You Actually Specials

.

.

.

Cast : All member BTS

Genre : Family, Friendship

Rate : T

.

.

.

Part 9

.

.

.

author pov

.

Ny. Kim memang luar biasa, ia berhasil memaksa anak-anaknya itu untuk keluar. Meskipun pengusiran mereka dari ruangan Seokjin benar-benar rusuh. Eomma Taehyung dan Namjoon benar-benar sangat mengerikan.

Setelah memebersihkan diri secara kilat beserta ganti baju yang layak. Mereka berniat kembali ke ruangan Seokjin.

"Seperti biasa, eomma selalu berlebihan" ucap Taehyung, saat sampai didepan ruang rawat Seokjin

"Ahjumma memang seperti itukan? Dari dulu sampai sekarang tak pernah berubah" ucap Jimin menambahi. Pintu itu akan dibuka olehnya, sebelum dihentikan oleh Namjoon,

"Tunggu dulu," yang lain menatap Namjoon aneh,

"Ada apa, hyung?"

.

'aku mohon bangunlah...'

.

"Hyung, eomma..." ucap Taehyung terkejut mendengar isakan eommanya dari dalam

"Kita masuk sekarang" Namjoon membuka pintu perlahan dan mereka masuk dengan nyaris tanpa suara,

Taehyung yang melihat sang eomma menangis itu merasa tak tega. Perlahan Taehyung memeluk eommanya yang nampak begitu terpuruk,

"Eomma sudahlah..."

Taehyung dapat merasakan eommanya sedikit tersentak karena terkejut. Tangis itu semakin pilu seiring pelukan Taehyung yang mengerat. Yang lain hanya diam memperhatikan, begitupun Namjoon.

"Seok..Jin!" Taehyung terdorong karena ibunya melepas pelukannya paksa, merasa ada yang aneh, yang lain mendekati Ny. Kim penasaran

"Eunghh..."

.

DEGH

.

"Seokjin, sayang.." Ny. Kim berusaha memanggil Seokjin, erangan tadi, ia yakin itu suara Seokjin. Yang lain masih terkejut mendengar itu, beberapa saat setelahnya mata itu bergerak perlahan dan terbuka menampilkan iris kelam Seokjin, tak lupa dengan senyum kecil diwajahnya,

"annyeong"

Suara lembut itu terdengar pelan, tapi berhasil mengembalikan kesadaran 7 orang yang terkejut dengan kesadaran Seokjin.

"Seokjin..."

Tapi, belum 30 detik berlalu, mata itu kembali terpejam dengan sempurna.

"Seokjin!" Ny. Kim panik dan menguncang tubuh Seokjin berusaha membangunkannya kembali. Tidak. Mata itu tidak boleh terpejam lagi.

Untung saja, Yoongi yang tanggap langsung menekan tombol emergency dan langsung menarik Ny. Kim agar tidak menyakiti Seokjin lebih dari itu.

"Cukup, ahjumma, kita tunggu Dokter kemari dan memeriksa keadaan Seokjin hyung. Sabarlah ahjumma" ucap Yoongi menenangkan Ny. Kim.

Namjoon yang melihat eommanya terguncang, mengambil alih dari pelukan Yoongi. Mengusap punggungnya yang nampak bergetar. Tangis masih terdengar ditelinganya, nama Seokjin terus-menerus dielukan eommanya tanpa henti

.

.

.

"Dokter, anakku baik-baik saja kan?" tanya Ny. Kim setelah melihat Dokter selesai memeriksa Seokjin

Dengan senyum kecil dokter itu menepuk pundak Ny. Kim, "Ini adalah keajaiban. Seokjin-ssi berhasil kembali dari komanya. Keadaannya berangsur-angsur membaik Ny. Kim. Bersyukurlah ini semua berkat do'a kalian untuk Seokjin."

Dokter itu kembali menatap Seokjin, "Beruntung dia memiliki orang-orang seperti kalian disampingnya. Dia akan segera sadar kembali Ny. Kim. Jadi anda tak perlu khawatir."

Tangis kembali terdengar dari Ny. Kim, tapi kali ini adalah tangis haru dan bahagia mendengar keadaan Seokjin yang membaik. Bukan hanya Ny. Kim, Jimin dan Jungkook ikut meneteskan air mata kebahagiaan. Sedangkan yang lain tersenyum lega dengan berita itu.

"Terima kasih dokter, anda sudah bekerja keras. Terima kasih." Ucap Namjoon dengan begitu senang. Kebahagiaannya tak terbendung lagi.

"Sama-sama. Kalau begitu saya permisi dulu." Ucap dokter tersebut meninggalkan ruangan Seokjin yang penuh suasana haru.

Hampir dua hari keluarga mereka dipenuhi kesedihan dengan keadaan Seokjin yang buruk. Tapi sebuah keajaiban datang menghampiri mereka. Ucapan syukur dengan tangis bahagia menutup hari buruk itu dengan mimpi keluarga besar yang akan berkumpul lagi

.

.

.

Siang itu, setelah kabar baik mereka terima, Ny. Kim langsung pamit pulang dan akan memberitahukan keadaan Seokjin pada semua keluarganya. Karna itulah, hanya ada mereka ber-6 di rumah sakit untuk menjaga Seokjin. Masih dengan perasaan yang sama Jungkook duduk dekat Seokjin dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya.

Yang lain hanya membiarkan saja. Dan saat ini hanya ada Jimin, Jungkook dan Taehyung. Para hyung sedang pergi untuk membeli makan untuk mereka semua.

"Annyeong..." seseorang nampak membuka ruang rawat Seokjin tepat jam 2 siang.

"Minhyuk" ucap Jimin saat melihat Minhyuk yang datang menjenguk, Minhyuk mengangguk sambil tersenyum dan Jungkook akhirnya mengalihkan pandangannya dari Seokjin.

Minhyuk menyapa Taehyung dan Jimin sebelum mendekati ranjang Seokjin. Matanya memerah siap meneteskan air mata yang akan meleleh saat melihat Seokjin masih tertidur lelap, tapi tak dipungkiri raut wajahnya nampak bahagia mengetahui keadaan sahabatnya yang membaik.

"Maafkan aku karna baru mengabarimu saat keadaannya membaik, Minhyuk." Ucap Jungkook, setelah kabar baik itu ia langsung menghubungi Minhyuk.

Minhyuk hanya tersenyum menanggapi. Setelah mendengar kabar dari Jungkook, Minhyuk memang bergegas pergi ke rumah sakit. "Tidak apa-apa. Kalau saja kau menghubungiku saat Seokjin sedang dalam keadaan buruk, mungkin aku akan mati saat itu juga" dengan tangan yang menghapus setetes air mata diujung matanya.

Jimin dan Taehyung tersenyum mendengarnya. Beruntungnya masih ada yang peduli dengan Seokjin meskipun dalam keadaannya yang dulu.

"Dimana yang lainnya, Kook?" tanya Minhyuk yang menyadari hanya ada 3 orang didalam

"Hyungdeul sedang membeli makanan. Kenapa?" jawab Jimin

"Tidak. Sebenarnya aku datang kemari bukan hanya untuk menjenguk Seokjin saja, ada hal lain yang ingin aku bicarakan juga dengan kalian ber-6" ucap Minhyuk menjauh dari ranjang Seokjin.

"Ada apa?" tanya Taehyung

"Ini tentang..."

.

CKLEK

.

Pintu itu terbuka lagi, tapi dengan orang yang berbeda. Ya, Namjoon, Hoseok, dan Yoongi.

"Minhyuk-ah, kau kemari? Siapa yang mengabarimu?" tanya Hoseok setelah menaruh sekantung makanan yang dibelinya di cafetaria rumah sakit.

"Jungkook yang memberitahuku. Terima kasih karna kalian sudah menyelamatkan Seokjin." Ucap Minhyuk

"Tak perlu. Dari awal kami seharusnya memang melindungi Seokjin, jadi tak perlu berterima kasih, itu tugas kami." Jawab Namjoon seadanya, yang membuat Minhyuk terpengarah.

Sebenarnya Minhyuk sedikit bingung dengan jawaban Namjoon, tapi dia menahan pertanyaan dikepalanya. Nanti saja, karna ada hal yang lebih penting dari itu sekarang.

"Hyung, ada yang ingin dibicarakan Minhyuk pada kita" ucap Jimin menengahi pembicaraan itu.

"Ada apa?" tanya Yoongi penasaran,

Minhyuk menatap 6 orang sampingnya itu dan menghela napas, "Ini tentang orang yang menyekap Seokjin di gudang belakang"

Tepat setelah mengucapkan hal itu, Minhyuk dapat merasakan aura disekitarnya perlahan menegang dan mulai terasa dingin. Netranya melihat tatapan Jungkook dan yang lain mendingin, apalagi hampir semua tangan mereka mengepal seolah menahan marah yang begitu besar. Ada apa sebenarnya?

"Katakan, siapa mereka?" ucap Yoongi dengan suara yang benar-benar datar. Aura disekitar Minhyuk semakin mencekam. Tapi Minhyuk tetap harus memberitahu mereka, karna ia yakin mereka mampu menolong Seokjin dari kekejaman yang selama ini menimpanya.

"Katakan saja, tidak apa-apa" ucap Jungkook seolah menenangkan. Tapi nyatanya itu tak berpengaruh apapun, suara datarnya terdengar jelas ditelinga Minhyuk yang membuatnya bergidik.

Minhyuk menelan ludahnya perlahan 'Kenapa aku merasa takut disini'

"Mereka...Lee Jae Hwan dan Lee Young Joo" ucap Minhyuk pelan

Tangan mereka semakin terkepal mendengar nama itu. Tapi setelah itu seringaian kejam terpampang diwajah Yoongi, mendengar nama yang sama sekali tak asing ditelinganya.

.

'Kau akan hancur, Ken. Akulah yang akan menghancurkanmu dengan tanganku sendiri'

.

"Dari mana kau tau hal ini, Minhyuk?" tanya Hoseok penasaran,

Minhyuk tampak mengambil sesuatu dari saku jaketnya, "Ini" sebuah CD yang diberikannya kepada Namjoon, yang tepat berada disampingnya.

"Itu rekaman CCTV saat Seokjin hilang, disana terlihat jelas teman-teman Jae Hwan menyeret Seokjin dengan paksa dari lorong sebelah barat ke gudang belakang. Disana juga terekam jelas wajah Jae Hwan dan Young Joo."

Namjoon meremas CD itu, berniat menghancurkannya sebagai pelampiasan kemarahannya. Bukti ini yang akan membuat mereka berdua serta teman-temannya akan mendapat balasan yang lebih kejam dari yang dialami Seokjin.

"Kenapa kau memberitau kami semua ini, Minhyuk?" tanya Taehyung. Dia yakin Minhyuk tak mungkin tau tentang hubungan Seokjin dengan mereka ber-6.

"Karna aku yakin kalian mampu melakukan sesuatu pada mereka. Dan aku semakin yakin kalianlah yang berhak melakukan pembalasan pada mereka yang telah menyakiti Seokjin, apalagi kalian yang menyelamatkannya dari hal buruk yang menimpanya" ucap Minhyuk dan kembali menatap Seokjin dari jauh.

"Meskipun aku sedikit penasaran, ada hubungan apa kalian dengan Seokjin dengan mengatakan menjaga Seokjin adalah tugas kalian?"

.

'Aku yakin mereka bisa menjagamu dengan baik, hyung'

.

"Kau akan tau pada akhirnya nanti, Minhyuk. Jadi tunggulah" ucap Namjoon menepuk pundak Minhyuk, yang mendapat anggukan darinya.

"Dan jangan khawatir, mereka yang sudah menyakiti Seokjin akan mendapat balasannya"

"Aku mengerti. Terima kasih sudah menjadi penyelamat bagi Seokjin. Selama menjadi sahabatnya aku belum bisa menjaganya dengan baik, aku benar-benar bererima kasih" Tangis Minhyuk akhirnya pecah juga, meskipun tanpa suara, air mata terlihat jelas mengalir di kedua belah pipinya.

.

.

.

Yoongi nampak berdiri disekitar lorong rumah sakit dengan ponsel melekat ditelinganya,

"Appa, CD yang aku kirimkan itu adalah bukti kejahatan penyekapan Seokjin. Disana juga terekam siapa pelakunya"

.

'Apa yang ingin kalian lakukan?'

.

"Tentu kami akan main-main sebentar, appa. Siapapun yang berani melukai Seokjin hyung, harus ikut merasakan apa yang dirasakannya"

.

'Baiklah, untuk kali ini appa dan yang lain tak akan ikut campur, Yoongi. Tapi ingat, butuh bantuan segera hubungi appa'

.

Yoongi menyeringai, "Aku mengerti, appa"

.

'Baiklah, hati-hati. Hubungi appa dan yang lain bila Seokjin sadar'

.

"Baik appa"

.

PIP

.

Yoongi menutup panggilannya pada sang appa. Kemarahannya harus segera dilampiaskan, dan dia harus menemukan anak brengsek itu untuk melampiaskannya.

"Dimana Minhyuk?" tanya Yoongi saat tak melihat anak itu ketika masuk keruangan Seokjin,

"Dia barusan pulang, hyung" jawab Hoseok yang tengah duduk. Yoongi mengangguk dan duduk disampingnya.

"Apa rencana kita setelah mengetahui ini semua, hyung" tanya Namjoon. Tak ada gunanya hanya berdiam seperti ini, Namjoon juga butuh pelampiasan seperti hyungnya itu

"Kita bermain."

Semua mata tertuju kepada Yoongi, seringai itu kembali muncul diwajah pucatnya,

"Lantas appa?" tanya Hoseok. Ayolah mereka ingin bermain, tapi tentu saja mereka tak suka diganggu.

"Kita bebas. Appa tak akan ikut campur kali ini."

"Kau serius hyung? Aku sudah lama tak bermain lagi, dan kau membuatku bernafsu lagi" ucap Taehyung dan disetujui yang lain

"Serius, Tae. Maka dari itu, kita tunggu Jin hyung siuman dulu baru kita mulai permainannya." Ucap Yoongi

"Kenapa tidak sekarang, hyung? Aku ingin tau apa alasan Ken sampai melakukan semua ini?!" ucap Jungkook dengan menggebu-gebu

"Makanya kita tunggu, Jin hyung harus ikut dalam permainan kali ini. Kita kejutkan semua penghuni Big Hit dengan identitas asli Jin hyung"

Namjoon yang tadinya diam ikut menyeringai bersama yang lain mendengar rencana yang hyungnya itu, menarik.

"Aku setuju. Kita buat mereka menyesal setelah semua yang mereka lakukan."

.

.

.

Malam itu seperti sebelumnya Jungkook tetap disamping Seokjin menunggunya bangun dengan sabar. Mengelus tangan sang hyung yang begitu lembut. Menggenggamnya erat tak mau melepasnya lagi. Kali ini ia akan menjadi orang pertama yang akan melarang Seokjin untuk pergi. Apapun yang terjadi Seokjin tak boleh pergi dari sisinya lagi.

Jungkook sedang sendirian saat ini. Para hyungnya sedang keluar membiarkan Jungkook yang berusaha menahan kantuknya. Tapi itu segera hilang saat tangan digenggamannya kembali bergerak pelan seperti hari sebelumnya.

Jungkook langsung membuka matanya yang memerah menahan kantuk itu. Tak mau tergesa-gesa dan terlalu berharap, Jungkook mengeratkan genggamannya,

"Hyung..." panggilnya pelan.

"Jin hyung..." ucapnya sekali lagi.

"Kau mendengarku kan, hyung? Aku Jungkook. Adikmu." Ucap Jungkook yang tetap kukuh memanggil Seokjin.

Tak ada sahutan sama sekali, Jungkook masih mencoba sabar hingga matanya membulat sempurna saat mata sang hyung kembali terbuka. Tepat didepan matanya.

"Jin...hyung..." ucap Jungkook tercekat

Mata itu mengerjap perlahan. Samar-samar mulai terlihat jelas sekitarnya. Iris mata itu mengedarkan matanya dan tampak netra yang membulat tepat disampingnya, seolah ikut merasakan hal yang sama iris hitam itu mulai memerah,

"Jung...Jung..Kook.." ucapnya terbata, satu air mata itu lolos melewati pipi tirusnya

"Hiks...Jung..Kook..Kookie..."

.

GREB

.

Pelukan itu Seokjin terima dengan rasa rindu, takut dan sedih yang mulai meluap. Bahu Jungkook ikut bergetar bersamaan dengan derasnya air mata Seokjin. Isakan mulai terdengar seiring semakin derasnya air mata yang mengalir diwajah mereka berdua.

"Jin hyung...kau...sadar" ucap Jungkook mengelus rambut Seokjin yang bersandar dibahunya. Jungkook bahagia. Sangat.

Seokjin belum mampu membalas pelukan Jungkook, yang mampu dilakukannya hanya mengangguk sebagai balasan ucapan Jungkook. Dia merindukan pelukan ini. Pandangannya mulai mengabur saat pintu yang ruang rawatnya kembali terbuka, menampilkan wajah-wajah terkejut temannya yang lain.

"Jungkook, kau..." ucapan Jimin terhenti melihat apa yang terjadi, bukan hanya Jimin, yang lain langsung syok melihat Seokjin yang tengah dipeluk Jungkook.

Mata Seokjin menatap 5 orang yang berdiri diam didepannya, tak bisa dipungkiri senyum terukir diwajah Seokjin karna kebahagiaan ini, temannya, adiknya. Mereka disini. Mereka kembali bersama.

"Jin Hyung.." ucap Yoongi tak percaya

Seokjin kembali mengangguk, dengan isakan yang tak mamapu dihentikannya. Dia bahagia. Seokjin sangat bahagia.

.

.

.

t.b.c

.

.

.

haaayyyyy readers :)

senang bisa melanjutkan ff ini lagi...

tak ada yang bisa qu ucapkan selain terima kasih karna sudah membaca seakligus mereview ff ini, thank you so much... :)

ok sampai jumpa di part berikutnya..