Sunbae Or Hyung

.

All member BTS other

Family, Brother complex

School life (AU)

.

.

.

Part 17

.

.

.

Author Pov

Yoongi mematikan mesin mobilnya setelah sampai di rumah. Ia kembali menggendong Seokjin yang masih tak sadarkan diri, dan melihat adiknya begini Yoongi jadi sedih. Ia terlalu fokus pada pekerjaan OSISnya sampai tidak mengawasi Seokjin dengan baik. Yoongi bisa merasakan suhu panas pada tubuh Seokjin, entah apa yang dilakukan Seokjin sampai ia demam seperti ini.

Yoongi menidurkan Seokjin setelah melepas sepatu dan seragam Seokjin dan menggantinya dengan piyama. Ia beranjak ke bawah dan membuat bubur untuk Seokjin. Ahn ahjumma sepertinya sedang keluar karena ia tak melihatnya sejak masuk rumah. Setelah beberapa saat, Yoongi membawa semangkuk bubur dan segelas air untuk Seokjin. Dan ternyata saat memasuki kamar Seokjin, adik manisnya itu tengah terduduk dengan wajah memerah. Matanya sayu dengan bibir mengerucut lucu. Yoongi gemas sebenarnya, tapi ia tau Seokjin tengah menahan sakit.

"Jinnie"

Seokjin menatap Yoongi yang duduk disampingnya setelah meletakkan nampan di meja nakas sebelah Seokjin. Tangan besar Yoongi mengelus rambut Seokjin yang basah karena keringat.

"Hyung...kepala Jinnie pusing."

Yoongi menatap mata Seokjin yang berair seolah menahan tangis. Suhunya masih belum turun, sudah jelas itu penyebab sakit kepala Seokjin. Tanpa banyak bicara Yoongi mengangkat Seokjin dan mendudukkannya diatas paha, mendekapnya erat. Seokjin sendiri menyamankan diri dengan mengalungkan lengannya mengelilingi leher Yoongi. Kepalanya terkulai lemas diceruk leher sang hyung dan mulai memejamkan mata.

"Jinnie makan dulu ne."

Yoongi mengelus punggung Seokjin pelan sambil sesekali menggoyangkan badannya. Ia tau Seokjin belum makan karena bekal yang ia bawa tadi masih utuh berada dalam tasnya. Yoongi yang merasa Seokjin mengangguk sedikit menjauhkan tubuh adiknya itu.

"Setelah makan Jinnie harus minum obat, mengerti baby?"

Seokjin mengangguk lemas masih dengan mengerucutkan bibirnya. Yoongi tersenyum melihat tingkah menggemaskan Seokjin saat sakit seperti ini. Dulu pernah saat Seokjin sakit mereka ber 6 harus bolos sekolah karena Seokjin tidak mau ditinggal oleh mereka. Dan berakhir berada di kamar Seokjin seharian.

Yoongi mendekat kearah meja nakas masih dengan memangku Seokjin. Setelah menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang, Yoongi mencoba menyuapi Seokjin. Tangan kirinya menyanggah Seokjin yang tengah menyamankan diri bersandar didadanya. Dan tangan kanannya sibuk menyuapkan bubur untuk Seokjin makan.

Seokjin makan dengan pelan, Yoongi mengerti pasti indra perasanya tidak nyaman. Tapi beruntung Seokjin mau makan, meskipun hanya beberapa suap saja karena ia langsung menggelengkan kepala setelah beberapa suapan.

"Kenapa?"

Seokjin menatap Yoongi memelas, "Hyung...sudah ya...Jinnie mual."

Yoongi tersenyum. Ia lalu meletakkan kembali sendoknya dan mengecup kening Seokjin sekilas. "Minum obat dulu ne." Yoongi mengambil obat yang tadi diberikan oleh dokter Minwoo dan memberikannya pada Seokjin yang langsung ia masukkan kedalam mulut. Yoongi mengambilkan gelas berisi air tadi untuk Seokjin minum. Memang sang adik tidak terlalu rewel saat meminum obat. Hal yang sangat ia syukuri.

"Uh...pahit." Seokjin mengernyit menahan pahit dimulutnya.

Yoongi tertawa kecil dan kembali mengecup kening Seokjin "Jinnie pintar."

Setelah minum obat, Yoongi merebahkan Seokjin di tempat tidur dan menyelimutinya. Tangannya mengelus rambut Seokjin dan beranjak untuk meletakkan bekas makan Seokjin.

"Hyung jangan pergi."

Yoongi berhenti diambang pintu kamar Seokjin, "Hyung ke dapur sebentar untuk meletakkan ini. Tunggu ne."

Seokjin hanya mengangguk dan menarik selimutnya untuk menutupi tubuhnya. Ia mencoba tidur tapi tidak bisa, padahal matanya terasa berat. Hingga ia mendengar pintu tertutup dan Yoongi mendekat kearahnya. Ia naik dan ikut berbaring disisi Seokjin yang tengah menatapnya.

Seokjin perlahan mendekat dan merapatkan tubuhnya dengan sang hyung. Yoongi sendiri langsung memeluk Seokjin dan mengelus pelan punggungnya untuk membantunya tertidur. Hanya keheningan diantara mereka, Seokjin memejamkan mata sambil menikmati elusan tangan Yoongi dipunggungnya. Dan beberapa saat kemudian deru napas Seokjin mulai teratur. Yoongi juga merasa remasan tangan Seokjin dibaju seragamnya mulai terlepas. Sepertinya Seokjin sudah terlelap. Dengan perlahan Yoongi mengecup kening Seokjin dan ikut memejamkan mata meyelami alam bawah sadarnya.

.

.

Biasanya saat jam sekolah berakhir akan diadakan rapat OSIS. Tapi seperti yang tadi diminta Yoongi, Jungkook memberitahukan bahwa tidak ada rapat untuk hari ini karena Yoongi yang sedang merawat Seokjin. Beberapa anggota OSIS menanggapinya dengan biasa dan mendo'akan kesembuhan Seokjin. Dan beberapa anggota lain atau bisa disebut Chanyeol dan Yugyeom bereaksi berlebihan dengan teriakan yang membuat anggota lain menatap mereka aneh.

"Seokjin baik-baik saja kan? Sakit apa dia?" ucap Chanyeol pada Jungkook. Memang masih ada beberapa orang yang masih berada di ruang OSIS termasuk Jungkook, Jimin, Taehyung, Namjoon dan Hoseok.

"Aku juga tidak tau hyung. Coba kau tanya Yoongi hyung." jawab Jungkook seadanya.

Chanyeol terduduk dan menghela napas. Ia khawatir, tapi ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan.

"Kau nampak sangat khawatir pada Seokjin. Memang Seokjin siapamu, hyung?" pertanyaan dadakan Taehyung membuat Chanyeol terdiam.

Chanyeol menunduk dan mengambil tasnya untuk pulang, "Aku bukan siapa-siapanya." ia lalu beranjak pergi dengan wajah murung.

Suho yang melihat itu terkekeh, "Chanyeol itu mudah jatuh cinta, tapi mudah juga patahnya. Bagaimana bisa ia berjuang kalau menyerah duluan begitu." Suho juga mengambil tasnya dan menyusulnya pulang "Sampai jumpa kalian."

"Hati-hati hyung." ucap Taehyung yang masih menatap kepergian Chanyeol yang tengah dirangkul Suho, "Memang ada yang salah dengan perkataanku?" yang lain hanya menggeleng tanpa minat. Tak menyadari kalau pertanyaan Taehyung juga menyakiti hati seorang lainnya.

'Aku memang siapanya Seokjin?'

"Kalau begitu aku pulang juga. Ayo pulang." ucap Jaebum dan menepuk bahu Yugyeom yang tengah murung. Yugyeom mengangguk dan mengikuti langkah Jaebum.

"Kau membuat 2 orang mundur sekaligus Tae, hebat sekali." ucap Jimin tertawa. Ia sejak tadi ingin tertawa tapi menahan diri. Sedangkan Hoseok dan Namjoon tersenyum saja mengerti dengan maksud Jimin.

"Padahal aku hanya bertanya. Memangnya aku salah apa?" ucap Taehyung menatap Jimin.

"Kau tidak salah Tae. Mereka saja yang sensitif." ucap Jaehawan. Ia masih disana untuk mengambil proposal dari Hoseok. "Kalau begitu aku pergi. Aku bawa ya, Hobi."

"Ne hyung" ucap Hoseok lalu mengemasi barang bawaannya. "Ayo pulang. Aku ingin melihat keadaan Seokjin"

Yang lain mengikuti pergerakan Hoseok. Namjoon yang masih membereskan lembaran tugasnya menatap Jungkook, "Tadi saat kau ke UKS bagaimana keadaan Jinnie?"

"Tubuhnya panas dan masih tak sadarkan diri. Tapi Minwoo hyung sudah memberikan obat untuk Seokjin" yang lain mengangguk mengerti.

"Mungkin Seokjin hanya kelelahan dengan aktivitas sekolah." ucap Hoseok beranjak pergi dan diikuti yang lain.

.

.

Yoongi terbangun saat mendengar suara mobil berhenti di depan rumah. Ia mengerjabkan mata dan melihat jam dinding di kamar Seokjin dan sudah cukup sore. Sepertinya ia tidur cukup lama. Memang pada dasarnya ia suka tidur jadi kalau sampai sore begini wajar saja. Ia lalu melihat Seokjin yang masih bergelung nyaman dalam pelukannya. Rambutnya basah karena keringat, dan tangannya terangkat untuk menyentuh kening Seokjin. Yoongi menghela napas saat panas tubuh Seokjin sudah turun. Ia lalu menarik tangannya pelan yang menjadi bantalan Seokjin, sedikit kebas tapi tidak apa-apa baginya.

CKLEK

Yoongi menatap pintu kamar Seokjin yang terbuka dan melihat Hoseok dan Namjoon masuk masih dengan seragam yang melekat pada tubuh mereka. Yoongi beranjak bangun dengan pelan karena takut membangunkan Seokjin. Setelah membetulkan selimut Seokjin, Yoongi berdiri disamping Namjoon dan Hoseok.

"Bagaimana keadaannya hyung?" tanya Hoseok mengisi keheningan.

"Jinnie baik-baik saja. Panasnya juga sudah turun. Ia tidur setelah makan dan minum obat tadi." ucap Yoongi dengan suara parau khas bangun tidur "Dimana 3 maknae itu?"

Namjoon mendekat pada Seokjin dan mengelus rambutnya pelan, "Mereka langsung mandi karena Hoseok memaksa mereka untuk membersihkan diri dulu sebelum menemui Seokjin. Padahal dirinya sendiri masih betah dengan seragamnya."

"Aku hanya tidak mau mereka berebut dan ribut di kamar Seokjin. Lagipula tubuhku masih bersih." ucap Hoseok dan ikut mendekati Seokjin. Tangannya kembali menyentuh kening Seokjin, dan memang suhu tubuhnya sudah tidak panas.

"Aku akan mandi. Jangan bangunkan Seokjin dulu, biarkan ia istirahat." ucap Yoongi dan beranjak keluar.

"Ne hyung"

Saat keluar dan sudah menutup pintu, Yoongi bisa melihat 3 maknae yang tengah berlari menuju kearahnya. Yoongi masih berdiri di depan pintu Seokjin sambil menatap mereka bertiga yang semakin dekat kerahnya, atau lebih tepatnya kamar Seokjin. Dan beruntung 3 orang itu langsung berhenti dihadapan Yoongi dengan senyum dipaksakan saat melihat sang hyung menatap mereka datar.

"Eh..hyung..." ucap Jimin pelan. Tak mengira Yoongi menunggu mereka.

"Mau kemana?"

Mereka bertiga menahan napas sejenak karena Yoongi seolah akan memakan mereka.

"Menemui Seokjin, hyung" jawab Taehyung kali ini.

Beberapa saat masih belum ada jawaban dari Yoongi. Jimin, Taehyung, dan Jungkook sudah was-was kalau mereka tidak diizinkan masuk.

"Jangan berisik. Seokjin sedang tidur. Kalau sampai bangun awas kalian." ucap Yoongi lalu beranjak menuju kamarnya setelah mengancam 3 maknaenya yang masih terdiam di depan kamar Seokjin.

"Masuk tidak?" tanya Taehyung pelan.

Jungkook dan Jimin mengangguk, "Tapi kita harus pelan-pelan." ucap Jungkook. Ia lalu membuka pintu kamar Seokjin dan melihat Hoseok dan Namjoon masih duduk disamping Seokjin. Setelah mereka bertiga masuk, pintu ditutup oleh Jungkook yang masuk terakhir.

Mereka bisa melihat Seokjin yang masih tertidur pulas. Wajah tenangnya sudah tidak sepucat saat Jungkook menemuinya di UKS. Sepertinya sudah lebih baik. Jungkook sedikit menyingkir saat Jimin mulai mendekat. Ia masih ingat pesan Yoongi jangan berisik.

TRAK

Jimin, Jungkook, Hoseok, dan Namjoon langsung menatap Taehyung yang tanpa sengaja menjatuhkan ponselnya. Ia dengan buru-buru mengambil ponselnya dan memasukkan ke saku celananya, tak lupa memberikan cengiran sebagai permintaan maaf.

"Eungh"

Hoseok menepuk pelan punggung Seokjin membantunya untuk kembali terlelap. Jungkook sudah menatap kesal Taehyung yang hampir saja membangunkan Seokjin karena tingkahnya itu.

"Mian" ucap Taehyung pelan yang berbuah dengusan Jungkook.

Hoseok menarik pelan tangannya setelah yakin Seokjin kembali terlelap. Melihat Seokjin sakit membuatnya tak tega, karena adik kecilnya ini memang selalu ceria dan bersemangat. Jadi melihatnya tidur dalam keadaan sakit begini Hoseok jadi sedih.

Namjoon juga yang daritadi terduduk diam disamping Seokjin juga merasa sedih. Jujur saja saat mendengar kabar Seokjin dari Jungkook ia merasa tidak tenang dan berniat ikut bolos seperti Yoongi. Tapi ia juga tidak mungkin membocorkan rahasia mereka kalau ketahuan bolos karena menemani Seokjin di rumah.

Sedangkan 3 maknae yang masih berdiri didekat ranjang hanya mampu diam dengan kekhawatiran yang sudah berkurang setelah melihat keadaan Seokjin yang mungkin lebih baik. Tapi mereka jelas sedih, karena bagaimanapun Seokjin adalah kesayangan mereka.

"Kalian jangan berisik disini. Aku akan ke kamar lebih dulu." ucap Hoseok dan beranjak dari samping Seokjin.

Jimin menggantikan posisi Hoseok dan sedikit membaringkan tubuhnya menghadap Seokjin sambil tangannya mengelus rambut Seokjin pelan. Ia masih ingat untuk tidak mengganggu Seokjin kalau tidak ingin Yoongi mengamuk pada mereka.

Namjoon yang melihat 3 maknaenya diam, tersenyum kecil. Meskipun mereka terkadang menyebalkan dan berisik, tapi mereka sangat menyayangi Seokjin. Bisa dilihat dari sedikit kekhawatiran dibalik mata mereka yang tengah menatap Seokjin. Namjoon tau mereka bisa berubah menjadi lebih dewasa kalau mereka mau. Sifat kekanakan mereka hanya muncul saat berada di rumah atau sedang bersama Seokjin.

"Aku juga akan ke kamar. Jangan bangunkan Seokjin dulu, tunggu Yoongi hyung." ucap Namjoon berdiri. Sudah hampir gelap, dan Seokjin mungkin akan bangun sebentar lagi karena harus makan dan juga minum obat.

Mereka bertiga hanya mengangguk karena tidak mau membangunkan Seokjin dengan suara mereka. Namjoon tersenyum dan melangkah keluar kamar, menyisakan 3 maknae yang masih menatap lekat Seokjin yang masih terlelap.

"Inilah kenapa paman Kim lebih setuju Seokjin home schooling saja dari pada sekolah seperti pada umumnya." ucap Junkook dan mendudukkan dirinya disebelah Jimin. Sedangkan Taehyung duduk di kursi belajar Seokjin, ia tidak mau mendekat dulu, takut berisik.

"Tapi kau tau sendiri kalau paman Kim mudah luluh dengan rengekan Seokjin." ucap Jimin menanggapi Jungkook.

Memang ayah Seokjin lebih memilih home schooling karena anak manisnya itu mudah lelah. Makanya saat Seokjin meminta untuk sekolah seperti para hyungnya, tuan Kim sempat menolak. Tapi seperti kata Jimin, tuan Kim mudah luluh pada anak satu-satunya itu. Seokjin yang sedih karena dilarang hampir saja menangis, dan membuat tuan Kim yang sangat menyayangi anaknya terpaksa mengiyakan permintaan Seokjin. Jadilah sekarang ia sekolah bersama para hyungnya, dan tuan Kim meminta mereka ber 6 untuk menjaga Seokjin.

"Apa kita minta pada kepala sekolah untuk memberi keringanan pada Seokjin?"

Jimin dan Jungkook menatap Taehyung. Ada benarnya apa yang dikatakan Taehyung. Mereka bisa saja meminta bantuan kepala sekolah.

"Tapi apa Seokjin mau? Aku rasa ia akan merengek pada kita untuk tidak melakukan itu." ucap Jimin. Meskipun Seokjin sadar ia mudah lelah, tapi selama ini ia tak pernah mengeluh pada mereka. Itu berarti Seokjin menikmati kegiatannya di sekolah meskipun melelahkan.

"Kau benar hyung. Memang lebih baik kita bersikap biasa saja dan membiarkan Seokjin melakukan apa yang ia suka. Tapi sebagai gantinya, kita harus mengawasinya lebih ketat agar Seokjin tidak sakit lagi seperti ini." ucap Jungkook.

Jungkook sangat paham kalau keinginan Seokjin sangat besar untuk sekolah seperti anak-anak yang lainnya. Adiknya itu mudah bosan kalau belajar sendirian. Itulah kenapa Seokjin sangat bahagia saat mengetahui ia akan satu sekolah dengan hyung-hyungnya. Selain bisa bertemu mereka, Seokjin senang karena bisa memiliki teman baru nantinya. Tapi begitulah akibatnya, meskipun hatinya senang, tubuhnya masih belum bisa beradaptasi.

CKLEK

Mereka bertiga menatap pintu kamar Seokjin yang terbuka. Terlihat Yoongi yang sudah segar dan mengganti seragamnya dengan pakaian yang lebih nyaman. Seperti sebelumnya, 3 maknaenya ini was was saat Yoongi datang. Bahkan Taehyung langsung berdiri dari duduknya.

Yoongi terkekeh melihat ketegangan 3 maknaenya. Ia tau mungkin kata-katanya terdengar sangat mengancam, tapi ia tidak akan melakukan sesuatu yang berlebihan. Setidaknya tidak untuk sekarang.

"Jimin, coba bangunkan Seokjin. sudah saatnya minum obat."

Jimin mengangguk kaku dan menatap Seokjin yang masih terlelap. Tangannya terangkat untuk menepuk pelan pipi Seokjin. "Jinnie...hei...ayo bangun..."

Jimin tidak mungkin membangunkan Seokjin seperti saat ia membangunkan Jungkook atau Taehyung. 2 temannya itu kalau tidak ditendang tidak akan bangun.

"Jinnie...sayang..."

"Emm...ne..."

Suara serak itu membuat 4 orang yang berada disana tersenyum gemas. Perlahan mata yang terpejam itu terbuka juga. Seokjin yang mencoba bangun dibantu Jimin untuk duduk. Matanya mengerjab pelan mencoba memperjelas penglihatannya setelah terbangun dari tidurnya.

Seokjin bisa melihat Jimin dan Jungkook disampingnya dan Taehyung serta Yoongi yang berdiri disamping ranjang Seokjin. Yoongi mendekat dan mengusap pelan rambut Seokjin lalu berhenti dikeningnya. Suhu tubuhnya sudah normal. Tapi seperti perkataan Minwoo, Seokjin tetap harus minum obat meskipun keadaannya membaik.

"Masih pusing?"

Seokjin menggelengkan kepala mendengar perkataan Yoongi.

"Cuci muka dulu ne. Setelah itu Jinnie makan dan minum obat."

"Ne hyungie"

Yoongi tersenyum. "Bisa bangun sendiri?"

Seokjin mengerucutkan bibirnya, "Gendong~"

Mereka terkekeh mendengaar rengekan Seokjin. Jungkook yang gemas mencubit pelan hidung Seokjin, "Adik kecil manja ne."

Yoongi gemas sendiri dengan tingkah Seokjin, "Mau digendong siapa?"

Seokjin menatap 4 hyungnya. Dan menunjuk salah satu hyungnya yang langsung sumringah "TaeTae hyung"

"Yeay!"

"Kenapa harus Taehyung hyung? Kookie hyung juga bisa menggendongmu Jinnie." ucap Jungkook cemberut menatap Seokjin yang hanya tersenyum kecil.

"Kookie hyung kan sering menggendong Jinnie, Jiminie hyung juga. Jadi sekarang giliran TaeTae hyung" bagaimana mereka berdua bisa marah kalau sudah berhadapan dengan wajah menggemaskan Seokjin? Terpaksa mereka harus merelakan kesempatan ini pada Taehyung. Sangat-sangat terpaksa.

Sedangkan Taehyung sudah tersenyum lebar karena ia memiliki kesempatan untuk menjadi hyung merangkap calon pacar yang baik. Meskipun tak berharap besar akan hal itu terjadi, Taehyung punya kebahagiaan tersendiri saat Seokjin bergantung padanya, seperti merasa diandalkan sebagai salah satu hyung yang menjaganya.

"Kalau hyung Jinnie?"

"Yoongi hyung sudah menjaga Jinnie dari tadi kan? Jadi gantian" ucap Seokjin tersenyum. Sedangkan Yoongi hanya menggeleng menghadapi sikap Seokjin yang menggemaskan.

"Ya sudah. Tae, kau bantu Seokjin dulu. Setelah itu langsung turun untuk makan malam." ucap Yoongi.

"Tidak apa-apa Jinnie makan bersama kita hyung? Kasihan Seokjin kalau harus ke ruang makan." Ucap Jimin. Mereka tidak apa-apa kok makan tanpa Seokjin dulu. Sang adik harus sembuh lebih dulu.

"Yang menyuruh Seokjin ke bawah itu siapa? Aku kan hanya bilang setelah membantu Seokjin, Taehyung bisa langsung ke bawah." yah memang benar sih. Ini mereka yang tidak paham, atau perkataan Yoongi itu memang selalu membingungkan. Entahlah, yang jelas Min Yoongi selalu benar.

"Aku akan mengambilkan Seokjin makan. Kalian berdua juga lebih baik turun untuk makan malam. Namjoon dan Hoseok pasti sudah menunggu." ucap Yoongi lalu beranjak keluar kamar Seokjin.

Sebenarnya Jimin dan Jungkook tidak mau meninggalkan Seokjin hanya berdua saja dengan Taehyung, itu sangat berbahaya. Tapi berhubung Yoongi sudah memerintah, mereka hanya bisa menurut karena takut sang hyung mengamuk.

"Hyung turun dulu ya Jinnie." ucap Jungkook mencium pipi Seokjin. Jimin juga ikut mencium pipi Seokjin sebelum keluar.

Taehyung lalu mendekat kearah Seokjin dan meraup tubuh sang adik dalam pelukannya. Dengan perlahan ia mengangkat Seokjin dan menggendongnya. Seokjin mengalungkan lengannya pada leher Taehyung dan menyandarkan kepalanya dibahu Taehyung.

"Ayo kita cuci muka dulu biar baby Jinnie bersih dan cantik." ucap Taehyung tersenyum. Ia melangkah menuju kamar mandi dengan Seokjin yang juga tersenyum dalam gendongannya.

Setelah masuk, Taehyung mendudukkan Seokjin di atas wastafel. Tangannya merapikan rambut Seokjin yang berantakan sebelum membasahi tangannya dengan air. Dengan lembut tangan basahnya menangkup pipi Seokjin dan mengusapkannya perlahan. Air yang berada ditangannya membuat Seokjin sedikit berjengit karena rasa dingin yang membuat Taehyung terkekeh kecil.

"Sebentar ne."

Taehyung kembali membasahi tangannya dan mengusap wajah Seokjin. Dari kening, mata, hidung, pipi gembilnya, dan mengusap bibir serta dagunya. Ia tak menggunakan sabun muka karena takut terlalu lama, jadi Taehyung hanya memakai air saat membasuh wajah Seokjin atau lebih tepatnya hanya mengusapnya saja. Setelah beberapa kali usapan diwajah, Taehyung kembali membasahi tangannya dan mengusapkannya pada leher Seokjin, setidaknya itu membantu agar sedikit lebih segar.

Setelah selesai Taehyung mengambil handuk tepat disebelah Seokjin dan mengusapnya perlahan mengeringkan wajah dan leher Seokjin. Taehyung sejak tadi hanya fokus membantu Seokjin, tak ada perasaan sama sekali untuk menggoda adiknya ini meskipun ia memiliki banyak kesempatan untuk melakukannya. Tapi sepertinya kali ini ia serius untuk menjadi hyung yang baik untuk Seokjin.

"Jinnie mau ganti baju tidak?"

Seokjin mengangguk.

"Hyungie ambilkan baju dulu ne."

"Hm" Seokjin mengangguk mengiyakan.

Taehyung beranjak untuk mengambilkan baju untuk Seokjin. Ia mengambil baju yang tidak terlalu tebal agar Seokjin lebih nyaman. Baju yang ia ambil ia sampirkan dibahunya, sedangkan tangannya mulai melepas baju Seokjin, sedangkan sang empunya hanya diam saja karena memang ia masih sedikit lemas.

Sekali lagi, Taehyung sama sekali tak peduli saat melihat kulit polos Seokjin dihadapannya. Setelah meletakkan baju kotor Seokjin, ia membantu memakaikan baju bersih yang tadi diambilnya. Setelah itu membantu merapikan rambutnya yang tadi berantakan saat memakai baju. Setelah selesai ia menggendong Seokjin dan membawanya keluar. Terlihat sudah ada Yoongi yang duduk ditepian ranjang Seokjin, Taehyung juga melihat nampan yang berisi makanan untuk Seokjin diatas nakas. Sepertinya Yoongi yang membawanya.

Taehyung meletakkan Seokjin dengan hati-hati di ranjang dan menyelimuti bagian kakinya. Ia lalu mengecup kening seokjin lembut dan tersenyum. "Hyung akan ke bawah dulu ne." Taehyung masih ingat perintah Yoongi. Lagipula ia yakin Yoongi sudah lebih dulu makan sebelum mengantar makanan Seokjin.

"Terima kasih TaeTae hyung." ucap Seokjin sambil tersenyum.

"Sama-sama baby."

Taehyung lalu beranjak keluar membiarkan Yoongi mengurus Seokjin. Ia ingin segera ke kamar Seokjin lagi setelah makan malam. Setelah Taehyung keluar, Yoongi mengambil mangkuk bubur yang sudah dibuatkan Ahn ahjumma untuk Seokjin.

"Kali ini habiskan makanmu ne Seokjinie. Tadi siang kau hanya makan sedikit." ucap Yoongi mulai menyuapkan buburnya.

Seokjin hanya mengangguk sebagai balasan. Beruntungnya karena keadaan tubuhnya sudah cukup baik, indra perasanya sudah mulai normal kembali. perlahan Yoongi menyuapi Seokjin sampai sisa sedikit. Dan beberapa suapan lagi Seokjin sudah menutup mulutnya dengan kedua tangan.

"Hyungie...kenyang."

Yoongi sebenarnya ingin Seokjin makan lebih banyak lagi. tapi kalau terlalu memaksanya ia takut malah Seokjin akan mual. Yoongi menghela napas dan meletakan sisa makanan Seokjin kembali ke nampan. Tangannya terangkat mengelus rambut Seokjin.

"Baiklah. Tapi janji besok Jinnie harus makan yang banyak ne."

"Ne hyungie" Seokjin mengangguk dan tersenyum setelah melepas kedua tangannya.

Kembali Yoongi mengambil obat dan memberikannya pada Seokjin. Setelah selesai Yoongi masih setia duduk disamping Seokjin masih dengan mengelus rambut sang adik. Melegakan rasanya keadaan Seokjin sudah lebih baik.

"Hyung tidak memberitahu appa kan? Jinnie takut appa khawatir nantinya." ucap Seokjin lirih. Seokjin mengerti posisi ayahnya yang sangat sibuk. Memang selama ini hanya ayahnya yang merawatnya setelah sang ibu meninggal. Tapi Seokjin sama sekali tidak kekurangan kasih sayang. Bahkan ayahnya bisa berperan sebagai seorang ibu baginya. Hal yang sangat Seokjin syukuri. Itulah mengapa Seokjin sangat menyayangi ayahnya. Ia tidak mau sang ayah mencemaskan dirinya dan membuat sang ayah tidak konsentrasi saat bekerja.

"Tenang saja, paman Kim orang pertama yang tau tentang keadaanmu" ucap Yoongi tenang.

"Wae~" ucap Seokjin cemberut. Mata sayu itu menatap Yoongi sebal. Sepertinya pengaruh obatnya mulai bereaksi.

Yoongi terkekeh, "Kalau tidak diberitau nanti paman Kim pasti lebih khawatir. Lagipula saat ini appa Jinnie ada di luar negeri bersama para appa yang lain. Mereka bisa menenangkan paman Kim disana."

"Ih Jinnie jadi merasa bersalah karena sakit."

"Sakit itu manusiawi sayangku." ucap Hoseok saat masuk ke kamar Seokjin. Sepertinya mereka sudah selesai makan.

"Jadi wajar kalau kau sakit Jinnie. Jangan merasa bersalah begitu ne"

Seokjin hanya mengangguk lemah. Lebih pada mengantuk sebenarnya. Masalah ayahnya seperti kata Yoongi, sang ayah punya teman yang akan menemani sang appa. Melihat Seokjin yang mulai mengantuk, membuat Yoongi dan Hoseo tersenyum.

Yoongi membaringkan Seokjin dan memperbaiki selimutnya agar menutupi tubuh Seokjin. Tangannya mengelus pelan rambut Seokjin membantunya agar segera terlelap. Menyisakan keheningan saat mata Seokjin terpejam. Napasnya mulai teratur dan Yoongi perlahan bangun dari atas ranjang Seokjin.

"Kita tak menemaninya hyung?" tanya Hoseok peln. Ia tak mau membangunkan Seokjin.

"Tak perlu kurasa. Keadaannya sudah cukup baik, lagipula pengaruh obatnya akan membuatnya tidur lebih lama." ucap Yoongi sambil mengecup kening Seokjin. Inginnya ia menemani Seokjin. Tapi kalau salah satu dari mereka menemani Seokjin, yang lain pasti mengikuti. Yoongi tidak mau tidur Seokjin terganggu karena mereka.

"Yang lain sudah makan?"

"Sudah hyung. Mereka sedang di ruang tengah." ucap Hoseok saat akan beranjak keluar.

Yoongi menatap sekilas Seokjin dan tersenyum sebelum keluar, "Selamat istirahat adik manis hyung."

.

.

.

tbc

Halo

part kali ini manis-manis aja dulu ya, berharap tidak ada badai setelah ini

ok ok terima kasih untuk semua dukungannya

semoga cerita ini bisa menghibur kalian