cast :all member BTS
genre : family, brothership, little bromance
Summary : Tak perlu merasa sendiri. Tak perlu merasa terasingkan. Tak perlu merasa kau adalah sebuah masalah. Anggaplah dirimu berharga. Karna kau begitu sempurna.
.
.
.
.
.
author pov
Setelah kejadian di toilet, Seokjin masih tetap menantap baju pemberian Jungkook dan Jimin tadi. Tak ada niatan untuk mengganti baju kotornya degan baju yang dipegangnya. Bukannya tidak mau, hanya saja dia merasa tidak pantas untuk memakainya. Dari awal Seokjin sudah memberi tau mereka untuk tidak berhubungan lagi dengan Seokjin. Sudah cukup kebahagiaan itu dulu, biarlah sekarang dia menjalani hidupnya tanpa mereka.
Tapi mengingat mereka masih melakukan hal seperti ini membuat hatinya sesak, seolah membuka luka lama yang telah terlupa. Bukan tanpa alasan Seokjin meminta mereka untuk menghindarinya. Hanya sebuah kalimat yang membuat dunianya dan mereka seolah terhalang tembok tak terlihat. Seokjin tidaklah sempurna.
.
Jeon Jungkook, anak semester 1 Fakultas Seni Musik. Anak seorang pengusaha properti terkenal di Seoul. Tinggi, putih, tampan dan menawan. Ciri khas gigi kelincinya seolah membuat dirinya lebih cute. Tapi sikap dingin, dan acuhnya membuatnya terlihat manly dan seperti pangeran Es yang tak tersentuh. Bukan hanya dia, tapi juga teman satu gengnya.
satu hal yang mungkin belum mereka tau, Jeon Jungkoo adalah sepupu Kim Seokjin. Belum ada seorangpun yang tau di BigHit tentang hal ini. Tentu kecuali teman satu geng Jungkook. karna tidak mau menambah beban ayah Jungkooklah, Seokjin memilih pindah ke Seoul dan menjalani kehidupannya sendiri.
.
Park Jimin, teman satu geng Jungkook, sikapnya sedikit hangat dan perhatian terhadap temannya. Lebih pendek dari Jungkook dan lebih manly dengan otot serta abs kebangaannya. Anak seorang Dokter yang merupakan pemilik Seoul International Hospital. Semester 1 di Fakultas Seni Tari.
Jimin juga mengenal baik Seokjin, hanya saja sebuah kejadian membuat teman geng Jimin dan Jungkook harus bersikap seolah mereka tak mengenal Seokjin.
.
Seokjin hanya terdiam mengingat mereka, lalu memasukkan baju pemberian mereka tadi kedalam tasnya. Dia lebih memilih memakai baju kotornya dan menyimpan baju pemberian Jungkook dan Jimin.
Sudah 1 jam dia berdiam di toilet, dan sebentar lagi kelas Yoo ssaem akan selesai. Seokjin yakin Minhyuk akan khawatir karna dia tak masuk kelas.
Seokjin akhirnya memilih menunggu berakhirnya kelas di taman kampus. Hari ini Seokjin hanya ada kelas Yoo ssaem, setelah ini dia tidak ada kelas lagi dan harus kerja part time disebuah cafe dekat apartemennya.
.
.
.
Angin di taman kampus membuat Seokjin sedikit tenang. Dia mulai tidak memikirkan lagi sikap teman kuliahnya dan juga sikap 'mereka' padanya. Setidaknya dia sudah terbiasa dengan semua ini, ya karna ketidaksempurnaanya. Seokjin hanya berdiam diri di bangku bawah pohon sambil memejamkan mata, tanpa menyadari seseorang dengan buku anime ditangannya, menatap Seokjin dari atas pohon tempatnya duduk. Orang itu hanya diam menatap Seokjin lekat. Tanpa berniat mengucapkan kata apapun.
BBYUUURRR!
Mata Seokjin langsung terbuka lebar saat dia merasa ada yang menyiramnya
"Hahahaha...rasakan itu Kim Seokjin! Kau merasa pintar ya hingga tak masuk pelajaran Yoo ssaem. Dasar anak miskin, tak tau diri lagi...hahahaha" ucap seseorang yang menyiram Seokjin tadi.
.
Lee Young Joo, mahasiswa fakultas Seni musik, yang paling membenci Seokjin dan mengaggapnya sebagai sampah. Tak ada yang tau kalau dia terus membully Seokjin karna dia iri dengan suara Seokjin.
.
Seokjin yang mendapat serangan dadakan itu masih shock. Tubuhnya basah kuyup begitupun tas yang dibawanya. Belum selesai rasa terkejutnya ada yang menyiramnya lagi,
BBYUURRRR!
"Hahahaha kau pantas mendapatkan ini Kim Seokjin!" ucap teman Young Joo "Ini bukan kampus nenekmu, jadi jangan seenaknya kau tidak masuk"
Perlakuan Young Joo dan juga temannya Seokjin sudah menjadi tontonan biasa bagi mahasiswa BigHit, lagipula mereka juga tidak ada niat sama sekali menolong Seokjin.
Seokjin yang merasa hal ini sudah biasa, tetap diam ditempatnya sambil mengusap wajahnya yang terkena air. Bukannya dia tidak bisa melawan, hanya saja dia lebih memilih tidak mencari masalah, karna takut beasiswanya dicabut.
Young Joo dan temannya yang melihat Seokjin hanya diam, memilih pergi dengan senyum sinis diwajahnya.
Seokjin yang merasa keadaannya memburuk, hanya mampu menghela napas. "Lebih baik aku pulang dan segera bekerja." ucap Seokjin dan mulai meninggalkan taman dengan keadaan basah.
Seseorang yang duduk diatas pohon yang sejak tadi melihat perlakuan dua orang itu pada Seokjin tetap diam ditempatnya sambil menatap kepergian Seokjin.
"Jin hyung"
.
.
.
.
.
Butterfly Cafe & Bakery tempat dimana Seokjin bekerja part time. Cafe yang lumayan besar ini berada didekat apartemen Seokjin yang juga cukup dekat dengan kampusnya. Cafe dengan interior klasik tempat yang menarik untuk sekedar bersantai.
Seokjin bekerja di Butterfly Cafe sejak tahun pertama kuliahnya. Seokjin bekerja sebagai pembuat roti, terkadang saat tuganya selesai dia akan membantu menjadi waiters di cafe tersebut.
"Annyeonghaseyo" ucap Seokjin saat masuk ke cafe
"Annyeong Seokjin, kau sudah datang rupanya." ucap sang pemilik cafe
"Ne ajhussi. Kue apa yang harus ku buat hari ini?" tanya Seokjin sambil memakai celemek ditubuhnya
"Cukup buat cheseecake dan strawberry cake Seokjin. Hari ini terlihat cerah, enak rasanya memakan cake manis. Ya kan?" ucap Sang ajhussi sambil tersenyum pada Seokjin. Seokjin yang mendengar itu, tersenyum sambil mengangguk setuju dengan usulan sang boss.
"Arraeo. Aku akan segera membuatnya ajhussi." ucap Seokjin menuju dapur.
.
.
.
Dulu saat ibunya masih hidup, Seokjin sering membantu ibunya memasak. Ibunya dulu juga sering membuat roti, sehingga seokjin sedikit tau cara membuat cake. Sehingga saat Seokjin bekerja di Butterfly cafe kemampuannya sangat berguna, meskipun pengetahuaannya tentang roti tidak seberapa, tapi setelah dia bekerja, Seokjin mampu membuat banyak jenis roti. Ini juga berkat kerja kerasnya belajar pada koki sebelumnya.
Saat membuat roti, Seokjin sering mengingat kedua orang tuanya. Pernah sekali dia menangis saat membuat sebuah blackforest, karna orang tuanya sangat menyukai black forest. Tapi karna dia sudah bisa menerima semuanya, Seokjin bisa mengendalikan perasaannya.
.
.
.
"Ajhussi aku sudah selesai. Apa yang bisa kulakukan sekarang?" tanya Seokjin sesaat setelah menyelesaikan cakenya.
"Kau pulanglah Seokjin, kemarin kau lembur kan? Kau pulanglah dan kembalilah besok." ucap sang ajhussi tersenyum lebar. Seokjin yang mendengar itu terkejut
"Tapi ajhussi aku..."
"Sudah pulanglah. Para pelayan sedang datang semua, jadi kau tidak perlu khawatir akan kekurangan orang di cafe. Kau pulanglah. Aku tau kau lelah Jin" ucapan ajhussi itu membuat Seokjin sedikit tersentuh dan tersenyum tulus
"Baiklah ajhussi terima kasih sudah memberiku waktu istirahat. Sekali lagi terima kaih ajhussi" ucap Seokjin sambil membungkuk dihadapan Sang ajhussi. Ajhussi yang melihat itu hanya tersenyum dan mengelus punggung Seokjin pelan.
"Ne sama-sama. Kau sudah bekerja keras hari ini. Istirahatlah"
"Arraseo ajhussi. Gamsahamnida"
"Ne Seokjin"
.
.
.
Seokjin pulang dari Cafe tepat pukul 2 siang. Langit masih menampakkan kecerahannya. Seokjin berniat berjalan-jalan sebentar sebelum pulang ke apartemennya. Jalanan kota Seoul masih ramai oleh pejalan kaki. Mereka seolah sangat menikmati hari ini.
Seokjin kembali meneruskan jalannya. Melewati taman tempat anak kecil bermain. Terdengar tawa-tawa mereka menikmati kebersamaan dengan teman mereka. Teman. Seokjin pernah memilikinya, dulu.
Dulu Seokjin pernah punya teman. Teman yang selalu menemaninya, ada bersamanya melewati hari hanya untuk bersenang-senang. Berbagi kebahagiaan. Tapi itu dulu, sebelum akhirnya Seokjin menyuruh mereka pergi dan membiarkannya menjalani hidup barunya di Seoul.
Diperjalanan Seokjin melihat lapangan basket. Melihatnya saja membuat ingatannya kembali memutar kenangan bersama temannya dulu. Teman Seokjin ada yang sangat menyukai basket. Bahkan bisa dibilang ahli basket. Dia sangat senang bermain basket sampai lupa waktu, tak jarang Seokjinlah yang menyuruhnya untuk berhenti karna waktu sudah sangat sore.
Ingatan waktu itu membuat Seokjin sedikit tercekat. Ingatan itu seolah membunuhnya. Seokjin mencoba menahan buliran air matanya dan melanjutkan jalannya. Tanpa menyadari seorang namja berdiri disebelah lapangan itu menatap kepergian Seokjin dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Seokjin..."
.
.
.
.
.
Hal yang paling menyenangkan adalah tidur lebih awal ketika keadaanmu sedang buruk. Itulah Seokjin. Bergelut dengan selimut tebalnya. Menikmati ketenangan yang dibuat olehnya.
Hening. hanya helaan napanya yang terdengar. Seokjin masih belum tidur. Ingatan tentang hal yang terjadi hari ini berputar lagi di otaknya. Pertemuan tak terduga serta kenangan lama yang kembali terkuak.
"Hik...hiks...aku kenapa?" Seokjin bahkan tidak mengerti apa yang membuatnya meneteskan air matanya. "Ayolah berhenti" ucapnya terus mengusap air matanya yang tetap mengalir. wajahnya memerah seolah menahan sesuatu "Lebih baik aku tidur sekarang. Selamat malam." ucap Seokjin pada siapapun, dan mencoba menutup mata menuju alam mimpi terindahnya.
.
.
.
.
.
at other side
"Aku tidak mengerti kenapa dia harus mengalaminya, Hyung..."
"...Aku sungguh merasa tidak berguna, selalu berada disampingnya tapi tak bisa melakukan apapun untuk melindunginya"
"Sama halnya denganku Kook" ucapnya murung
"Jangan berpikir hanya kau saja yang merasa begitu, akupun juga merasakannya. Aku ingin dia kembali, kembali seperti dulu, Hyung" ucap orang itu
Semua hanya terdiam mendengar pembicaraan singkat itu,
"Tapi apa yang bisa kita lakukan, Bukankah itu permintaannya. Kita bahkan tidak mampu membantahnya waktu itu" salah seorang yang tertua kembali mengingat kejadian itu,
"Aku merindukannya Hyung..." ucap yang termuda.
"Huuhhh..."
Helaan napas mereka seolah menunjukkan perasaan mereka saat ini.
"Hyung..."
.
.
.
.
.
t.b.c
ff absurd again :) maaf bila unsur dalam ff ini ada yang menyakiti hati kalian :)
see you :*
