You Actually Specials

.

Cast : All member BTS

Genre : Family, Brothership

Rate : T

.

.

.

Part 23

.

.

.

Author Pov

Bagi Park Jae Won, rumah sakit masih menjadi tempat yang tidak begitu ia suka. Bukan karena ia benci obat atau sejenisnya, melainkan di rumah sakitlah ia mengantarkan kematian mendiang istrinya, dan juga sahabatnya, Jeo Hoon- ayah Seokjin. Berbeda dari sang istri yang meninggal karena penyakit yang dideritanya, Jeo Hoon meninggal karena kecelakaan yang menimpanya hingga merenggut nyawanya beserta istrinya.

Hal yang paling menyedihkan baginya, ia masih merasa belum menjadi sahabat yang baik bagi Jeo Hoon. Meskipun banyak hal yang ia lakukan terhadap teman-temannya, ia merasa belum cukup untuk membalas kebaikan Jeo Hoon selama ini. Itulah kenapa Seokjin begitu perhatian kepada anak-anak mereka, karena pada dasarnya baik Jeo Hoon dan istrinya adalah orang yang baik pula.

Namun bukan karena menjadi baik lantas tak ada yang memusuhi. Sebab karena terlalu baik itulah, banyak orang yang membenci Jeo Hoon. Beruntung kala itu mereka masih bisa membantu Jeo Hoon melawan musuh-musuhnya. Hingga tanpa sadar teman merekapun memupuk kebencian dan melakukan hal yang tidak pernah mereka bayangkan. Jung Ahn, teman mereka, akhirnya berkhianat dan menyakiti Jeo Hoon. Atas dasar kebencian dan iri, ia memutus pertemanannya dengan Jeo Hoon dan membunuhnya. Kalau saja Ji Soo tidak mendengar pembicaraan anak-anak mereka dengan Seokjin, para orang tua tidak akan pernah tau fakta ini. Karena bagaimanapun, mereka tidak pernah berpikir Jung Ahn akan bersikap demikian. Memang hati dan pikiran orang tidak mudah ditebak.

Saat mendengar kabar tersebut mereka merasa sangat bersalah. Tidak menyadari musuh sejak awal hingga harus mengambil korban. Namun mereka sadar, menyesal sekarang tak ada gunanya. Hal terpenting yang harus mereka lakukan sekarang adalah menjaga harta berharga Jeo Hoon, Seokjin. Karena dengan begitu, setidaknya mereka merasa sudah menebus sedikit kesalahan dimasa lalu.

Meskipun ia tidak suka rumah sakit, nyatanya mendiang istrinya adalah pemilik rumah sakit tempatnya berada sekarang. Sore itu, ia berjalan dengan tenang menyusuri lorong rumah sakit tersebut. Hingga ia berhenti didepan sebuah ruangan, tanpa banyak berpikir Jae Won memasuki ruangan tersebut.

CKLEK

"Siapa...tuan Park?!"

Dokter yang tengah berada didalam ruangan tersebut langsung berdiri dan memberi hormat pada Jae Won. Hampir saja ia tidak mengenali pemilik rumah sakit ini, karena tidak biasanya ia berpenampilan sederhana seperti ini

"Maaf mengejutkanmu" ucap Jae Won pelan dan tersenyum.

"Tidak tuan Park. Silahkan duduk." Dokter tersebut beralih kesamping Jae Won dan menutup pintu ruangannya dan meminta Jae Won agar duduk.

Jae Won duduk di sofa yang ada diruangan tersebut sambil melihat sekeliling. Sedangkan dokter tadi, beranjak menuju mejanya dan mengambil beberapa dokumen yang lalu ia berikan kepada Jae Won.

"Ini dokumen yang anda minta tuan Park"

Jae Won mengambil berkas tersebut, "Terima kasih"

Sedangkan dokter tersebut duduk disofa sebelah Jae Won, membiarkan sang atasan membaca dokumen yang ia susun.

"Jadi...koma?"

Dokter tersebut mengangguk, "Benar. Namun kemungkinan hanya sebentar. Karena meskipun tubuh Lee Jaehwan banyak luka, ia masih bisa bertahan. Beruntung tidak ada pendarahan diotaknya, sehingga waktu pemulihan tidaklah butuh waktu yang lama."

"Namun meskipun tidak ada pendarahan, sangat jelas pukulan yang ditujukan pada kepalanya tidaklah pelan. Dilihat dari wajah Lee Jaehwan saat pertama dibawa kemari, jelas pukulannya sangatlah keras dan juga berkali-kali. Hal tersebut sedikit mempengaruhi kerja otaknya, itulah yang membuat pasien masih belum sadar sampai saat ini."

Jae Won hanya mengangguk saja. Yah, ia kemari karena ingin mengetahui kondisi Jaehwan. Tidak menyangka kalau sampai separah ini. Ia memang tidak ada disini kemarin saat Jaehwan dibawa. Tapi kalau dari hasil pemeriksaan ditangannya, memang tubuhnya baik-baik saja. Namun mau dikatakan baik-baik saja ia tengah koma sekarang.

"Ada hal lainnya?" tanya Jae Won masih membaca berkas ditangannya.

"Tidak ada tuan. Hanya tuan Lee Jung Ahn meminta izin untuk menempatkan 2 bodyguardnya untuk menjaga ruang rawat Lee Jaehwan."

Jae Won mengernyit heran. Ia kira Jung Ahn tidak peduli pada anaknya itu. "Tidak apa-apa. Itu bukan masalah. Kalau begitu aku permisi dulu. Terima kasih kerja kerasnya"

"Sama-sama tuan Park. Senang bisa membantu anda." Ucap dokter tersebut sambil membungkuk hormat. Sedangkan Jae Won hanya tersenyum dan beranjak pergi dari ruangan tersebut. Namun sebelum membuka pintu ia berbalik dan menatap sang dokter yang juga tengah melihatnya.

"Sepertinya aku melupakan sesuatu" ucap Jae Won sambil tersenyum manis.

Awalnya doter tersebut nampak bingung, namun setelahnya ia membalas senyum atasannya, "Saya akan menyimpan rahasia ini tuan Park"

Sedangkan Park Jae Won hanya tertawa kecil, "Sampai jumpa" lalu membuka pintu dan menutupnya lagi.

Dilorong yang sama yang ia lewati tadi, bisa dilihat ruangan yang dimaksud dokter tadi, yah, ruangan Lee Jaehwan. Memang ruangan tersebut tengah dijaga oleh dua orang namja berbadan kekar saat ini. Meskipun tidak menggunakan pakaian formal, Jae Won tau mereka adalah suruhan Jung Ahn sendiri.

Jae Won sengaja berdiri agak lama disana sambil bersandar ditembok. Memang tugasnya adalah mengawasi Lee Jaehwan sekaligus ayahnya itu. Meskipun ia tidak tau bagaimana sikap Jung Ahn pada Jaehwan, namun ia mendengar bahwa Jung Ahn kemarin datang menjenguk anaknya. Mungkin saja hari ini ia juga datang.

Namun hampir 10 menit berdiri disana, ia tak mendapatkan apa-apa. Yang ada kakinya mulai lelah berdiri. Faktor umur mungkin. Karena sudah mulai bosan Jae Won berpikir mungkin Jung Ahn tidak datang. Namun saat beranjak ia mendengar suara pintu yang dibuka. Dan beruntung ia belum pergi karena Jung Ahn baru saja keluar dari ruangan anaknya.

Jae Won segera beranjak dari lorong tersebut dan mendudukkan dirinya dikursi tunggu didepan ruangan dokter tadi, dan tidak lupa memakai topi yang sengaja ia bawa. Ia pura-pura membaca hasil pemeriksaan Jaehwan sambil menunggu Jung Ahn lewat. Telinganya mendengar langkah kaki yang mulai mendekat, dan ia semakin menundukkan kepala untuk menyembunyikan wajahnya.

"Laksanakan tugasmu dengan baik"

Ia bisa mendengar suara Jung Ahn yang mulai mendekat. Dan Jae Won juga semakin menundukkan kepalanya saat Jung Ahn melewati tempatnya duduk, jantungnya sudah berdegup kencang namun ia berusaha tenang. Hingga saat melewatinya Jae Won pura-pura menghadap samping untuk mengambil sesuatu dikantong celananya. Yang beruntung tidak dicurigai Jung Ahn yang juga tengah fokus pada ponselnya.

Setelah Jung Ahn melewatinya, Jae Won beranjak dan kembali menuju ruangan dokter tadi.

TOK TOK

"Uhuk..Uhuk"

Jae Won mengetuk pintu ruangan tersebut. Ia sadar saat Jung Ahn menoleh padanya, namun ia diam. Saat mendengar suara dari dalam Jae Won membuka pintu perlahan.

"Uhuk...permisi dokter" Jae Won masuk ke ruangan tersebut, meninggalkan Jung Ahn yang kembali fokus dengan ponselnya. Saat akan menutup pintu, Jae Won mengernyit mendengar perkataan Jung Ahn.

"Tuan Park? Ada apa anda kembali?"

Jae Won tersenyum saja mendengar pertanyaan dokter tersebut, "Boleh aku minta air?"

Dokter tersebut terdiam sejenak dan mulai mengambilkan segelas air. Saat dokter itu sibuk, senyum Jae Won luntur dan hanya terdiam memikirkan pembicaraan Jung Ahn yang ia dengar barusan.

'Tentu saja. Kau harus segera membawakan teman untuk Jaehwanku'

Jae Won langsung mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.

"Teman..."

.

.

.

Malam kembali menyapa di kediaman geng Bangtan. Namun tidak biasanya malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Meskipun jam masih menunjukkan pukul 8 malam, namun hampir semua penghuninya sudah memasuki kamar. Kamar Kim Seokjin maksudnya.

Tepat sore tadi saat Seokjin dan Namjoon sampai rumah, Namjoon tanpa banyak bicara memapah Seokjin yang masih syok masuk kedalam rumah. Yang disambut Taehyung dan Jungkook yang sudah duduk di ruang tengah. Nampaknya mereka sudah mendengar kejadian yang menimpa Seokjin. Mungkin dari Yoongi, atau dari Yugyeom, teman Mark. Entahlah siapa yang memberitahu mereka, namun saat memasuki ruang tamu, baik Taehyung dan Jungkook langsung memeluk Seokjin. Seokjin sendiri balas memeluk mereka berdua erat, mengucap syukur karena ia masih diberi kehidupan sampai hari ini.

Tidak ada pembicaraan sama sekali setelahnya karena Namjoon langsung menuntun Seokjin ke kamarnya untuk istirahat. Bahkan Namjoon sama sekali tidak melepas genggaman tangannya dari Seokjin, seolah meyakinkan dirinya bahwa Seokjin baik-baik saja. Hyungnya itu masih disisinya sekarang. Namjoon juga menemaninya sampai terlelap sore itu. Ia tidak meninggalkan Seokjin sama sekali. Sampai ia mendengar suara pintu terbuka dan terlihat Yoongi disana.

Yoongi sendiri hanya masuk untuk melihat keadaan Seokjin yang tertidur. Sedangkan Namjoon tetap pada posisinya yang terduduk disamping Seokjin. Yoongi mengerti apa yang dirasakan Namjoon. Jadi ia hanya diam saja saat melihat Namjoon yang masih setia disamping Seokjin, ketika ia berniat memanggil mereka berdua untuk makan malam. Sayangnya Seokjin masih tertidur, dan baik Yoongi dan Namjoon tidak tega membangunkannya. Hingga saat lewat jam 8 Yoongi masuk ke kamar Seokjin dan membawakan mereka berdua makanan. Yang disusul masuknya Jimin juga Hoseok, sedangkan Taehyung dan Jungkook sedang mengerjakan tugas kuliah mereka.

Namjoon baru saja menyelesaikan makannya saat Seokjin terbangun. Mereka mengerti baik fisik maupun mental Seokjin pasti lelah hari ini. Bagaimanapun mereka tidak pernah menyangka hal tadi bisa terjadi.

"Hyung"

Seokjin menoleh pada Yoongi yang duduk disampingnya menggantikan Namjoon. Seokjin tersenyum dan menggenggam tangan Yoongi, "Aku sudah merasa lebih baik. Kalian tak perlu khawatir" ucapnya sambil menatap Hoseok, Namjoon, dan Jimin.

Hoseok beranjak mendekati Seokjin dan membantunya untuk duduk, "Makanlah dulu, hyung. aku yakin kau belum makan dari tadi siang, bukan?"

Hoseok mengambil makan malam Seokjin dan membiarkan hyungnya itu makan dengan tenang. Namjoon yang dari tadi tegang perlahan mulai rileks kembali. Jimin disampingnya juga membantu menenangkan dengan mengelus punggungnya. Tidak ada pembicaraan sampai Seokjin selesai makan. Hoseok pula yang membereskan bekas piring makan Seokjin dan membawanya ke dapur.

Saat Seokjin tengah membersihkan diri, Jungkook dan Taehyung memasuki kamar Seokjin dan setelahnya Hoseok muncul setelah dari dapur. Sama seperti tadi, tidak ada pembicaraan sama sekali, mereka seolah masih sibuk dengan pikiran mereka sendiri. Sampai Seokjin keluar dari kamar mandi dengan keadaan yang lebih segar. Dan dengan santai ia kembali duduk diatas kasurnya membiarkan yang lain ikut duduk mengelilinginya.

Seokjin sudah merasa akan ada pembicaraan panjang. Namun beberapa saat masihlah keterdiaman diantara mereka. Seokjin tidak mau memulai, karena ia tau semua ini tentangnya dan juga kejadian tadi siang.

"Hyung" Seokjin menoleh pada Yoongi.

Yoongi masih terdiam dan menghela napas setelahnya, "Maaf atas kejadian hari ini. Seharusnya kami.."

"Bukan salah kalian" Seokjin segera menyela perkataan Yoongi. Seokjin sebenarnya sudah cukup mendengar permintaan maaf mereka, karena memang ini semua bukan salah mereka, atau kelalaian mereka.

"Berhenti minta maaf. Kalian tidak melakukan kesalahan apapun padaku. Apa yang terjadi memang hal yang sudah direncanakan, namun tetap ini bukan salah kalian. Aku baik-baik saja, dan kalian sudah berhasil menjagaku."

Seokjin tau kejadian ini pasti ulah seseorang. Dan ia pun yakin adik-adiknya ini sudah mengurusnya tanpa sepengetahuan dirinya. Jadi tidak ada yang perlu Seokjin permasalahkan lagi. Karena bagaimanapun hal yang terpenting baginya sekarang ia dan juga adik-adiknya ini baik-baik saja.

"Dan tentang orang yang berada diatap. Aku yakin kalian sudah tau, bukan?" Seokjin melihat ke 6 adiknya tersentak. Namun hanya sebentar.

Seokjin menghela napas. Mereka pasti tetap bungkam dan tidak akan memberitahukannya tentang keadaan orang yang sudah melukainya itu. Bahkan sampai sekarang Seokjin belum tau siapa orang tersebut. Karena sepertinya mereka juga tidak berniat membicarakannya.

"Hyung"

"Aku tau"

Belum sempat Hoseok menyelesaikan ucapannya, Seokjin kembali menyela.

"Apa yang terjadi padaku memang sebuah kejahatan. Tapi bukan berarti aku membiarkan kalian menjadi orang jahat juga"

Jimin dan Hoseok menunduk. sedangkan Namjoon, Jungkook, Taehyung dan Yoongi hanya diam saja mendengarkan. Seburuk apapun hal yang pernah terjadi dalam hidup Seokjin, ia tak pernah berpikir untuk memperburuk hidupnya dengan balas dendam yang tak perlu. Itulah kenapa, dari awal hanya mereka ber 6 yang bermain, Seokjin tak pernah ikut sama sekali. Karena ia yakin semuanya sudah ada jalannya masing-masing. Tapi ia juga sadar, bahwa balas dendam yang mereka ber 6 lakukan mungkin menjadi bagian dari rencana Tuhan. Tuhan tak pernah meninggalkannya meskipun kedua orang tuanya sudah tiada. Karena Tuhan memberikannya keluarga besar yang sangat menyayanginya, terutama 6 orang dihadapannya ini.

"Cukup beri peringatan saja dan biarkan Tuhan yang meneruskannya, hal seperti apa yang pantas untuk orang seperti itu. Kalian orang baik, jangan hanya karena membalas dendam membuat kalian ikut menjadi orang jahat. Terlebih itu karena aku. Jelas aku akan merasa bersalah karena aku yang menyebabkan kalian seperti ini"

"Aku tidak melarang kalian bermain. Hanya saja, kalian harus tau batas."

Seokjin hanya tidak ingin mereka ber 6 berlebihan dan berakhir menjadi Jung Ahn. Kebenciannya pada orang tua Seokjin membuatnya lupa diri, dan bermain dengan nyawa seseorang. Bertingkah seperti Tuhan yang bisa mengambil nyawa seseorang seenaknya. Tidak, Seokjin tidak mau ke 6 adiknya seperti itu.

"Maaf hyung"

Seokjin tau ia berlebihan. Hanya saja, ia ingin adik-adiknya tidak terlalu menanam kebencian pada seseorang, dan berakhir menyakiti diri sendiri.

"Kemarilah" Seokjin merentangkan kedua tangannya. Dan mereka ber 6 langsung memeluk Seokjin.

"Aku mengerti kalian bersikap seperti ini karena khawatir padaku, terima kasih. Tapi mengertilah, aku hanya tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada kalian. Kalian berharga bagiku. Jadi jangan lakukan sesuatu yang bisa membuat kalian pergi dariku. Aku mohon. Hanya kalian yang aku miliki"

Mereka ber 6 semakin erat memeluk Seokjin yang sedikit emosional. Apa yang terjadi di kampus bisa saja sedikit menganggu mental Seokjin. Namun yang mampu mereka lakukan adalah terus bersama dan menemani Seokjin. Setidaknya memberitahukan pada Seokjin bahwa ia tidaklah sendirian, Seokjin masih memiliki mereka untuk berbagi kesedihan.

"Terima kasih sudah melakukan banyak hal untukku"

Mereka melepas pelukannya dan menatap Seokjin yang sudah meneteskan air mata.

"Hyung, dengarkan aku" ucap Yoongi dan menggenggam tangan Seokjin, "Apapun yang yang terjadi kami akan selalu bersamamu. Kami tidak akan meninggalkanmu. Dan tidak akan kami biarkan orang lain menyakitimu. Kalaupun ada, kami tidak akan membiarkan orang itu hidup dengan tenang"

"Tapi percayalah. Yang kami lakukan tidak seburuk yang kau bayangkan, hyung. Kami juga mengerti batas. Dan kami mengerti kekhawatiranmu pada kami. Tapi yakinlah hyung, kami akan baik-baik saja. Tidak ada yang bisa menjauhkan kami darimu. Tidak akan ada yang bisa."

Yoongi mengecup kening Seokjin dan menghapus air mata dipipinya.

Hoseok juga mengecup kening Seokjin setelahnya, "Apa yang kami lakukan padanya itu memang sudah pantas ia dapatkan setelah semua yang dilakukan padamu, hyung. Jadi tidak perlu takut, kami tau apa yang kami lakukan, hyung"

Seokjin menatap Hoseok, "Siapa?"

"Tidak penting siapa hyung. Tapi aku yakin dia sudah menyadari kesalahannya" Jimin besimpuh disamping Seokjin, "Terima kasih sudah peduli pada kami, hyung. Hal yang perlu kau tau adalah kami sangat menyayangimu. Kami akan selalu disini bersamamu hyung"

"Jimin benar, hyung. Kami akan selalu disini, kami tidak akan pergi darimu. Kami janji" ucap Taehyung lalu memeluk Seokjin erat. "Dan kami tidak akan membiarkan hal seperti hari ini terjadi lagi"

Jungkook hanya diam saja, dalam hati menyetujui semua yang dikatakan hyungdeulnya. Seokjin sangat berharga bagi mereka, jadi mereka akan melakukan segalanya untuk memastikan Seokjin baik-baik saja. Mereka bahkan rela mengotori tangan mereka untuk membersihkan orang-orang tidak berguna dalam hidup Seokjin.

Namjoon mendekat dan mengenggam tangan Seokjin, "Hyung" Namjoon mengelus tangan sang hyung yang tampak lebih kurus "Maafkan aku"

Seokjin hanya tersenyum dan balik mengelus tangan Namjoon.

"Maaf atas salahku kemarin, maaf atas sikap dan perkataanku, maaf karena kelalaianku hyung harus mengalami hal seperti ini, maaf atas semua kesalahanku selama ini hyung, maaf..."

Namjoon berhenti berucap saat Seokjin memeluknya erat, ia bisa merakan elusan lembut dirambutnya.

"Bukankah aku sudah bilang untuk berhenti minta maaf, hm?"

Seokjin melepas pelukannya dan tersenyum, "Kau sudah melakukan yang terbaik, jadi jangan menyalahkan dirimu terus. Mengerti, Namjoonie?"

Namjoon balas tersenyum dan kembali memeluk Seokjin, sedangkan yang lain hanya menyaksikan saja, karena mereka tau betapa kalutnya Namjoon.

Yoongi menepuk kepala Namjoon pelan, "Sekarang lepas pelukanmu dan biarkan Seokjin hyung istirahat"

Namjoon lalu melepas pelukannya dan mengecup kening Seokjin, "Istirahatlah hyung, jangan ke kampus dulu beberapa hari kedepan"

"Tapi.."

"Namjoon benar, hyung. Kami tau fisikmu baik-baik saja, tapi kami yakin kau masih merasakan kekhawatiran setelah kejadian tadi" ucap Yoongi meyakinkan. bagaimanapun ia harus memastikan keadaan fisik Seokjin atau jiwanya tetap dalam kondisi baik. "Jadi istirahatlah beberapa hari di rumah."

Seokjin ingin menolak sebenarnya. Namun melihat Yoongi yang sepertinya sangat serius dan nampak tak menerima penolakan, Seokjin akhirnya mengiyakan dan menganggukkan kepalanya, "Baiklah"

Jungkook mendekat dan memeluk Seokjin, "Percayalah hyung, kami melakukan ini karena kami sangat menyayangimu"

Seokjin tersenyum dalam pelukan Jungkook, "Aku tau. Aku juga sayang kalian"

Jungkook melepas pelukannya dan ikut mengecup kening Seokjin, "Istirahatlah hyung. Kami menyayangimu"

Yang lain juga mengikuti yang dilakukan Jungkook dan mulai beranjak keluar dari kamar Seokjin, menyisakan Yoongi yang masih terduduk disamping Seokjin. Tidak ada yang dilakukan Yoongi selain menatap sang hyung yang juga tengah tersenyum padanya.

"Aku baik-baik saja, Yoongi"

Yoongi menghela napas dan mengecup kening Seokjin, "Selamat malam, hyung"

Seokjin melihat Yoongi yang beranjak keluar dan menutup pintu kamarnya perlahan. Setelah semua adiknya keluar, ia kembali merasakan perasaan takut yang sempat ia pendam. Wajar baginya saat merasa seperti itu, setelah nyawanya hampir melayang hari ini.

Namun Seokjin berusaha menghilangkan semua pikiran buruknya dan mencoba untuk tidur. Ia sudah cukup lelah dengan semua yang terjadi. Saat matanya terpejam, ia juga berharap semoga hari-hari kedepannya ia akan baik-baik saja. Semoga saja.

.

.

.

Sudah lewat 3 hari Seokjin berdiam diri di rumah, adik-adiknya itu memang selalu bisa untuk memaksanya istirahat. Bahkan salah satu diantara mereka rela bolos untuk memastikan Seokjin tidak pergi ke kampus. Dan dengan terpaksa Seokjin menurut saja, meskipun sebenarnya ia bosan karena tidak ada kegiatan.

Minhyuk yang tau perihal Seokjin dari Jungkook pun tak pernah absen untuk mampir menemuinya di rumah. Masih teringat jelas saat Minhyuk datang dengan derai air mata berdiri dihadapannya. Ia menangis dan memeluk Seokjin, menyampaikan permintaan maaf karena tidak berada disisinya saat itu.

Seokjin sendiri hanya mampu menenangkan Minhyuk, dengan Jimin yang kala itu sedang libur menatap mereka berdua. Jimin tidak mengira Minhyuk akan menagis seperti itu. Namun ia mengerti karena Jiminpun akan menangis kalau Seokjin terluka.

3 hari itu mereka selalu mengawasi Seokjin di rumah. Mereka juga terus mengawasi tingkah para yeoja yang menjadi incaran mereka dengan bantuan Euna, Minjoo, dan Krystal. Ban beruntung selama 3 hari ini, mereka tidak mendengar kabar yang menjengkelkan. Bersyukur sekaligus waspada, takut hal-hal tak diinginkan kembali terjadi.

Sedangkan para appa 3 hari ini belum bisa dihubungi. Entah apa yang para orang tua itu lakukan, hingga sampai saat ini mereka belum tau kejadian yang menimpa Seokjin. Tapi mereka tau, para appa mungkin tengah sibuk dengan masalah Lee Jung Ahn. Karena memang ayah Jaehwan itu adalah awal dari semua kemalangan yang menimpa Seokjin. Namun yang jelas, kalaupun para appa tidak bersama mereka, mereka masih bisa menjaga Seokjin. Mereka akan pastikan, hidup Seokjin akan lebih baik.

Pagi ini, tepat sudah 4 hari Seokjin tidak ke kampus. Adik-adiknya sudah jelas menghubungi pihak kampus mengenai absennya Seokjin. Dan yah, tidak akan ada yang menanyakan lebih jauh perihal itu.

Seokjin sebenarnya sudah bersiap akan ke kampus hari ini. Namun ia masih berdiam diri di kamarnya menunggu salah satu adiknya menemuinya. Memang selama 3 hari penuh, Seokjin selalu makan di kamarnya. Para adiknya memang memperlakukannya seperti orang yang sedang sakit parah, padahal kenyataannya ia sehat, dan sangat baik-baik saja.

Melihat jam, mungkin sebentar lagi salah satu dari mereka akan segera datang. Namun,

BRAK

"SEOKJIN!"

Seokjin menjatuhkan tas yang ia ambil saat pintu terbuka dengan keras, belum lagi teriakan yang memanggil namanya itu membuatnya terkejut.

"APPA BERISIK!"

Terdengar teriakan lagi menyusul dari arah luar kamar Seokjin. Masih pagi dan Seokjin harus merasakan sakit ditelinganya.

Belum selesai terkejutnya, Seokjin merasa sesak karena dipeluk oleh 5 orang namja paruh baya.

"Paman...bisa lepaskan...sesak"

Dan dengan bersamaan mereka melepas pelukannya pada Seokjin yang tengah menghela napas menghadapi sikap keluarganya yang luar biasa ini. Sedangkan ke 5 orang itu hanya terkekeh pelan menyadari sikap mereka yang kekanakan. Bahkan tuan Min menunduk malu karena tingkahnya itu.

"Maaf Seokjin, kami hanya terlalu mengkhawatirkanmu" ucap tuan Jeon. Ia mendekati Seokjin dan mengelus kepalanya, "Maaf juga kami tidak menemanimu kemarin"

Seokjin tersenyum dan menggeleng, "Tidak apa-apa Jeon appa, aku sudah baik-baik saja. Mereka sudah menjagaku dengan baik"

"Tentu saja mereka harus seperti itu. Kalau mereka tidak bisa menjagamu, biar kami saja yang melakukannya dan mereka yang bekerja" ucap tuan Min yang sudah selesai dengan rasa malunya. Sedangkan yang lain hanya terkikik mendengar ucapan teman mereka itu.

"Syukurlah kalau kau baik-baik saja, Seokjin. Kami minta maaf karena kami semua sangat sibuk akhir-akhir ini" ucap tuan Kim pelan yang membuat suasana menjadi sedikit tidak nyaman. Tentu saja Seokjin merasakannya.

"Meskipun sibuk, setidaknya jagalah kesehatan kalian, paman" ucap Seokjin tersenyum. Ia berusaha mencairkan suasana yang tiba-tiba menjadi suram begini. Dan beruntung, perlahan mereka tersenyum dan suasana kembali seperti semula.

Tuan Park melihat ke arah luar saat mendengar langkah kaki mendekat. Ia melihat Jungkook menuju kamar Seokjin.

"Appadeul, tolong biarkan Seokjin hyung sarapan lebih dulu" suara Jungkook yang terdengar sedikit kesal membuat semua orang didalam kamar Seokjin menatap Jungkook.

"Kalian juga berhentilah bersikap kekanakan. Ingat umur appa"

PLAK

"Ish kenapa paman memukulku?!" ucap Jungkook cemberut saat tuan Park memukul kepalanya.

"Dengar ya bunny, meskipun kami ini sudah tua, kami juga pernah muda sepertimu itu. Kami juga sudah hidup lebih lama darimu, jadi tentu pengalaman kami ini lebih banyak. Jadi berhenti mengolok-olok seperti kebiasaan appamu itu"

Bukan hanya Jungkook, bahkan tuan Jeon pun ikut cemberut mendengar perkataan tuan Park. Mau bagaimana lagi, Jeon Jungkook itu kan anaknya. Sudah jelas ia akan sepertinya.

"Sudah-sudah ayo turun, anak-anak juga sudah menunggu dibawah" tuan Kim menarik pelan lengan Seokjin dan membawanya menuju ruang makan, diikuti yang lain dan juga Jungkook.

Sesampainya di ruang makan mereka melihat anak mereka sudah duduk di tempat masing-masing.

"Sudah selesai melepas rindunya, appa?" ucap Hoseok saat para appa beserta Seokjin dan Jungkook duduk bersama mereka.

Para orang tua hanya menatap Hoseok yang terkekeh karena berhasil menggoda mereka.

"Diam dan makanlah, anakku" ucap tuan Jung sambil memeluk anaknya yang tengah berontak karena dipeluk. Sebagai seorang ayah ia juga rindu anaknya ini.

Jimin yang berada disamping pasangan anak ayah ini hanya menggelengkan kepala. Belum sempat bicara, sudah ada lengan yang memeluk lehernya, "Appa tau kau juga ingin dipeluk, kan?" Jimin cemberut mendengar kekehan ayahnya itu.

"Ish appa"

Yang lain hanya terkekeh saja. Para orang tua jelas merindukan anak-anak mereka, terutama Seokjin. Hanya saja mereka jelas berbeda dalam hal menunjukkan perasaan mereka. Apalagi pada anak kandung mereka yang jelas-jelas sifatnya hampir sama.

Seperti tuan Min dan Yoongi yang dari tadi hanya menatap satu sama lain. Tanpa ungkapan katapun mereka sepertinya sudah tau arti dari tatapan masing-masing. Berbeda lagi dengan Taehyung yang langsung memeluk tuan Kim dan Namjoon yang tersenyum menatap keduanya. Sedangkan Jungkook hanya diam saja meskipun dia tau ayahnya menatapnya dengan tersenyum. Menyisakan Seokjin yang merasa senang dengan kehangatan keluarganya ini, lagipula ia sudah mendapatkan pelukan dari 5 orang ayahnya ini tadi.

"Annyeong"

Sapaan dari depan membuat mereka menghentikan drama keluarga dan mendapati Minhyuk yang berdiri sedikit canggung, karena merasa datang disaat waktu yang tidak tepat.

Yang lain tersenyum menatap Minhyuk, begitupun Seokjin. "Minhyuk, ayo sarapan dulu" ucap Seokjin dan menyuruh Minhyuk mendekat.

Minhyuk menggelengkan kepalanya setelah sedikit membungkuk memberi hormat pada orang tua teman-teman barunya ini. "Aku sudah sarapan, Seokjin. Terima kasih. Kau akan ke kampus hari ini?"

Seokjin mengangguk mengiyakan. Sedangkan adik-adiknya diam saja seolah menyetujui perkataan Seokjin. Karena mereka juga sadar, Seokjin lebih dari baik-baik saja untuk kembali ke kampus.

"Aku akan tunggu di depan"

"Baiklah"

Minhyuk beranjak menuju ruang tengah meninggalkan Seokjin yang mulai fokus pada makanannya. Para appa senang melihat Seokjin yang nampak lebih baik. Sempat terbesit kekhawatiran setelah mereka tau peristiwa yang menimpa Seokjin. Namun saat ini, setidaknya mereka sedikit lebih tenang.

Setelah selesai, hanya Seokjin yang bangkit dari duduknya karena hanya Jungkook yang ada kelas itupun nanti siang, sedangkan 5 yang lainnya sedang libur.

"Aku berangkat dulu" ucapnya mencium pipi para appa dan adik-adiknya.

"Jangan pergi kemanapun sendirian, hyung" Yoongi akan selalu mengingatkan Seokjin tentang apapun. Tidak peduli hyungnya akan kesal padanya.

"Benar yang dikatakan Yoongi hyung, hyung. Tetaplah bersama Minhyuk" ucap Namjoon menambahkan.

Seokjin hanya mengangguk. Untuk saat ini ia memang tidak menggunakan mobilnya dulu. Setidaknya ia menghargai sikap overprotektif mereka.

"Hati-hati di jalan, Seokjin" ucap tuan Jeon mengingatkan sebelum akhirnya Seokjin menghilang dari pandangan mereka.

Setelah kepergian Seokjin, hanya keterdiaman yang terjadi di meja makan. Para appa sibuk dengn pikiran mereka, dan anak-anak yang menunggu penjelasan.

"Jadi?" ucap Yoongi memecah keheningan. Ia ingin tau apa yang dilakukan para appa hingga 3 hari kemarin mereka sangat sibuk.

Sedangakan para appa hanya menatap Yoongi yang tengah menatap mereka tajam. "Hah, sepertinya Yoongi sedikit tidak sabaran ya, Yong Soo" ucap tuan Kim pada tuan Min.

"Memang apa yang kau harapkan dari anakku" ucap tuan Min. Ia sudah sadar dengan tatapan Yoongi pada mereka, terutama terhadapnya. Namun ia tidak mau memulainya, karena masalah ini bukan hanya tentang dirinya, tapi juga mereka semua.

Tuan Jeon hanya menggelengkan kepala. Ia juga menatap Jungkook yang kali ini juga menatap kedua matanya. Ia mengerti apa yang tengah dipancarkan kedua mata Jungkook itu.

"Lebih baik kita bicarakan di atas"

.

.

.

Saat Seokjin tiba di kampus, ia merasa lebih baik karena sikap semua orang tidak seperti saat pertama ia datang bersama geng Bangtan. Sudah tidak ada lagi yang menatapnya heran, terkejut, atau benci. Semuanya tenang sampai ia memasuki gedung kampus. Seokjin bersyukur ia sekarang bisa merasakan suasana kampus yang tenang seperti mahasiswa lainnya. Kehidupan mahasiswa normal pada umumnya.

"Hai Seokjin"

Seokjin tersenyum saat melihat siluet temannya mendekat, "Hai Jinhwan" mereka lalu berpelukan.

"Kau baik?"

"Tentu. terima kasih" Jinhwan tersenyum. Senang melihat Seokjin tampak sudah lebih baik.

"Hai Jin" Seokjin menolehkan pandangannya dan melihat Hanbin mendekat. "Senang bertemu denganmu lagi" ucap Hanbin menepuk pelan bahu Seokjin.

"Terima kasih"

Hanbin tersenyum, "Kau ada kelas dengan siapa?"

"Aku dan Jinhwan satu kelas dengannya hari ini" ucap Minhyuk yang dari tadi hanya diam. Ia masih belum terbiasa bergaul dengan teman-teman geng Bangtan.

"Kalau begitu aku akan ke kelas lebih dulu. Sampai jumpa" Hanbin melangkah meninggalakan mereka bertiga.

"Ayo"

belum sempat melangkah, Seokjin sadar kalau ia melupakan papernya di mobil Minhyuk. "Minhyuk, pinjam kunci mobilmu. Ada yang ketinggalan"

Minhyuk mengangguk, "Ayo ku temani"

"Tidak perlu, aku bisa ..."

"Kau lupa apa yang dikatakan Yoongi, Jin?" ucap Minhyuk cemberut. Seokjin yang melihatnya hanya terkekeh sebentar. Ia tau, Yoongi memang melarangnya pergi sendirian. Namun itu hanya di tempat parkir. Seokjin bisa mengambilnya sendiri.

"Bukan begitu, hanya saja..."

Nelum apa-apa Jinhwan sudah menarik Seokjin dan Minhyuk, "Ayo aku antar kalian" perbuatan Jinhwan menimbulkan kekehan Seokjin dan Minhyuk.

Saat sampai di parkiran Minhyuk segera membuka pintu mobilnya dan membiarkan Seokjin mengambil barangnya. Setelah selesai, ketika hendak menutup pintu, Seokjin menyadari kalau Jinhwan dan Minhyuk yang berdiri disebelahnya nampak tegang.

Merasa aneh, Seokjin mengikuti arah pandang mereka berdua. Terlihat seorang namja paruh baya yang mendekat ke arah mereka. Saat hampir sampai dihadapan Seokjin, ia sangat terkejut saat mengenali wajah orang tersebut.

"Hai Seokjinie"

Seokjin sedikit was was melihat orang tersebut.

"Pa...man"

Mendengar ucapan pelan Seokjin membuat Minhyuk dan Jinhwan menatapnya bingung. Sedangkan Seokjin fokus dengan seringaian yang hinggap diwajah orang tersebut.

.

.

.

tbc