The Blonde Flugel
.
Naruto by Masashi Kishimoto
Highschool Dxd by Ichiei Ishibumi
.
Pair : Naruto x Irene x Lilith
Warning : Typo, OOC and etc.
Genre : Action, Martial Art, Supranatural and etc.
.
Summary : Flugel, ras yang terlupakan dan dianggap punah tanpa disangka tersisa seorang flugel yang masih hidup dengan dua perempuan disisinya.
Chapter 2
Terlihat dua orang perempuan berambut putih berjalan keluar dari sebuah bandara, mereka menggunakan pakaian yang terlihat seperti seorang bangsawan. Mereka berdua tampak sangat cantik bak malaikat dengan surai putih dan mata berwarna biru laut yang sangat indah, membuat beberapa orang tertegun sejenak.
"Jepang kah..."
"Kemana tujuan kita selanjutnya, Onee-sama?"
"Kita ke Kuoh, kita akan mencari mereka bertiga disana."
"Baik."
"Akan kuhabisi kau, Naruto."
Mereka segera masuk ke sebuah mobil yang baru saja datang menjemput mereka dan segera menuju kearah Kuoh.
.
Sedangkan dilain sisi, Naruto bersama Lilith berjalan menuju sekolah, mereka tidak sengaja bertemu Issei dan Asia yang memiliki tujuan yang sama dengan mereka.
"Ohayou Issei-san, Asia-san." sapa Lilith kepada Issei dan Asia yang tampak kaget dengan kehadiran mereka berdua sedangkan Naruto hanya mengangkat tangannya kearah mereka.
"A-ah, Ohayou Lilith-san, Naruto-san."
"Mau berangkat bersama?" tanya Lilith.
"B-boleh saja, Lilith-san, lebih banyak orang lebih ramai bukan?" jawab Asia sedikit tergagap karena ia belum terbiasa berbicara dengan orang lain kecuali Issei dan kelompok gremory.
"Benar sekali yang dikatakan, Asia." imbuh Issei sambil mengacungkan jempol kearah Asia.
Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan menuju sekolah, Naruto dan Issei berjalan dibelakang Lilith dan Asia yang sedang mengobrol kadang Issei juga masuk dalam obrolan itu. Naruto sedari tadi hanya mengamati ketiganya tanpa mengikuti pembicaraan sedikitpun, mereka akhirnya memasuki akademi dan berjalan menuju kelas mereka.
XxX
Pelajaran sore itu telah selesai, para murid segera kembali meninggalkan kelas dan melakukan kegiatan lainnya. Lorong yang masih dipenuhi murid seketika gaduh karena kedatangan seorang primadona sekolah yaitu Yuuto Kiba. Dia dikenal ketampanannya walaupun masih kalah dengan Naruto, Kiba saat ini berada didepan kelas 2-C yang terlihat sedang menunggu seseorang keluar.
"Kiba/Kiba-san." Issei dan Asia memanggil Kiba, mereka berdua sedikit bingung kedatangannya. Tidak biasanya dia datang menjemput mereka saat ini.
"Ayo kita segera ke klub, Issei-kun, Asia-san, ada tamu yang sedang berkunjung di klub." ujar Kiba mengajak Issei dan Asia, semua yang berada disitu terkejut karena Issei terlihat akrab dengan Kiba, begitu juga dengan Asia yang seorang murid baru.
"Baiklah, Aku permisi dulu, Naruto-san, Lilith-san." ucap Issei kepada Naruto dan Lilith, setelah itu mereka pergi dari kelas itu menyisakan Naruto dan Lilith.
"Mau melihatnya?" ujar Naruto tanpa menoleh kearah Lilith yang menganggukan kepalanya. Mereka kemudian menghilang dengan teleportasi milik Naruto dan muncul didekat gedung yang berada dibelakang sekolah. Gedung yang saat ini menjadi tempat klub Penelitian Ilmu Gaib yang diketuai Rias Gremory, selain Sona Sitri yang berada di OSIS.
Mereka sudah tahu tamu yang dimaksud oleh Kiba adalah dua utusan gereja, mereka mengetahui itu karena tadi pagi mereka diberitahu Irene yang mempunyai sensor yang lumayan luas. Setidaknya mengetahui alasan kedatangan dua utusan gereja, mereka bisa mendapatkan informasi lebih.
.
Ruangan didalam gedung itu, terlihat dua orang menggunakan jubah sedang duduk menghadap Rias dan yang lainnya. Kedua orang itu membuka tudung mereka dan menampakkan dua orang perempuan, perempuan pertama memiliki rambut biru sepundak sedangkan satunya berambut coklat panjang diikat twintail.
"Perkenalkan namaku Rias Gremory, perwakilan iblis Gremory yang menjaga diwilayah ini bersama iblis Sitri." ujar Rias lalu memperkenalkan anggota peerage miliknya.
"Perkenalkan namaku Xenovia Quarta, salah satu utusan gereja." ujar perempuan berambut biru sambil menundukkan kepalanya sedikit.
"Perkenalkan namaku Irina Shidou, aku sama seperti Xenovia-chan. Lama tidak bertemu Issei-kun." ujar perempuan berambut coklat kepada Issei yang nampak terkejut dengan kehadirannya.
"K-kau! Bukannya seorang laki - laki?!" balas Issei sedikit terkejut karena teman masa kecilnya ternyata seorang perempuan.
"Hehe, kau pasti mengira aku seorang laki - laki karena sifat tomboyku." jawab Irina sambil tertawa kecil.
"Jadi, kenapa utusan gereja berada disini?" tanya Rias mengawali pembicaraan mereka menjadi sedikit serius.
"Kami datang kesini untuk bertanya tentang pecahan Excalibur yang hilang." jawab Xenovia tak kalah serius dengan Rias, begitu juga yang lain sehingga suasana disitu menjadi serius kecuali Issei yang tidak mengetahui apa - apa.
"Kau menuduh ras iblis mencuri pecahan itu?"
"Mungkin iya mungkin juga tidak, mengingat sifat iblis yang haus akan kekuatan bukan?" ujar Xenovia sedikit mengejek ras iblis, tentunya Rias merasa marah akan hal itu.
"Xeno-"
"Apa maksudmu?! Kau tahu bukan jika cahaya kelemahan bangsa iblis, jangan seenaknya berbicara meskipun kau utusan gereja sekalipun." balas Rias dengan nada tinggi menandakan jika ia marah terhadap perkataan Xenovia.
"Huh, bukankah ucap-"
"Jangan memancing hal yang berada diluar tujuan kita, Xenovia-chan." potong Irina, dia tidak ingin memancing hal ini menjadi lebih runyam mengingat bukan wilayah mereka.
"Huh, baiklah. Maafkan aku, Gremory-san." Xenovia menundukkan sedikit kepalanya untuk meminta maaf, tindakannya kali ini terlalu berlebihan sampai ia lupa.
"Aku maafkan untuk kali ini."
"Baiklah, kami akan pergi dulu sekaligus mencari informasi di kota ini. Jika kalian mempunyai informasi tentang pecahan itu, tolong beritahu kami." ujar Irina, mereka berdua akhirnya bangkit berdiri lalu pergi dari situ tetapi belum sampai mereka didepan pintu. Kiba menghentikan mereka terlebih dahulu.
"Tunggu! Aku ingin mengajak kalian duel." Rias yang melihat Knightnya bertindak seperti itu hanya diam saja, dia sudah tahu tentang masa lalu Kiba yang cukup menyedihkan karena dia salah satu percobaan waktu itu.
"Hmm..." Xenovia dan Irina terlihat bingung dengan sikap Kiba yang terlihat seperti orang menahan amarah, mereka berdua saling tatap sejenak sebelum memutuskan untuk menerima duel itu atau tidak.
"Baiklah, aku terima tantanganmu. Siapa yang akan kau ajak berduel?"
"Kalian ber-"
"Tunggu dulu, Kiba. Aku akan melawan Irina sedangkan kau melawan dia, bagaimana? Sebagai teman aku akan membantumu." potong Issei, dia ingin membantu Kiba dan dilain sisi dia ingin melawan Irina, teman masa kecilnya.
"Baiklah, kuhargai bantuanmu, Issei-kun." jawab Kiba. Rias dan kelompoknya mengajak Xenovia dan Irina menuju halaman kosong disebelah gedung itu. Issei saat ini berhadapan dengan Irina yang berada tak jauh dari Kiba yang juga berhadapan dengan Xenovia.
Naruto dan Lilith sedari tadi hanya mendengarkan pembicaraan mereka kini beralih ke salah satu pohon, mereka tampak ingin menonton duel itu terlebih dahulu. Lagipula di apartemen mereka hanya menonton televisi atau tiduran saja.
"Setelah menonton duel ini kau pulanglah terlebih dahulu, aku akan menemui seseorang terlebih dahulu." ujar Naruto pada Lilith sedang melihat kearah duel itu.
"Siapa yang akan kau temui?"
"Hanya seorang kenalan, sebentar kok." jawab Naruto meyakinkan Lilith agar tidak terlalu khawatir, lagipula siapa yang berani menyerangnya.
"Baiklah." perhatian mereka kini beralih lagi kearah duel itu. Issei dan Kiba tampak sedikit kesulitan melawan Xenovia dan Irina, pakaian mereka banyak sayatan sedangkan Xenovia dan Irina masih bagus. Pakaian hitam ketat mereka membuat pergerakan mereka tidak terlalu terhambat tapi bentuknya lumayan menggoda karena menampilkan leluk tubuh dan payudara mereka yang menonjol. Issei sedari tadi nampak tidak fokus dengan hal itu karena pikiran mesumnya mengendalikan otaknya.
"Baiklah, aku keluarkan jurus terbaruku." ujar Issei yang bersemangat, wajahnya menampilkan senyuman mesum dan tentunya Irina menjadi waspada karena itu.
[ Dress Break ]
Setelah mengucapkan jurusnya, Issei tampak menunggu dan Irina menjadi serius dan mengamati sekelilingnya. Rias, Akeno dan yang lainnya tampak menepuk wajahnya melihat jurus Issei yang itu tapi kenapa efeknya tidak ada. Begitulah pemikiran mereka saat itu bahkan Issei yang terlihat senang sekarang menjadi kaget.
"B-bagaimana bisa?! Kenapa jurusku tidak keluar?!" teriak Issei sedangkan Xenovia dan Irina tampak mengernyitkan dahinya.
"Jurus apa yang dikeluarkan Issei pada Irina?" tanya Xenovia pada Kiba yang melawannya.
"Etto, Dress Break itu jurus untuk menyobek pakaian target yang Issei arahkan. Tapi sepertinya jurus itu gagal." jelas Kiba sambil menatap was - was jika Xenovia menyerangnya tapi orangnya malah berjalan kearah Irina mengabaikannya.
"Hentikan duel ini. Untung saja jurusmu gagal,mesum! Ayo kita pergi, Irina." ujar Xenovia terlihat marah dengan tindakan Issei, untung saja jurus itu gagal jika tidak dia merasa kasihan dengan Irina nanti.
"B-baiklah, awas kau Issei-kun!" ucap Irina dengan nada marah yang membuat Issei berkeringat dingin melihat itu.
Beralih ke Naruto dan Lilith, yang terlihat mengawasi pertarungan itu. Lilith memasang wajah marah karena Issei hampir saja menelanjangi seorang perempuan, untung saja dirinya sempat mengahalangi jurus itu dengan sihirnya. Naruto hanya bisa menahan tawa melihat wajah Lilith yang seperti itu.
"Kehh, dia sama mesumnya denganmu, Naruto-kun." ujar Lilith yang tiba - tiba menyangkutkan nama Naruto.
"Hey! Kenapa aku juga?! Lagipula aku hanya mesum pada kalian, bukan?" sahut Naruto sambil sedikit menggoda Lilith yang memerah karena ucapan Naruto.
"Jika saja mereka berdua dijepang, kau akan diceramahi mereka!" ujar Lilith, sedangkan Naruto sedikit kaget dengan ucapan Lilith. Dia baru sadar dengan dua perempuan yang tidak bersama dengan mereka karena suatu hal.
"U-uh, Jangan ingatkan pada-"
"Kalian?!" sebuah suara tiba - tiba menginterupsi perdebatan mereka, Naruto dan Lilith kaget karena melihat Rias dan yang lainnya menatap kearah mereka. Issei dan Asia tampak lebih terkejut dengan kehadiran mereka.
"Y-yo." Naruto dan Lilith hanya meratapi nasib mereka yang terlalu berisik sampai melupakan keadaan sekitar. Mereka akhirnya keluar dari persembunyian mereka dan berada didepan Rias dan kelompoknya begitu juga masih ada Xenovia dan Irina.
"Kalian melihatnya tadi?" tanya Rias pada mereka berdua, dirinya berniat menginterogasi Naruto dan Lilith. Mereka mengetahui keberadaan Naruto dan Lilith karena suara mereka yang lumayan keras dan dibantu sensor dari Koneko.
"Begitulah, maafkan kami, Gremory-san." ujar Lilith meminta maaf pada mereka. "Minta maaflah, Naruto-kun." lanjut Lilith yang melihat Naruto hanya diam saja.
"Tidak mau." jawab Naruto dengan nada datar.
"Ck, kau ini."
"Kenapa kalian disini, Naruto-san, Lilith-san?" sahut Issei.
"A-ah, kami tidak sengaja melihat kalian jadi kami memutuskan untuk menonton." jawab Lilith sambil tersenyum kaku kearah mereka.
"Apa mau kalian?!" desak Rias, ia merasa jika Naruto dan Lilith patut ia curigai karena dia tidak merasakan keberadaan mereka.
"Oya oya, tenanglah, Gremory, kami bukan musuhmu kok." jawab Naruto dengan santainya.
"Siapa kalian?!" sahut Xenovia merasa belum puas dengan jawaban Naruto.
"Sudah kubilang tenanglah, lagipula jika Lilith tidak membatalkan jurus Issei, temanmu Irina itu akan telanjang bukan?" jawab Naruto mengagetkan semua disitu, jadi yang membatalkan jurus Issei itu Lilith. Mereka menatap Lilith yang masih tersenyum kearah mereka.
"Arigatou, Lilith-san." ujar Irina sambil membungkukkan badannya kearah Lilith.
"Tidak apa - apa, Irina-san. Lagipula itu tidak seberapa dibanding jurus pirang ini."
"H-hoi! Kenapa aku lagi?!"
"Diam kau, duren mesum!" bentak Lilith pada Naruto, semua yang berada disitu sweatdrop menyaksikan pertengkaran mereka berdua.
"S-sudahlah, ayo kita kembali. Aku akan menemui kenalanku habis ini." ujar Naruto, Lilith yang mendengar itu hanya menganggukan kepalanya.
"Baiklah, sampai jumpa semua. Kalian berdua tenang saja, aku akan membantu kalian mencari pecahan itu." ujar Naruto pada Xenovia dan Irina yang terkejut karena Naruto tahu kedatangannya kesini.
"Bagai-" perkataan Rias terpotong setelah Naruto pergi dengan kilatan putih meninggalkan mereka. Mereka semua terkejut karena Naruto mengetahui pembicaraan mereka tadi.
"Kami pergi dulu." ucap Xenovia sambil mengenakan jubahnya lagi bersama Irina lalu meninggalkan Rias dan kelompoknya.
Setelah mereka pergi, Rias terlihat menatap Issei dan Asia. Dia tahu jika Issei dan Asia merupakan teman kelas Naruto dan Lilith. Mungkin saja peeragenya tahu kemampuan Naruto, jadi dia bisa memiliki kesempatan untuk merekrut mereka.
"Kalian tahu kekuatan Naruto?" tanya Rias pada Issei dan Asia begitu juga yang lainnya, mereka penasaran dengan sosok Naruto dan Lilith.
"Tidak, Buchou. Sejak mereka masuk aku hanya tahu mereka memiliki aura manusia." jawab Issei menjelaskan tentang Naruto dan Lilith, jujur dirinya dan Asia baru tahu kemampuan temannya itu.
"Baiklah, besok jika ada kesempatan ajak mereka datang ke klub kita. Aku akan member informasi ini kepada Sona." ujar Rias memberi perintah pada peeragenya lalu mereka kembali masuk kedalam ruangan klub mereka.
XxX
Setelah sampai di apartemen, Naruto dan Lilith mengganti baju mereka lalu menghampiri Irene diruang tamu. Berbeda dengan Lilith yang memakai pakaian biasa, Naruto memakai celana jeans dan jaket berwarna hitam.
"Kau ingin kemana, Naru-kun?" tanya Irene dengan pandangan bertanya pada Naruto yang ingin pergi.
"Hanya menemui kenalanku, Irene."
"Boleh aku ikut?" tanya Irene lagi, ia sungguh bosan seharian diapartemen tanpa adanya Naruto dan Lilith tadi. Hitung - hitung ini akan menjadi kencan pertamanya dijepang bersama Naruto.
"Hmm, boleh saja lagipula aku hanya ingin menanyakan tentang pecahan Excalibur." ujar Naruto, sedangkan Lilith dan Irene tampak tertegun sejenak jika Naruto ingin menanyakan tentang itu berarti kenalannya bukan orang sembarangan.
"Siapa yang akan kau temui?"
"Azazel, pemimpin datenshi. Kemarin aku bertemu dengannya saat jalan - jalan."
"Aku ikut, aku takut kau diserang." sahut Lilith, sedangkan Naruto dan Irene tampak bingung dengan tingkahnya.
"Hei, kau lupa tentang kekuatanku dulu? Istirahatlah sejenak, tidak perlu khawatir karena ada Irene bersamaku." ujar Naruto pada Lilith, perempuan itu sedari dulu sangat khawatir jika ia bertemu dengan orang kuat.
"Tenang saja, Lilith-chan. Tidak ada yang bisa membunuh suami ku ini~" ucap Irene dengan nada sedikit menggoda kearah Lilith yang memerah.
"A-apa maksudmu dengan suami, hah?!" Lilith terlihat menahan emosi kepada Irene lalu melihat kearah Naruto yang mengalihkan kepalanya kearah lain.
"Ufufu~ kau cemburu ya~"
"T-tidak!"
"Stop! Ganti bajumu lalu kita pergi, Irene." lerai Naruto, ia sudah lelah mendengar debat kedua perempuan itu.
"Oke, Anata." Naruto merinding mendengar panggilan Irene padanya yang pergi menuju kamarnya untuk ganti baju, berbeda dengan Lilith yang menghela nafas karena tingkah Irene.
Beberapa menit kemudian, Irene kembali dengan mengenakan baju dilapisi jaket hitam tapi tidak bisa menyembunyikan benda berharga miliknya yang besar itu dan menggunakan celana jeans panjang.
"Ayo pergi, sayang~"
"Hoi, panggilanmu berbeda lagi!"
"Huh, entah mengapa aku betah bersama kalian." Lilith tampak mengeluh dengan tingkah keduanya yang seringkali bercanda.
"Karena kau seksi, Lilith-chan." ujar Naruto lalu menggenggam tangan Irene dan pergi dengan kilatan putih. Sesaat sebelum mereka pergi, mereka sempat mendengar umpatan Lilith.
"DUREN MESUM!!!" teriak Lilith yang wajahnya sudah semerah tomat. Mengingat dia memegang salah satu dosa yaitu dosa nafsu tapi sifatnya berkebalikan dengan itu.
XxX
Terlihat seorang pria duduk dipinggir danau sambil menunggu umpannya dimakan ikan, sesaat muncul kilatan putih menampilkan Naruto dan Irene disamping pria itu.
"Yo, Azazel. Aku ada perlu denganmu." sapa Naruto memanggil pria bernama Azazel yang ternyata pemimpin Malaikat Jatuh.
"Oh, kau Naruto. Muridku Vali mencarimu sesaat setelah kau berhasil menghindari serangannya." ujar Azazel mengalihkan pandangannya kearah Naruto dan menemukan seorang perempuan bersamanya, hidung Azazel seketika mengeluarkan darah melihat ukuran dada perempuan itu. "Siapa dia?! Ukurannya melebihi milik Gabriel." batin Azazel yang sangat nista itu.
"Heh, kubunuh kau jika melihat Irene dengan pandangan seperti itu." ancam Naruto kepada Azazel yang berjengit sedikit melihat tatapan tajam Naruto lalu terkekeh pelan dan mengalihkan pandangannya
"Tunjukkan dulu kekuatanmu, jika tidak kuanggap itu hanya gertakan hehehe..." ujar Azazel seakan memancing Naruto agar mengeluarkan kekuatannya.
"Hmm, kau ingin mengujiku? Pasang kekkai, Irene." ujar Naruto menyuruh Irene memasang kekkai. Setelah itu Irene memasang kekkai yang lumayan kuat, pikirnya Naruto mungkin hanya akan mengeluarkan sedikit kemampuannya.
Blar!
Seketika tempat itu menjadi sebuah cekungan yang lumayan lebar, Azazel yang awalnya duduk biasa kini berlutut menahan tekanan yang Naruto keluarkan. Ia sangat terkejut merasakan tekanan itu, bahkan ia ragu bisa menang melawan Naruto saat ini. Berbeda dengan Irene, dia terlihat biasa saja tapi sedikit mengeluarkan keringat karena menahan tekanan Naruto.
"Ayolah, ini hanya sebagian kecil kekuatanku. Kita naikkan tensi nya?" ujar Naruto yang membuat Azazel terkejut sekali lagi.
"Sebagian kecil?! Jangan bercanda!" batin Azazel, ia seperti menelan ludahnya sendiri karena menantang Naruto.
"B-baiklah, aku menyerah." ujar Azazel. Naruto akhirnya menurunkan tekanan miliknya, Azazel bisa bernafas lega saat ini sedangkan Irene segera menghilangkan kekkai miliknya.
"Kenapa kau ingin bertemu denganku?"
"Aku hanya ingin informasi pecahan Excalibur yang dicuri, kau tahu dimana pecahan itu?" tanya Naruto pada Azazel yang tersentak mendengar itu.
"Pecahan Excalibur dicuri? Aku baru tahu itu."
"Tadi utusan gereja datang bertemu iblis Gremory dan mereka mencari informasi tentang itu, menurutku salah satu bawahanmu mencurinya." ujar Naruto menceritakan kejadian tadi sore di akademi Kuoh.
"Hmm, bagaimana kau tahu jika Malaikat Jatuh yang mencurinya?"
"Aku sudah pernah ke Vatikan dan menemukan aura malaikat jatuh disana. Apa kau merasakan keanehan bawahanmu?" tanya Naruto sekali lagi, informasi yang Lilith berikan dulu sangatlah berguna karena menurutnya ada keanehan tentang informasi Malaikat Jatuh.
"Hmm, aku hanya ingat sebagian Malaikat jatuh berada dibawah perintah Kokabiel. Pergerakannya terlihat mencurigakan, kau mau melakukan apa?" jelas Azazel pada Naruto yang masih terdiam setelah mendengar penjelasan Azazel.
"Sejauh mana kau mengenalnya? Ceritakan padaku." ujar Naruto yang mulai terlihat serius bersama dengan Irene sedangkan Azazel juga terlihat mulai serius melihat nada bicara Naruto.
Azazel mulai menceritakan tentang Kokabiel dari awal di Surga sampai ia jatuh, dia juga menceritakan tentang kekuatan yang Kokabiel miliki setara dengan dirinya bahkan melebihi Azazel karena kemampuannya sama sekali tidak menumpul. Setelah mendengar itu semua, Naruto dan Irene bisa menyimpulkan satu hal yang pasti akan terjadi kedepannya.
"Huh, dia akan menyerang Rias Gremory dan Sona Sitri. Dari hal yang kau ceritakan itu, Kokabiel adalah pelaku pencurian pecahan Excalibur untuk membunuh mereka." ujar Naruto yang mengambil kesimpulan tentang Kokabiel.
"Apa yang akan kita lakukan, Naru-kun?" tanya Irene, dia selalu percaya pada Naruto karena bagaimanapun kecerdasan seorang Flugel dan pengalaman Naruto selama bersamanya selalu tepat.
"Mau tidak mau aku akan terjun, Irene. Pecahnya Great War kedua akan membuat usahaku gagal, setelah ini beritahu Lilith untuk mencari informasi lagi..." Naruto menghentikan perkataannya lalu menatap kearah Azazel yang juga dalam mode seriusnya. "Kau tidak keberatan jika aku melawannya, mesum?" lanjutnya meminta persetujuan Azazel.
"Bisa aku minta satu hal? Jika bisa kau jangan membunuhnya, buat dia sekarat saja...Lalu jangan panggil aku mesum!" ujar Azazel dengan nada sedikit marah diakhir, walaupun yang dikatakan Naruto itu benar adanya. "Siapa kau sebenarnya, Naruto, Irene?" lanjut Azazel melihat keduanya dengan pandangan serius.
Naruto yang mendengar peryanyaan Azazel tentang dirinya sejenak menatap Irene. Mungkin ini sudah saatnya menunjukkan eksistensinya pada dunia ini.
"Aku akan selalu mendukung keputusanmu, Naru-kun." mendengar perkataan Irene membuat Naruto tersenyum kearahnya tetapi langsung hilang saat Irene melanjutkan perkataannya. "Sudah hampir waktunya musim itu datang ufufu~" lanjut Irene yang membuat Naruto merinding sejenak, sedangkan Azazel tampak bingung melihat Naruto.
Naruto mulai menutup matanya, seketika udara disekitarnya menjadi berat dan aura Naruto terlihat berbeda dari biasanya dan itu dirasakan oleh Irene dan Azazel. Azazel sangat terkejut merasakan aura itu seakan sudah pernah merasakan sebelumnya. Ia melihat Naruto mulai membuka matanya dan mendapati pupil mata Naruto yang awalnya berwarna biru safir menjadi salib terbalik.
"K-kau!!!" Azazel sangat terkejut, tanpa ia duga Naruto adalah sosok yang sangat dicari diseluruh dunia setelah Great War. Tindakannya dalam perang akbar itu menimbulkan banyak kerugian pada fraksi Iblis dan Malaikat Jatuh.
"Kau ingat diriku?" tanya Naruto yang sudah menghilangkan aura miliknya begitu juga matanya yang sudah kembali seperti biasa.
"Kau pikir aku pikun? Kau sangat terkenal karena aksimu dulu, tidak kusangka aku bertemu denganmu yang menjadi murid di kota ini. Jika kau disini berarti, perempuan bernama Irene ini adalah Scarlet Despair, bukan?" jawab Azazel, dirinya sangat terkejut dengan fakta yang dia dapatkan saat ini. Pantas saja dirinya kesulitan menahan tekanan Naruto walau hanya sedikit saja.
"Kalian terlalu berlebihan hahaha..." Naruto tertawa mendengar dirinya dan Irene sangat dicari semua fraksi didunia ini.
"Aksimu sangat mengejutkan kau tahu? Membantai separuh fraksi Iblis dan Malaikat jatuh dengan mudah menggunakan pedang ditambah kecepatan yang gila, lalu dibackup oleh seorang penyihir. Aku masi-" perkataan Azazel terpaksa Naruto potong karena merasakan hawa seseorang yang meluncur menuju kearah mereka dengan cepat.
"Irene!"
"Baik."
Blar!
Lingkaran sihir terbentuk dengan cepat lalu memunculkan petir biru dan menyambar sesuatu diatas mereka lalu dengan cepat jatuh ke area sekitar mereka. Ketiganya menatap kearah kawah yang baru saja meledak, Azazel menatap horror kekuatan Irene yang tergolong sangat kuat itu. Kepulan asap akhirnya menghilang menampakkan sosok yang armornya mulai menghilang, sosok berarmor itu ternyata seorang pemuda berambut putih. Azazel mengenali pemuda itu, dia adalah muridnya sekaligus pemegang Sacred Gear Hakuryuukou. Dirinya tidak menyangka muridnya yang pemegang Hakuryuukou terkuat kalah hanya dengan satu kali serangan.
"Kami sudah tahu kekuatan naga itu, kami sudah beberapa kali membunuh pendahulunya, Azazel-zan." ujar Irene kepada Azazel yang menatap mereka terkuat.
"Huh, aku tidak tahu harus berkata apa lagi." balas Azazel yang terlihat pasrah jika mengetahui fakta lain tentang mereka berdua. Ras pembunuh dewa ditambah seorang penyihir sekaligus pahlawan perang masa lalu itu bagi sebagian fraksi.
"Jika aku ceritakan, kau tidak akan percaya padaku." ujar Naruto sambil tersenyum kearah Azazel. "Kurasa cukup sampai disini, kami akan pulang terlebih dahulu. Tolong urus muridmu itu dan beritahu jangan seenaknya menyerang lagi." lanjut Naruto yang menggenggam tangan Irene lalu pergi dengan kilatan putih.
"Huh, semoga saja mereka berada di pihak yang benar." gumam Azazel sambil menatap kearah Vali yang pingsan dengan keadaan yang cukup mengenaskan. "Bocah merepotkan." lanjut Azazel sambil menggendong Vali lalu pergi dengan sayapnya menuju Grigori.
XxX
Esoknya, seperti biasa Naruto dan Lilith berangkat ke akademi. Tapi sepertinya mereka sedikit terganggu karena didepan gerbang akademi sudah ada Sona dan Rias beserta peerage mereka masing - masing.
"Oh, ayolah...Aku malas menghadapi mereka." ujar Naruto yang merasa bosan harus menghadapi kumpulan remaja itu, ia bisa melihat ketetertarikan di mata Sona dan Rias. Naruto bisa menebak jika mereka berdua mempunyai rencana untuk merekrut dirinya dan Lilith menjadi Iblis.
"Itu semua salahmu kemarin, Naruto-kun." tukas Lilith mengingatkan Naruto saat mereka ketahuan karena terlalu ceroboh kemarin.
"Bisakah kalian berdua ikut kami, Namikaze-san, Asami-san?" ajak Sona kepada Naruto dan Lilith, dia sudah tahu perihal mereka berdua. Tidak disangka jika mereka mengetahui eksistensi selain manusia dan juga kekuatan mereka tergolong hebat walaupun hanya teleportasi dan sihir seperti yang diceritakan Rias.
"Bagaimana kalau saat pulang sekolah? " tawar Naruto, setidaknya mereka berdua masih bisa menikmati jam sekolah mereka saat ini. Sona terlihat menyipitkan matanya mencari kebohongan dimata Naruto. "Tenanglah, kami tidak akan kabur." lanjut Naruto yang mengerti arti tatapan Sona begitu juga yang lainnya.
"Issei dan Asia akan menemani kalian ke ruang klubku.." ujar Rias kepada Naruto dan Lilith yang mengangguk mengerti, mereka kemudian membubarkan diri ke kelas mereka masing - masing.
Siang harinya, Naruto dan Lilith masih berada dijelas begitu juga Issei dan Asia. Dari yang Naruto lihat Issei dan Asia tampak sedikit canggung, mungkin mereka masih belum mempercayainya.
"Tenanglah, kami tidak pernah berbuat hal jahat." ujar Naruto kepada Issei dan Asia yang tersentak kaget karena Naruto mengetahui isi pikiran mereka.
"Kami tidak bermaksud jahat kok, lagipula kami sudah menganggap kalian sebagai teman, Issei-san, Asia-san." sahut Lilith sambil tersenyum meyakinkan keduanya.
"U-um, maafkan kami, Naruto-san, Lilith-san." balas Asia sambil menundukkan kepalanya bersama dengan Issei.
"Lebih baik kita segera ke tempat ketua kalian. Dia mudah marah bukan?" ujar Naruto.
"Darimana kau tahu, Naruto-san?" tanya Issei, perkataan Naruto tepat sasaran menurutnya.
"Mudah saja, perempuan berambut merah itu mudah emosian. Panggil aku Naruto saja, jangan terlalu formal padaku." jawab Naruto dengan lancarnya tanpa melihat Lilith yang mengeluarkan aura hitam. Issei dan Asia terlihat berkeringat dingin melihat Lilith yang sepertinya akan marah.
"Naruto-kun." Naruto baru sadar jika perkataannya memancing perempuan disebelahnya. Dia perlahan menolehkan kepalanya kearah samping dan melihat Lilith yang mengeluarkan sebuah pistol andalannya.
"Kau mau mati?"
"T-tidak! Maafkan aku, Lilith."
"Hmm?" gumam Lilith sambil mulai mengisi pistol itu dengan sihirnya, perlahan energi terisi dipistol itu dan menimbulkan kesan horor untuk Naruto. Dia melihat kearah Issei dan Asia yang ketakutan melihat perubahan Lilith.
"Terpaksa aku harus melakukan itu." Naruto dengan cepat memegang pistol itu dan langsung mengecup bibir Lilith. Pistol yang awalnya terisi sihir mulai menghilang, Lilith tampak terkejut dan mematung dengan tindakan Naruto barusan. Naruto memegang pipi sebelah kanannya lalu menatap mata Lilith.
"Kau cantik sekali, Hime. Aku semakin mencintaimu." ucap Naruto kepada Lilith yang sudah semerah rambutnya sedangkan Issei sudah mengeluarkan darah dihidungnya, lain lagi dengan Asia yang matanya berputar - putar ditambah rona merah karena melihat adegan romantis itu.
"N-N-NARUTO!!!" Lilith mengeluarkan sniper miliknya lalu membidik Naruto.
"Sh*t! Tamat riwayatku!"
Boom!
Suara ledakan terdengar keras di akademi itu, untung saja akademi sudah sepi karena para murid pulang kerumah mereka.
Ruang klub Penelitian Ilmu Gaib
Sona dan Rias beserta peerage mereka berdua duduk di sofa ruangan itu, mereka menatap Naruto dan Lilith yang duduk berseberangan dengan mereka.
"Ohayou gozaimasu, minna." sapa Naruto sambil tersenyum manis kearah dua kelompok iblis didepan mereka.
Duagh!
"Ini sudah siang, Naruto-kun." ujar Lilith sambil menjitak kepala Naruto yang mengaduh kesakitan.
"U-uh."
Melihat interaksi Naruto dan Lilith membuat yang lainnya sweatdrop. Sona yang sadar akan itu mulai berdehem agar mendapat perhatian dua orang didepannya.
"Ehem, karena kalian sudah disini bisa jelaskan tentang diri kalian?" tanya Sona, tapi pertanyaannya tidak dijawab oleh Naruto dan Lilith yang masih asyik dengan pertengkaran kecilnya. Dahi sona berkedut kesal, Rias dan yang lainnya menahan tawa melihat Sona yang diabaikan.
Brak!
Suara gebrakan meja mengalihkan pandangan Naruto dan Lilith, mereka berdua melihat Sona yang menatap tajam kearah mereka.
"Ya?" sekali lagi Sona harus menahan amarahnya melihat tingkah Naruto. Sebelum ia mengeluarkan suaranya, Lilith terlebih dahulu menjawab perkataannya.
"Kami murid di akademi Kuoh, kau sendiri tahu bukan, Kaichou?" jawaban Lilith dengan polosnya berkata seperti itu, memang benar dirinya dan Naruto murid disini tapi itu malah memancing amarah Sona lebih jauh. Berbeda dengan Sona, yang lainnya tampak tidak kuasa menahan tawa dan akhirnya lolos dari mulut mereka. Baru kali ini Sona dipermainkan didepan mata mereka selain kakak Sona.
"Diam atau kuhukum kalian." ujar Sona dengan nada dingin yang ditujukan pada kelompoknya dan Rias. Seketika mereka terdiam mendengar ancaman Sona.
"Maksudku, kalian berasal dari fraksi mana, Asami-san." tanya Sona sekali lagi dan diperjelas agar Naruto dan Lilith menangkap maksud perkataannya.
"Kami hanya manusia biasa, bukankah kalian sudah memeriksa aura kami saat pertama kali datang kesini. Kami hanya belajar sihir kuno jadi mungkin aura kami sedikit samar." jawab Lilith, Sona dan Rias terkejut karena Lilith mengetahui tindakan mereka. Sona langsung membenarkan kacamatanya dan menatap mereka.
"Apakah kalian memiliki tujuan tertentu di kota ini?"
"Tidak ada, kami hanya ingin hidup seperti biasa." sahut Naruto yang tiba - tiba mengeluarkan suaranya. Sona yang mendengar itu mulai menajamkan matanya menatap Naruto dan Lilith untuk melihat jika ada kebohongan pada ucapan Naruto. Merasa jika tidak ada kebohongan, Sona memejamkan matanya sejenak.
"Baiklah, kami percaya pada kalian."
"Apakah kalian mau bergabung dengan ka-" perkataan Rias yang tiba - tiba menyela langsung dipotong oleh Naruto dengan cepat.
"Tidak akan dan tidak akan pernah." ucap Naruto menyela perkataan Rias yang mengajaknya bergabung, Rias yang mendengar itu masih berusaha mengajak mereka.
"Ayolah, kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan." tawar Rias sekali lagi, Lilith sendiri memilih untuk tidak ikut campur. Pilihan Naruto adalah yang terbaik menurutnya.
"Hmm, berikan tubuhmu." ujar Naruto sambil menunjuk Rias dan Akeno yang mengagetkan semua yang berada disitu.
"Hah?!" respon semua yang berada disitu.
"Ara ara~ ternyata kau mesum ya, Namikaze-kun." ujar Akeno dengan tawa khasnya.
Rias merona tipis mendengar permintaan Naruto, memang dia sangat tampan tapi permintaannya terlalu tinggi walaupun mereka mau.
"Apa maksudmu, Naruto-san?!" tanya Issei, wajahnya terlihat mengeras mendengar perkataan Naruto. Buchounya harus menjadi salah satu anggota haremnya dan itu harus, nistanya dirimu Issei.
"H-hei!" Lilith terkejut dengan perkataan Naruto, ia tidak menyangka dengan permintaan Naruto. "Apakah dirinya, Irene dan yang lainnya belum cukup? Eh, kenapa aku berpikir seperti itu." batin Lilith.
"Kau tahu maksud perkataanmu, Naruto-san?" tanya Sona, permintaan Naruto terlalu lancang menurut dirinya dan yang lain.
"Oya oya... Just kidding." jawab Naruto sambil mengeluarkan eye smilenya.
Keadaan menjadi tenang kembali setelah Naruto mengatakan hal itu hanya candaan saja.
"Ufufu~ padahal aku mau lho, Namikaze-kun~" ujar Akeno dengan nada menggoda kepada Naruto.
"Tidak akan!" sahut Lilith kepada Akeno dengan tegas menolak perkataan itu. Wajah Lilith terlihat menahan emosi, Naruto yang melihat itu menyeringai ingin menggoda Lilith tapi entah mengapa ia tidak jadi menggodanya.
"Oh ya, apakah kalian sudah mendapatkan informasi mengenai pecahan Excalibur?" tanya Rias pada Naruto dan Lilith, mereka bilang akan membantu kelompoknya dan utusan gereja mencari pecahan Excalibur.
"Kami sudah mendapatkannya walau hanya spekulasi, pencurinya adalah Kokabiel, sang Bintang Fajar. Dia saat ini berada dikota ini." jawab Naruto yang membuat semua yang berada disitu terkejut. Kenapa petinggi Malaikat Jatuh mencuri pecahan Excalibur? Pikir mereka.
"Jika dia berada di Kuoh, apa yang ia rencanakan? Mengingat ini adalah wilayah Iblis yang dititipkan oleh dewa dewi Shinto pada kami." tanya Sona, ia berpikir keras mengapa Kokabiel berani datang dikota ini. Seharusnya ia bisa menyadari jika Malaikat Jatuh itu berada disini, tapi ia kembali tersadar jika pengawasan kelompoknya dan kelompok Rias sangatlah rendah karena kejadian yang menimpa Issei dan Asia.
"Seharusnya kalian sadar, calon pewaris klan Gremory dan klan Sitri berada dikota ini. Berarti tujuannya bukan untuk bersembunyi melainkan ingin membunuh kalian, dengan begitu fraksi Iblis akan membalaskan kematian kalian dan dengan begitu dimulailah perang." jelas Naruto panjang lebar, pemikiran yang Naruto berikan sangat masuk akal. Ketegangan melanda di ruangan itu, bagaimana mereka bisa melawan Kokabiel yang kekuatannya jauh berada diatas mereka nanti.
"Kenapa kau bisa tahu tentang itu?" tanya Sona. Ia sedikit curiga dengan Naruto, dia bahkan belum percaya dengan perkataan Naruto tentang dirinya hanya bersekolah disini.
"Otakku lebih pintar darimu, Kaichou." ujar Naruto sambil menyeringai menatap Sona yang kesal dengan jawabannya.
"Jangan sombong, Naruto-kun." sela Lilith, walaupun ia mengakui jika Naruto itu sangat pintar bahkan jenius. Ia ragu jika ada yang menandingi kecerdasan Naruto dijaman sekarang. "Kami akan memberi bantuan jika Kokabiel menyerang kalian nanti." lanjutnya pada Sona dan yang lain.
"Baiklah, aku percaya pada kalian." balas Sona sambil membenarkan kacamatanya. Mungkin nanti malam ia akan memberitahukan hal ini pada kakaknya, mustahil ia bisa mengalahkan Kokabiel yang kekuatannya diatas mereka. Mungkin ini keputusan yang tepat, tapi ada perasaan gelisah dihatinya seakan nanti malam akan terjadi hal yang mengerikan.
"Kalau begitu kami pergi dulu. Selamat tinggal minna..." Naruto menggenggam tangan Lilith dan berdiri dari situ, ia menatap Rias dan Akeno sebentar. "Aku masih menginginkannya loh, tomat-senpai, Akeno-senpai." lanjutnya lalu menghilang bersama dengan Lilith.
"Sialan! Siapa yang kau panggil tomat!" teriak kesal Rias dikatai tomat oleh Naruto.
"Ara ara~ apa yang dikatakan Naruto benar, Rias. Wajah bulatmu dan rambut merahmu sangat cocok dengan tomat." goda Akeno pada Rias yang semakin memerah mendengar ejekan itu.
"Akeno!"
"Kami kembali dulu ke ruang OSIS, berhati - hatilah." ujar Sona pada kelompok Rias lalu pergi dengan kelompoknya meninggalkan ruangan itu.
XxX
Malam harinya, Akademi Kuoh yang biasanya sepi seperti sekolah lain. Kini tampak dipenuhi dengan cahaya terang dan jika dilihat dari dekat terdapat kekkai yang mengelilingi akademi itu. Sona dan peeragenya saat ini sedang mempertahankan kekkai miliknya, mereka tidak menyangka jika Kokabiel menyerang mereka malam ini. Sona yang awalnya ingin pergi ke underworld terpaksa gagal karena Kokabiel yang saat ini sedang melawan kelompok Rias. Kokabiel bahkan membawa bawahannya setidaknya sekitar 100 pasukan.
Rias dan kelompoknya saat ini terluka parah menghadapi pasukan Malaikat Jatuh itu. Mereka berhasil menumbangkan sekitar 30 Malaikat Jatuh tapi itu tidak menutup kemungkinan jika mereka akan kalah saat ini. Mereka bahkan belum melihat Kokabiel mengeluarkan kekuatannya.
"Apa cuma ini kekuatan adik dari Maou Lucifer? Menyedihkan sekali." ujar Kokabiel menatap kelompok Rias yang sudah kehabisan tenaga, ia disana juga melihat utusan gereja yang membantu kelompok iblis itu.
Disitu hanya Rias, Akeno, Issei dan Asia yang bertahah sedangkan Kiba dan Koneko pingsan karena terus menerus melawan Malaikat Jatuh yang datang. Xenovia dan Irina terengah - engah, kekuatan mereka sudah habis karena terus menahan gempuran dari Malaikat Jatuh.
"Habisi mereka!" perintah Kokabiel kepada pasukannya, mereka lalu menciptakan banyak sekali tombak cahaya bahkan memenuhi langit malam hari itu. Rias dan yang lain sudah pasrah dengan itu, mereka bahkan terduduk diam melihat banyaknya tombak yang dikeluarkan musuhnya.
"Arigatou, minna." ujar Rias sambil menangis melihat nasib mereka yang sebentar lagi akan mati.
"Saa, dengan begini Great War akan mulai kembali!" setelah perkataan itu, semua mulai meluncurkan tombaknya kearah Rias dan yang lainnya. Mereka hanya bisa terdiam menunggu ajalnya yang sebentar lagi datang.
Lubang distorsi muncul dijalur tombak Malaikat Jatuh dan melahapnya sampai habis, Kokabiel yang melihat itu terkejut melihat itu. Sona dan peeragenya juga sama terkejutnya, mereka memfokuskan pandangannya kearah dua orang diddepan Rias yang entah sejak kapan muncul disitu. Mereka terkejut melihat Naruto dan Lilith datang dan menyelamatkan Rias dan yang lainnya.
"Ohayou! Sepertinya kalian ingin mati hahaha..." sebuah suara menginterupsi pendengaran mereka yang berada didalam kekkai. Rias dan Akeno mulai membuka matanya lalu menemukan Naruto dan Lilith didepan mereka. Asia yang sedang mengobati Issei dengan Twillight Healingnya tersenyum lemah melihat kedatangan Naruto begitu juga Issei, Xenovia dan Irina.
"Ohayou gundulmu, Naruto-kun!" sahut Lilith disamping Naruto, dia saat ini nengenakan celana jeans panjang dan blus putih sambil membawa sniper miliknya. Dia menatap kesal Naruto yang masih bercanda disaat genting ini.
"Ugh, kau kasar sekali, sayang~"
Duagh!
"Berhenti menggodaku, kita lawan dulu mereka." Lilith terlihat kesal dengan tingkah Naruto lalu memukulnya dengan keras. Kejadian absurd itu ditanggapi sweatdrop oleh Rias dan yang lainnya.
"B-baiklah. Kau bersihkan tikus itu dan aku akan mengobati mereka dulu." perintah Naruto pada Lilith sambil mengeluarkan lingkaran sihirnya diatas Rias dan yang lainnya. Perlahan partikel kecil keluar seperti serbuk mengelilingi mereka dan kondisi mereka menjadi lebih baik. Rias dan yang lainnya merasa luka yang ada ditubuh mereka menghilang dan stamina mereka pulih kembali.
[Meteor Burst]
Lilith menembakkan sihirnya kearah pasuka Malaikat jatuh itu, saat hampir didekat mereka. Serangannya terpecah menjadinbanyak dan perlahan mengenai kumpulan Malaikat Jatuh itu. Semua yang berada disitu terkejut melihat serangan tunggal Lilith yang berhasil membunuh Malaikat Jatuh dengan mudahnya dan menyisakan Kokabiel saja.
"Menarik, sungguh menarik! Kelihatannya kalian kuat." ujar Kokabiel yang terbang Naruto dan lainnya.
"Oya, diamlah tikus." balas Naruto yang sudah memegang katana putih ditangannya. Bentuknya sangate elegan dan terdapat aura misterius disekeliling katana itu. "Aku akan mengurusnya, kau lindungi mereka." lanjut Naruto pada Lilith yang menganggukan kepalanya.
Naruto melihat kearah Kokabiel yang sudah bersiaga diatasnya sambil membawa pecahan Excalibur.
"Siapa kau? Aku baru melihat sihir penyembuhan seperti itu." tanya Kokabiel yang menyipitkan matanya kearah Naruto, ia harus waspada pada musuhnya itu.
Kokabiel membulatkan matanya melihat Naruto sudah berada didepannya, belum sempat ia bereaksi Naruto sudah menebas tangan kirinya. Kokabiel yang tidak mau diserang lagi terbang mundur menjaga jarak dari Naruto yang sudah berada dibawah lagi. Kecepatan Naruto seperti kecepatan cahaya, dia tidak bisa melihat Naruto yang menyerangnya.
Lagi - lagi Kokabiel terpaksa merasakan sakit di bagian punggungnya, ia melihat semua sayapnya sudah hilang.
"Argh! sialan! Siapa kau?!" Kokabiel sangat geram, baru kali ini ia diserang tanpa bisa membalas sedikitpun bahkan ini baru terjadi selang beberapa detik.
"Berisik!"
"Brengsek! Aku akan serius kali ini." teriak Kokabiel lalu ia mengeluarkan botol berisi cairan hitam. Setelah ia meminumnya, kekuatan Kokabiel meningkat drastis dan tubuhnya menjadi lebih mengerikan dengan sisik dikulitnya serta gigi runcing menambah kesan horror disitu. Semua yang berada disitu merasa tertekan dengan kekuatan Kokabiel yang meningkat drastis kecuali Naruto dan Lilith yang tampak biasa saja.
"Hmm, bukankah itu milik Ophis?" ujar Naruto kepada Kokabiel.
"K-kau...Darimana kau tahu?" Kokabiel terkejut mendengar perkataan Naruto yang mengetahui cairan yang ia peroleh dari Ophis.
"Kurasa aku tidak perlu menjawabnya, mari berdansa, Kokabiel!" seru Naruto yang menerjang Kokabiel dengan cepat, kecepatan Naruto tidak bisa ditandingi olehnya. Padahal ia sudah meminum cairan yang diberikan Ophis, tapi ia tetap tidak bisa mengimbanginya.
Crash! Crash! Crash!
Kaki dan tangan Kokabiel terpisah dari tubuhnya menyisakan kepala yang berada ditubuhnya. Kokabiel terkejut dirinya tidak bisa meregenerasi tubuhnya, padahal ia sudah meminum darah naga. Ia lalu menatap Naruto, betapa terkejutnya saat melihat mata Naruto berubah menjadi pupil dengan salib terbalik. Hanya dia yang bisa melihat perubahan mata Naruto karena Naruto menundukkan kepalanya.
"K-kau?!" Kokabiel tahu ciri - ciri itu, ia terkejut karena eksistensi yang seharusnya sudah punah kini berada didepannya.
Disamping itu, Rias, Akeno, Issei dan Asia terlihat terperangah dengan kecepatan Naruto. Mereka bahkan tidak bisa melihat Naruto yang sudah berada didepan Kokabiel.
"Dia mengalahkan Kokabiel dengan mudahnya tanpa hambatan sedikitpun, kekuatan apa yang Naruto miliki."pikir Rias dan kelompoknya
Naruto yang berada tak jauh dari Kokabiel menciptakan lingkaran sihir lumayan besar diatas Kokabiel. Dibawah lingkaran sihir itu, dihiasi berbagai macam warna cahaya kecil yang menghiasi langit malam.
[Explosion]
Ledakan besar terjadi diakademi Kuoh, semua yang berada mau tak mau berpegangan karena daya ledak yang besar dan membuat mereka terseret beberapa meter. Bahkan Xenovia dan Irina yang saling berpegangan terpental karena ledakan itu. Debu mengepul menutupi akademi Kuoh, cukup lama debu itu menghilang memunculkan Naruto yang berjalan kearah mereka. Bersamaan dengan itu, Sona dan peeragenya menghilangkan kekkai yang menyelimuti akademi.
"Kalian baik - baik saja?" tanya Naruto pada Lilith dan yang lainnya. Sona dan peeragenya sudah berkumpul bersama mereka lalu menatap Naruto.
"Seperti yang kau lihat." jawab Sona.
"Siapa dirimu dan Lilith sebenarnya? Kekuatan kalian diluar nalar." tanya Tsubaki, Ratu dari peeragae Sona. Semua yang disitu menganggukkan kepalanya menyetujui pertanyaan Tsubaki.
"Tanyakan pada rumput yang bergoyang." jawab asal - asalan Naruto yang membuat semua sweatdrop.
"Kalian berdua kenapa, Xeno, Irina?" tanya Naruto melihat keduanya yang termenung diam. Rias yang melihat itu segera memberitahukan penyebab diamnya mereka berdua. Dari yang Naruto tangkap, Kokabiel pasti memberitahukan kematian Tuhan saat Great War.
"Huh, Tuhan belum mati...Terserah kalian berdua percaya atau tidak, tentukan jalan kalian sendiri." ujar Naruto kepada Xenovia dan Irina yang tersentak kaget, sejenak mereka diam lalu mengeluarkan senyum seperti biasanya.
"Arigatou... Kami sudah memutuskan untuk bergabung dengan Rias Gremory menjadi peeragenya." ucap Irina dengan Xenovia yang tersenyum, mereka terkejut dengan pernyataan keduanya.
"B-benarkah itu?!" tanya Issei yang tidak percaya dengan ucapan Irina.
"Benar, lagipula kami memilih jalan kami sendiri sekarang dan..." Xenovia menjeda perkataannya lalu mendekat kearah Naruto dan ia segera mengecup singkat bibir Naruto. "Aku ingin menjadi istrimu." lanjut Xenovia, semuanya mematung saat Xenovia melanjutkan perkataannya. Lilith yang mendengar itu memerah lalu melihat kearah Naruto yang tersenyum kaku padanya.
"Kita pulang!" seru Lilith menggenggam tangan Naruto, ia menciptakan sihir teleportasi lalu perlahan mulai menghilang. Sesaat dia mendengar Xenovia mengucapkan sesuatu yang membuatnya sedikit jengkel.
"Aku akan agresif lho~" ucap Xenovia bersamaan dengan perginya Naruto dan Lilith. Ia lalu menatap sekitar dan melihat banyak yang merona melihat adegan tadi.
"K-kau sehat, Xenovia-chan?"
"Aku baik - baik saja. Reinkarnasi kami menjadi iblis, Buchou." ujar Xenovia yang membuat Rias tersadar lalu mendekat kearahnya dan melalukan ritualnya.
"Arigatou." balas Rias, ia merasa senang mendapat keluarga baru. Mungkin dengan ini ia bisa menolak perjodohannya dengan Riser.
Tanpa mereka sadari, ada dua orang perempuan berambut putih yang melihat kejadian tadi dari jauh. Mereka kemudian menghilang meninggalkan tempat mereka bersembunyi.
XxX
Naruto dan Lilith kini berada didanau untuk menemui Azazel, mereka berjalan kearahnya yang cukup dekat.
"Yo, Azazel. Aku membunuhnya, maaf." ujar Naruto, Azazel sendiri tampak melihat Naruto yang baru saja datang. Ia tampak bingung dengan kehadiran perempuan disamping Naruto, perempuan itu tampak terlihat berbeda dengan Irene terlebih dibagian dadanya.
"Anda mau mati?" ujar Lilith sambil menutupi dadanya dari pandangan Azazel, aura hitam mulai keluar dari tubuhnya dan ia mengeluarkan pistol miliknya. Azazel yang melihat itu berkeringat dingin.
"Jangan menatapnya seperti itu, ero datenshi."
"M-maafkan aku. Padahal aku ingin kau membuatnya babak belur saja tapi sudahlah."
"Baiklah, kami pulang dulu."
"Oh ya, ada seseorang yang ingin meminta bantuan padamu." ujar Azazel, ia teringat ada seseorang yang ingin menemui Naruto.
"Siapa dia?" tanya Naruto bingung, padahal ia disini hanya beberapa minggu.
"Besok datanglah kesini dan juga hari minggu datanglah ke pertemuan 3 fraksi."
"Hah? Untuk apa?" Naruto merasa dirinya bukan orang penting dalam pertemuan itu.
"Tentu saja karena kau terlibat dalam insiden tadi." jawab Azazel.
"Terserahlah." balas Naruto lalu pergi bersama Lilith dengan kilatan putih meninggalkan Azazel yang melanjutkan kegiatan memancingnya.
TBC
Maaf lama update, ada gangguan mental sedikit
Cuma Fight singkat aja disini. Chap depan bakal lebih seru ufufufu~
2 perempuan berambut putih itu saya ambil dari anime lain, yang tahu cirinya silahkan tebak yak kwkwkw
QNA
Maulanayusuf42 : Itu karna sifat Jibril yang lumayan mesum ya saya ambil aja kwkwkw
Ayumi Rein : Mitologi yang ikut terlibat? Hmm, cuma Olympus sih kayanya, mengingat kelakuan mereka yang cukup... Begitulah kwkw, trus tentang balas dendam itu pasti sih pasti.
REVANOOFSITHLORD : Yoi
AnTo Aee : udh tuh
Aulshi : udh saya ganti, makasih ya~
Putras : saya ambil kok, tapi itukan Naruto masih dalam pelarian dari kejaran Olympus kan... Next bakal ada konflik mereka kok.
FI. TEGAR - KUN : yups, thanks reviewnya.
Yang lainnya saya ucapkan makasih.
