Chanyeol X Baekhyun
Romance
.
.
"Jadi, menurutmu aku bisa kembali ke kantor dan menghadapi pemimpin redaksi hanya dengan hasil seperti ini saja?"/"Kau tahu, satu-satunya press release yang ingin kusebarluaskan mungkin hanya berita pernikahan kita."
.
.
Warning: cliche as usual, maybe?
.
.
Notes: Ofc inspired by EXO Seasons Greeting 2021! Kkkk~
.
.
oOo
.
"Sial."
"Sial sial sial."
Jadi, itu adalah kata sial ke-sekian yang meluncur dari mulut Baekhyun sejak lima menit terakhir. Rompi wolnya sudah barang tentu basah kuyup. Kamera yang sempat ia selamatkan di detik-detik terakhir sebelum hujan mengguyur tanpa ampun juga sepertinya masih sempat pula terpapar oleh air. Baekhyun hanya berharap tidak ada satu bagian pun dari kamera itu yang mengalami disfungsi setelah ini. Karena sungguh, sepertinya tabungannya tidak akan cukup untuk membeli kamera baru. Menunggu kamera yang rusak untuk diperbaiki sama sekali tidak relevan dengan mobilitasnya mengejar berita setiap hari.
Hujan turun. Deras sekali. Diawali beberapa rintik dan taunya berlanjut tumpah layaknya air bah. Puluhan reporter yang menunggu di depan gedung konferensi terpaksa membubarkan diri. Mencari tempat berteduh.
Sialnya tadi, Baekhyun sungguh terlambat memprediksi bahwa rintik kecil hujan akan segera berubah deras hanya dalam beberapa detik. Ia sempat percaya bahwa itu hanya gerimis biasa—bertahan di tengah hujan rintik tentu saja biasa dilakukan oleh para reporter lapangan seperti dirinya—sebelum tubuhnya sungguhan terguyur derasnya air dari langit. Dan karena itu, seluruh tempat berteduh terdekat telah lebih dulu terisi penuh. Baekhyun sudah kepalang kuyup ketika ia sampai di bawah kanopi kafe buku sederhana seberang jalan bertanda tutup.
Ada sebuah kafe lain yang buka beberapa langkah dari tempat Baekhyun berdiri, tetapi menyambanginya hanya akan membuat tubuhnya betul-betul basah sempurna. Dan sejujurnya, Baekhyun masih sedikit kepayahan setelah berlarian demi mencapai tempat ini sambil berusaha melindungi seluruh barang bawaannya.
"Sial sekali."
Satu lagi kata umpatan yang sama, hanya saja dengan nada yang sedikit berbeda. Tanpa sadar, Baekhyun merengut. Ia mengintip isi tas yang dibawanya, berharap isinya benar-benar masih terselamatkan.
Konferensi pers yang digelar salah satu perusahaan paling berpengaruh baru saja usai. Para pencari berita seharusnya sudah selesai dengan tugas mereka sebelum kesimpangsiuran itu terdengar. Konferensi tadi disebut mengeluarkan pernyataan bohong. Hanya kabar burung, tetapi cukup untuk membuat puluhan reporter enggan pergi dari sana dan justru berusaha menggali informasi lebih jauh meski hari telah berubah gelap.
Baekhyun menghela napas. Hujan membuatnya semakin kerepotan karena tidak ada partner yang membantunya pada penugasan hari ini. Kalau saja ada—apalagi sekelas Jongdae atau Minseok yang lebih gesit dan berpengalaman di lapangan daripada dia—segalanya pasti akan terasa lebih mudah.
Terlalu sibuk dengan keluhannya, Baekhyun tak terlalu memperhatikan ketika seseorang menempati sisa ruang berkanopi di sampingnya.
"Tidakkah kau berpikir sia-sia saja menunggu di sini?"
Sebab suara itu terlampau akrab bagi telinga dan juga otaknya, Baekhyun refleks tersentak menoleh. Dan begitu matanya menangkap sosok tinggi berkacamata yang berdiri tegap di sampingnya bersama sebuah payung yang terkembang di atas kepala, Baekhyun benar-benar tidak bisa menahan bibirnya untuk menganga lebar-lebar.
Pria itu bergeming. Benar berdiri tegap di sana, memandang lurus ke seberang jalan.
Baekhyun membuang napas kasar. Tak menyangka. Ternyata, kesialannya tidak hanya sampai pada fakta bahwa ia harus kehujanan di tengah waktu bertugasnya atau kamera yang berkemungkinan rusak setelah turut dikenai air hujan. Kesalnya karena semua itu masih belum sebanding dengan rasa jengkel yang muncul ketika ia harus mendapati Chanyeol di sampingnya.
"Jadi, menurutmu aku bisa kembali ke kantor dan menghadapi pemimpin redaksi hanya dengan hasil seperti ini saja? Kukira kau cukup kompeten untuk tugas lapangan dan tahu betapa pentingnya tinjauan ulang informasi." cemoohnya.
Satu kalimat penuh sarkasme itu mengundang Chanyeol untuk menoleh. Entah karena perbedaan tinggi atau memang aura dominan pria itu terlampau kuat, Baekhyun merasa nyalinya sedikit ciut begitu bersitatap dengan sepasang mata bulat itu.
Tapi tidak, Baekhyun tidak akan kalah.
Selama beberapa detik, mereka berhenti di sana. Bertemu tatap tanpa ada seorang pun bicara.
Chanyeol menjadi orang pertama yang mengalihkan pandangan. Kembali menatap ke seberang jalan.
"Justru karena itu, aku tahu dengan jelas tidak ada satupun dari kalian yang akan berhasil menggali informasi lebih malam ini. Kembali lagi esok hari akan jauh lebih baik."
Baekhyun memutar bola mata. Mau seperti apapun Chanyeol berkata, rasa-rasanya akan begitu saja terpantul balik tanpa ia mau menimbangnya lebih jauh. Ia sesungguhnya benar-benar sedang tidak berminat memiliki interaksi dengan pria itu.
Kembali, Chanyeol menatap pria di sampingnya. "Kita pulang saja."
"Silahkan."
"Baekhyun,"
Satu lagi hela napas jengah. Baekhyun mendongak, membalas tutur bernada memohon itu dengan kesal. Sorot mata Chanyeol melembut, jauh berbeda dari sebelumnya, jauh berbeda dari yang selalu diperlihatkannya pada orang-orang.
"Apa?"
"Maafkan aku, okay? Ada masalah berturut-turut sebelum siaran kemarin. Rekanku diganti oleh seorang pembaca berita pemula dan itu membuat semuanya semakin kacau. Aku tidak bermaksud mengabaikanmu."
"Ya, ya. Kau sudah mengatakan itu tadi pagi."
"Baek,"
"Sudahlah." Baekhyun memotong. "Kalau kau memang belum berniat melamarku, aku akan berhenti menuntut. Mulai sekarang terserah kau saja." katanya. Dari seluruh pertengkaran yang pernah terjadi di antara mereka selama bertahun-tahun, itu adalah kalimat pertamanya dengan nada final yang begitu kentara. Biasanya, mereka banyak melakukan kompromi. Itu pula yang membuat hubungannya dengan Chanyeol bertahan lama meski keduanya sama-sama disibukkan oleh pekerjaan. Hanya saja, perkara pernikahan membuat Baekhyun sedikit sensitif karena hari kemarin adalah hari ke sekian di mana Chanyeol tidak menanggapi pertanyaannya tentang hal itu.
"Kau ini."
Baekhyun mendengar Chanyeol menggumam, sebelum pria itu merogoh saku mantel panjangnya.
Dalam gerak teramat cepat, sebuah kotak biru beludru kecil telah terbuka tepat di depan wajah si pria mungil. Menampakkan sepasang cincin emas putih dengan ukuran yang kontras satu sama lain.
"Aku berencana menunjukkan ini minggu depan tetapi sikapmu benar-benar membuatku tidak sabar."
Baekhyun kehilangan suaranya. Ia sungguh tidak ingin memiliki ekspektasi apapun, tetapi itu tidak mungkin ketika Chanyeol bahkan membawa sepasang cincin itu ke hadapannya tepat setelah perbincangan tentang pernikahan.
Baekhyun merasa tak keruan. Suasana hatinya jungkir balik. Jantungnya dengan kurang ajar berpacu tanpa mempedulikan empunya yang kepayahan mengatur detaknya. Bahkan, perutnya mulai terasa aneh.
"Kau—"
Kotak itu ditutup. Kembali ke asalnya di saku sang pria tinggi.
"Nah, sekarang, kuantar kau pulang."
Kenihilan reaksi membuat sebelah alis Chanyeol terangkat. Ketika mata keduanya bertemu lagi, Baekhyun lebih dulu membuang pandang. Chanyeol baru akan bertanya ketika matanya menangkap sembuat merah di pipi gembil prianya, merambat hingga telinga. Baekhyun menggigit bibir, tangannya pula semakin meremat erat tas yang dibawanya.
"Bu—bukannya kau punya siaran malam hari ini? Kenapa kau bisa ada di sini?" Akhirnya, Baekhyun bisa menanyakan dengan benar pertanyaan yang ingin ia ketahui jawabannya sejak mendapati kehadiran pria itu di lokasi tugasnya. Oh, sekaligus, berusaha mengalihkan topik dari lamaran tersirat tadi.
Sang dominan mengulum senyum kecil, tahu betul si mungil akhirnya kehilangan alasan untuk terus bersikap ketus padanya.
"Sejujurnya, ya, aku memiliki jadwal malam ini. Aku akan kembali ke studio setelah mengantarmu." kata Chanyeol. Lembut suara yang hanya pernah diberikan pria itu pada dirinya seorang semakin membuat Baekhyun merasakan hangat menjalari pipi dan seluruh tubuhnya. Ia bahkan mulai gerah meski hujan masih terus turun dan membawa hawa dingin yang pekat.
Bunyi ponsel terdengar. Getarnya merambat hingga tangan pemiliknya. Baekhyun mengeluarkan peranti itu dari dalam tas.
"Halo? ... Ya, tapi—apa? Kenapa harus aku? ... Astaga, hey, Kim Jongdae—yah!" Baekhyun menjauhkan ponsel dari telinganya, menatap layar yang menunjukkan tampilan panggilan yang baru saja diakhiri. "Aish."
"Ada apa?"
Sekilas melirik, Baekhyun menjawab sembari memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. "Jongdae memintaku menggantikannya memeriksa press release yang baru diterima bagian Produksi." katanya, semakin memberengut kesal.
Chanyeol terkekeh. Baekhyun masih terlihat persis sama seperti ketika mereka kuliah dulu. "Itu pertanda kau memang harus pergi dari tempat ini. Lagipula Kim Jongdae itu rekan yang sering membantumu saat tugas lapangan, kan?"
Karena apa yang dikatakan Chanyeol adalah benar, Baekhyun mengangguk. Sudah menjadi suatu kesepakatan tak tertulis antara dirinya dan beberapa orang rekan yang ia percaya untuk saling mem-back up penugasan.
"Kau juga mungkin akan segera diminta membawakan berita itu." Baekhyun membenahi tas yang tersampir di bahunya. Pun rambut dan pakaiannya. Ia siap kembali ke kantor.
"Kau tahu, satu-satunya press release yang ingin kusebarluaskan mungkin hanya berita pernikahan kita."
Baekhyun mengernyit seolah jijik, meski diam-diam jantungnya melompat di dalam sana. "Jangan menggombal."
Chanyeol mendengus. Tertawa geli.
Meski mereka jelas berdiri di bawah kanopi sempit yang cukup dijadikan tempat berlindung, payung yang dibawa si pria yang lebih tinggi memang benar menyelamatkan keadaan dari tempias air hujan.
"Ap—apa?" Baekhyun menyalak, menoleh dan mengangkat dagu seolah menantang ketika ia sadar Chanyeol telah menghadap sempurna ke arahnya. Pria itu masih berdiri memegangi payung yang sejak tadi turut melindungi kepala dan tubuhnya, alih-alih beranjak karena mereka perlu bergegas kembali ke kantor masing-masing.
Payung diturunkan. Sedikit demi sedikit, benda itu dibawa turun hingga menutupi wajah kedua pria yang bernaung di bawahnya dari orang-orang di luaran sana. Walaupun, jalanan yang menyepi karena derasnya hujan sebenarnya memang memberi ruang bagi apapun yang ingin mereka lakukan.
Chanyeol mendekat. Pria itu membungkuk menyejajarkan wajah dengan yang lebih pendek. Baekhyun telah berusaha menjauh namun yang ia lakukan hanyalah memundurkan wajahnya sepersekian inci.
"Apa—"
"Aku akan menemui orang tuamu besok." kata Chanyeol, sembari menarik lepas kacamata yang biasa bertengger di hidungnya.
Belum sempat menjawab, Baekhyun telah lebih dulu dikalahkan oleh gerakan cepat dari pria tinggi itu. Bahkan belum satu tarikan napas berhasil ia ambil, seluruh sistem tubuhnya seolah dihentikan paksa ketika sesuatu lembut itu membungkam bibirnya.
Yang ia lihat dengan sepasang mata terbelalak saat ini, hanya sepasang mata lain yang tengah terpejam. Jika tadi Chanyeol berada setidaknya satu jengkal darinya, kini Baekhyun tidak sama sekali merasakan jarak itu. Wajah Chanyeol tepat berada di hadapannya, mencium bibirnya.
Hanya beberapa lumatan lembut, sebelum yang lebih tinggi kembali mengurai jarak. Senyum kecil terpatri di wajah tanpa celanya.
Baekhyun tercekat. Kakinya terasa seperti jeli namun wajah Chanyeol yang begitu dekat masih menguncinya agar berlama-lama memandang. Kerja jantungnya kacau. Ia hampir saja memiliki keinginan untuk melompat ke dalam pelukan pria itu.
Chanyeol beralih ke sisi wajahnya, memberikan satu lagi kecupan di pipi sebelum sempurna kembali berdiri tegak.
"Ayo." Ia meraih bahu si pria mungil, menariknya mendekat agar keduanya terlindungi dari hujan selama perjalanan menuju mobil yang terparkir tak jauh dari sana.
"Jangan merajuk lagi. Kau tidak tahu seberapa inginnya aku menikahimu sejak dulu." kata Chanyeol, sekali lagi melempar senyum kecil pada Baekhyun.
Baekhyun kembali menggigit bibir, mengangguk dalam diam.
Terkadang, ada banyak dari diri Chanyeol yang Baekhyun tahu hanya ditunjukkan dan diberikan pria itu pada dirinya seorang. Dan seringnya, Baekhyun terlalu banyak meminta lebih dari apa yang sudah dia terima. Padahal ia hanya perlu sedikit bersabar. Karena Chanyeol benar selalu melakukan apapun, hanya untuknya.
Sebelum masuk ke mobil, Baekhyun memilih merealisasikan keinginan yang muncul beberapa saat lalu. Ia ingin mengatakannya. Kakinya ia bawa berjinjit, mengecup cepat pipi prianya dan membisik pelan.
"I love you. So much."
Chanyeol tersenyum. Lembut. Sekali lagi, hanya untuk Baekhyun seorang.
"I love you too, more than you will ever know."
.
fin.
.
.
I cant believe I really write this 1,7k-words fic while Im still working for my assignments, huhu
Thanks for reading yall!
