Disclaimer: Haikyuu! adalah karangan Furudate Haruichi. Author tidak mengambil keuntungan materiil.

Warning: oneshot smut AtsuHina.

.

.

Demi Fanfiksi

by Fei Mei

.


.

Atsumu mendengus melihat Shoyo menghela. Harusnya saat ini kakak kembarnya Osamu, lho, yang menghela, bukan si pacar. Miyagi dan Hyogo itu jauh, dan Atsumu telah beberapa jam sampai terkantuk-kantuk dalam kereta saat perjalanan demi bisa menemui sang kekasih. Sedihnya, begitu tiba di kediaman Hinata, Shoyo malah melulu menatap layar komputer sambil mendumel sendiri, sedangkan pacarnya yang sudah hampir setengah jam menunggu di ranjang malah dihiraukan.

"Shoyo~, lagi ngapain, sih? Masih ngetik fanfiksi?" tanya Atsumu lesu sambil menaruh dagu di pundak pacarnya.

Iya, Atsumu tahu bahwa sejak sebulan lalu Shoyo resmi menjadi author di situs fanfiksi. Dan biasa, lah, karena masih awal, anak itu masih semangat-semangatnya mengetik dan mengunggah berbagai macam fanfiksi jika sedang tidak latihan voli. Saking semangatnya, pernah sang author baru membalas pesan sepuluh jam setelah Atsumu mengirim pesan. Sebal, tapi untung Miya yang lebih tua itu sabar.

"Hmmm, justru aku lagi bingung mau ngetik apa!" rengek Shoyo.

Hati Atsumu merasa tersentil karena Matahari-nya tampak menggemaskan. Ia berdeham pelan, lalu melirik layar komputer. Benar juga, sang kekasih hanya mengetik 'Pada suatu hari' tanpa kelanjutan daritadi. "Baru sebulan, lho, cepet amat langsung writerblock?"

"Enggak gituuu~" Shoyo masih merengek. "Idenya ada, kok, tapi aku bingung gimana ngetiknya … "

"Kenapa bingung? Memang kamu mau bikin cerita apa?"

"Mmm, cerita cinta!"

"Lho, bukannya kamu sudah pernah ngetik fanfiksi romance?" tanya Atsumu, lalu menyengir. "Lagian kalau bingung, ceritain tentang kisah cinta kita aja!"

"Kalau hanya begitu, sih, aku juga bisa," ujar Shoyo yang agak cemberut. Ia membuka halaman baru di layar komputernya. "Masalahnya, banyak review yang nantang aku bikin fanfiksi romance yang begini …"

Mata Atsumu terbelalak saat kekasihnya membuka halaman review untuk beberapa fanfiksi yang telah diunggah. Memang banyak yang memuji cerita Shoyo, apalagi sebagian besar romance yang diketiknya itu fluff. Tetapi, tidak sedikit juga yang agak menantang sang author untuk membuat fanfiksi dewasa.

'Thor, bikin rate M, dong!'

Atsumu mingkem.

'Manis banget, aku klepek-klepek bacanya! Tolong buat sekuelnya, ya, adegan ranjang! Huehuehue~'

Yang ini ketahuan sedang sange.

'Hah, segini doang? Ena-enanya mana?'

Si Sange nomor dua.

'Author, saya pesen fanfiksi rate M-nya satu, crot-nya yang banyak!'

SITU PESEN FANFIKSI APA BEBEK MEKDI!?

"Tuuuh, aku bingung gimana bikin rate eeemm~" rengek Shoyo.

Si Setter menggaruk dagu. "Hm, Shoyo gak pernah baca fanfiksi rate M sebagai contoh gitu? Atau fanart?"

Shoyo menggeleng. "Ada peringatan untuk usia 17 tahun ke atas, jadi aku gak berani, kan aku masih 16 …"

Atsumu facepalm, susah banget memang punya pacar yang inosennya ampun-ampun. "Ya kalau begitu, susah, sih … Hm, udahlah, kamu gak usah jawab tantangan begitu, kamu ngetik cerita yang kamu bisa aja."

Lagi pacarnya menggeleng. "Gak mau! Kalau kabur dari tantangan begini, gimana bisa jadi author keren!"

Jadi Atsumu menghela. Dengan tiba-tiba, dan Shoyo pasti tidak menyangka, Atsumu menarik pacarnya dari kursi dan direbahkannya di ranjang. Si Middle Blocker kaget, apalagi karena pacarnya ada di atasnya, menatap intens padanya.

"T—'Tsumu-san?"

"Kamu mau nulis fanfiksi rate M tapi gak mau baca contoh-contohnya. Jelas kamu gak bakal ngerti caranya," gumam Atsumu. "Sebagai gantinya, demi menjawab tantangan dari reviewer-mu, mau kuajarin, gak?"

"Ajarin apa?" cicit Shoyo.

Atsumu menyeringai. "Ajarin adegan-adegan rate M."

"Eeehh!?"

"Kok eh? Kan demi fanfiksi kamu, mumpung ada aku, nih!" tawar Atsumu, yang mengikat kedua tangan pacarnya yang mulai memberontak dengan tangan sendiri.

"T-tapi! Tapi, aku kan, gak ngerti mau ngapain—"

"—ya makanya sekarang mau kuajarin, biar habis ini kamu tahu mau tulis apa."

" … "

"Mau kuajarin, gak?"

" … ya udah, deh."

Hati Atsumu bersorak kegirangan. Dengan semangat ia langsung menyambar mulut Shoyo dengan mulutnya sendiri. Ia menggigit dan mulai mengisap bibir bawah pacarnya. Sebenarnya, kalau hanya sekedar ciuman, mereka sudah sering melakukannya tiap kali bertemu. Malah, karena mereka berpacaran jarak jauh, pelukan mesra dan ciuman adalah agenda wajib tiap kali mereka bersua. Tetapi batas ciuman dari Atsumu selama ini hanyalah puncak kepala, dahi, kelopak mata, hidung, bibir, mengisap bibir atas dan bawah, dan melahap leher putih kekasihnya.

Saking inosennya, tiap kali Atsumu bekerja di leher Shoyo, yang lebih muda itu tidak sadar betapa sedang sangenya sang pacar. Malah Shoyo akan membelai kepala Atsumu dan berkata 'uuu, Atsumu-san laper, ya? Cep cep cep~'. Jadi sudah pasti, kali ini Atsumu akan melakukan hal yang lebih.

Biasanya sambil berciuman, Atsumu dengan iseng akan mengelitik pelan pinggang pacarnya. Dan jika sedang tidak di tempat umum, tangannya akan menyelinap masuk ke baju Shoyo biar jemarinya bisa menyentuh langsung kulit pinggang sang kekasih. Tetapi kali ini, Atsumu benar-benar akan melakukan yang lebih.

Shoyo melenguh manja saat pacarnya menggigit-gigit kecil lehernya. Tangan anak itu mengelus pelan rambut pirang Atsumu sambil menahan geli. Tiba-tiba, Atsumu merasa Shoyo agak menjambak rambutnya. Ia memang kaget dengan jambakan itu, tapi ia merasa wajar, sebab Shoyo sendiri pasti merasa kaget karena pacarnya menyentuh di area yang belum pernah disentuh.

Kejantanannya.

"T—'Tsumu-san?" cicit Shoyo. "M-maaf, tanganmu gak sengaja kesenggol burungku—"

Atsumu menyengir. "Bukan gak sengaja nyenggol, Sayang, aku memang sengaja mau pijat disitu."

"Eh—tunggu—"

"Demi fanfiksi rate M, loh, apalagi kan ini sama aku, bukan sama yang lain~"

"Uhm—"

Miya yang lebih mesum dari adiknya itu yakin pacarnya hanya sedang mengenakan sehelai celana saat ini. Pasalnya, kejantanan Shoyo terasa sangat nyata dibalik celana selutut yang dipakai anak itu. Atsumu memijat pelan disana, dan lenguhan manja pacarnya perlahan berubah menjadi desahan.

"Enak?" tanya Atsumu pelan.

"Ukh—uh—" Suara yang keluar dari mulut Shoyo hanya desahan. Tangan kecilnya yang terbebas dari ikatan tangan Atsumu mulai menggapai baju pacarnya untuk diremas. Mata sayu Shoyo benar-benar membuat Atsumu ingin melahap tubuh sang kekasih.

"Enak, gak?" ulang Atsumu. "Kalau gak enak, aku berhenti, nih."

Butuh sedetik untuk Shoyo memberi respon berupa gelengan.

Atsumu masih menyengir. "Itu maksudnya jangan dilanjutin? Atau jangan berhenti?"

Shoyo meremas baju pacarnya makin kencang."J-jangan—uh—jangan berhen—berhenti—'Tsumu-san!"

Jadi Atsumu melahap lidah Shoyo sambil tangannya terus bekerja di bawah sana. Hatinya terkekeh saat merasa Shoyo seakan ingin mencoba membalas tarian lidah Atsumu. Perlahan, tangan Atsumu menyelip masuk ke celana pacarnya, menggenggam kejantanan disana secara langsung. Shoyo memekik kaget, tapi tidak bisa mengatakan apa-apa sebab mulut Atsumu masih menyegel mulutnya.

Atsumu sendiri tidak merasa pacarnya memberontak, atau seperti berusaha melepaskan diri darinya. Makanya tangan Atsumu mengocok Shoyo lebih semangat lagi.

"Atsumu-san, ukh—ada yang m-mau keluar—umm—"

Yang lebih tua mengangguk. Dengan segera Atsumu melepas celana Shoyo, melihat penis tegak Shoyo dengan puncak yang tampak berkedut. Lagi Atsumu memijatnya. "Yuk, sini keluar, yuk~"

"Ukh—" Lalu Shoyo mendesah kencang sambil mengeluarkan cairannya.

Dengan iseng Atsumu mengarahkannya ke perut Shoyo sendiri, sehingga baju yang dikenakan anak itu kena basah. Atsumu menyeringai. "Kubuka bajumu, ya, Sayang, biar jangan masuk angin~"

Shoyo mengangguk lemah. Tubuh kecilnya terekspos tanpa busana, dan Atsumu menelan ludah susah payah. Berkali-kali Atsumu mengulang pertanyaan dalam pikirannya, 'seriusan nih, dia milikku? INDAH BANGET WOI!'.

"'Tsumu-san, jangan dipelototin gituuu," rengek Shoyo. "Ayo cepetan apalagi yang ada di rate eeemm—"

DENGAN SENANG HATI! Kali ini Atsumu menyerang puting Shoyo dengan mulutnya. Desahan Shoyo muncul lagi ketika Atsumu dengan iseng menggesekan kejantangannya yang masih dibalik celana dengan milik pacarnya yang sudah tak berbusana.

"Ukh—umm—Ah! 'Tsumu—uh—entar celanamu b-basah!"

Mulut Atsumu menghentikan aktivitasnya. "Kalau begitu, Shoyo bantu lepasin celanaku, ya?"

Dengan ragu Shoyo mengangguk. Atsumu pun duduk, dan mengangkat tangannya, tanda agar sang pacar melepas bajunya juga. Baru melepas bagian atas, yang lebih kecil langsung meneguk ludah dengan susah.

Atsumu terkekeh. "Apaan sih, kan kita udah sering ganti kaos satu ruangan?"

Shoyo mengangguk. "Um, tadi … tadi begini, kan, ya?"

"Begini apa—uh!"

Kakak kembar Osamu kaget karena pacarnya mengisap satu puting miliknya. Seingatnya tadi ia hanya minta untuk dibukakan baju dan celananya. Memang sih, Atsumu berniat meminta Shoyo untuk membalas serangannya, tapi dia tidak menyangka sang pacar berinisiatif sendiri!

Hati Atsumu berlonjak saat tangan kecil menyentuh kenjantanannya. "Sh-Shoyo, bebasin dulu—uh, yang di bawah—udah sesak banget d-daritadi!"

Shoyo mengangguk kecil dan menurut. Benar juga, begitu celana itu dilucuti, tampaknya sesuatu yang sangat gagah berdiri dengan tegak. Itu, kesangean Atsumu sebegitunya daritadi.

Atsumu gemas sendiri saat pacarnya menatap intens miliknya, seakan sedang mempelajari sesuatu. Sesekali Shoyo tampak ingin memegangnya, tapi seperti ragu.

"Kalau mau pegang, pegang aja," ujar Atsumu, lalu menyengir. "Aku milikmu, loh, jadi yang lagi kamu pelototin itu boleh kamu apain."

Pacarnya tertawa gugup. "Berarti boleh kumakan juga dong~" candanya.

Cengiran Atsumu tidak lenyap. "Boleh banget."

"Memang beginian bisa dimakan?"

"Bisa, kok." Shoyo masih tampak bingung. "Yaudah, sini kucontohin."

Atsumu merebahkan pacarnya lagi. Tanpa ba-bi-bu, yang lebih tua melahap 'burung' Shoyo. Yang 'dimakan' memekik kaget. Ia meremas kencang rambut pacarnya, tapi mungkin kelamaan merasa nikmat juga. Giliran Atsumu yang kaget karena tiba-tiba Shoyo menyemburkan cairan dalam mulutnya sembari yang daritadi merasa enak mendesah kencang untuk kedua kalinya.

"M-maaf 'Tsumu-san!"

"Gapapa, kok~" Beneran, gapapa! "Gitu caranya makan. Kalau Shoyo gak bisa, gak usah—"

Perkataan Atsumu terpotong oleh keagresifan pacarnya. Mulut Shoyo kecil, kontras dengan penis Atsumu yang jumbo. Tidak semua bisa masuk, jadi sambil mengemut Shoyo juga memijat dengan tangannya. Sungguh kenikmatan yang hakiki~

Atsumu tak menyangka pacarnya cepat belajar padahal hanya diberi contoh sekali saja. Gak bohong, enaknya pakai banget.

"Ukh—T-'Tsumu-saaan—"

"Iya, Sayang?"

"A-aku gak kuaaat—"

Pacarnya menyerngit. "Gak kuat apa?"

"Mau pipis lagiii~"

Atsumu cengok. Hebat banget bocah satu itu, cuman ngenyot miliknya aja sendirinya bisa muncrat, sedangkan yang diisap malah belum mau keluar. Tersenyum kecil, Atsumu pun merebahkan pacarnya lagi, memasukkan milik Shoyo dalam mulutnya lagi, biar Shoyo keluar disana.

Mungkin karena sudah tiga kali, kejantanan Shoyo melemas. Melihat itu, Atsumu cemberut. "Shoyo, aku masuk, ya."

"Masuk?" tanya sang pacar lemah.

"Punyaku, kumasukin ke lubangmu."

"Eh—MANA MUAT!?"

"Muat," tegas Atsumu.

"Masuk mulutku aja gak semua muat, lho!"

"Ya beda, dong, Sayang. Coba dulu, yuk, biar kamu yakin gimana cara nulis perasaan tokoh utama di fanfiksi kamu itu."

Mata Shoyo menyirat 'demi fanfiksi', dan itu membuat Atsumu gemas, terutama saat pacarnya mengangguk.

Maka mulailah Atsumu bersiap masuk ke lubang surga itu. Ah, tapi, ia ingin mencoba sesuatu. Jadi daripada penisnya duluan, telunjuknya menyelinap masuk duluan. Shoyo memekik kaget, sudah pasti. Desahannya kembali muncul saat Atsumu memasukkan jari kedua dan ketiga. Setelah tampaknya siap, baru Atsumu memasukkan kejantanannya perlahan. Saat masuk sempurna, Atsumu pun membajak sawah. Maju, mundur, maju, mundur, cantik. Cantik, gak bohong desahan Shoyo cantik banget.

.

.

Seminggu kemudian, telepon dari Atsumu akhirnya diangkat Shoyo. Mereka bukan marahan, tapi Shoyo lagi-lagi terlalu fokus akan fanfiksi yang digarapnya, sehingga untuk kesekian kalinya pesan dan telepon dari Atsumu terabaikan.

"Shoyooo~ gimana fanfiksinya?" tanya Atsumu.

"Uhm! Reaksinya pada bagus! Makasih, 'Tsumu-san!" jawab Shoyo riang.

Atsumu turut senang. "Kalau dapet tantangan lagi, bilang-bilang ya, siapa tahu aku bisa bantu, kayak minggu lalu, ehehehe~"

"Hmmm, itu … "

"Apa? Ada reviewer rikues fanfiksi lagi?"

"Iya … di fanfiksi rate M kemarin, ada beberapa yang rikues hal baru, rate M lagi …"

"Hm, kemarin yang kuajarin kan, ada banyak. Bukannya kamu bisa aja olah perbagian, gitu?"

"T-tapi, yang mereka minta sekarang itu sesuatu yang enggak Atsumu-san ajarin!"

Atsumu memutar otak. Kurang ajarin apa memangnya dia minggu lalu? Kayaknya Shoyo bahkan sampai gak bisa jalan sama sekali seharian keesokan harinya deh. Bahkan, karena agak merasa bersalah, saat itu Atsumu sampai menginap di kediaman Hinata karena kebetulan orangtua Shoyo ditambah Natsu sedang keluar kota. Minggu lalu itu Shoyo bahkan sampai minta izin sekolah untuk tidak masuk dengan alasan perutnya mulas.

Segala macam posisi sudah dicoba, kayaknya, mau terhadap Shoyo atau pada dirinya sendiri. Bahkan, demi fanfiksi itu, Atsumu membiarkan Shoyo coba memasukinya walau tidak benar-benar berhasil. Kalau BDSM, Atsumu tidak mau, ia menolak menyakiti pacarnya.

" … memang mereka rikues apa?" tanya Atsumu akhirnya.

"Ituuu … "

Itu?

"Uhm, threesome … "

"Eh?"

"Mereka minta adegan threesome!"

" … "

"'Tsumu-san?"

" … Shoyo, besok aku ke tempatmu bawa Osamu, ya."

.


.

Selesai

.


.

A/N: GAK USAH MINTA SEKUEL! Wkwkwk. Eh tapi kalau ada yang berniat bikin sekuel berdasarkan fict ini, silakan, kasihtahu ya entar Fei mau baca. Bwahahahah.
Fei ngetik ini dan dimasukin ke document manager tanggal 5, niatnya untuk diunggah tanggal 7 November. Tapi kasian banget, dalam rangka tanggal spesial Atsumu / Osamu, untuk kedua kalinya, Fei jadiin Osamu seperti third wheel. Wkwkwk, untung kepikiran cerita lain yang menyangkut si Kembar tanpa kapal sama sekali. Jadinya hari ini AtsuHina smut, besok baru beneran unggah drabble tentang Kembar Miya.

Review?