author pov

.

.

.

Jam sudah menunjukkan pukul 7.30. Hari ini sama seperti pagi sebelumnya, hanya saja Seokjin bersiap untuk olahraga pagi. Seokjin ada kuliah siang, dia hanya ingin menikmati paginya dengan jalan-jalan sebentar menikmati udara segar. Celana panjang dengan balutan sweater biru muda membungkus tubuh Seokjin, memakai sepatunya dan membuka pintu perlahan.

"Hah...segar sekali" ucapnya saat dia mulai keluar dari apartemennya dan berjalan menuju taman dekat apartemennya.

"Sudah lama aku tidak jalan pagi seperti ini" Senyum terpatri diwajahnya ketika angin dipagi hari menerpa wajahnya. Menikmati jalnnya dengan bersenandung pelan.

.

.

.

Pagi ini taman tampak ramai. Banyak orang yang berkeliling disekitar taman. Tampak terlihat ada yang sedang berlari mengitari taman, bersepeda, atau sekedar berjalan seperti dirinya. Banyak juga orang tua yang tengah duduk santai sekedar menikmati udara pagi.

Seokjin memakai headseatnya dan memulai jalannya lagi,

.

' Ni kkumeul ttaraga like breaker '

.

Lagu itu mengiri jalannya. Lagu seseorang yang membuatnya percaya akan jalannya. Lagu temannya - Suga. Mengingat nama panggilan itu membuatnya tersenyum tipis akan betapa hebatnya salah satu temannya itu.

.

'Buseojindaedo oh better '

.

Seokjin masih cukup muda saat dia memilih menjalani hidupnya sendiri, tanpa hadirnya keluarga ataupun temannya. Pilihan hidupnya sendiri saat kedua orang tuanya meninggalkan Seokjin untuk selama-lamanya.

.

' Ni kkumeul ttaraga like breaker '

.

Setelah kematian orang tua Seokjin, mereka harap Seokjin tinggal dengan mereka semua agar Seokjin tidak kesepian menjalani hidupnya. Mereka begitu menyayangi Seokjin, berharap Seokjin tetap bersama mereka. Tapi keteguhan Seokjin akan pilihannya membuat mereka seolah menutup mulut rapat-rapat untuk menahan Seokjin pergi.

.

'Muneojindaedo oh dwiro daranajima never '

.

Hingga jalannya memimpin Seokjin untuk memilih pergi dan seolah dia hanya hidup sendiri didunia ini. Pikiran hinggap dikepalanya untuk tak merepotkan keluarganya yang lain, hingga sebuah permintaan dari mulut Seokjin membuat seolah ada tembok penghalang antara mereka semua untuk dekat dengan Seokjin. Karna Seokjin begitu berharga bagi mereka - Seokjin tidak tau betapa berharganya dia- hingga akhirnya mereka semua memilih menyetujuinya.

Alunan nada itu berakhir saat Seokjin memilih duduk untuk mengistirahatkan tubuh, hati dan juga pikirannya. Lagu itu membuat kenangannya merambat keluar dari ingatan Seokjin. Lagu buatan temannya itu sangat berpengaruh bagi Seokjin. Karna lagu itu awal dari Seokjin menemukan mimpinya dan memutuskan hal besar lainnya, dan memilih hidup didunia kecilnya yang jauh dari kata sempurna.

Angin berhembus pelan. Menggoyangkan daun-daun pepohonan disekitarnya. Ini masih pagi untuk bersedih bagi Seokjin. Dengan posisi tetap duduk, Seokjin memperhatikan daerah sekitarnya. Beberapa anak kecil bermain dengan orang tuanya, tertawa bahagia bersama anak-anak lain yang berada disana. Melihat itu Seokjin hanya mampu tersenyum miris dan mencoba membuang muka hingga tak sengaja tatapan matanya bertubrukan dengan tatapan hangat dari salah seorang yang berdiri disebuah pohon agak jauh dari tempat duduknya.

Nampaknya orang itu sudah lama menantap Seokjin. Pandangan matanya seolah tak bisa lepas dari gerak gerik Seokjin. Tatapan hangat itu, Seokjin mengenalinya. Sangat.

"Hoseok..." ucap Seokjin terkejut saat mengetahui orang itu menatapnya dalam,

Tanpa mengucapkan apapun, orang itu -Hoseok- memilih pergi setelah melihat mulut kecil Seokjin mengucap namanya. Meskipun tak mendegarnya, tapi Hoseok yakin Seokjin mengatakannya

Melihatnya pergi, Seokjin hanya terpaku ditempatnya, melihat kepergiannya tanpa ada niat memanggilnya dan memilih diam.

.

.

.

.

.

"Jung Hoseok..."

.

.

.

.

.

Pertemuannya dengan Hoseok memang tidak terduga bagi Seokjin. Setelah itu Seokjin pulang untuk bersiap-siap berangkat kuliah, meskipun jam kuliahnya masih lama tapi Seokjin beniat untuk berangkat lebih awal.

Perjalanan ke kampus hanya sebentar, Seokjin berniat untuk menunggu jam kuliah dengan berdiam di perpustakaan. Minhyuk tentu belum datang, karna jam kuliah baru akan dimulai 2 jam lagi, sedangkan anak itu benci sekali menunggu. Mengingat kelakuan Minhyuk Seokjin hanya tersenyum tipis.

Koridor masih sepi karna jam kuliah pagi masih belum selesai, dan itu membuat Seokjin sedikit tenang karna kemungkinan tak ada yang mengangggunya saat ini.

Perpustakaan sedikit jauh dai Fakultas seni, hingga butuh waktubagi Seokjin untu kesana. Perpustakaan adalah tempat paling nyaman bagi Seokjin. Disana tenang, dan tak mungkin ada yang akan mengganggunya disana.

Sebelum sempat membuka pintu perpustakaan,

.

.

"Seokjin"

.

.

Mendengar namanya dipanggil Seokjin menolehkan kepalanya dan melihat salah satu dosennya berdiri tidak jauh darinya.

"Yesung ssaem. Ada apa?"

.

.

Kim Yesung. Salah satu Dosen Seni Musik untuk bidang vocal. Suara Yesung ssaem benar-benar indah. Dia dijuluki Art of Voice, karna suaranya dianggap sebuah seni yang tak ternilai dan sangat berharga. Suara baritonenya membuat Yesung ssaem berkharisma. Dia selalu bernyanyi dengan perasaannya hingga membuat lagu yang dinyanyikannya nampak hidup. Seokjin merasa iri dengan ssaemnya itu.

.

.

"Seokjin ikutlah keruanganku sekarang" ucap Yesung ssaem sambil berlalu pergi, tanpa menunggu jawaban Seokjin. Seokjin yang masih terkejut memilih mengikuti dosennnya itu.

.

.

.

.

.

Seokjin yakin dia bukan orang yang bermasalah. Dia juga bisa dianggap pintar difakultasnya. Bakat bernyanyinya juga bisa dibilang bagus. Dia masih tidak mengerti kenapa ssaemnya itu memanggilnya.

"duduklah Seokjin,"

"Terima kasih ssaem." Seokjin hanya diam menunggu dosennya itu bicara.

"Kau pasti bingung kenapa aku memanggilmu bukan?" Seokjin langsung mengangkat kepalanya yang sempat tertunduk dan menatap Yesung "Ne?"

Yesung yang melihat itu hanya tersenyum tipis, "Tak perlu khawatir Seokjin. Aku memanggilmu karna ada hal yang ingin aku bicarakan"

Seokjin yang mendengar itu menghela napas dan mencoba tenang dalam duduknya "Memangnya ada apa ssaem?"

Yesung berdiri sebentar dari duduknya dan mengambil sesuatu dilemari, sebuah kertas dan CD.

"Besok ada test untuk semua mahasiswa Fakultas Seni. Dari seni musik, tari, dan drama semua dilakukan bersama. Aku memanggilmu kemari karna aku ingin kau menyanyikan sebuah lagu untukku Seokjin." Ucap Yesung ssaem dengan tenang.

Seokjin yang mendengar itu terbelalak tidak percaya. " Saya ssaem?! Tapi kenapa?"

Yesung yang mendengar itu mengembangkan senyumnya. "Aku yakin suaramu akan cocok dengan lagu ini. Lagu ini buatan salah satu anak Rap. Dia memberikannya padaku karna dia bingung suara siapa yang cocok untuk lagunya ini. Dan setelah ku pikir, suaramulah yang cocok Seokjin." Yesung menjelaskan alasan pemilihan Seokjin.

"Tapi kenapa harus saya ssaem? Banyak anak seni musik lain yang lebih berbakat dari saya ssaem" Seokjin merasa tidak enak akan hal ini. Dia bukannya menolak tawaran ssaemnya. Hanya saja dia merasa tidak pantas saja. Apalagi dengan suaranya yang seperti ini.

"Kau benar Seokjin. Tapi aku sudah bilang kan, suaramu cocok dengan lagu ini. Lagi pula kau hanya menyanyikan bagian reffnya saja. Tak perlu takut." ucap Yesung masih berusaha membujuk Seokjin.

"Tapi ssaem, saya..."

"Asal kau tau, suaramu itu bagus Seokjin. Aku yakin banyak orang yang iri dengan suaramu itu" ucap Yesung menenangkan. Seokjin hanya menunduk mendengar itu. Yesung beralih menggenggam tangan Seokjin perlahan. Seokjin menatap ssaemnya terkejut.

"Percayalah pada dirimu Seokjin. Suaramu indah kau tau. Aku memintamu menyanyikan lagu ini karna aku percaya padamu. Cobalah dulu, lagipula hanya bagian reffnya saja dan itu hanya sedikit. Kau itu sempurna Seokjin. Ingat itu baik-baik." Yesung tersenyum pada Seokjin, dan itu memberi sedikit kehangatan pada Seokjin. Dia ingat dulu yang mengatakan kalau dia itu sempurna, hanya sja dia tidak tau apa yang membuat dirinya dianggap sempurna.

"Baiklah ssaem, saya akan mencobanya" ucap Seokjin perlahan sambil tersenyum. Yesung balas tersenyum dan mengambil kertas dan CD yang tadi diambilnya.

"Kertas ini adalah liriknya. Kau hanya perlu nyanyikan part ini saja" Ucap Yesung ssaem menunjukkan part yang digaris bawahi pada Seokjin "Dan CD ini adalah alunan musiknya. Kau dengarkan dulu, setelah itu tentukan bagian mana yang past sesuai part yang akan kau nyanyikan. Pahami liriknya dan bernyanyilah dengan indah besok Seokjin."

Seokjin tau, Yesung ssaem sangat mempercayainya. Seokjin akan berusaha agar tidak mengecewakan kepercayaan yang diberikan ssaemnya itu.

"Baiklah ssaem. Saya akan mencoba lagunya dan menyanyikannya besok" ucap Seokjin mantap

"Terima kasih Seokjin. Ingat, percayalah pada dirimu sendiri dan lakukan yang terbaik" ucap Yesung menyemangati Seokjin.

"Terima kasih ssaem. Kalau begitu saya permisi dulu ssaem. Annyeong" ucap Seokjin pamit setelah melihat jam kuliah akan segera dimulai. Dan dia tidak mau terlambat lagi kali ini.

"Ne. Hati-hati."

.

.

.

.

.

Setelah memasukkan kertas dan CD dari Yesung ssaem kedalam tasnya. Seokjin pergi dari ruangan Yesung ssaem menuju kelasnya. Pikirannya masih ragu untuk menerima ini semua. Tapi hati Seokjin seolah mengiyakan ucapan Yesung ssaem untuk mecobanya. Seokjin bukanlah tipe orang yang suka dengan tantangan, dia hanya memilih menjalani arus kehidupnnya secara normal. Tapi sepertinya ucapan Yesung ssaem membuatnya merubah pola pikirnya itu. Seokjin akhirnya tersenyum dan merasa tak menyesal mengiyakan permintaan ssaemnya itu. Ini kesempatan Seokjin untuk menunjukkan kemampuannya. Ya, setidaknya Seokjin harus berusaha uuntuk membuktikannya.

.

DRTDRTDRT

.

Seokjin mengambil handphonenya, dan melihat ada beberapa pesan masuk disana.

.

.

*Ajhussi*

'Seokjin hari ini cafe tutup, aku ada urusan penting. Kau tidak perlu kemari.

.

*Minhyuk*

'Seokjin kau dimana? Kau ke kampus tidak? Hari ini Ryeowook ssaem tidak masuk karna ada urusan. Kalau kau sudah ke kampus. Pulang saja ne :)

.

.

"Hhhhh...hari ini cafe ajhussi sedang tutup. Dan kelas hari ini kosong. Apa yang akan aku lakukan sekarang?" Seokjin menatap jam dilayar handphonenya, "Ini masih terlalu siang untuk pulang"

Seokjin memasukkan Handphonennya dan mulai berjalan. Entah apa yang kan dia lakukan "Tunggu sebentar, aku akan mempelajari lagu ini saja" Ucap Seokjin mengingat lagu dari Yesung ssaem "Tapi dimana ?" Seokjin sedikit mengembungkan pipinya. Sisi imut seorang Kim Seokjin yang tidak diketahui orang lain.

"Mungkin diatap lebih baik." Ucap Seokjin tersenyum dan pergi menuju atap kampus nya.

.

.

Angin diatap tidak terlalu kencang, suasana kali ini juga tidak terlalu terik, tapi hari ini cuaca sangat cerah. Seokjin mecari tempat teduh dan duduk disebuah kursi panjang yang ada diatap. Menutup matanya sebentar menikmati suasana hari ini. Menaruh tasnya disampingnya dan mengambil lirik lagu dari Yesung ssaem dan mencoba membacanya.

Untaian lirik ini sangat dalam. Seokjin yang sedang membacanya merasa yang membuat lagu ini sedang patah hati.

"Lirik ini sangat menyedihkan sekali" ucap Seokjin masih menatap lirik ditangannya. Dia mencoba memahami isi lagu ini, entah mengapa lirik ini mengingatkannya pada temannya dulu yang juga hebat dalam membuat lagu. Temannya dulu suka membuat lagu dengan makna dalam seperti ini, dia suka membuat lagu sesuai dengan isi hatinya.

Belum selesai Seokjin melihat liriknya, suara barang terjatuh mengagetkannya,

.

TRANGGG

.

Seokjin melirikkan matanya ke sudut atap kampus, dan matanya melihat seseorang yang mulai terbangun dari tidurnya dan menjatuhkan sebuah palang besi disebelahnya. Orang itu sepertinya sudah lama tidur disana, sepertinya sebelum Seokjin masuk ke atap.

Orang itu merenggangkan tubuhnya dan beralih menatap Seokjin tajam. Tatapan tajam itu seolah membunuh Seokjin perlahan. Mata itu tetap menatap Seokjin tanpa ada niat melihat hal lain. Seokjin yang ditatap seperti itu hanya diam dengan mata yang juga terfokus pada tatapan itu.

Seokjin hanya bisa diam dan merasakan matanya memanas. Orang itu tetap diam ditempatnya tanpa melakukan apapun.

"Namjoon hyung, kau ada diat-..." ucapan seseorang yang membuka pintu atap terhenti saat melihat Seokjin duduk terpaku dengan orang yang dipanggilnya Namjoon itu.

Tatapan biasa orang itu -Namjoon- dan tatapan terkejut Seokjin tertuju pada orang yang berdiri diambang pintu.

"Kenapa berhenti Jim, Namjoon ada tid-..." ucapan orang lain dibelakang pintu mendorong orang tadi untuk masuk, dan ikut berhenti didepan pintu karna melihat Seokjin,

"Hyung jangan berdiri didepan pintu" ucap seseorang lagi yang mendorong 2 orang tadi dan mulai masuk diikuti 2 orang lain lagi dibelakangnya.

5 Orang yang baru datang itu lagi-lagi terdiam melihat Seokjin disana. Seokjin sendiri hanya mampu terpaku melihat itu semua. Bahkan dia tak menyadari setetes air mata jatuh dihadapan 6 orang lainnya. Seokjin yang menyadari itu membalikkan tubuhnya dan menghapus air matanya.

.

.

6 orang disana yang tanpa sengaja melihat setetes air itu jatuh dari pelupuk mata Seokjin hanya mampu terdiam,

"Ada apa kalian mencariku ?" ucap orang yang tertidur tadi -Namjoon- masih dengan menatap Seokjin

"Tidak hyung, hanya saja besok ada test di fakultas seni, dan semua diadakan bersamaan termasuk seni musik, tari, dan drama" Ucap orang pertama tadi -Jimin- juga dengan tetap menatap Seokjin.

Seokjin yang tidak menyadari tatapan mereka ber-6 yang tertuju padanya hanya mampu menenangkan hati dan pikirannya. Emosinya meluap ke permukaan. Pertemuan kali ini memang tidak terduga bagi Seokjin. Tak ada niat sama sekali Seokjin ingin bertemu mereka ber-6 dalam situasi seperti ini.

5 orang tadi berjalan menuju tempat Namjoon. Mereka memang sedikit lebih tenang dari biasanya. Tentu saja alasannya karna ada Seokjin disini

"Jam berapa testnya?" tanya Namjoon,

"Jam 9 pagi hyung." ucap suara berat lainnya

Seokjin yang merasa tangisnya akan pecah, mengambil tas dan memasukkan lirik lagu tadi kedalam tasnya. Dengan sedikit terburu takut air matanya kembali menetes Seokjin berlari pergi dari atap tanpa menoleh sedikitpun. Meninggalkan ke-6 orang tersebut dengan pikiran mereka masing-masing saat melihat mata Seokjin yang memerah

.

.

.

.

.

"Kim Seokjin..."

.

.

.

.

.

t.b.c

ff absurd again :)