You Actually Specials
.
All member BTS
Family, Brothership
.
.
.
Part 24
.
.
.
Author Pov
Selepas kepergian Seokjin, para appa beserta 6 orang anaknya itu beranjak menuju ruang santai di lantai 2. Sudah jelas mereka butuh kejelasan mengenai ketidakhadiran para appa saat Seokjin butuh mereka semua. Jangankan menemui mereka, bahkan tidak ada kabar sama sekali selama 3 hari kemarin. Yang lain memang tidak terlalu peduli, hanya saja mereka cukup tau kalau ada masalah serius yang membuat para appa tidak bisa menemui Seokjin kala itu.
"Terserah apa yang ingin kalian jelaskan, dari mana, tentang apa, apapun. Yang jelas kami ingin tau, kemana appa saat Seokjin hyung hampir mati" ucap Yoongi saat mereka semua sudah duduk di tempat masing-masing. Yoongi bukannya tidak sabaran, hanya saja sesibuk apapun ayah mereka, akan selalu ada kabar yang masuk pada mereka, atau paling tidak padanya.
Para appa hanya saling memandang satu sama lain, sampai akhirnya di mulai dari tuan Jeon. "Maafkan kami karena sempat menghilang. Tapi memang masih ada pekerjaan yang harus kami selesaikan mengenai mendiang orang tua Seokjin dan juga Lee Jung Ahn" ujarnya sambil menghela napas.
"Sudah jelas ini juga mengenai perusahan. Ayah Seokjin memang sudah menyerahkan perusahaannya pada Seokjin, namun karena Seokjin masih belum mampu aku yang membantu mengelolanya. Masalahnya disini, Jung Ahn memiliki saham di perusahaan tersebut, sisa kerja sama dengan mendiang orang tua Seokjin dulu. Tidak menutup kemungkinan Jung Ahn secara perlahan akan menghancurkan perusahaan Seokjin sebagai salah satu rencana balas dendamnya. Kita semua jelas sudah tau mengenai Jung Ahn yang merencanakan kecelakaan orang tua Seokjin. Meskipun kita mengetahuinya sangat terlambat"
Mereka semua tau kebenarannya memang saat Seokjin berada di rumah sakit setelah penyekapannya di gudang belakang kampus waktu itu. Kala itu memang para appa jelas masih berhubungan dengan Jung Ahn yang dihadapan mereka masihlah menjadi teman yang baik. Hingga ketika ada proyek kerja sama dengan Jung Ahn, merekapun menyetujuinya. Tak pernah mengetahui bahwa dalang semua kehancuran keluarga Seokjin adalah Jung Ahn sendiri.
"Aku dan Daehan sudah menangani masalah ini. Dan beruntung semua saham perusahaan Seokjin sudah berhasil kami ambil alih dari tangan Jung Ahn. Memang butuh pengorbanan, tapi setidaknya kami sudah berhasil menyingkirkan jejak-jejak Jung Ahn dari perusahaan, termasuk perusahaanku dan Daehan juga."
Ji Soo dan Daehan tidak terlalu peduli dengan kerugian yang akan mereka alami akibat masalah pemutusan kerja sama dengan Jung Ahn. Karena mereka memang tidak berniat untuk melanjutkan hubungan mereka dengan Jung Ahn, baik pertemanan ataupun masalah pekerjaan.
"Pekerjaan mereka mudah, karena tinggal menjalankan rencana yang sudah ku siapkan sampai 2 hari tidak tidur. Beruntung Sang Wook membantuku" ucap tuan Min setengah kesal, mungkin juga sedikit kelelahan.
Yoongi hanya menatap ayahnya datar, "Kasihan sekali"
"Dasar anak kurang ajar" ucap tuan Min menatap tajam Yoongi, sedangkan yang lain tertawa mendengar pertengkaran ayah dan anak tersebut.
Sang Wook yang melihat temannya cemberut itu sejenak menghentikan tawanya, "Yah memang tuan Min kita ini memang sudah bekerja keras. Terima kasih"
"Sebenarnya tidak mudah sih karena dari awal berkas aset Jung Ahn itu banyak, tapi yah beruntung karena kita memiliki si otak cerdas Min ini semuanya bisa ditangani. Meskipun Daehan sempat membuat kesalahan" ucap tuan Jung terkekeh, sedangkan tuan Kim mengalihkan pandangannya mengingat kesalahannya dulu.
"Maaf memang appa kadang suka ceroboh seperti Namjoon hyung" ucap Taehyung tanpa dosa.
"Yak!" suara teriakan tuan Kim dan Namjoon hanya membuat Taehyung tertawa.
"Tapi memang tidak semuanya bisa kita rebut. Karena Jung Ahn masih hidup"
"Kita bunuh saja" ucap Jungkook
Yang lain menatap horor Jungkook yang masih duduk dengan tenang. Para appa hanya menatap tuan Jeon yang menepuk keningnya kala mendengar pemikiran Jungkook.
Jimin yang dari tadi diam, menatap appanya, "Lantas apa yang appa lakukan?"
Tuan Park menatap Jimin sambil mengingat kejadian 3 hari lalu, "Aku berada di rumah sakit tempat Jaehwan dirawat. Dan memang setiap hari Jung Ahn selalu datang menemui anaknya. Aku tidak tau apa yang dilakukannya didalam sana. Namun aku pernah mendengar Jung Ahn mengatakan tentang teman untuk Jaehwan. Dan aku percaya itu adalah Seokjin."
Yang lain hanya mampu diam. Para orang tua sudah mendengarnya dari tuan Park sebelumnya, jadi mereka tidak begitu terkejut. Namun perasaan was-was itu akan selalu ada, karena meskipun yang menghajar Jaehwan adalah anak mereka, jelas yang akan menjadi korban Jung Ahn akan selalu Seokjin. Karena Seokjin adalah kelemahan mereka.
"Temanku bilang tidak ada apapun mengenai hal-hal yang mencurigakan di kampus selama 3 hari ini. Tapi mendengar apa yang dikatakan paman Jae Wook membuatku berpikir, bahwa Jung Ahn sepertinya sudah mengetahui ketidak hadiran Seokjin hyung" ucapan Yoongi membuat semua orang disana terkejut. Sebelum akhirnya mereka mendengar suara ponsel Yoongi,
"Hanbin.."
Yoongi langsung mengangkat panggilan tersebut.
"Yeoboseo"
"..."
"Ada apa?"
"..."
"Bicara yang jelas, Hanbin!" teriakan Yoongi membuat mereka semua terdiam. Segala pikiran buruk mengisi otak mereka.
"..."
"APA?! Kenapa bisa?! Kau tidak bersamanya tadi?"
"..."
Yoongi langsung berdiri dengan wajah memerah dan tatapan yang menajam. Ia menatap sekilas ke 5 temannya dan mereka langsung mengerti. Ada hal buruk yang terjadi.
"Lantas dimana dia sekarang?! Jangan bilang kau kehilangannya"
"..."
Namjoon dan Hoseok segera beranjak menuju kamar mereka mengambil kunci mobil.
"Baik aku akan melacak ponsel Bobby. Kau bagaimana?"
"..."
"Terima kasih, Hanbin. Maaf aku berteriak padamu. Aku akan segera kesana dengan yang lain"
"..."
"Baiklah. Sampai Nanti"
Yoongi langsung menatap para appa. "Seokjin hyung diculik, dan aku yakin pelakunya Jung Ahn"
"APA?!"
Yoongi mengusap wajahnya pelan, ia kesal dan juga marah. "Aku sudah meminta temanku menjaga Seokjin hyung, tadi juga ada Minhyuk bersamanya. Tapi Jung Ahn membawa pengawal untuk menghalangi mereka"
"Sial" tuan Kim juga tampak marah. Tapi bukan hanya tuan Kim, semua orang disana tengah marah.
"Dari awal memang orang sepertinya pantas mati" ucap tuan Min keras.
Tuan Jeon menepuk bahu Yoongi, "Lantas bagaimana sekarang?"
"Temanku yang lain sedang mengejarnya, aku yakin mereka bisa diandalkan" ucap Yoongi yakin. Ia melihat Namjoon dan Hoseok sudah siap untuk pergi, para maknae juga sudah bersiap-siap. Sepertinya mereka harus segera menyelesaikan ini semua.
"Hyung, aku harap kau tidak menahanku nanti" ucap Jungkook dingin.
Yoongi hanya menatapnya remeh, "Kau pikir aku peduli apa yang akan kau lakukan" ucapannya berbuah seringai diwajah Jungkook. Jimin bahkan tersenyum mendengarnya. Sedangkan Taehyung merasa amat bahagia.
"Kita juga harus pergi. Karena sekarang Jung Ahn yang turun tangan sendiri kami akan ikut dengan kalian" ucap tuan Jeon. Dia menatap teman-temannya dan mereka mengangguk menyetujui. "Kali ini semuanya harus selesai"
Mereka mulai beranjak menuju mobil mereka, Hoseok bersama Yoongi dan Jungkook, Namjoon dengan Taehyung dan Jimin, tuan Park dengan tuan Min dan tuan Jung, sedangkan tuan Kim dengan tuan Jeon. Mereka harus cepat menemukan Seokjin sebelum Jung Ahn melakukan sesuatu yang tidak diinginkan.
.
.
.
8.30 a.m at Campus
Seokjin terdiam setelah mengambil barangnya yang tertinggal. Bahkan Hanbin dan Minhyuk yang berada disampingnya juga ikut terdiam.
"Pa..man.."
Tepat dihadapannya Lee Jung Ahn berdiri dengan senyum diwajahnya. Ia menatap Seokjin dengan tenang. Berbeda dengan Seokjin yang badannya sedikit gemetar saat kembali melihat ayah Jaehwan tepat dihadapannya. Ingatannya kembali pada saat Jaehwan mengatakan sebuah kebenaran padanya. Nampak dari mata Seokjin ada ketakutan disana, namun bila dilihat lagi ada sedikit kemarahan yang ia pancarkan.
"Seokjin"
Seokjin terperanjat saat Minhyuk menepuk bahunya. Ia khawatir dengan Seokjin yang terdiam dengan tangannya yang terlihat sedikit gemetar.
"Kau baik-baik saja?" ucap Minhyuk mengelus bahunya sejenak. Perlahan Seokjin sedikit lebih tenang. Sedangkan Hanbin dibelakang mereka menatap orang yang dipanggil paman oleh Seokjin dengan tatapan tajam. Ia yakin akan ada sesuatu yang terjadi nantinya kalau Seokjin dibiarkan bersama orang ini.
Hanbin menarik pelan tangan Seokjin, "Ayo pergi"
"Tunggu nak"
Seokjin terdiam mendengar panggilan halus Jung Ahn. Namun entah kenapa perutnya mual mendengarnya.
"Bolehkan aku bicara dengan Seokjin sebentar? Aku mohon"
Hanbin dan Minhyuk menatap Jung Ahn dan Seokjin bergantian. Baik Minhyuk dan Hanbin tak ingin membiarkan Seokjin pergi dengan orang ini. Tapi semuanya tergantung Seokjin. sedangkan Seokjin sendiri masih terdiam ditempatnya tanpa mau menoleh.
"Aku mohon Seokjin, hanya sebentar saja" Seokjin sedikit melirik dan melihat Jung Ahn yang tengah memandangnya. Seokjin sedikit merasa aneh dengan pandangan itu. Entah mengapa ada ketakutan tersendiri dihatinya. Ia ingin menghindarinya, tapi takut terjadi sesuatu dengan 2 temannya ini.
Seokjin menghela napas, "Baiklah paman. Tapi sebentar saja, karena aku ada kelas"
Jung Ahn tersenyum mendengarnya, "Baiklah ikut aku" ucapnya mengulurkan tangan.
Seokjin menghela napas menghilangkan katakutan dihatinya. Saat ia ingin menemui Jung Ahn, Hanbin malah mengeratkan pegangan tangannya.
Hanbin menunduk sebentar pada Jung Ahn, "Maafkan saya. Bolehkah saya dan teman saya ini mengikuti anda? Maafkan kami, kami hanya khawatir dengan keadaan Seokjin karena dia baru masuk setelah 3 hari absen" perkataan Hanbin berbuah anggukan dari Minhyuk. Dan sekilas Hanbin melihat ada kilat kemarahan dimasa Jung Ahn namun segera tersamarkan dengan sebuah senyuman.
"Baiklah, aku mengerti. Kita duduk disana saja" ucapnya menunjuk tempat duduk di sekitaran tempat parkir. Jung Ahn berjalan terlebih dahulu sebelum diikuti Minhyuk, Hanbin dan tentu saja Seokjin.
Setelah Jung Ahn duduk, Hanbin melepas tangan Seokjin dan membiarkannya menghampiri Jung Ahn. Sedangkan Minhyuk dan Hanbin masih disebelah Seokjin namun sedikit lebih Jauh. Hanbin sama sekali tidak melepas kewaspadaannya dengan daerah sekitar. Sedangkan Minhyuk menatap Seokjin yang tengah berbincang itu.
"Aku tidak suka dengan orang itu"
"Sama"
Minhyuk menghelas napas, semoga tidak terjadi sesuatu nanti.
Sedangkan Seokjin masih mendengarkan apa yang dibicarakan oleh Jung Ahn. Ia ingin menangis namun sebisa mungkin ia tahan.
"Aku benar-benar minta maaf, Seokjin. Aku tau aku berbuat dosa yang begitu besar, tapi aku berharap aku masih pantas mendapat maaf darimu setelah semua hal yang terjadi. Aku menyesal melakukannya. Sangat-sangat menyesal."
Seokjin masih terdiam. Ia ingin sekali marah pada Jung Ahn. Setelah semuanya terjadi, dan hanya maaf yang ia berikan? Seokjin tidak tau apa yang harus ia lakukan. Ia terlanjur kecewa dengan sikap pamannya. Namun kelemahannya selalu datang disaat seperti ini, hati kecilnya masih mau menerima maaf darinya.
"Apa yang terjadi pada Jaehwan sudah ku anggap sebagai balasan atas semua kelakuanku selama ini. Aku akan menerimanya dengan lapang dada"
Mengingat Jaehwan membuat Seokjin terpaksa menatap Jung Ahn, "Bagaimana keadaan Jaehwan?"
Jung Ahn menghela napas, "Dia koma"
Seokjin jelas terkejut. Namun tidak ada yang bisa dia lakukan. Semuanya sudah terjadi dan Seokjin hanya bisa berdo'a semoga Jaehwan segera sadar.
"Maafkan aku atas keadaan Jaehwan, paman"
Jung Ahn menggeleng, "Tidak nak. Ini sudah menjadi balasan untuknya atas semua tingkah buruknya padamu."
"Sebenarnya aku ingin minta maaf padamu, sebelum aku menyerahkan diri ke kepolisian"
Ucapan Jung Ahn jelas membuatnya terkejut, Seokjin bahkan sampai berdiri dibuatnya. Saat Seokjin menatap kedua mata Jung Ahn, ia bisa melihat kesungguhan. Namun sekali lagi, ia tidak yakin dengan semuanya. Ini terlalu mendadak untuknya.
"Benarkah paman?"
Jung Ahn mengangguk dan ikut berdiri juga, "Aku kemari hanya ingin minta maaf, kalaupun kau memaafkanku atau tidak itu semua terserah padamu, Seokjin. Tapi itu tidak membuatku mundur, karena setelah ini aku akan pergi ke kantor polisi dan mempertanggung jawabkan semua kesalahanku"
"Aku yakin semua yang terjadi mungkin adalah mimpi buruk untukmu. Tapi setelah ini mimpi buruk itu tidak akan pernah menghampirimu lagi"
Seokjin masih terdiam mendengar semuanya. Ada sedikit kebahagiaan dalam hatinya. Setidaknya orang yang telah membunuh kedua orang tuanya akan mempertanggung jawabkan kesalahannya di mata hukum. Meskipun Seokjin mengalami banyak hal buruk sebelumnya ia tidak masalah, asalkan kedua orang tuanya mendapat keadilan.
"Sekali lagi maaf Seokjin. Bolehkah sebagai perpisahan aku memelukmu? Saat melihatmu entah mengapa aku mengingat Jaehwan"
Seokjin sempat ragu melakukannya, tapi ia masih punya hati untuk menghormati orang dihadapannya ini. Seokjin berjalan mendekat dan memeluk Jung Ahn. Sedangkan Jung Ahn tersenyum dan membalas pelukan Seokjin.
"Maaf dan terima kasih, paman"
Jung Ahn tersenyum. Ia menatap sekitarnya dan menyeringai. Tanpa sepengetahuan Seokjin tangannya merambat mengambil sesuatu disaku celananya.
"Ini bukan salahmu Seokjin. Tapi salah orang tuamu"
Dan Seokjin terkejut saat merasakan nyeri dilehernya. Ia segera melepas pelukannya dan melihat Jung Ahn sudah memegang sebuah suntikan ditangannya.
"Apa yang kau lakukan paman?!"
"Seokjin!"
Jung Ahn tertawa, "Menjebakmu"
BUGH
Seokjin menoleh ke belakang dan melihat Hanbin dan Minhyuk tengah berkelahi dengan 2 orang yang tidak dikenalnya.
"Seokjin lari!"
Terlambat. Teriakan Hanbin tak pernah Seokjin dengar karena ia lebih dulu jatuh karena obat bius Jung Ahn sudah bereaksi.
"Habisi mereka berdua. Dan bawa dia" ucapnya pada anak buahnya, sedangkan seorang lagi memapah Seokjin dan membawanya memasuki mobil Jung Ahn.
"SEOKJIN!"
BUGH
"Sial" Minhyuk langsung membalas pukulan orang tersebut. Ia melihat Hanbin yang juga telah terluka diwajahnya. 2 orang ini sangat kuat untuk ukuran mereka. Namun setidaknya mereka bisa membalas dan tidak hanya bertahan.
"HEY!!"
Perkelahian itu berhenti saat melihat beberapa anak lain yang menghampiri. 2 orang suruhan Jung Ahn langsung pergi memasuki mobil yang sudah berisi Seokjin dan langsung pergi dari sana.
Dan ternyata itu Jinhwan, Jackson, Bobby, dan Mark. Beberapa teman mereka juga ikut dibelakangnya. Jinhwan langsung membantu Minhyuk sedangkan Jackson membantu Hanbin. Beruntung luka pukulnya tidak terlalu parah.
"Kalian tidak apa-apa?" tanya Jackson sambil memapah Hanbin menuju tempat duduk terdekat.
"Lupakan aku! Cepat kejar mobil tadi, Seokjin dibawa mereka" teriakan Hanbin membuat Bobby dan Mark segera menuju mobil dan motor mereka. Teman yang lain juga mengikuti dari belakang. Menyisakan Minhyuk yang meringis menahan sakit, Jackson dan Jinhwan sedang mengambil minum dan alat kesehatan, sedangkan Hanbin tengah menghubungi Yoongi.
"Ish..pukulan mereka kuat juga" ucapan Hanbin berbuah kekehan Minhyuk
'Yeoboseo'
"Yoongi!"
'Ada apa?'
"Seokjin itu.."
'Bicara yang jelas, Hanbin!'
"Seokjin diculik"
'APA?! Kenapa bisa?! Kau tidak bersamanya tadi?'
"Aku dan Minhyuk bersama dengannya, tapi orang itu menyuruh bawahannya untuk menghajar kami berdua"
'Lantas dimana dia sekarang?! Jangan bilang kau kehilangannya'
"Tidak. Bobby, Mark dan yang lain sedang mengejar mereka"
'Baik aku akan melacak ponsel Bobby. Kau bagaimana?'
"Aku baik-baik saja Yoon, Minhyuk juga. Hanya lecet sedikit"
'Terima kasih, Hanbin. Maaf aku berteriak padamu. Aku akan segera kesana dengan yang lain'
"Tidak apa-apa Yoongi, aku mengerti. Maafkan aku tidak bisa menjaga Seokjin. Lebih baik segera susul Booby"
'Baiklah. Sampai nanti'
"Ne. Hati-hati"
Hanbin memasukkan lagi ponselnya ke saku celananya. Ada perasaan menyesal karena ia tidak bisa membantu Yoongi dengan baik. Andai saja ia lebih kuat dari teman gunung esnya itu.
"Setelah ini kita juga bisa menyusul mereka" ucapan Minhyuk membuat Hanbin menatap partner barunya ini.
Hanbin terkekeh, "Yah, aku juga tidak akan menyerah begitu saja kalau hanya dengan menerima pukulan seperti ini"
"Dan aku tidak pernah menyangka kau bisa berkelahi juga ternyata"
Minhyuk menatap Hanbin remeh, "Kau mau berkelahi denganku?"
Tawa Hanbin mengundang pandangan aneh dari Jinhwan yang baru datang, "Kepalamu baik-baik saja kan? Kau masih waras kan?" Jinhwan memeriksa kepala Hanbin dengan serius. Sedangkan Minhyuk sudah tertawa melihat tingkah Jinhwan dan Hanbin.
"Wah sepertinya kalian baik-baik saja ya" Jackson datang membawa snack dan air mineral. Ia terduduk disamping Minhyuk dan memberikan 1 botol air mineral padanya.
"Kami memang baik-baik saja" ucap Hanbin setengah merigis saat luka diwajahnya diobati Jinhwan.
"Setelah ini kita berangkat" ucap Jackson sambil membuka bungkus snack yang ia bawa. Minhyuk tersenyum begitupun Hanbin dan Jinhwan.
"Lagipula Seokjin butuh kita juga kan?" ucap Jackson tertawa sambil terus melanjutkan memakan snacknya. Minhyuk mengangguk mengiyakan, Hanbin dan Jinhwan juga mengguman tanda mereka setuju.
'Kau tidak pernah tau Seokjin, kalau kau disayangi oleh banyak orang'
.
.
.
Dijalanan kota terlihat 4 mobil yang berekendara dengan kecepatan diatas rata-rata. 2 mobil memang dikendarai oleh anak muda yang jelas menyukai balapan. Namun jika kau melihat 2 mobil dibelakangnya, kau akan tau 2 namja paruh baya yang tidak mau kalah dari anak-anak mereka. Ini memang bukan ajang balapan antar anak muda dan orang tua. Namun keadaan mendesak membuat mereka harus segera menyelamatkan seseorang yang berharga bagi mereka.
"Ponsel Booby sudah terlacak. Jalan terus" Yoongi mengamati ponselnya yang menunjukkan posisi Booby saat ini. Saat ia mencoba melacak ponsel Seokjin, yang terlihat hanya ponselnya yang sudah tergeletak dijalanan dalam keadaan sudah hancur. Jung Ahn jelas sudah memikirkan semuanya.
Hoseok yang menyetir segera melaju mengikuti arahan Yoongi. Jungkook dari tadi diam menahan amarahnya. Sekali lagi hal buruk terjadi pada Seokjin hyungnya. Dan sekarang sang pelaku utama yang turun tangan langsung. Jungkook bersumpah kalau sampi Seokjin terluka, Jung Ahn akan mati ditangannya.
"Tanganmu bisa terluka kalau kau menggenggam erat pisau kesayanganmu seperti itu" ucapan Hoseok membuat Jungkook tersadar. Ia menatap tangannya yang memerah. Memang sedari tadi ia memegang pisau untuk mengalihkan perasaan marahnya.
Yoongi sendiri hanya membiarkan saja, ia tau Jungkook tidaklah sebodoh itu, "Belok kiri"
Hoseok langsung belok kiri tidak peduli dengan pengendara lain yang berebut membunyikan klaksonnya. Mata mereka masih bisa melihat kan? Jadi Hoseok yakin pengendara lain bisa menghindarinya dengan baik. Tak perlu sampai berlomba membunyikan klakson.
Matanya melirik spion dan melihat mobil Namjoon dan ayah mereka yang mengikutinya dari belakang. Melihat itu Hoseok mengeluarkan seringainya. Mereka semua nampak bersemangat.
Di mobil Namjoon, Taehyung dan Jimin malah berisik meributkan sesuatu yang tidak penting.
"Kalau banyak pengawal kita bisa bersenang-senang, kalau ada sepuluh kau lima dan aku lima" ucap Taehyung bersemangat.
Jimin yang mendengarnya menggelengkan kepala, "Lantas Namjoon hyung?"
Taehyung terkekeh, "Namjoon hyung diam saja menonton"
Namjoon yang tengah fokus mengikuti mobil Hoseok hanya mampu menghela napas. Adiknya ini memang memiliki pemikiran yang aneh. Tapi tidak hanya adiknya, 3 maknae mereka memiliki pemikiran yang sama anehnya.
Lain lagi dengan mobil para appa. Tuan Kim dan tuan Jeon dengan tenang tetap mengikuti mobil anaknya itu. Sedangkan tuan Park tengah mencoba menenagkan pikirannya mendengar pertengkaran tuan Min dan tuan Jung.
"Sudahlah, kalian bisa tenang tidak aku tidak bisa fokus mengemudi" ucap tuan Park lelah. Belum apa-apa tenaganya sudah berkurang drastis.
"Kalau begitu biar aku saja yang menyetir" ucap tuan Jung semangat.
"Kau berisik ya ampun. Pelankan suaramu itu Jung" ucap tuan Min yang sedang mencoba tidur namun tidak bisa karena terganggu suara tuan Jung.
"Kau sensi sekali sih. Sudah tidur sana, lagipula aku bicara dengan Jae Won bukan denganmu" ucap tuan Jung mengerucutkan bibir.
"Astaga" tuan Min hanya mampu menutup kedua matanya karena lelah. Tuan Park hanya mampu diam, ia tidak mau tenaganya semakin terkuras.
Kembali ke mobil Hoseok yang masih mengikuti arahan Yoongi. ponsel Yoongi masih memperlihatkan posisi Bobby. Namun ia terheran saat posisi Bobby tetap disana.
"Mereka berhenti"
Hoseok dan Jungkook menatap Yoongi, '"Maksud hyung"
Yoongi tidak menjawab dan mengalihkan pandangannya ke depan. "Pelankan mobilnya Hoseok" mobil itu mulai memelan.
"Itu mereka"
Tepat di jarak 200 meter Yoongi melihat mobil Bobby. Hoseok segera memberhentikan mobilnya tepat dibelakang mobil Bobby diikuti 3 mobil lainnya.
"Bobby!" Yoongi keluar diikuti yang lain
Bobby yang melihat, langsung menghampiri Yoongi, "Aku dan Mark kehilangan jejak. Tapi tenang, Jaebum sedang mengikuti dengan motornya, diikuti Jinyoung dan Mingyu. Yang lain sedang berpencar, sedangkan Yugyeom dan Minghao sedang ke kantor polisi untuk melaporkan masalah ini dan melacak keberadaan mobil penculik Seokjin"
Yoongi tampak sedikit lebih tenang. Setidaknya ia sudah tidak sendirian lagi sekarang, banyak teman-temannya yang mau membantunya.
"Lantas kenapa berhenti?" tanya Hoseok.
"Kami menunggu kalian. Hanbin tadi menghubungi kalau kalian akan menyusul. Sekalian saja kita berangkay bersama kalian" ucap Mark sambil melacak ponsel Jaebum.
DRT
Tuan Park yang tengah berdiri bersama para anak muda itu mengambil poselnya. Terlihat nama dokter yang menangani Jaehwan menghubunginya.
"Yoboseo"
"..."
"Kenapa?"
"..."
"APA!"
"..."
Nampak yang lain menatap tuan Park tak mengerti.
"Tapi kau sudah memasang barang yang aku bawa kan?"
"..."
"Bagus. Aku bisa melacaknya sekarang. Terima kasih kerja kerasnya."
Tuan Park menutup panggilannya dan menatap yang lain.
"Masalah baru kan?" tebak tuan Min. Ia sudah tau arti tatapan Park Jae Won itu.
Tuan Park hanya terkekeh, "Kau benar. Tapi setidaknya ini bisa menjadi jalan keluar untuk masalah Seokjin"
"Maksud appa?"
"Jaehwan kabur dari rumah sakit"
"APA?!"
"Yang benar saja kau Park! Bagaimana bisa dia kabur. Sekarang bagaimana?!" oke Jung Sang Wook dan penyakit mengomelnya kambuh.
Tuan Park menyeringai, "Jangan khawatir. Aku sudah meminta dokter untuk menanamkan pelacak di tubuh Jaehwan. Setidaknya sekarang kita bisa tau dimana ia berada. Mungkin saja dia pergi ke tempat Jung Ahn membawa Seokjin"
Entah tuan Park yang memang pintar atau Jung Ahn yang terlalu ceroboh. Tapi yang jelas, mereka hanya bisa berharap kalau Jaehwan juga pergi ke tempat Seokjin. Kalau tidak, mereka mungkin hanya akan mengintrogasinya mengenai keberadaan Seokjin.
"Kalau begitu biar kami mengikuti jejak Jaehwan. Kalian lanjutkan saja kejar mobil Jung Ahn. Kalau memang tujuan mereka sama, kita bertemu disana" ucap tuan Jeon. Sekarag mereka hanya perlu berusaha. Sekecil apapun peluang, mereka harus memaksimalkannya.
Setelah koordinasi dadakan itu, mereka segera memasuki mobil masing-masing dan memulai perburuan mereka. Karena matahari masih bersinar terang seperti semangat mereka.
.
.
.
tbc
Haiiiii
maafkan aku yang suka lama banget kalau mau up, sorry
aku ucapkan terima kasih buat kalian semua yg sudah dukung aku n ceritaku,
all the best for u all
and please stay safe, anytime, anywhere
terakhir, semoga cerita ini masih bisa menghibur kalian
