You Actually Specials

.

Cast : All member BTS

Genre : Family, Brothership

Rate : T

.

.

.

Part 21

.

.

.

Author Pov

Sore itu, di sebuah perusahaan besar terlihat seorang namja paruh baya yang tengah berjalan angkuh keluar dari ruangannya. Karyawan yang masih terlihat berkeliaran di area kantor pun menundukkan kepala tanda menyapa, yang tidak berbalas apapun. Saat mendengar berita dari orang kepercayaannya, ia segera meninggalkan kantornya dan bergegas menuju tempat anak semata wayangnya berada. Orang tersebut, Lee Jung Ahn lalu memasuki mobil yang sudah dibukakan pintunya oleh seorang pengawal. Dan tanpa sepatah katapun mobil itu segera melaju menuju rumah sakit tempat Jaehwan dirawat.

"Jadi?"

Seorang namja yang duduk disamping pengemudi menoleh sekilas, "Saya mengikuti Seokjin-ssi seperti yang tuan perintahkan. Dan saya melihat tuan muda Jaehwan mengejar mobil Seokjin-ssi sampai sungai Han, yang juga disana ada anak tuan Min Yong Soo dan tuan Kim Daehan."

Jung Ahn mengangguk mengerti, "Dan yang membuat anakku terluka adalah 2 orang itu, ya? Karena aku tidak yakin Seokjin bisa melukainya"

Namja tersebut mengangguk, "Benar, tuan."

Jung Ahn kembali mengangguk, "Hm, jadi anak-anak mereka ikut turun juga ya." Ia lalu melihat langit yang sudah menampakkan warna kemerahan.

"Bukankah sebentar lagi malam?"

"Ne?"

Jung Ahn menyeringai tanpa menanggapi ucapan orang kepercayaannya itu, "Gelap akan segera tiba"

.

Salah satu pasien di ruang VIP di Seoul Hospital masih diperikas oleh seorang perawat, yah Lee Jaehwan. Sedangkan sang dokter tengah berdiri disamping wali dari pasien tersebut, Lee Jung Ahn. Jika dilihat dari kondisinya, tentunya sang pasien sangat mengkhawatirkan, dengan luka parah ditubuhnya, belum lagi ia baru saja melewati masa kritisnya. Seharusnya pihak keluarga tentu saja merasa cemas bukan? Namun nampaknya berbeda dengan orang yang berada disebelah dokter tersebut. Wajahnya nampak tenang, bahkan sedikit menyunggingkan senyum.

"Kami akan berusaha untuk kesembuhan anak anda tuan."

Jung Ahn menatap dokter tersebut dan tersenyum, "Tolong ya"

"Kalau begitu saya permisi." Dokter tersebut berlalu pergi bersamaan dengan perawat yang baru saja keluar dari ruang rawat.

Jung Ahn lalu memasuki ruangan tersebut dan menatap anaknya yang terbaring lemah diatas ranjang rumah sakit. Sepertinya tenang sekali. Ia lalu mengelus pelan rambut Jaehwan, "Istirahtlah dengan tenang ne. Semoga cepat sembuh"

Sedetik kemudian Jung Ahn terkekeh kecil, "Kalau kau berniat meningalkan appa, appa merelakanmu anakku"

"Appa menyayangimu" lalu mengecup kening Jaehwan.

Jung Ahn lalu menatap orang kepercayaannya itu, "Seharusnya aku menghabisi anak itu dari awal. Ayahnya memang hebat menyembunyikannya, tapi aku jelas lebih hebat karena cepat mengetahui keberadaan Seokjin. Pergilah."

"Baik tuan"

Jung Ahn lalu duduk di sofa yang ada dalam ruangan tersebut, "Kita akan segera bertemu"

.

.

Seorang namja paruh baya tengah terduduk di rooftop rumah sakit. Matahari sudah hampir tenggelam, pemandangan yang ia lihat dari tempatnya duduk tersebut sangat mengagumkan. Langit yang kemerahan dan juga angin sore yang berhembus, membuatnya tenang dan mengembangkan senyuman andalannya.

"Hentikan senyum bodohmu itu, Jung"

Mendengar kata bodoh, senyum indah itu pudar dan berganti delikan mata pada namja paruh baya lain yang baru memasuki area rooftop rumah sakit tersebut. Yang satu masih setia memandang, yang satu menghembuskan napas malas. Sebelum akhirnya tawa menghiasai suasana sunyi diantara mereka.

"Sudah-sudah hentikan, kita disini karena bekerja" ucap Jae Won mendengus.

Ya, mereka adalah tuan Jung Sang Wook dan tuan Park Jae Won, yang sedang berkunjung ke Seoul Hospital. Yang katanya ingin menjenguk anak seorang teman. Tapi yang melakukannya hanya tuan Park saja, karena tuan Jung terlalu terpesona dengan pemandangan diatas rooftop.

"Jadi bagaimana keadaannya?" tanya tuan Jung serius. Ayolah ia juga tau kapan harus serius.

Tuan Park hanya menghelas napas, "Dikatakan baik, tubuhnya penuh luka dan belum sadar. Dibilang baik, ia masih bernapas."

.

PLAK

.

"Yak! Kenapa memukulku?"

Tuan Jung mendengus, "Sudah cukup Yong Soo dan anaknya saja yang bermulut pedas, kau tidak usah"

"Tapi kan aku juga bisa kasar, Jimin juga. Kau mau anakku itu membantingmu?" ucap tuan Park kesal. Sepertinya mereka berdua sudah lupa apa yang mereka lakukan disana.

"Aku masih lebih tinggi dibandingkan anakmu"

"JUNG SANG WOOK!"

"IYA PARK JAE WON SAYANG"

"Kita tidak akan selesai membahas ini kau tau?" ucap tuan Park terkekeh. Geli sendiri dengan sikapnya barusan.

Tuan Jung hanya tertawa saja. Hah, memang tawa dan teriakan yang keluar dari mulut mereka berdua. Namun mereka tau, untuk beberapa waktu kedepan sepertinya akan sulit untuk bisa tertawa seperti ini. Karena keadaan sudah mulai berubah. Mereka harus bergerak sebelum masalah semakin besar.

"Jung Ahn sudah tau?"

Tuan Park memandang langit yang mulai kehilangan cahaya merahnya, "Sudah. Dan yang sudah Yong Soo prediksi, sasarannya Seokjin"

Tuan Jung sendiri hanya terdiam memikirkan nasib anak mendiang temannya yang harus mengalami hidup seperti ini. Salah apa anak itu.

"Kenapa mereka tidak mengincar anak kita saja?" tanya tuan Jung.

"Yang ada sebelum menyerang, mereka ber 6 sudah melabrak duluan rumah Jung Ahn"

"Ah, kau benar. Anak kita kan sebenarnya monster bukan?" ucap tuan Jung menatap tuan Park polos.

Sedangkan tuan Park berusaha menahan diri untuk tidak memukul kepala temannya ini, "Jika mereka monster, kita ini apa, bodoh?"

"Ayah monster" dan muncullah senyum Jung Sang Wook

'Aku harap Hoseok tidak bersikap bodoh seperti ayahnya' ucap tuan Park prihatin.

"Tapi aku percaya Seokjin itu kuat. Buktinya ia masih bertahan sampai sekarang. Kita hanya harus kembali menopangnya sampai masalah ini selesai" ucap tuan Jung. Ia hanya berharap ini segera selesai.

"Tentu saja. Kita ada disisinya untuk melindunginya" ucap tuan Park setuju.

Hening kembali hadir diantara mereka, beserta langit yang mulai menggelap. Namun mereka masih betah duduk disana.

"Kau sudah tau bukan kalau Ji Soo memintaku membantu Yong Soo. Sepertinya, ia sudah yakin kalau Jung Ahn akan turun tangan langsung. Belum lagi anak-anak sudah mulai menampakkan diri. Jung Ahn juga tidak akan main-main"

Tuan Jung menatap tuan Park khawatir, "Kau bisa kan meskipun tanpaku?"

.

PLAK

.

"YAK?!"

"Lebih baik kau pergi sekarang dan segera bantu Yong Soo" ucap tuan Park beranjak pergi, ia kesal sungguh. Tapi yang sungguhan ia sedih dan khawatir.

"Kau mengusirku?!" tuan Jung merasa hatinya tersakiti.

"Hati-hati"

Tuan Park terhenti didepan pintu rooftop. Ia masih memunggungi tuan Jung yang tersenyum. Bukan hanya ia dan temannya itu, tapi semua yang akan terlibat pastilah juga khawatir.

"Kau juga, kawan" tuan Jung menghampiri tuan Park dan merangkul bahu temannya itu. mereka lalu turun. Meskipun dalam diam, mereka berusaha menguatkan satu sama lain.

.

.

Seseorang masih betah di ruang kerja pribadinya. Matanya masih menatap layar komputer didepannya. Masih banyak yang harus ia urus, namun kantuk sudah menyapanya.

"Bisa tidak kantuknya datang besok saja?"

Gerutuan itu masih terdengar dari mulutnya sedangkan mata dan tangannya masih sibuk dengan dokumen didepannya. Bagaimanapun sejak 2 jam lalu ia sudah berkutat dengan dokumen ini. Tapi ia harus menyelesaikan ini secepatnya.

Dan.

"Hoam"

Ok. Sudah cukup.

"Sudah, aku tidur saja"

Yah, Min Yong Soo kalah dengan rasa kantuknya.

.

.

.

Bangtan's Mansion

Pagi menyapa disalah satu kamar di mansion yang terlihat masih diisi penghuninya. Mereka nampak masih betah dalam balutan selimut, melupakan masalah yang terjadi kemarin sore. Nyatanya itu hanya sebuah kekhawatiran yang berlebih, ditambah rasa lelah dan bersalah, akhirnya semua itu meluap dan meledak. Namun beruntung, mereka masih bisa bertahan dan kembali bersikap seperti biasa.

Dua orang namja masih betah berpelukan meskipun sinar mentari sedikit mengintip dari celah gorden dijendela kamar, meskipun salah satunya sudah mulai terusik. Namja tersebut membuka perlahan matanya, dan mengintip jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 7 lebih. Sepertinya karena masalah kemarin, membuatnya lelah sampai tidur terlalu malam dan berimbas ia bangun kesiangan. Beruntung ia hanya ada kelas pukul 2 siang nanti. Dan yang lain? Entah. Saat akan menggeliat, tangan seseorang malah menariknya mendekat dan mengeratkan pelukannyanya. Dan yah,salahkan juga pelukan ini yang membuatnya bangun kesiangan.

"Kookie, lepas" Kim Seokjin berusaha melepas tangan Jungkook yang melingkar nyaman dipinggangnya. Tapi bukannya terlepas adanya semakin erat, hingga membuat wajahnya semakin rapat dengan dada bidang Jungkook yang sudah biasa toples saat tidur. Dan Seokjin sudah tidak tahan, hingga.

"Yak! Hyuungg..." Seokjin terkekeh ketika Jungkook melepas pelukannya dan terbangun. Yah, sesekali nipple Jungkook itu perlu diberi pelajaran.

Seokjin malah tertawa melihat Jungkook yang masih mengaduh sakit, yang tanpa sadar malah tersenyum melihat hyungnya tertawa dipagi hari. Yah setelah acara marah-menyesal-menangis- kemarin memang Jungkook tidur dengan Seokjin, yang harus berebutan dengan Jimin, dan Taehyung. Dan memang keberuntungan saat itu berada disisi Jungkook.

Tawa Seokjin berhenti saat ia merasakan elusan tangan Jungkook dipipinya. Seokjin diam dan menatap Jungkook yang tersenyum padanya, "Aku senang melihat hyung tertawa. Dan aku akan berusaha menjaga tawa itu" Seokjin menggenggam tangan Jungkok dipipinya dan balas tersenyum.

"Kau ada kelas?" ucap Seokjin masih memegang tangan Jungkook.

"Aku libur hari ini, begitu juga Tae Tae hyung"

Seokjin mengangguk paham dan beranjak bangun, namun saat akan turun dari ranjang Jungkook memeluknya dari belakang, "hyung, aku menyayangimu" ucap Jungkook sambil bersandar dibahu Seokjin. Sedangkan Seokjin tersenyum dan mengelus lengan Jungkook.

"Kau tidurlah lagi kalau begitu" Seokjin melepas pelukan Jungkook dan berbalik menghadapnya, "Dan hyung juga menyayangimu" ucapnya mengelus rambut Jungkook. Seokjin lalu beranjak menuju kamara mandi meninggalkan Jungkook dengan senyum diwajahnya. Dan setelahnya kembali membungkus dirinya dengan selimut.

.

Di ruang makan hanya ada Yoongi, Jimin, dan Hoseok saja. Sedangkan Namjoon sudah berangkat karena ada kelas pagi. Tidak berpamitan pada Seokjin karena sang hyung masih terlelap dipelukan Jungkook. Kalau Yoongi ada kelas nanti pukul 10, sedangkan Hoseok dan Jimin ada kelas pukul 12. Dan Jungkook serta Taehyung jelas sedang menikmati tidur mereka.

"Appa menghubungiku"

Ucapan tiba-tiba Yoongi membuat pergerakan Jimin dan Hoseok terhenti, namun mereka diam membiarkan Yoongi melanjutkan perkataannya.

"Jaehwan ada di rumah sakit dan masih belum sadar. Imbasnya, kita akan menghadapi ayahnya yang berniat melukai Seokjin hyung" Yoongi dengan tenang tetap melanjutkan acara makannya, "Maka dari itu, para appa meminta kita untuk lebih hati-hati. Karena mungkin apa yang akan terjadi lebih berbahaya bagi Seokjin hyung"

Sedangkan Jimin dan Hoseok yang awalnya berhenti, kembali menyelesaikan makannya. Dan selang beberapa menit tidak ada pembicaraan sampai acara sarapan mereka selesai.

"Tapi aku khawatir masih ada beberapa orang yang akan menyakiti Seokjin hyung di kampus, hyung. Karena aku tidak yakin orang yang pernah kita balas akan berhenti begitu saja" ucap Jimin. Karena Minju dan Euna masih terus memantau dan belum ada perubahan dengan 2 orang yang mereka awasi.

"Dan aku yakin Young Joo tidak akan tinggal diam juga, meskipun teman Jungkook sudah memberinya pelajaran" Hosoek juga tak ingin ambil pusing sebenarnya. Namun karena masih ada yang berniat buruk pada Seokjin, mereka harus berpikir ulang untuk memberinya pelajaran.

"Hanya mereka bertiga, bukan? Kalau begitu tidak perlu khawatir"

Hoseok mengernyit, "Kau nampak lebih tenang, hyung. Aku jadi merasakan sesuatu yang aneh"

Sedangkan Yoongi hanya tersenyum saja, "Tidak. Tentu saja aku tidak akan tenang. Hanya saja aku sudah meminta Hanbin dan Bobby untuk membantu teman kalian"

"Setidaknya untuk saat ini ada orang lain yang membantu kita mengawasi Seokjin hyung" Jimin dan Hoseok mengangguk. Jika masalah semakin besar, mereka terpaksa meminta bantuan seorang teman.

"Lantas masalah ayah Jaehwan, hyung?" tanya Jimin, karena itu adalah masalah utama mereka.

Yoongi hanya menghela napas, sepertinya hal buruk akan kembali terjadi. "Appa hanya meminta kita untuk lebih hati-hati, dan waspada dengan hal yang ada disekitar Seokjin hyung karena kita tidak pernah tau apa yang akan dilakukan ayah Jaehwan" Jimin dan Hosoek mengangguk.

"Selamat Pagi"

"Pagi" Yoongi, Hoseok, dan Jimin melihat Taehyung yang tengah berjalan dengan sempoyongan. Matanya masih setengah tertutup namun beruntung ia tidak tersandung sesuatu saat berjalan. Ia lalu duduk disamping Hoseok dan menuangkan air putih digelas kosong.

"Tumben kau sudah bangun, Tae?" tanya Hoseok. Tidak biasanya salah satu dari 2 maknae mereka akan terbangun sepagi ini jika sedang libur.

Taehyung menyelesaikan minumnya dan menatap Hoseok, "Aku lapar, hyung. Nanti kalau sudah kenyang aku akan tidur lagi" ucapnya dan mengambil pancake yang tersedia didepannya. Sedangkan 3 hyungnya hanya menggeleng pasrah dengan kelakuan Taehyung.

"Pagi" berbeda dengan Taehyung, Seokjin turun dalam keadaan segar.

"Pagi hyung" ucap mereka bertiga, kecuali Taehyung yang menggumam karena masih mengunyah makanan dimulutnya. Seokjin tersenyum dan duduk disebelah Yoongi.

"Kalian sudah sarapan?" tanya Seokjin saat memulai makannya.

"Sudah hyung" jawab Jimin. Ia masih menatapi Seokjin dengan lekat, "Melihatmu tenang begini hyung, aku semakin merasa bersalah atas kejadian kemarin, hyung"

Seokjin dan Taehyung lantas menghentikan makan mereka. Bedanya Seokjin hanya tersenyum, sedangkan Taehyung cemberut dengan aura suram disekitarnya. Yoongi dan Hoseok hanya menghelas napas, tapi tersenyum karena akibat masalah kemarin mereka bisa lebih terbuka dan lebih dekat lagi.

"Sudahlah, lupakan saja. Jangan menganggu mood Taehyung, Jiminie" ucap Seokjin terkekeh.

Sedangkan Jimin balik menatap Taehyung yang dengan malas-malasan mengunyah sarapannya, "Maafkan aku ya Tae, aku memang sengaja menyindirmu" ucap Jimin tersenyum dan Taehyung mendelik menatap Jimin. Sedangkan Hoseok tertawa dan Yoongi serta Seokjin hanya menggelengkan kepala saja.

"Dimana Namjoon?" tanya Seokjin saat menyelesaikan sarapannya.

"Dia ada kelas pagi hyung. Saat akan pamit padamu kau masih tidur, dan dia tidak mau membangunkanmu" jelas Yoongi. sedangkan Seokjin mengangguk mengerti.

Taehyung yang sudah menyelesaikan makannya lalu beranjak mendekati Seokjin dan memeluk lehernya dari belakang, "Hyung, ayo temani aku tidur"

"Yak enak saja! Seokjin hyung ayo nonton film saja denganku di ruang tengah" Jimin yang tidak mau kalah langsung mendekati Seokjin dan merangkul lengannya.

"Tidak-tidak. Tadi malam Jungkook sudah memonopoli Seokjin hyung, jadi sekarang giliranku Park Jimin" ucap Taehyung semakin mengeratkan pelukannya membuat Seokjin sedikit terdorong ke depan.

"Tidak. Lagipula Seokjin hyung ada kelas nanti, jadi lebih baik tidak usah tidur lagi" Jimin juga dengan semangat memeluk Seokjin dengan erat. Seokjin sendiri hanya menghela napas melihat kelakuan Jimin dan Taehyung yang sedang kambuh manjanya itu. Dan beralih menatap tajam Yoongi dan Hoseok yang tertawa dengan keadaan Seokjin yang terhimpit 2 maknaenya itu.

Seokjin hanya mendengus dan tertawa setelahnya, "Tae ayo kita tidur di ruang tengah, sambil menemani Jimin menonton film"

Jimin dan Taehyung yang bertengkar lalu terdiam sambil memandang satu sama lain, lalu balik menatap Seokjin yang tersenyum, "Ayo!" Seokjin meringis mendengar teriakan 2 orang ditelinganya. Dan dengan tidak sabar Seokjin ditarik menuju ruang tengah untuk menemani 2 maknaenya yang cemburu dengan Jungkook.

Hoseok tertawa melihat kepergian hyungnya dan maknaenya itu, namun tawanya mereda saat kembali mengingat masalah yang mereka bahas tadi, "Yoongi hyung, kita harus lebih berusaha lagi"

Yoongi yang mendengar ucapan Hoseok mengangguk mengerti, "Tentu saja. Langit tentu butuh bulan untuk menerangi malam."

.

.

.

Big Hit Art University

Kim Namjoon baru saja menyelesaikan kelas pertamanya dan menuju kantin untuk menyegarkan pikirannya. Sama halnya dengan Yoongi, Namjoon juga dihubungi oleh ayahnya pagi tadi mengenai masalah Seokjin. Bukan lagi Jaehwan masalahnya, tapi dalang dari semua ini, Lee Jung Ahn. Seokjin tidak akan mendapat perlakuan buruk di kampus kalau dari awal Seokjin menjadi bagian Bangtan. Seokjin juga tidak harus menjalani hidup yang sederhana kalau saja orang tuanya masih ada. Dan semua rintangan dihidup Seokjin tidak akan separah ini kalau Lee Jung Ahn tidak membunuh orang tua Seokjin.

Namjoon menggelengkan kepalanya dan menghembuskan napas perlahan, ia tidak boleh meluapkan emosi di kampus dalam keadaan tanpa pengawalan. Yah tidak ada Hoseok yang menenangkannya, atau Yoongi yang akan dengan santainya memukul kepalanya. Memang terasa sepi kalau sendirian begini.

"Aku tau kau butuh teman, bukan?" Namjoon menolehkan kepala pada seseorang yang mengalungkan lengan dibahunya, Jackson.

Namjoon hanya mengerlingkan mata, dan mencari tempat duduk di kantin masih dengan Jackson yang menempelinya. Selain dari Bangtan, Namjoon juga dekat dengan Jackson dan juga,

"Yo"

Mark. Anak itu langsung duduk disamping Namjoon sedangkan Jackson sedang memesan makanan sambil menggoda adik tingkat. Namjoon jadi merasa aneh, apa kedua temannya ini bisa mendengar suara hatinya,

"Sepertinya kau sedang banyak pikiran"

Namjoon hanya menoleh pada Mark dan mengangguk. Yoongi sudah bilang padanya jika ia meminta Bobby dan Hanbin untuk membantu menjaga Seokjin, apa ia minta bantuan juga pada temannya ini?

"Hey"

Namjoon tersadar dari lamunannya, "Maaf"

Mark menghela napas, "Kau tau bukan, kalau kau masih memiliki kami? Kemarin saat kau panik aku hampir saja akan menyusulmu, namun Yugyeom menghalangiku karena ia juga melihat Jungkook langsung berlari karena panik. Apa ada masalah?"

Namjoon menghela napas, ia jadi mengingat kembali masalah kemarin. Apalagi ia tadi pagi tidak pamit pada Seokjin. Yah mau bagaimana lagi ia melihat sang hyung tengah tertidur dengan lelap.

"Seokjin lagi?"

Dan mau tidak mau, Namjoon mengangguk. Ia menatap Mark dengan tajam, "Aku bisa meminta bantuanmu, bukan?"

Mark balik menatap Namjoon, "Kau bisa mengandalkanku"

"Dan jangan lupakan aku juga" ucap Jackson sambil duduk dan memberikan minuman pada Namjoon dan Mark, serta meletakkan makanannya sendiri dihadapannya.

"Jaebum dan juga Jinyoung juga khawatir pada kalian. Jadi jangan sungkan meminta bantuan, teman" ucap Jackson sambil mulai makan. Sedangkan Namjoon tersenyum mendengarnya, ia bersyukur memiliki teman seperti mereka. Mark menepuk bahu Namjoon pelan, menguatkannya.

.

.

Pukul 2 kurang Seokjin sudah berada di kampus. Ia tidak menyetir sendiri, karena Jungkook dan Taehyung yang mengantarnya. Sedangkan nanti ia akan pulang bersama dengan Namjoon, karena jam kuliahnya sama dengannya. Sedangkan Yoongi, Hoseok dan Jimin, kelas mereka sampai sore, belum lagi jika ada tambahan, bisa sampai malam.

Namun saat memasuki kelasnya yang terlihat adalah kelas yang masih kosong. Saat melihat jam tangannya, sudah menunjukkan pukul 2 kurang 5 menit. Seokjin memilih keluar dan duduk dibangku luar, tapi yang Seokjin lihat tidak ada teman-temannya yang memasuki kelas atau bahkan berkeliaran di depan kelas. Sedangkan Minhyuk sedang libur hari ini. Selain dengan Minhyuk, Seokjin tidak terlalu dekat dengan teman dari kelas lain. Dan hari ini adalah salah satunya ia pergi tanpa Minhyuk disampingnya. Tapi setidaknya ia tidak merasa takut sekarang.

"Seokjin?"

Seokjin menatap seseorang yang berjalan mendekat kearahnya. Sepertinya ia kenal anak ini, "Eoh? Jinhwan?"

Orang yang dipanggil Jinhwan itu tersenyum dan duduk disampingnya, Seokjin balas tersenyum. Jinhwan adalah salah satu orang yang tidak pernah mengusiknya di kampus, bahkan ia beberapa kali tersenyum pada Seokjin saat berpapasan. Jadi Seokjin yakin Jinhwan anak yang baik.

"Kau ada kelas Miss Lee, ya?"

"Ne. Apa kau juga ada kelas Miss Lee? Aku daritadi tidak melihat ada anak lain disini"

Jinhwan menggaruk lehernya merasa bersalah, "Maaf Seokjin, seharusnya aku memasukkan kontakmu ke grup chat kelas Miss Lee"

"Ne?"

Jinhwan jadi merasa semakin bersalah, "Miss Lee hari ini tidak masuk karena sakit, Seokjin"

"Benarkah?" Seokjin terkejut. Ya ampun ia percuma datang ke kampus.

"Maafkan aku karena terlambat memberitahumu" Jinhwan menundukkan kepalanya.

Seokjin menggeleng dan tersenyum, "Sudahlah. Terima kasih ya sudah memberitahuku. Apa kau tidak pulang karena ingin memberitahuku ini?" tanya Seokjin. Kalau itu benar, Seokjinlah yang merasa bersalah. Dan memang benar dugaan Seokjin.

"Ne. Aku memang menunggumu, karena aku yakin tidak ada yang memberitahumu tentang ini"

Seokjin menggenggam tangan Jinhwan, "Maafkan aku karena merepotkanmu"

Jinhwan langsung menggelengkan kepala, "Tidak Seokjin, aku senang membantumu. Tidak perlu minta maaf"

Seokjin tersenyum, "Terima kasih ya"

"Sama-sama" ucap Jinhwan ikut tersenyum.

Meskipun mereka tidak begitu dekat, Seokjin sangat senang ada Jinhwan bersamanya sekarang. Kalau sekarang tidak ada kelas, apa yang harus Seokjin lakukan? Menunggu Namjoon pulang? Anak itu masih 2 jam lagi selesai. Yoongi? Ada kelas. Begitupun Jimin dan Hoseok. Jungkook dan Taehyung? Pasti mereka baru sampai rumah. Kasihan kalau mereka kembali.

"Aku akan menemanimu. Jangan khawatir"

Seokjin tersadar dari lamunanya. Jinhwan menatapnya dan menganggukkan kepala tanda kepastian. Seokjin jadi merasa tidak enak.

"Tidak perlu, Jinhwan. Kau bisa pulang. Aku akan menunggu Namjoon di tempat parkir"

"Sudahlah, ayo aku temani saja. Daripada kau sendirian" Jinhwan lalu menarik lengan Seokjin dan mengajaknya ke tempat parkir. Sedangkan Seokjin hanya diam saja, namun akhirnya tersenyum juga. Ia jadi tidak sendirian saat menunggu Namjoon.

Koridor jelas sepi karena hampir semua mahasiswa ada kelas. Bahka area parkir tempat berkumpul anak-anak bersantai juga sepi. Memang selain kantin, area parkir adalah tempat yang sering digunakan anak-anak untuk bersantai. Karena berada diarea terbuka membuat suasana cerah langit terlihat jelas. Jinhwan juga masih semangat menariknya menuju kesana.

Namun saat beberapa langkah keluar dari gedung kampus, ketika Jinhwan berusaha menghalangi sinar mentari mengenai matanya, ia terbelalak dan segera menarik Seokjin menjauh dan mendekapnya.

PRANG

Seokjin yang tidak menyadari gerakan tiba-tiba Jinhwan jelas terkejut. Ia berdebar dalam dekapan Jinhwan dengan lengannya yang menempel diatas kepalanya. Seolah melindunginya dari sesuatu.

Tunggu? Sesuatu itu, Seokjin perlahan berbalik dan menemukan pecahan keramik. Seokjin terbelalak melihat itu. Barusan itu bunyi benda itu? Jatuh dari... atap. Saat Seokjin melihat keatas, nampak sekelebat bayangan seseorang.

"Jin..hwan" ucap Seokjin masih belum percaya dengan semua ini.

"Ada orang yang ingin melukaimu, Seokjin" ucap Jinhwan datar. Matanya masih menatap tajam area atap. Saat ia menolehkan kepalanya keatas, ia memang melihat seseorang yang menjatuhkan sebuah keramik, seperti sebuah guci. Dan arahnya tepat sekali di atas Seokjin. Sepertinya Hanbin benar menyuruhnya menemui Seokjin, karena hal seperti ini tidak bisa dipastikan. Karena kapanpun nyawa Seokjin bisa terancam. Dan masalahnya ia tidak tau siapa orang itu.

Sedangkan Seokjin masih terdiam dan menatap nanar pecahan keramik yang sudah hancur itu. baru saja kemarin ia baru lolos dari Jaehwan. Tapi sekarang, Seokjin jadi pusing sendiri dengan semua yang terjadi.

'Siapa? Siapa yang ingin mencelakaiku?'

.

.

.

tbc

semoga masih menikmati cerita ini :)