Byakuran tersenyum penuh kemenangan saat proyeksi hologram menampilkan video Sawada Tsunayoshi. Di dalam video itu Tsuna nampak ketakutan dan putus asa, dan akhirnya pasrah sembari menutup mata. Membiarkan peluru menembus dadanya. "Cara yang sama seperti saat Decimo mati." ujarnya.
Semua yang melihat terkejut, sampai-sampai Hibari Kyoya tak bisa menahan amarahnya. Tangannya menggenggam erat tonfanya, memukuli barrier itu sekuat tenaga agar hancur dan ia bisa membunuh Byakuran dengan tangannya sendiri. Di sisi lain Ieyoshi membatu. Melihat adiknya terbunuh dengan sadis tidak berperikemanusiaan. Amarahnya tak terbendung.
"BYAKURAN!" secepat kilat Ieyoshi terbang, menghajar Byakuran hingga tersungkur. Pemuda itu melakukan serangan bertubi-tubi secara cepat, tak memberi waktu lawannya untuk bertahan ataupun membalas.
Baru beberapa saat lalu Yuni mengorbankan diri untuk membangkitkan kembali arcobaleno, Byakuran malah mengompori—menampilkan video kematian adiknya. Ieyoshi tidak bisa melihat dengan jernih, yang ada hanya merah dan hitam. Telinganya berdengung, tak mendengar ucapan Byakuran yang kini terbang di atasnya.
Ieyoshi menghadiahi pemimpin Millefiore itu X-burner andalannya. Byakuran sempat bertahan dengan serangannya, namun tak sebanding dengan kekuatan sang Vongola Decimo muda. Byakuran berhasil dikalahkan tanpa meyisakan setitik abu dari jasadnya.
Setelahnya, barrier itu lenyap. Ieyoshi jatuh terduduk ia berteriak lantang mengutuk kemenangan sia-sia yang didapatkannya. Tubuhnya bergetar, air mata mengalir tanpa henti. Rasa sakit di hatinya teramat dalam, apalagi setelah ia kehilagan sosok berharga dalam hidupnya.
"Jangan khawatir, Decimo. Kemenangan ini tidak sia-sia!" suara Collonelo merebut perhatian semua orang. Arcobaleno yang sudah mati berhasil dibangkitkan. Keseimbangan tri-ni-set berhasil dikembalikan.
.
.
Garis Baru
Katekyo Hitman Reborn © Amano Akira
Story © Hanyo4
Tidak ada keuntungan komersil yang didapatkan oleh penulis. Fanfiksi ini dibuat hanya untuk kesenangan semata.
Alternate Reality.
Tyl!HibarixTyl!Fem!Tsuna (18Fem!27)
Sibiling!7227
Drama, Family, Romance.
Teruntuk kalian, yang sedang berjuang di tahun 2020. Terima kasih untuk tidak menyerah.
Terima kasih karena telah memulai dari awal lagi, Diaz.
.
.
Ieyoshi dewasa memandang peti matinya. Setelah berhasil mengirimkan orang-orang dari masa lalu kembali ke masanya dan menyegel cincin mare, mereka yang tertidur di masa ini bangun. Ieyoshi mewarisi ingatan Ieyoshi remaja yang singgah. Ia mengutuk kebodohannya, tak menyadari bahwa nyawa adiknya selama ini berada dalam bahaya.
"Kau tahu ia menyusup ke dalam markas Millefiore?" tanyanya.
Hibari Kyoya yang semula bersembunyi di belakang batang pohon besar, menampakan diri. Anggukan menjadi jawaban.
Tangan Ieyoshi mengerat. "Kenapa?"
"Ia yang menawarkan diri untuk melindungi arcobaleno langit dan Byakuran juga memiliki ketertarikan terhadapnya." Kyoya membuang wajah, tak bisa menutupi keputusasaan dalam sorot matanya.
Ieyoshi mengambil napas panjang, kemudian ia hembuskan perlahan. Salah satu tangan menutupi wajahnya. "Semua itu ada di masa lalu. Cincin mare berhasil disegel dan peperangan antar Millefiore-Vongola tidak pernah ada. Seharusnya Tsuna di masa ini hidup di damai tanpa mengenal kejamnya dunia mafia." Ujarnya.
Kyoya mendengus. "Belasan tahun aku mengenalmu, dan kini kau khawatir dengan Tsuna?" tanyanya sarkas. "Apa setelah melihatnya mati demi Vongola, kau baru mengakui keberadaannya?" nada yang Kyoya lontarkan teramat dingin dan tajam.
"Ia adikku. Tentu saja aku peduli!"
Kyoya berbalik, meninggalkan Ieyoshi. "Jika yang mengatakan ini adalah dirimu di masa lalu, aku akan percaya. Tapi kau, tidak punya harapan."
Sang pemimpin mafia menyandarkan diri pada batang pohon. Sesak di dadanya tak kunjung lenyap, meski ia tahu bahwa dunia kini damai dan aman. Apa yang Kyoya katakana tidak salah sepenuhnya. Memang benar ia selalu mengabaikan adiknya, semua itu ia lakukan demi menjaga Tsuna agar terhindar dari dunia mafia. Sama seperti dengan ayahnya yang mengasingkan ibunya dan dirinya dulu.
Ieyoshi mengacak rambutnya, frustasi.
Ia adalah kakak terburuk yang pernah ada.
.
.
Hibari Kyoya memandang lembaran kertas yang ada di tangannya dengan seksama. "Apa info ini valid?" tanyanya.
Kusakabe Tetsuya—orang yang paling Kyoya percaya—mengangguk. "Sawada-san sekarang tinggal di Cina, bekerja sebagai pegawai kantorandi salah satu lembaga swasta."
"Apa lembaga itu punya hubungan dengan mafia dan sejenisnya?"
"Sepertinya tidak, Kyo-san. Sawada-san tidak memiliki riwayat kontak dengan mafia sejak ia pindah ke Cina."
Kening Kyoya mengerut, dunia ini benar-benar berubah. Tsuna yang ia kenal tidak pernah pindah ke Cina. "Kapan dan kenapa ia pindah?"
"Sejak tiga tahun lalu. Setelah lulus kuliah, Sawada-san merantau dan melamar ke tempatnya bekerja sekarang. Saya rasa Sawada-san bekerja bukan karena mengincar gaji karena upah di tempatnya bekerja nyaris sama dengan pekerja kantoran di Jepang."
Kyoya menaruh kertas di atas meja, punggungnya bersandar pada kursi. "Ia pergi meninggalkan ibunya yang ada di Namimori?"
"Setelah Sawada Iemitsu pensiun dari posisi kepala CEDEF, ia dan Sawada Nana memutuskan untuk berkeliling dunia. Rumah yang ada di Namimori tidak ditempati oleh siapapun, tapi Decimo memberi perintah untuk tidak menjual atau menyewakan rumah tersebut dan selalu dibersihkan secara berkala."
Kyoya mengerut. Arcobaleno sama sekali tidak memberikan mereka ingatan tentang dunia yang damai ini. Dunia yang berbeda seratus delapanpuluh derajat dengan yang kemarin ia tinggali.
Kusakabe Tetsuya merasa heran dengan bosnya yang bertindak tak biasa. Tak hanya bosnya, Vongola, Varia, dan Cavalone semuanya bertingkah aneh. Seolah-olah Kyoya dan yang lain baru saja kehilangan ingatan. Memang benar Kusakabe ikut ambil peran saat melawan Millefiore dulu, hanya saja ia tidak diberi ingatan tentang dirinya di dunia itu. Kusakabe di masa ini hidup dengan normal seperti tak pernah ada peperangan sebelumnya.
Mungkin keputusan yang Ieyoshi buat adalah benar. Mengasingkan Tsuna dari dunia mafia adalah pilihan terbaik. Membiarkannya menjalani hidup normal dan bekerja sebagai orang kantoran bak masyarakat umum, tanpa harus berurusan dengan senjata.
Wajah kematian Tsuna yang dilihat oleh dirinya di masa lalu, terngiang tiba-tiba. Spontan, Kyoya langsung berdiri. "Siapkan pesawat jet, kita terbang ke Cina secepatnya." Perintahnya.
Kusakabe mematuhi dan langsung keluar ruangan.
Kyoya berjalan menuju jendela besar, netranya menatap kosong langit biru cerah.
Terakhir kali ia tidak mempedulikan seseorang, orang itu berakhir tragis. Kyoya enggan mengulang kisah kelam di masa lalu.
Di masa itu, Kyoya tidak peduli dengan pilihan Sawada Tsunayoshi. Kyoya membiarkan gadis itu masuk ke dalam perangkap musuh—seolah mengobral nyawa menjadi umpan. Dan Kyoya tahu jelas, di masa itu Byakuran ingin menghancurkan Vongola hingga ke dasar, Tsuna jadi salah satu targetnya.
Ingatannya membawa ia jauh ke kenangan masa lalu. Masa di saat Kyoya dan penjaga Vongola lainnya memutuskan untuk pindah ke Itali. Meninggalkan Tsuna serta keluarganya di Namimori. Ia bernostalgia, sekaligus menerka, seberapa berbedanya kah hidup yang ia jalani tanpa adanya Byakuran di dunia ini.
.
.
Sawada Tsunayoshi mengecek ponselnya. Beberapa jam lalu, sebuah pesan masuk dari sang kakak menanyai kabarnya tetapi Tsuna enggan untuk menjawab. Aneh, jarang sekali Ieyoshi menanyai kabarnya. Apa ia sekedar basa-basi atau sedang punya waktu lowong? Tsuna tak ingat bahwa hubungan mereka cukup dekat untuk bertukar kabar. Meski keduanya adalah saudara kandung, Tsuna sangsi Ieyoshi menganggap dirinya sebagai bagian dari keluarga.
Arloji di pergelangan tangan ia lirik. Sudah waktunya jam pulang kantor. Beberapa temannya tadi sempat mampir ke mejanya, mengajaknya untuk makan malam sekaligus minum-minum. Tapi Tsuna lemah dengan alkohol, ia tak mau ambil resiko bangun di tempat asing esok paginya.
Mendesah lelah, ia bangkit dari kursi dan mengambil tasnya. Lorong kantor sudah mulai sepi, hanya tinggal pekerja lembur. Di dalam lift, Tsuna memikirkan menu makan malamnya. Ada kedai dumpling yang ingin ia coba, mungkin es Americano bisa jadi teman minum yang cocok? Ah, pikirannya sangat mudah teralihkan dengan makanan.
Baru saja Tsuna keluar gedung, sebuah sedan hitam mewah berhenti di hadapannya. Dari kursi kemudi, keluar sosok Hibari Kyoya. Kening Tsuna mengerut, apa kakaknya mengirim Kyoya untuk mengecek keadaannya? Seperhatian itu kah ia? Sepertinya tidak.
"Aku antar kau pulang." ucap Kyoya, singkat padat dan jelas.
Tsuna benci jadi pusat perhatian, ia bisa merasakan tatapan orang sekitarnya yang kagum—serta iri dengan kehadiran Hibari Kyoya. Ingin rasanya ia menolak mentah-mentah permintaan mantan seniornya ini, tapi Tsuna tidak mau ambil resiko. "Apa Ieyoshi yang menyuruhmu datang?" tanyanya saat mereka sudah masuk dalam mobil.
Kyoya mendecih—tidak suka dirinya disangkut pautkan dengan orang itu. "Bukan."
"Lalu? Jauh-jauh dari Itali ke Cina hanya untuk mengantarku pulang? Ah tidak, kau pasti sedang ada dinas di sini, kemudian iseng mampir ke tempatku kerja. Dasar stalker."
"Stalker?" Kyoya melempar tatapan tidak suka ke sosok di sebelahnya. Bukankah seharusnya Tsuna merasa tersanjung dengan kedatangannya? Toh juga ia suka rela datang jauh-jauh melintasi benua untuk jadi supirnya malam ini.
"Kau tahu dimana kantorku dan jam pulangku, tahu juga arah jalan pulangku tanpa harus aku beri arahan. Apa coba kalau bukan stalker?" ujar Tsuna ketus. Rencana makan malamnya rusak sudah. "Dasar kalian, mafioso keras kepala." Desisnya pelan.
Kyoya menepikan mobil, tersentak dengan ucapan Tsuna barusan. "Mafia? Kau tahu?" jarang sekali ia merasa panik. Jika Tsuna tahu dengan latar belakang kakak dan kawan-kawannya, sudah pasti secara tidak langsung Tsuna berada dalam cengkraman mafia.
"Tentu aku tahu apa pekerjaan kalian. Aku bukan orang bodoh yang ditinggal di Jepang sementara kalian semua pindah ke Itali. Aku juga bukan gadis polos yang percaya bahwa Iemitsu adalah kontraktor bangunan di kutub utara. Lagi siapa pula orang sok baik hati yang memberikan kalian beasiswa di Itali, hah?" nada bicara Tsuna agak meninggi. Cukup sudah ia muak menyembunyikan kebenaran.
"Aku…" Kyoya tidak tahu bagaimana harus menanggapinya. Mungkin yang dilakukan Ieyoshi memang benar. Namun saat Tsuna tahu kenyataannya dengan usahanya sendiri, gadis itu pasti merasa terkhianati. "Maaf, kami memang egois. Itu semua untuk melindungimu. Iemitsu dan Nono bilang, kau tidak boleh terlibat dalam mafia." Ucapnya.
Tsuna membuang wajah, menyeka air mata yang nyaris tumpah. "Lalu? Apa urusanmu datang ke sini? Seingatku, tidak ada satupun orang yang mengontakku dalam lima tahun terakhir. Dan sekarang tiba-tiba Ieyoshi menanyai kabarku, sementara kau datang memberi tahu kebenaran."
Kyoya melihat ekspresi Tsuna dari bayangan kaca. Rasa ingin melindungi gadis ini kian menggebu-gebu. Kyoya ingin menjadi orang yang menghapus air mata Tsuna. Memeluknya erat, agar ia tidak pergi seperti apa yang terjadi di masa Byakuran ada.
Hening, Kyoya melanjutkan perjalanan. Pikirannya kalang kabut.
Hingga mobil itu sampai di depan komplek apartemen, tidak ada yang bicara.
.
.
"Kau bilang Hibari-san ke Cina untuk menemui Tsuna?!" tanya Ieyoshi histeris.
Gokudera Hayato—tangan kanan Ieyoshi sekaligus sekretaris pribadinya, mengangguk. "Kusakabe bilang ia pergi kemarin dengan jet vongola."
Surai pirang kecoklatan diacak kasar. "Pantas ia tidak balas pesanku."
"Dia?"
"Tsuna. Aku menanyakan kabarnya lewat chat kemarin, hanya dibaca tidak dijawab. Apa jangan-jangan ia sudah memblock nomor kontakku?!" pikiran Ieyoshi makin liar, apa sebenci itu Tsuna ke dirinya?
Hayato memutar bola matanya malas, sifat siscon bosnya mulai bangkit. "Kalau kau khawatir, kenapa tidak langsung menyusul ke sana? Aku tahu kau ingin memastikan keamanan adikmu sejak kita tidak punya ingatan tentang dunia yang damai ini."
"Tapi nanti aku harus bagaimana? Bagaimana jika keadaannya canggung karena ia membenciku?"
"Bilang saja kau kepleset dan hilang ingatan." Hayato merogoh saku, mengambil sebatang rokok.
"Kau kira itu mudah? Mentalku belum siap untuk dibenci Tsuna."
"Berarti kau mengaku kalah dengan Hibari Kyoya." Reborn muncul dari balik pintu. Sosok arcobaleno matahari itu masih sama seperti sepuluh tahun yang lalu, di dunia ini kutukan arcobaleno tidak dipatahkan—karena jelas, timeline mereka tidak bersinggungan dengan Checker Face.
Terkejut dengan kedatangan sang tutor, Ieyoshi langsung membenahi posisi duduknya agar tidak kena cecar, sementara Hayato mematikan rokok dan membungkuk saat Reborn lewat di hadapannya.
"Kyoya saja sudah berani mengesampingkan ego dan menyusul adikmu ke Cina. Hal yang terjadi di dunia itu, pasti membuat dirinya tertampar. Apa kau tidak sadar kalau penjaga awanmu punya perasan pribadi terhadap Tsuna?" ucap Reborn mengompori, senyuman sadis ia tampilkan saat melihat muridnya putus asa.
"A—apa maksudmu? Hibari-san punya perasaan pribadi ke Tsuna?! Kenapa aku tidak tahu? Tidak, ini tidak bisa dibiarkan!" panik, Ieyoshi bangkit.
"Memangnya kau kira kau siapa bisa mengatur hidup adikmu?"
Ieyoshi bergeming, ucapan Reborn barusan tepat menusuk hatinya.
Reborn menghela napas panjang, "Pergilah ke Cina. Ini perintah dariku. Jangan kembali sebelum kau membenahi hubunganmu dengan Tsuna. Aku rasa kau harus jujur dan saling terbuka satu sama lain. Karena satu hal yang pasti, Tsuna sudah tahu keterlibatan kalian dalam mafia." Iris Ieyoshi membola, baru saja ia ingin memotong pernyataan itu namun Reborn melanjutkan ucapannya. "Ia bukan gadis bodoh Ieyoshi, ia tidak sepolos ibumu yang bertahun-tahun mau ditipu Iemitsu."
Diam, sorot mata Ieyoshi berubah, "Hayato siapkan aku jet untuk ke Cina."
"Baik, Jyuudaime!" ujar Hayato mantap.
.
.
Lagi, Hibari Kyoya menunggu kepulangannya di depan pintu masuk. Keberadaanya yang sangat kontras dengan lingkungan sekitar, membuat dirinya menjadi pusat perhatian. Ia terlihat sangat elegan dengan pakaian kasualnya, lengkap dengan kacamata hitam yang menutupi nyaris separuh wajahnya.
Pria itu tersenyum saat melihat sosok Tsuna. Senyuman maut yang membuat wanita lain salah tingkah—namun tidak dengan Tsuna. "Kau tidak usah repot-repot menjemputku setiap hari, senpai." ujar Tsuna sarkas, namun ia tetap masuk ke dalam mobil itu. "Kalau kau punya banyak waktu luang, kenapa kau tidak mengusir bandit-bandit jahat dari negeri ini."
"Aku ini mafia bukan FBI, small animal." Setelah menyalakan mesin, Kyoya tak langsung tanjap gas. Ia melirik gadis disebelahnya yang sedang merunggut kesal.
"A—apa yang kau lakukan?" tanya Tsuna panik saat tubuh Kyoya tiba-tiba condong ke arahnya.
"Memasangimu sabuk pengaman." Tangan Kyoya bergerak cepat, memasang safety belt ke penumpangnya. "Aku baru tahu kau ini orangnya tidak taat peraturan, kemarin tidak pakai juga."
Wajah Tsuna merona merah, malu.
Kyoya tersenyum kecil dan memacu mobilnya, membelah jalanan padat di malam hari. "Kau, kenapa kau pindah ke sini?" tanyanya membuka topik.
Tsuna menyenderkan diri ke kursi, "Tidak ada alasan khusus, ini pilihanku dan Okaasan menyetujuinya. Toh juga aku tidak merepotkan orang lain."
"Lima tahun terakhir, kau tidak menghubungiku—menghubungi kami ."
Tsuna mendelik, keningnya berkerut. "Untuk apa? Seperti kalian mengabariku saja sejak pindah ke Itali."
"Tsuna, aku…"
"Hibari-senpai, perhatikan jalanan. Aku tidak mau mati konyol hanya karena kau mengemudi seenaknya."
Ah, kalau saja lawan bicaranya bukan Sawada Tsunayoshi, sudah pasti orang itu habis dibabat tonfanya.
.
.
Tsuna terkejut saat melihat sosok kakak kembarnya berdiri menyandar di depan pintu apartemennya. Penampilan kakanya berbeda seratus delapanpuluh derajat dengan yang terakhir ia lihat beberapa tahun lalu.
"Y—yo," sapa Ieyoshi canggung. Tsuna menatapnya lekat dari ujung rambut hingga ujung kaki. Seolah angin lalu, gadis itu menghiraukannya dan bergegas masuk ke apartemannya. Ieyoshi langsung mengekori, namun Tsuna langsung menutup pintu—menguncinya di luar. "Tsuna… aku, ada hal yang ingin kubicarakan denganmu." Suaranya bergetar, rasa putus asa menyelimuti Ieyoshi.
Di balik pintu, Tsuna menyandarkan punggungnya yang bergetar. Tangisannya tumpah, sebuah isakan nyaris saja lolos jika ia tidak menggigit bibir bawahnya. Kakinya lemah, ia jatuh terduduk.
Kenapa? Kenapa semua orang kini mencarinya? Setelah lima tahun menghilang begitu saja. Kenapa mereka seenaknya datang dan meninggalkannya? Apa yang mereka inginkan?
Tsuna ingin berteriak, memaki Ieyoshi. Tapi saat ia melihat sosok sang kakak, semua amarahnya lenyap. Tsuna tidak ingin melakukan apa-apa dengan Ieyoshi, ia tidak ingin berbicara dengannya. Tidak juga melihat keberadaannya. Karena Tsuna sudah menghapus eksistensi Sawada Ieyoshi dalam hidupnya.
.
.
Mata Tsuna bengkak setelah menangis semalaman. Beruntung, hari ini hari sabtu ia tidak harus pergi kerja dengan keadaan wajahnya yang sembab. Tsuna berguling di kasur, memandang atap plafon kamarnya. Pikirannya berkecambuk, menerka apa tujuan kakaknya dan Hibari sampai-sampai mereka rela mendatanginya di Cina.
Ponselnya berdering, nama Hibari Kyoya muncul di lock screennya. Tsuna mengabaikannya.
Ia bergegas bangun dan menyiapkan sarapan untuk dirinya sendiri. Mungkin hari ini akan lebih baik jika ia bisa menghindari dua orang itu dengan berdiam diri di rumah.
Namun kenyataan pahit menampar dirinya saat tahu, stok makanannya menipis. Mau tidak mau Tsuna harus keluar, ke mini market di ujung jalan. Mendesah lelah, Tsuna mengenakan cardigan rajutnya. Ia melangkah keluar setengah malas.
Baru saja ia membuka pintu, tatapannya tertuju pada sosok Ieyoshi yang duduk tertidur tepat di seberang pintunya. Ah, Tsuna mengutuk sifat keras kepala kakaknya.
.
.
Canggung, Ieyoshi menerima secangkir teh hangat dari Tsuna. Pandangannya berkeliling, melihat bagaimana tempat tinggal adiknya selama ini.
"Habiskan, lalu segera pulang. Suruh Hayato atau siapapun menjemputmu. Aku tidak mau berbicara apa-apa denganmu." Tsuna bangkit dari duduknya, namun tangan Ieyoshi langsung menahannya.
"Dengarkan aku dulu, Tsuna. Aku ingin bicara denganmu. Ada hal yang harus kita luruskan." Ucapnya depresi.
"Jika itu tentang mafia dan semacamnya, kau tak perlu khawatir. Aku sudah tahu. Tidak perlu menyembunyikannya dengan cerita bodoh –seperti beasiswa di Itali." Tsuna membuang muka, menghindari pandangan kakaknya. "Aku juga sudah dengar alasannya dari Hibari-senpai."
"Bukan begitu. Aku, kami semua—Hibari-san dan yang lain. Kami tidak tahu apa yang kau lakukan selama beberapa tahun belakangan ini. Meski vongola terus mencatat aktivitasmu, ada hal yang tidak kami tahu."
Tsuna marah, ternyata selama ini ia masih masuk dalam radar pengawasan kelompok mafia kakaknya? Apakah hidupnya tidak ada privasi?
"Tsuna, apa kau percaya kalau kami bukan dari dunia ini? Bagaimana jika ternyata dunia yang selama ini kau jalani adalah versi parallel dari dunia yang asli?"
"Jangan membual, Ieyoshi. Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan. Dunia parallel? Jangan membuat alasan lain dan membuat dirimu makin menyedihkan dari yang sebelumnya." Tsuna menepis tangan kakaknya. Air matanya sudah tumpah, ia terlanjur kecewa hingga tidak bisa mempercayai ucapan Ieyoshi.
"Dengarkan aku dulu! Ku mohon, percayalah pada instingmu, apakah instingmu bilang kalau aku berbohong? Tidak kan?"
Tsuna memeluk lengannya, memunggungi Ieyoshi.
"Mungkin Hibari-san belum mengatakannya, tapi aku dan ia—kami semua tidak memiliki ingatan tentang dunia ini, aku tidak tahu bagaimana hubunganku dengan kau selama beberapa tahun terakhir. Memang ini terdengar gila, tapi Tsuna, di dunia yang lalu kami kehilangan dirimu. Di dunia itu semua hancur, perang mafia berkecambuk tak ada habisnya. Dan kau, kau yang seharusnya tidak terikat dalam lingkaran mafia malah jadi korbannya." Air mata mengalir di wajah Ieyoshi, hatinya hancur saat memorinya mengingat kematian Sawada Tsunayoshi di dunia itu.
"Semua terdengar mustahil, tapi memang itulah yang terjadi. Kau hidup di dunia yang damai ini adalah versi parallel dari cerita yang sesungguhnya." Ieyoshi bangkit, memeluk tubuh sang adik. "Aku tidak mau kehilangan kau lagi. Baik di dunia ini atau di dunia lainnya."
Tsuna merasa cerita Ieyoshi itu konyol. Dunia parallel? Perang mafia? Hah, itu pasti akal-akalan dari Ieyoshi. Tapi entah mengapa benaknya berkata kalau yang Ieyoshi katakan adalah kejujuran. Ia harus percaya pada Ieyoshi, karena kalau tidak ia pasti akan menyesalinya.
Ketukan pintu menyedot perhatian keduanya. Tsuna melepaskan diri dari pelukan Ieyoshi.
Tak kunjung mendapatkan jawaban, sang tamu membuka paksa pintu apartemen Tsuna. Tsuna terkejut, tidak menyangka Kyoya tahu nomor pin keamanannya.
"Kau, apa kau baik-baik saja?" tanya Kyoya khawatir. Baru saja ia melangkah maju mendekati Tsuna, Ieyoshi menghadangnya.
Melihat hal tersebut sebagai kesempatan untuk kabur, Tsuna lari masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintunya. Meninggalkan dua tamu tak diundangnya di ruang tamu.
Kyoya menatap Ieyoshi dengan tatapan tak suka. "Kau mengatakannya." Bukan pertanyaan tapi sebuah pernyataan.
"Aku kakaknya," Ieyoshi membela diri.
"Tapi kau tidak pantas. Kembalilah ke sepuluh tahun yang lalu baru katakan dengan lantang."
.
.
Dunia, sepuluh tahun yang lalu.
Setelah kemenangannya melawan Xanxus, Reborn makin gencar melatih Ieyoshi dari para penjaganya. Mereka lupa, kabar duel antara Xanxus dengan kandidat decimo sudah menyebar di dunia mafia. Keamanan keluarga Sawada terancam, terutama Sawada Nana dan Tsunayoshi yang notabenenya adalah warga sipil.
Di dunia ini, mereka tidak pergi ke masa depan untuk melihat hancurnya dunia. Mereka menjalani hidup dengan normal; berangkat sekolah, belajar, berlatih dengan Reborn, dan pulang ke rumah. Ieyoshi baru dilimpahi urusan mafia secara legal saat umurnya tujuh belas tahun dan pindah ke Itali setengah tahun kemudian.
Pernah suatu hari saat pulang sekolah, Tsuna menghilang. Ieyoshi dan Reborn tidak menyadarinya karena mereka berdua sibuk berlatih dan camping di dalam hutan. Sementara Lambo, Ipin, Fuuta, dan Bianchi mereka semua sedang berada di Itali kala itu. Nana kalang kabut, putri bungsunya tidak kunjung mengabari kemana ia kabur.
Depresi , Nana memutuskan untuk meminta bantuan ke Kyoya yang kebetulan sedang patroli di dekat kediamannya.
"Kyoya-kun, apa kau liat Tsu-chan?" tanyanya panik.
Kyoya menggeleng, "Ada apa Sawada-san?"
"Sudah jam tujuh malam, Tsu-chan tak kunjung pulang. Biasanya kalau ia pulang terlambat pasti akan mengabari, tapi ini tidak. Ie-chan dan Reborn-chan sedang berlatih di gunung, mereka juga tidak balas pesanku."
Hati Kyoya tak tenang, ia memikirkan kemungkinan buruk yang mungkin terjadi pada gadis itu. Ponsel dalam saku ia rogoh, dalam sekejap ia meminta Kusakabe untuk mengerahkan seluruh anggota komite kedispilinan untuk mencari gadis itu. Kyoya menyuruh Nana untuk kembali ke rumah dan menunggu kabar, Nana menuruti—dalam benaknya ia berharap anak gadisnya sudah pulang saat ia sudah sampai di rumah.
.
Pelipis Kyoya dibanjiri keringat, sudah dua jam lebih ia mengelilingi Namimori namun hasilnya nihil. Ponselnya bergetar, Kusakabe mengirimkan sebuah koordinat, Kyoya langsung berlari dengan kecepatan penuh.
Sebuah gudang di tepian kota jadi tujuannya.
Kyoya bisa melihat gelagat aneh orang-orang yang berjaga di gerbang—mereka bukan buruh pekerja, mereka mafia. Kyoya mendecih, mengutuk Sawada Ieyoshi si magnet pembawa masalah.
Meski masih berusia belasan tahun, kekuatan Hibari Kyoya tak boleh diragukan, ia bisa menerobos masuk ke dalam pabrik itu seorang diri. Para mafia ini tak sebanding dengan Varia maupun geng Kokuyo yang pernah ia hadapi.
Irisnya melebar, mendapati Sawada Tsunayoshi tak sadarkan diri dengan keadaan setengah telanjang. Rasa amarah menguasai, melembangunkan serigala yang tertidur di dalam dirinya. Hibari Kyoya mengamuk, menghabisi nyaris separuh dari kelompok itu.
Dengan keadaan babak belur, ia membawa Sawada Tsunayoshi ke rumahnya—merawatnya sekaligus merahasikan apa yang terjadi dari Sawada Nana.
Tiga hari kemudian Tsuna bangun dari tidur panjangnya, dan ia sama sekali tidak ingat kejadian malam tersebut.
.
.
Dunia di waktu sekarang.
Setelah Tsuna masuk kamar, kyoya mengacak rambutnya, dalam hati ia terus mengutuk Ieyoshi. Di benaknya, semua ini akan baik-baik saja jika Ieyoshi tidak muncul. Cukup Kyoya yang Tsuna butuhkan agar gadis itu bisa kembali membuka diri pada mereka. Tapi Ieyoshi sudah mengacaukan segalanya.
Kyoya masih menaruh dendam pada Ieyoshi perihal kejadian sepuluh tahun yang lalu. Amarahnya akan selalu terpancing jika Ieyoshi mengakui diri sebagai kakak kembar dari Sawada Tsunayoshi. Kyoya bisa akui kalau mereka memang punya hubungan darah, tapi hanya sebatas itu. Kyoya merasa kalau Ieyoshi terlalu egois —tidak pernah bersikap sebagai sosok kakak dan tidak pernah melindungi adiknya sendiri.
Andai saat itu Ieyoshi percaya pada instingnya dan segera pulang untuk menyelamatkan Tsuna, maka tragedi itu tidak akan terjadi. Dan Kyoya tidak akan menaruh dendam ke bosnya.
"Kau harusnya pergi, ini adalah urusan antar keluarga." ujar Ieyoshi bak menuang bensin ke bara api.
"Pergi? Mentang-mentang kau bosnya, semudah itu kau memerintahkan ku?" Nada Kyoya meninggi, tak suka jika ia diperintah orang lain.
Ieyoshi maju selangkah, bak menantang Kyoya. "Ya, dan kau sebagai bawahan yang baik seharusnya menurutiku."
Tonfa—yang entah muncul dari mana digenggam erat oleh Kyoya, pemuda itu sudah ambil ancang-ancang untuk menghajar lawannya hingga babak belur. "Sudah kubilang," tonfanya ditepis, tapi Kyoya tak kalah gesit. Ia menendang tubuh Ieyoshi hingga jatuh menubruk sofa. "kau tidak berhak mengaku sebagai kakaknya,"
Ieyoshi langsung bangkit, tangannya mengepal meninju sisi kiri wajah Kyoya.
Tsuna yang mendengar keributan di ruang tengahnya langsung keluar kamar.
"Kalian semua berhenti! Keluar dari rumahku sekarang juga!" teriaknya menghentikan pertikaian dua orang itu.
Kyoya dan Ieyoshi langsung berhenti, pandangan keduanya tertuju pada wajah sembab dan mata merah. Di lihatnya gadis itu nampak tersiksa, kehadiran mereka berdua seperti membuka luka lama yang terpendam.
Tsuna jatuh terduduk, Ieyoshi dan Kyoya refleks menangkapnya, "Jangan sentuh aku!" tangan mereka sama-sama berhenti di udara, gagal menyelamatkan gadis itu. "ku mohon pergi dari sini. Mafia atau apapun itu, aku tidak mau terlibat—aku tidak mau terlibat lagi dengan kalian." ucap Tsuna lemah ditengah sesengguknya.
Kyoya dan Ieyoshi sama-sama putus asa, mendengar kalimat penolakan dari Tsuna.
Ketika keduanya berbalik berjalan keluar menuju pintu, namun suara benda jatuh membuat mereka menoleh ke belakang.
Sawada Tsunayoshi tak sadarkan diri.
.
.
Sawada Nana mengelus lembut pucuk kepala anak gadisnya, di seberangnya Sawada Iemitsu menggenggam telapak tangan si bungsu. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing.
"Seharusnya aku tidak merahasiakan ini, tapi setelah melihat Ieyoshi dan Tsuna tumbuh besar… makin lama aku makin egois. Aku tidak ingin kau dan putri kita masuk ke dalam dunia kejam ini. Kupikir dengan merahasikannya, aku bisa melindungi kalian. Tapi ternyata hal yang aku lakukan salah dan kalian malah terluka." Ujar Iemitsu lirih.
Nana menatap sang suami, tangis nyaris tumpah dari pelupuk matanya. "Sebenarnya kami sudah tahu," Iemitsu terkejut dengan pengakuan istrinya. "Tiga tahun lalu sebelum Tsu-chan pindah ke Cina, ia terus-terusan bermimpi buruk. Awalnya kukira itu hanya sekedar mimpi, ternyata itu ingatannya yang hilang saat ia masih SMP."
Iemitsu bangun, memeluk Nana—menenangkannya.
Baik Iemistu, Ieyoshi, maupun seluruh anggota Vongola tahu tragedi yang menimpa Tsuna sepuluh tahun lalu.
Di balik pintu, Ieyoshi duduk termenung. Berharap bisa memutar waktu kembali ke masa lalu. Tapi ia tahu walaupun ia kembali, dunia yang ia tempati takkan berubah. Karena hukum dunia paralel adalah kekal—jika arcobaleno tidak berkehendak.
Saat Tsuna membuka matanya, wajah Nana yang pertama kali muncul di pandangannya. Bagai anak kecil, tangisan Tsuna tak terbendung. Ia memeluk Nana erat. Iemitsu dengan lembut menepuk punggung putrinya, Tsuna menoleh. "Tou-san." Panggilnya.
"Ya Tuna-fish, Tou-san ada di sini." Suara Iemitsu bergetar.
Tsuna mengulur tangan, meminta sang ayah memeluknya—iemitsu menuruti. Reuni keluarga itu berlangsung sendu, hanya saja Ieyoshi tidak ada di dalamnya.
Ieyoshi hanya bisa memandang dari balik pintu.
Dunia mereka berbeda.
.
.
Hayato menyalakan rokok, sementara Takeshi duduk bersandar di sebelahnya.
"Kemarin saat aku bertemu langsung dengan ayahku, aku tidak menyangka ia hidup dengan damai selama ini. Padahal baru kemarin, aku menemukan jasadnya terkubur di reruntuhan restoran." Takeshi ingat betapa putus asanya ia saat mendengar kabar Millefiore membantai Yamamoto Tsuyoshi. "Yang ia bilang, selama lima tahun terakhir kita tidak kembali ke Jepang, dan jarang menghubungi. Bahkan ada cerita tak masuk akal yang tidak pernah terjadi sebelumnya."
Kening Hayato mengerut, "Cerita tak masuk akal?"
"Diam-diam Hibari sering pulang ke Namimori. Oyaji bilang Hibari melakukan itu supaya tahu kabar terbaru tentang Tsuna, ia berniat untuk melamarnya. Tapi tiga tahun lalu Tsuna pergi ke Cina secara diam-diam, sampai sekarang Oyaji tidak tahu kabar gadis itu jika bukan kita yang mengabari."
"Hibari ingin melamar Tsuna?! Cerita konyol dari mana itu?"
"Makanya aku juga kaget. Di dunia sebelumnya, mereka bahkan tak saling bersinggungan."
"Fufufu dasar orang-orang bodoh." Mukuro tiba-tiba menampakkan diri, membuat Hayato dan Takeshi meliriknya. "Aku tidak menyangka para penjaga cincin Vongola sebodoh ini." Ledeknya.
Emosi Hayato tersulut "Apa maksudmu, hah?!"
"Tidakkah kalian sadar kalau Skylark hanya memandang Vongola Hime sebagai wanitanya sejak dulu?" Mukuro tersenyum penuh kemenangan saat melihat wajah terkejut dari dua orang di depannya.
"Vongola Hime? Maksudmu Tsuna?"tanya Takeshi ,masih kurang yakin.
Mukuro memutar bola matanya, malas menanggapi tuan-tidak-peka-Yamamoto-Takeshi.
Hayato bergeming, otak cerdasnya mulai mencerna informasi yang ia terima.
Hibari pergi ke Cina tiba-tiba dengan jet Vongola... Hibari tahu Tsuna mengumpan diri ke Millefiore… Hibari yang menyelamatkan Tsuna sepuluh tahun yang lalu… Hibari punya perasaan pribadi ke Tsuna… Hibari ingin melamar Tsuna di dunia parallel ini…
Lengkap sudah puzzlenya.
.
.
Ketika Hayato membuka pintu, dokter Shamal keluar dari ruang kerja Vongola Decimo. Dilihatnya Ieyoshi sedang memijit kening. "Ada apa dengan Tsuna?" tanyanya.
Ieyoshi mendongkak, menatap Hayato sekilas. "PTSD. Kaasan bilang ia sudah ingat kejadian sepuluh tahun lalu sejak lama, dan mereka merahasiakannya dari kita."—sebuah perbuatan yang setimpal dengan sama-sama menutupi kebenaran.
"Kau tahu Takeshi bertemu dengan ayahnya kemarin?"
Ieyoshi mengangguk, "Aku yang menyuruhnya. Aku malah tidak menyangka kalau kedua orang tua ku sedang berada di Jepang juga." Ieyoshi ingat saat Tsuna pingsan kemarin, ia dan Kyoya sepakat membawa gadis itu ke Jepang untuk mendapatkan penanganan di markas mereka.
"Tsuyoshi-san bilang, di dunia ini Hibari punya niatan untuk melamar adikmu." ucap Hayato.
Ieyoshi diam sejenak sebelum merespon. "Apa di sini mereka sedekat itu?"
"Aku… kurang tahu. Hanya gosip dari Tsuyoshi kalau beberapa tahun belakangan, Hibari sering singgah ke Namimori."
"Tapi di dunia kita yang sebelumnya, Hibari tidak pernah—"
"Mungkin pernah tapi kita tidak tahu." Sambung Hayato cepat.
Ieyoshi memandang lekat Hayato dari ujung kepala hingga kaki. Pikirannya menerka apa Hayato berada di pihak oposisi atau pihaknya? salah satu alisnya menukik, "Maksudmu ia sering berkunjung ke Namimori tanpa sepengatahuan kita hanya untuk menemui adikku?"
"Kurasa bukan menemui, tapi memastikan keadaannya. Walaupun agen Vongola selalu memberikan kabar terbaru tentang aktivitas adikmu, aku yakin Hibari lebih percaya jika melihatnya secara langsung."
Ieyoshi membenamkan kepala ke lengannya di atas meja. "Hayato, apa benar aku kakak yang buruk?"
Hayato diam, tidak menjawab pertanyaan temannya.
Jika Kyoya dan Tsuna sedekat itu di dunia ini dan ia malah menentang hubungan mereka, Ieyoshi yakin Tsuna akan lebih membencinya. Ia ingat Reborn kemarin bilang kalau Ieyoshi tidak berhak ikut campur dalam urusan pribadi adiknya. Terlebih selama ini hubungan mereka sangat renggang, komunikasi keduanya tidak berjalan dengan baik.
Ah, persetan. Kenapa ia tidak punya ingatan tentang dunia yang damai ini?
.
.
Keesokan harinya, ketika Kyoya masuk ke kamar rawat Tsuna. Gadis itu sedang tertidur lelap.
Kyoya tidak ingin membangunkannya, ia hanya masuk untuk melihat keadaan sekaligus menaruh bunga segar yang barusan ia petik ke vas samping ranjang. Namun saat Kyoya mendekati ranjang, kedua mata Tsuna terbuka.
"Senpai?" tanyanya setengah sadar.
"Ya…," Pria berambut hitam itu memutuskan untuk duduk di kursi samping ranjang. "Kau sudah agak baikan?"
Tsuna mengangguk. Ia bangkit, duduk menyandar ke ranjangnya. "Kau juga tahu?"
"Tentang cerita Ieyoshi?"
"Ya."
Tsuna bisa melihat pancaran mata Kyoya bak redup sesaat sebelum pria itu membuang pandangannya. "Bagi kami, ini dunia yang berbeda. Melihatmu hidup sekarang, adalah sebuah keajaiban." Jawabnya.
"Jadi benar kata Yoshi, di sana aku tiada?"
"Kami gagal menjagamu, kau mengumpan diri ke musuh untuk melindungi seseorang." Jelas Kyoya.
"Melindungi seseorang? Siapa? Ieyoshi?"
Kyoya menggeleng, "Kau tidak akan kenal, orang itu tidak ada disini. Dunia berubah, siapa yang kau kenal di sana belum tentu kau kenal disini."
"Begitu juga dengan ingatan kalian?"
"Ya…" Kyoya menatap lekat bola mata sewarna hazel milik Tsuna. "Dunia berubah seratus delapanpuluh derajat dalam sekejap, kami tidak punya ingatan di dunia baru ini. Aku tidak ingat apa-apa tentangmu selain masa lalu—yang mungkin tidak berubah."
"Maaf," ucap Tsuna tiba-tiba.
"Kenapa? Seharusnya kami yang minta maaf karena sudah—"
"Maaf karena aku tidak tahu apa saja yang sudah kalian lalui, dan seenaknya mengadili sepihak. Aku tidak berhak marah pada kalian kemarin. Aku—"
Kyoya memeluknya, Tsuna menangis di pundaknya. "Aku juga minta maaf karena selalu gagal menjagamu." Bisiknya.
Setelahnya, Tsuna agak tenang. Kyoya melepaskan pelukannya. Namun tanpa sadar tangannya membikai wajah si kakak kelas.
Sejak kapan? Pikirnya.
Kyoya tersenyum—ia jarang atau bahkan tidak pernah tersenyum. Tangannya menggenggam tangan Tsuna yang tengah menyentuh pipinya. Mengecup telapaknya sesaat sebelum si gadis menariknya kembali dengan wajah merah merona.
Tsuna lupa, sejak kapan wajah Kyoya berubah. Dulu ketika SMP, ia sangat suka memperhatikan pemuda ini.
Dulu, ada saat mereka saling bertukar tatap meski dari kejauhan.
Dulu… pernah satu hari kedua bibir itu saling menyatu.
—Karena dulu keduanya saling menjalin hubungan, sepasang kekasih.
.
.
Ieyoshi menarik napas dalam sebelum menghembuskannya secara perlahan. Ragu, ia mengetuk pintu dengan jantung yang berdetak tidak beraturan.
"Masuk," ujar sang penghuni ruangan.
Dilihatnya Tsuna sedang duduk menonton televisi. "Tsuna, ini aku." Ucap Ieyoshi lirih—takut sang adik mengusirnya lagi.
Gadis berambut coklat itu mematikan tv, pandangannya kini terfokuskan seutuhnya ke arah Ieyoshi. Napas panjang ia tarik, "Maaf." Ucapnya.
Ieyoshi terkejut, "Ma—maaf untuk apa?" tanyanya sedikit terbata. Jika saja Reborn ada di sini, ia pasti sudah diceramahi habis-habisan.
"Maaf karena kemarin aku mengamuk. Maaf karena sudah merahasiakan hal ini. Maaf karena di duniamu yang kemarin, aku tiada."
"Tidak. Tidak, itu bukan salahmu Tsuna. Aku yang seharusnya minta maaf karena sudah menelantarkanmu, sudah membuatmu berkorban. Aku…" Ieyoshi sebisa mungkin mengendalikan emosinya, namun tetap saja gagal. Ia tak kuasa menahannya lagi, rasa bersalah yang ia bendung kini sudah meluap tak terkendali. "Maaf karena aku selalu menempatkanmu dalam bahaya."
Air mata mengalir di wajah Tsuna, namun gadis itu tersenyum. Tsuna merentangkan tangan, membawa kakaknya dalam pelukan—sama seperti yang ia lakukan ke Iemitsu semalam.
Tsuna sudah memaafkan mereka semua.
Tsuna tidak lagi menyimpan dendam ke keluarganya.
.
.
Tiga hari kemudian, Ieyoshi meninggalkan Tsuna ke Itali. Pemimpin Vongola ke sepuluh itu sempat bertanya, menawarkan sang adik untuk tinggal bersama dengannya dan yang lain di negeri para mafia. Namun Tsuna menolak, ia bilang akan kembali ke Namimori dalam waktu dekat setelah menyelesaikan berkasnya di Cina.
Iemitsu dan Nana juga bilang mereka akan menetap di rumah mereka sendiri—keduanya sudah puas berkeliling dunia.
Kyoya mengantarkan Tsuna kembali ke Cina dengan jet Vongola. Sepanjang perjalanan, tak henti-hentinya iris kelabu itu memandang adik kembar Vongola decimo. Dalam hati, Kyoya berdoa bahwa sosok ini nyata, bukan sekedar bunga tidurnya yang nanti akan lenyap saat ia membuka mata.
Tsuna awalnya acuh, lalu lama-lama risih. "Apa ada yang aneh dengan wajahku, Hibari-senpai?" tanyanya.
Kyoya menggeleng. "Tidak, kau sempurna." Ujarnya setengah menggoda setengah lagi jujur.
Wajah Tsuna merona.
"Kau tahu, mungkin dalam waktu dekat kita harus memberi tahu semua orang tentang hubungan kita."
"Hubungan apa? Kita kan sudah putus lama, Sembilan tahun mungkin?"
Senyum Kyoya lenyap, keningnya mengerut tidak suka.
Tsuna tertawa. "Mungkin nanti, aku masih butuh waktu."ucapnya jujur. Ya, Tsuna masih butuh waktu untuk menyusuaikan dirinya ke dunia baru, dunia yang bersinggungan dengan mafia. Ia harus jadi pribadi yang lebih kuat dari kemarin. Agar ia tidak membuat Kyoya, kakaknya, ataupun keluarganya yang lain khawatir.
"Akan kutunggu." Kyoya membawa telapak tangan Tsuna ke wajahnya, menyita pandangan sang gadis. "Aku pernah hidup di dunia tanpamu—dan itu sungguh menyakitkan. Jadi biarkan aku menunggumu, sampai kau bisa benar-benar menerimaku kembali, menerima dunia ini."
Tsuna tersenyum sendu. "Ya, aku pasti akan kembali. Karena rumahku adalah dimana kau—dimana kalian semua berada."
Kyoya mengikis jarak, menempelkan bibirnya ke bibir merah muda sang lawan.
Sekali lagi, ia memohon pada Tuhan. Memohon bahwa dunia yang ia tinggali saat ini adalah sebuah kenyataan.[]
.
.
.:The End:.
hallo!
fanfic ini saya garap di tahun 2018-2019an trus pas iseng lagi baca-baca WIP, saya putuskan untuk melanjutkannya sampai tamat ((walau aslinya lupa ini plot mau dibawa kemana)) makanya kalau diperhatikan ada perbedaan gaya penulisan ((gegara nulis paper mulu jadi lupa diksi nulis fiksi))
oiya ini pertama kalinya saya nulis 1827, hehehe. karena kangen genderbend yo wes tak buat Tsuna jadi wedok, sing ayu lah pokok e.
Samhaw agak kentang sih (emang kentang wkwkk) banyak banget plot hole, tapi ntar klo dijabarin malah makin ngebosenin (ini aja udah bikin bosen) yo wis lha gini aja. semoga kalian suka!
Terima kasih telah membaca karya saya!
Sign,
Hanyo4
