Genggaman tangan lebar itu memberinya kehangatan lembut.
Suatu yang hangat memenuhi tubuhnya, membuat setiap sel otot yang di dalam meleleh saat bersentuhan liar.
Lendir lengket mulai membasahi bagian bawah, semakin membuat licin batang keras itu. "Uuuoohh... ce-path! Mohon lebih cepath! Naru! Uuh..."
Asuna telah menahan ini berhari-hari yang lalu, ia hanya menganggap lelaki yang menindihnya ini sebatas pemuas nafsu terpendam. Tak ia sangka, selepas merasakan sendiri kehangatan penis telanjang pria tersebut, ia kehilangan dirinya.
Peluh membanjiri kedua insan itu, lelaki pirang itu menautkan tangannya di punggung tangan Asuna. Wanita bersurai kecokelatan itu menerima dengan senang hati, membalas sebuah senyuman hangat.
Tanpa mereka sadari bibir mereka pun tertaut, bertemu dalam ciuman birahi, saling melumat lidah lawan main mereka. Dalam masih keadaan tertindih, kaki Asuna naik, menahan sebuah gejolak yang mendera.
Otot vaginanya berkedut, sebelum cairan hangat berdesir, keluar dalam muncratan tajam di sela persetubuhan mereka.
—Itu merupakan orgasme terdahsyat yang Asuna rasakan.
Pria pirang itu meringis, ia menahan penisnga di dalam, merasakan pijatan basah dari vagina Asuna. Sebelum menarik penisnya keluar dari tubuh wanita yang ia tindih.
Croot!
Spermanya menyembur, membasahi punggung Asuna, itu lebih banyak daripada sebelumnya. Beberapa tetes bahkan menciprat ke rambut panjang Asuna.
"Huuh..." Sang Pria menghembuskan napas lega, sebelum menjatuhkan tubuhnya di sebelah Asuna. Beradu tatap saat mama muda anak satu itu masih menenangkan napas, pasca orgasme. "...aku puas! Aku janji itu yang terakhir-!"
Ia melempar senyum hangat, meskipun itu berkat suasana hatinya yang bagus. Ia kemudian bangkit, bersiap mencari pakaiannya.
Namun sebelum ia turun dari ranjang, sebuah genggaman tangan menahannya. Di saat ia akan menengok kebelakang, ia mendapatkan sebuah pelukan tak terduga.
Asuna melingkarkan lengan bergelayut manja di lehernya, sepasang payudara lembut pun menekan punggungnya.
Ia hanya tersenyum. Menyeringai senang, sebelum berbalik dan menyambar bibir Asuna.
"Bolehkah, aku menginap di sini?"
"Boleh~ tapi harus bayar sewa dulu..."
Mana sewaan saya-?
Setidaknya berikan review dengan iklas dong karena telah menghibur kalian.
Sabtu ini memang jadwal padat, tapi tak menyangka ada sebuah insiden. Sebenarnya sedikit lesu berkat insiden tersebut, tapi perlahan merasa semangat setelah coret-coret di cerita saya.
Disclaimer: Masashi Kishimoto —Etc!
Kirito terjaga sepanjang malam. Menatap kosong langit-langit, mencoba beripikir positif tentang semua hal mengejutkan sebelumnya.
Ia mendesah, lelah berpikir. Sebelum menyambar ponsel dan menghubungi istrinya, namun sekali lagi panggilan itu tak tersambung sebab ponsel disebarang sedang tidak aktif.
Ia hanya diam, menatap layar ponsel. Matanya berkilat dingin, kesedihan berubah menjadi benci, yang pada akhirnya melahirkan kemarahan.
Itu saat ia melirik jam dinding, masih pukul satu dinihari. Ia berjalan menuju kamar putrinya, dan melihat sang putri tidur dengan damai. Mengusap lembut wajah Yui, memang agak lama ia menatap wajah putrinya, dan sebelum pergi Kirito mengecup pipi tembem sang putri.
—Kemudian mengirim pesan teks singkat pada sang adik, 'Tolong Jaga Yui-!'.
Kirito berlalu meninggalkan ponselnya di kamar sang putri.
