You Actually Specials

.

.

.

Cast : All member BTS

Genre : Family, Brothership

Rate : T

.

.

.

Part 16

.

.

.

Author Pov

Malam hampir tiba ketika mobil Seokjin memasuki halaman depan rumah mereka. Yoongi yang menyetir memang sedikit memelankan laju mobilnya karena melihat Seokjin yang tertidur disampingnya. Mungkin karena kelelahan sehabis menangis, sekaligus terlalu banyak berpikir berlebihan. Yoongi sendiri memakluminya. Setelah semua hal yang terjadi pada Seokjin, ia masih bersyukur masih bisa melihat senyum hyungnya. Seokjin itu kuat. Itu yang selalu ia tanamkan dipikirannya. Dan Seokjin pasti akan bertahan. Karena dia tidak sendirian, Seokjin masih memiliki keluarga yang menyayanginya.

Tepat setelah mobil berhenti, ternyata Seokjin terbangun. Ia mengerjapkan matanya sesaat sebelum mengusap kedua matanya yang terasa perih.

"Kau pasti lelah hyung, setelah ini makan dan istirahatlah. Kau sudah cukup melewati banyak hal hari ini" ucap Yoongi setelah mematikan mesin mobil. Ia tersenyum saat melihat Seokjin hanya mengangguk, hyungnya mungkin masih mengantuk.

Yoongi turun dan beralih membukakan pintu untuk Seokjin, lalu menarik pelan Seokjin membantunya keluar. Hingga suara berisik menganggu telinganya,

"Hyung!!!"

Belum sempat 5 orang itu mendekat, mereka langsung terhenti karena menerima tatapan tajam dari Yoongi. Sungguh bisakah anak-anak ini tidak ribut sehari saja?

"Maaf hyung" ucap Jungkook menyengir. Tatapan Yoongi sangat menyeramkan.

Yoongi yang bahkan tidak peduli lalu kembali menuntun Seokjin, ia memanggil Hoseok mendekat, "Tolong antar Seokjin hyung ke kamarnya" Yoongi mengelus lengan Seokjin pelan, "Istirahatlah sebentar hyung"

Seokjin hanya mengangguk sambil tersenyum, ia menoleh kearah Hoseok yang mengambil alih dirinya dari Yoongi, "Ayo hyung"

Hoseok lalu menemani Seokjin menuju kamarnya. Memang tidak ada pembicaraan diantara mereka, tapi Hoseok tau bahwa hyungnya baik-baik saja sekarang. Hoseok membuka pintu kamar Seokjin dan membawanya masuk. Ia mendudukkan Seokjin diatas kasurnya.

"Hyung, kau duduklah dulu sebentar baru setelah itu bersihkan dirimu. Kami akan menunggu dibawah"

"Terima kasih Hoseok"

Hoseok hanya tersenyum, "Sama-sama hyung. Tapi tolong jangan buat kami khawatir lagi ya hyung, kami tidak mau kau pergi meninggalkan kami lagi. Karena kami sangat menyayangimu"

Seokjin membalas senyuman Hoseok, "Maafkan aku, aku akan menjaga diriku lebih baik lagi sekarang, karena aku juga menyayangi kalian semua"

Hoseok bersyukur Seokjin sudah bisa tersenyum lagi. Ia khawatir saat pulang tadi ia hanya melihat tatapan kosong dalam mata Seokjin. Ia belum tahu pasti hal apa yang terjadi diantara Seokjin, Namjoon dan Jaehwan. Mungkin nanti ia akan meminta penjelasan.

"Kalau begitu aku turun dulu ya hyung" Hoseok mengecup kening Seokjin dan berlalu pergi. Meninggalkan Seokjin yang akhirnya memilih menjatuhkan diri diatas kasurnya. Merasa masih mengantuk, akhirnya ia melanjutkan tidurnya lagi. Pikirannya sudah tenang sekarang, tak ada lagi beban yang menghimpit tubuh dan hatinya. Hingga napas Seokjin terdengar teratur tanda ia sudah beralih kealam mimpinya.

Ketika Hoseok turun suasana diruang tengah mereka sangat mencekam. Tidak, bukan karena emosi Namjoon, anak itu sudah tenang sekarang. Aura menyeramkan ini berasal dari Yoongi. Dari semenjak kedatangannya, memang Yoongi hanya diam saja. Bahkan ia hanya merubah ekspresinya pada Seokjin saja. Selebihnya hanya wajah datar dan tatapan tajam yang terpatri jelas.

Hoseok langsung duduk disamping Jimin. Namjoon duduk di sofa single dengan Taehyung yang duduk dibawah tepat disampingnya. Ia lebih suka duduk dibawah karena lebih leluasa pikirnya. Sedangkan Jungkook diam saja disamping Yoongi. Ia tidak mau mencoba menenangkan sang hyung, karena lebih baik seperti itu, daripada emosinya semakin meledak? Atau sebenarnya kau memang takut pada Yoongi, Jeon Jungkook?

"Ehem, hyung, apa yang sebenarnya terjadi?" mau tidak mau Jungkook memulai pembicaraan, ia tidak suka suasana seperti ini. Jungkook tau kalau Yoongi dalam mode ini, semuanya tidak akan mau mendekat, mengganggu, atau hanya sekedar menyapa. Karena mereka semua tau, ketika Yoongi marah, maka itu masalah besar.

"Kalian pasti tau apa yang terjadi pada Seokjin hyung tadi bukan?" tanya Yoongi pelan. Ia menghela napas dan perlahan menghilangkan emosi sesaatnya. Suasana diruang tengah itupun kembali normal dan 5 orang lainnya sangat bersyukur akan hal itu.

Hoseok menggeleng, "Aku hanya tau kalau Namjoon memukul Jaehwan karena sudah menghina Seokjin hyung, apa ada hal lain yang terjadi?"

"Ken sialan itu sudah menyakiti Seokjin hyung dengan mendorongnya, beruntung Seokjin hyung membalas dan balik memukulnya" jawab Namjoon. Beruntung saat itu ia datang tepat waktu dan menahan tangan Jaehwan untuk memukul Seokjin.

"Bukankah kita harus segera membalas Jaehwan, hyung? Jika dibiarkan dia akan lebih menyakiti Seokjin hyung kedepannya" ucap Taehyung, ia sudah tidak sabar untuk melenyapkan Jaehwan. Apalagi dengan tingkahnya hari ini, beruntung ia menahan diri.

"Itu yang ku harapkan. Semakin dia melukai Seokjin hyung, semakin besar balasan yang harus diterimanya, bukan begitu?" Yoongi menampilkan seringainya.

"Tapi tidak. Aku tidak bisa membiarkan Seokjin hyung terluka lagi. Appa sudah bergerak, dan kitapun juga" ucapan Yoongi membuat yang lain tersenyum senang.

"Akhirnya penantianku, dengan begini aku bisa memberi instruksi pada Krystal" Jungkook hanya terkekeh dan mengambil ponselnya.

"Memang apa hubungannya dengan Krystal?" tanya Taehyung.

"Aku meminta bantuannya untuk menjebak Young Joo. Wanita ular itu juga harus diberi pelajaran bukan?"

"Aku dan Hoseok hyung juga sudah meminta Minju dan Euna untuk mengurus Yeri dan Inha" ucap Jimin tenang.

Taehyung langsung menegakkan duduknya, "Jadi maksudmu tadi itu mereka berdua ya?"

"Kau baru sadar sekarang?" ucap Jimin mencibir. Taehyung terkadang memang menjadi anak yang jenius, tapi selebihnya ia bodoh dan ceroboh. Taehyung hanya cemberut mendengar ucapan Jimin.

"Hanya mereka bertiga saja? Aku kira lebih banyak" ucap Namjoon. Ia tidak peduli dengan yang lainnya, dipikirannya hanya bagaimana ia akan membalas Jaehwan.

"Cukup mereka saja, yang lain biarkan sebagai penonton. Aku harap mereka semua menyadari kesalahan masing-masing dan berpikir ulang untuk berurusan dengan kita"

Yoongi sebenarnya tidak peduli dengan mahasiswa yang lain, karena mereka tidak terlalu mengusik kehadiran Seokjin. Namun Jaehwan dan Young Joo perlu sekali mendapat pelajaran setelah semua yang mereka lakukan pada Seokjin. Mereka sudah cukup berdiam diri, sudah waktunya memulai permainan yang sudah mereka persiapkan bersama orang tua mereka juga.

Sudah hampir 30 menit dan Yoongi tidak melihat Seokjin keluar dari kamarnya, "Aku akan melihat Seokjin hyung dulu"

"Euna dan Minju, bukankah mereka temanmu Jimin?" Taehyung masih penasaran dengan rencana Jimin dan Hoseok. Ia tak memiliki rencana apapun sebenarnya, tapi lebih baik seperti itu bukan? Rencana yang lain sudah cukup. Atau mungkin ia belum melakukan rencananya?

"Ne. Aku sengaja meminta mereka untuk membully Inha dan Yeri. Dua wanita itu sama saja dengan Young Joo, jadi aku pikir bermain dengan mereka bukan masalah bukan?" ucap Jimin enteng. Ia tidak peduli apa yang akan dilakukan Euna dan Minju, yang jelas Jimin hanya ingin mereka berdua mendapat balasannya.

"Seharusnya sebagai lelaki kita tidak boleh menyakiti wanita hyung" ucapan Jungkook membuat 4 orang lainnya menatap heran maknae mereka.

"Heh? Kau bilang apa Jungkook?" sepertinya Taehyung salah dengar, ia sedikit mendekat pada Jungkook agar mendengar perkataannya.

Jungkook menghela napas, "Tidak baik hyung kalau kita menyakiti wanita" para hyungnya menatap Jungkook tak percaya. Jungkook sendiri hanya terkekeh, tapi beberapa saat seringai hinggap diwajahnya,

"Tapi kalau kita menyuruh wanita lain untuk menyakiti wanita ular itu, aku rasa bukan masalah"

Yang lain sekali lagi terpengarah, namun setelah itu mereka ber 5 tertawa. Bahkan Taehyung merelakan dirinya berguling dilantai menanggapi gurauan Jungkook.

"Ya ampun, Jimin, kemana perginya kelinci imut kita yang manis?" Hoseok masih tertawa, apalagi melihat wajah Jungkook yang merengut setelah mendengar godaan Hoseok.

"Sepertinya ia sudah bertransformasi menjadi monster kelinci hyung" Jimin terkekeh, ia tidak bisa menebak jalan pikiran adik kecil mereka itu.

"Ada apa?"

Mereka berhenti tertawa dan melihat Yoongi yang kembali mendatangi mereka. Ia heran melihat 5 orang yang tertawa seperti orang gila itu.

"Kami hanya membicarakan sesuatu hyung. Mana Seokjin hyung?" Jungkook sudah kembali seperti biasanya. Senyuman manis, wajah menggemaskan, dan mata bulat yang imut.

Yoongi hanya memicingkan mata melihat ekspresi menggemaskan Jungkook, "Seokjin hyung sudah tidur, aku tidak tega membangunkannya. Nanti aku antarkan saja makanan ke kamarnya."

"Ayo istirahat, besok pagi akan sedikit melelahkan" Yoongi tersenyum kecil dan meninggalkan ruang tengah. Yang lain menyusul dan memasuki kamar masing-masing. Menyiapkan diri untuk hari yang mereka tunggu-tunggu.

.

Pagi ini sepertinya akan menjadi sebuah kejutan. Bagaimana tidak, saat Yoongi keluar dari kamarnya, ia melihat para appa tengah berkumpul di ruang tengah. Dan dengan santainya mereka menyapa Yoongi yang masih memproses apa yang terjadi.

"Hey, kenapa berdiri saja? Segera sarapan, kau pasti ada kelas pagi hari ini" tuan Min kembali meminum kopinya dan sesekali menanggapi pembicaraan teman-temannya.

"Kapan appa dan paman datang?" Yoongi akhirnya bertanya juga, tadi malam ia tak mendengar seseorang memasuki rumah setelah mereka masuk kamar.

"Kami baru saja sampai Yoongi. Dimana Seokjin?" Yoongi menatap tuan Kim. Sudah cukup lama ia tak melihat ayah dari Namjoon dan Taehyung itu, karena memang beliau sering berada di luar negeri.

"Sebentar lagi pasti turun paman" ia tidak mau berlama-lama bersama para orang tua ini, dan memilih menuju ruang makan.

"Hey Min, anakmu itu sama dinginnya sepertimu. Kau besarkan anakmu itu dimana?" ucap tuan Jung terkekeh.

"Kutub utara" jawaban tuan Min berhasil membuat para orang tua itu tertawa.

"Seperti biasa"

"Min Yong Soo kita yang terhormat" dan tawa mereka semakin keras dengan wajah datar dan decakan tuan Min sebagai bonus.

"Appa Jeon, paman"

Seketika tawa keras itu langsung berhenti. 6 orang tua itu mengalihkan pandangan menatap Seokjin yang terkejut melihat kehadiran paman-pamannya itu.

"SEOKJIN!!" dan Seokjin harus rela paginya dipenuhi oleh keributan para orang tua yang tidak pernah mau kalah muda dari anak-anaknya.

"Yak! Appa, berisik" Jimin memasuki ruang tengah dengan menutup telinganya. Disusul Hoseok dan Namjoon dibelakangnya yang menyapa ayah mereka masing-masing. Sepertinya Jungkook dan Taehyung masih belum keluar dari kamar mereka.

Seokjin tersenyum melihat keluarganya berkumpul, ia lalu menghampiri mereka dan memeluk paman-pamannya satu persatu. Seokjin merindukan mereka semua. Setelah orang tuanya meninggal, mereka semualah yang merawat dan mengurus Seokjin serta perusahaan peninggalan mendiang orang tuanya juga.

"Bagaimana keadaanmu Jinnie? Maaf paman tidak menjengukmu saat di rumah sakit" ucap tuan Kim saat memeluk Seokjin.

Seokjin hanya tersenyum saja sambil melepas pelukannya, "Aku baik paman. Tidak apa-apa, lagipula aku sudah bertemu paman sekarang"

"Hyung sudah sarapan?" Jungkook turun bersama Taehyung yang memeluknya dari belakang sambil menyandarkan kepalanya, ia masih mengantuk setelah bermain game dengan Jungkook semalam. "Oh appa, hyung appamu datang"

Taehyung yang merasa tepukan ditangannya mengangkat kepalanya, ia bisa melihat ayahnya hanya melambai dan tersenyum padanya, "Pagi appa" yang dibalas gelengan kepala oleh tuan Kim.

"Seokjin hyung ayo sarapan dulu"

"Kalian tidak ikut sarapan dengan kami paman?" tanya Seokjin

"Duluan saja Seokjin"

Seokjin hanya mengangguk menanggapi jawaban tuan Jeon. Ia dan Taehyung serta Jungkook menyusul yang lainnya ke ruang makan.

Setelah selesai makan, mereka bergegas menuju kampus. Seokjin yang sedang tidak mood menyetir meminta Yoongi untuk membawa mobilnya. Jadinya sekarang Yoongi berangkat bersama Seokjin, Jungkook dengan Taehyung dan Jimin, sedangkan Hoseok bersama Namjoon.

"Appa kami berangkat" Yoongi langsung keluar menuju mobil setelah berpamitan, yang lain juga mengikuti Yoongi begitupun Seokjin. Para orang tua yang sedang kambuh perhatiannya mengantarkan mereka kedepan.

"Seokjin hati-hati ya" ucap tuan Park, ia memeluk Seokjin sekilas.

"Appa kau tidak memelukku juga?" tanya Jimin cemberut, sebenarnya ia hanya ingin menggoda ayahnya saja.

"Uh kemarilah anak bantetku tersayang" dan ucapan tuan Park membuahkan tawa dari mereka semua. Jimin semakin merengut mendengar panggilan ayahnya itu, tapi ia membalas pelukan hangat ayahnya.

"Kami berangkat paman" Seokjin menyusul Yoongi memasuki mobilnya. Yang lain juga mengkuti memasuki mobil masing-masing, dan setelah itu pergi bersama menuju kampus.

"Jadi, sekarang?" ucap tuan Kim menatap teman-temannya,

"Kita selesaikan didalam" jawab tuan Jeon lalu memasuki rumah.

.

.

.

Sama seperti pagi lainnya mahasiswa yang kedapatan kelas pagi sudah berdatangan memasuki BigHit Art University. Begitupun 3 mobil yang sudah memasuki area parkir ini. Tidak seperti biasanya tidak ada suara fans yang meneriaki mereka, sepertinya masih aneh dengan kemunculan anggota baru di geng Bangtan. Atau malah mereka lebih segan? Takut mungkin?

"Kalau saja dari awal seperti ini, telingaku tidak akan sakit setiap pagi" Yoongi selalu benci ketika ia baru saja datang selalu diteriaki oleh wanita-wanita yang menurutnya gila dan aneh.

Seokjin sendiri hanya tersenyum, ia sudah biasa dengan suasan sunyi seperti ini, karena memang ia tak pernah dianggap dulu.

"Tapi aku senang hyung, karena mereka mengakui ketampananku" Taehyung tersenyum senang dan dibalas cibiran oleh yang lainnya.

"Kau terlalu percaya diri Tae" Taehyung hanya menendang bokong Jimin karena ucapannya.

"Yak!"

"Seokjin!" Seokjin menolehkan kepalanya dan melihat Minhyuk yang menghampirinya, dengan senyuman indah diwajahnya ia berlari menyusul gerombolan geng Bangtan.

"Selamat pagi kalian semua"

"Pagi" jawab mereka, kecuali Namjoon dan Yoongi yang hanya menganggukkan kepalanya.

"Seokjin nanti kau ikut aku menemui Yoon ssaem ne" ucap Minhyuk.

"Boleh"

"KYAA!!"

Suara teriakan seseorang membuat mereka terhenti berjalan. Koridor kampus yang awalnya sepipun mulai berisik karena teriakan barusan. Mereka menolehkan pandangan kearah suara teriakan itu, sepertinya dari arah mading kampus. Seokjin yang penasaran ingin pergi kesana, namun saat ia akan melangkah tangan Minhyuk sudah menarik lengannya lebih dulu.

"Sebentar lagi Han ssaem akan masuk kelas Seokjin, kita cari tau nanti saja"

Seokjin sebenarnya ingin melihat sebentar saja, siapa yang teriak pagi-pagi begini?

"Tapi"

"Sudah ayo, kalau kita terlambat kita tidak bisa masuk. Kami duluan" Seokjin hanya menghela napas dan membiarkan Minhyuk menariknya. Memang Han ssaem tidak suka mahasiswanya telat.

"Kita bertemu nanti" Yoongi dan yang lainnya mengangguk saja. Setelah beberapa langkah Minhyuk menolehkan kepalanya menghadap mereka ber 6 dan sekilas menganggukkan kepalanya. Yah, mereka lah yang meminta Minhyuk segera membawa Seokjin pergi.

"Aku pergi. Jangan terlihat bersama dulu" Yoongi beranjak pergi. Ia tidak peduli dengan teriakan siapapun itu, bahkan untuk penasaran dengan yang terjadi. Tidak sama sekali.

"Kalian saja yang melihat, ayo Hoseok" Namjoon mengikuti kemana Yoongi pergi, karena sebentar lagi kelas mereka juga akan dimulai.

Hoseok mengangguk, sebelum beranjak, "Jimin"

"Aku mengerti hyung" Hoseok tersenyum dan mengejar Namjoon yang sudah sedikit jauh berjalan.

"Ayo, aku penasaran dengan yang terjadi" ucap Taehyung tersenyum. Ia lalu berjalan mendekati kerumunan yang memenuhi area mading kampus. Jungkook dan Jimin mengikuti saja dari belakang.

Tepat setelah mereka sampai, beberapa mahasiswa yang menyadari kedatangan 3 orang tersebut sedikit membuka jalan untuk lebih kedepan. Dan hal yang mereka lihat, ada 2 orang wanita yang satu tengah bersimpuh dan yang satu lagi tengah menenangkan wanita yang bersimpuh itu. Tidak tau pasti apa yang terjadi, namun pandangan Taehyung tertuju pada papan mading yang terlihat berantakan. Begitupun Jungkook dan Jimin, mereka hanya menatap tulisan besar berwarna merah yang menghiasi mading kampus mereka.

"Tenanglah Yeri, ayo aku antar ke ruang kesehatan" wanita yang bersimpuh itu ternyata Yeri. ia sungguh ketakutan, tubuhnya bergetar saat kembali melihat tulisan dipapan mading yang tertuju padanya.

'HAN YERI. AKU SELALU DISAMPINGMU UNTUK MEMBUNUHMU :)'

Yeri bahkan ingin muntah saat melihat bangkai tikus yang tercabik menempel disamping tulisan itu. Yeri sungguh tak mengerti siapa yang melakukan ini padanya? Apa salahnya? Yari terus menangis hingga ia sesegukan, beberapa saat staff kampus datang dan membubarkan anak-anak yang masih betah melihat kejadian teror ini.

"Ayo Yeri, kita tenangkan dirimu dulu" wanita yang selalu disamping Yeri tersebut lalu menariknya perlahan, ia memapahnya berjalan karena Yeri masih shock dengan kejadian yang menimpanya ini.

"Terima kasih Minju. Aku senang kau ada disini" Yeri sedikit tenang karena teman sekelasnya ini mau membantunya.

"Tidak apa-apa. Ayo" perlahan mereka meninggalkan area mading. Karena terlalu terkejut, Yeri bahkan tak menyadari kehadiran Jimin, Taehyung, dan Jungkook. Ia bahkan juga tidak menyadari kedipan yang dilakukan Minju saat mereka melewati Jimin.

"Kalian tidak ada kelas?" tanya salah satu staff yang masih melihat mereka bertiga masih berdiri disana.

"Kami pergi sekarang." Jimin menarik Jungkook dan Taehyung untuk segera pergi menuju kelas mereka.

"Bukankah tadi itu sangat kejam?" tanya Jimin saat memasuki kelas mereka. Memang untuk mata kuliah ini mereka bertiga satu kelas. Dan ternyata kelas mereka masih kosong, sepertinya yang lain masih sibuk dengan kejadian pagi ini.

"Tentu saja. Aku sungguh tidak menyangka Yeri mendapatkan perlakuan seperti itu" ucap Taehyung santai, ia duduk dan mengeluarkan komik lalu membacanya. Menunggu teman-teman yang lain dan dosen mereka datang.

"Kasihan sekali kalau Yeri mendapat hal seperti itu tapi ia tidak mati, bukan? Pasti dia akan menderita karena memikirkan kejadian yang terus menimpanya" ucap Jungkook sambil menguap, ia sedikit mengantuk setelah melihat kejadian tadi.

"Justru kasihan kalau ia langsung mati. Aku rasa aku akan meminta Minju untuk terus membuatnya menderita tapi aku tidak mau Yeri terbunuh. Bagaimana?" tanya Jimin pada 2 maknaenya, ia menampilkan wajah datarnya saat beberapa mahasiswa mulai memasuki kelas.

Jungkook dan Taehyung saling berpandangan kemudian menatap Jimin dengan tersenyum, "Boleh"

.

.

Hoseok dan Namjoon menyusuri koridor kampus untuk menuju kelas Kwon ssaem. Tapi sepanjang perjalanan mereka tidak melihat Yoongi yang dari awal sudah pergi duluan. Entah kemana hyung es mereka itu.

"Dasar wanita pencuri kau! Ku pikir kau kaya, tapi ternyata semua itu hasil curian saja!" mereka berdua terhenti di sebuah kelas yang terdengar sebuah keributan.

"Sungguh aku tidak tau Vic, aku"

PLAK

"Buktinya ini gelangku bodoh! Lihat ada namaku digelang ini"

Hoseok dan Namjoon sedikit terganggu dengan suara berisik serta tamparan yang mereka dengar barusan, tapi mereka tidak terlalu peduli dengan apa yang terjadi didalam sana. Lagipula bukan urusan mereka.

"Oh halo oppa" mereka melihat Krystal yang keluar dari kelas yang berisik tersebut. Anak itu hanya mengangkat tangannya untuk menyapa.

"Apa yang terjadi didalam?" tanya Hoseok.

Krystal sendiri hanya menggelengkan kepalanya, "Hanya mainan si Jeon" yang dibalas tawa oleh Hoseok dan Namjoon saat mendengar jawabannya itu.

"Kau pasti sudah bekerja keras ne?" tanya Namjoon. Ia jadi penasaran sekarang dengan apa yang terjadi didalam sana.

"Tidak juga oppa. Mudah saja bagiku melakukannya" memang terkadang wajah cantik seorang wanita mampu menyimpan banyak kegelapan didalamnya. Termasuk Krystal.

"Dari awal aku memang tidak suka dengannya, jadi aku mau-mau saja mengikuti Jeon Jungkook menyebalkan itu" Krystal dulu memang teman Jungkook. Tapi banyak orang yang tidak tau mengenai hal itu karena mereka bahkan tidak terlihat dekat meskipun satu kampus.

"Baiklah kalau begitu kami pergi dulu. Jangan kasar-kasar padanya Krystal" ucap Hoseok mengingatkan dengan menampilkan seringainya.

Meskipun dengan wajah datar, tapi Krystal sedikit menampilkan senyumannya untuk 2 orang didepannya ini, "Aku tidak mungkin bersikap kasar padanya oppa, tapi aku akan membuat orang lain yang melakukannya"

"Semoga berhasil" ucap Namjoon. Ia dan Hoseok lalu meninggalkan Krystal yang masih betah duduk didepan kelasnya itu.

"Aku jadi ingin minta maaf pada Seokjin hyung" ucapan Hoseok membuat Namjoon melihatnya heran,

"Kenapa?"

"Aku tidak bisa menyakiti wanita, jadi aku tidak bisa membalaskan langsung penderitaan Seokjin hyung pada para ular itu"

Namjoon tergelak, "Bukankah masih ada Jaehwan? Kau mau bersikap lunak padanya juga?"

Hoseok ikut tertawa karena ucapannya sendiri, "Tentu aku akan bersikap sangat baik terhadapanya"

"Yah kita harus memberikan hadiah terbaik untuk Jaehwan" Namjoon hanya menyeringai dan kembali mengobrol hal-hal tak penting lain bersama Hoseok dalam perjalanan menuju kelas mereka.

.

.

"Mau sampai kapan kau melihatnya terus-terus seperti itu?" Yoongi mengalihkan pandangannya melihat teman sekelasnya yang masih berdiri disampingnya.

"Bagaimana?"

Orang itu berdecak, "Ia tidak masuk hari ini"

Yoongi hanya mengangguk saja, pandangannya kembali beralih menatap Seokjin yang mendengarkan penjelasan Han ssaem dengan serius. Daritadi ia mengikuti Seokjin takut hyungnya nekat untuk pergi dan melihat kejadian yang terjadi di mading kampus, dan kejadian lainnya.

"Itu ulah kalian bukan?"

"Diamlah Hanbin"

Hanbin kembali berdecak, temannya satu ini memang sangat menyebalkan.

"Terserahlah. Tapi kau tau kan kalau kau butuh bantuan ada kami disampingmu, Yoongi?" ucapan Hanbin membuatnya harus mengalihkan pandangannya lagi. Yoongi menatap temannya ini, namun kali ini ia sedikit menampilkan senyumannya.

"Kau akan ku hubungi duluan jika aku butuh" Yoongi lalu tersenyum saat melihat Seokjin yang tertawa bersama seisi kelas. Sepertinya ada pembahasan yang lucu. Yoongi senang jika sekarang kehidupan perkuliahan Seokjin sudah mulai normal.

"Ayo kembali"

.

.

.

'Karena semua ini baru saja dimulai'

.

.

.

tbc

terima kasih atas semua dukungan kalian para readers :) :)