You Actually Specials
.
.
.
Cast : All member BTS
Genre : Family, Brothership
Rate : T
.
.
.
Part 19
.
.
.
Author Pov
Siang itu, terlihat seseorang tengah meyendiri di taman belakang kampus Big Hit Ent. Ketika semua mahasiswa sibuk dengan kuliah mereka, namja tersebut hanya terdiam sambil memandangi langit yang sangat cerah sekali. Tapi secerah apapun langit, tak mampu memperbaiki hatinya yang sedang kelabu. Marah, sedih, benci, cinta. Ia tengah merasakan semua itu.
Terkadang ia berpikir, kenapa manusia harus memiliki beragam perasaan di hatinya? Apa gunanya bermacam rasa itu?
Untuk dimengertikah? Atau sebagai candaan kehidupan? Atau hanya sebuah hukuman bagi manusia yang hidup di dunia?
Pada kenyataannya, semua beragam perasaan itu hanya menimbulkan rasa sakit saja. Kemarahan yang meluap selain menyakiti diri sendiri juga akan menyakiti orang lain jika dilampiaskan. Kesedihan berlebihan hanya akan menambah beban kehidupan yang pada akhirnya menyakiti hati juga. Kebencian yang berlebih pun bila terus dipendam hanya akan menambah sakit hati saja. Sedangkan cinta, seindah apapun kata orang tentang perasaan itu, tetap akan menimbulkan rasa sakit nantinya.
Semua perasaan itu memang penyebab dari sakit hati. Dan dari sakit hati itu hanya akan berujung pada perasaan yang lainnya. Penyesalan.
Sepertinya benar, perasaan yang hadir dalam benak manusia adalah sebuah hukuman. Namun, hukuman bagi siapa? Lantas bagaimana kebahagiaan yang hadir saat manusia memiliki beragam perasaan?
Apakah hukuman itu hanya untuk dirinya? Dirinya yang bahkan tak bisa mengerti dengan perasaannya? Apa yang ia rasakan? Perasaan apa yang memenuhi hatinya? Bagaimana meluapkan perasaannya? Apa yang membuatnya merasakan ini? Atau, siapa yang membuatnya memiliki perasaan seperti ini?
Semakin dipikirkan semakin membuat dirinya kebingungan.
'Kasih sayang itu hal yang lahir dari hati. Jika kau memiliki kasih sayang, kau mampu merasakan beragam perasaan lainnya, Ken. Yah mungkin memang beberapa perasaan akan membuatmu sakit, tapi jika itu karena kau salah menilainya. Setiap perasaan itu harus bisa kau mengerti dan hargai, agar nantinya kau tidak menyesali perasaan yang hinggap di hatimu. Kau tau kenapa aku sangat menyayangimu dan adik-adikku, karena berbagi kasih sayang itu membuatku sangat bahagia'
Bahagia ya?
Apakah ia bahagia seperti ini?
Namja tersebut hanya menghela napas dan beranjak menuju kelasnya. Ia masih terpaku pada kebingungan hatinya. Karena orang yang menyebabkan kekalutannya masih belum ia temui, atau belum bisa ia temui.
Atau ia temui saja?
Entahlah. Biarkan semuanya berjalan mengikuti arus angin yang menerbangkan dedaunan disampingnya saat meningalkan taman belakang siang itu.
.
.
.
Jika tadi Jungkook dan Taehyung memang tidak sengaja bertemu dengan Young Joo yang tidak berdaya itu. Lain lagi saat Namjoon dan Hoseok yang akan pergi ke kelas mereka malah langsung dihadang oleh Inha.
Sebenarnya mereka berdua tidak peduli dengan yang akan dilakukan wanita ini. Namun mau bagaimana lagi, tiap akan melangkah selalu saja dihalangi, sampai Namjoon yang berusaha setenang mungkin, habis juga kesabarannya.
"Sebenarnya apa yang kau inginkan, hah?!"
Inha terhenti dari acara menghadang Namjoon dan Hoseok saat mendengar suara dingin Namjoon. Ia sedikit gentar, tapi ia harus memastikan sesuatu.
"Maaf oppa, aku hanya ingin menanyakan sesuatu. Apa hubungan kalian dengan Kim Seokjin?"
Hoseok dan Namjoon tentu saja mengernyit heran. Ternyata wanita ini memang tidak punya malu. "Memang apa urusanmu hah?! Sudahlah kami ada kelas" Hoseok lalu melangkah pergi.
Namjoon yang akan menyusul Hoseok masih menyempatkan menatap Inha jengah, "Kalaupun kami ada hubungan itu tidak ada urusannya denganmu. Lagipula kau siapa? Enyahlah" dan berlalu pergi menyusul Hoseok.
Menyisakan Inha yang menahan marah. Ia dengan wajah yang memerah tengah meremas tangannya erat, "Awas saja kalian, aku tidak akan berhenti menyakiti Seokjin. Dan sebab Seokjin mengetahui aib ku, aku semakin semangat untuk menyakitinya"
Inha lalu pergi darisana sambil memikirkan rencana apa yang akan ia lakukan pada Seokjin. Sampai-sampai ia tak menyadari seseorang mendengar semua yang dibicarakannya sejak tadi.
'Sudah cukup'
.
.
.
Hari sudah cukup siang dan Seokjin masih setia duduk di kamarnya. Bahkan secangkir kopi yang dibawanya sudah habis, untuk yang kedua kalinya. Sebenarnya Seokjin tidak terlalu suka membaca, namun karena ia tidak memiliki kegiatan lain ia memilih untuk menikmati beberapa novel yang ada.
DRT
Seokjin meletakkan novelnya saat merasa ponselnya bergetar. Dan terlihat dilayarnya ada pesan dari Minhyuk.
'Kau sibuk?'
Seokjin mengernyitkan keningnya melihat pesan Minhyuk. 'Bukannya ia yang sedang sibuk?' pikir Seokjin. Ia membalas pesan terlebih dahulu sebelum akhirnya merenggangkan tubuhnya yang terasa sedikit pegal karena tidak beranjak sama sekali dari duduknya.
"Hah lelah juga"
Seokjin kembali mengambil ponselnya yang menyala.
'Tidak. Kenapa?'
'Ayo ke Butterfly Cafe. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu, sekalian Lee ahjussi ingin bertemu denganmu, Jin'
Seokjin tersenyum membaca pesan Minhyuk. Memang, setelah ia pulang dari rumah sakit tuan Jeon meminta salah satu bawahannya untuk mengirimkan surat pengunduran diri Seokjin. Seokjin jadi merasa bersalah karena berhenti tanpa ada kejelasan. Belum lagi ia belum bertemu Lee ahjussi sama sekali sejak tes dikampus beberapa hari lalu. Sepertinya ini kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Bagaimanapun Lee ahjussi sangat baik padanya, ia jadi semakin merasa bersalah.
'Baiklah. Aku kesana sekarang'
'Ok ;)'
Beruntung ia sudah mandi tadi pagi dan hanya perlu ganti baju saja. Setelah selesai ia segera turun dan menuju mobilnya. Ia hanya tidak mau membuat Minhyuk menunggu lama.
.
.
.
Yoongi sedang terduduk diam di rooftop kampus. Pikirannya sedang melayang kemana-mana. Banyak yang ia pikirkan, dan tentu saja Seokjin menjadi salah satunya. Entah kapan hyungnya itu bisa mendapat ketenangan dalam hidupnya. Beberapa menit yang lalu ia mendapat panggilan dari ayahnya, mengenai kemungkinan rencana para orang tua menyangkut keselamatan Seokjin yang bisa saja terancam sekarang.
Ia kira penderitaan hyungnya akan berakhir sesaat setelah pembullyan padanya berhenti. Namun nampaknya itu hanya sebagian kecilnya saja. Karena musuh mendiang orang tua Seokjin dipastikan akan mengincar nyawa Seokjin juga, mengingat bahwa orang tua Seokjin meninggal ditangan orang tua itu juga.
Yoongi menggelengkan kepalanya. Tidak menyangka Jaehwan dan ayahnya akan berbuat sejauh ini. Ia tidak mengerti sebuah perasaan bisa menimbulkan kekacauan dalam kehidupan mereka. Ia jadi berpikir, apakah yang dirasakan Jaehwan it benar-benar cinta? Atau hanya obsesinya saja?
'Obsesi akan cinta ya' Yoongi jadi tertawa miris. Bagaimana bisa Jaehwan harus terjerumus dalam kegelapan hatinya karena perasaannya sendiri. Namun juga tidak sepenuhnya salah Jaehwan, bagaimanapun ia tetap diperalat oleh ayahnya sendiri melaui perasaan yang saat itu masihlah rapuh. Yoongi tau kalau ayah Jaehwan pastilah menggunakan perasaan Jaehwan sebagai alat untuk melancarkan rencananya. Apakah semua orang setamak itu sampai mengorbankan anaknya sendiri demi sebuah kekuasaan yang bisa saja menghilang dalam sekejab?
Dan sebuah penolakan membuat semuanya semakin keruh, hingga kejadian buruk itu menimpa keluarga Seokjin. Cinta yang awalnya bersih itu tercemar dendam. Bahkan saat Seokjin kuliah pun dendam itu masih Jaehwan tunjukkan.
Yoongi hanya menyeringai, "Aku kasihan padamu, Ken"
"Untuk apa kau kasihan segala padanya, hyung?"
Memang, Yoongi tidak sendirin saja disana. Tepat disampingnya Taehyung dengan santai membaca komik yang ia bawa dari rumah. Meskipun ia terlihat sibuk dengan dunianya, tentu saja ia sedikit terganggu dengan perkataan Yoongi barusan. Ia memang mengikuti hyungnya ini, karena hanya Yoongi yang kuliahnya kosong. Sedangkan Jungkook ada kelas dengan Jimin.
"Kalau saja ia bisa menentukan jalan hidupnya sendiri, ia tidak akan merasakan penyesalan Tae"
Taehyung mengernyitkan kening, "Memang kau tau dia akan menyesal hyung?"
Yoongi hanya terdiam dan menatap Taehyung, "Kita yang akan membuatnya menyesal"
Taehyung tersenyum lebar, "Setuju hyung"
Yoongi hanya menggelengkan kepalanya. Ia menikmati istirahatnya diatap dengan Taehyung yang kembali melanjutkan aktifitas membaca novelnya. Mengingat Seokjin, Yoongi jadi penasaran dengan apa yang dilakukan hyungnya itu. Dan seolah terhubung, ponsel disaku Yoongi bergetar. Dan itu Seokjin. 'Tumben'
Taehyung kembali menoleh pada Yoongi saat melihat hyungnya terheran menatap ponsel yang bergetar, "Siapa hyung?"
"Jin hyung" ucap Yoongi lalu menjawab panggilan diponselnya, "Hyung"
'Yoon!'
Yoongi terkejut dengan teriakan Seokjin, "Hyung? Ada apa?"
Taehyung menutup novelnya saat mendengar suara Yoongi yang terlihat panik.
'Tolong aku! Hah...Jaehwan..Dia..mengejarku sekarang'
"Apa?! Kau dimana sekarang hyung?" Yoongi langsung menatap Taehyung tajam dan memintanya untuk segera mengikutinya. Dan tanpa banyak tanya Taehyung langsung mengikuti Yoongi yang berlari menuruni tangga.
"Aku sedang menuju arah sungai Han. Jemput aku Yoon!'
TUT
"Hyung!" teriakan Yoongi membuat beberapa mahasiwa yang berada dikoridor terkejut. Dengan wajah memerah dan tatapan tajam, tentu saja mereka tidak mau membahayakan diri untuk menanyakan penyebabnya.
Setelah sampai di area parkir Yoongi langsung memasuki mobilnya diikuti Taehyung. Dan mobil itu melesat menuju tempat Seokjin. Dan Taehyung tau sesuatu yang buruk tengah menimpa Seokjin.
.
.
.
Seokjin menepikan mobilnya tepat disamping cafe. Ia tersenyum mengingat saat ia masih bekerja disini. Pemilik cafe ini sudah baik padanya selama ini, dan karenanya cafe ini salah satu tempat kebahagiaannya, yang membuatnya sedikit melupakan apa yang selalu terjadi di kampus.
Saat memasuki cafe, suasana didalam tidak terlalu ramai. Ia lalu mencari Minhyuk yang belum diketahui keberadaannya.
"Seokjin" suara pelan itu membuatnya menolehkan pandangannya dan Seokjin tersenyum bahagia saat melihat orang tersebut.
"Ahjussi" Seokjin menunduk menyapa. Namun Lee ahjussi malah menarik Seokjin dan memberikannya pelukan.
"Syukurlah kau baik-baik saja Seokjin" Seokjin balas memeluk Lee ahjussi. Ia sangat merindukannya, orang yang sudah dianggapnya sebagai keluarganya.
Seokjin lalu melepas pelukannya, "Maafkan aku ahjussi" ucapnya penuh sesal.
Lee ahjussi hanya tersenyum, "Sudahlah. Asalkan kau baik-baik saja itu sudah cukup membuatku senang"
"Terima kasih ahjussi"
"Sudahlah. Temanmu menunggu diatas" Lee ahjussi membawa Seokjin kelantai 2 cafe dimana Minhyuk menunggunya.
.
"Jadi maafkan aku Seokjin. Dari awal memang Ji Soo sudah memintaku untuk mengawasimu, dan beruntungnya aku karena kau bekerja disini, yang membuatku mudah melakukannya."
Seokjin hanya tersenyum. Dari awal memang tuan Jeon tidak pernah melepasnya sepenuhnya. Bahkan supermarket tempat ia bekerja dulu merupakan milik teman tuan Jeon juga. Jadi ia bahkan tidak terlalu terkejut saat mendengar kalau Lee ahjussi adalah salah satu teman tuan Jeon juga.
"Itu juga sebuah keberuntungan untukku ahjussi, karena aku bisa bertemu orang baik sepertimu. Terima kasih karena sudah menjagaku" Seokjin tentu saja terharu. Ia begitu beruntung karena memiliki banyak orang yang menyanginya.
"Tidak perlu. Aku melakukannya dengan tulus. Kau anak yang baik Seokjin. Dan aku senang pernah punya pekerja sepertimu. Yang perlu kau ingat adalah semua orang disekitarmu sangat menyayangimu. Semuanya ingin kau bahagia. Karena itu, berbahagialah meskipun karena hal sekecil apapun"
"Dan kau tau kan temanmu ini juga menyayangimu?" Minhyuk tersenyum memandangku. Ia daritadi mendengarkan pembicaraan antara Seokjin dan Lee ahjussi. Sempat terkejut mengetahui bagaimana perhatiannya ayah Jungkook itu pada Seokjin. Tapi tidak diherankan, karena mereka adalah keluarga. Dan Minhyuk tau, meskipun bukan hubungan sedarah, tapi hubungan antara Seokjin dan geng Bangtan sangatlah erat.
"Aku tau, Minhyuk, terima kasih. Terima kasih juga Lee ahjussi" Seokjin tidak akan mengeluh lagi, ia sangat bersyukur Tuhan memberikan ia orang-orang yang baik disekitarnya.
"Kalau begitu aku tinggal ne" Lee ahjussi langsung beranjak pergi setelah menepuk bahu Seokjin pelan.
Seokjin tersenyum lalu menatap Minhyuk sepenuhnya, "Jadi?"
Minhyuk yang awalnya diam, tiba-tiba langsung menerjang Seokjin dengan pelukan erat. Dan beruntung Seokjin tidak jatuh, "Aku bahagia Seokjin"
"Hah?"
Minhyuk melepas pelukannya dan memandang Seokjin dengan mata berbinar, "Projectku diterima oleh Yoon ssaem. Dan Yoon ssaem ingin aku merekamnya langsung distudionya lusa. Ya ampun aku tidak percaya ini. Aku berhasil Jin, aku berhasil"
Seolah tersadar karena ucapan Minhyuk terlalu cepat, Seokjin lantas balik memeluk Minhyuk dengan erat. Mereka berdua bangkit dari tempat duduk mereka, loncat, berputar-putar, dan tak lupa tawa yang terdengar sampai membuat beberapa orang yang ada dilantai 2 keheranan dengan tingkah mereka.
Dan saat mereka berhenti, baik Seokjin dan Minhyuk hanya menunduk meminta maaf karena menganggu pengunjung lain dengan tingkah kekanakan mereka.
"Selamat Minhyuk! Aku sudah bilang kan, kalau kau pasti berhasil. Aku turut bahagia untukmu" Seokjin kembali memeluk Minhyuk. Ia bahagia dengan keberhasilan temannya.
"Terima kasih Seokjin. Untuk hari ini aku yang traktir" ucap Minhyuk tertawa.
Seokjin terkekeh, "Tentu saja"
.
Saat masih sibuk berbicara, ponsel Minhyuk berdering. Seokjin hanya diam dan membiarkan Minhyuk berbicara dengan seseorang disebrang sana. Nampaknya penting karena raut muka Minhyuk serius sekali. Tapi Seokjin mengernyit saat wajah Minhyuk malah berbalik cemberut.
"Ne eomma. Aku kesana"
Minhyuk memasukkan kembali ponselnya setelah menghela napas.
"Ada apa?"
Minhyuk kembali menghela napas, "Ibu menyuruhku pulang. sepertinya mereka akan berangkat sekarang ke Paris"
"Hem?"
"Orang tuaku ada acara di Paris. Tadinya mereka ingin aku ikut, tapi karena terhalang project aku tidak bisa. Mereka ingin aku mengantar ke bandara"
"Ya sudah antar saja" Seokjin mengangguk mengerti.
"Lalu kau?"
Seokjin hanya terkekeh, "Aku juga akan pulang kalau begitu"
Minhyuk kembali menghela napas, "Padahal aku masih ingin bicara denganmu"
Seokjin tersenyum dan menepuk bahu Minhyuk, "Kan besok masih bisa, atau kapanpun kau ada waktu kau bisa mengajakku keluar seperti ini"
"Benarkah?"
"Ne"
Minhyuk akhirnya tersenyum. Ia hanya tidak mau menyia-nyiakan waktu Seokjin. Mereka bahkan belum satu jam disini, tapi mau bagaimana lagi, orang tuanya menyurunya pulang.
"Ayo, nanti orang tuamu menunggu"
"Ne"
Seokjin mengikuti Minhyuk sampai kasir. Menyapa Lee ahjussi untuk pamit pulang. Setelah meembayar mereka langsung keluar dan menuju mobilnya. Minhyuk memeluk Seokjin dan beranjak menuju mobilnya sendiri yang terletak sedikit jauh dengan mobil Seokjin.
"Sampai jumpa, Jin"
"Bye"
Seokjin masih melihat Minhyuk sampai ia memasuki mobil dan melaju pergi. Saat Seokjin ingin memasuki mobilnya sendiri,
"Seokjin"
Seokjin terdiam disamping mobilnya. Saat menolehkan kepalanya kebelakang, ia melihat seseorang yang tidak ingin ditemuinya saat ini.
"Ken.."
Lee Jaehwan berdiri disamping mobilnya. Ia menatap Seokjin lama dan beranjak menuju kearahnya. Seokjin yang memang tidak berniat berurusan dengan Jaehwan langsung memasuki mobilnya, tapi tepat sebelum menutup pintu mobilnya, Jaehwan lebih dulu menghalau tangan Seokjin.
"Kau menghindariku?!" teriakan Jaehwan membuat Seokjin terkejut. Ia berusaha mendorong Jaehwan untuk membiarkannya pergi.
"Jae, ku mohon pergilah" Seokjin tetap berusaha mendorong Jaehwan.
Jaehwan sendiri yang emosinya tidak stabil semakin berusaha menahan pintu mobil Seokjin bahkan ia sudah menarik Seokjin keluar dari mobilnya.
"Lepaskan aku"
"Ikut aku"
"Tidak Ken. Lepaskan aku, aku tidak mau ikut denganmu" Seokjin berhasil menepis tangan Jaehwan dan kembali berlari menuju mobilnya.
Jaehwan semakin geram dan kembali menarik lengan Seokjin, "Aku bilang ikut aku!"
Seokjin tidak mau membuat keributan di daerah sini, ia kembali menepis tangan Jaehwan.
PLAK
"Berhenti bersikap seenaknya, Ken"
Seokjin lalu berlari setelah menampar Jaehwan. Ia lekas memasuki mobilnya, dan segera meninggalkan Jaehwan yang menatap kepergian mobil Seokjin. Jaehwan bukannya sadar akan tindakannya malah semakin menjadi. Ia menuju mobilnya dan berniat mengejar mobil Seokjin, "Kau semakin kurang ajar, Seokjin" Jaehwan langsung melajukan mobilnya.
Seokjin baru saja akan memasuki jalan raya saat mobil Jaehwan dengan sengaja menabrak bagian belakang mobil Seokjin. Seokjin jelas terkejut dengan kejadian itu, jantungnya berdebar kencang. Tanpa pikir panjang Seokjin melaju kencang dengan Jaehwan yang mengikutinya dari belakang.
Seokjin sudah lama tidak mengendarai mobil, apalagi harus kebut-kebutan seperti ini. Dan ia terpaksa mempercepat laju mobilnya saat mobil Jaehwan tepat disampingnya dan hampir menabraknya. 'Kau gila Lee Jaehwan'. Ia tidak mau mati dengan cara seperti ini. Ia ingin selamat, tapi ia juga tidak ingin melukai Jaehwan.
Beruntung diperempatan jalan Seokjin berhasil mengecoh Jaehwan dengan segera membelokkan mobilnya meskipun dalam kecepatan tinggi, bersyukur karena jalanan tidak terlalu ramai. Meskipun mobil Jaehwan mengambil jalan lurus, tapi Seokjin yakin ia akan segera menyusul dan berada dibelakangnya lagi. Seokjin yang kebingungan mengambil ponselnya dan menghubungi Yoongi masih dengan intensitas kecepatan mobil yang tinggi. 'Ayolah angkat Yoongi'. Seokjin sungguh butuh bantuan sekarang.
'Hyung'
"Yoon!" Seokjin terpaksa harus berteriak. Karena saat melihat spion tengah ia melihat mobil Jaehwan sudah mulai mengejarnya lagi
'Hyung? Ada apa?'
"Tolong aku! Hah...Jaehwan..Dia..mengejarku sekarang"
Seokjin semakin melaju kencang dan menyalip hampir semua kendaran yang ada didepannya, ia harus segera menghindari Jaehwan.
'Apa?! Kau dimana sekarang hyung?'
Seokjin melihat sekitarnya, "Aku sedang menuju arah sungai Han. Jemput aku Yoon!"
"Yoon!" Seokjin melihat ponselnya mati. Ia kembali melihat spion tengah mobil. Beruntung mobil Jaehwan masih jauh. Ia semakin melajukan mobilnya untuk memperpanjang jarak. Ia tidak mungkin kembali ke rumah kalau tidak ingin Jaehwan meneror rumahnya itu. Sekarang Seokjin harus rela mencari tempat aman untuk sembunyi sambil menunggu Yoongi.
'Ya Tuhan. Tolong aku'
.
.
.
tbc
Hai...semoga cerita ini masih bisa menghibur kalian
