You Actually Specials

.

.

.

Cast : All member BTS

Genre : Family, Brothership

Rate : T

.

.

.

Part 17

.

.

.

Author Pov

Seokjin baru menyelasaikan kelas pertamanya dan beranjak menuju kantin untuk membeli minuman. Minhyuk yang tadi mengajaknya menemui Yoon ssaem masih mengambil sesuatu yang ketinggalan di kelas. Jadinya ia hanya sendirian menyusuri koridor menuju kantin.

Jika saat ini keadaan Seokjin masih seperti dulu, kesempatan seperti ini pasti dimanfaatkan oleh mahasiswa lain untuk mengganggunya. Dulu Minhyuk adalah tameng Seokjin, hingga yang lain harus menahan diri saat ingin mengerjainya. Dan ketika ia sendirian, barulah Seokjin harus rela menerima perlakukan buruk yang sampai saat ini masih tidak ia ketahui alasannya.

Tapi sekali lagi, jika itu dulu. Sekarang semuanya sudah lebih baik. Meskipun Seokjin terlihat sendirian, tidak ada lagi yang mendekat. Kalaupun ada yang menyadari kehadirannya, mereka hanya menyapanya saja. Tidak ada lagi gangguan yang menghampirinya, sepertinya mereka sudah menyadari kesalahan mereka. Terbukti semakin kesini, banyak mahasiswa yang bersikap ramah padanya. Seokjin hanya menghela napas. Andai saja hal seperti ini terjadi sejak awal, ia pasti tidak akan memiliki kenangan buruk pada teman-temannya.

Keadaan kantin sedikit ramai tapi Seokjin santai saja dan berjalan melewati banyak mahasiswa sampai akhirnya sampai pada outlet minuman kesukaannya.

"Ice Chocolate 2 ya ahjumma" Seokjin tersenyum sambil menatap ibu penjaganya yang dikenal oleh Seokjin.

Sang ahjumma balas tersenyum melihat Seokjin dan mulai membuatkan minumannya. 5 menit berlalu dan 2 Ice Chocolate sudah tersaji dihadapan Seokjin, "Silahkan Jin-ah"

"Terima kasih ahjumma"

Seokjin segera beranjak untuk mencari tempat duduk untuk menunggu Minhyuk. Ia melihat jam ditangannya, dan seharusnya Minhyuk sudah menemuinya sekarang, tapi bahkan teriakannya belum terdengar ditelinganya. Seokjin sebenarnya bisa saja menyusulnya sekarang, namun takut Minhyuk sedang menuju kemari, jadi ia memilih ingin menghubunginya saja. Takut terjadi sesuatu pada temannya itu.

Seokjin mengambil ponselnya disaku celananya, mencari kontak Minhyuk disana. Belum sempat melakukan panggilan, seseorang lebih dulu merebut ponsel Seokjin dan membantingnya tepat didepan mata. Seokjin yang terkejut semakin melebarkan matanya melihat ponselnya sudah tidak berbentuk lagi.

Suara lemparan tadi terdengar seantero kantin yang membuat suasana tiba-tiba sunyi. Semua mahasiswa yang sedang menghabiskan waktu di kantin pun hanya mampu terdiam dan melihat saja. Biasanya bila hal ini terjadi pada Seokjin, yang terdengar hanyalah tawa mengejek, suara merendahkan dan kata-kata lainnya. Namun berbeda untuk sekarang ini, suasana kantin serasa mencekam, bahkan beberapa orang sudah mulai berdiri.

Seokjin menghela napas menahan kesal, ia menatap sseorang yang berdiri dengan angkuhnya tepat didepannya. Seokjin semakin menghela napas karena dihadapannya ini adalah seorang wanita, Park Inha.

"Apa yang sebenarnya kau inginkan?" Seokjin berusaha tenang untuk menahan emosinya. Meskipun ia sekarang mampu untuk membeli ponsel semahal apapun itu, bagaimanapun ponsel yang sudah hancur berantakan itu adalah hasil jerih payahnya bekerja dulu.

Inha masih terdiam. Meskipun wajahnya menunjukkan rasa kesal, tapi hatinya tidak mampu berbohong kalau rasa takut itu semakin besar. Ia sadar resiko apa yang akan menantinya nanti. Tapi untuk saat ini ia tidak peduli.

"Aku? Tentu saja penderiataanmu yang ku inginkan" seringai tampil diwajah Inha. Sedangkan Seokjin? Ia hanya menatap datar melihat tingkah wanita satu ini.

"Lantas kau akan bahagia melihatku menderita?" Seokjin sebenarnya tidak mau berurusan dengan wanita ini. Tapi ia tidak mau lari lagi, setidaknya ia harus tau dulu maksud dari keributan yang Inha lakukan. Seokjin melihat sekelilingnya, ia sadar mereka menjadi tontonan para mahasiswa di kantin. Tapi Seokjin tidak peduli, yang melihatpun juga seperti tidak ingin ikut campur.

"Tentu saja. Mungkin yang lain takut padamu setelah kau berjalan dengan Bangtan. Tapi aku tidak. Aku yakin kau memohon-mohon pada mereka untuk melindungimu kan?" tawa Inha terdengar sangat menggelikan ditelinga Seokjin. Ia ingin tertawa tapi takut merusak suasana.

"Berapa yang kau bayar untuk meminta bantuan mereka, hah?! Oh, aku lupa kau takkan mampu membayar mereka kan? Atau.." Seokjin hanya diam saja melihat Inha semakin melebarkan seringainya, "Kau menjual tubuhmu untuk mereka?"

Seokjin mengernyitkan kening dengan perkataan Inha. Jujur saja, dadanya bergemuruh menahan amarah. Ia tidak menyangka dari bermacam alasan yang bisa saja dilontarkan Inha, entah kenapa wanita satu ini membuat kesimpulan seperti itu.

"Maaf?"

"Jangan naif kau Seokjin. Aku yakin kau menjual tubuh sampahmu itu untuk melindungi dirimu sendiri, bukan? Kau memanfaatkan tubuh dan wajahnmu itu untuk mempengaruhi Yoongi dan yang lainnya"

Telinga Seokjin semakin panas mendengar ocehan tidak berdasar Inha. Bahkan disekitar mereka juga terdengar bisikan-bisikan yang seolah mempertanyakan kebenaran pernyataan Inha. Seokjin sadar hubungan antara dirinya dan geng Bangtan masih belum ada yang mengetahuinya, kecuali Minhyuk. Dan bisa jadi opini Inha barusan membuat pandangan mahasiswa pada Seokjin akan semakin buruk.

Dan hal yang memang diinginkan Inha terwujud. Ia dengan bangga mengangkat dagunya, ia berhasil mempengaruhi pikiran mahasiswa yang lain. Inha hanya berspekulasi saja sebenarnya, ia hanya ingin menyakiti Seokjin. Namun karena kejadian kemarin banyak dari mereka semua berhenti menyiksa Seokjin. Dan hal seperti itu tidak disukai Inha. Seokjin harus menderita. Bagaimanapun caranya, kalau tidak ada yang berani memulai, Inha yang akan memulainya.

"Kau memang punya bukti bisa mengatakan hal seperti itu terhadapku Inha?" Seokjin sebisa mungkin untuk tenang. Ia tidak mungkin meledak pada seorang wanita, meskipun wanita di depannya ini sangat butuh diberi pelajaran.

"Mulutmu tidak pantas menyebut namaku, jal*ng sialan"

Cukup. Kata-kata itu sudah cukup melukainya. Seokjin menatap tajam Inha. Apa sebenarnya salah Seokjin padanya? Apa yang diharapkan olehnya dengan menyakitinya? Tanpa sadar Seokjin mendekati Inha perlahan. Inha sendiri yang merasa aura Seokjin sedikit berbeda memilih memundurkan dirinya. Inha diam menanti apa yang akan dilakukan Seokjin. Tapi ternyata kediaman Seokjin membuatnya semakin merasa menang.

"Kenapa? Kau tidak akan berani melawanku, bukan? Kau bukan siapa-siapa dan kau tidak punya apa-apa"

Seokjin semakin yakin Inha sama saja dengan Young Joo. Hanya saja Young Joo memilih dengan tindakan, sedangkan Inha dengan kata-katanya. Seokjin mendekat dan berbisik pelan.

"Park Inha. Aku pernah melihatmu keluar dari club malam dengan seorang namja paruh baya. Atau aku salah lihat ya? Dan eum kalau tidak salah kau dengan namja tersebut memasuki mobil berwarna biru"

Bisikan Seokjin membuat Inha menegang di tempat. Berbeda dengan Inha yang mengada-ngada tentang tuduhannya, Seokjin memang pernah melihat wanita ini diluar club saat ia pulang bekerja paruh waktu.

"Kau..berbohong..aku tidak"

"Dan besoknya kau juga keluar dari club tersebut dengan namja paruh baya lagi. Tapi sepertinya orangnya berbeda dari yang kemarin? Kau suka ganti-ganti pasangan ya? Atau kau memiliki 2 ayah?"

Inha semakin terbelalak. Tidak. Tidak ada yang pernah tau tentang,

"Aku tidak mengerti, kau mendapat pikiran seperti itu darimana hingga kau memilih menuduhku dihadapan banyak orang Inha. Tapi aku berbeda denganmu, aku tetap menjaga rahasiamu meskipun aku sudah tau sejak setahun lalu. Dan akupun memberitahumu dengan berbisik padamu, tidak membiarkan mahasiswa lain untuk mengetahuinya"

Inha semakin terdiam, hatinya merasa tertohok. Seokjin masih berdiri dihadapannya, masih berbicara dengan pelan.

"Meskipun kau terus saja menyakitiku, aku tidak akan membalas sama kejamnya sepertimu. Karena aku masih tahu arti dari sebuah kehormatan"

"Aku marah kau menuduhku demikian dan juga julukan yang kau ucapkan padaku. Tapi maaf saja, aku tidak mau repot-repot melakukan pembenaran karena kebenaran apapun itu tidak akan penting bagimu. Mungkin benar, apa yang kau lihat belum tentu sebuah kebenaran, tapi kebenaran memang terkadang tidak terlihat."

"Seokjin!"

Seokjin mengambil 2 Ice Cappucinonya dan melenggang pergi dari sana. Suara teriakan Minhyuk yang tengah berdiri didepan kantin membuatnya segera melenggang pergi, ia tidak mau Minhyuk menambah masalah bagi Inha. Seokjin melewati Inha begitu saja yang masih terdiam tak berkutik. Dan dengan sengaja menginjak ponselnya yang rusak dan tidak lupa menepuk bahu Inha.

"Urusilah kehidupanmu sendiri Inha"

Seokjin tersenyum menatap Minhyuk dan merangkul bahu temannya itu untuk segera pergi. Menghiraukan tatapan menuntut penjelasan Minhyuk yang ditujukan padanya. Meninggalkan suasana kantin yang kembali normal dan Inha yang masih terpaku dengan pikirannya sendiri.

Inha menatap ponsel Seokjin yang masih tergeletak dilantai yang hancur tak berbentuk karena ulahnya. Ia langsung pergi begitu saja meninggalkan kantin tanpa peduli beberapa orang tengah menatapnya.

4 orang namja terlihat mendekati tempat Inha dan Seokjin berdebat, salah seorang dari mereka mengambil ponsel Seokjin yang hancur itu.

"Kau sudah memberitau Yoongi?"

Namja yang mengambil ponsel tersebut hanya mengangguk.

"Aku juga sudah memberitau Namjoon tentang hal ini" jawab seorang lainnya.

"Lantas bagaimana sekarang?"

"Aku akan pergi sebentar. Sementara kau Bobby, bantu Mark dan Jackson untuk mengawasi Seokjin" namja tersebut beranjak pergi.

"Cepat kembali Hanbin" Hanbin hanya mengangkat sebelah tangannya dan melanjutkan jalannya.

Bobby, Jackson dan Mark hanya menghela napas dan terkejut saat seorang wanita tiba-tiba ikut berkumpul dengan mereka. Saat melihat wanita tersebut mereka hanya menatapnya sekilas.

"Bukankah tidak adil baginya mendapat perlakuan seperti itu?" ucap Bobby

Wanita tersebut mengangguk menanggapi, "Yah, tapi dia namja yang hebat kan, Bobby?"

Bobby tersenyum mendengar penuturan wanita tersebut yang tak lain adalah Euna Kim. Seokjin boleh saja selalu mendapat perlakuan buruk 2 tahun ini. Tapi dia adalah namja yang hebat, karena mampu bertahan meskipun perlakuan yang didapatinya mampu membunuhnya.

"Sepertinya aku melakukan kesalahan membiarkan wanita jal*ng itu tenang beberapa jam ini. Kurasa ia harus banyak belajar lagi, bukan?" Mark dan Jackson terkekeh melihat seringai diwajah Euna.

Bobby sendiri bersama Hanbin, Jackson dan juga Mark memang sedang santai di kantin dan melihat kejadian barusan. Mereka memang diminta Yoongi untuk mengawasi Seokjin bila sedang berada di satu tempat yang sama, jadinya mereka tau tentang yang terjadi. Beruntung Hanbin segera menghubungi Yoongi dan memberitahukan yang terjadi. Sedangkan Jackson juga menghubungi Namjoon. Dan beruntung teman esnya sedang ada kelas bersama Namjoon, dan hanya meminta mereka untuk terus mengawasi.

Sedangkan Euna memang mengikuti Inha ke kantin. Ia sebenarnya ingin bersantai dulu, namun melihat permasalahan tadi sepertinya Euna harus sedikit bertindak.

"Aku pergi dulu"

"Semangat Euna Kim" ucap Jackson menyemangati.

Booby tertawa melihat Euna yang hanya menjulurkan lidah, mengejek Jackson.

"Ayo ke kelas dulu"

Bobby juga beranjak dari kantin dan memilih menuju kelas yang selanjutnya, diikuti oleh Mark dan Jackson dibelakangnya. Lebih baik ke kelas sambil menunggu Hanbin yang mendapat misi dari Yoongi.

.

.

Setelah urusan Minhyuk dengan Yoon ssaem selesai, mereka berdua menuju taman di dekat fakultas mereka. Minhyuk yang diam saja sejak tadi membuat Seokjin tersenyum. Sepertinya penjelasan kejadian tadi membuat Minhyuk sedikit kesal karena Seokjin menahannya untuk bertindak.

"Seharusnya kau biarkan aku melakukan sesuatu terhadapnya" ucap Minhyuk.

"Tadinya aku pikir hanya masalah kecil, tapi ternyata"

Seokjin tersenyum melihat kemarahan temannya itu. Minhyuk saja seperti ini reaksinya, bagaimana dengan adik-adiknya? Seokjin harap mereka belum mendengar beritanya.

"Sudahlah, biarkan saja. Aku tidak apa-apa, hal seperti itu tidak berpengaruh padaku"

"Tapi tetap saja.."

"Aku mengerti Minhyuk. Terima kasih karena sudah mengkhawatirkanku"

Minhyuk hanya mendengus dan membuang wajahnya, ia menahan senyumannya agar tidak ketahuan Seokjin. Marah? Jelas saja. Tapi Seokjin memintanya untuk diam saja. Meskipun ia diam sekarang, Minhyuk yakin ada yang sudah bertindak menggantikannya.

"Kim Seokjin"

Seokjin dan Minhyuk mengalihkan pandangannya pada namja yang berdiri dihadapan mereka. Namja tersebut tersenyum menatap Seokjin dan Minhyuk.

"Oh Hanbin, ada apa?"

Namja tersebut, Hanbin, masih dengan senyumannya memberikan bingkisan yang ada ditangannya pada Seokjin, "Titipan dari Yoongi. Ia tidak bisa menemuimu langsung karena masih ada kelas"

Seokjin mengernyit bingung tentang isi bingkisan dari Yoongi itu, tapi ia tetap mengambil bingkisan itu dari Hanbin.

"Terima kasih ya"

"Kalau begitu aku permisi dulu ya Seokjin. Bye Minhyuk"

"Bye" balas Minhyuk dan Seokjin tersenyum sebagai ucapan terima kasih. Hanbin beranjak pergi meninggalkan Seokjin dan Minhyuk yang kebingungan.

"Bukalah"

Seokjin mengangguk dan membuka bingkisan tersebut. Saat melihat sebuah kotak dengan gambar ponsel keluaran terbaru, Seokjin terkejut bukan main. Ia menghela napas dan mengerucutkan bibirnya, hal yang jarang ia lakukan.

"Kau memang bisa menghentikanku Seokjin, tapi tidak dengan mereka. Hahahahaha"

Tawa Minhyuk semakin membuatnya menghelas napas. Yoongi sudah tau kejadian di kantin, dan sudah pasti semua adiknya juga sudah mengetahuinya. 'Bagaimana aku menjelaskannya nanti?'.

.

.

Park Inha. Wanita cantik yang selalu dipuja-puja. Barang-barangnya merupakan barang mewah dan terbaru. Banyak dari teman-temannya yang iri dengan kehidupannya itu. Tapi tidak ada yang pernah tau, kegelapan seperti apa yang tersimpan dibalik sebuah kebahagiaan seseorang bukan?Inha masih betah berdiri didepan wastafel toilet kampus. Masih berkutat dengan pikirannya yang mengulang kembali keributannya tadi dengan Seokjin. Sebenarnya ia percaya kalau Seokjin pasti memiliki hubungan dengan geng Bangtan. Hanya saja ia tidak mau menakuti dirinya sendiri karena ketidakpastian status Seokjin. Hingga akhirnya ia memilih bertindak diluar keinginannya, lebih tepatnya mengikuti napsu kebenciannya.

Ia bukan benci dengan Seokjin. Ia hanya iri. Bagaimana namja tersebut masih bertahan dengan sikap buruk teman-temannya? Bagaimana ia masih bisa tersenyum dengan Minhyuk saat banyak mahasiswa yang mengutuknya diluar sana? Bagaimana Seokjin masih bisa hidup sampai sekarang meskipun dalam keadaan kekurangan?

Inha sangat iri dengan kehidupan Seokjin. Ia iri dengan bagaimana kuatnya Seokjin menghadapi kehidupan yang berat ini. Sedangkan dirinya? Napsunya membuatnya harus mengorbankan banyak hal sampai pada titik ini. Dan sekarang, orang yang begitu dibencinya tau tentang kedoknya.

'Karena aku masih tau arti dari sebuah kehormatan'

"Brengsek kau Seokjin!"

Inha beranjak masuh kesalah satu bilik toilet. Beberapa saat kemudian seorang wanita masuk dan menyeringai menatap bilik yang dimasuki Inha.

"Dia sudah bersikap baik padamu, dan kau masih mengumpatinya? Tak tau diri. Oh? Tak punya harga diri" wanita tersebut menyeringai dan melakukan sesuatu didalam toilet dan setelahnya keluar dengan tersenyum senang.

Inha yang sudah selesai dengan urusannya langsung keluar. Dan dengan terpaksa ia harus menyakiti tubuhnya sendiri karena terjatuh saat melihat sebuah tulisan merah dikaca wastafel. Inha jelas saja terkejut, karena ia yakin tulisan merah itu ditujukan padanya, pesan untuknya.

"Tidak..tidak mungkin!!"

'AKU TIDAK MENGERTI APA YANG KAU MAU, TAPI AKU BISA MEMBERIMU KENIKMATAN YANG LEBIH'

'NIKMATI DARAHMU SENDIRI'

'JAL*NG'

"Andwae!!!!"

.

.

.

Seokjin masih terduduk di taman kampus, ia sedang menunggu adik-adiknya menyelesaikan kelas mereka. Dosen pengajarnya tidak datang hari ini, jadinya kelasnya kosong.

Seokjin memang menikmati waktunya sendirian di taman. Minhyuk sedang tidak bersamanya sekarang karena ada urusan di rumahnya. Jadinya anak itu pergi lebih dulu.

Sebenarnya ia bosan menunggu, tapi mau bagaimana lagi, ia tidak bisa pulang begitu saja jika tidak mau adik-adiknya khawatir. Ia mengambil ponsel barunya dan kembali teringat kejadian tadi pagi. Seokjin berharap Inha tidak mengganggunya lagi setelah ia memperingatinya. Tapi Seokjin sendiri tidak berniat menyebar keburukan Inha, ia mengatakan itu hanya sebagai teguran saja. Seokjin tidaklah sekejam itu.

"Dan sekali lagi kami harus memendam kemarahan hyung" Seokjin terperanjat saat mendengar suara Jungkook disampingnya, bersamaan dengan pelukan yang ia berikan pada Seokjin.

"Kau sudah selesai Kookie?" Seokjin hanya mengelus tangan adiknya yang memeluknya.

"Aku dan Tae hyung sudah selesai, tapi Jimin hyung masih ada kelas dengan Hoseok hyung" Jungkook lalu melepas pelukannya dan duduk disamping Seokjin. Ia sudah mendengar kejadian yang dialami Seokjin tadi pagi, tapi Jungkook masih belum membahasnya. Yoongi sudah memperingati mereka untuk jangan membahasnya kalau Seokjin tidak menyinggungnya.

"Lantas dimana Taehyung?"

"Sedang membeli sesuatu hyung" Jungkook menyandarkan kepalanya dibahu Seokjin yang hanya tersenyum saja melihat kelakuan adiknya.

Untuk beberapa saat hanya keheningan yang menyelimuti mereka. Seokjin hanya terdiam, sedangkan Jungkook semakin menyamankan dirinya, ia bahkan memejamkan mata menikmati waktu mereka berdua. Beberapa mahasiswa yang melihat Jungkook dan Seokjin hanya diam melewati, dan diantara mereka yang mengetahui kejadian di kantin tadi kembali menepis semua ucapan Inha. Kenyataannya hubungan Jungkook dan Seokjin lebih dekat dari apa yang mereka bayangkan.

"Aku minta maaf jika aku membuatmu dan yang lainnya khawatir ya. Tapi percayalah, aku baik-baik saja"

Jungkook membuka kedua matanya. Ia menatap Seokjin yang juga tengah menatapnya.

"Lagipula aku tau kalian tidak akan membiarkannya bukan? Jadi lebih baik tidak usah dibahas lagi"

Jungkook tersenyum. Seokjin selalu tau apa yang dipikirkan olehnya dan yang lainnya, hyungnya sangat mengerti sifat mereka. Ia memilih kembali memeluk Seokjin dan menngecup sekilas pipi sang hyung.

"Mana mungkin kami akan diam saja saat ada yang menyakitimu hyung" Seokjin dan Jungkook menolehkan pandangan dan melihat Taehyung yang membawa beberapa minuman. Ia lalu ikut duduk disamping Seokjin dan tidak lupa mencium kepala sang hyung juga. Sedangkan Seokjin hanya tersenyum saja, 6 adiknya itu selalu bersikap manis padanya. Tapi entahlah kalau terhadap yang lainnya, Seokjin tidak tau dan tidak mau tau.

"Tapi yang terpenting kau baik-baik saja hyung" ucap Taehyung. Ia memberikan salah satu botol minuman pada Jungkook yang langsung diterima olehnya.

Seokjin menggeleng saat Taehyung juga menawarinya, "Aku bisa menjaga diriku sendiri, lagipula aku juga punya kalian disampingku. Jadi apa yang aku takutkan" Seokjin menepuk kepala dua maknaenya itu.

Taehyung tersenyum, "Oh ya Seokjin hyung, tadi Yoongi hyung meminta kita untuk pulang lebih dulu, karena ia dan Namjoon hyung masih ada kelas"

"Jimin hyung dan Hoseok hyung juga ada kelas. Mau pulang sekarang hyung?" Jungkook menambahi.

Seokjin sendiri hanya mengangguk, daripada lama-lama disini tanpa ada kegiatan lebih baik ia pulang dengan dua maknaenya, "Ayo"

.

.

.

At other side

Lee Jung Ahn masih berkutat dengan berkas perusahaannya saat seseorang memasuki ruangannya dengan tiba-tiba. Ia berniat memarahi orang tersebut tapi tidak jadi saat tau kalau itu ulah anaknya sendiri, Lee Jaehwan.

"Kau tidak kuliah?" tanya Jung Ahn yang kembali fokus dengan pekerjaannya.

Jaehwan hanya menidurkan dirinya disofa dekat meja ayahnya, "Aku malas bertemu Seokjin"

Jung Ahn yang sepertinya salah mendengar perkataan Jaehwan menghentikan pekerjaannya. Ia beranjak dari kursi kebanggaannya dan duduk dihadapan Jaehwan.

"Sepertinya aku mendengar sesuatu yang aneh keluar dari mulutmu. Malas bertemu Seokjin? Biasanya kau selalu bersemangat jika bertemu Seokjin dan menyakitinya"

Jaehwan bangkit dan duduk. Ia menatap langsung ayahnya yang tengah duduk dengan angkuh menghadapnya. Seseorang yang ingin ia benci.

"Aku mencintainya ayah! Tidakkah kau tau arti kata cinta hah?!"

Jung Ahn hanya terdiam mendengar teriakan Jaehwan. Ia menyeringai melihat kekacauan yang menimpa Jaehwan, "Bukankah kalau kau mencintainya kau tidak akan membiarkan Seokjin menjadi milik orang lain? Jadikan ia milikmu. Kalau tidak bisa menjadi milikmu, buatlah Seokjin mati agar tidak ada yang memilikinya"

Jaehwan menahan amarahnya. Ia lalu bangkit dan berlalu meninggalkan ruangan ayahnya. Jung Ahn sendiri hanya mengedikkan bahunya, "Umur berapa ia masih memikirkan cinta?"

DRT DRT

Jung Ahn mengambil ponselnya yang bergetar. Terlihat salah satu orang kepercayaannya menghubunginya.

"Ada apa?"

'Tuan ada masalah'

Jung Ahn mengernyitkan keningnya

"Apa maksudmu?"

'Maaf tuan, tapi perusahaan mendiang orang tua tuan disita oleh Bank'

"APA?! Kenapa bisa terjadi?"

Jung Ahn meremas tangannya, ada apa ini?

'Maaf tuan. Pihak Bank hanya mengatakan kalau perusahaan ini memiliki hutang pada anak perusahaan milik Kim Daehan.'

Dan dengan tanpa sadar Jung Ahn melempar ponselnya. Ia tidak mau mendengar lagi informasi dari orang kepercayaannya. Wajah Jung Ahn memerah menahan marah.

"Daehan!"

.

.

.

tbc

Maaf ya baru bisa up sekarang, karena kemarin-kemarin masih banyak kesibukan.

semoga cerita ini masih bisa menghibur kalian :)