You Actually Specials

.

.

.

Cast : All member BTS

Genre : Family, Brothership

Rate : T

.

.

.

Part 15

.

.

.

Happy Reading

.

.

.

Author Pov

Taehyung masih menggiring Seokjin menuju area parkir, dan bisa Taehyung rasakan hawa panas ditubuh Seokjin karena masih menahan amarahnya. Taehyung tidak tau sebenarnya apa yang terjadi, saat ia akan pulang ia malah melihat Seokjin dan Jaehwan serta hyungnya sendiri yang berada diantara mereka berdua. Tapi saat melihat Namjoon memukul Jaehwan, Taehyung bisa menyimpulkan sesuatu yang buruk telah terjadi. Dan ternyata memang benar, Seokjin sudah terlihat akan meledak dengan wajah yang memerah.

Setelah sampai dimobil Seokjin, Taehyung membukakan pintu dan menempatkan Seokjin dikursi samping kemudi, sedangkan Taehyung berjongkok diluar mobil sambil menggengam tangan Seokjin. Tak ada pembicaraan sama sekali, Seokjin masih betah dengan pikirannya sedangkan Taehyung mengelus kedua tangan Seokjin untuk menenangkannya.

Perlahan mata Seokjin terpejam dan deru napasnya sudah kembali normal, Taehyung menghela napas lega. Hingga pendengarannya mendengar derap langkah menghampiri mobil Seokjin. Tepat setelah Taehyung berdiri dan menolehkan kepalanya, Jungkook, Jimin, dan Hoseok sudah berdiri disampingnya. Seokjin sendiri langsung membuka matanya setelah sedikit menghela napas.

"Hyung kau tidak apa-apa? Ada yang sakit?" tanya Jungkook.

"Hyung kau baik-baik saja kan? Jaehwan tidak melukaimu kan?" tanya Jimin selanjutnya.

Hoseok yang berada disamping mereka berdua langsung memukul pelan kepala mereka karena banyak bertanya, ia juga khawatir hanya saja ia mencoba tenang. Taehyung sendiri mendengus mendengar ocehan Jimin dan Jungkook itu, sedangkan Seokjin hanya menatap ke 4 adiknya yang masih berdiri diluar mobilnya.

"Aku baik-baik saja Hoseok, Jimin, Jungkook, tidak terjadi hal buruk padaku. Dan terima kasih Taehyung karena sudah membawaku kemari"

Hoseok sedikit membungkukkan tubuhnya untuk memeluk Seokjin, "Syukurlah kalau kau tidak terluka hyung. Kami khawatir padamu karena Namjoon bilang Jaehwan kembali menemuimu"

Seokjin menepuk pelan punggung Hoseok, ia melepas pelukannya dan menampilkan senyumannya, "Aku tidak apa-apa, Namjoon sudah membantuku tadi"

Hoseok sendiri balas tersenyum dan kembali bergabung dengan Jimin, Taehyung, dan Jungkook yang entah sedang meributkan apa, ia membiarkan Seokjin untuk menenangkan diri dulu.

"Sebenarnya aku ingin menghajarnya, tapi aku menyimpannya untuk saat terpenting saja" ucap Taehyung yang tengah bersandar dimobil.

Jimin hanya berdecak, "Bilang saja kau tidak bisa menghajarnya kan? Kalau aku yang berada disana nyawa Jaehwan sudah mendekam di neraka"

"Dan dia akan mati dengan cepat, tanpa kita membalas perlakuannya pada Seokjin hyung selama ini?" balas Taehyung membuat Jimin terbelalak,' benar juga'

PLAK

"Aish Hoseok hyung, berhentilah memukul kepalaku" Jimin mengelus kepalanya yang mendapat pukulan sayang dari Hoseok, sedangkan sang empunya hanya mengelengkan kepalanya.

"Kau memberikan pelajaran untuk dua ular lainnya, tapi tidak dengan iblisnya, kau bodoh?" ucap Hoseok sarkatis. Sedangkan Jimin hanya menyengir, ia terlalu emosi jadinya tidak bisa berpikir.

Taehyung yang mendengar pembicaraan Jimin dan Hoseok sedikit terpengarah, "Dua ular? Siapa?"

Jimin menoleh, "Dua ular yang kita temui tadi pagi"

Taehyung bukannya mengerti malah semakin mengerutkan kening, ia benar-benar tidak mengerti dengan maksud pembicaraan mereka.

"Kau bodoh juga ya Taehyung?" ucapan Hoseok sekali lagi harus membuat Taehyung mengerucutkan bibirnya tanda sebal.

"Setidaknya bukan hanya aku saja yang dikatakan bodoh" ucap Jimin mencibir.

Hoseok hanya menghela napas, Taehyung dan Jimin terkadang memang sangat menyebalkan. Kenapa juga ia harus bersama para maknae ini. Namun mengingat mereka memiliki 3 maknae, Hoseok menatap Jungkook yang terdiam dan menatap ponsel ditangannya.

"Jungkook, kau kenapa?" Jungkook hanya menatap Hoseok sekilas sebelum memasukkan kembali ponselnya kedalam saku celana.

"Tidak ada apa-apa hyung"

"Hei"

Jungkook dan Hoseok langsung mengalihkan pandangan mereka keasal suara, begitupun Jimin dan Taehyung. Terlihat Namjoon dan juga Yoongi menghampiri mereka, dan masih mereka sadari aura membunuh yang menguar dari tubuh Namjoon. Sepertinya ia masih belum bisa menetralkan emosinya.

"Dimana Seokjin hyung?" tanya Yoongi. Ia sudah mendengar dari Namjoon tentang apa yang terjadi, Yoongi hanya ingin memastikan Seokjin baik-baik saja setelah keributan tadi. Hoseok hanya menunjuk mobil Seokjin, seolah memberitahukan keberadaan hyung mereka.

Yoongi mengangguk, ia dapat melihat Seokjin yang terduduk diam didalam mobil, "Hoseok, kau sendirian dulu, aku akan menemani Seokjin hyung. Dan Taehyung, kau gantikan Namjoon menyetir"

Yoongi tidak akan membiarkan Namjoon mengemudi dalam keadaan emosi yang masih tidak stabil itu, bisa-bisa ia harus kehilangan nyawa teman yang sudah ia anggap adiknya itu. mungkin Namjoon memang memiliki IQ tinggi, tapi dalam masalah mengendalikan emosi, ia masih harus banyak belajar.

"Memang kau tidak ada jam kuliah, hyung?" tanya Hoseok.

"Kita utamakan keadaan Seokjin hyung telebih dahulu" Yoongi tanpa banyak bicara langsung memasuki mobil Seokjin. Hoseok hanya mengangguk, jam kuliah masih bisa diganti lain waktu. Ia lalu memasuki mobilnya sendiri, diikuti Jimin yang memasuki mobil Jungkook, serta Taehyung yang kali ini menarik Namjoon untuk memasuki mobil mereka.

Saat Yoongi menoleh pada Seokjin, sang hyung hanya terdiam. Bahkan saat Yoongi memasangkan sabuk pengaman ditubuh Seokjin, tubuhnya sama sekali tak mengeluarkan respon apapun, seolah hanya tubuhnya saja yang ada disini, tapi tidak dengan jiwanya.

"Hyung" Yoongi berusaha memanggil Seokjin, namun masih direspon keterdiaman oleh Seokjin.

Yoongi yang khawatir dengan keadaan Seokjin, mencoba menggenggam tangan Seokjin. Dan beruntung Seokjin langsung menolehkan kepalanya dan terkejut saat bertemu pandang dengan Yoongi, "Yoongi.."

Yoongi menghela napas pelan, "Hyung, kita pulang sekarang"

Seokjin masih tampak kebingungan, tapi ia memilih mengangguk saja. Yoongi langsung menyalakan mesin mobil dan melaju meninggalkan kampus bersamaan dengan 3 mobil lainnya dibelakang.

.

.

.

Dalam perjalanan pulang hanya hening yang mendominasi dimobil Seokjin. Baik Yoongi dan Seokjin sendiri juga tidak berniat untuk memulai pembicaraan. Namun sebenarnya, Yoongi sedikit khawatir pada Seokjin yang seolah sibuk dengan pikirannya itu, dari mereka keluar kampus sampai setengah perjalananpun hanya wajah datar Seokjin yang terlihat.

"Yoon"

Yoongi yang mendengar suara Seokjin, langsung menoleh pada sang hyung meskipun hanya sekilas, "Kau butuh sesuatu hyung?"

Seokjin menatap Yoongi yang masih fokus menatap kedepan. Meskipun Yoongi terlihat tidak peduli, namun Seokjin tau Yoongi selalu mendengarkannya.

"Menurutmu apakah aku merepotkan?"

SRET

Yoongi tanpa sadar langsung mengerem mendadak, memang bukan gaya Yoongi sekali, namun mendengar perkataan Seokjin membuat dirinya harus bersikap demikian.

"Kenapa kau bertanya seperti itu hyung?" Yoongi memandang tajam Seokjin. Ia bahkan tidak peduli kalau orang yang ditatapnya ini lebih tua darinya, namun Yoongi sungguh marah mendengar pertanyaan Seokjin barusan.

Seokjin sendiri menatap Yoongi dengan perasaan campur aduk, ia menyadari tatapan Yoongi padanya, tapi ia memilih menghindarinya. Seokjin mengalihkan wajahnya, dan menghalangi Yoongi untuk melihat kesedihan yang hinggap diwajahnya.

TIN TIN

Yoongi menggeram marah sebelum melajukan kembali mobilnya. Dan dengan sengaja ia berkendara dengan kecepatan tinggi. Seokjin sendiri hanya memejamkan mata tanpa berniat menghentikan Yoongi. Hingga setelah beberapa saat Yoongi menghentikan mobilnya dipinggir jalan.

Yoongi menghela napas, "Seokjin hyung"

"Bukankah aku sangat lemah Yoon?"

Yoongi yang awalnya ingin bicarapun kembali mengatupkan bibirnya. Yoongi harus bungkam karena kembali melihat Seokjin yang terluka, mungkin tidak ada air mata yang mengalir lagi, namun tatapan mata Seokjin sudah cukup menyiratkan sakit yang mendalam.

"Tidakkah selama ini hidupku sia-sia saja Yoon?"

Kali ini Yoongi menatap Seokjin lekat, ia membiarkan Seokjin untuk bicara.

"Aku bahkan tidak pernah melakukan apapun selama ini. Perusahaan daddy dijalankan oleh paman Jeon, sedangkan aku mengasingkan diri dengan alibi ingin mandiri dan menjalani kehidupanku sendiri. Tapi apa yang aku dapatkan? Nyawaku hampir hilang kala itu."

Yoongi hanya diam karena saat ini ia hanya akan berada disisi Seokjin, dan ia akan selalu mendengarkan sang hyung. Meskipun dari setiap perkataan yang keluar dari mulut Seokjin melukai perasaan Yoongi sendiri.

"Jika diingat bukankah itu hanya keegoisanku saja Yoon? Aku dengan beraninya bilang kalau aku akan kembali dengan diriku yang lebih mampu nantinya, aku pergi dari rumah karena ingin menjadi kuat, tapi aku malah kembali dalam keadaan lemah. Jadi bukankah pelarianku selama ini sangatlah percuma? Bukannya ingin menambah keberanian, aku hanya menjadi pecundang karena secara tidak langsung aku menghindari tanggung jawabku"

Dampak pertemuannya dengan Jaehwan benar-benar membuat Seokjin harus seterpuruk ini, dan Yoongi cukup sadar untuk mengetahuinya.

"Mungkin memang benar yang dikatakan Jaehwan, aku lemah, aku pecundang, aku sampah. Seharusnya aku memang pantas mendapat perlakuan buruk selama ini, karena aku memang serendah itu bukan?"

"HYUNG?!"

Seokjin bahkan tidak terkejut kala Yoongi membentaknya. Yoongi disebelahnya nampak menahan amarahnya, napasnya memburu hingga tanpa sadar ia meninggikan suaranya, ia mengusap wajahnya dan nampak raut menyesal diwajahnya, "Maaf hyung"

Sunguh, Yoongi hanya tidak suka jika Seokjin beranggapan buruk pada dirinya sendiri.

"Keadaan tidak membaik setelah aku kembali, aku menambah beban kalian bukan? Kalian selalu melindungiku, terus-terusan khawatir padaku, kalian juga bergantian menjagaku, belum lagi paman dan yang lainnya. Bukankah aku ini sangat merepotkan Yoon?"

Seokjin sudah tidak mampu lagi menahan tangisannya, tepat didepan Yoongi, Seokjin harus merelakan air matanya turun dengan perlahan. Seokjin diam karena memikirkan perkataan Jaehwan. Seokjin berusaha menyangkal semuanya tapi kenyataannya, ia memang seperti yang dikatakan Jaehwan, ia lemah. Sangat.

Seokjin kecewa pada dirinya sendiri karena selama ini yang dilakukannya hanya melarikan diri. Ia kecewa karena yang dikatakan Jaehwan adalah kebenaran, karena Seokjin tidak bisa melindungi dirinya sendiri, ia selalu berada dibalik punggung adik-adiknya. Ia selalu merepotkan mereka, membuat mereka khawatir.

"Apakah lebih baik aku menyusul mommy dan daddy saja?"

"Cukup hyung"

Yoongi langsung memeluk Seokjin erat. Sungguh kalau orang yang dipeluknya ini bukan hyungnya, sudah Yoongi hajar karena ucapannya. Tapi mengingat semua hal yang dilalui Seokjin selama ini membuat Yoongi sedikit menahan emosinya, karena bagaimanapun, meskipun Seokjin adalah hyung yang disayanginya, ucapannya memang membuatnya marah.

"Berhenti merendahkan dirimu sendiri hyung. Kau orang yang sangat penting bagi kami"

Seokjin membalas pelukan itu dengan erat, air mata terus mengalir hingga membasahi baju depan Yoongi. Seokjin sungguh kalut hingga memikirkan hal seperti itu.

"Kau boleh berpikir kau ingin pergi hyung, tapi bisakah kau memikirkan perasaan kami sebelum melakukannya? Bisakah kau memikirkan betapa sedihnya kami karena harus kehilanganmu? Kau sangat berharga bagi kami hyung, kau hyung kami, kau keluarga kami, dan sudah seharusnya keluarga saling melindungi. Apakah salah jika kami melindungimu yang merupakan hyung kami?"

Seokjin semakin terisak mendengar ucapan Yoongi. Seokjin sadar, ia sudah salah karena menyinggung kematian orang tuanya. Dan Seokjin sadar, apa yang telah dikatakannya juga sebuah kesalahan, karena ia merasa Yoongi sungguh terluka karena ucapannya.

"Kau sangat berarti bagi kami hyung, jadi kami akan melakukan apapun untuk terus melindungimu. Jaehwan mungkin berpikir kau hanya berlindung dibalik punggung kami saja. Tapi ingatlah hyung, kami bisa sekuat ini karena berkat kau juga"

Yoongi melepas pelukannya, tangan besarnya mengusap air mata yang masih mengalir dipipi Seokjin.

"Kau sudah mengajarkan kami banyak hal hyung, hingga hubungan pertemaanan kita bisa seerat inipun, itu berkat kau hyung. Kau yang selalu menyatukan kami, kau selalu ada untuk kami selama ini, dan semua perhatianmu itu membuat kami sadar, suatu saat kami pasti akan menjagamu seperti yang pernah kau lakukan pada kami sebelumnya. Dan puncaknya saat kematian orang tuamu hyung, kami ber 6 berjanji akan selalu berada disampingmu, menjagamu, melindungimu,"

"Dan kami akan selalu berusaha membuat hidupmu bahagia hyung" Yoongi mengecup kening Seokjin perlahan. Ia sudah berjanji akan selalu menjaga hyungnya ini, apapun yang terjadi.

"Jadi aku mohon padamu, jangan berpikiran buruk tentang dirimu hanya karena kata-kata Jaehwan, karena masih banyak orang yang menganggapmu penting dihidup mereka. Termasuk kami semua"

Seokjin bersyukur ia memiliki keluarga yang sangat menyayanginya, meskipun mereka bukan saudara kandung, tapi Seokjin merasa hubungan mereka bahkan lebih erat dari sebuah hubungan darah. Dan Seokjin menyesal sempat berpikir yang tidak-tidak. Seokjin tidak mau kehilangan keluarga yang juga disayanginya ini, Seokjin akan berusaha sekuat tenaga untuk melindungi keluarganya ini.

"Maafkan aku Yoongi"

Yoongi hanya menggeleng ia tersenyum dan menggenggam tangan Seokjin, ia berjanji tak akan membiarkan hyungnya sendirian, "Ingatlah, kami selalu menyayangimu hyung"

Seokjin mengangguk dan tersenyum, meskipun wajahnya terlihat berantakan dengan bekas air mata, tapi Yoongi sadar ada kelegaan yang terpancar dari wajah sang hyung.

Yoongi balas tersenyum, namun dalam sekejap senyuman itu menghilang. Yoongi memasang wajah seriusnya kembali sambil menatap Seokjin, "Kalau begitu dengarkan aku kali ini hyung. Kau boleh beranggapan kalau hidupmu sia-sia, tapi itu benar-benar menjadi sia-sia kalau kau menyerah disini hyung"

"Jaehwan akan sangat bahagia melihat kau hancur, dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Ingat yang selalu aku katakan padamu hyung? Kau itu kuat. Karena jika kau lemah kau pasti tidak bisa bertahan selama ini"

Seokjin mencoba memikirkan semua yang dikatakan oleh Yoongi.

"Kau boleh lemah, tapi kau memiliki kami yang akan selalu menopangmu, dan itu bukan kesalahan. Kita kuat karena kita bersama, dan kita selalu bersama agar kita saling menguatkan."

"Jadi sekarang hilangkan pikiran burukmu itu dan mulailah langkah baru. Jika kau berpikir kau tidak melakukan tanggung jawabmu, aku yakin paman Jeon, appa dan yang lainnya akan selalu siap membantumu hyung. Kami pun akan selalu membantumu."

Seokjin lantas mengiyakan perkataan Yoongi. Jaehwan akan menang kalau Seokjin menyerah sekarang, karena itulah yang diinginkan Jaehwan. Dia ingin Seokjin hancur. Tapi sekali lagi, Seokjin adalah orang yang kuat, dan dia punya dukungan yang kuat pula dibelakangnya. Jadi Seokjin berpikir ia tidak mau kalah kali ini, karena ia memiliki orang-orang yang menyayanginya disampingnya. Seokjin akan berusaha membuat Jaehwan sadar bahwa ia bukanlah seorang pecundang. Dan Ia sekarang siap menghadapi semuanya, hidupnya, tanggung jawab yang ditingggalkannya, dan juga Jaehwan.

"Yoon, terima kasih karena selalu bersamaku" Seokjin sudah cukup tenang sekarang, tak ada lagi yang perlu dikhawatirkannya. Semua bebannya adalah ulah pikirannya sendiri, jadi Seokjin akan mencoba membuang semua pikiran negatif yang hinggap dikepalanya. Ia tidak mau mengecewakan keluarganya, terutama mendiang orang tuanya. 'Dad, Mom, maafkan aku karena mengecewakan kalian. Aku akan terus berusaha agar menjadi anak yang membanggakan untuk kalian.'

"Selalu hyung. Aku akan selalu bersamamu"

DRT

Yoongi mengambil ponselnya yang bergetar, dan terlihat nama seseorang yang tengah menghubunginya. Sebenarnya orang yang menelponnya ini sudah menghubunginya sejak Yoongi berhenti dipinggir jalan tadi, tapi melihat keadaan tidak memungkinkan, Yoongi memilih mengacuhkannya saja. Memang saat ia melaju kencang tadi 3 mobil lainnya tidak sadar telah ditinggalkan.

"Siapa Yoon?" tanya Seokjin.

"Kelincimu hyung" Seokjin hanya tertawa mendengar nama panggilan Yoongi untuk Jungkook. Yah Jungkook dari tadi terus menghubunginya, karena terus saja bergetar Yoongi akhirnya mengangkatnya.

"Halo"

"HYUNG KAU MEMBAWA SEOKJIN HYUNG KEMANA?!"

Seokjin terkekeh mendengar teriakan Jungkook dari ponsel Yoongi. Sedangkan sang empunya langsung menjauhkan ponselnya dari telinga akibat sambutan suara Jungkook.

"Bisakah kau tidak berteriak hah?!"

"Habisnya kau menghilang dari pandangan kami saat dijalan hyung. Sebenarnya kau dimana? Kami sudah sampai di rumah tapi kau tidak ada"

Yoongi hanya menghela napas mendengar ucapan Jungkook disebrang sana.

"Aku berhenti dipinggir jalan tadi. Aku akan pulang sekarang"

"Seokjin hyung?"

"Dia baik-baik saja"

"Kau tidak berbohong kan hyung?" itu suara Jimin.

"Kami kira kau sudah sampai di rumah, tapi bahkan aura malasmu tidak terdeteksi hyung" kali ini suara Taehyung yang terdengar, dan Yoongi berjanji akan memukul maknae satu itu.

"Ish aku belum selesai hyung" dan Jungkook berusaha mengambil alih ponselnya lagi.

"Hyung cepatlah"

TUT

"Maknae kurang ajar" Seokjin hanya terkekeh melihat Yoongi yang memutus panggilan secara sepihak. Ia sudah lebih baik sekarang, wajahnya sedikit lebih baik dari tadi, meskipun masih terlihat bengkak dibawah matanya.

"Ingat yang aku katakan hyung. Aku akan mengurungmu di rumah kalau kau berani meninggalkan kami"

"Baik tuan muda Min"

"Ish" Yoongi sedikit menampilan senyumannya mengetahui hyungnya sudah kembali seperti biasanya. Dan ia baru sadar kalau tenggorokannya sedikit serak sekarang.

"Ehem" Seokjin tersenyum mendengar deheman Yoongi

"Yoon, sadarkah dari tadi kau terlalu banyak bicara?"

Yoongi mendengus, "Itu bukan diriku"

Yoongi berhenti dipinggir jalan untuk membuang kesedihan dalam diri Seokjin, jadi Yoongi tak berminat memberi ruang untuk kesedihan itu masuk kembali. Yoongi akhirnya kembali melajukan mobilnya setelah menyimpan ponsel di saku celananya, mengabaikan lagi panggilan maknaenya.

.

.

.

At other side

Tampak di ruang meeting disebuah perusahaan terdapat 2 orang yang tengah membicarakan sesuatu. Mereka sepertinya membahas hal yang sangat penting, karena nampak dari wajah mereka yang terlihat sangat serius.

"Bagaimana menurutmu tuan Kim? Aku yakin penawaranku cukup menguntungkan bagimu"

Salah satu dari mereka angkat bicara. Orang yang dipanggil tuan Kim itu hanya terdiam sambil melihat dokumen yang saat ini dipegangnya.

"Yah sedikit menguntungkan untukku, tapi aku masih harus memikirkannya. Kau tau, menaman saham pada perusahaanmu mungkin mudah untukku, tapi pengembangan asetmu juga harus aku pertimbangkan. Bisa jadi aset yang kau janjikan padaku itu sama sekali tak bernilai"

"Tentu tidak. Perusahaan milik keluargaku itu cukup berkembang pesat. Sebagian perinciannya sudah aku berikan padamu. Jadi bisakah kau membantuku kali ini, tuan Kim Daehan? Bukankah kita ini teman?"

Tuan Kim atau Kim Daehan itu sedikit menampilan senyumannya, "Biarkan aku memikirkannya dulu. Kalau sudah pasti aku akan mengabarimu Jung Ahn"

Lee Jung Ahn balas tersenyum menanggapi lawan bicaranya, "Aku harap tidak begitu lama"

Tuan Kim membereskan berkas tadi dan memasukkannya kedalam tas nya, "1 minggu lagi kau akan mendapat jawabanku, jadi berkas ini akan aku bawa dulu"

"Baiklah aku akan menunggu kabar baik darimu" Lee Jung Ahn lalu mengantar kepergian tuan Kim sampai keluar ruang meeting. Tuan Kim dan Lee Jung Ahn memang teman dekat, jadi tentu bukan hal sulit untuk meminta bantuan darinya. Apalagi perusahaan tuan Kim sedang berada dipuncak, dan itu pasti memberikan dampak yang bagus pada perusahaan Jung Ahn.

"Terima kasih mau datang ke perusahaanku" ucap Jung Ahn melepas kepergian tuan Kim di depan lift.

"Sampai jumpa" tuan Kim melambaikan tangan dan menampilkan senyumannya sebelum menghilang dari pandangan Jung Ahn. Tepat setelah pintu lift tertutup, senyuman hangat tuan Kim menghilang sepenuhnya.

DRT

Tuan Kim mengambil ponselnya yang bergetar.

'Aku dibawah, jangan membuatku menunggu lama :) – Jung Sang Wook

Tuan Kim berdecih membaca pesan dari temannya itu.

"Emotikonnya membuatku merinding"

Tepat stelah sampai dilobby tuan Kim kembali menunjukkan wajah ramahnya hingga menuju ke arah mobil sport hitam yang menunggunya didepan kantor Jung Ahn. Ia sudah biasa melihat mobil ini terparkir didepan kantornya sendiri.

Tanpa benyak bicara tuan Kim langsung memasuki mobil itu, dan ia harus mengalihkan pandangannya saat disambut senyuman yang sangat-sangat menyebalkan.

"Bisakah kau berhenti tersenyum seperti itu? kau sudah tidak seumuran dengan anakmu"

Jung Sang Wook atau tuan Jung hanya terkekeh saja, "Kau pikir pesona anakku itu turunan dari siapa hah?"

Tuan Jung menghidupkan mesin mobilnya dan melaju meninggalkan kantor Lee Jung Ahn.

"Kenapa kau menjemputku?" ucap tuan Kim menanggalkan jasnya, suasana dalam mobil cukup panas.

"Orang tua yang tidak sabaran itu benar-benar membuatku harus rela mengelurakan sedikit tenaga untuk menjempumu, karena kau begitu lama rapat dengan Jung Ahn"

"Oh, tuan Min kita yang terhormat?" ucap tuan Kim terkekeh

"Memangnya siapa lagi? Beruntung ia tidak mengumpatiku, sesekali orang tua itu harus dinasehati kalau orang yang sering emosi dan tidak sabaran itu, akan lebih cepat dimakan tanah" tuan Kim hanya terawa saja, tingkah teman-temannya itu masih seperti remaja saja, padahal umur mereka sudah bukan remaja lagi.

"Bagaimana?" tanya tuan Jung.

Tuan Kim menghela napas, ia menolehkan kepalanya melihat langit sore yang kemerahan, sebentar lagi malam akan datang. Benar saja kalau temannya itu marah padanya, karena waktu janjian mereka adalah pukul 4, dan sekarang sudah menujukkan pukul 5 lebih.

"Menjual perusahaan orang tuanya untuk memenuhi keserakahannya sendiri. Tidakkah masih banyak manusia tidak tau diri di dunia ini?"

Tuan Jung menyeringai mendengar itu, "Yah banyak sekali"

"Bahkan sampai rela menghilangkan nyawa orang terdekatnya. Bukankah dunia ini sudah tidak sehat lagi Sang Wook?"

"Bukan dunianya Daehan, tapi manusianyalah yang tidak waras"

Tuan Kim yang mendengar itu juga ikut menyeringai, "Dan setelah semua itu, dia masih berharap aku mengakuinya sebagai temanku?"

"Jung Ahn bodoh, dia pikir aku tidak tau apa yang sudah dia perbuat pada sahabatku?"

Tuan Jung terus melajukan mobilnya, menikati sore hari yang indah. Indah untuk merencanakansebuah pertunjukan.

.

.

.

tbc

terima kasih buat kalian semua yg selalu mendukung cerita ini, mulai dari awal cerita yg berantakan sekali, sekarangpun juga masih berantakan sih :D

terima kasih buat komentarnya juga, berkat kalianlah aku bisa melanjutkan ff ini sampai sejauh ini, meskipun minim ide, tapi karena mengingat kalian membuatku bisa semangat lagi

terima kasih dan terima kasih

semoga ff ini masih bisa menghibur kalian :)

mulai chap depan pembalasan dendam akan dimulai :D :D