin, tapi ia juga tidak bisa membantah Yoongi. Dengan berat hati Jungkook mengangguk dan membiarkan Yoongi melewatinya untuk keluar. Guanlin dan Jungkook bisa melihat tubuh mereka berdua yang mulai menjauh meninggalkan koridor yang sepi karena jam pelajaran sudah dimulai.

"Sekali lagi terima kasih Guanlin. Setidaknya aku tidak khawatir kalau Seokjin bersamamu" ucap Jungkook lantas meninggalkan Guanlin yang bingung dengan apa yang dikatakan Jungkook.

Jungkook sendiri juga tidak sadar apa yang ia katakan. Tapi yang jelas ia hanya masih khawatir karena tidak bisa menemani Seokjin.

"Hah semoga Seokjinieku baik-baik saja" ucap Jungkook dan kembali menuju kelasnya.

Guanlin masih memandang koridor yang sepi setelah Yoongi dan Seokjin berlalu pergi. 'Semoga kau cepat sembuh, Seokjin'

.

.

.

tbc