You Actually Specials

.

.

.

Cast : All member BTS

Genre : Family, Friendship

Rate : T

.

.

.

Part 7

.

.

.

author pov

.

"Seokjin!" Jungkook memukul-mukul pintu dengan tidak sabar, dia takut hyungnya ada didalam sana.

Mereka langsung berlari melewati halaman belakang yang sudah tidak dirawat. Dan langsung menemukan gudang belakang yang memang sudah tidak lagi digunakan.

"Seokjin hyung, kau disana?" panggilan Jimin sama sekali tak ada jawaban.

"Apa dia tidak ada disini, hyung?" ucap Taehyung yang ada dibelakang Jimin. Karna dari tadi tak ada jawaban dari panggilan mereka.

.

BRAK

.

"Tunggu..." ucapan Yoongi membuat semua diam, mereka mendengar sesuatu didalam. Seperti sesuatu yang jatuh.

"Hoseok, Namjoon cepat dobrak pintunya. Cepat" perintah Yoongi langsung membuat mereka bersiap-siap dan mendobrak pintu itu hingga terbuka lebar.

Setelah pintu terbuka, terlihat disana sosok sang hyung dengan keadaan yang sangat menyedihkan. Tubuh basah kuyup, wajah yang pucat serta memar dikedua pipinya. Mereka tidak tega melihatnya.

Mereka semua langsung mengerubungi Seokjin. Namjoon mengangkat Seokjin perlahan, menepuk pipinya untuk menyadarkannya

"Hyung kau mendengarku? Hyung?" ucap Namjoon mencoba membangunkan Seokjin yang sudah terpejam

"Seokjin hyung" Yoongi juga berusaha memanggil Seokjin. Dia menyampirkan jaketnya untuk menghangatkan tubuh Seokjin.

Hingga beberaa saat mata Seokjin terbuka, menampilkan iris mata yang sinarnya sudah redup. Sedikit senyuman terlihat dibibir pucat Seokjin,

"Nam..joonie..." ucap Seokjin sebelum akhirnya tak sadarkan diri.

.

BRAK

.

Jungkook melampiaskan amarahnya dengan membanting apapun digudang, pikirannya sudah gelap, melihat keadaan Seokjin yang mengenaskan membuatnya tak bisa bersabar. Sungguh, dia akan membunuh mereka yang melakukan ini pada Seokjin.

"Jungkook, tenanglah. kita..."

"TENANG BAGAIMANA JIMIN HYUNG?! LIHAT KEADAAN SEOKJIN HYUNG! LIHAT HYUNG?! Lihat, bagaimana dia mampu bertahan mendapatkan ini semua." Jimin memeluk Jungkook yang terduduk mencoba meredakan amarahya yang sempat keluar. Napas Jungkook terdengar memburu.

Namjoon memeluk Seokjin. Namjoon tau yang dirasakan Jungkook. Mereka semua juga merasakannya, amarah mereka sudah tidak tertahan lagi. Tapi yang pertama mereka harus lakukan adalah menyelamatkan Seokjin.

"Cepat bawa Seokjin hyung keluar, Namjoon. Kita akan ke rumah sakit sekarang." ucap Yoongi dengan nada dinginnya. Dia tidak akan membiarkan siapapun yang melakukan ini selamat

"Tenangkan dirimu Jungkook. Kita akan keluar dan pastikan tidak ada yang melihat kita dan Seokjin hyung. Kau mengerti Jungkook?" Jungkook mulai bangkit dan mengangguk.

"Hoseok, hubungi Appa dan beritau tentang apa yang terjadi sekarang. Ayo pergi." Jimin, Taehyung dan Jungkook keluar lebih dulu memastikan keadaan diluar, setelah dirasa aman Namjoon keluar membawa Seokjin keluar dengan Yoongi dan Hoseok berada dibelakang. Mereka harus cepat, karna mereka tidak mau terjadi sesuatu yang lebih buruk.

.

.

.

Seokjin membuka matanya dan melihat pemandangan yang sangat indah. Dia tidak tau dia ada dimana, tapi tempat ini sangat menenangkan. Seokjin sedikit bingung dengan tempat ini, karna terakhir dia seperti berada ditempat yang sangat gelap.

"Seokjin" panggilan yang sangat dirindukannya itu membuatnya menole, matanya membelalak menyadari siluet yang sangat dikenalnya.

Disana terlihat kedua orang tuanya berdiri dengan senyum mereka yang begitu hangat, Seokjin yang melihat mereka tak bisa menahan tangisannya. Seokjin sangat merindukan mereka.

"Mom, Dad..." Seokjin langsung berlari dan menerjang mereka. Seokjin memeluk orang tuanya dengan pecah bersamaan dengan kerinduan yang meluap.

Tuan dan Nyonya Kim yang melihat anak mereka menangis hanya mengelus punggungnya. Mereka juga merindukan Seokjin. Sangat.

"Aku merindukan kalian hiks...Mom..Dad.."

.

.

.

Member Bangtan masih berdiam diri didepanruang ICU. Tak dipungkiri mereka khawatir dengan keadaan Seokjin. Saat diperjalanan saja, Namjoon yang menyangga Seokjin merasakan tubuh Seokjin sangat dingin. Perasaan takut menggerogoti hatinya. Tidak, dia tidak mau kehilangan hyungnya lagi kali ini. Mereka akan mempertahankan sang hyung disisi mereka.

Jungkook masih berdiri mondar mandir menunggu dokter yang memerikasa Seokjin. Lorong itu sunyi dan sepi. Tapi hawa yang diakibatkan perasaan member Bangtan membuat suasana disana sedikit menyeramkan. Jungkook masih berusaha meredakan amarahnya, begitupun Yoongi yang hanya duduk diam dengan memejamkan mata, menghela napas perlahan dan mencoba mengembalikan pikiran jernihnya.

"Appa tidak bisa kemari sekarang hyung. Mereka masih diluar kota karna mengurus perusahaan paman Kim." Ucap Hoseok setelah menghubungi appa-appa mereka atas perintah Yoongi tadi.

"Kapan mereka tiba?" tanya Namjoon pelan.

Hoseok mengedikkan bahunya, "Entahlah mereka tidak memberi tau kapan pastinyan, Namjoon. Tapi kita tunggu saja" yang hanya mendapat jawabn gumaaman dari Namjoon.

Dan sudah hampir 2 jam lamanya mereka menunggu, dan belum melihat ada satupun dokter atau suster yang keluar, mereka takut sesuatu yang tidak diinginkan terjadi didalam sana. Seburuk itukah keadaan Seokjin?

.

CKLEK

.

Mereka beranjak dari tempat mereka dan menemui dokter yang baru keluar itu.

"Bagaimana keadaan Seokjin hyung, Dokter?" tanya Namjoon, semoga tidak terjadi sesuatu dengan sang hyung.

Dokter paruh baya itu hanya menghela napas, menepuk pelan bahu Namjoon mencoba menenangkan.

"Beruntung kalian cepat membawa Seokjin-ssi kemari, terlambat sedikit itu akan membuat kedaannya memburuk" helaan napas kelegaan mereka meluap bersamaan

"Dia baik-baik saja, kita masih beruntung. Hanya saja..."

Mereka menatap dokter itu tajam.

"Seokjin-ssi sedikit mengalami depresi. Mungkin karna hal keji yang terjadi padanya. Dan hal itu juga berakibat bagi otaknya, maka dari itu meskipun Seokjin-ssi sudah melewati masa kritisnya, tapi kami belum bisa memastikan kapan dia akan sadar kembali." Seperti sebuah hantaman batu besar, perkataan dokter itu membuat mereka seolah terjatuh ke jurang yang sangat dalam. Jungkook yang merasa pikiran jernihnya kabur langsung pergi meninggalkan mereka yang masih mencoba menyangkal kebenaran itu.

"Apa tidak ada yang bisa anda lakukan dokter?" tanya Jimin yang merasa nyawanya menghilang sejenak mendengar berita itu, bagaimanapun setidaknya ada harapan bukan?

"Kami akan melakukan yang terbaik untuk Seokjin-ssi, kalian cukup berdo'a semoga Seokjin-ssi cepat sadar kembali. Kami akan mencoba melakukan apa yang kami bisa untuk Seokjin-ssi." Bagaimanapu dokter itu bukanlah seorang Tuhan yang mengatur kehidupan seseorang, maka dokter itu hanya mampu berusaha. Dan semua itu juga tergantung Seokjin, dia mau berusaha untu sadar, atau tidak.

"Kalau begitu saya permisi dulu. Tetaplah kuat, karna Seokjin-ssi juga butuh dukungan dari keluarganya." Ucap sang dokter sebelum pergi dari hadapan mereka semua.

.

Langit malam kali ini sangat gelap. Bahkan tak terlihat satupun bintang yang mencoba menampakkan diri dalam kanvas hitam itu. Jungkook hanya memandang langit itu dalam diam, mencoba mencerna lagi kenyataan yang didengarnya tadi.

.

'Seokjin-ssi sedikit mengalami depresi'

'kami belum bisa memastikan kapan dia akan sadar'

.

"AAAHHHHHH!" teriakan Jungkook ditaman rumah sakit hanya mendapat jawaban terpaan angin malam yang menusuk. Wajah itu hanya datar, mata polosnyapun selalu menampakkan tatapan tajam, kehangatannya seolah direnggut bersamaan dengan Seokjin yang belum sadarkan diri juga.

Menghela napas dan mencoba menutup mata. Siapapun yang sudah melakukan ini pada Seokjin, mereka akan mendapatlkan balasannya.

"Hei" Jungkook menoleh saat merasakan seseorang menepuk pundaknya. Jimin berdiri disana dengan wajah yang tak kalah datar. Bagaimanapun mereka juga merasa kesal dan marah atas kejadian ini.

"Sudah menghubungi Minhyuk?" bahkan Jungkook sudah melupakan janjinya itu pada Minhyuk. Jungkook sama sekali belum menghubungi Minhyuk semenjak mereka menemukan Seokjin sampai sekarang. Pikirannya kacau duluan.

"Aku mengerti apa yang kau rasakan Jungkook-ah. Kita semua juga merasakannya." Jungkook hanya diam mendengar ucapan Jimin.

"Tapi bagaimanapun kau tidak harus menyalahkan dirimu sendiri atas apa yang dialami Seokjin hyung. Kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi padanya, Jungkook-ah." Jungkook masih terdiam,"Lagipula ini juga kesalahan kita karna tidak berada disisinya. Kita membiarkannya sendirian. Tapi kita tidak boleh seperti ini terus bukan?"

Jungkook menoleh menatap Jimin

"Bagaimanapun mereka yang melakukan ini semua harus mendapat bayarannya."

"Aku mengerti. Lebih baik kita kembali, Seokjin hyung sudah dipindahkan ke ruang rawat inap" Jimin beranjak setelah sekali lagi menepuk bahu Jungkook pelan. Dan tanpa disadarai Jungkook tangan Jimin mengempal menahan amarah yang sama.

.

.

.

Saat ini mereka ber-6 berada diruangan Seokjin. Menunggu keajaiban datang. Siapa tau Seokjin mereka sadar dan membuka mata indah yang saat ini masih tertutup rapat. Keadaannya memang membaik, tapi seperti kata dokter yang beberapa menit lalu memeriksa Seokjin, belum ada tanda kesadaran darinya.

"Sepertinya Seokjin hyung lebih senang menyelami mimpinya eoh? Dari pada melihat dongsaeng yang menunggunya ini" ucapan Jungkook dengan menggenggam sebelah tangan Seokjin yang tanpa infus. Tak ada yang menanggapi ucapan Jungkook. Yang lain hanya diam memperhatikan, tak ada yang bisa mereka lakukan selain menunggu dan menunggu.

Tak ada yang beranjak sama sekali, hingga entah halusinasinya atau memang sebuah keajaiban, tangan Seokjin bergerak digenggaman Jungkook,

"Jin hy..ung.." Jungkook sedikit terbata dan menggenggam tangan Seokjin lebih erat, yang lain langsung mengerubungi Junggkook saaat mendengar suaranya

"Ada apa Jungkook? Kenapa Jin hyung?" tanya Taehyung yang saat itu berada dekat dengan Jungkook

"Seokjin hyung kau mendengarku kan?" Jungkook sama sekali tak menghiraukan pertanyaan Taehyung dan tetap berusaha memanggil Seokjin

"Jin hyung, ini aku Jungkook. Bangunlah hyung" Jungkook masih meracau. Yang lain sebelumnya berusaha menyadarkan Jungkook, hingga suara Hoseok mengusik mereka

"Tangan...tangan Jin hyung" saat itu semua mata menatap tangan Seokjin, dan melihat ada sedikit pergerakan disana

Tanpa menunggu waktu Namjoon langsung memencet tombol emergency disebelah tempat tidur Seokjin. Ada sedikit kelegaan dimata mereka ber-6. Beruntung karna mereka tidak pergi kemanapun.

"Hyung, Seokjin hyung akan sadar bukan? Ya kan?" ucap Jungkook tersenyum dan menatap para hyungnya itu. Gurat kelegaan terpancar jelas diwajahnya.

Jimin yang ada disampingnya mengelus rambut Jungkook dan mengangguk. Seolah mengiyakan permintaan Jungkook. Yoongi yang dari tadi sangat cemas dibalik wajah datarnya itu, menghela napas lega dan sedikit menyunggingkan senyum. Hoseok disampingnya berkali-kali mengucap syukur dan merangkul Yoongi. Begitupun Taehyung yang tetap menggenggam tangan Seokjin, tak ingin melepasnya lagi.

"eo..mma..."

Tapi semua itu hilang begitu saja saat suara Seokjin terdengar pelan dan tidak terlalu jelas dipendengaran mereka. Tapi sebelum sempat berkata dan mengerti sesuatu, dokter datang dan segera memeriksa keadaan Seokjin, suster yang ikut datang membatu Jungkook untuk bangun, karna terlihat Jungkook tak ingin beranjak sama sekali

"Mohon untuk keluar dulu, dokter akan memeriksanya" Namjoon yang sadar lebih dulu menggandeng Jungkook dan menuntunnya keluar, begitupun yang dilakukan Jimin dengan menuntun Taehyung untuk keluar diikuti Yoongi dan juga Hoseok. Bagaimanapun mereka harus memberikan ruang untuk dokter itu. Meskipun mereka masih diliputi perasaan tak tenang, mereka berharap pergerakan tadi adalah tanda yang baik untuk kesehatan Seokjin.

.

.

.

t.b.c

.

.

.

akhirnya update juga, selamat membaca ya readers :)

ada salah atau tulisan yang tidak mengenakkan, saya mohon maaf :)

see you...