Author pov

.

.

.

Gelap dan sunyi. Itu yang dirasakan Seokjin didalam gudang ini. Ruangan kotor ini menjadi tempat pengurungan Seokjin oleh teman-teman Jaehwan. Seokjin tidak tau, kenapa dia bisa mengalami hal ini, apa salahnya pada mereka. Seokjin bahkan tak pernah mengusik kehidupan anak-anak di kampus ini. Bahkan dia tak terlalu mengenal anak-anak seni, hanya beberapa termasuk Minhyuk. Dan Seokjin yakin, kehadirannya disini belum sama sekali dia menganggu anak-anak seni, malah dia yang diganggu lebih dulu.

Bukannya Seokjin tak mau melawan atau tak bisa melawan, hanya saja itu semua tak ada gunanya. Semakin Seokjin melawan semakin banyak hal yang akan terjadi padanya. Dulu saat pertama kali dia mendapat perlakuan buruk dikampus ini, Seokjin berniat berhenti dan mencari kampus lain. Tapi mengingat perjuangannya untuk bisa berada di kampus ini membuat Seokjin bertahan hingga tahun keduanya di BigHit.

Seokjin masih menangis sesegukan. Pipinya terasa panas dan sangat sakit. Bajunya yang basah membuat Seokjin merasa kedinginan. Dia ingin menghubungi Minhyuk tentang keadaannya sekarang, tapi handphonenya ada ditas ditempat duduknya tadi.

Seokjin menggigil, rasa dingin itu semakin merambat menjalari seluruh tubuhnya. Hatinya pun menjerit sakit atas kata-kata yang mereka ucapkan. Seburuk itukah Seokjin dimata mereka? Sebenci itukah mereka atas kehadiran Seokjin? Seokjin sendiri tidak mengerti.

.

'Jangan menangis hyung, masih ada kami disampingmu. Kami akan selalu menjagamu'

.

Tiba-tiba Seokjin teringat kata-kata yang pernah diucapkan Namjoon padanya dulu. Entah kenapa Seokjin merasa pikirannya sekarang dipenuhi anak-anak Bangtan. Untuk apa dia mengingat mereka. Mereka menepati janji mereka pada Seokjin. Mereka tidak mengenal Seokjin dan tak menyadari keberadaannya.

Tapi akhir-akhir ini dia sering melihat anak-anak Bangtan mulai mendekatinya lagi. Seokjin masih ingat bantuan Jimin dan Jungkook. Juga saat bertemu Hoseok ditaman. Dan yang lebih parah, Seokjin berpapasan dengan mereka be-6 diatap.

Tapi apakah Seokjin mau berharap sekarang? Berharap teman-temannya itu bisa menolongnya sekarang? Menolong Seokjin yang dulu menyuruh mereka pergi? Menolong Seokjin yang ingin hidup dengan jalannya sendiri? Menolong Seokjin yang tidak bisa dipungkiri dia merindukan teman-temannya?

Tangisan Seokjin kembali pecah, isakan yang menyayat hati itu hanya bisa didengar Seokjin sorang. Seokjin kembali teringat orang tuanya, keluarganya, serta teman-temannya.

.

.

Flashback

.

.

Pemakaman di pinggiran kota Seoul itu sudah sepi hanya ada beberapa orang yang masih ada disana menemani seorang anak remaja yang hanya bisa menatap dua makam kedua orang tuanya dengan wajah datarnya.

Semua yang masih ada disana mengerti perasaan anak itu. Hanya saja mereka membiarkannya sendiri dulu. Membiarkannya berpikir apa yang harus dilakukannya sebagai anak yang masih bisa dibilang baru beranjak dewasa itu.

Seorang namja paruh baya mendekati anak itu "Seokjin, ayo kita pulang sekarang. Ini sudah sore"

Anak itu atau Kim Seokjin, menatap namja paruh baya itu dengan tatapan sedihnya,"Appa Jeon" Seokjin memeluk pamannya itu dan kembali menangis.

Paman Jeon balas memeluk Seokjin dan mengelus punggung Seokjin menenangkan. Orang-orang yang masih disana mengerti apa yang dirasakan Seokjin saat ini. Bagaimanapu berat rasanya ditinggal kedua orang tuanya sekaligus saat masih remaja.

"Ayo Seokjin" paman Jeon menggiring Seokjin untuk membawanya pergi dari tempat pemakaman itu.

.

.

Rumah besar keluarga Kim dipenuhi oleh keluarganya. Suasana berduka juga masih terasa meskipun ini sudah lewat 10 hari setelah kematian Tuan dan Nyonya Kim, apalagi Seokjin yang masih sedih hanya berdiam diri dikamarnya.

Malam ini teman-teman ayah dan ibu Seokjin berada dirumahnya, menemani Seokjin yang sekarang hanya tinggal dengan Jung ajhumma, pengurus rumah keluarga Kim.

Seokjin hanya diam terpaku diatas kasurnya, sudah berhari-hari dia seperti ini. Setiap hari Jung ajhumma selalu membawakannya makanan, meskipun kadang Seokjin tak memakannya. Seperti saat ini, makanan diatas meja nakas tak tersentuh sama sekali olehnya. Hingga sebuah suara membuatnya mengalihkan pandangannya.

" Hai Seokjin hyung" sapaan seseorang yang dikenal Seokjin. Itu teman-teman Seokjin. Anak itu datang bersama 2 temannya dan langsung duduk disebelah Seokjin.

"Jungkook, Taehyung, Jimin" ucap Seokjin, yang membuat mereka bertiga tersenyum.

"Jin hyung, kenapa belum dimakan makanannya? Nanti hyung sakit" ucap seorang Park Jimin.

"Tidak Chim. Nanti saja" Jimin hanya cemberut mendengar itu

"Setidaknya makanlah sedikit hyung. Tubuh hyung semakin kurus saja." kali ini Kim Taehyung yang berkomentar. Bungsu dari keluarga Kim yang berbeda itu menatap Seokjin khawatir

"Tidak apa TaeTae. Aku baik-baik saja" ucap Seokjin berusaha tersenyum.

"Kau tidak baik-baik saja, hyung" suara seseorang menginterupsi percakapan mereka. Terlihat 3 anak lainnya yang juga memasuki kamar Seokjin.

"Aku kira kalian tidak ikut Appa dan Umma" ucap Seokjin ketika mereka bertiga mendekati Seokjin.

"Tentu saja kami ikut, hyung. Kami kan ingin menemanimu hyung" ucap salah seorang dari mereka dengan senyumannya

"Terima kasih, Hoseok, Namjoon dan juga kau Yoongi. Aku kira kau akan betah distudiomu itu, dan tidak ikut kemari, Suga." ucap Seokjin dengan tertawa pelan. Merasa disindir, Min Yoongi atau Suga hanya mendengus mendengar itu.

"Kau yakin kau baik-baik saja, Seokjin hyung?" tanya Kim Namjoon, kakak dari Kim Taehyung.

Seokjin berusaha untuk tersenyum mendengar itu,"Aku baik-baik saja Namjoonie"

"Tapi kenapa kau memaksakan senyummu, hyung?" ucapan Yoongi membuat senyuman Seokjin langsung hilang seketika. Seokjin kembali terpaku dengan pikirannya. Meskipun Seokjin merasa dirinya sudah cukup dewasa, apalagi dia sudah lulus High School, tapi Seokjin merasa dia masih butuh orang tua untuk membimbingnya. Dan kehilangan kedua orang tuanya dengan tiba-tiba, membuat Seokjin merasa sangat sedih dan terluka.

"Seokjin hyung" panggilan Jungkook mengembalikan pikiran Seokjin yang sempat melayang pergi "Kau yakin, kau baik-baik saja, hyung?"

Seokjin memandang teman-temannya yang mengelilinginya saat ini. Mereka selalu menemani Seokjin, meskipun mereka bukan saudara Seokjin, tapi mereka menganggap Seokjin sebagai hyung mereka sendiri.

Seokjin tersenyum tulus, mereka disini menemaninya, mereka ingin Seokjin kembali ceria seperti dulu "Aku baik-baik saja sekarang. Karna ada kalian semua disampingku"

Ucapan Seokjin membuat mereka semua tertawa senang dan memeluk sang hyung. Seokjin beruntung karna memiliki mereka dikehidupannya. Dan semoga mereka bisa bersama selamanya,

"Kami akan selalu disampingmu hyung, menjagamu dan melindungimu. Kita akan selalu bersama-sama. Karna kita adalah Bangtan." Ucap Namjoon

"Tentu saja. Bangtan akan selalu bersama sampai akhir." Ucap Jungkook dengan senyum kelincinya. Mereka semua tertawa dan akhirnya sedikit-sedikit kebahagiaan mulai kembali kesisi Seokjin.

.

.

"Apa yang membuatmu ingin bertemu kami Seokjin?" tanya paman Jeon saat Seokjin meminta teman-teman orang tuanya bertemu di rumah keluarga Kim.

"Appa, aku ingin mengatakan sesuatu." Jawan Seokjin pelan dan menghasilkan tatapan bingung dari sang paman.

"Aku sudah memikirkan semua ini. Aku berniat melanjutkan kuliahku di Seoul." Ucapan Seokjin membuat mereka yang mendengar itu merasa senang. Setidaknya itu membuat Seokjin mampu bersosialisaasi lagi,

"Tentu sayang, tentu saja. Kau mau kuliah dimana? Biar appa yang mencarikan kampus yang terbaik untukmu" ucap tuan Park dengan senyumannya

"Appa.." Seokjin mengenggam erat tangannya sendiri. "Aku minta maaf sebelumnya. Tapi appa, aku ingin menjalani kehidupanku sendiri tanpa bantuan kalian." Ucapan Seokjin membuat mereka tertegun

"Sebenarnya aku berniat meminta bantuan appa untuk terakhir kalinya, tentu kalau appa mau melakukannya" mereka masih terdiam menunggu Seokjin

"Aku sudah tau sebab kematian Daddy dan Mommy, itu adalah perbuatan musuh Daddy kan, Appa?" mereka semua terbelalak

"Seokjin kenapa..."

"Aku sudah tau appa, surat dari Daddy yang ada dimeja kerjanya sudah menjelaskan semuanya. Daddy dan Mommy ingin melindungiku kan? Jadi mereka mengorbankan diri mereka sendiri." Seokjin menunduk

"Appa Jeon, aku ingin appalah yang mengurus perusahaan Daddy. Aku ingin menjalani kehidupanku sendiri dengan caraku sendiri. Bukannya aku ingin melupakan tanggung jawabku sebagai pewaris, aku hanya merasa aku tidak bisa melakukannya sekarang."

"Seokjin"

"Biarkan aku pergi dari sini, appa"

"Apa maksudmu Seokjin?" ucap Tuan Min terkejut

"Daddy bilang tidak ada yang tau siapa aku kecuali kalian. Jadi aku akan pergi ke Seoul bukan hanya untuk kuliah, tapi untuk melindungi diriku dari musuh-musuh Daddy"

"Tapi Seokjin, semakin kau keluar dari jangkauan kami, itu semakin berbahaya. Kami mohon tetaplah disini agar kami bisa melindungimu dengan baik." Ucap paman Jeon.

"Tidak Appa. Aku mohon, aku tidak mau merepotkan kalian lagi. Aku tau kalian melakukan ini karna sayang padaku. Tapi aku juga bisa melindungi diriku Appa. Aku sudah kehilangan Mom dan Dad, aku juga tidak mau kehilangan kalian Appa. Biarkan aku pergi, dan anggaplah aku bukan bagian dari kalian lagi Appa."

"Seokjin, kau tidak merepotkan kami sama sekali sayang. Dan apa itu? Kau tetap anak kami Seokjin, kau pewaris perusahaan ayahmu. Tetaplah disini, anak-anak kami akan selalu bersamamu" Tuan Min mencoba membujuk Seokjin

"Aku mohon Appa, karna kalian sudah menganggapku anak kalian aku mohon kabulkan permintaanku ini. Biarkan aku lepas dari hak pewaris perusahaan Daddy. Aku mohon appa Jeon, aku mohon"

"Tapi kenapa Seokjin?"

"Appa, Daddy berpesan padaku disurat terakhirnya agar aku mampu melindungi diriku dari hal apapun. Dan dengan cara ini tidak akan ada yang tau keberadaanku. Aku akan menjadi orang biasa seperti orang kebanyakan, bukan lagi seorang pewaris Kim Corporate. Aku mohon Appa."

Tuan Jeon, Min dan Park terdiam memikirkan perkataan Seokjin. Bagaimanapun mereka tidak ingin membahayakan Seokjin. Musuh Tuan Kim terlalu banyak. Tapi memang benar, kebanyakan musuh tuan Kim tidak tau tentang Seokjin, sang pewaris Kim Corporate.

"Kau yakin dengan keputusanmu?"

"Tidak pernah seyakin ini." Ucapan Seokjin membuatnya tertegun, tak bisa dipungkiri sifat tangguh sang Tuan Kim menurun terhadap Seokjin.

"Berikan kami alasan agar kami mengabulkan permintaanmu"

"Tentu saja sebagai pewaris keluarga Kim aku tidak bisa terus bergantung pada kalian yang selalu melindungiku. Biarkan aku menghadapi dunia yang sebenarnya sendirian, agar aku mampu melihat kemampuanku sebelum aku memegang jabatan Daddy. Aku mohon, pura-puralah tidak mengenalku meskipun kalian bertemu denganku dimanapun, appa. Aku hanya ingin melatih diriku sendiri sebelum aku pantas menjadi pewaris keluarga Kim."

Mereka semua terdiam, sungguh melihat kesungguhan Seokjin membuat mereka tak mampu untuk membantah. Mereka ingin melindungi Seokjin dilingkungan mereka, tapi niatan Seokjin untuk merubah jalan hidupnya sediri membuat mereka tak ada pilihan.

"Baiklah Seokjin. Kami percaya padamu, kami akan membiarkanmu pergi. Tapi biarkan kami tetap mengawasimu dari jauh, dan kami harap kau tidak menolaknya." Seokjin hanya mengangguk mengiyakan.

"Dan ingat, saat kau sudah tidak mampu bertahan, kami akan membawamu kembali kemari. Kau mengerti." Ucap paman Jeon.

"Kembali kemana Appa?" ucapan itu membuat mereka mengalihkan pandangan dari Seokjin. Terlihat disana anak-anak mereka berdiri diambang pintu.

"Apa maksudnya Appa?" tanya Jungkook sekali lagi. Tuan Jeon bungkam, begitpun tuan Min dan tuan Park. Tak ada dari mereka yang ingin menjelaskan apa yang terjadi, mereka lebih memilih diam.

"Jin hyung, ada apa?" tanya Namjoon pada Seokjin yang juga terdiam

"Bereskan barangmu dan pergilah Seokjin." Ucapan tuan Jeon tiba-tiba membuat anak-anak Bangtan terbelalak. Seokjin yang mendengar itu mengangguk dan memilih pergi, sebelum ada tangan yang menghalanginya,

"Kau mau kemana, hyung?" tangan Yoongi menggenggam tangan Seokjin erat, pandangannya tajam seolah meminta sebuah penjelasan. Sedangkan Seokjin masih terdiam,"Jawab aku hyung?!"

Seokjin sebenarnya tidak mau seperti ini, Seokjin sangat menyayangi mereka semua. Tapi tak ada pilihan lain, Seokjin ingin melindungi mereka seperti mereka melindungi Seokjin selama ini.

"Lepaskan tanganku, Min Yoongi, aku harus pergi." Seokjin menghempaskan tangan Yoongi dan pergi ke kamarnya untuk beres-beres. Yoongi yang terkejut hanya mampu terdiam mencoba memahami apa yang sedang terjadi. Seumur hidupnya Seokjin tak pernah memanggilnya lengkap dengan marganya, tapi kali ini, sungguh Yoongi sangat terkejut.

Beberapa saat kemudian Seokjin turun dengan membawa beberapa tasnya, paman Jeon, tuan Min dan tuan Park menatap nanar Seokjin saat dirinya berdiri dihadapan mereka

"Terima kasih telah mengabulkan permintaanku. Dan mohon maafkan aku. Annyeong." Seokjin membungkuk pada mereka bertiga dan beralih pada teman-temannya

"Hyung, aku mohon. Apa yang sebenarnya terjadi, kau mau kemana?" ucap Jungkook hampir menangis

"Jaga diri kalian baik-baik. Annyeong." Seokjin menunduk sedikit dan memilih pergi sebelum air mata yang ditahannya mati-matian tidak jatuh dihadapan mereka.

"Hyung jangan.."

"Jungkook, biarkan dia pergi" ucapan tuan Jeon membuat mereka terkejut

"Appa kenapa kau membiarkan Seokjin hyung pergi?" tangisan Jungkook akhirnya pecah setelah Seokjin tak terlihat lagi oleh pandangannya

"Min Yoongi, Jung Hoseok, Kim Namjoon, Park Jimin, Kim Taehyung, dan kau Jeon Jungkook. Mulai saat ini, Kim Seokjin bukan bagian dari kita lagi, jangan pernah mengusik kehidupan barunya. Ingat itu baik-baik." Perintah Tuan Min saat melihat anak-anak mereka nampak terkejut dengan kepergian Seokjin. Mereka bertiga memilih tidak menceritakannya dan membiarkan ini menjadi sebuah rahasia. setidaknya ketika waktunya tepat.

.

.

Flashback off

.

.

.

"Daddy maafkan aku hiks... Mom aku mohon maafkan aku.." tangisan itu semakin pilu terdengar tak ada yang mampu dilakukan Seokjin selain menangis dalam gudang gelap itu,

"Appa maafkan aku karna tak menepati janjiku, aku memang tidak berguna hiks aku mengecewakan kalian semua.." Seokjin cukup lelah karna menangis, tubuhnya sudah tak bisa menahan rasa dingin yang dirasakannya hingga mata itu terpejam dan tak mampu untuk terbuka.

.

.

.

Test sudah berakhir beberapa jam yang lalu, para mahasiswa sudah banyak yang meninggalkan aula. Hanya tinggal beberapa yang hanya bersantai setelah test. Tapi berbeda dengan Minhyuk, dari tadi dia tak bisa diam, berjalan kesana kemari. Perasaannya tidak enak. Seokjin dari tadi belum kembali dari toilet. Dia sempat mencarinya kesana, tapi tak menemukan keberadaan Seokjin sama sekali. Dia berniat menghubunginya, tapi Minhyuk melihat handphone Seokjin berada ditasnya.

"Seokjin, kau dimana sih?" Minhyuk semakin khawatir melihat langit mulai memancarkan sinar orangenya. Ini sudah sore. Minhyuk tak tau harus mencari Seokjin kemana, dia sudah berkeliling kampus tadi, tapi sama sekali tidak menemukan Seokjin dimanapun.

"Bagaimana ini" Minhyuk hampir menangis sebelum ada yang menepuk pelan bahunya.

"Kau sedang apa Minhyuk? Ini sudah sore, kau belum pulang?" tanya Jungkook saat melihat Minhyuk yang dari tadi mondar mandir tidak jelas.

Minhyuk yang melihat anak Bangtan didepannya, bukannya menjawab dia malah menangis dihadapan mereka

"Hei hei Minhyuk..kenapa kau malah menangis?" tanya Taehyung saat melihat teman kelas vocalnya itu malah semakin histeris saja. Untung sudah tidak ada mahasiswa lagi di aula.

"Jungkook-ah, Taehyung-ah...tolong aku.." ucap Minhyuk mencoba menenangkan dirinya tapi tak bisa,

"Ada apa?" tanya Jungkook, kasihan juga melihat Minhyuk menangis seperti itu

"Hiks Seokjin...Seokjin dari tadi belum kembali dari toilet. Aku sudah mencarinya kesana tapi tidak ada hiks. Aku juga sudah berkeliling kampus, tapi aku sama sekali tidak melihatnya.." ucapan Minhyuk membuat member Bangtan terkejut

"Aku mohon, bantu aku mencari Seokjin hiks aku khawatir padanya..." ucap Minhyuk yang kembali menangis

"Apa kau sudah mencarinya ke atap?" tanya Namjoon, dia juga mulai khawatir dengan Seokjin begitupun yang lain

"Sudah hiks tapi aku tidak menemukannya... Seokjin kau dimana..."

Member Bangtan mulai berpikiran buruk tentang Seokjin, tapi mereka menepisnya. Mencoba berpikir jernih agar mereka mampu menemukan keberdaan Seokjin

"Baiklah Minhyuk kami akan membantumu mencari Seokjin, tapi dengan syarat kau harus pulang, sekarang jangan membuat orang tuamu khawatir" ucap Hoseok menyuruh Minhyuk untuk pulang. Mereka tidak ingin ada yang tau tentang hubungan Seokjin dengan Bangtan yang sebenarnya,

"Tapi aku mengkhawatirkan Seokjin, aku akan ikut mencarinya bersama kalian..."

"Tidak usah Minhyuk. Kau pulanglah, kami akan mencarinya sampai ketemu. Kau pulanglah dulu" Jimin mencoba membujuk Minhyuk

"Tapi..."

"Tenanglah. Aku akan mengabarimu setelah menemukan Seokjin bagaimana? Kau tidak mungkin mencarinya dengan keadaanmu yang seperti ini" ucapan Jungkook membuat Minhyuk berhenti menangis dan melihat dirinya sendiri. Bajunya sudah kusut dan juga basah karna mencari Seokjin kemana-mana. Minhyuk juga merasa dirinya mulai lelah.

"Kalian janji akan menghubungiku setelah menemukan Seokjin, kan?" tanya Minhyuk dan membuat Jungkook mengangguk

"Baiklah kalau begitu, aku akan pulang. Tapi, aku mohon temukan Seokjin. Dia teman yang sangat baik yang aku miliki." Member Bangtan terpengarah sesaat sebelum tersenyum. Meskipun di BigHit banyak yang membenci Seokjin, setidaknya dia memiliki Minhyuk sebagai teman.

"Kami berjanji akan menemukan Seokjin" ucapan Yoongi membuat Minhyuk sedikit tenang dan memilih membereskan barang-barangnya dan berniat pulang. Sedangkan member Bangtan mencoba berpikir, dimana keberadaan Seokjin.

.

.

.

"Aku sungguh tidak akan memaafkan siapa pun yang menyentuh Seokjin hyung, tidak siapa pun" Jungkook semakin mengeratkan genggamannya menahan amarah yang akan meledak.

Mereka sudah mencari ke berbagai sudut kampus, tapi sama sekali tidak menemukan Seokjin. Mereka berpikir mungkin ada yang melakukan sesuatu pada Seokjin

"Tapi kalau benar ada yang melakukan sesuatu pada Seokjin hyung, setidaknya pasti mereka melakukannya diarea kampus bukan?" ucapan Jimin membuat mereka terhenti sejenak

"Kita sudah menanyakannya pada security dan dia tidak melihat Seokjin hyung keluar, itu berarti Seokjin hyung masih di kampus" penjelasan Jimin barusan tepat adanya. Tapi mereka sudah mencarinya hampir diseluruh ruangan yang ada dikampus, tapi sama sekali tidak ada petunjuk.

"Adakah tempat yang belum kita perikasa di kampus?" pertanyaan Yoongi membuat mereka kembali berpikir ulang. Ruang kelas, kantor dosen, aula, studio kampus, atap, dan juga kamar mandi tak luput dari perhatian mereka.

"Tunggu hyung..." mereka melirik Taehyung yang mencoba mengingat sesuatu

"Kita belum memeriksa halaman belakang kampus. Bukankah disana ada gudang yang sudah tidak dipakai?" ucapan Taehyung barusan membuat mereka semua diam. Hingga...

.

PLAKK

.

"Yakkk! Apa-apaan itu Yoongi hyung?! Sakit tau" ucap Taehyung mengelus kepalanya yang baru saja dipukul Yoongi.

"Tumben kau pintar Tae." Ucap Yoongi enteng dan membuat Taehyung cemberut.

"Lebih baik kita segera kesana sekarang. Karna kemungkinannya, Seokjin hyung memang berada disana" Ucap Namjoon mantap membuat mereka mulai berlari untuk segera menuju gudang belakang.

.

'tunggu kami hyung'

.

.

.

Mata itu kembali memaksa untuk terbuka, pandangannya sudah sedikit buram tapi Seokjin memaksakan dirinya untuk tetap terjaga. Seokjin tak mau menyerah disini, dia harus tetap berusaha untuk bisa keluar dari tempat gelap ini.

Seokjin mencoba untuk bangun, tapi tak bisa. Kakinya tak bisa digerakkan. Seokjin kembali mencoba berdiri, tapi kakinya sangat sakit. Hingga Seokjin kembali terjatuh. Tubuhnya seolah mati rasa.

Pandangan matanya juga mulai sedikit kabur, ruangan yang gelap ini semakin terlihat gelap. Seokjin tak bisa berpikir, kepalanya serasa ingin pecah. Seokjin lelah untuk menangis, sudah cukup banyak air mata yang dikeluarkannya hari ini. Sudah cukup.

.

DOK DOK DOK

.

"Seokjin!"

Pukulan dipintu serta teriakan itu membuat Seokjin kembali mencoba memfokuskan pendengarannya.

"Seokjin hyung, kau disana?!" Samar-samar Seokjin mendengar teriakan itu lagi.

"Apa dia tidak ada disini, hyung?" tidak. Seokjin ada didalam. Seokjin ingin berteriak, tapi suaranya tidak keluar.

Seokjin tidak tau siapa yang ada diluar, fokusnya kembali hilang yang membuatnya tidak bisa berpikir lagi. Tapi yang jelas Seokjin ingin mereka menolongnya untuk keluar. Seokjin tidak mau ada disini.

Seokjin mencoba mengumpulkan sisa kekuatannya untuk mendorong bangku disampingnya. Kakinya sangat lemas, tapi Seokjin berusaha. Menendangnya dengan sedikit keras hingga bangku itu terjatuh menghasilkan bunyi. Seokjin tidak tau itu berhasil atau tidak tapi Seokjin sudah tak memiliki cara lain lagi untuk menarik perhatian, Seokjin lelah.

.

BRAKKK!

.

Cahaya menyinari penglihatan Seokjin saat pintu didepannya mulai terbuka. Seokjin tak bisa memfokuskan penglihantannya saat ada beberapa orang yang langsung menghampirinya. Mereka mengelilinginya dan mencoba menyadarkan Seokjin yang maulai kehilangan kesadarannya.

"Hyung, kau mendengarku? Hyung?" tepukan dipipi Seokjin memang dirasakannya, tapi itu tak membuat Seokjin bergerak. Seokjin juga merasakan seseorang ada yang menyampirkan sesuatu pada tubuhnya yang basah.

"Seokjin hyung..." panggilan itu terdengar lagi, dengan sisa kesadarannya, Seokjin mencoba memfokuskan penglihatannya, hingga dia menemukan orang yang dikenalnya sedang menatapnya khawatir.

"Nam...joonie..." ucap Seokjin tersenyum hingga kesadaran Seokjin benar-benar hilang.

.

.

.

.

.

t.b.c