You Actually Specials

.

.

.

Cast : All Member BTS

Genre : Family, Brothership

Rate : T

.

.

.

Part 13

.

.

.

Author Pov

.

Minhyuk masih terdiam dengan mata yang terbelalak. Bekas air mata juga masih terlihat dikedua pipinya. Pikirannya sedang buntu karena menerima informasi yang membuatnya sangat terkejut. Kim Seokjin, teman yang saat ini memandangnya itu adalah bagian dari 3 namja lain yang tengah duduk menemani mereka.

"Aku benar-benar minta maaf padamu Minhyuk karena merahasiakan ini darimu. Tapi ini aku lakukan karena janji yang aku buat dengan ayah Jungkook" Seokjin masih betah menjelaskan karena tak ingin membuat Minhyuk salah menangkap perkataannya.

"Aku menunjukkan identitasku yang sebenarnya ini karena kejadian yang menimpaku kemarin. Sama seperti yang aku katakan padamu, hal itu juga sebuah janji"

Minhyuk sudah memahami antara perjanjian Seokjin dan ayah Jungkook. Ia sudah mengerti, hanya saja otaknya masih memproses itu semua. Diamnya Minhyuk tentu saja membuat Seokjin gelisah, ia takut Minhyuk akan membencinya setelah ia menyembunyikan rahasia besar ini.

Jungkook, Jimin, dan Taehyung masih disana menemani Seokjin sambil sesekali mengusap pelan bahu Seokjin untuk memberinya kekuatan. Minhyuk hanya menghela napas. Ia mengusap kedua matanya ketika dirasa masih ada air mata yang mengenang. Perlahan Minhyuk menampilkan senyumannya lagi, ia mendekat dan mendekap Seokjin dalam pelukannya.

Seokjin awalnya terkejut, namun usapan dipunggungnya membuatnya tersenyum. Ia membalas pelukan Minhyuk dengan erat, perasaan gelisah dan tegangnya meluap seketika. Seokjin benar-benar bersyukur memiliki teman yang sangat baik.

"Sebenarnya aku sedikit kecewa padamu Seokjin, tapi aku mengerti semua alasanmu melakukannya, jadi kau tidak perlu merasa bersalah lagi. Terima kasih sudah menjelaskannya padaku. " Minhyuk melepaskan pelukannya dan menatap Seokjin,

"Aku sudah menganggapmu bukan sebagai teman lagi, melainkan sudah seperti saudaraku sendiri. Jadi aku mohon, kalau ada sesuatu yang terjadi padamu atau kau tengah merasakan sesuatu, setidaknya beritau aku agar aku tidak terlalu mengkhawatirkanmu" Seokjin ingin menangis mendengarnya. Tuhan selalu mengirimkan orang-orang yang baik untuknya, tapi ia malah selalu menyakiti hati mereka.

Seokjin tersenyum dan menggenggam tangan Minhyuk, "Terima kasih Minhyuk, kau benar-benar orang yang sangat baik. Aku akan berusaha lebih terbuka lagi padamu."

Minhyuk tersenyum, ia mengalihkan pandangannya pada 3 namja yang masih memperhatikan mereka. Sesaat Minhyuk mendengus, "Kalian jahat sekali padaku, padahal saat aku datang ke rumah sakit kalian bisa saja memberiku sedikit penjelasan"

Jungkook hanya menyegir saja, "Kami juga terikat janji kau tau. Lagipula bukan hak kami juga menjelaskannya padamu kan," Minhyuk semakin cemberut, Seokjin terkikik geli sedangkan Jimin dan Taehyung tersenyum saja melihat Minhyuk kembali seperti biasanya.

Mereka masih bicara bersama, tanpa menyadari seseorang menatap mereka dari samping jendela, 'Apa yang terjadi?!'. Seseorang itu langsung melangkah tanpa peduli sekitarnya.

.

.

Lee Jaehwan baru saja tiba dikampus. Ia tampak terburu-buru saat keluar dari mobilnya karena menyadari tepat 15 menit lagi sebelum jam pertama dimulai. Saat melewati area parkir ia merasakan perasaan yang tidak nyaman, seolah ada yang menatapnya. Namun Jaehwan tak memperdulikannya dan memilih melangkah kedalam kampus.

Beberapa langkah memasuki kampus, Jaehwan melihat banyak anak-anak yang berkumpul dikoridor. Namun bukan keramaian yang didengarnya. Hening, senyap. Tak ada pembicaraan sama sekali, anak-anak itu nampak terdiam memikirkan sesuatu. Beberapa dari mereka terlihat gelisah. Banyak dari mereka membicarakan sesuatu, namun telinganya tak mampu mendengar karena itu hanya sebuah bisikan.

Merasa aneh dengan suasana kampus kala itu, Jaehwan berniat ingin menanyakan apa yang terjadi. Namun sebelum itu terjadi, seseorang menabrak dirinya. Nampak seorang yeoja yang tengah bergetar tubuhnya, dengan kepala yang menunduk. Dari figur tubuhnya ia mengenal yeoja tersebut, Lee Young Joo.

"Hey Young Joo, apa yang"

Belum selesai Jaehwan bertanya ia sudah dikejutkan dengan ekspresi wajah Young Joo, terlihat ia sangat ketakutan, belum lagi air mata yang mengalir dari kedua matanya. Young Joo sendiri menatap Jaehwan marah.

"Semua karena kau! Kau Jaehwan! Itu semua ulahmu! Aku tidak ada sangkut pautnya denganmu. Aku akan selamat. Yah aku akan selamat." Jaehwan hanya mengernyit heran mendengar ocehan tidak jelas yeoja didepannya itu. Berniat akan menegur, ia lebih dulu melenggang pergi dengan sedikit berlari seolah takut ada yang akan mengejarnya.

Jaehwan mendengus melihat tingkah Young Joo yang sangat aneh. Memilih tak peduli dengan kejadian barusan Jaehwan meneruskan jalannya yang sempat terhenti. Namun suara didalam kelas membuatnya kembali berhenti.

"Aku minta maaf padamu Minhyuk"

Jaehwan sekali lagi terhenti. Ini memang bukan kelasnya, tapi ia berhenti karena mendengar suara Seokjin. Karena penasaran ia mengintip dari balik jendela, dan Jaehwan harus merasakan keterkejutan yang besar melihat apa yang sedang terjadi didalam kelas tersebut.

Bukan karena melihat Seokjin yang tengah dipeluk Minhyuk, tapi ia menyadari ada 3 orang lain yang menemani Seokjin disana, bahkan salah satu dari mereka merangkul Seokjin dengan akrab, hal yang mungkin tidak pernah dibayangkan Jaehwan akan terjadi secepat ini. Netranya tak melepas pandangan dari gerak gerik Jungkook, Jimin, dan Taehyung.

Jaehwan semakin mengerutkan keningnya melihat mereka berlima bahkan tertawa bersama. Tanpa sadar Jaehwan mengepalkan tangannya, ada perasaan marah saat melihat Seokjin yang masih bisa tertawa. Tidak mau terpaku dengan keadaan yang membuatnya marah itu, Jaehwan memilih segera pergi dengan menyisakan tanda tanya dikepalanya. 'sejak kapan mereka akrab lagi?'

Jaehwan terus melangkah tanpa menyadari sejak ia berhenti disamping kelas Seokjin, Min Yoongi terus mengawasi dari belakangnya. Ia bersandar dibalik tiang dengan mata terus menatap kepergian Jaehwan. Seringai muncul diwajah Yoongi.

"Tunggu pembalasanku Lee Jaehwan" dan berlalu pergi darisana seolah tidak terjadi apa-apa.

.

.

.

Seokjin masih mengamati Yoon ssaem didepan sana. Disebelahnya Minhyuk juga tengah mencatat hal yang dianggapnya penting. Saat ini Seokjin sedang mengikuti kelas vocal, jadi tidak heran ada 2 maknaenya di kelas ini. Yoon ssaem lebih suka menggabungkan kelasnya karena tidak mau membuang banyak waktu. Jadinya anak tingkat 1 dan 2 belajar bersamaan.

Tapi malah Taehyung membaca komik, sedangkan Jungkook hanya diam sambil mendengarkan sesuatu dari earphone yang menempel ditelinganya. Tidak ada yang berniat mengusik kegiatan mereka, karena hal itu memang sudah biasa terjadi. Yoon ssaem saja hanya menggelengkan kepala.

Kenyataannya, baik tingkah mereka seolah tidak menghargai dosen yang sedang mengajar, tak pernah ada yang terlihat menegur tingkah mereka, bahkan para dosen terkesan tidak peduli dengan apa yang dilakukan mereka. Karena baik memperhatikan atau tidak, mereka tetap menjadi mahasiswa yang membanggakan bagi kampus. Nilai test mereka selalu tinggi, belum lagi orang tua mereka adalah donatur terbesar di Big Hit. Selama mereka tidak mengganggu dan berbuat ulah, kampus seolah menutup mata atas tingkah mereka.

"Baiklah itu saja untuk hari ini, minggu depan saya adakan test. Jadi siapkan lagu yang akan kalian tampilkan untuk test tersebut. Ssaem harap kalian menyiapkannya dengan baik."

"Baik Yoon ssaem"

Tepat setelah Yoon ssaem keluar, anak-anak kelas tersebut juga bergantian keluar. Mata kuliah kelas Seokjin selanjutnya baru akan dimulai 2 jam lagi, jadi banyak yang meninggalkan kelas untuk menikmati jam istirahat mereka.

Seokjin tengah membereskan barangnya saat seorang yeoja berdiri disamping tempat duduknya. Seokjin mengenalnya, tapi memilih untuk tidak terlalu peduli. Minhyuk yang melihat tingkah aneh yeoja itu hanya tersenyum sinis.

"Apa yang kau inginkan, Yeri-ssi?" itu suara Minhyuk. Melihat penampakannya saja sudah membuat Minhyuk muak.

Yeri masih berdiri disebelah Seokjin, kegugupan terlihat jelas dari raut wajahnya. Sebenarnya ia berniat minta maaf atas semua sikapnya pada Seokjin dulu. Ia takut. Takut pada 2 orang lain yang tengah menatapnya.

"Seokjin oppa, aku"

Tanpa berniat mendengarkan Yeri lebih lanjut , Seokjin segera beranjak. Tapi belum jauh ia melangkah Yeri menghentikannya dengan berdiri didepannya lagi.

"Oppa aku ingin minta maaf, aku"

"Yeri-ssi"

Panggilan Seokjin membuat Yeri berhenti bicara. Ia merasa Seokjin didepannya berbeda dengan Seokjin yang dulu selalu ia ganggu. Bahkan dari tatapannya yang menatapnya tajam, Yeri tidak mengenalnya. Atau ia bahkan tak pernah mengenal Seokjin.

"Sejak kapan aku menjadi oppa mu?" pertanyaan Seokjin berhasil menohok Yeri. Bisa Seokjin ingat Yeri bahkan tak pernah memanggilnya begitu.

"Oppa aku"

"Pergilah, kau membuang waktuku"

Seokjin melewati Yeri begitu saja, bahkan tak berniat menatap yeoja itu. Diikuti dibelakangnya Jungkook dan Taehyung yang dari tadi menyeringai sambil menatap Yeri. Minhyuk yang paling akhir sempat berhenti hanya untuk menatap jengah Yeri.

"Berhentilah bertingkah bodoh"

Sedangkan Yeri bergetar menahan ketakutannya.

.

.

Setelah berhasil keluar dari kelas, Seokjin berniat menuju atap untuk menenangkan diri. Ia sudah menyuruh 2 maknaenya untuk memesan makanan untuknya dan membawanya ke atap. Sedangkan Minhyuk tidak bisa ikut karena harus menemui Yoon ssaem yang tiba-tiba memanggilnya.

Terakhir ia disini saat mempelajari lagu Yoongi, yang dengan tidak sengaja bertemu dengan ke 6 adiknya. Mengingat itu Seokjin sedikit menyesal karena langsung menghindar begitu saja, padahal didalam hati Seokjin ia sangat merindukan kebersamaan mereka. Namun Seokjin bahagia, karena sekarang mereka akan terus bersama-sama.

Tapi ia kembali teringat dengan kejadian dikelas tadi, ia merasa sikapnya pada Yeri terlalu berlebihan. Meskipun dulu yeoja itu kasar padanya, tapi Seokjin merasa sikapnya tidaklah benar.

"Hyung"

Seokjin menoleh, ternyata bukan hanya 2 maknaenya tapi juga Jimin, Yoongi, Namjoon dan Hoseok juga ikut bersama mereka. Tangan Taehyung dan Jungkook penuh dengan bungkusan makanan, dan beruntungnya Jimin membawa sekantong minuman. Seokjin beranjak mendekat untuk membantu.

Seokjin mencari area yang cukup bersih, sebelum ia medudukkan dirinya. Yang lainpun mengikutinya, membentuk sebuah lingkaran dengan beragam makanan yang ada ditengah mereka.

"Kau baik-baik saja kan, hyung?" tanya Jungkook.

Seokjin hanya menatap Jungkook sambil mengedikkan bahunya, "Entahlah"

"Kau masih memikirkan kejadian tadi, hyung?" ucap Taehyung. Seokjin hanya menatap Taehyung sekilas dan menghela napas. 4 orang lainnya nampak kebingungan dengan arah pembicaraan mereka.

"Ada apa memangnya?" tanya Hoseok memastikan.

Akhirnya Taehyung menjelaskan perihal Yeri yang menemui Seokjin. 4 orang yang lain hanya diam mendengarkan, menunggu cerita selesai.

"Kau tidak perlu merasa bersalah, hyung. Apa yang kau lakukan pada Yeri itu tidaklah seberapa jika dibandingkan dengan sikapnya padamu selama ini" ucap Namjoon menenangkan. Seokjin memang terlalu baik untuk dunia yang kejam ini.

Yoongi menggenggam tangan Seokjin,"Ingat yang kita bicarakan di rumah, hyung. Kami akan selalu bersamamu, menjagamu dan akan terus disampingmu. Apa yang kau lakukan sudah benar. Maaf jika aku memintamu bersikap seperti itu"

Seokjin balik menatap Yoongi. Ia mengingat pembicaraan mereka kemarin malam. Yoongi memintanya untuk sedikit lebih dingin dari biasanya, hal yang bahkan tak pernah dilakukan sebelumnya. Yoongi hanya ingin orang yang dulunya pernah berbuat buruk pada Seokjin sedikit menyesal, Yoongi ingin orang-orang itu setidaknya akan merasa khawatir dengan perubahan diri dan sikap Seokjin. Seokjin tidaklah selemah itu, ia tak seburuk itu hingga orang-orang bisa bertingkah seenaknya selama ini. Jadilah Yoongi ingin Seokjin sedikit merubah sikapnya yang ramah itu.

"Tidak Yoon, aku mengerti alasanmu memintaku bersikap seperti ini. Hanya saja aku masih belum terbiasa, dan kau tau itu" Yoongi hanya mengangguk.

"Aku rasa aku hanya perlu menghindari mereka saja, kalaupun aku harus menanggapi mereka, itu sesekali saja"

"Itu sudah lebih dari cukup, hyung. Kami hanya ingin mereka semua merasa bersalah atas semua tingkah mereka. Setidaknya mereka butuh sedikit pelajaran" ucap Jimin yang dari tadi diam mendengarkan. Seokjin mengangguk dan tersenyum. Moodnya sudah lebih baik saat berkumpul dengan adik-adiknya itu.

Yoongi melepaskan genggamannya saat dirasa Seokjin sudah tidak gelisah lagi. Mereka akhirnya memulai makan mereka, menghabiskan makanan yang sempat tidak mereka pedulikan itu.

.

.

.

At other side

Tuan Jeon saat ini tengah berkutat dengan berkas dihadapannya, banyak yang harus diperiksa dari laporan-laporan bawahannya ini. Bukannya ia tak memepercayai pekerjaan bawahannya, ia hanya ingin memastikan perusahaan mendiang tuan Kim yang dijalankannya ini dalam keadaan baik. Tuan Jeon tidak akan main-main jika berurusan dengan perusahaan mendiang temannya ini.

.

TOK TOK

.

"Masuk"

Seseorang memasuki ruangan tuan Jeon, dengan membawa berkas ditangannya.

"Sajangnim ada titipan dari tuan Min."

ucap orang tersebut yang merupakan sekretaris tuan Jeon.

Tuan Jeon sejenak mengalihkan pandangannya, sedikit heran kenapa tidak orangnya sendiri yang datang menemuinya, 'Tumben ia tidak memberikannya langsung'.

"Baiklah, terima kasih" ucap tuan Jeon setelah menerima berkas tersebut.

"Saya permisi sajangnim"

"Silahkan"

Tuan Jeon berniat mengambil berkas dari tuan Min, tapi belum sempat menyentuh berkasnya, ponsel miliknya berdering. Tampak dilayar nama tuan Min lah yang menghubunginya. Tanpa berpikir panjang tuan Jeon langsung mengangkatnya.

"Yoboseyeo"

"Hey Jeon"

Tuan Jeon berdecak dengan jawaban lawan bicaranya.

"Bisakah kau menjawab sapaanku dengan benar?"

"Itu membuang waktu bodoh"

"Baiklah tuan Min yang terhormat, ada apa? Dan apa maksud dokumen ini?"

"Oh sudah sampai ya? Maaf aku tidak bisa mengantarnya secara langsung, aku masih sibuk dengan berkas-berkas di kantorku. Jadi.."

"Bisakah langsung ke intinya? Nampaknya kau sendiri yang membuang-buang waktu"

"Dasar. Itu daftar properti milik Lee Jung An, perinciannya ada dalam dokumen tersebut. Kau bacalah sendiri"

"Lantas mengapa kau mengirimkannya padaku?"

"Untuk pajangan dinding! Bodoh, tentu saja untuk rencana balas dendam kita!"

Tuan Jeon sedikit menjauhkan ponselnya akibat teriakan tuan Min. Sepertinya semakin bertambah umurnya, emosinya juga semakin tidak stabil.

"Baik-baik aku mengerti, dan berhenti mengataiku bodoh"

"Karena kau memang bodoh"

"Ckck, sudah hanya itu saja kan, sampai jumpa"

"Yak"

.

PIP

.

Terlalu lama mendengarkan suara tuan Min yang sedang marah sangat tidak bagus untuk telinganya.

"Hah semoga Yoongi tidak mewarisi sifat pemarah ayahnya. Atau bahkan anaknya bahkan lebih parah?"

"Ish apa yang aku pikirkan. Ternyata aku memang bodoh" tuan Jeon menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan jalan pikirannya. Ia lalu memilih membaca berkas yang dikirim tuan Min, dokumen yang berisi daftar properti milik Lee Jung An, ayah dari Lee Jaehwan.

.

.

.

tbc