You Actually Specials

.

.

Cast : all member BTS

Genre : Family, brothership, little bromance

Rate : T

.

.

Part 10

Author pov

.

Gelap.

Seokjin melihat sekelilingnya dan hanya ada hitam dimana-mana. Apakah dia ada di gudang lagi? Lantas pertemuannya dengan teman-temannya hanyalah mimpi? Sekedar bunga tidur belaka? Seokjin hampir menangis, tapi ia urungkan saat indra pendengarannyanya mendengar suara lirih yang tengah memanggil namanya.

"Hyung..."

Suara itu, Seokjin seperti mengenalnya. Tapi dimana? disisinya hanyalah kegelapan, hingga ia tak mampu melihat sekitarnya. Seokjin bahkan tak tau darimana suara itu berasal, ingin melangkahpun ia tak tau harus kemana.

"Jin hyung..."

Sesaat ada secercah cahaya didepan Seokjin yang begitu terang. Mau tak mau Seokjin menuju arah tersebut dan penglihatannya mulai mengabur.

.

.

Seokjin membuka matanya. Cahaya yang menerpa matanya membuatnya kesulitan untuk melihat sekitar.

"Jin..hyung.."

Suara tercekat itu membuat Seokjin menoleh kesampingnya. Matanya membulat sempurna dengan air mata yang mulai mengenang.

.

'ini bukan mimpi kan?'

.

"Jung...Jung...Kook.." ucap Seokjin dengan air mata yang mulai menetes. Didepannya terlihat jelas wajah Jungkook yang juga tengah meneteskan air matanya.

"Hiks...Jung..Kook..Kookie.." Seokjin mendapat pelukan hangat yang sangat ia rindukan. Tangisnya pecah membasahi bahu sang adik yang memeluknya dengan erat.

"Jin hyung..kau..sadar.." Jungkook mengelus rambut Seokjin, mencium kening sang hyung yang tengah menangis bersamanya. Ia merindukan sang hyung. Sangat merindukannya.

Jungkook mengeratkan pelukannya saat tangisan Seokjin semakin keras. Menyampaikan afeksi hangat yang menenangkan, seolah mengatakan takkan pernah melepaskan Seokjin lagi. Jungkook akan terus memeluk tubuh ini, ia akan selalu berdiri disampingnya. Menemani sang hyung sampai kapanpun.

Mereka berpelukan dengan air mata yang mengalir deras sampai tak menyadari pintu yang terbuka dan menampilkan wajah yang terlihat terkejut dengan apa yang terpampang didepan mereka.

"Jungkook, kau.." Jimin yang berada paling depan menutup mulutnya saat netranya melihat apa yang sedang terjadi. Sedangkan yang lain sudah tak mampu berucap apa-apa karna terlalu terkejut dengan apa yang terjadi.

Seokjin yang menyadari kehadiran orang lain diantara mereka berdua, menatap kearah pintu yang terbuka. Jimin, Hoseok, Taehyung, Namjoon, dan juga Yoongi terlihat disana. Seokjin hanya bisa tersenyum melihat mereka berkumpul kembali. Kebahagiaan Seokjin begitu lengkap dengan kehadiran mereka semua.

"Jin hyung..."

Panggilan Yoongi menyadarkan Jungkook dan melepaskan pelukannya dari Seokjin. Ia menatap Seokjin bahagia dan menghapus jejak air mata yang masih terlihat didua belah pipinya. Isakan Seokjin juga masih terdengar jelas, meskipun ada senyuman kecil yang nampak diwajahnya, menatap sahabatnya yang berkumpul bersamanya.

"Hyung...Seokjin Hyung..." panggil Jungkook mengalihkan pandangan Seokjin dari 5 orang yang lain. Dengan senyum yang masih merekah, Seokjin memegang tangan Jungkook.

.

"Maafkan aku"

.

Jungkook dan yang lain terlihat terkejut dengan ucapan Seokjin.

"Aku meninggalkan kalian tanpa mengatakan apapun, dan kembali dengan keadaan yang buruk. Aku minta maaf" ucap Seokjin penuh penyesalan. Seokjin merasa kesalahan yang dilakukannya dulu itu banyak menimbulkan kesedihan, baik bagi dirinya, sahabatnya, dan keluarganya.

Seokjin tak menyangka pilihannya tak berjalan baik seperti yang dipikirnya, buktinya masalah silih berganti berdatangan hanya untuk menguji Seokjin, membuatnya menyerah dan putus asa. Beruntung kehidupan belum meninggalkan Seokjin, memberikan kesempatan kedua untuk memperbaiki segalanya.

Namun, baik hal buruk yang selama ini menimpanya, itu semua membuatnya belajar. Tak semua orang menerimanya sebagai orang biasa yang tak memiliki apa-apa. Semua orang akan memandangmu ketika kau memiliki kekuasaan dan kedudukan tinggi.

Seperti Jaehwan. Contoh terbaik yang merupakan teman masa kecilnya itu malah berbalik membencinya. Entah karena ia melupakannya atau karna derajat yang berbeda. Jaehwan yang sekarang seolah jijik memiliki teman sepertinya yang berada dibawah. Tapi, lantas tak semua orang akan bersikap begitu kan? Minhyuk masih menerimanya menjadi teman baiknya selama ini, membantunya, menemani Seokjin dalam keadaan apapun, tanpa mempedulikan statusnya.

Jalan kehidupan yang dipilihnya mungkin bukan jalan yang terbaik. Tapi Seokjin senang, hidupnya yang sekarang membuatnya mengerti banyak hal. Mungkin sudah saatnya ia kembali ke kehidupan yang sebenarnya. Takdir kehidupan Seokjin yang menanti untuk ditempuh olehnya. Kehidupan sempurnanya.

.

Tangan Seokjin menghangat seiring dengan genggaman yang menguat. Yoongi mendekat ke ranjang Seokjin dan duduk tepat disampingnya sambil ikut menggenggam tangan Seokjin

"Kami yang harusnya minta maaf hyung" ucap Yoongi sambil sebalah tangannya mengelus rambut Seokjin.

Seokjin mengalihkan pandangannya dan menatap mata Yoongi yang menyiratkan penyesalan. Begitupun yang lainnya, mereka menyesal tidak melakukan apapun saat Seokjin kesulitan, hingga keadaannya menjadi seburuk ini.

"Maafkan kami karna tidak ada disampingmu, maafkan kami karna membuatmu menderita selama ini, hyung." Ucap Yoongi menundukkan kepalanya.

"Kami memang selalu mengawasimu, hyung. Tapi kau tau? Yang kami lakukan hanya diam saat kau kesulitan. Kami tidak bisa melakukan apapun karena permintaan appa. Kami menahan sakit karena membiarkanmu terluka. Dan sudah cukup kemarin kau membuat kami hampir mati, hyung. Ku mohon jangan pergi lagi" ucap Jungkook menatap Seokjin tersenyum meskipun masih tersimpan kesedihan dalam senyumannya.

Jimin mendekat dan langsung memeluk Seokjin. Air mata sudah menetes saat ia tau hyungnya sudah sadar. Bahagia saat melihat senyum Seokjin lagi. Ia berjanji akan menjaga senyuman hyungnya itu. Taehyung menyusul dibelakang Jimin dan mengelus rambutnya untuk menenangkan temannya itu, dan beralih mencium kening Seokjin. " Kau kembali, hyung" ucap Taehyung tersenyum

Hoseok pun tak kalah bahagia dari Jimin, matanya menahan tangis. Ia tersenyum senang sambil menatap Namjoon yang berdiri disampingnya. Masih termangu dengan kejadian ini.

"Ayo kita bergabung juga, Namjoon" Namjoon seolah tersadar dari lamunannya saat Hoseok memanggilnya. Jujur saja ia masih terkejut, namun keterkejutan itu langsung berganti senyuman indah. Bersyukur hyungnya sudah sadar kembali.

Dan untuk sekian lama, mereka berpelukan bersama lagi. Menyalurkan kasih sayang yang terpendam, penyesalan dan kesedihan setelah sekian lama terpisah, dan tak luput pancaran kebahagiaan memenuhi ruang rawat Seokjin. Senyum dan air mata kebahagiaan mengawali kisah persahabatan mereka kembali.

.

.

Tepat tengah malam setelah pelukan itu terlepas, mereka memanggil dokter untuk memerikasa keadaan Seokjin,

"Syukurlah Seokjin-ssi. Sebuah keajaiban kadaanmu sudah membaik. Mungkin setelah beberapa hari kau boleh pulang" ucap dokter tersebut "Namun, jangan terlalu memforsir tenagamu dulu, kondisimu belum pulih total. Jadi banyaklah istirahat"

"Dan beruntung kau memiliki keluarga yang sangat menyayangimu Seokjin. Mereka pasti akan menjagamu dengan baik" Seokjin tersenyum mendengar itu begitupun yang lain.

"Kalau begitu saya permisi dulu" ucap dokter itu perlahan pergi bersama dengan ucapan terima kasih dari mereka semua.

Setelah kepergian dokter itu, Seokjin berusaha duduk diranjangnya, Jimin yang sadar langsung membantu Seokjin memperbaiki posisinya.

"Terima kasih, Jimin" Jimin hanya tersenyum menanggapinya sambil membenahi selimut Seokjin

"Bagaimana perasaanmu, hyung?" tanya Namjoon

Seokjin tersenyum, "Lebih baik dari sebelumnya"

Mereka semua bahagia, bagian dari kehidupan mereka sudah kembali. Meskipun waktu sudah cukup malam mereke belum mampu untuk memejamkan mata. Kebahagiaan menghalangi kantuk untuk datang. Mereka masih bercanda dan menceritakan banyak hal.

Seperti yang sudah dijanjikan, Yoongi juga sudah mengabari keluarganya mengenai keadaan Seokjin yang sudah sadar. Besok keluarga mereka akan datang.

.

"Hyung" ucap Jungkook, semua menoleh kearahnya termasuk Seokjin. Jungkook yang awalnya berada diujung ranjang Seokjin, mendekat lagi.

"Jelaskan padaku Jin hyung" ucap Jungkook membuat Seokjin mengerutkan alisnya. Seokjin memperbaiki duduknya sambil menatap Jungkook, seolah meminta Jungkook untuk melanjutkan ucapannya.

"Kenapa Jaehwan melakukan ini padamu, hyung" ucap Jungkook menundukkan kepala. Tangannya mengepal menahan amarah yang muncul kembali. Yoongi dan yang lain yang sempat melupakan amarah mereka, kembali meluapkannya juga. Suasana menjadi hening. Namjoon diam seribu bahasa, Hoseok dan Taehyung mengalihkan pandangan mereka. Jimin yang sudah menghilangkan senyumannya, dan Yoongi kembali dengan wajah datarnya.

Seokjin sadar dengan suasana yang sudah berubah ini. Kemarahan mereka biasa dirasakan olehnya. Seokjin sendiri menyesal karena membuat mereka seperti ini. Namun tak ada yang bisa Seokjin lakukan untuk meredakannya, semuanya sudah terlanjur ketahuan. Dan akhirnya ia menceritakan semuanya.

"Awalnya Jaehwan tidaklah seperti itu. Hanya saja.." Seokjin berhenti sejenak. Haruskah ia menceritakan ini? Tapi menyembunyikannya juga percuma. Jaehwan yang dulu dikenalnya sudah lama hilang.

"..." atensi mereka tetap mengarah pada Seokjin, diam adalah jawaban untuk menunggu penjelasana Seokjin.

"Ada hal menyakitkan dibalik berubahnya sikap Jaehwan padaku" lagi, tetesan air mata turun melewati pipi Seokjin. Tak ingin terbawa masa lalunya, Seokjin langsung menghapusnya. Yoongi dan yang lain berusaha untuk tidak melakukan apapun saat air mata itu turun. 'dia akan menyesal'

"Sebenarnya.."

.

Flashback

.

Seokjin sudah berada di Seoul selama 3 bulan. Dan baru 2 minggu ini ia bekerja di sebuah supermarket sebagai kasir. Seokjin memang pergi dari rumahnya. Tapi bukan bererti paman-pamannya itu tidak membekali Seokjin. Black card dengan ukiran emas atas nama Kim Seokjin masih tersimpan indah didompetnya. Hanya saja, Seokjin ingin mencari kesibukan sebelum dirinya ikut tes disebuah universitas ternama. Berdiam diri di apartemen kecilnya membuatnya bosan, dan ia bukan tipe orang yang suka menghabiskan uang untuk hal yang tidak diperlukan. Akhirnya ia memilih bekerja di tempat kecil ini.

Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, shiftnya akan segera selesai dan setengah jam lagi pengganti Seokjin akan datang. Ketika berniat meninggalkan kasir, Seokjin melihat mobil berhenti didepan supermarket sehingga Seokjin membatalkan niatannya.

Seorang namja turun dari tempat pengemudi dengan terhuyung. Seokjin memperhatikan orang tersebut dan sepertinya ia mengenalnya. Dan benar. Ketika namja tersebut mengangkat wajahnya, Seokjin mengenalnya sebagai temannya, Lee Jaehwan.

Jaehwan masuk dengan berpegangan pada pintu supermarket, dan mendekat pada kasir. Menatap sang penjaga kasir yang menatapnya pula, Jaehwan menajamkan pandangannya.

"Seokjin" ucapnya datar. Sedangkan Seokjin masih terdiam.

" Kau mendengarku kan?!" tanya Jaehwan lagi dengan sedikit meninggikan suaranya.

Seokjin terkejut dengan nada ucapan Jaehwan dan memilih mengalihkan pembicaraan

"Anda membutuhkan sesuatu tuan?" tanya Seokjin hati-hati

Jaehwan terdiam, wajahnya memerah. Belum sempat Seokjin ingin berkata lagi

.

PLAK

.

"Ikut denganku" setelah menampar Seokjin, Jaehwan langsung menarik tangan Seokjin memaksanya untuk mengikutinya, tanpa sempat menolak.

Suasana kala itu sedang sepi, dan tanpa disadari orang Jaehwan mendorong Seokjin ke gang sempit sebelah supermarket. Seokjin yang masih terkejut hanya mampu terdiam menahan sakit disikunya kerena terjatuh.

"Kenapa kau seperti ini sekarang?" tanya Jaehwan

'Seharusnya aku yang bertanya seperti itu' ucap Seokjin dalam hatinya

"Kenapa hidupmu menyedihkan begini, hah?!" lagi, Jaehwan membentaknya.

Jaehwan duduk dihadapan Seokjin, menarik dagu Seokjin untuk menatapnya.

"Apa yang kau inginkan, Ken?" tanya Seokjin perlahan.

Jaehwan diam, nama panggilan itu diberikan Seokjin untuknya. Namun kemarahan seolah membuat Jaehwan gelap mata. Dan dengan tiba-tiba Jaehwan menciumnya dengan paksa. Menahan tengkuk Seokjin untuk tidak menghindar.

Seokjin semakin terkejut, dan merasa dilecehkan temannya sendiri Seokjin berontak. Berusaha mendorong Jaehwan sekuat tenaga, namun Seokjin tidaklah sekuat itu. Tapi ia tetap berusaha mengalihkan wajahnya dari Jaehwan, sekuat tenaga menghindar.

.

.

"Awalnya aku tidak mengerti...hiks..kenapa ia melakukan itu padaku. Aku berusaha melawan meskipun itu mustahil untukku..hiks" Seokjin tak mampu membendung air matanya. Luka pertama akibat pilihannya, ditorehkan temannya sendiri.

Dan sebenarnya, baik Yoongi, Namjoon, Jimin, Taehyung, Hoseok, terutama Jungkook, ingin sekali pergi dari sini dan mencari Jaehwan untuk membunuhnya. Mereka ingin sekali menghilangkan anak itu dari dunia ini. Namun, mereka masih bertahan. Karena Seokjin masih belum menyelesaikan ceritanya.

"Saat aku mendengar alasannya, aku hanya diam saja. Tapi ...hiks.. aku tidak bisa terkejut ketika.."

Dan mereka tak bisa memndam kemarahan mereka lagi kali ini.

.

.

Jaehwan melepas ciumannya dan mendapat tamparan keras dari Seokjin.

"Apa yang kau pikirkan sampai kau melakukan ini padaku?!" ucap Seokjin marah terlebih lagi ia kecewa dengan temannya itu yang memperlakukannya seperti ini.

Jaehwan memegang pipinya yang sedikit nyeri, lantas menyeringai menatap Seokjin.

"Asal kau tau saja, aku mencintaimu! Dari dulu AKU MENCINTAIMU SEOKJIN!" Seokjin terkejut mendengar pengakuan Jaehwan. Tidak menyangka tentang perasaan yang Jaehwan simpan selama ini.

Memang sejak pertama mengenal Jaehwan, sikapnya memang sangat perhatian sekali. Orang tuanya dan orang tua Jaehwan adalah rekan bisnis. Sehingga Seokjin dan Jaehwan pun juga sering bertemu. Karena intensitas pertemuan Seokjin dan Jaehwan semakin sering, sikap Jaehwan pun perlahan mulai lebih perhatian padanya, kasih sayang yang diberikannya pun melebihi temannya yang lain. Awalnya Seokjin hanya mengira itu perhatian antar teman saja. Tanpa tau Jaehwan memendam perasaan yang sesungguhnya.

"Aku ingin memilikimu, tapi selalu ada 6 temanmu disampingmu. Mereka selalu menghalangiku ketika ingin berduaan denganmu. Mereka selalu menempelimu sampai aku tidak bisa menahan kesabaranku dan memilih menemui orang tuamu untuk menikahkan kita"

Seokjin terbelalak menatap Jaehwan, senekat itukah?

"Tapi orang tuamu menolakku! Mereka tidak mau anak kesayangan mereka menderita. Mereka tidak berpikir saja, aku ini sangat kaya. Dan pastinya kau tidak akan menderita kalau bersamaku" ucap Jaehwan tertawa sinis sambil memandang Seokjin yang menangis. Entah sejak kapan air mata sudah mengalir diwajahnya.

Jaehwan semakin mendekati Seokjin., dengan kasar ia mengangkat wajah Seokjin. Menjilat air mata dipipi Seokjin. Membuat Seokjin memejamkan matanya yang membuat air matanya semakin deras mengalir.

"Akan aku beri tau sebuah rahasia, Seokjin"

"Sejak penolakan keluargamu, aku sangat membenci mereka. Sampai aku tak bisa menahannya lagi. hingga akhirnya aku meminta bantuan orang tuaku untuk melakukan sesuatu pada orang tuamu" ucap Jaehwan menyeringai. Seokjin terbelalak mendengar itu semua.

"Ya. Orang tuaku yang membuat ayah ibumu meninggal" Jaehwan kembali tertawa senang, apalagi melihat wajah Seokjin yang seolah kehilangan rohnya. Kosong.

"Ternyata orang tuaku juga sangat membenci orang tuamu. Dan itu membuatku semakin mudah menghancurkan mereka." Jaehwan menatap tajam Seokjin "Akan aku buat mereka yang menghalangiku untuk memilikimu menyesal. Termasuk ke 6 temanmu itu" Jaehwan tertawa mengejek

.

PLAK

.

"Brengsek kau Lee Jaehwan! Kau keterlaluan, Kau jahat!" Seokjin memukuli Jaehwan dengan sisa tenaganya. Amarahnya meluap mengetahui orang tuanya mati karena ulah temannya. Air matanya sudah tak terbendung lagi. Isakan Seokjin semakin keras. Sedangkan Jaehwan hanya tertawa remeh.

"Dan sekarang, aku membencimu Seokjin. Beruntung kau tidak tinggal dengan Pamanmu lagi. Karena aku akan sangat puas saat menyiksamu. Kau akan menderita" Jaehwan langsung menampar lagi Seokjin hingga tak sadarkan diri. Setelahnya ia meninggalkan Seokjin di gang kecil itu. sendiri.

.

Flashback Off

.

.

Diruangan itu hanya terdengar isakan Seokjin yang semakin menyakitkan ketika didengar. Air mata terus menetes membasahi selimut rumah sakit. Tangannya mengepal, menahan kepedihan yang ia pendam. Rahasia yang dibawanya tanpa seorangpun tau. Rahasia kematian ayah ibunya.

Seokjin semakin menangis ketika seseorang memeluknya. Yoongi. Dia mengelus punggung Seokjin menenangkannya sekaligus dirinya sendri. Setidaknya dengan memeluk Seokjin, sedikit membantu untuk menahan amarahnya. Apa yang telah diungkapkan Seokjin telah membuat mereka ber 6 berjanji benar-benar akan membunuh Jaehwan setelah ini. Bahkan kematianpun seolah belum cukup untuk dosanya selama ini.

"Maafkan kami karna membiarkanmu menanggung beban seberat ini, hyung" Yoongi mencium kening Seokjin lama. 'kau harus bahagia hyung'

Pandangan Jungkook menggelap, begitupun Jimin. Taehyung mencoba menghilangkan amarah Namjoon yang memang sudah terlihat akan meledak dengan mengelus bahunya. Taehyung sendiri marah, sangat marah, hanya saja ia menahannya seperti Hoseok yang tengah memejamkan mata disebelahnya. Dan sepertinya itu semua tidak membantu. Yoongi pun setelah memeluk Seokjin amarahnya terlihat jelas. Amarah menguasai ruangan itu. Seokjin pun hanya mampu menangis. Dan saatnya untuk memulai permainan ini. Harusnya Jaehwan berpikir dulu, siapa yang akan mereka hadapi ketika menyentuh Seokjin. Dan akhirnya mereka semua merasakan hal yang sama. Dendam.

.

.

"Bagaimana menurutmu?"

Tanpa diketahui anak-anak mereka, tuan Jeon dan tuan Min sedang berdiri di depan pintu ruang rawat Seokjin. Mereka datang lebih cepat karena ingin bertemu Seokjin. Tapi mereka malah mendapat kejutan menyakitkan seperti ini. Semua hal yang diceritakan Seokjin terdengar oleh mereka.

"Biarkan anak-anak yang mengurus Jaehwan, kita akan mengurus orang tuanya. Mereka sudah salah menilai kita" tuan Jeon perlahan meninggalkan ruangan Seokjin disusul tuan Min dibelakangnya.

"Yah, orang tua dan anak memang sama brengseknya" tuan Min menyeringai,"Menderita ya? Jaehwan dan orang tuanya yang akan menderita"

.

.

.

tbc

.

.

.

akhirnya setelah sekian lama :)

maaf dan terima kasih readers

semoga suka ...