Cast : all member BTS
Genre : Family, brothership, little bromance
.
.
.
Author pov
.
.
.
Langkah kaki Seokjin menggema ditangga menuruni atap kampus. Secepat mungkin lari dari keadaan yang menghimpit ulu hatinya hingga membuatnya sesak, menahan rasa yang mungkin akan segera meledak. Keberadaan mereka, wajah mereka, juga tatapan tajam mereka membuat setetes, dua tetes hingga mengalirlah air mata yang ditahannya sekuat tenaga.
Seokjin tidak pernah berharap meskipun hanya sedikit saja untuk berkumpul bersama mereka lagi seperti ketidaksengajaan tadi. Seokjin tidak mau menyakiti hati mereka, hatinya. Sudah cukup beban hidupnya selama ini. Seokjin butuh sandaran, dia butuh seseorang untuk menopangnya saat masa terapuhnya. Tapi karna keegeoisannya Seokjin kehilangan itu semua.
Air mata itu tetap mengalir menemani perjalannya meuju tempat teramannya untuk megungkapkan rasa letihnya. Apartemennya, yang menjadi saksi rasa penyesalan dan bersalah seorang Kim Seokjin
.
.
.
.
.
Kim Namjoon, Min Yoongi, Jung Hoseok, Park Jimin, Kim Taehyung dan juga Jeon Jungkook, serta kita bisa masukkan Kim Seokjin didalamnya. Jika saja Seokjin masih mau bersama mereka. Mereka ber-6 adalah sekumpulan anak orang-orang kaya dan berpengaruh di Korea.
.
Min Yoongi, anak pemilik salah satu agensi terbesar di Korea, yang mengeluarkan banyak artis terkenal didalamnya. Min Yoongi juga ikut bekerja disana sebagai seorang produser. Hobinya dalam bermusik membuatnya mampu menciptakan lagu yang apik, bersama rekannya yang tak lain adalah sahabatnya, Kim Namjoon.
.
Kim Namjoon dan Kim Taehyung. Dua bersaudara beda sifat tapi dengan ketampanan dan kharisma yang sama memikatnya. Anak pemilik sebuah perusahaan Asing yang terkenal yang tinggal di Korea. Kim Taehyung yang lebih menonjol dalam bernayanyinya. Berbeda dengan sang kakak, Kim Namjoon, yang lebih memilih jalur rap bersama sahabatnya, Jung Hoseok.
.
Jung Hoseok. Putra pemilik perusahaan elektronik terbesar di Korea. Namja dengan bakat menarinya yang mempesona serta lantunan rapnya yang indah dengan kedua rekannya Min Yoongi dan Kim Namjoon
.
.
.
.
.
Hubungan persahabatan mereka ber-6 terjadi karna orang tua mereka dahulu juga bersahabat. Karna sering bertemu, hingga membuat anak-anak mereka menjalin persahabatan yang sama hingga sekarang. Tak ada yang memungkiri, pesona ke-6 anak ini mampu mengalihkan setiap mata yang melihat mereka di kampus, tanpa menyadarai seseorang menahan sakitnya melihat mereka ber-6.
Kim Seokjin dulu adalah bagian dari mereka. Hingga setelah kedua orang tuanya meninggal karna musuh ayahnya yang membuat sebuah rencana kecelakaan hingga menyebabkan kematian mereka, membuat Seokjin memilih meninggalkan dunia penuh hartanya.
Jika kalian berpikir orang tua Seokjin miskin hingga membuatnya harus bekerja part time, kalian salah.
Kim Seokjin. Anak pemilik perusahaan otomotif di Korea. Seokjin bisa saja masuk dalam jajaran anak orang kaya, bahkan bisa disebut anak konglongmerat. Hanya saja tidak ada yang tau perihal ini kecuali mereka ber-6 dan juga keluarga mereka.
Seokjin memilih meninggalkan dunia bergelimang hartanya karna tidak mau mengingat orang tuanya. Dia tidak mau merasa sedih lagi, hinga akhirnya Seokjin memilih pergi dan mempercayakan perusahaan orang tuanya kepada pamannya, ayah Jungkook.
.
.
.
.
.
Masih teringat jelas diingatan mereka ber-6 permintaan Seokjin saat ingin pergi meninggalkan mereka dan keluarganya yang lain. Protes, rasa tidak terima juga kesedihan akan keputusan itu meluap saat mereka melihat dengan jelas tetesan air mata Seokjin jatuh saat dia meninggalkan mereka diatap.
"Sungguh hyung, aku lebih suka melihat Seokjin hyung marah padaku daripada melihatnya menangis seperti itu." Ucap Jungkook sambil menatap langit yang mulai memancarkan sinar orange.
Hari sudah mulai sore. Tapi karna pikiran mereka masing-masing, membuat mereka berdiam diatap selama berjam-jam.
"Seokjin hyung yang tersenyum jauh lebih baik meskipun hanya senyuman tipis." Ucapan Taehyung membuat semua yang berada disana menatap kearahnya.
"Aku masih ingat terakhir kali dia tertawa bersama kita." Ucap Taehyung menatap sahabatnya yang lain "Itu sekitar 2 tahun yang lalu, dan aku ingin melihantnya lagi hyung" ucap Taehyung sendu. Mereka yang disana mengerti perasaan Taehyung, karna mereka memiliki perasaan yang sama. Rindu.
"Apa yang Seokjin hyung lakukan tadi, Namjoon?" tanya Yoongi sesaat setelah ocehan Taehyung sedikit membuatnya tercekat. Dan akhirnya memilih menanyakan hal lain untuk mengalihkan perasaanya itu.
Namjoon yang daritadi hanya diam, menatap Yoongi sebentar dan mengalihkan pandangannya ke langit yang juga sedang dipandangi Jungkook, "Aku tidak terlalu melihat hyung. Tapi sepertinya dia sedang mempelajari sebuah lirik." Ucap Namjoon pelan "Aku sedikit melihat dia memegang sebuah kertas ditangannya."
"Mungkin untuk test besok?" tanya Jimin menegaskan. Dan pertanyaan Jimin seolah menutup pembicaraan mereka yang tengah sibuk memandangi langit sore yang begitu indah dan cerah. Test besok adalah penentuan mereka, karna untuk pertama kalinya kelas seni digabung untuk menjalankan test bersamaan. Dan mereka tidak ingin ada yang mengacaukan test mereka. Meskipun itu hanya sekelebat bayangan tentang hyung mereka. Kim Seokjin.
.
.
.
.
.
Pagi ini Seokjin nampak sedkit tak bersemangat. Raut wajahnya lesu kontras dengan sedikit lingkar mata yang terlihat di kedua mata bulatnya. Bibir yang biasanya menampakkan senyum dipagi hari tak lagi terlihat terbungkam dengan katupan rapat kedua bibirnya.
Kemarin sore adalah hari terberatnya. Menangis sepanjang malam mengingat teman yang tak sengaja dilihatnya diatap. Tangisan itu membuatnya lelah dan terlelap hingga melupakan lirik dan demo lagu yang diberikan Yesung ssaem padanya kemarin untuk ditampilkan ditest nanti.
Agak kesulitan memang memahami liriknya yang begitu dalam. Tapi setelah bangun dari tidurnya dengan mata bengkak Seokjin berusaha menggunakan waktu singkatnya untuk mempelajari lirik dan musik tersebut.
Entah hasil apa yang akan dia dapatkan nanti. Tapi setidaknya Seokjin sudah berusaha mempelajarinya dan menemukan lirik yang pas sesuai dengan demo yang akan dinyanyikannya. Yang bisa Seokjin lakukan saat ini hanya percaya pada dirinya sendiri.
Gerbang BigHit sudah terbuka lebar. Mahasiswa lain sudah berhamburan masuk ke kelas mereka. Sedangkan test fakultas seni diadakan pukul 9, dan sekarang masih pukul 8.20 jadi masih ada waktu bagi Seokjin untuk menuju aula fakultas seni.
.
.
"Seokjin!"
.
.
GREEBB
.
.
Belum sempat Seokjin berbalik, sebuah pelukan menubruknya dari belakang. Senyum terkembang diwajah Seokjin. Siapa lagi kalau bukan Minhyuk.
"Akhirnya kau datang. Aku sudah lama menunggumu Seokjin" ucap Minhyuk melepas pelukannya dan berdiri dihadapan Seokjin. Senyuman yang sebelumnya ingin Minhyuk tampilkan perlahan menjadi guratan khawatir yang sangat disadari Seokjin. "Ada apa Minhyuk? Kenapa kau menatapku seperti itu?"
"Kau baik-baik saja Seokjin? Mukamu pucat. Kau sakit?" tanya Minhyuk masih menatapnya intens. Seokjin yang ditatap seperti itu hanya tersenyum "Aku baik-baik saja" "Tapi aku tidak percaya. Kau pasti berbohong padaku kan, Seokjin?"
Seokjin yang mendengar itu hanya menghela napas perlahan,"Aku sungguh tidak apa-apa Minhyuk. Aku hanya lelah dan mengantuk. Semalam aku mempelajari lagu yang akan aku tampilkan di test nanti." Jawab Seokjin. Tentu dengan sedikit berbohong
Minhyuk masih menatap Seokjin seolah tidak mempercayai setiap ucapan yang keluar dari mulut kecil Seokjin.
"Kau yakin Seokjin, kau hanya lelah?" tanya Minhyuk tidak puas dengan penjelasan Seokjin "Sunggguh aku tidak berbohong Minhyuk-ah" Seokjin benar-benar frustasi menghadapi sifat Minhyuk yang tidak mudah mempercayainya ini.
"Hah baiklah kalau begitu. Sekarang kita masuk saja. Test akan dimulai 30 menit lagi, dan kita harus mencari tempat Seokjin" ucap Minhyuk langsung menarik lengan Seokjin dan membawanya menuju aula fakultas seni. Seokjin hanya diam pasrah menerima perlakuan Minhyuk yang seenaknya menyeretnya. Tapi sungguh Seokjin lelah untuk meladeni Minhyuk kali ini.
"Seokjin ayo cepat! Lihat banyak yang sudah masuk, nanti kita tidak kebagian tempat, lagi" ucap Minhyuk sambil berlari menyeret Seokjin.
"Pelam-pelan saja Minhyuk"
.
.
.
.
.
Aula fakultas seni adalah salah satu tempat paling luas di BigHit. Itu karna banyaknya mahasiswa seni di BigHit hingga kampus menyediakan aula seluas dan selebar ini. Tampat ini biasanya dipakai untuk pertunjukkan musik dan drama. Tapi hari ini, aula ini akan menjadi saksi betapa sempurnanya seorang Kim Seokjin, nanti tentunya.
Kursi didepan pangggung sudah dipenuhi mahasiswa lain. Disamping kiri panggung ada sedikit tempat bagi para ssaem yang menilai test kali ini. Dapat dilihat disana ada Yesung ssaem, Yoon ssaem, GD ssaem dan Eunhyuk ssaem. Mereka adalah jajaran dosen yang paling dikenal di BigHit karna kemampuan mereka.
"Waaahhh itu Bangtan, mereka tampan sekali!"
"Kyaaaa! Jungkook!"
"OMG Namjoon ganti warna rambut lagi?!"
"Bangtan I love U!"
Seruan itu terdengar dimana-mana saat 6 namja masuk bersamaan ke aula seni. Siapa lagi kalau bukan Namjoon, Yoongi, Hoseok, Jimin, Taehyung dan Jungkook atau mereka biasa disebut grup Bangtan. Grup namja-namja tampan.
Seruan itu hanya angin lalu bagi mereka, karna hal itu sudah biasa mereka dapatkan dulu. Jadi mereka hanya diam dan tetap berjalan mencari tempat duduk yang sedikit dekat dengan panggungnya.
"Sudah ku bilang hyung, warna pink terlalu mencolok" ucap Taehyung menatap rambut Namjoon yang berwarna Pink itu, warna yang bukan Namjoon sekali.
"Tapi warna itu bagus untukmu Namjoon," ucap Hoseok ikut mengomentari warna rambut Namjoon
"Tentu saja warna apapun cocok untukku" ucap Namjoon bangga dan menampilkan senyuman menawannya yang membuat Yeoja disekeliling mereka histeris.
"Percaya diri sekali" ucap Yoongi menimpali dan hanya dibalas cekikikan Namjoon.
"Kelas mana yang akan tampil duluan ya?" tanya Jimin yang mulai melihat sekeliling menyusuri aula tempat test diadakan "Anak fakultas seni kan banyak sekali"
Jungkook yang mulanya diam menjawab pelan pertanyaan Jimin "Setauku sih Hyung, Kelas drama tidak jadi test hari ini. Jadi yang test hanya anak dance, vocal dan rap saja."
Jimin yang mendengar itu hanya mengangguk memahami. Tentu saja karna anak seni banyak sekali. Ini hanya 3 kelas, tapi aula hampir penuh. Sungguh Jimin berharap ia dan sahabatnya mendapat urutan awal. Karna kalau tidak, mereka akan lelah menunggu dan memilih tak melakukan test hari ini.
.
.
.
"Permisi-permisi..." seruan Minhyuk mengalihkan wajah member Bangtan dan melihat Minhyuk yang berada tepat dibangku depan mereka mencoba melewati Mahasiswa lain untuk menempati tempat kosong yang persis berada didepan tempat duduk member Bangtan.
"Minhyuk pelan sedikit..." seruan lembut itu, sekali lagi kembali menyita perhatian member Bangtan. Minhyuk tidak sendiri dia sedang membawa, lebih tepatnya menyeret seseorang yang tak lain adalah Kim Seokjin.
Seokjin mendongak dan tatapannya tidak sengaja bertemu dengan ke-6 pasang mata yang juga sedang menatapnya. Menyadari itu Seokjin menundukkan kepala dan sedikit menggenggam tangan Minhyuk didepannya.
"Kau baik-baik saja Seokjin?" tanya Minhyuk berhenti karna merasa remasan Seokjin ditangannya. Seokjin yang mendengar itu hanya tersenyum tipis "Tidak apa-apa. Dimana tempat duduk kita?"
"Itu, kemari" ucap Minhyuk menarik Seokjin mendekat dan menyuruhnya duduk di tempat duduk kosong disamping Minhyuk. Seokjin mengucapkan terima kasih dengan gugup dan mulai duduk, menyadari tempat duduknya tepat didepan tempat duduk temannya itu.
Perasaaan gugup menyelimuti Seokjin, keringat dingin mulai terasa mengalir dipunggungnya. Entah kenapa takdir seolah senang sekali mempertemukan mereka lagi dalam keadaan yang tak menentu.
"Seokjin, kita harus berjuang!" ucapan Minhyuk menyadarkan Seokjin dari pikirannya. Minhyuk mengepalkan tangan dan mengangkatnya setingggi bahu. Seokjin yang melihat itu terkikik geli dengan tingkah Minhyuk.
"Ne. Fighting!" ucap Seokjin tersenyum manis mentap Minhyuk, tanpa menyadari tatapan lembut 6 orang yang melihatnya tersenyum itu. Senyum tulus yang sangat mereka rindukan. Senyuman yang membuat hati mereka menghangat.
.
.
.
.
.
Senyum tulus seorang Kim Seokjin.
.
.
.
.
.
t.b.c
