You Actually Specials
.
.
.
Cast : All member BTS
Genre : Family, Brothership
Rate : T
.
.
.
Part 18
.
.
.
hanya mengingatkan :)
Kim Jeo Hoon (Kim Seokjin's Father)
Min Yong Soo (Min Yoongi's Father)
Kim Daehan (Kim Namjoon Kim Taehyung's Father)
Jung Sang Wook (Jung Hoseok's Father)
Park Jae Won (Park Jimin's Father)
Jeon Ji Soo (Jeon Jungkook's Father)
.
.
.
Author Pov
Setelah kejadian hancurnya ponsel Seokjin di kampus akibat ulah Inha. Baik Jungkook dan Taehyung yang pulang bersama Seokjin sudah tidak lagi membahasnya. Bahkan saat Yoongi, Namjoon, Jimin, dan Hoseok pulang ke rumah, mereka bertingkah biasa saja. Tidak ada dari mereka yang membahasnya. Bahkan dengan santainya Seokjin menidurkan diri dipangkuan Yoongi sambil asik bermain dengan ponsel baru yang dibelikan adiknya itu.
Malam itu mereka masih bersantai, hanya Seokjin,Yoongi dan Hoseok sebenarnya. Yang lain tengah berkutat dengan tugas kuliah mereka masing-masing. Hoseok sibuk menonton sebuah drama ditelevisi, dan Yoongi menyibukkan diri melihat Seokjin dan mengelus rambut sang hyung.
"Yoon"
"Hm"
Seokjin menengadahkan kepalanya dan tersenyum menatap Yoongi. "Terima kasih ponselnya ya. Tadinya aku akan membeli ponsel baru saat pulang kuliah, tapi temanmu malah mengirimkan paket darimu ini" ucap Seokjin sambil memainkan ponselnya.
Yoongi hanya tersenyum dan mengecup kening Seokjin. "Sama-sama hyung"
Seokjin sengaja tidak bertanya mengenai Yoongi yang mengetahui kejadian di kantin antara ia dan Inha tadi siang. Biar saja, lagipula Seokjin sudah menganggapnya selesai. Dan seharusnya yang lain tidak perlu khawatir lagi padanya.
"Memangnya kau dan Hoseok tidak ada tugas kuliah juga?" tanya Seokjin. Bagaimanapun 4 adiknya itu masih betah berada di kamar mereka.
Hoseok mengalihkan pandangannya, "Aku sih tidak ada hyung"
"Aku juga tidak ada. Lagipula, Namjoon hanya menyelesaikan project individunya hyung"
Seokjin hanya mengangguk saja. Sebenarnya ia sudah mengantuk, namun ia masih ingin disini. Lagipula besok ia tidak ada kelas. Jadi ia hanya ingin menikmati suasana kebersamaannya ini meskipun hanya bertiga.
"Kalau kau mengantuk kau tidur saja hyung" Yoongi menyadari wajah lelah sang hyung dan juga mata sayu Seokjin juga tidak luput dari penglihatannya.
"Yoon"
"Ne hyung"
"Mau menemani aku tidur?"
Yoongi tersenyum. Sudah lama sekali ia tidak tidur bersama Seokjin. Terakhir kali saat mereka menginap di villa paman Jung saat liburan sekolah dulu.
"Baiklah"
Seokjin tersenyum dan bangkit dari tidurnya. Entah mengapa ia ingin tidur dengan Yoongi. atau lebih tepatnya ia ingin tidur tapi harus ada yang menemaninya. Hanya untuk malam ini saja, ia butuh teman untuk menemaninya menuju alam mimpi.
"Kau tidak apa-apa kan sendirian Hoseokie?"
Hoseok dari tadi memang menonton televisi didepannya. Namun tentu ia juga membagi fokusnya untuk mendengarkan pembicaraan Seokjin dan Yoongi. kalau boleh jujur Hosoek sedikit khawattir pada Seokjin, bagaimanapun Seokjin itu jarang sekali mengajak seseorang untuk menemaninya tidur. Karena biasanya merekalah yang memaksa untuk tidur bersama, Hoseok hanya berharap hyungnya baik-baik saja.
CUP
Hoseok terkejut saat Seokjin mengecup pipinya, "Aku baik-baik saja, tidak perlu khawatir"
Dan Hoseok benar-benar terpengarah. Seokjin mudah sekali menebak apa yang dipikirkan oleh mereka. Tapi mereka sulit sekali untuk bisa menebak apa yang tengah dipikirkan Seokjin. Sepertinya mereka harus banyak belajar lagi, atau lebih tepatnya mereka harus lebih mengenal Seokjin.
"Aku selalu berharap kau selalu bahagia hyung" ucap Hoseok sambil mengenggam kedua tangan Seokjin. Sejak keluarnya Seokjin dari rumah sakit memang keadaan Seokjin lebih baik, namun tubuhnya masih terlihat sedikit kurus. Bahkan tangan yang ia pegang terlihat kecil sekali.
"Aku bahagia karena memiliki kalian" Hoseok tersenyum dan mengecup kening Seokjin 'Selalu lindungi Seokjin hyung, Tuhan'
"Selamat malam hyung"
"Selamat malam Hoseokie" Seokjin lalu beranjak menuju kamarnya meninggalkan Yoongi yang masih duduk, dan Hoseok yang menatap kepergian Seokjin.
"Wajar jika kau khawatir, karena akupun juga merasakannya. Tapi aku yakin Seokjin hyung baik-baik saja" ucap Yoongi mencoba menenangkan Hoseok.
Hoseok mengangguk pelan, "Semoga saja hyung"
"Aku akan menyusul Seokjin hyung. Kau juga tidurlah Hoseok" Yoongi beranjak setelah menepuk pelan bahu Hoseok. Hosoek sendiri masih termenung sejenak sebelum akhirnya mematikan televisi dan beranjak menuju kamarnya. Ia juga butuh istirahat untuk menyambut hari esok. Karena ia tidak pernah tau apa yang akan terjadi besok.
.
.
.
Pagi kembali menyambut kediaman tuan Jeon yang sudah beralih menjadi rumah geng Bangtan. Setelah semalaman istirahat mereka sudah siap untuk menghadapi hari yang mungkin akan menyenangkan atau menyebalkan. Yah tergantung dengan apa yang akan terjadi hari ini.
Dimeja makan hanya terlihat 6 orang yang menikmati sarapan pagi ini. Karena memang hanya mereka yang ada kuliah, sedangkan hyung tertua mereka sedang kosong. Saat hampir selesai, Seokjin turun masih dengan pakaian tidurnya tapi dengan wajah yang sudah sedikit segar.
"Pagi"
"Hyung, kenapa sudah bangun?" tanya Yoongi. Saat terbangun tadi pagi Yoongi melihat Seokjin sangat lelap dalam tidurnya, ia harus hati-hati saat beranjak dari samping hyungnya. Bagimanapun ia tidak tega membangunkan sang hyung. Setidaknya membiarkannya tidur lebih lama.
"Hanya ingin mengantar kalian pergi. Lagipula aku juga tidak terbiasa bangun siang" ucap Seokjin lalu duduk dikursi kosong didekat Jimin.
Jimin tersenyum dan mengecup pipi Seokjin, "Pagi hyung"
Seokjin tersenyum dan mengelus pelan rambut Jimin. Taehyung yang sudah selesai dengan sarapannya beranjak menaruh piring kotor di wastafel. Dan setelah itu mendekati Seokjin untuk mengecup pipi sang hyung juga ,"Pagi hyungie" sebelum beranjak menuju ruang tengah.
Sedangkan Seokjin sendiri sudah biasa diperlakukan seperti ini. Memang adik-adiknya itu manja, tapi jarang diperlihatkan.
Namjoon yang baru selesai juga menghampiri Seokjin dan melakukan ritual pagi mereka. Mencium pipi Seokjin. Setelah itu Hoseok, lalu Jungkook, dan terakhir Yoongi. Seokjin yang sudah selesai sarapan juga ikut ke ruang tengah, masih 10 menit lagi sebelum mereka berangkat.
"Apa rencanamu hari ini hyung?" tanya Jungkook.
Seokjin hanya menggelengkan kepalanya, "Entahlah. Aku sepertinya akan di rumah saja. Malas mau kemana-mana" mungkin karena efek bangun tidur dan sedang libur , jadi Seokjin lebih memilih berdiam diri saja. Mau pergipun ia juga tidak tau mau kemana.
"Kau tidak pergi dengan Minhyuk, hyung?" tanya Namjoon.
"Anak itu ada urusan. Jadinya aku tidak bisa menganggunya hari ini" Minhyuk sedang menyibukkan diri dengan projectnya. Sebagai teman yang baik tentu Seokjin tidak mau mengganggu temannya itu.
"Maaf ya hyung kami semua ada kuliah, jadi tidak bisa menemanimu" ucap Jimin. Yah mau bagaimana lagi, mau bolospun tidak mungkin karena Seokjin pasti akan memarahi mereka.
"Tidak apa-apa. Kalaupun nanti aku akan pergi kemana aku akan menghubungi kalian" yang lain mengangguk mendengar jawaban Seokjin.
Yoongi terlihat menengok jam tangannya, "Saatnya berangkat. Hyung, kami berangkat" Yoongi lalu bangkit dan memeluk sang hyung diikuti yang lain.
"Hati-hati ne"
"Sampai nanti hyung" Seokjin hanya tersenyum saat mendengar teriakan Jungkook. Dan 3 mobil itu menghilang dari pandangannya.
Dan rumah besar ini mulai terasa sepi. Mungkin ada beberapa pelayan disini, namun tentu saja mereka sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Seokjin lalu beranjak menuju kamarnya. Setelah mengunci pintu ia memilih salah satu novel yang tertata rapi dilemari kecil di kamarnya. Ia lalu membuka jendela kamarnya dan duduk bersimpuh sambil melihat langit yang terlihat cerah itu. "Bersantai sebentar tidak buruk juga" dan ia mulai tenggelam dalam bacannya.
.
.
.
Jeon's Corporate
Seperti biasa diperusahaan besar seperti perusahaan tuan Jeon, dipagi hari jelas para karyawan sudah memenuhi loby untuk menuju ruang kerja mereka masing-masing. Namun dipagi hari ini ruangan tuan Jeon sudah terisi oleh teman-temannya. Yah tuan Kim, tuan Park, tuan Min dan tuan Jung sudah berada di kantor tuan Jeon sejak pagi buta. Dan dari situasinya mereka tengah membicarakan hal serius.
"Aku tau Kim, tapi karena kau terlalu cepat mengambil tindakan, Jung Ahn pasti sudah mengantisipasi kita sekarang" tuan Jung bukan menyalahkan sebenarnya, tapi karena Kim Daehan terlalu cepat bertindak, ia tau Jung Ahn akan lebih waspada pada mereka.
"Aku tau aku gegabah, aku minta maaf. Hanya saja mengingat Jeo Hoon membuatku emosi" bagaimanapun ayah Seokjin juga sahabat mereka, dan Kim Jeo Hoon adalah teman yang sangat baik baginya.
"Sudah terlanjur seperti ini ya sudah kita terang-terangan saja menyerang Lee Jung Ahn. Bagimanapun seperti yang dikatakan Sang Wook, kita sudah menjadi perhatiannya. Haruskah aku bangga diperhatikan musuhku sekarang?" seperti biasa tuan Min selalu berusaha mencairkan suasana. Sekasar apapun ia, tentu tidak mungkin tuan Min membiarkan tuan Kim merasa bersalah. Ini bukan lagi masalah antara tuan Kim dan Jung Ahn, tapi masalah mereka.
"Dan aku yakin Jung Ahn cepat atau lambat akan menargetkan Seokjin seperti yang pernah ia lakukan pada orang tuanya" meskipun terlihat tenang, tapi masih terdengar jelas nada kemarahan dari tuan Park. Cukup sudah dengan hal buruk yang pernah terjadi pada orang tua Seokjin, jangan sampai anaknya juga terancam hidupnya.
"Dan kita harus membuat rencana baru sekarang. Menghancurkan Jung Ahn tentu tidak akan membuatnya berhenti. Tidak sampai ia masuk penjara" tuan Jeon melirik teman-temannya, "Atau mati"
"Tapi yang jelas kita harus berhati-hati. Peringatkan juga anak-anak untuk selalu bersama Seokjin. Bukannya aku tidak percaya pada Seokjin, namun setidaknya ia tidak sendirian saat ada masalah datang padanya" ucap tuan Jung.
Dan dengan santainya tuan Min memukul kepala tuan Jung, "Kau mendo'akan Seokjin mendapat masalah, hah?"
"Yak! Sakit hyung" ucap tuan Jung sambil mengelus kepalanya.
"Saat begitu saja kau memanggilku hyung" memang kalau dari umur, tuan Min lebih tua beberapa bulan dari tuan Jung. Sebenarnya mereka semua seumuran, hanya saja berbeda bulan saja.
"Dasar orang tua" cibir tuan Jung
"Kita semua tua, bodoh" dan teriakan tuan Min tentu membuahkan tawa diantara mereka. Suasana serius itu sedikit mencair karena ulah ke dua orang tua yang tidak sadar kalau mereka tua.
"Dan mereka akhirnya tertawa juga, cih" tuan Min membuang muka tapi tidak bisa menahan senyumannya sendiri, dan mendapat godaan dari teman-temannya.
"Hah Yong Soo selalu saja berhasil membuatku tertawa meskipun dengan wajah datar andalannya itu" ucap tuan Kim tulus. 'andai kau masih disini Jeo Hoon'
"Baiklah kita kembali ke topik utama. Kita sudah mendapat informasi tambahan dari perusahaan keluarga Jung Ahn yang sudah diambil alih Daehan. Aku rasa kita bisa memulainya dari sana" tuan Jeon mengambil berkas yang diambil dari perusahaan Jung Ahn. Dan tentu saja mereka harus lebih hati-hati sekarang, karena kalau salah langkah, Jung Ahn bisa saja balik menyerang mereka.
.
.
.
At other side
"Aku tidak mau tau. Cari semua informasi tentang Kim Daehan dan bawa padaku sekarang"
"..."
"Aku tidak membayarmu untuk bekerja dengan lambat. Lakukan dengan cepat"
TUT
"Dasar bodoh. Kalau saja ia tidak berguna sudah aku buang." Lee Jung Ahn kembali fokus dengan pekerjaanya. Dan sesaat seringai hinggap diwajahnya
"Hm .. kalau mereka berulah, Kim Seokjin adalah sasaran yang pas untuk menghancurkan mereka. Yah tentu saja. Biarkan orang yang membunuh kedua orang tuamu ini menjemputmu Kim Seokjin"
.
.
.
At Campus
Jam perkuliahan sudah dimulai sejak 30 menit yang lalu. Namun hanya untuk beberapa kelas saja, termasuk kelas Yoongi, Namjoon, Hoseok dan Jimin. Kedua maknae kita Jungkook dan Taehyung masih berada di kantin karena kelas mereka masih dimulai 1 jam lagi. Setidaknya bersantai sejenak sebelum masuk jam perkuliahan.
Ada beberapa mahasiswa yang juga berada di kantin. Mungkin seangkatan mereka, atau bahkan kakak tingkat yang juga menunggu jam kuliah dimulai. Tapi tentu mereka tidak peduli. Karena mereka hanya membeli minum saja dan beranjak menuju arah kelas mereka. Beruntung ada taman kecil didepan kelas mereka nanti, jadi mereka akan bersantai disana, karena tidak mau terlambat.
"Hm" Jungkook menoleh kearah Taehyung yang bergumam.
"Kenapa?"
Taehyung hanya menunjuk kearah depan. Jungkook yang mengikuti arah telunjuk Taehyung melihat Krystal yang tengah mendengarkan ceramah dadakan dari Young Joo.
"Oh..jadi sudah tau ya" jawab Jungkook sekenanya. Ia dan Taehyung hanya berdiri diam memperhatikan. Tanpa berniat menginterupsi. Lagipula juga itukan urusan perempuan.
"Kau tidak mau membantunya?" tanya Taehyung.
Jungkook hanya menggeleng, "Kalau aku menganggunya, aku yang akan ditampar olehnya hyung"
Taehyung hanya mengangguk saja. Ia memang tidak terlalu mengenal teman Jungkook, tapi sepertinya Krystal bukan orang yang mudah terintimidasi. Bahkan dari penglihatannya, dari tadi Krystal hanya diam mendengarkan omelan Young Joo yang sepertinya membahas hadiah.
"Itu ulahmu kan? Siapa yang menyuruhmu, hah?! Aku sampai dihina oleh Victoria karena ternyata itu gelangnya. Jawab aku Jung?!" teriakan Young Joo menggema di koridor. Meskipun banyak orang melihat, nampaknya tidak ada yang peduli pada keributan yang terjadi.
"Aku kan sudah bilang itu berada didepan kelas. Ya mana aku tau itu dari siapa" Krystal masih betah dengan wajah datarnya. Sebenarnya ia gatal mau mengatakan kalau itu ulah Jungkook. Yang meminta Krystal untuk meminjam gelang Victoria untuk menjebak Young Joo.
"Jangan bohong! Aku yakin kau dan orang yang menyuruhmu itu memang berniat mempermalukanku kan?! Baj*ngan kalian semua, kau"
PLAK
"Sekali lagi mulutmu mengumpatiku, akan aku buat kau tidak bisa berbicara selamanya" Krystal marah saat Young Joo mengatainya. Dan dengan semangat ia menampar pipi wanita ini sampai ia jatuh didepannya.
Young Joo masih terduduk didepan Krystal dan memegangi pipinya yang jelas saja memerah. Belum sempat berdiri Krystal langsung menarik rambut Young Joo dan menatap wajah wanita itu tajam.
"Kau bisa memarahiku sepuasmu karena aku tidak peduli, tapi jangan pernah berani mengatai aku seperti itu." Krystal melepas rambut Young Joo. Young Joo masih terdiam, sepertinya ia masih terguncang akibat hal yang diterimanya barusan.
"Kau berpikir kau hebat? Kau berpikir kau bisa melakukan apapun sesukamu disini? Ayo berdirilah dan buktikan keberanianmu padaku. Jangan hanya duduk terdiam seperti pecundang begitu"
"Aku sebenarnya tidak punya masalah denganmu, tapi kau memulainya lebih dulu. Lain kali carilah lawan yang selevel denganmu" Krystal mengusap tangannya dengan sapu tangan. 'huh gara-gara Jungkook aku harus mengotori tanganku ini'
Krystal beranjak pergi, namun ia berhenti dan menunduk untuk membisikkan sesuatu ditelinga Young Joo, "Kau bilang aku baj*ngan? Tidak kah kau sadar kaulah baj*ngannya" lalu kembali berdiri meningalkan Young Joo yang masih terduduk dilantai dingin itu.
Sedangkan Taehyung dan Jungkook yang dari tadi melihat itupun tak peduli, mereka lalu melangkah lagi menuju kelas mereka.
"Kau lihat kan hyung? Kalau saja aku disana bisa jadi aku yang ditampar" ucap Jungkook sambil bergidik ngeri. Wanita terkadang menyeramkan ya.
Taehyung hanya terkekeh dan merangkul bahu Jungkook sambil terus berjalan, sampai mereka melewati Young Joo yang mulai berdiri, mereka berhenti. Taehyung celingukan melihat tidak ada mahasiswa yang membantu Young Joo, padahal banyak yang berlalu lalang disekitarnya.
"Kalian tidak membantu anak ini?"
Beberapa mahasiswa yang mendengar suara Taehyung berhenti sejenak, mereka hanya menatap Young Joo sekilas dan mengedikkan bahu.
"Aku tidak mengenalnya"
"Siapa dia?"
"Maaf Taehyung, tapi aku tidak mengenalnya"
Taehyung hanya mengernyit mendengar jawaban mahasiswa disekitarnya. Masa mereka tidak mengenal Young Joo sih?
"Kau mengenal anak ini Kook?" tanya Taehyung sambil menunjuk Young Joo yang sudah berdiri.
"Tidak. Memang dia siapa?" jawab Jungkook acuh.
Taehyung mengangguk, "Oh, jadi tidak ada yang mengenalnya ya. Aku juga tidak kenal dia sih, mau berkenalan juga tidak penting sepertinya. Ayo pergi"
Taehyung kembali melanjutkan jalannya. Sedangkan Jungkook masih berdiri disamping Young Joo.
"Bukankah rasanya menyenangkan?" Young Joo menoleh mendengar suara Jungkook.
Jungkook hanya menatapnya sekilas dan melangkah menyusul Taehyung yang sedikit jauh didepannya.
'Itulah yang dirasakan Seokjin hyung selama ini'
.
.
.
tbc
