You Actually Specials

.

Cast : All member BTS

Genre : Family, Brothership

Rate : T

.

.

.

Part 20

.

.

.

Author Pov

Siang itu langit masih menampakkan nuansa birunya meskipun sudah pukul 3 lewat. Suasana yang indah disertai angin yang memberikan kesejukan tak mampu untuk menenangkan Yoongi yang kala itu masih melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, yang ditemani oleh Taehyung disampingnya. Taehyungpun yang tidak mengerti tentang apa yang terjadi pada Seokjin hanya terdiam saja setelah sebelumnya menghubungi yang lain. Tapi ia yakin, kemarahan Yoongi yang seperti ini hanya terjadi saat sesuatu yang buruk terjadi pada Seokjin.

Saat memasuki kawasan sungai Han, Yoongi sedikit memelankan laju mobilnya dan menoleh kekanan dan kekiri. Mata tajamnya menelisik mencari keberadaan hyungya.

"Tae, hubungi Seokjin hyung"

Tanpa banyak bicara Taehyung mencoba menghubungi nomor hyungnya. Namun sayang, sepertinya ponsel sang hyung mati.

"Tidak aktif hyung"

"Sial!" Yoongi segera mencari area parkir terdekat. Kawasan sungai Han sangat luas, tapi kalau hanya diam dalam mobil ia tidak yakin mampu menemukan Seokjin. Ia juga tidak tau ada dibagian mana Seokjin berada sekarang.

"Hyung disana!" teriakan Taehyung membuat Yoongi segera menghentikan mobilnya. Tepat diarah yang ditunjuk Taehyung ada 2 orang yang tengah berlari. Dan Yoongi yakin sekali namja yang tengah dikejar seseorang itu adalah Seokjin.

"Tae! Cepat kejar"

Taehyung segera keluar dari mobil dan mengejar 2 orang yang terlihat mulai menjauh. Yoongi segera memarkirkan mobilnya dan mulai mengikuti Taehyung. Yoongi berharap Seokjin tidak terluka, karena ia bersumpah akan membunuh Jaehwan saat itu juga.

.

Seokjin segera memarkirkan mobilnya dan segera keluar. Ia berlari dan menuju area yang agak ramai sebelum teriakan seseorang membuatnya terkejut.

"JIN!"

Seokjin terus berlari tidak peduli kakinya melangkah kemana, yang jelas ia harus segera bersembunyi karena Jaehwan juga sekarang sudah berlari dibelakangnya. Seokjin melewati banyak orang, ia jelas tidak bisa meminta bantuan orang lain karena ia tau Jaehwan akan melukai orang tersebut karena menghalanginya. Seokjin tentu tidak mau menyakiti orang lain karena dirinya.

"SEOKJIN! Berhenti!"

"Pergilah Ken!"

Sial bagi Seokjin karena memasuki area terbuka yang sepi. Jaehwan sudah semakin dekat dibelakangnya. Seokjin tidak bisa menghindar sekarang, ia sudah cukup lelah dan napasnya sudah terasa berat. Tapi ia tidak bisa menyerah sekarang, sebisa mungkin ia harus menghindari Jaehwan. Namun karena terlalu fokus berlari Seokjin tidak sengaja tersandung dan terjatuh. Saat berusaha bangkit ia merasa kakinya kebas, dan Seokjin sadar tenaganya hampir habis.

Seokjin berusaha tetap bangkit. Namun belum sempat berdiri ia harus kembali terjatuh dengan Jaehwan yang berada diatasnya. Seokjin sudah tidak bisa kabur lagi karena kedua tangannya dicengkram erat oleh Jaehwan.

"Kau tidak bisa pergi dariku lagi, Jin" ucap Jaehwan datar. Napasnya masih memburu karena terus mengejar Seokjin, belum lagi kemarahannya karena ditolak olehnya.

"Apa yang kau inginkan, Ken? Lepaskan aku!" Seokjin hanya bisa melawan sekenanya. Namun apa daya saat tangannya mulai terlepas Jaehwan kembali membelenggunya.

"Bisakah kau diam?!" teriakan Jaehwan membuat Seokjin terdiam sejenak. Tatapan matanya masih menatap tajam Jaehwan karena tingkah seenaknya itu. "Aku hanya ingin bicara denganmu"

Seokjin berdecak, "Dan kalau kau ingin bicara bukankah sikapmu itu berlebihan?!"

"Karena kau menolakku!" Jaehwan menggeram. Ia tidak suka Seokjin berteriak padanya.

Seokjin kembali memberontak, "Kau memaksaku, Ken! Aku tidak ingin bicara denganmu sekarang jadi lepaskan aku!"

PLAK

"Jangan membuatku marah, Jin!"

SRET

BUGH

Jaehwan terlempar setelah merasa seseorang menariknya dan memukul wajahnya. Dan tepat saat menolehkan wajah, Taehyung tepat berdiri didepannya dengan wajah marah. Belum sempat berdiri Taehyung kembali memukul Jaehwan.

"Sialan kau!"

BUGH

Taehyung terus melanjutkan pukulannya. Ia dengan wajah tenang namun tatapan tajam terus menorehkan luka diwajah Jaehwan tanpa mendengarkan teriakannya. Meskipun ia sudah melihat banyak lebam diwajah Jaehwan, Taehyung tak peduli. Orang ini harus mendapat pelajaran karena sudah menampar Seokjin.

"Tae sudah cukup. Hentikan Taehyung" Seokjin yang masih terduduk dibelakang Taehyung berusaha menghentikan adiknya itu. Ia cukup kasihan juga melihat Jaehwan yang nampak hampir tak sadarkan diri.

"Tae sudah"

"HYUNG!"

Yoongi berlari kearah Seokjin dan memeluknya erat. Kekhawatiran Yoongi sedikit berkurang saat melihat Seokjin baik-baik saja, ia sangat bersyukur. Namun tidak begitu lama, saat menyadari sedikit ruam merah ada dipipi hyungnya.

"Hyung.."

Seokjin sedikit menggoyangkan lengan Yoongi, "Yoon, tolong hentikan Taehyung. Jangan biarkan ia membunuh Jaehwan, tolong hentikan Yoon"

Yoongi tidak medengarkan Seokjin, ia beralih mengelus pipi sang hyung yang berbuah ringisan dari siempunya. Yoongi menggeram marah saat melihat sedikit darah diujung bibir Seokjin.

"Yoon cepat hentikan Taehyung" Seokjin terus menyuruh Yoongi. Ia tidak mau terjadi sesuatu pada Taehyung karena tindakannya itu. Mau bagaimanapun ini tempat umum, dan itu sangat berbahaya, banyak orang bisa melihat tindakan Taehyung.

"Yoongi!"

"Hentikan Taehyung"

Suara datar Yoongi menghentikan aksi Taehyung yang hampir saja melayangkan nyawa Jaehwan. Wajah itu sudah dipenuhi lebam beserta darah yang menghiasinya, namun Taehyung tidak peduli sama sekali. Meskipun samar ia tau Jaehwan masihlah sadar dengan napas yang tersendat.

"Ayo pulang" Seokjin sadar saat suara Yoongi terdengar datar ditelinganya. Namun ia sungguh tidak mau membahasnya sekarang ia masih kelelahan dengan kejadian ini. Kalau saja Seokjin tau, ia pasti tidak mengiyakan ajakan Minhyuk padannya.

Yoongi membantu Seokjin berdiri dan menuntunnya. Taehyung juga sudah berdiri disisi lain Seokjin dan hanya diam tanpa berniat membantu Seokjin.

"Jin.."

Seokjin terhenti dan menoleh kearah Jaehwan yang memanggilnya. Sedikit kasihan saat ia melihat Jaehwan terbatuk dengan mengeluh sakit ditubuhnya. Tapi Seokjin tidak bisa berbuat apa-apa karena Yoongi mengenggam lengannya erat. Bahkan Seokjin sedikit menahan sakit karena cengkraman itu.

"Jin...maafkan...aku"

Seokjin hanya terdiam saja. Kembali terlintas semua perbuatan Jaehwan padanya selama ini. Belum lagi ingatan pengakuan Jaehwan tentang kematian orang tuanya. Semua yang dilakukan Jaehwan sangatlah berlebihan dan keterlaluan. Tapi bohong kalau ia tidak bisa memaafkan Jaehwan, karena sedikit kebaikan hatinya ingin memaafkannya.

"Maafkan aku...karena...mencintaimu"

Seokjin hanya menghela napas dan kembali melangkah setelah melepas cengkraman Yoongi secara paksa. Ia berjalan tanpa menunggu Yoongi ataupun Taehyung yang masih berdiri melihat Jaehwan yang kesakitan.

"Kau boleh mencintai seseorang, namun jangan sampai kehilangan dirimu dalam prosesnya"

Yoongi hanya menatap datar Jaehwan dan meninggalkannya. Taehyung sendiri juga mengikuti sang hyung.

"Nikmati sakitmu itu"

.

Seokjin meninggalkan mobilnya tetap diparkiran dan menaiki mobil Yoongi. Memang Yoongi tidak menyuruhnya langsung, tapi ia cukup tau saat Taehyung langsung menarik dirinya menuju mobil Yoongi.

Dalam perjalanan hanya ada keheningan. Baik Yoongi atau Taehyung tidak berniat memecah suasana, sedangkan Seokjin sendiri tidak peduli dan sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia tau dua orang didepannya itu marah padanya karena menghentikan adegan pemukulan tadi. Tapi tidakkan mereka memikirkan kemungkinan kalau bisa saja ada orang lain yang melihat Taehyung? Seokjin hanya tidak mau Taehyung mendapat kesulitan karenanya. Hanya itu. Tapi nampaknya yang dilakukannya ini adalah kesalahan.

'Bukankah kau memang sebuah kesalahan?'

Atau memang hidup Seokjin dari awal memanglah salah.

.

.

.

Rumah biasanya tempat untuk mengistirahatkan tubuh yang lelah setelah beraktivitas seharian, atau bahkan tempat untuk mencari ketenangan dengan berkumpul bersama keluarga. Rumah juga tempat untuk mengekpresikan perasaan terpendam dan bahkan dengan bebas untuk menuangkan beban dan kelelahan yang sempat singgah dalam tubuh dan pikiran.

Namun saat Seokjin berharap mendapat ketenangan saat sampai di rumah, yang ia dapatkan hanya suasana dingin dan tidak nyaman saat ia terduduk disofa ruang tengah dengan dikelilingi adik-adiknya. Seokjin bahkan belum sempat beranjak ke kamar karena Yoongi lebih dulu menggiringnya menuju ruang tengah, yang sudah ada 4 adiknya yang menujukkan aura tidak bersahabat.

Seokjin tidak memulai pembicaraan, ia lebih memilih mendengarkan lebih dulu. Lagipula bekas tamparan Jaehwan masih terasa sakit dipipinya. Seokjin hanya terdiam saat 6 pasang mata tengah menatapnya tajam bersamaan.

"Seharusnya kau tidak menghentikanku untuk membunuh Jaehwan, hyung" Taehyung membuka pembicaraan mereka dengan protesan. Ia sungguh kesal karena Seokjin mencoba menghentikannya, tapi ia lebih kesal karena tidak bisa menghabisi orang yang sudah menyakiti hyungnya.

Seokjin memandang Taehyung, masih terpancar jelas aura kemarahan dalam dirinya. "Aku hanya tidak mau terjadi sesuatu padamu Tae. Demi Tuhan, kita berada di tempat umum tadi, bagaimana kalau ada yang melihatmu" Seokjin hanya khawatir. Itu yang ia rasakan.

Taehyung nampak tak peduli, "Aku bisa menjaga diriku sendiri"

Seokjin sedikit terhenyak dengan ucapan Taehyung, namun ia hanya mampu diam. Salahkah Seokjin mengkhawatirkan adiknya? Dan keterdiaman kembali menguasai ruang tengah itu. Seokjin masih setia dengan keterdiamannya dan yang lain masih sibuk dengan perasaan masing-masing.

"Kenapa kau tidak kembali ke rumah, hyung? Aku sangat yakin tempat ini aman daripada kau harus berlarian dan membahayakan dirimu sendiri" ucap Jimin. Ia sungguh tidak tau apa-apa tentang semua ini, ia hanya mendapat kabar kalau Seokjin dalam bahaya dari Taehyung.

"Dan Jaehwan akan terus menerus ke rumah ini? Tidak, Jimin. Aku tidak mau ketenangan tempat ini hancur karena Jaehwan"

"Tapi kau sendiri yang menghancurkan ketenangan rumah ini sekarang hyung" ucap Jungkook dingin. Ia sangat marah atas apa yang menimpa Seokjin. Tapi ia sungguh tidak mengerti dengan apa yang dipikirkan hyungnya, "Kalau rumah ini diketahui Jaehwan, kita bisa pindah. Aku sudah tenang beberapa waktu ini, tapi kau yang menghancurkannya lagi, hyung. Kau membuat aku khawatir karena tidak disampingmu. Sebenarnya yang membuat masalah itu Jaehwan atau kau, hyung?!"

Seokjin langsung menatap Jungkook. Ia tau Jungkook marah padanya, tapi sungguh Seokjin tak berniat mencari masalah pada siapapun. Bahkan selama ini ia hanya diam saat banyak masalah datang padanya, ia sungguh tak percaya Jungkook akan mengatakan hal seperti itu.

"Aku hanya tidak mau berurusan lagi dengan Jaehwan, dan aku berusaha untuk menghindarinya. Dan aku..."

"Dan kau kembali terluka setelah bertemu Jaehwan, hyung! Aku pernah melihatmu memukulnya, kenapa kau tidak menghajarnya daripada membawa luka dipipimu itu? Kau berniat menunjukkan kelemahanmu itu pada kami hah?!" Namjoon yang dari awal sudah menahan emosinya tanpa peduli dengan perasaan Seokjin langsung meluapkannya. Namjoon hanya menatap Seokjin yang menatapnnya terkejut.

Hoseok yang dari tadi terdiam merasa bahwa semua ini sudah salah. Mereka berkumpul karena ingin membicarakan perihal masalah Seokjin saat bertemu dengan Jaehwan, bukan menyalahkannya seperti ini.

"Namjoon" Yoongi sedikit menggeram karena ucapan Namjoon sedikit berlebihan.

Yoongi sudah menghilangkan emosinya, dan ia sangat menyesal saat suasana di ruang tengah berubah tegang seperti ini. Seharusnya ia menghentikannya dari awal, jadi ia tidak perlu melihat wajah terluka Seokjin. Belum lagi luka dipipi Seokjin masihlah belum diobati, dan juga memar dipergelangan tangan sang hyung. Yoongi tanpa sadar sudah menyakiti hyungnya. 'kau bodoh'

"Berhentilah terluka dan menyusahkan hyung!"

"Jeon Jungkook!" itu suara Hoseok. Sudah cukup. Pertengkaran ini tidaklah harus terjadi. Seokjin bahkan belum sempat istirahat dan langsung mendapat serangan seperti ini. Bukankah seharusnya mereka menguatkan Seokjin, seharusnya mereka memberikan ketenangan padanya, bukan memperparah kondisinya.

Bentakan Hoseok membuat suasana semakin buruk. Tapi kali ini lebih buruk karena mereka menyesali akan apa yang mereka katakan. Seokjin hanya diam menatap adik-adiknya itu, dan sebelah tangannya masih menggenggam tangan Yoongi yang awalnya berniat menghampiri Jungkook setelah perkataannya yang menyakitkan.

Yoongi menatap Seokjin sedih, ia terhuyung dan mendudukkan dirinya lagi, "Maaf hyung"

Seokjin tau mereka semua hanya terlalu mengkhawatirkannya. Namun ia tidak menyangka akan ada kata-kata seperti itu yang keluar dari mulut adik-adiknya. bukankah benar dari awal kalau dia memang merepotkan, bukan? Bukankah alasannya pergi dulu takut hal seperti ini terjadi? Ia tidak mau menjadi beban bagi mereka.

Semuanya kembali dalam keheningan, baik Taehyung, Jimin, Jungkook, dan Namjoon, mereka menundukkan kepala karena menyadari kata-kata yang seharusnya tidak pernah keluar dari mulut mereka. Kekhawatiran membuat mereka kehilangan kendali emosi, dan pada akhirnya hanya penyesalan yang tertinggal.

Seokjin melepas genggaman tangannya pada Yoongi dan menatap adik-adiknya. Ia berusaha mengerti sikap mereka meskipun mereka telah menyakiti perasaanya. Karena bagaimanapun ini semua ulahnya. Kesalahannya. Sepertinya Jungkook benar kalau sebenarnya ia sendiri yang mencari masalah. Kalau saja ia tidak pergi, adik-adiknya tidak akan merasa sedih. Kalau ia bisa melawan Jaehwan, ia tidak akan berakhir berada di gudang waktu itu dan hampir mati. Dan kalau saja ia tidak lemah, ia mungkin tidak akan merepotkan keluarganya. Dan kalau saja,

"Hyu..hyung.."

Seokjin menatap Jungkook yang maju perlahan kearahnya, dengan kepala tertunduk ia lalu bersimpuh dihadapan Seokjin. Seokjin dan yang lainnya tentu saja terkejut, namun Seokjin hanya diam saja.

"Tolong...maafkan aku..hyung." Jungkook merasa bersalah atas ucapan kasarnya pada Seokjin. Padahal ia sudah berjanji untuk menjaga hyungnya, tapi sekarang ia menyakitinya.

Seokjin memejamkan mata mendengar suara Jungkook yang terdengar bergetar, kalau boleh jujur ia lebih merasakan sakit kala melihat adik-adiknya mengangis karenanya. Dan saat membuka mata, Seokjin tidak terlalu tekejut saat melihat semua adiknya bersimpuh didepannya, bahkan Yoongi dan Hoseok juga.

"Kami minta maaf Jin hyung" ucap Namjoon yang tidak berani menatap mata hyungnya itu. kesalahan terbesarnya adalah, ia tidak bisa menahan emosinya. Dan ketika hal itu terjadi, ucapan yang keluar dari mulutnya adalah sampah.

Taehyung hanya diam saja. Diantara yang lainnya ia merasa dirinyalah yang paling bersalah. Di taman ia mendiamkan Seokjin, dan sekarang ia meluapkan kemarahannya pada Seokjin dan membentaknya. Padahal yang dilakukan hyungnya untuk kebaikannya juga, hyungnya begitu mengkhawatirkannya daripada dirinya sendiri.

Sedangkan Jimin sudah berusaha menahan air mata yang menggenang dimatanya. Hal yang tak pernah bisa ia lakukan adalah menyakiti hyungnya, ia sangat menyayangi hyungnya. Seokjin adalah hyungnya yang berharga, dan seharusnya ia menenangkannya, bukan? Seharusnya ia tadi langsung memeluk Seokjin dan mengatakan kalau semua baik-baik saja.

Sedangkan Hosoek dan Yoongi merasa situasi ini terjadi karena mereka tidak segera menghentikannya dari awal. Hoseok dan Yoongi mungkin bisa mengendalikan emosi mereka, tapi mereka lupa bahwa manusia itu selalu melakukan kesalahan. Sayangnya memang Hoseok dan Yoongi sempat terpengaruh amarah mereka tanpa berpikir keadaan Seokjin yang mungkin masih shok dengan semua yang terjadi.

Seokjin menatap keenam adiknya yang masih betah menundukkan kepala itu. Seokjin bersyukur ia mengenal adiknya dalam waktu yang lama. Hingga ketika sedikit ucapan mereka yang menyakitkan keluar, itu berarti Seokjin sudah melakukan kesalahn fatal. Adik-adiknya bukanlah orang yang kasar padanya, hanya saja mereka tidak suka jika keluarga mereka terluka, dan terlebih mereka tidak melakukan apa-apa.

Seokjin mungkin sakit hati karena ucapan mereka, tapi ia juga membenarkan semua yang dikatakan adiknya. Awal dari semua ini adalah dirinya. Dirinya penyebab semua kejadian ini. Sebuah kesalahan kalau Seokjin harus membenci adiknya hanya karena ucapan mereka benar, tapi malah mengasihani Jaehwan dan yang lainnya yang sudah melukai hati dan juga fisiknya.

Air mata mulai berjatuhan dan melewati pipinya yang memerah. Suasana mencekam tadi sudah kembali menjadi kehangatan seperti semula. Seokjin selalu bersyukur, masih ada mereka berenam yang selalu bersamanya, meskipun ia sendiri hanya bisa merepotkan saja.

Seokjin tersenyum dalam tangisnya, kalau saja Seokjin yang ada dihadapan mereka adalah Seokjin yang dulu, sudah jelas ia akan segera pergi karena sakit hatinya. Tapi tidak dengan dirinya yang sekarang, ia akan menghadapi apapun yang melintas dihadapannya, kesedihan, kemarahan, ataupun kepedihan dalam hidupnya. Karena ia yakin, ia bisa bahagia. Ia pasti bisa bahagia nantinya.

"Kalian tau bukan kalau aku sangat menyayangi kalian semua?"

Keenam kepala itu mendongak dan tertegun menatap Seokjin. Air mata masih mengalir dipipi sang hyung, namun mereka tidak bisa melakukan apa-apa. Karena mereka takut, takut kalau merekalah alasan Seokjin menangis. Maka dari itu mereka hanya diam saja, meratapi kesalahan mereka. Sedangkan Seokjin mulai menghapus air matanya, tidak seharusnya air matanya jatuh pada saat seperti ini.

"Mulai dari awal kita bertemu saat pertemuan keluarga dulu dan sampai saat inipun, aku selalu, dan akan selalu menyayangi kalian. Kalian adalah hal berharga yang aku miliki. Aku tidak mampu melihat kalian terluka, menangis, ataupun sedih. Tapi Jungkook benar"

Seokjin menatap Jungkook dan mengelus rambutnya, "Aku memang lemah, merepotkan, dan pembawa masalah. Dan kalau saja pikiranku masihlah seperti dulu, mungkin saat ini aku sudah pergi dari hadapan kalian dan menghilang." Yang lain menahan napas mendengar ucapan Seokjin. Tidak. Mimpi buruk itu akan terulang lagi.

"Tapi adikku yang sangat dingin ini akan membunuhku kalau aku melakukannya" Seokjin menepuk kepala Yoongi lembut sambil tersenyum. "Sejak ucapanmu dimobil itu aku berjanji pada diriku sendri untuk berusaha lebih keras lagi menjalani kehidupanku kedepannya. Aku bersyukur dengan hidupku yang sekarang dan menerima semua yang pernah terjadi dimasa lalu. Setidaknya aku tidak mau hidupku sia-sia."

Seokjin menatap adik-adiknya, "Kalian benar. Aku memang lemah, tapi bukan berarti aku menyerah. Dan kalian tau kenapa?" Seokjin tersenyum, "Itu karena kalian"

Semua orang menatap Seokjin, pertahanan Jimin sudah runtuh dan air mata itupun turun, sedangkan Jungkook dan Taehyung menggigit bibir mereka menahan tangis. Perasaan hangat itu juga menjalar pada Yoongi, Hoseok, dan Namjoon. Mereka tidak tau bagaiamana perasaan mereka sekarang. Hati mereka terasa hangat dan penuh dengan ketenangan.

"Karena kalian aku bisa bertahan. Karena kalian aku bisa mneghadapi ini semua. Dan karena kalian selalu disampingmu itu yang membuatku kuat. Semua itu mungkin takkan membuatku bisa menang melawan Jaehwan, tapi setidaknya Jaehwan tidak memiliki apa yang aku miliki sekarang"

"Dia tidak memiliki keluarga yang menyayanginya" dan Seokjin harus menahan pelukan Jungkook yang langsung berhambur padanya. Punggung adiknya bergetar dan bahunya sedikit basah. Seokjin kembali mengelus rambut Jungkook sayang.

"Yoongi, maafkan aku karena sempat menyerah, tapi aku hanya tidak mau adikku yang terluka. Padamu juga Hoseok, aku minta maaf karena harus membawa kesedihan bersamaku, karena aku tidak mau kebahagiaan rumah ini hilang. Aku minta maaf Jimin karena membuatmu khawatir, tapi aku hanya tidak mau Jaehwan menganggumu. Maafkan aku juga Taehyung, karena aku terlalu khawatir padamu tanpa mempedulikan keadaanmu, yang aku pikirkan hanya untuk menyelamatkan adikku. Dan juga Namjoon, maaf karena aku terluka, aku mungkin tidak sekuat dirimu untuk melawan Jaehwan, tapi aku kuat untuk menahan sakit ditubuhku"

Seokjin merenggangkan pelukannya pada Jungkook dan menangkup pipi Jungkook, "Dan Jungkook, maafkan hyung karena selalu merepotkanmu dan membuatmu khawatir. Maafkan hyung yang selalu menyusahkanmu dan menyebalkan ini. Hyung hanya tidak mau adik hyung menangis" Seokjin mengusap pipi Jungkook yang sudah dipenuhi air mata.

"Jadi maukah kalian memafkan aku yang suka sekali membuat masalah ini?" Dan Seokjin harus kembali meneteskan air mata karena mendapat pelukan dari adik-adiknya. Telinganya terus mendengar permintaan maaf adik-adiknya, namun terlepas dari semua itu, kehangatan pada tubuh dan hatinya membuatnya merasa bahagia. 'Aku sangat menyayangi mereka, Tuhan'

.

.

.

Tuan Jeon dan tuan Kim masih berada di ruang meeting perusahaan tuan Jeon. Sedangkan para tetua yang lain tengah menjalankan tugas masing-masing. Bukan karena mereka berdua tidak kebagian tugas, hanya saja masih ada beberapa hal yang harus dibahas. Selain perlindungan untuk Seokjin juga bagaimana menghalangi Jung Ahn untuk menyentuh Seokjin.

"Beruntung si tua Min itu cukup pintar untuk membeli saham di perusahaan Jung Ahn memalui temannya. Kalau tidak, penghancuran ini masih butuh banyak proses" ucap Daehan sambil menyesap kopinya. Hari sudah cukup sore, namun mereka berdua enggan untuk pulang.

"Jangan meremehkannya, Daehan. Meskipun ia terkesan tidak melakukan apa-apa, namun sebenarnya sudah banyak hal yang ia lakukan untuk menjaga Seokjin dan menghancurkan Jung Ahn. Kau kan tau sendiri hampir semua usulan rencana ini adalah pendapat Yong Soo" Ji Soo hanya memainkan pen ditangannya. Berhubung tidak ada orangnya mereka bebas membicarakan orang tua keras kepala dan kasar itu.

"Tapi kau tau kan Jeon, meskipun nantinya ia dan perusahaannya hancur, Jung Ahn akan terus mengincar kita, atau bahkan lebih tepatnya mengincar Seokjin. Dan sudah dipastikan ucapanmu akan menjadi kenyataan. Karena bagi kita saat ini, Seokjin adalah kelemahan terbesar kita"

"Dan lebih buruknya Jung Ahn tau akan hal itu" Ji Soo meletakkan pennya dan mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang.

"Bagaimana?"

"..."

Raut muka tuan Jeon sedikit memucat saat mendengar informasi dari seberang sana.

"Lantas bagaimana keadaanya sekarang?"

"..."

"Bagus. Tetap awasi dan hati-hatilah"

"..."

"Terima kasih karena sudah bekerja keras"

Tuan Jeon mematikan panggilannya dan menatap tuan Kim tajam, "Kita harus mengakhiri ini secepatnya Daehan, Jung Ahn akan semakin merepotkan karena pionnya tengah terluka sekarang"

Tuan Kim hanya menggangguk saja, pasti ulah anak-anak mereka. "Lantas bagaimana dengan Sang Wook?"

"Tidak perlu menambah keributan, minta Sangwook untuk membantu Yong Soo saja. Dan kita fokus untuk menjaga Seokjin. Karena kita tidak pernah tau apa yang akan dilakukan orang gila itu"

"Aku harap apa yang terjadi pada Jeo Hoon tidak akan terjadi pada anaknya" ucap tuan Kim datar. Apa yang terjadi pada sahabatnya tidak akan pernah terjadi lagi.

"Kita harus berusaha, Daehan"

.

.

.

Jung Ahn hanya menatap seseorang yang tengah melawan masa kritisnya di sebuah ruangan rumah sakit. Yah, tentu saja Lee Jaehwan. Anak buahnya menemukan Jaehwan tergeletak didalam mobil dengan darah dimana-mana.

Bukannya khawatir, Jung Ahn hanya diam saja, dan dalam hati merutuki kenapa Jaehwan bisa seperti ini. Apakah selemah ini anaknya? Sungguh tidak berguna.

Jung Ahn mengambil ponsel dan menghubungi orang kepercayaannya.

"Bawa anak sialan itu kehadapanku secepatnya"

Jung Ahn hanya menyeringai dan meninggalkan ruang rawat itu. 'Kalian pikir aku akan diam saja'

.

.

.

tbc

terima kasih untuk semua dukungannya

terima kasih juga yg menyempatkan membaca

terima kasih juga yg sudah coment di ff ku

terima kasih semuanya...

dan aku tanpa bosan akan selalu mengatakan, semoga cerita ini masih bisa menghibur kalian :)