You Actually Specials
.
All member BTS
Family, Brothership
.
.
.
Part 25
.
.
.
Author Pov
Malam semakin terasa kelam kala jam sudah menunjukan pukul 00.00. Namun seseorang itu tak pernah tau, berada dimana ia sekarang. Hanya ada kegelapan disekitarnya, sama sekali tak ada penerangan yang terlihat oleh kedua netranya. Namun dari semua kegelapan yang ia lihat sekarang, ia lebih takut akan kegelapan hatinya sendiri. Karena ia tau saat kegelapan menutupi hatinya, semua tampak benar dimatanya.
Kepalanya melihat sekeliling dan tak melihat apapun, ruang hampa ini memang menakutkan, namun entah mengapa ia jauh lebih tenang berada disini.
'Kau akan menderita'
Tubuhnya menegang saat mendengar suara disekitarnya. Namun yang ia lihat hanya kekosongan.
'Kau pantas mendapatkan ini semua'
Suara itu semakin jelas terdengar ditelinganya. Ia berdiri dan mulai melangkah untuk mencari suara yang mulai terdengar kencang.
'Orang tuaku yang merencanakan kecelakaan ayah dan ibumu'
DEG
Apa? Siapa?
'Aku membencimu Lee Jaehwan'
Tanpa terduga mata seseorang yang beberapa waktu lalu masih terpejam lantas terbuka sempurna saat mendengar suara seseorang. Lee Jaehwan yang telah lama terlelap, akhirnya bangun dari tidur panjangnya. Netranya melihat sekeliling dan nuansa gelap tadi sudah menghilang berganti ruangan terang yang tanpa sadar membuatnya kembali memejamkan mata. Ingatan teriakan yang ia dengar dikepalanya membuatnya tanpa sadar merasakan sakit didadanya.
'Seokjin'
CKLEK
Jaehwan tak berniat membuka matanya meskipun ia mendengar seseorang melangkah menuju ke arahnya.
"Selamat malam anakku"
'Appa'
Jung Ahn menarik kursi didekatnya dan duduk disamping Jaehwan yang masih terpejam. Pandangannya biasa saja namun tak ada yang tau apa yang tengah ia pikirkan. Jaehwanpun hanya mampu pura-pura masih tertidur meskipun kesadarannya sudah kembali.
Jaehwan bisa merasakan elusan tangan dikepalanya. Sedikit heran karena tidak mungkin ayahnya bisa bersikap lembut begini. Sejak kematian ibunya sikap ayahnya itu semakin lebih kasar dan menyeramkan. Baru saja ia dikejutkan dengan kelembutan yang tiba-tiba, Jaehwan harus menahan sakit saat elusan itu berubah menjadi tarikan yang kuat.
Jung Ahn menarik rambut anaknya itu untuk melihat lebam yang masih menempel diwajah anaknya, "Lemah. Tidak berguna"
Suara datar itu terdengar jelas ditelinga Jaehwan. Namun yang bisa ia lakukan hanya diam sekarang.
Jung Ahn membenahi duduknya setelah melepas tarikannya pada rambut Jaehwan. Ia hanya terdiam sebelum sebuah seringai muncul diwajahnya.
"Aku tau kau sangat mencintai anak Jeo Hoon itu kan? Tenang saja, aku akan membawanya kehadapanmu agar kau tidak sendirian lagi"
Jaehwan merinding saat mendengar tawa kecil setelah ucapan ayahnya barusan.
"Tapi terserah padaku aku akan membawanya dalam keadaan hidup atau mati"
Ada keinginan besar untuk membuka mata, namun Jaehwan berusaha keras menahan kemarahannya karena ia masih ingin mendengar ucapan ayahnya.
Jung Ahn berdiri dan menghadap kearah jendela diruangan tersebut. Langit malam dan kelip lampu kota yang terlihat membuatnya memunculkan senyum. Namun sepersekian detik wajah itu berubah datar.
"Ayahnya dulu menolak kerja sama denganku, aku masih biarkan anak itu hidup. Tapi sialan sekali teman-teman Jeo Hoon tau semua rahasiaku akibat mulut busukmu itu."
Jung Ahn menatap tajam wajah pucat Jaehwan, "Jadi ku harap kau bisa menerima saat dihadapanmu hanya ada tubuh tidak bernyawa Seokjin. Karena aku juga ingin membuat mereka hancur karena tidak bisa melindungi Seokjin. Membayangkannya saja sudah membuatku senang" ucap Jung Ahn sambil tertawa.
Jung Ahn marah sebenarnya karena semua aset perusahaannya entah bagaimana sudah berpindah tangan. Belum lagi pembatalan kontrak kerjasama yang ia lakukan dengan mereka, dan tak lupa perusahaan orang tuanya yang disita Bank karena sebuah pinjaman yang tak pernah ia lakukan. Dan hanya ada kemungkinan bahwa semua ini ulah Daehan dan Jisoo serta 3 orang lainnya yang membuatnya hampir hancur seperti ini.
Kilat marah itu jelas terlihat meskipun Jaehwan hanya bisa merasakannya. Jung Ahn perlahan beranjak menuju pintu. Namun sebelum membukanya ia kembali menatap Jaehwan, "Besok akan aku bawa cintamu itu dan melihat kehancuran mereka berlima yang sudah mengusikku. Dan sudah jelas aku juga ingin melihat kehancuranmu karena sudah mengecewakan, anakku"
Jung Ahn pergi meninggalkan Jaehwan yang sudah membuka matanya. Ia menatap kosong langit-langit ruangan tempat ia dirawat. Semua ingatan 2 tahun belakang menghantui pikirannya. Semua kejahatan yang ia lakukan, pembullyan tanpa alasan jelas, serta sikap kasarnya selama ini membuat Jaehwan menyesali hidupnya.
Ia buta akan cintanya sendiri, hingga tanpa sadar ayahnya memperalat dirinya untuk bertingkah buruk sebagai bentuk balas dendam. Padahal ia tau, hatinya tak pernah menginginkan hal seperti itu akan ia lakukan pada Seokjin. Ia tulus mencintai temannya itu. Namun kata-kata ayahnya membuatnya melupakan cintanya dan merubah emosi kebahagiaan akan rasa tersebut menjadi kebencian tak beralasan. Hingga yang bisa ia lakukan hanyalah menyakiti Seokjin.
'Aku akan menjaga mereka ber 6 seperti menjaga adikku sendiri'
'Dan aku yang akan menjagamu, Seokjinie'
Air matanya menetes saat ia kembali teringat janji masa kecilnya untuk menjaga Seokjin yang ingin melindungi teman-temannya itu. Ia berjanji akan berada disisinya dan membuatnya senang. Namun pada akhirnya ia penyebab terbesar kesedihan dihidup Seokjin.
Ia segera bangkit dan mengusap air matanya. Meskipun ia masih lemah ia tetap berjalan keluar ruangannya. Tak ada alasan untuk menyesal sekarang, karena ia harus menghentikan ayahnya yang akan melukai Seokjin. Lorong rumah sakit tampak sepi saat ia melangkah keluar. Dengan perlahan ia melangkah mencari jalan untuk keluar dari rumah sakit ini. Namun ia tak bisa pulang ke rumahnya sekarang, ayahnya akan tau kalau ia sudah sadar. Jaehwan menggelengkan kepalanya, yang terpenting sekarang ia harus keluar lebih dulu.
'Tidak. Tidak akan aku biarkan appa menyentuh Seokjin'
.
Pagi pukul 9 rumah sakit sudah terlihat banyak orang berlalu lalang. Perawat dan dokter sudah mulai menjalankan tugas pagi mereka untuk mengecek pasien. Salah satunya dokter yang berada di lantai kamar VIP. Ia baru keluar dari ruang kerjanya menuju tiap kamar VIP di lantai tersebut. Sampai pada kamar terakhir, ia mengernyit heran karena tidak biasanya kamar tersebut tidak ada penjaganya. Padahal 3 hari lalu ia harus melewati 2 orang namja kekar untuk masuk memeriksa pasiennya.
Dokter tersebut tanpa curiga membuka pintu kamar tersebut. Namun yang terlihat hanya ruang kosong tak berpenghuni. Apa pasiennya sudah sadar? Ia melihat bahwa ranjang di kamar tersebut masih terihat berantakan bekas ditiduri seseorang, belum lagi infus yang terlepas dan masih terlihat noda darah. Seperti dilepas secara paksa.
"Tuan Jaehwan"
Dokter tersebut membuka pintu kamar mandi dan sama, tidak ada orang di dalam. Dokter tersebut langsung turun ke lantai bawah dan menuju ruang CCTV rumah sakit. Petugas disana menunjukkan rekaman video tadi malam di ruang VIP. Matanya membola saat melihat seseorang yang diyakininya sebagai Lee Jaehwan tengah berjalan dengan tertatih pukul 01.30 pagi. Ia lalu meminta petugas untuk mengecek CCTV di area lain, dan melihat bahwa pasiennya itu sudah keluar dari rumah sakit dengan menggunakan pakaian seseorang. Entah ia mendapat darimana pakaian tersebut.
"Terima Kasih bantuannya" ucap dokter tersebut setelah berpamitan dengan petugas di ruang CCTV.
Ia berjalan terburu menuju ruangannya, "Aku harus segera menghubungi Tuan Park"
Sesaat setelah sampai di ruangannya, ia langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Park Jae Won.
'Yeoboseo'
"Selamat Pagi tuan Park. Maaf menganggu waktu anda, tapi disini ada masalah" ucapnya pelan. Ia sungguh takut akan dimarahi.
'Ada apa?'
"Maaf sebelumnya tuan Park. Tapi pasien Lee Jaehwan kabur dari rumah sakit tadi malam"
'APA!'
Dokter tersebut memejamkan mata mendengar teriakan tuannya itu.
"Saya benar-benar minta maaf tuan Park. Karena tidak menjalankan tugas dari anda dengan baik"
'Tapi kau sudah memasang barang yang aku bawa kan?'
Hah?! Dokter tersebut sempat bingung, sebelum akhirnya ia menepuk pelan keningnya sendiri karena menyadari kebodohannya. Tentu masih teringat jelas, kemarin tuan Park memberikannya chip kecil yang ia ketahui adalah pelacak untuk ia pasang di tubuh Jaehwan.
Tangannya lalu membuka laptop tuan Park yang dipinjamkan padanya dan mencari keberadaan Jaehwan. Ia tersenyum lega saat melihat titik merah yang tengah berjalan pelan di layar laptop tersebut.
"Chipnya sudah saya pasang kemarin tuan Park. Maaf mengagetkan anda. Dan saya juga telah melacak keberadaan Lee Jaehwan. Chip yang anda berikan berfungsi dengan baik"
'Bagus. Aku bisa melacaknya sekarang. Terima kasih kerja kerasnya.'
"Sama-sama tuan Park. Senang bisa membantu anda"
Dokter tersebut menutup panggilannya dan duduk dengan tenang. Ia tersenyum karena masalah kaburnya Jaehwan masih bisa diatasi. Ia jadi menerawang, sepertinya pasiennya ini orang yang berbahaya, sampai tuan Park memintanya memasang pelacak.
Ia menghela napas, dan beranjak untuk melanjutkan tugasnya. "Semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk"
.
.
.
Tepat ketika cuaca semakin terik 3 mobil masih setia berkendara,mengikuti mobil Hoseok yang tengah mengikuti jejak Jaebum yang terus saja bergerak. Sudah hampir 2 jam mereka berkendara tapi masih belum ada kejelasan kemana Jung Ahn akan membawa Seokjin pergi. Hingga ketika mereka menyadari mereka memasuki kawasan pinggiran kota yang nampak masih tak terlalu padat penduduk. Masih terlihat dipinggir jalan banyak pohon menjulang tinggi. Dan perasaan Yoongi semakin memburuk.
Ia masih melihat ponselnya dan mendapati posisi Jaebum yang sudah berhenti. Dan ternyata mereka melihat sebuah mobil sport dan motor berhenti didepan.
"Mereka disana" Hoseok segera memberhentikan mobilnya dan keluar menyusul Yoongi dan Jungkook yang sudah keluar lebih dulu. Dibelakang mereka Namjoon, Taehyung, Jimin, serta Mark dan Bobby berjalan menghampiri teman-teman mereka.
"Jaebum"
Jaebum menoleh menatap Yoongi yang nampak tenang, namun tidak dengan aura yang menguar dari dirinya.
"Mingyu dan Jinyoung sedang melihat keadaan di dalam" Jaebum menunjuk sebuah jalan masuk yang menuju ke sebuah rumah besar yang tampak tidak terawat.
Mereka bisa melihat mobil yang mereka yakini membawa Seokjin terparkir didepan rumah. Suasana nampak sepi meskipun masih bisa terlihat beberapa rumah disekitar mereka. Tidak yakin juga apakah rumah itu masih berpenghuni atau tidak.
DRT
Ponsel Jaebum bergetar dan terlihat nama Mingyu disana.
"Bagaimana?"
'Kosong. Tidak ada orang sama sekali. Aku dan Jinyong sudah mengelilingi rumah ini dan tidak terlihat ada kehidupan disini'
Jaebum menatap teman-temannya yang mendengarkan pembicaraannya.
"Jangan bercanda, pasti terlihat ada supir atau paling tidak penjaga di depan rumah. Kau yakin sudah memeriksanya dengan benar?"
Jaebum sendiri was was. Sudah jelas ia melihat mobil yang diyakini membawa Seokjin masuk ke rumah tersebut. Sangat aneh kalau tidak terlihat ada orang sama sekali. Ia menatap Yoongi dan yang lain yang sepertinya juga merasakan sesuatu yang tidak beres tengah terjadi sekarang.
'Aku yakin. Apa kau ingin kami masuk? Aku..Jinyoung!'
Jaebum terkejut dengan teriakan Mingyu, "Hey, ada apa?! Mingyu?!"
KRIET
9 pasang mata melihat ke sebuah rumah tepat disebelah mereka terbuka dan melihat beberapa orang keluar dari sana. Bukan hanya rumah itu saja, rumah dibelakang mereka tepat disamping mobil mereka juga terlihat beberapa orang keluar.
"Sial" ucap Yoongi mengumpat. Firasatnya benar, mereka dijebak. Matanya awas melihat sekeliling mereka yang sudah ada sekitar 20 orang namja yang sepertinya sudah siap menghabisi mereka semua.
"Wah akhirnya datang juga kalian"
Tepat dari belakang sekumpulan tersebut 2 namja berjalan dengan seringai diwajah mereka.
"Ravi...Hongbin..." Bobby bergumam melihat 2 orang teman Jaehwan yang bisa jadi dalang penjebakan mereka.
Ravi tertawa melihat wajah teman kampusnya yang nampak bingung itu, "Selamat kalian mengikuti mobil yang salah. Ini bukan tempat Seokjin berada, tapi ini tempat kuburan kalian" seringai masih betah berada diwajahnya.
Yoongi masih nampak tenang dengan Namjoon dan Hoseok yang berdiri disinya. Sama seperti Jungkook, Taehyung dan juga Jimin, yang menatap mereka tajam namun masih berdiam diri. Tapi mereka tau kalau ketenangan mereka adalah badai yang besar. Mark, Bobby dan Jaebum juga sudah menyiapkan diri untuk perkelahian yang jelas akan terjadi sebentar lagi.
"Dimana Seokjin berada?" tanya Yoongi. Ia menatap 2 orang yang dikenalnya sebagai anak yang terkadang juga ikut membully Seokjin bersama Jaehwan juga.
Bukannya jawaban mereka malah tertawa, "Kenapa kau harus peduli padanya? Pedulikan saja keselamatanmu sendiri, Min Yoongi" ucap Hongbin seraya menatap remeh Yoongi.
"Ku tanya sekali lagi, dimana Seokjin hyung?"
Ravi maju perlahan dan berdiri dihadapan Yoongi, belum sempat mengatakan sesuatu Namjoon yang berdiri disampingnya maju menghadapi Ravi.
"Kau tak mendengar Yoongi hyung mengatakan apa sampai mendekat kemari?" ucapan Namjoon membuat Ravi menatapnya tajam. Namun bukannya takut Namjoon semakin maju dan malah membuat Ravi sedikit memundurkan langkahnya tanpa ia sadari.
"Akan aku ulangi. Dimana.Seokjin.hyung.berada?" Namjoon bisa melihat wajah Ravi yang memerah. Bahkan Hongbin sudah mengepalkan tangan menahan amarahnya.
Ravi mundur dan kembali berdiri disamping Hongbin. Tak lama kemudian seringai hinggap di wajah Ravi, "Kalaupun ku beritau kalian tidak akan bisa mengejarnya, karena kalian akan mati disini" ia lalu menatap orang disekelilingnya, "Habisi mereka semua"
"AHHH!"
Gerakan beberapa orang itu terhenti saat mendengar salah satu dari mereka terjatuh dengan luka sobek di perut dan bahunya. Mereka bisa melihat warna darah yang berjatuhan di tanah. Belum lagi yang masih menetes di pisau Jungkook.
Ya. Jungkook tak ingin berlama-lama disini. Mereka harus segera mencari keberadaan Seokjin. Dan Jungkook yakin 2 orang teman Jaehwan itu tak akan mau membuka mulut mereka jika Jungkook tidak mengambil tindakan sekarang.
Yang lain terdiam dengan kejadiam barusan. Lain lagi dengan kelima orang yang sudah siap dari tadi, Hoseok sudah berdiri disamping Namjoon sedangkan Taehyung dan Jimin bersiap disamping Jungkook. Berbeda dengan Yoongi yang masih menatap tenang sekumpulan mangsa barunya ini.
Kali ini Yoongilah yang menyeringai karena serangan tiba-tiba Jungkook barusan sedikit memberi efek ketakutan pada musuh mereka.
Yoongi menoleh kearah, Mark, Bobby, dan Jaebum, "Kalian bertiga susul Jinyoung dan Mingyu. Urusan disini bagian kami"
Mereka bertiga saling memandang dan mengangguk bersamaan. Mereka jelas tau kalau ikut bertarung dengan mereka yang ada mereka hanya menjadi beban saja. Bukan merendah, hanya saja memang 6 orang teman mereka ini tidak bisa diremehkan.
"BERHENTI DISANA! Siapa yang menyuruh kalian pergi?! Kenapa kalian semua diam?! Cepat habisi mereka"
Teriakan Ravi membuat Mark dan Jaebum hanya menoleh sekilas. Sedangkan Bobby menepuk bahu Yoongi pelan, "Jangan merindukanku ya teman" Yoongi hanya meliriknya sekilas dan berbuah kekehan kecil dari Booby sebelum beranjak pergi menuju ke arah rumah besar tempat Mingyu dan Jinyoung.
"Hentikan mereka" teriakan Hongbin membuat beberapa orang mencoba menghadang mereka bertiga.
BUGH
2 orang terlempar sebelum sempat mengejar ke arah rumah besar. Yang lain langsung menoleh menatap Jimin dan Taehyung, pelaku pemukulan barusan. Dan tanpa menunggu, Jimin langsung menerjang mereka dengan pukulannya. Jangan kira dia lemah karena terlihat lebih pendek dari hyung-hyungnya, mereka berenam sama kuatnya.
"Bukannya kalian ingin membunuh kami? Kenapa mengincar orang lain, hm? Takut?" Jimin menatap tajam 3 orang yang masih berdiri dihadapannya, tanpa banyak berpikir ia langsung memukul mereka. Sedangkan Taehyung kembali kesisi Jungkook yang sudah memukul musuh yang menghampirinya.
BUGH
Jungkook langsung menusukkan pisaunya di bahu orang yang sudah Taehyung pukul duluan, karena menyerangnya dari belakang. Jungkook sedikit menunduk membiarkan Taehyung melompat diatasnya dan menendang 2 orang yang akan memukul mereka.
"Wah kenapa kalian jatuh. Tahan dong seharusnya" Taehyung mengerucutkan bibirnya melihat 2 orang yang jatuh karena ulahnya. Saat mereka mulai berdiri lagi, Jungkook dan Taehyung langsung memukul mereka.
Jungkook menyimpan pisau kesayangnya dan memukul dengan kuat. Sangat disayangkan musuhnya itu tidak bangun lagi, pingsan mungkin. Berbeda dengan Taehyung yang langsung menduduki musuhnya setelah ia buat tersungkur.
"Aku boleh membunuh dia tidak sih?" tanya Taehyung menatap Jungkook yang sudah bersiap untuk berkelahi lagi.
Jungkook hanya mendengus mendengarnya, "Kalau orang jahat memang harus mati"
"Benarkah?" Taehyung menunduk sambil melihat wajah musuhnya yang ketakutan saat melihatnya, "Kau orang baik atau orang jahat?" tanya Taehyung pada musuhnya yang bergetar. Ia tidak bisa bangun lagi, selain karena tubuhnya sakit, orang yang berada diatas tubuhnya ini menahannya kuat. Padahal Taehyung hanya duduk dengan santai.
"Ora..ng..ba..baik"
"Kalau kau orang baik, kau pasti tau dimana Seokjin hyung kan?" Taehyung menatapnya tersenyum tapi entah mengapa rasa takut yang dirasakan semakin besar.
"Aku..tid..dak..tau.."
Taehyung langsung menghilangkan senyumannya. Wajahnya datar dan menatap tajam musuhnya, "Kalau begitu kau orang jahat" Taehyung langsung memukul wajah musuhnya hingga terdengar suara retak. Belum lagi darah yang keluar mengotori wajah musuhnya.
Hingga ketika bangkit dari duduknya, matanya membola karena terkejut saat ada orang yang terbang melintas dihadapannya. Ia melihat kearah Jimin yang masih melempar beberapa orang yang masih berusaha memukulnya. Ia lalu mengusap dadanya, "Beruntung tidak kena wajahku. Yak! Jimin?! Lemparanmu hampir mengenaiku!"
"Maaf Tae! Aku sengaja!" ucap Jimin masih betah memukuli musuhnya.
Yoongi hanya melihat 3 maknaenya yang sepertinya tengah bersenang-senang.
BUGH
Ia menendang musuh yang hampir memukulnya. Didepannya sudah ada 4 orang yang terkapar dengan wajah lebam penuh darah karena ulahnya. Meskipun sudah 5 orang yang ia pukul tak ada gurat lelah sama sekali diwajahnya, ia menatap Ravi dan Hongbin yang menatapnya marah.
"Sepertinya mereka tidak mengira akan seperti ini kan?" ucap Namjoon disisinya yang sudah menghabisi banyak musuh yang berkeliaran disekitarnya. Banyak noda darah yang terlihat dibajunya, bahkan masih terlihat jelas dikedua tangannya ada yang masih basah.
"Kau berantakan sekali"
Namjoon hanya tersenyum mendengar ucapan Yoongi, "Maaf hyung, kau tau kan aku ceroboh? Aku tidak bisa memukul dengan baik, yang ada tanganku ini malah tidak sengaja memukul hidung mereka sampai patah, atau bahkan tidak sengaja merobek mulut mereka, hingga tadi hampir saja tanganku tak sengaja mencengkram leher musuh sampai kulitnya robek. Jadi maaf hyung aku kotor karena kecerobohanku sendiri" Namjoon mengatakannya dengan raut sedih yang dibuat-buat karena sudah mengotori bajunya dengan darah musuh. Tapi ia tidak peduli dengan orang yang darahnya tertempel dibajunya. Biarkan itu menjadi urusan Tuhan.
Yoongi terkekeh mendengarnya. Ia hanya menggelengkan kepalanya mendengar penjelasan Namjoon, "Dasar"
KRAK
"AAAHH!!"
"Aduh maaf ya, lagian kenapa tanganmu melingkari leherku sih?! Aku kan jadi terkejut dan refleks mematahkan tanganmu itu. Pasti sakit ya?"
Namjoon dan Yoongi hanya menghela napas melihat Hoseok yang tengah meminta maaf pada musuhnya.
"Mau aku obati?"
"Tidak! Aku..AHHH!"
"Kau sih tidak mau diobati, aku jadi gemas kan sampai kedua tanganmu patah semua begini!" Hoseok masih mengomel dengan memegang tangan yang baru saja ia patahkan lagi. Ia lalu menghempaskan tangan musuhnya karena telinganya sakit mendengar teriakan kesakitanya.
Hoseok bangkit dan melihat sekeliling, ia tak melihat ada orang yang mendekatinya lagi. Ia lalu melangkah kearah Yoongi dan Namjoon yang masih menatapnya aneh, "Apa?"
Yoongi dan Namjoon tak mempedulikan Hoseok dan kembali menatap 2 orang yang masih berdiri setelah pasukannya sudah habis karena ulah mereka.
"Jadi dimana Seokjin hyung?" tanya Yoongi lagi.
"Kurang ajar!"
BUGH
Ravi langsung tersungkur setelah menerima bogeman dari Jungkook. Tak sampai disana, ia langsung menendang perut Ravi hingga sedikit terseret menjauh. Hongbin langsung berlari menerjang Jungkook namun berhasil dihindari. Hingga tanpa ia sadari Yoongi sudah menyiapkan kepalan tangannya dan memukulkannya ke wajah Hongbin hingga terlempar.
Yoongi mendekati Hongbin dan menginjak perutnya dengan keras, "Sejak tadi aku bertanya dengan baik-baik padamu. Bahkan setelah orang suruhanmu menyerangpun aku masih bicara baik-baik padamu. Tapi sepertinya itu percuma, karena sepertinya kau hanya akan buka mulut saat aku merobeknya paksa" Yoongi mencengkram rahang Hongbin kuat yang berbuah ringisan darinya.
"Sialan kalian..AHHH!"
"Jangan menganggu saat Yoongi hyung bicara, atau aku yang akan membuatmu tak bisa lagi bicara dan bergerak" Ucap Jungkook setelah kembali menendang perut Ravi.
Ravi langsung tak sadarkan diri setelah mendapatkan tendangan itu. Jungkook hanya membiarkan saja meskipun ia melihat ada darah keluar dari mulut musuhnya. Ia kembali mengalihkan pandanganya pada Yoongi yang masih mencari jawaban dari Hongbin.
Karena tak bisa menahan diri, ia mendekati Hongbin sambil mengeluarkan kembali pisaunya. Dengan tanpa bersalah Jungkook menggoreskan pisaunya disepanjang lengan Hongbin. Yoongi hanya diam saja saat wajah musuhnya itu tengah menahan sakit ditubuhnya.
"Kau akan diam terus?" Jungkook beralih ke wajah Hongbin.
"Ru..mah..tuan..be..sar.."
Jungkook menghentikan goresan dipipi Hongbin dan menatapnya tajam. Yoongi lalu menghempaskan tubuh lemah Hongbin dan beranjak menuju adik-adiknya bersama Jungkook.
"Susul Bobby"
Taehyung dan Jimin langsung melesat pergi. Setelah sampai disana mereka berdua melihat Bobby dan Jaebum masih berkelahi dan Mark membantu Mingyu yang memapah Jinyoung yang sudah tak sadarkan diri. Sudah banyak yang terkapar disekitar mereka, tapi masih ada beberapa yang tersisa.
BUGH
Jimin langsung memukul salah seorang musuh sampai tak sadarkan diri. Bobby yang terkejut sempat terhenti sejenak.
BUGH
"Yak! SAKIT!"
BUGH
Bobby akhirnya memukul musuh terakhirnya setelah sempat kena pukul karena terdiam setelah terkejut melihat kedatangan Jimin. Taehyung sendiri sudah selesai setelah membantu Jaebum. Ia lalu beralih menatap Mingyu yang keadaannya hampir sama dengan Jinyoung.
Tanpa banyak bicara ia melingkarkan lengan Mingyu ke bahunya, begitupun Jaebum yang menggantikan posisi Mingyu memapah Jinyoung. Mingyu sendiri hanya menatap Taehyung tak mengerti, "Kau juga terluka. Jangan menanggungnya sendiri, kau masih punya kami yang bisa membantumu"
"Terima kasih"
"Jungkook pasti marah karena teman berkelahinya berantakan begini" ucap Taehyung sambil berjalan menuju ke mobil disusul Bobby dan Jimin, serta Mark, Jinyoung, dan Jaebum.
Mingyu hanya terkekeh, "Kelinci itu pasti hanya akan mengoceh tak jelas"
Mereka segera beranjak dari rumah besar itu dan menyusul teman-teman mereka. Saat sampai disana disekitaran mereka sudah tidak terlihat korban kekerasan yang sejak tadi berserakan. Sepertinya sudah dibersihkan.
"Kemana mereka semua, hyung?" tanya Jimin saat sudah berdiri disamping yang lainnya. Hoseok menunjuk rumah dibelakangnya.
Jaebum sudah memasukkan Jinyoung ke mobil Mingyu. Ia masih belum sadar, sepertinya mereka harus mampir sebentar ke rumah sakit terdekat untuk memeriksakan keadaannya. Mingyu sendiri sedang bicara dengan mereka mengenai rumah besar yang ternyata kosong.
"Kau yakin?" tanya Jungkook setelah mendengar penjelasan Mingyu. Meskipun ia sedikit kesal karena melihat temannya ini terluka ketika berkelahi. Sepertinya Jungkook akan terus mengajak Mingyu sparring setelah masalah ini selesai.
"Aku tadi sempat melihat kedalam dan memang tidak ada orang. Bahkan rumah itu kotor sekali. Tak terlihat juga ada jejak orang masuk. Jadi sejak awal ini memang jebakan untuk kita"
Yang lain masih terdiam menanggapi penjelsan Mingyu. Bahkan Yoongipun masih terdiam memikirkan semua ini sekaligus mencari rumah Jung Ahn yang kemungkinan tempat sebenarnya Seokjin berada sekarang.
Tunggu. Bukankah ayah mereka tengah mengikuti Jaehwan? Jika kemungkinan Jaehwan pergi menemui ayahnya, ayah mereka juga pasti berada disana sekarang. Yoongi langsung mengambil ponselnya menghubungi tuan Min. Namun tak ada jawaban dari ayahnya, ia kembali menghubungi dan menunggu beberapa saat. Dan sekali lagi operator yang menjawab. 'Kemana appa'
DRT
Mingyu mengambil ponselnya, "Minghao.."
Mingyu mengangkat panggilan tersebut dan meloudspekernya. "Ne Minghao"
'Mingyu!'
"Ada apa? Kau dimana?"
'Aku masih di kantor polisi sekarang. Aku ada informasi untukmu'
"Apa?"
'Aku meminta temanku yang seorang polisi lalu lintas untuk mengecek beberapa CCTV diarah kau dan yang lain mengejar mobil penculik itu. Dan ternyata mobil yang kau ikuti dan Jaebum itu mobil palsu'
Yang lain terkejut, namun Yoongi dan yang lain masih terlihat tenang, "Ternyata benar ini jebakan. Kami memang tidak menemukan apapun disini dan hanya ada anak buah si penculik itu"
'Hah?! Lantas keadaan kalian bagaimana sekarang?'
"Aku dan yang lain baik, hanya Jinyoung yang pingsan. Lagipula ada Yoongi dan yang lainnya disini"
Yoongi sedikit mendekat, "Minghao, kau tau mobil yang asli pergi kemana?"
'Ne, aku tau. Tadi memang sempat tak terlalu jelas, tapi setelah diteliti lagi mobil itu mengarah ke Gwacheon. Sepertinya mereka ingin mengalihkan kalian saja dengan mobil palsu itu'
"Kau yakin mobil itu ke Gwacheon?" tanya Yoongi sekali lagi.
'Aku yakin. Aku juga sudah menghubungi Dokyeom untuk segera ke Gwacheon. Yugyeom juga sudah menyusul kesana bersama Hanbin dan Minhyuk juga'
"Baiklah. aku mengerti. Terima kasih bantuanmu Minghao" ucap Yoongi pelan. Ia tau Seokjin masih belum ditemukan sekarang. Tapi ia sangat bersyukur mempunyai banyak teman yang bisa membantunya dalam keadaan seperti ini.
'Sama-sama. Lagipula kami semua temanmu, jadi kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk meminta bantuan. Jangan seperti Jungkook'
"Heh! Apa maksudmu?" ucap Jungkook tiba-tiba.
'Hehehe sorry Jeon. Baiklah kalau begitu aku juga akan ke Gwacheon sekarang. Kalau kalian sudah menemukan alamatnya jangan lupa untuk hubungi yang lain ne'
"Baiklah. hati-hati Hao" jawab Mingyu.
'Ne'
Mingyu memasukkan ponselnya kembali setelah memutuskan panggilan. Sekarang setidaknya mereka punya titik terang tentang keberadaan Seokjin. Meskipun masih harus mencarinya lagi, tapi mereka yakin akan segera menemukannya. Karena mereka tidak sendiri lagi. Mereka punya teman yang ikut berjuang bersama mereka.
"Jadi tujuan selanjutnya Gwacheon? Perkiraan, kita sampai disana mungkin sudah sore atau bahkan malam, karena kita harus berpencar sekalian mencari mobil itu kan" ucap Jaebum.
"Benar. Tapi bagaimana dengan Jinyoung?" tanya Mingyu.
"Kau masih bisa menyetir?" tanya Yoongi, dan berbuah anggukan dari Mingyu. "Kalau begitu kau antar dulu Jinyoung ke rumah sakit. Setelah itu kau bisa menyusul ke Gwacheon kalau kau mau ikut"
"Tentu saja aku ikut! Disini saja sudah ada hampir 30 orang, bagaimana dengan disana? Tentu saja aku ingin membantu kalian"
"Membantu dengan apa kalau kau sudah babak belur begitu"
"Diam kau Jeon! Jangan meremehkanku ya" ucapan Mingyu hanya berbuat tawa remeh dari Jungkook.
Yang lain hanya menggelengkan kepala melihat pertengkaran Jungkook dan Mingyu. "Sudah. Lebih baik kita berangkat sekarang" ucap Namjoon menghentikan pertengkaran itu. kalau mereka hanya berdiam diri disini tidak akan cepat sampai kesana.
"Namjoon benar. Sudah ayo berangkat keburu malam nanti" ucap Hoseok berniat memasuki mobilnya namun terhenti saat melihat Yoongi mengangkat ponselnya. Sepertinya ada panggilan masuk.
"Appa"
"..."
"Appa juga?"
"..."
"Bagaimana keadaan disana?"
"..."
"Kami baik. Lantas bagimana sekarang?"
"..."
"Dimana?"
"..."
"Baik appa. Aku akan menyusul kesana"
Yoongi memasukkan ponselnya dan menatap semua teman-temannya. "Tidak perlu berpencar, aku tau dimana rumah orang itu"
Yang lain jelas terkejut. Tapi jelas ada rasa bahagia karena mereka tidak harus kelelahan mencari.
"Apa para appa juga kesana, hyung?" tanya Jimin.
"Ne. Mereka kesana. Dan lagi, mereka juga dijebak"
"APA?!" teriakan itu terdengar menyakitkan ditelinga Yoongi.
"Lantas bagaimana keadaan appa, hyung? Mereka baik-baik saja kan?" tanya Taehyung. Ia khawatir dengan keadaan ayahnya.
Yoongi mengangguk, "Mereka baik, tenang saja. Lebih baik kita segera kesana sekarang."
"SIAP!"
Yoongi tersenyum melihat adik-adik dan teman-temannya bersemangat seperti ini. Mereka harus menemukan Seokjin sebelum malam tiba. Kalau lebih lama lagi ia takut Seokjin akan ia lihat dalam keadaan tidak bernyawa. Yoongi menggelengkan kepala menguruk pikiran buruknya. Tidak. Seokjin harus baik-baik saja.
Yoongi lalu memasuki mobil Hoseok begitupun yang lainnya. Tidak lupa mengirimkan alamat rumah Jung Ahn kepada yang lainnya serta menghubungi teman mereka yang sebelumnya sudah berpencar. 4 mobil dan 1 motor itu segera pergi darisana meninggalkan bekas perkelahian beserta korbannya. Tapi jelas Yoongi tidak sejahat itu, ia sudah menghubungi polisi setempat untuk mengurusnya. Karena Yoongi tidak mau berurusan dengan mereka lagi. Prioritasnya sekarang adalah Seokjin.
'Tunggu kami, hyung'
.
.
.
"Sudah menghubungi anak-anak?" ucap seorang namja paruh baya bernama Park Jae Won pada temannya yang tengah melempar ponselnya kedalam mobil, Min Yong Soo.
"Hm"
Tuan Min mengambil sapu tangan disakunya dan membersihkan sisa darah yang tersisa dikatana miliknya yang ia bawa.
"Orang tua sepertimu masih lincah saja menggunakan alat itu" ucap Tuan Park tertawa kecil saat melihat lirikan tajam tuan Min. Ia juga tengah mengemasi handgunnya dan memasukkannya lagi ke jasnya. Terlihat didepan mereka ada sekitar 10 orang yang terkapar dengan banyak darah yang berceceran.
"Bisakah kau hentikan sifat psikopatmu itu, Jung?" teriak tuan Min saat melihat temannya, Jung Sang Wook tengah menusukkan pisaunya pada mayat musuh mereka secara berulang-ulang.
Tuan Jung mengangkat kepalanya yang terkena cipratan darah. "Aku bosan. Jisoo dan Daehan lama sekali. Sebenarnya mereka sedang apa sih? Mereka tidak mati duluan sebelum dirimu kan hyung?"
"MULUTMU JUNG! Kau ingin aku memenggal kepalamu agar kau mendahaului aku hah?!"
Teriakan tuan Min membuat tuan Jung tertawa sedangkan tuan Park hanya tersenyum kecil, meskipun sebenarnya lelucon barusan itu sangat menggelikan. Memang dasar Jung Sang Wook suka sekali mencari keributan, apalagi ketika bosan.
"Wah senang sekali kalian ditinggal kami" suara berat itu menghentikan tawa tuan Jung. Ia melihat kearah belakang dan melihat 2 temannya yang memasuki sebuah mansion yang mereka datangi itu baru keluar setelah 30 menit berada didalam.
"Kalian lamaaaaa sekali. Aku sampai bosan disini, dan tidak ada mainan. Yong Soo hyung sudah tua kalau diajak bermain"
"Mau ku antar ke neraka sekarang?"
Tuan Jung langsung berdiri dan bersembunyi dibelakang tuan Kim saat melihat tuan Min mengambil lagi katananya dari dalam mobil. Meskipun hanya main-main saja tuan Jung takut juga dengan senjata tuan Min itu.
Tuan Jeon hanya menggelengkan kepalanya, "Tidak ada orang. Hanya ada penjaga dan beberapa maid saja."
"Jaehwan?"
Tuan Kim menggeleng. "Sudah pergi lewat garasi belakang. Itu kata maid di dalam" ia memasukkan revolver miliknya ke dalam saku jasnya.
"Lantas kenapa kalian bisa keluar kalau ada penjaga didalam?" tanya tuan Jung.
Tuan Jeon yang ingin meletakkan revolvernya kembali mengeluarkannya, "Kau ingin aku atau Yong Soo yang mengantarmu hm?"
"Hehe"
Tuan Kim yang melihat candaan teman-temannya ini hanya bisa menghela napas. Mana ada orang bercanda dengan katana teracung serta revolver yang sudah siap mengeluarkan pelurunya itu? Terkadang teman-temannya memang terlalu gila. Dan sayangnya ia juga sama gilanya.
"Sudahlah lebih baik kita pergi saja sekarang ke tujuan terakhir. Jaehwan juga menuju kesana. Mansion ini hanya tempat singgah Jung Ahn, sedangkan rumah sebenarnya di Gwacheon" ucap tuan Park sambil melihat ponselnya yang tengah memperlihatkan posisi Jaehwan sekarang. "Dan kau berhentilah Jung Sang Wook, jangan bercanda lagi. Hah, aku berharap Hoseok tidak sama gilanya denganmu"
"Bukannya dia sudah gila?" ucap tuan Min sarkas.
"Yak Hyung! Anakku tidak gila. Ia hanya terlalu bersemangat" ucap tuan Jung cemberut.
"Sama saja!"
"Sudah hentikan. Anak-anak kita memang gila, dan itu karena ulah kita sendiri" ucap tuan Jeon. Ia lalu memasuki mobilnya, menunggu tuan Kim masuk untuk mengemudikan mobil.
Sejak tadi mereka mengikuti Jaehwan dan berhenti di mansion ini. Padahal dari pertama mereka mengikuti Jaehwan tak ada pergerakan yang menuju arah ini. Sampai ketika Jaehwan mulai mengubah arahnya menuju mansion ayahnya ini, Jaehwan terlihat terburu-buru masuk. Sepertinya ia punya firasat akan sesuatu. Dan benar saja Jaehwan sudah tau mengenai mereka yang mengintai pergerakannya. Karena tepat setelah mereka berhenti dari jarak terjauhpun, langsung ada beberapa orang yang menghampiri mereka.
Tapi jelas para appa tidak lupa akan keselamatan diri sendiri. Mereka jelas tau resiko atas semua yang mereka lakukan. Jadi mereka membawa senjata mereka untuk penjagaan diri. Dan hasilnya para bodyguard sewaan Jung Ahn sudah terkapar didepan sana.
Tapi mereka sangat bersyukur. Meskipun Jaehwan tau mengenai mereka, tapi dia tidak tau kalau kemanapun dia pergi, mereka akan selalu tau. Beruntug dokter suruhan tuan Park menjalankan tugasnya dengan baik.
"Tapi setidaknya para anak muda itu tidak sampai seperti ini kan?" tanya tuan Kim memastikan. Ia khawatir anak-anaknya akan mengikuti jejak kegilaannya. Tapi mungkin saja lebih parah.
"Entahlah. aku tidak tau mereka akan mewarisi sifat kita atau tidak. Tapi saat ulang tahun Yoongi yang ke 8 aku membelikannya katana sebagai hadiah"
"AYAH KURANG AJAR!"
"TOLONG BERKACA KALIAN!"
Setelah keributan barusan 2 mobil itu segera beranjak menuju Gwacheon, tempat tinggal Jung Ahn. Mereka harus cepat agar sampai disana sebelum malam. Mereka tidak mau terjadi hal buruk pada Seokjin. Karena Seokjin adalah tanggung jawab mereka sekarang.
Mereka mengenal Jung Ahn dengan baik. Tapi mereka tidak pernah tau apa yang tengah ia rasakan sebenarnya. Apa yang ia coba lakukan ini tidak pernah bisa mereka dapat jawabannya. Nyatanya mengenal Jung Ahn begitu lama, tak membuat mereka mengetahui banyak hal tentangnya. Mereka yakin masih banyak hal yang ia sembunyikan sampai ia bisa melakukan hal seperti ini.
"Kita tidak akan ditangkap polisi karena membunuh kan?" tanya tuan Jung tiba-tiba saat mereka hampir sampai di Gwacheon.
Tuan Min hanya melirik sekilas, "Mau aku panggilkan?"
Tidak ada pembicaraan setelahnya karena tuan Jung sudah kaget duluan karena jawaban tuan Min.
Hingga ketika matahari menghilang menuju peraduan, mereka baru sampai di Gwacheon. Dan malam akan semakin panjang karena baik mereka dan Jung Ahn tak pernah tau apa yang akan terjadi.
.
.
.
tbc
