You Actually Specials

.

.

.

Cast : All member BTS

Genre : Family, Friendship

Rate : T

.

.

.

tambahan cast :

Kim Jeo Hoon as Kim Seokjin's Father

Ahn Hyun Jin as Kim Seokjin's Mother

Min Yong Soo as Min Yoongi's Father

Jung Sang Wook as Jung Hoseok's Father

Kim Hye Bin as Kim Namjoon and Kim Taehyung's Mother

Park Jae Won as Park Jimin's Father

Jeon Ji Soo as Jeon Jungkook's Father

(nama-nama diatas hanya nama buatan saya semata)

.

.

.

Part 8

.

.

.

author pov

.

at other side

.

Indah dan tenang. Itu sedikit gambaran tempat yang disinggahi Seokjin dan orang tuanya. Padang rumput yang nampak bergoyang diterpa angin perlahan, aliran sungai yang bersinar diterpa cahaya yang entah darimana. Seokjin tersenyum lebar, berada ditempat seindah ini bersama kedua orang tuanya

"Bagaimana kabarmu, sayang?" tanya Nyonya Kim sambil mengelus rambut Seokjin pelan. Rambut anaknya sangat halus, masih sama seperti beberapa tahun lalu.

"Aku baik-baik saja, Mom. Aku senang bertemu Mom dan Dad, aku merindukan kalian berdua" Seokjin tersenyum sambil menatap kedua orang tuanya.

Sebenarnya Seokjin yakin ini bukanlah hal yang mungkin, karna Seokjin tau kedua orang tuanya sudah meninggalkannya beberapa tahun lalu. Tapi saat ini, sentuhan tangan sang ibu menghilangkan pikiran itu. Perasaan nyaman dan tenang yang sudah lama tak dinikmati akhirnya mampu dirasakan lagi.

"Seokjin"

"Ne Daddy" ucap Seokjin sambil menatap sang ayah yang tersenyum disampingnya

"Kau tau kalau kami sangat menyayangimu, kan?" tanya Tuan Kim

"Hm" Seokjin hanya mengangguk pelan

"Kau begitu berharga bagi kami Seokjinie. Daddy dan Mommy mu ini berusaha untuk selalu disampingmu dan selalu menjagamu, memberikan yang terbaik untukmu agar kau selalu bahagia" ucapan dengan senyuman yang sama, tapi dengan arti yang berbeda. Tatapan sendu itu mampu ditemukan Seokjin, dan Seokjin hanya tersenyum dan beranjak dari dekat ibunya dan memeluk sang ayah

"Aku bahagia Daddy. Sangat bahagia"

.

.

.

Jarum jam terus berputar dengan bunyi yang seirama dengan detak jantung mereka ber-6. Sama seperti sebelumnya tak ada yang beranjak dari posisi mereka. Belum keluarnya dokter yang memeriksa Seokjin membuat 2 prasangka terpatri dalam pikiran mereka. Seokjin baik-baik saja, atau bahkan memburuk.

"Anak-anak" suara berat seseorang menggema dikoridor rumah sakit tempat mereka berdiri. Jungkook menoleh dan langsung menerjang namja paruh baya yang baru datang tersebut.

"Appa..." Jungkook memeluk namja tadi yang tak lain adalah ayahnya, yang juga datang bersama 2 namja paruh baya lain yang tengah berdiri dibelakangnya. Tuan Jeon sendiri hanya mengelus punggung Jungkook, mencoba menenangkan anaknya itu

"Bagaimana keadaan Seokjin?" tanya Tuan Min langsung. Layaknya Min Yoongi, dia tak terlalu suka berbasa-basi. Tapi meskipun begitu masih tersirat rasa khawatir dari setiap kata yang diucapkannya.

"Dokter masih didalam memeriksanya paman. Tapi Seokjin hyung sudah melewati masa kritisnya tadi. Hanya saja..."

"Hanya kenapa, Namjoon?" ucapnya tak sabar. Namjoon sendiri terdiam dan hanya menatap wajah teman-temannya yang masih terdiam, tanpa ingin membantunya untuk bicara. Apalagi melihat Jungkook yang masih memeluk ayahnya.

"Saat tadi kami menemani Seokjin hyung, ada sedikit pergerakan darinya yang disadari Jungkook dan Taehyung." Namjoon menghela napas. Jantungnya berdebar keras mengingat kejadian itu.

"Bukankah itu bagus. Itu artinya Seokjin sudah membaik bukan" Tn. Min menimpali seolah itu adalah pertanda bagus untuk kesehatan Seokjin

"Masalahnya bukan itu appa. Saat pertama kali kami membawa Seokjin hyung kemari, dokter bilang kalau Seokjin hyung mengalami sedikit depresi. Dan itu membuat dokter berspekulasi kalau ia belum akan bangun dalam waktu dekat." Ucap Yoongi

"Dan sudah ada pergerakan dari Seokjin, bukan? Itu artinya keadaan Seokjin ada kemajuan. Appa tau kalian masih belum percaya dengan hal ini. Tapi kalian harus yakin kalau Seokjin pasti akan selamat. Meskipun appa sedikit terkejut mendengar Seokjin mengalami depresi" jawab Tn. Park

Bagaimanapun ia berharap yang terbaik untuk Seokjin. Ada sedikit kekecewaan dalam hati , dan juga karna tak mampu menjaga anak sahabatnya itu. Padahal mereka berjanji akan menjaga Seokjin dengan baik. Tapi kenyataan memanglah lebih menyakitkan.

"Seokjin hyung juga mengucapkan kata 'eomma' saat pergerakan itu terjadi" perkataan Namjoon berhasil membuat bulatan mata mereka bertiga melebar.

"Jangan bercanda Namjoon? Kau yakin mendengar Seokjin mengatakan itu?" mencoba menanyakan kebenarannya. Karna selama mereka mengawasi Seokjin, Seokjin sama sekalai tak pernah menyinggung orang tuanya.

"Benar Appa. Bahkan kami semua mendengarnya, meskipun agak samar. Tapi kami yakin Seokjin hyung mengatakan 'eomma' Appa" jelas Jimin dengan anggukan dari yang lain.

Jungkook melepas pelukannya dan mencoba mengambil napas seolah menenangkan pikirannya. Sebelum akhirnya menatap mata appanya dengan sendu.

"Appa, aku mohon bawalah Seokjin hyung bersama kita lagi seperti dulu. Aku tidak mau hal buruk seperti ini terjadi lagi. Aku mohon Appa buat Seokjin hyung tinggal bersama kita lagi" Jungkook hampir meneteskan air matanya. Sekuat apapun Jungkook, dia tetaplah dongsaeng yang menyayangi hyungnya dan berjanji melindunginya.

Terdiam. Inilah yang ia takutkan bila Seokjin keluar dari rumah dan melepas identitasnya. Kalau saja waktu itu dia bersikeras melarang Seokjin, hal ini tak akan pernah terjadi. Andai saja dia tak mengizinkan Seokjin, mungkin saat ini dia tak akan mendapati Seokjin berada dalam salah satu kamar rumah sakit.

'Maafkan aku. Aku belum mampu menjaga anak kalian. Aku mohon maafkan aku'

.

PUK

.

Melihat sekilas tangan yang meremas bahunya pelan seolah menguatkannya. Senyuman khas Tn. Park seolah mengatakan semua akan baik-baik saja. menghela napas. Dan menatap Jungkook yang masih menatapnya, juga menyadari tatapan yang lain dengan pancaran harapan yang sama.

"Kalian sudah mendengar cerita tentang Seokjin bukan? Kami sudah berjanji untuk membawa Seokjin kembali bila hal buruk terjadi pada Seokjin, dan Seokjin pun menyetujuinya. Maka dari itu sebelum kami datang, kami sudah berniat membawa Seokjin pulang ke rumah saat keadaannya membaik." Ucap Tn. Jeon tersenyum dan dibalas senyuman juga oleh Jungkook dengan helaan napas dari yang lain

"Tak perlu khawatir. Mulai hari ini Seokjin akan kembali bersama kita lagi" ucapnya menambahkan

.

CKLEK

.

Setelah beberapa menit menunggu, dokter yang memeriksa Seokjin akhirnya keluar. Tanpa menunggu lama mereka semua langsung mengerubungi dokter tersebut.

"Bagimana keadaan Seokjin, Dokter? Apa dia baik-baik saja?" tanya Tn. Min, Dokter itu tersenyum seolah memberikan pertanda baik.

"Syukurlah, ini sebuah keajaiban. Keadaannya berangsur-angsur membaik. Mungkin kalau tidak besok, lusa Seokjin-ssi akan segera sadar." Senyum mengembang dari wajah-wajah lelah mereka. Harapan kesembuhan Seokjin akhirnya terkabul. Dan mendengar Seokjin akan sadar membuat mereka senang.

"Lantas pergerakan yang terjadi tadi?" tanya Namjoon

"Pergerakan tadi adalah tanda kerja otaknya kembali berfungsi. Kami harap kalian sedikit bersabar untuk menanti kesadaran Seokjin-ssi. Tapi kami yakin, keadaan Seokjin-ssi sudah jauh lebih baik"

"Apa kami boleh melihat Seokjin hyung?" ucap Jungkook dengan mata berbinar. Pancaran kebahagiaan jelas terlihat diiris matanya.

"Tentu, silahkan. Kehadiran keluarganya mungkin bisa membantunya untuk sadar lebih cepat." Dokter itu tersenyum

"Terima kasih Dokter"

"Tentu. Kalau begitu saya permisi dulu" ucap sang dokter dan perlahan melangkahkan kakinya.

"Silahkan, dokter" ucap Tn. Jeon

.

.

.

Malam kelam telah berganti dengan pagi yang cerah. Bulan kembali menyembunyikan sinarnya, dan membiarkan sang mentari menebarkan sinar hangatnya. Jimin yang bangun lebih dahulu menatap sekelilingnya. Teman-temannya masih terlelap, tapi sama sekali tak terlihat keberadaan sang appa dan dua pamannya itu.

Kakinya perlahan melangkah mendekati ranjang Seokjin. Masih terlihat disana namja yang tertidur dengan indahnya seolah tak terganggu dengan sinar mentari pagi.

"Selamat pagi, hyung" ucap Jimin yang sama sekali tak ada balasan yang berarti dari objek yang disapa,

Senyum Jimin semakin merekah, "Cepatlah sadar dan kembali pada kami hyung."

"Jimin-ah"

Jimin menolehkan kepalanya kepintu yang terbuka, nampak sosok appanya dan juga Tn. Min disana,

"Appa dari mana? Dan mana paman Jeon?" tanya Jimin dan sedikit menjauh dari ranjang Seokjin

"Kami membeli makan untuk kalian, ayah Jungkook sudah pulang tadi. Masih ada urusan dengan perusahaan milik mendiang paman Kim." Ucap Tn. Park dan menaruh box makanan yang dibawanya dimeja. Dan Jimin hanya mengangguk.

"Memang kalian tidak ada urusan, paman, appa?" ucap Yoongi dengan wajah khas bangun tidurnya. Yang lain juga telah terbangun dari tidurnya. Merenggangkan badan sekilas dan beranjak untuk mendekat.

"Tentu ada, Yoon. Setelah ini kami juga harus bekerja." jawab Tn. Min

"Kalian tidak sekolah?"

"Melihat keadaan Seokjin hyung, sepertinya kami akan bolos dulu, paman. Kami akan menemani Seokjin hyung sampai dia sadar." Jawab Namjoon dan dibalas anggukan yang lain.

Tn. Park menatap Seokjin. Nafasnya teratur, wajahnya juga nampak tenang, tapi tak ada yang tau dibalik wajah manis itu menyimpan banyak luka. Tn. Park hanya tersenyum miris.

"Saatnya kita pergi, kalian jagalah Seokjin. Mungkin nanti appa atau eommamu akan kemari Namjoon, Tae" ucapan Tn. Min menarik intensitas Tn. Park, dan menatap wajah Seokjin untuk terakhir kali

"Kalau ada apa-apa segera kabari kami, mengerti?" dan dibalas anggukan mereka ber-6. Menyempatkan mencium kening Seokjin sebelum akhirnya keluar bersama . Dan keheningan kembali terasa setelah kedua namja paruh baya itu keluar.

.

.

.

"Kau tau Daddy juga sangat bahagia saat melihatmu bahagia, Seokjin. Maafkan Daddy yang memberimu beban yang sangat berat. Maafkan Daddy dan Mommymu yang meninggalkanmu." Ucap Tn. Kim sambil menggenggam tangan Seokjin. Sedangkan terlihat bulir air mata mulai terlihat diiris Seokjin, wajahnya memerah menahan tangisnya yang akan pecah.

"Mommy juga minta maaf, sayang, tak bisa menemanimu lagi sekarang. Tapi yang perlu kau tau, Mom dan Dad sangat mencintaimu, sangat sangat mencintaimu" air mata juga mulai mengalir dari mata Ny. Kim, mengelus bahu Seokjin yang nampak bergetar dengan kepala yang tertunduk.

"Hiduplah dengan baik, Jinnie. Daddy akan selalu mengawasimu dari sini, dan berdo'a untuk kebahagiaanmu. Walaupun Dad tau kau belum siap menjalani ini semua, tapi Daddy mohon, jalanilah hidupmu yang sebenarnya meskipun tanpa Daddy dan Mommymu, Seokjin." menepuk pelan kepala Seokjin "Karna Daddy sangat percaya padamu, anak Daddy yang tampan ini."

"Hiks..."

"Mommy dan Daddy tidak bisa berlama-lama disini, sayang. Jadi pesan Mom, hiduplah dengan baik dan selalu bahagia. Karna Mom dan Dad sudah bahagia disini. Dan tak perlu takut untuk melangkah karna Mom dan Dad selalu bersamamu, disini" tangan Ny. Kim mengarah ke dada Seokjin "selalu dihatimu, menjagamu"

"Mom...Dad...hiks..." Seokjin memeluk orang tuanya dengan air mata yang mengalir deras dan isak tangis yang terdengar memilukan. Seokjin tau inilah akhirnya, tapi separuh hatinya bersyukur mampu bertemu ayah dan ibunya.

"Aku janji Mom, Dad, aku akan hidup dengan sangat baik, hiks... jadi Mom dan Dad tak perlu khawatir lagi padaku, karna aku akan baik-baik saja selama ada kalian yang selalu berada dihatiku..Hiks..." Seokjin menghapus air matanya dan tersenyum menatap kedua orang tuanya.

Tuan dan Ny. Kim ikut tersenyum sebelum beranjak dari duduknya, mengecup kening Seokjin dengan penuh kasih, seolah menyampaikan kehangatan mereka meskipun hanya sekejap. Dan pada akhirnya mereka memang harus berpisah.

"Yang perlu kau tau Seokjin, kami sangat menyayangimu sampai kapanpun. Jaga diri baik-baik sayang. Mom dan Dad mencintaimu" ucap mereka yang mulai samar-samar menghilang bersama , senyum tak pernah lepas dari wajah mereka, sampai akhirnya siluet dua orang itu menghilang dan meninggalkan Seokjin sendirian, lagi.

"Aku juga mencintai kalian, Mom, Dad." Satu air mata lolos dari ujung mata Seokjin.

"..."

Sejenak seperti terdengar ada suara orang yang tengah berbincang ditelinga Seokjin. Seokjin bangkit, menghapus air matanya dan berusaha mencari keberadaan suara tersebut.

.

"Bangunlah..."

.

Suara seorang perempuan. Seokjin berlari menelusuri tempat itu. Tapi, tak terlihat apapun selain hamparan rumput.

"Apa ada orang disana?" teriak Seokjin saat tak menemukan seorangpun dalam jarak pandangnya

.

"Kami semua sangat menyayangimu..."

.

Suara perempuan itu lagi, tapi Seokjin sama sekali tak mengenali suara siapa itu, langkah kakinya terus berpacu mencari asal suara itu.

Hingga sebuah cahaya putih nampak terlihat samar. Seokjin mendekati cahaya itu dengan langkah pelan.

.

'apa suara itu dari sana'

.

Semakin mendekat cahaya itu semakin melingkupi dirinya, hingga..

.

"Seokjin"

.

.

.

Suasana nampak sedikit berubah saat yeoja paruh baya datang menjenguk, yang ternyata adalah ibu Namjoon dan Taehyung. Sebenarnya, kedatangannya sedikit berisik, karna kenyatanya saat datang, ia langsung memprotes keadaan anak-anaknya itu yang terlihat lusuh. Dan dengan sedikit paksaan dan juga bentakan, mereka akhirnya pergi sebentar untuk membersihkan diri, bukankah rumah sakit juga memiliki kamar mandi?

Dan sudah hampir 10 menit keadaan kamar rawat Seokjin sangat tenang. Karna hanya ada Seokjin yang masih setia menutup mata dan yang yang duduk disampingnya.

"Hyun Jin, maafkan aku karna tak bisa menjaga anakmu. Aku sungguh minta maaf" ucap Ny. Kim dengan pandangan sendu. Tangannya mengelus tangan Seokjin yang ada pada genggamannya.

"Seokjin, bangunlah..."

"Kami semua sangat menyayangimu, Seokjin" tangisnya pecah saat itu juga. Alasan ia menyuruh anak-anak untuk keluar, karna dia tak mau terlihat lemah seperti ini. Dia tak mau membuat khawatir anak-anaknya itu.

"Aku mohon bangunlah...agar aku bisa menebus kesalahanku pada Jeo Hoon dan Hyun Jin karna tak mampu menjagamu..." tangan Seokjin basah karna air mata Ny. Kim

"Eomma, sudahlah..." pelukan mendadak membuat terlonjak, pandangannya mendapati anak-anaknya yang sudah rapi, dan Taehyung yang ternyata memeluknya. Mereka semua menatapnya iba.

"Seokjin..." tangisan itu semakin keras dengan eratnya pelukan Taehyung

"Seokjin...Seok...Jin!" tersentak, dia melepas pelukan Taehyung dan menatap Seokjin lekat, tangannya merasakan pergerakan yang dibuat tangan Seokjin

"eunghhh" semua orang disana terdiam, suara erangan itu meskipun samar tapi mereka semua mampu mendengarnya.

"Seokjin, sayang" ucap Ny. Kim sambil menatap Seokjin

Dan secara perlahan kerutan terlihat diwajah Seokjin, dan iris itu mulai terbuka, pelan, seolah menyesuaikan sinar yang menerpa matanya. Kedipan mata berulang-ulang, hingga bulatan mata itu terbuka sempurna dengan senyum kecil mengambang diwajah itu saat netranya melihat orang-orang yang sangat dikenalnya.

.

"Annyeong"

.

.

.

t.b.c

.

.

.

akhirnya aku kembali with new part...mian aku update.a lama, sebenarnya aku kehilangan inspirasi untuk ff qu, dan itu karna terlalu banyak tugas :( tapi aku berusaha untuk tetap melanjutkannya dengan ide seadanya

jadi maaf bila part ini belum memuaskan kalian semua, aku akan berusaha lebih baik lagi #bow

terima kasih buat Aiko Vallery, mingyoukes, seokjin, Mrs.J, AlightPhoenix, Ayuya24, ORUL2, ChintyaRosita terima kasih atas review.a di fanfic ini dan salam kenal :) dan juga terima kasih pada kalian semua yang sudah mampir dan menyempatkan membaca fanfic ini, thank you so much :)

silahkan menikmati fanfic ini

see you guys :*