You Actually Specials
.
Cast : All member BTS
Genre : Family, Brothership
Rate : T
(beberapa kalimat mungkin agak sedikit yah...begitulah. keras sih ga terlalu, tapi ya agak serem juga. jadi hati-hati ya)
.
.
.
Part 22
.
.
.
Author Pov
Dendam. Perasaan itu akan terus menggerogoti hati manusia jika terus dirawat. Menyimpan benci, marah, iri akan hidup seseorang, dan perasaan ingin menyakiti, membuat dendam tersebut tanpa tersadar tengah dihimpun agar semakin besar. Dan secara tidak sadar manusia semakin menumbuhkan sifat buruknya tanpa tau akibat yang akan ditimbulkan.
Tangan perempuan itu masih bergetar setelah melepas benda berat nan indah itu dari atap kampusnya. Pandangan mata yang tidak fokus, serta keringat dingin yang mengalir dipelipisnya menunjukkan perasaan ketakutannya. Bukankah seharusnya ia senang? Bukankah membalas dendam itu adalah kesenangannya? Lantas kenapa ia malah memasang raut khawatir yang kentara diwajahnya?
Inha memang selalu mengganggu Seokjin. Membuat hidupnya menderita, dengan tingkah usil serta bullyan yang ia lakukan saat melihat Seokjin dihadapannya. Ia hanya akan diam saat ada dosen saja. Selepas itu, Inha akan memberikan neraka untuk Seokjin. Bukan hanya dia seorang, karena memang hampir sebagian anak kampus Big Hit suka bermain dengan Seokjin yang jelas tidak akan pernah melawan. Itulah yang membuatnya senang kala melihat Seokjin terdiam menerima semua ulahnya.
Namun 2 tahun ini, Inha sama sekali tidak menyangka akan melakukannya sejauh ini. Masih terbayang jelas ulahnya barusan yang bisa saja merenggut nyawa Seokjin. Inha sama sekali tidak pernah membayangkannya. Ya, Inha lah yang menjatuhkan guci agar mengenai Seokjin, untuk melukainya. Ia bahkan masih terengah setelah semua yang terjadi, meskipun ia tau Seokjin selamat.
Inha berusaha bangkit namun kakinya lemas hingga membuatnya kembali terduduk di lantai. Matanya melihat area sekitar seolah meyakinkan bahwa tidak ada orang yang melihatnya melakukan tindakan kejahatan barusan. Inha takut. Tidak. Ia tidak mau dituduh melakukan kejahatan.
"Tidak. Aku tidak sengaja menjatuhkannya. Aku juga tidak tau kalau ada Seokjin dibawah. Tanganku licin, jadi guci itu tanpa sengaja terjatuh. Ini kecelakaan. Ya, ini hanya kecelakaan." Inha tersenyum. Iya tangannya licin karena berkeringat, saat memegang guci itu.
"Kecelakaan berencana maksudmu?" seketika senyum Inha menghilang. Tampak dari balik pintu atap kampus Euna yang sedang berdiri. Raut wajahnya tampak datar namun memandang Inha tajam.
Inha yang masih terduduk memundurkan dirinya hingga menabrak tembok pembatas. Wajahnya semakin ketakutan saat Euna semakin mendekat, "Apa maksudmu... aku... aku... tidak..."
"Berhenti bertingkah menjijikkan Park Inha. Apa yang kau lakukan barusan sudah menjadi bukti kelakuanmu itu. Jadi tidak usah pura-pura mengelak"
Dari awal Inha menuju atap, Euna selalu mengikuti Inha. Bagaimanapun Jimin dan Hoseok sudah meminta bantuannya untuk mengawasi Inha, dan beruntungnya selama ini ia terus membuntutinya. Ia pikir Inha akan berhenti kala teror di kamar mandi kampus. Tapi ternyata ia kembali berulah, bahkan lebih parah.
Euna semakin mendekat pada Inha yang masih ketakutan. Dan saat sampai dipembatas atap, Euna masih bisa melihat pecahan guci yang berserakan dibawah, namun ia tidak melihat darah atau apapun. Dan Euna bersyukur Seokjin masih selamat kali ini.
Inha yang merasa tak diawasi segera merangkak untuk menghindari Euna. Namun belum sempat bangkit, ia merasakan tarikan dirambutnya,
"Ahhh!!"
Inha kembali terduduk dan kali ini berhadapan langsung dengan Euna, "Lepaskan aku!"
Euna semakin menarik rambut Inha dan menyeretnya menjauh. Tak menghiraukan teriakan Inha yang memekakkan telinganya. Bahkan ia sama sekali tak peduli kala ia melihat air mata Inha yang keluar karena menahan sakit dikepalanya.
"Ku mohon, lepaskan aku"
Euna mendorong Inha hingga tersungkur, ia menyeringai "Apa yang kau mohonkan dariku hah?"
"Kau itu wanita yang tidak punya rasa berterima kasih sama sekali. Apa sudah kau jual juga bersamaan dengan kau jual harga dirimu?"
Inha membelalak dan menatap Euna terkejut. Sang empunya malah terkekeh melihat wajah berantakan Inha. "Seokjin oppa bahkan dengan baik membiarkanmu hidup tenang, kenapa kau senang sekali menganggu ketenangannya? Kalau kau iri seharusnya kau berusaha keras untuk menandinginya, bukan bertingkah sebagai pengecut dengan menyakitinya"
Euna menarik dagu Inha, "Seharusnya kau bersyukur dengan hidupmu Inha. Seokjin oppa harus bertahan menghadapi bullyanmu 2 tahun ini dan ia tak membalasmu atau bahkan dendam padamu, dan beruntung sampai sekarang ia masih bertahan. Dan jika kau yang berada diposisinya, aku tidak yakin kau akan hidup dengan baik, mungkin saja kau berkeinginan jalan-jalan ke alam baka saat hidupmu harus seburuk itu"
"Seharusnya kau berhenti sejak aku memperingatimu di toilet, Inha"
Inha semakin terkejut mendengar perkataan Euna. Jadi tulisan ditoilet itu ulah Euna? Jadi dia yang melakukannya? "Kau!!"
"Apa?!"
Euna menatap remeh Inha yang seolah tengah marah padanya, "Kau sudah sepantasnya mendapatkan kata-kata itu"
"Kurang ajar kau! Aku akan membalasmu, aku tidak terima ulahmu itu..."
PLAK
"Lebih baik kau diam disini sambil menunggu orang yang akan mengurusi kesalahanmu itu"
Inha yang menunduk kembali menatap Euna, "Apa maksudmu, Euna Kim?!" Tidak. Ia harus pergi. Ia yakin, orang yang dimaksud Euna adalah Bangtan. Tidak. Inha tidak mau berurusan dengan mereka, ia tidak ingin hidupnya hancur.
Inha yang semakin ketakutan mendorong Euna dan berlari menjauh, namun belum sempat meraih pintu. Ia merasa sesuatu yang keras menghantam tengkuknya dan membuatnya kehilangan kesadaran. Euna yang berada dibelakangnya hanya menghelas napas dan kembali menyeret Inha dari pintu setelah membuang balok kayu ditangannya yang ia gunakan untuk memukul Inha.
"Hah. Aku harus membolos untuk menjaga wanita ini." Ia lalu mengambil ponselnya dan mengirim pesan. Dan setelahnya ia duduk disamping Inha yang pingsan sambil bermain ponselnya.
"Akhirnya selesai juga" Ia sekarang bisa istirahat dengan tenang tanpa harus menerima rentetan pesan Park Jimin lagi.
.
.
.
Di area parkir yang sepi, tepat disamping mobil Jinhwan, Seokjin masih terduduk dengan wajah terkejutnya. Ia masih merasa kejadian barusan hanyalah mimpi karena terlalu tiba-tiba untuknya. Kalau saja tidak ada Jinhwan bersamanya, bukankah ia sudah mati sekarang?
Memikirkannya membuat Seokjin semakin sesak. Ia tidak bisa memikirkan siapa yang ingin membunuhnya disini? Terlalu rumit baginya. Karena Seokjin merasa pembullyan yang terjadi padanya dulu tidak sampai seekstrim ini.
"Hey, tenanglah Seokjin. Kau masih baik-baik saja. Tidak akan ada yang melukaimu disini" ucap Jinhwan yang duduk disampingnya. Ia berusaha menenangkan Seokjin yang masih syok. Ia juga sudah menghubungi Hanbin tentang masalah yang terjadi.
"Aku tau. Hanya saja"
"Tenanglah. Aku akan menemanimu disini sampai Namjoon selesai kuliah. Tidak akan terjadi apa-apa. Minumlah dulu" Jinhwan menyodorkan sebotol air mineral pada Seokjin. Setidaknya hal ini yang bisa ia lakukan sekarang. Jinhwan mengelus bahu Seokjin dan turun kelengannya. Ia juga mengucapkan kata-kata penenang 'Tenanglah. Tidak apa-apa' berkali-kali. Dan beruntung Seokjin sedikit jauh lebih baik.
Seokjin menatap Jinhwan yang masih mengelus bahunya itu, "Terima kasih ya Jinhwan. Aku tidak tau kalau tidak ada kau disini" Jinhwan hanya tersenyum dan mengangguk.
Setelahnya hanya keheningan yang menemani mereka. Baik Jinhwan yang masih setia menemani dan Seokjin yang masih berusaha untuk tetap tenang. Semilir angin yang berhembus entah mengapa membuat Seokjin mengantuk. Dan perlahan mata Seokjin mulai terpejam menikmati perasaan tenang yang mulai menghampiri. Didetik kesadarannya mulai menghilang, tanpa sadar kepalanya telah bersandar dibahu Jinhwan. Jinhwan sendiri hanya membiarkan saja, tanpa berniat mengusik. Ia mendekatkan dirinya pada Seokjin dengan terus mengelus lengannya.
"Aku sangat bersyukur kau masih bertahan sampai saat ini Seokjin. Kalau saja sampai terjadi sesuatu padamu, mungkin kampus ini akan hancur karena mereka"
Jinhwan sedikit bergidik membayangkan tingkah 6 orang yang sangat menakutkan saat mereka marah. Mungkin Jinhwan memang baru mengenal mereka saat kuliah. Namun mendengar cerita Hanbin yang lebih lama mengenal Yoongi, membuatnya harus berpikir ulang saat akan membuat masalah dengan mereka.
"Semoga saja mereka tidak kelepasan saat menemukan orang yang berada di atap itu"
Jinhwan hanya menghela napas, ia hanya bisa berharap saja. Ia beralih menatap Seokjin yang sudah terlelap lalu memeluknya erat. Jinhwan harus merelakan tubuhnya pegal untuk beberapa waktu kedepan. Lagipula masih 2 jam lagi sebelum jam kuliah Namjoon berakhir.
.
.
Hanbin langsung berlari saat melihat Yoongi segera keluar kelas. Ia harus menghentikan temannya itu sebelum masalah semakin besar. Memang Jinhwan sudah menghubunginya, namun ia baru memberitau Yoongi saat kelas baru berakhir. Ia tidak mungkin mengganggu konsentrasi Yoongi, lagipula Seokjin sudah ditemani Jinhwan jadi Hanbin yakin mereka berdua baik-baik saja.
"Min Yoongi tunggu!" Hanbin segera menarik pergelangan tangan Yoongi untuk menghentikannya, "Tenangkan dirimu"
Yoongi yang kesal menatap Hanbin tajam dan menghempaskan tangannya, "Tenang bagaimana?! Terjadi sesuatu pada Seokjin hyung dan kau tidak memberitauku?!"
Hanbin kembali menahan Yoongi yang akan pergi, "Baik. Aku minta maaf. Tapi Seokjin sudah ditemani Jinhwan disana. Lebih baik tenangkan sedikit pikiranmu, atau semua akan bertambah buruk"
Yoongi terdiam sejenak. Pikirannya melayang pada kejadian kemarin saat emosinya tidak ia tahan. Iya. Seokjin yang harus menerima imbasnya. Yoongi yang tidak mau kejadian itu terulang memilih memejamkan mata untuk menenangkan pikirannya. Hanbin yang melihatnya menepuk pelan bahu sang teman.
"Tenang. Seokjin baik-baik saja. Lebih baik sekarang kita kesana dulu sebelum masuk kelas. Jangan membolos lagi Yoongi, Kwon ssaem nanti akan marah" alasan Hanbin tak memberitau Yoongi karena ia tau sifat temannya ini yang akan melakukan segalanya untuk sang hyung, jangankan bolos, kalaupun harus membakar kampus ini sepertinya dia mampu.
"Aku juga mengkhawatirkan Seokjin, makanya aku meminta Jinhwan untuk mengawasi karena mereka 1 kelas. Tanpa tau kalau hal seperti ini akan terjadi. Jadi daripada kau kelepasan tenangkan dirimu sebelum kau meledak dihadapan Seokjin. Lagipula aku juga sudah menghubungi Bobby untuk memberitau Namjoon, jadi kemungkinan dia sudah disana. Sekarang tenanglah."
Hanbin lalu merangkul Yoongi dan mengajaknya ke tempat Seokjin. Yoongi hanya menghelas napas, menghilangkan pikiran buruk dan emosi yang sempat menguasai pikirannya.
"Maaf"
Hanbin hanya menepuk bahu Yoongi dan terus berjalan.
Sesaat sebelum sampai ditempat Seokjin, Yoongi dan Hanbin bisa melihat Namjoon dan juga Bobby sudah berdiri dihadapan Seokjin dan Jinhwan. Saat sampai disana, Hanbin bisa melihat Namjoon yang berdiri menahan marah, tangannya mengepal dengan aura gelap yang melingkupinya. Sedangkan Bobby hanya diam saja sambil sesekali mengelus bahu Namjoon untuk menenangkannya. Yoongi sendiri langsung berjongkok dihadapan Seokjin yang masih terlelap dipelukan Jinhwan.
"Seokjin baik-baik saja, Yoongi. Dia hanya syok sebentar sebelum tertidur" ucap Jinhwan pelan. Yoongi yang melihat Seokjinpun merasa tenang karena sang hyung tidak terluka. Tangannya terangkat untuk mengelus rambut Seokjin tanpa berniat membangunkannya.
"Ini bukan salahmu, Namjoon. Semua yang terjadi adalah kecelakaan. Tapi meskipun begitu, aku sangat yakin ini semua rencana seseorang yang ingin mencelakai Seokjin. Karena aku memang melihat siluet seseorang diatap" ucap Jinhwan menjelaskan. Bagaimanapun awalnya Seokjin akan pulang dengan Namjoon, dan otomatis Namjoonlah yang merasa lebih bersalah.
Yoongi berdiri dan menghadap Namjoon, lalu menarik Namjoon kedalam pelukannya. Mengelus rambutnya pelan, "Tahan emosimu. Jangan sampai hal kemarin terjadi lagi"
Namjoon menghela napas dan membalas pelukan Yoongi. Ia mengangguk dan melepas pelukannya sebelum beralih menatap Seokjin yang masih terpejam.
"Siapa?"
Jinhwan hanya terdiam dan menggeleng. Jinhwan tak melihat jelas orang itu, yang ia tau kalau ada orang disana yang kemungkinan adalah orang yang ingin mencelakai Seokjin.
DRT
Yoongi mengambil ponselnya dan melihat nama Hoseok disana.
"Ne Hobi"
"..."
"Siapa?"
"..."
"Lantas kau dimana sekarang?"
"..."
"Kau yakin?"
"..."
"Baiklah. Ku percayakan padamu. Tapi jangan berlebihan."
PIP
"Yoongi hyung"
Suara Namjoon membuatnya menoleh, "Biar itu menjadi urusan Hoseok. Kau tetap antar Seokjin hyung pulang"
"Tidak bisa seperti itu, hyung" Namjoon menggeram tidak terima. Ia juga ingin tau siapa dalang semua ini.
"Jangan memperburuk keadaan, Namjoon. Utamakan kondisi Seokjin hyung. Biar masalah ini menjadi urusan Hoseok dan Jimin. Mereka sudah menemukan orangnya" ucap Yoongi. Ia juga tidak bisa ikut dalam hal ini. Selain karena ada kelas, penyebab semua ini adalah incaran Hoseok dan Jimin. Yoongi hanya membiarkan hal ini mereka selesaikan sendiri.
Namjoon yang memang penasaran dan terlanjur marah karena pelakunya sudah ditemukan akan pergi untuk menemui Hoseok. Namun tangan Yoongi lebih cepat dari pergerakannya.
"Sudah ku katakan biar ini menjadi urusan mereka Namjoon"
"Tapi hyung"
"Kim Namjoon!"
"Eungh"
Mereka berempat menolehkan kepala kearah Seokjin yang mulai membuka matanya. Jinhwan merenggangkan pelukannya dan membantu Seokjin duduk. Sedangkan Yoongi mengumpat atas kesalahannya berteriak barusan, Namjoon langsung memeluk Seokjin yang masih mengumpulkan kesadarannya. Jinhwan yang sadar akan situasi beranjak dari duduknya dan berdiri disamping Hanbin.
"Eh Namjoon, kuliahmu sudah selesai?" tanya Seokjin yang mulai sadar akan keadaannya yang tengah berada dalam pelukan Namjoon.
Seokjin yang tidak mendapat balasan jadi bingung sendiri, apalagi pelukan Namjoon semakin erat. "Namjoon"
"Syukurlah kau baik-baik saja, hyung. Aku takut kau terluka" ucap Namjoon pelan. Saat pertama datang dia memang hanya berdiri diam disamping Seokjin. Melihat Seokjin tertidur ia sedikit tenang, karena ketika Bobby mendatanginya dan memberitahukan perihal Seokjin, Namjoon benar-benar panik. Beruntung Bobby bersamanya, kalau tidak Namjoon pasti sudah mengamuk.
Sokjin hanya tersenyum dan balas memeluk Namjoon. Ia mengelus punggung tegap Namjoon yang masih betah memeluknya. Saat mengalihkan mata, ia melihat Yoongi yang menatapnya. Dari raut datarnya Seokjin masih bisa melihat jejak kelegaan dari tatapan matanya. Seokjinpun tersenyum pada Yoongi dan sedikit mengangguk menandakan bahwa ia baik-baik saja.
Namjoon melepas pelukannya dan menatap Seokjin, "Kita pulang sekarang ya, hyung"
Seokjin hanya mengangguk saja. Ia lalu menatap Jinhwan beserta Bobby dan Hanbin yang baru ia sadari keberadaannya. "Terima kasih ya kalian bertiga. Terutama kau Jinhwan, terima kasih sudah menemaniku menunggu Namjoon" ucap Seokjin tersenyum.
"Tidak perlu berterima kasih, Seokjin. Aku kan sudah bilang akan menemanimu" ucap Jinhwan tersenyum lebar. Melihat Seokjin yang sudah tersenyum membuat Jinhwan juga merasa tenang. Sedangkan Hanbin dan Bobby hanya mengangguk menanggapi Seokjin.
Namjoon menepuk bahu Bobby, "Aku pulang dulu. Terima kasih ya, Jinhwan dan Hanbin juga. Hyung aku pergi dulu. Ayo Seokjin hyung" ucap Namjoon dan beranjak menuju mobilnya. Sedangkan Seokjin bergantian memeluk Hanbin, Bobby dan Jinhwan sebagai ucapan terima kasih, dan berakhir dengan memeluk Yoongi.
Dan memang sudah Seokjin duga, pelukan Yoongi begitu erat. Seokjin sendiri juga balas memeluk dengan erat. "Aku baik-baik saja, Yoon. Tidak perlu khawatir."
Yoongi sendiri masih menenggelamkan kepalanya diceruk leher Seokjin, menghelas napas sejenak dan melepas pelukannya, "Sampai rumah istirahatlah, hyung"
Seokjin mengangguk dan sekilas mengecup pipi Yoongi, "Aku pulang, Yoon. Sampai jumpa kalian semua" Hanbin mengangguk sambil tersenyum, sedangkan Jinhwan dan Bobby melambaikan tangan mereka sampai Seokjin masuk kedalam mobil Namjoon.
Mereka berempat masih berdiri disana sampai mobil Namjoon menghilang dari pandangan mereka. Beberapa saat setelah mobil Namjoon pergi, aura disekitar mereka kembali terasa mencekam. Dan serempak mereka menatap Yoongi yang masih setia dengan wajah datarnya.
"Jinhwan"
"Eh..i-iya" Jinhwan hanya terkejut, ia tidak takut.
Yoongi menatap Jinhwan, "Terima kasih sudah menjaga Seokjin hyung"
Sebenarnya Jinhwan sedikit senang karena Yoongi berterima kasih padanya. Namun kalau dengan wajah datar dan suara serak begitu, Jinhwan jadi merasa diintimidasi. Jadi Jinhwan hanya mengangguk saja sambil tersenyum canggung, tidak sadar kalau ia sedikit takut sekarang. Sedangkan Hanbin dan Bobby hanya terkekeh melihat Jinhwan yang memang tidak terlalu dekat dengan Yoongi. Hanbin lalu beralih menatap Yoongi yang tengah menatap atap kampus mereka.
"Jadi?"
Yoongi hanya menatap Hanbin sekilas, "Biar mereka yang selesaikan. Bukankah kita ada kelas sekarang" ucap Yoongi lalu beranjak meninggalkan Hanbin yang menatapnya terpengarah. Ya ampun temannya satu itu.
"Kalau saja aku tidak mengenalnya, sudah ku pukul wajah datarnya itu" ucap Hanbin cemberut, "Tunggu aku hey manusia es" Hanbin lalau menyusul Yoongi yang sudah menjauh dari pandangannya.
Sedangkan Bobby dan Jinhwan hanya menatap keduanya dengan malas. "Kau akan pulang?"
Jinhwan mengangguk, "Iya, lagipula aku juga tidak ada kelas. Inginnya sih melihat Jimin, tapi nanti malah aku yang kena imbasnya" sedangkan Bobby hanya tertawa medengarnya. Meskipun wajah Jimin imut, jangan salah paham dulu.
"Lebih baik jangan penasaran daripada kau menghilang besoknya?" Bobby semakin tertawa melihat Jinhwan yang bergidik ngeri.
.
.
.
Sore itu disaat semua mahasiswa berhamburan pulang. Jimin dan Hoseok malah memilih menuju atap, ingin melihat matahari tenggelam katanya. Namun baik Hoseok dan Jimin hanya diam saja sampai mereka berada dibalik pintu atap. Keterdiaman yang terjadi tidaklah biasa. Karena tidak mungkin orang ingin melihat pemandangan sunset dengan wajah datar dan tatapan tajam.
Jimin membuka pintu atap dan melihat Euna masih tiduran dengan Inha yang entah kenapa terikat disebelahnya. Belum lagi tatapan terkejut Inha yang ia tujukan pada Jimin dan Hoseok.
"Kalian lama, aku sampai harus memukulnya dua kali agar diam" ucap Euna yang tau kalau itu Jimin dan Hoseok. Euna lalu bangun dan berdiri disamping Inha yang masih terbelalak ketika berhadapan dengan 2 orang yang seharusnya ia sadari kedatangannya.
"Jadi kau ya" ucap Hoseok mendekat pada Inha yang terlihat sekali ketakutan. Hoseok duduk dihadapannya dan mengelus pipi Inha yang memerah karena ulah Euna tentu saja, "Pasti sakit?"
Tanpa disadari air mata Inha turun perlahan dan sedikit terisak. Ia benar-benar takut sekarang. Bagaimana tidak, Hoseok, yang terkenal dengan pribadi yang hangat menatapnya dengan pandangan membunuh. Bahkan yang dilakukan Inha hanya menunduk karena menyadari aura Hoseok yang tak secerah biasanya.
PLAK
"Jimin mungkin tak sekasar ini pada perempuan"
Yah Hoseok baru saja menampar Inha. Berbeda dengan yang lainnya, Hoseok adalah orang yang tak peduli musuhnya itu laki-laki atau perempuan. Kalau memang bersalah, Hoseok tidak akan menahan diri. Tapi, Jimin mungkin berbeda dari Hoseok atau bahkan lebih parah darinya.
Jimin yang melihat Inha menangis menarik Hoseok untuk berdiri. Mereka kesini hanya ingin melihat matahari terbenam, bukan ingin membuat seorang perempuan menangis. Setelah Hoseok berdiri, Jiminlah yang sekarang duduk dihadapan Inha dengan senyuman yang terlihat diwajahnya.
"Maafkan Hoseok hyung ya" ucapan Jimin membut Euna menggelengkan kepala. Jimin itu temannya yang paling aneh. Wajahnya tersenyum, ucapan yang keluar adalah kata maaf, tapi sebelah tangannya malah mengarahkan sebuah pisau kecil dipipi Inha. Sejak kapan pisau itu berada ditangan Jimin?
"Kalau saja kau tidak melakukan hal yang membahayakan seperti itu, Hoseok hyung tidak akan marah padamu. Apalagi yang kau sakiti itu hyung kami"
Jimin semakin tersenyum saat Inha terkejut atas perkataannya, "Hyung"
Jimin mengangguk dengan semangat, "Memang bukan hyung kandung, tapi aku sudah menganggap Seokjin hyung sebagai hyung kandungku. Makanya kami pernah bilang bukan, menyentuh Seokjin sama dengan mengusik kami"
"Kalau saja kau menyerah untuk menyakiti Seokjin hyung kau tidak akan merasakan hal seperti ini. Kau tau kan aku tidak tega melakukan hal seperti ini"
Berbeda dengan perkataannya, tangannya perlahan menggores pipi mulus Inha hingga cairan merah keluar mengotori pipi yang awalnya mulus itu. Sedangkan Inha masih menangis dengan tambahan ringisan karena menahan sakit diwajahnya.
Jimin menarik tangannya dan menatap Inha, "Sekarang kau mengerti kan? Jadi lebih baik kau tenanglah dan jangan banyak bertingkah. Nanti malah Euna yang akan menyakitimu. Karena setelah ini aku tidak mau berurusan denganmu lagi."
Inha menatap Jimin memelas, "Maafkan..hiks...aku.."
"Aku akan melepaskanmu, tapi aku serahkan kau pada Euna saja ya. Jadi kalau kau berulah lagi, semua itu terserah pada Euna" Jimin hanya tersenyum menatap Euna yang menyerigai padanya.
Jimin berdiri dan melihat matahari perlahan mulai tenggelam, warna orange mulai memenuhi langit dan pemandangan itu sangatlah indah. Jimin lalu menatap Inha yang masih sesegukan. Yoongi sudah meminta mereka untuk tidak berlebihan, Jimin tidak berlebihan kan?
"Matahari, sinarnya kuat dan memberikan panas yang menyengat membuatnya menjadi yang terkuat. Namun ia tetap mengalah ketika sang malam harus menjalankan tugasnya memberikan ketenangan bagi manusia. Membiarkan bulan menggantikan tugasnya untuk bersinar." Jimin tersenyum.
"Sedangkan kau, bukan matahari yang memiliki kekuatan atau bulan yang memiliki penopang. Seokjin hyung memberi kesempatan padamu, berharap kau sadar bahwa posisimu tidaklah sekuat itu untuk bertingkah semaunya. Meskipun menurutmu Seokjin hyung lemah, tapi kau lupa kalau kami berada disisinya. Sedangkan kau? Apa yang kau punya hingga berani seperti ini?"
Jimin kembali berhadapan dengan Inha, ia lalu mengangkat dagunya, "Ketika matahari terbenam, ia masih berusaha memancarkan cahaya kemerahan untuk menyenangkan manusia. Namun kau berbeda dari matahari, ibarat sebuah meteor, ketika kau jatuh, kau hanya akan hancur."
Jimin bangkit dan berdiri disamping Hoseok, "Ingat baik-baik peringatan kami ini"
Hoseok menatap Euna, "Dia urusanmu sekarang, terserah mau kau apakan. Aku sudah tidak peduli lagi"
Sedangkan Euna menggeleng, "Aku tidak mau. Pulangkan saja. Aku tidak minat berurusan dengan orang lemah" Euna menatap Inha kasihan. Kalau saja dari awal peringatannya didengarkan, Inha tentu tidak akan bernasib mengenaskan seperti ini.
"Biarkan orang-orangku yang mengantarnya. Kau pulang saja, karena kami juga akan pulang" ucap Hoseok dan beranjak pergi.
"Semoga kita bertemu lagi ya Inha" ucap Jimin lalu menyusul Hoseok yang sudah menghilang dibalik pintu atap.
Euna lalu duduk disamping Inha, berniat menemani sampai anak buah Hoseok datang menjemput Inha. Euna lalu mengambil sapu tangan disakunya dan menghapus darah yang masih mengalir dipipi Inha.
"Kalau saja kau berhenti dari awal, Park Inha"
Sedangkan Inha kembali menangis, kali ini ia menangisi nasibnya yang merupakan hasil perbuatannya sendiri. Benar. Kalau saja ia berhenti sejak awal.
.
.
.
tbc
hai semuanyaaaa
senang rasanya bisa kembali dan melanjutkan cerita ini
yang jelas terima kasih untuk kalian semua yg udah dukung cerita ini
semoga masih bisa menghibur kalian semua
