Seorang gadis kecil duduk tersenyum melihat ayahnya tengah memasak, dari meja makan ia menatap wajah sang ayah. Wajah tampan itu tetap tersenyum meskipun kelelahan seharian bekerja.

"Yui-chan..., makan malamnya sudah siap-!" Ia tersenyum gembira. Perut kecilnya serasa tak bisa berkompromi jika menunggu lebih lama lagi.

"Maaf ya Yui-chan, papa hanya bisa memasak segini!" Nada sang ayah terdengar lemas.

"Hm-hm! Biar bagaimanapun papa juga lelah seharian." Ia menggeleng, mencoba untuk menghibur sang papa. "Ngomong-ngomong, mama kapan pulangnya, papa? Yui kangen sama mama-!"

"Sabar ya sayang-! Paling tidak mama mu akan kembali dua hari lagi, ia sibuk mengurus pekerjaan di luar kota." Pria tampan itu mengelus lembut kepala putrinya.

Tahun ini putrinya telah berusia 13 tahun. Ia sibuk mengurus perusahaan yang dibentuknya, sedangkan istri sesekali menolong bisnis agar dapat menyokong perusahaan mereka. Meskipun begitu ia dan istrinya tetap meluangkan waktu pada putri tercinta mereka.

Namun karena mengurus bisnis, istrinya pergi ke luar kota untuk bertemu dengan ceo perusahaan multinasional negeri ini. Membujuk perusahaan tersebut mau berinvestasi dengan perusahaan mereka.

—Hari ini telah tiga hari semenjak kepergian sang istri.

"Bagaimana kita telepon mama-!"

Raut putrinya menjadi ceria seketika. "Yeay! Nelpon mama..."

Ia kemudian mencari kontak istrinya di ponsel, tak lama sebelum suara 'tut' terdengar, ia pun menempelkan ponsel ke telinga. "Malam Asuna-chan! Yui lagi kangen kamu nih~!"

"Eh, lho Rito-kun? Kan udah dibilangin... angh... jangan nelpon... uuhh~nnh... malam-malam gini! Kyaah... uuhh... capek! Ughh..."

Tangan Kirito bergetar, air mata tanpa sadar jatuh. Bersamaan suara telpon yang diputus, ponsel Kirito pun jatuh.

"Papa-! Ada apa?" Tanya Yui cemas, air matanya pun ikut keluar saat Kirito masih diam dengan tatapan kosong.

"Mama~ ia telah pergi-!" Gumam Kirito pelan


Ayo tebak~ dari mana inspirasi ini datang?


Disclaimer: All Borrowed!