Rumor mengatakan kalau Naruto berlatih untuk membalas dendam pada pembully yang terus mengganggunya, banyak yang bergosip ria tentang kekuatan Naruto, sihirnya serta apa yang dipelajarinya. Namun, semua tahu jika pemuda itu hanya akan makan siang di kelas, atau membaca buku diperpustakaan. Terkadang, dia akan pergi tanpa pamit, entah itu kemana.
"Itu dia, Naruto Uzumaki, dia yang mengalahkan seorang Prodigy."
"Itu pasti hanya kebetulan saja dia mengalahkannya, kan dia yang paling lemah."
"Iya, Healer paling lemah di antara semuanya."
Ya, Naruto di mata semua orang adalah Healer, tetapi itu hanyalah didepan mata semua orang, mereka tak tahu jika Naruto menguasai berbagai Martial Art di dunianya, dan dengan rapinya dia menyembunyikan semua hal itu.
'Lama-lama aku bosan juga dengan ocehan mereka,' batin Naruto yang saat ini menatap malas lorong Academy. Dia baru saja menyelesaikan sebuah misi dari Kepala Sekolah, tentu saja membunuh beberapa orang yang meresahkan warga. Apakah dengan membunuh Murid Bangsawan disini, dia akan di adili oleh raja? Hmm, entahlah, Naruto terus memikirkan hal itu.
Dia ingin membunuh para anak Bangsawan yang meremehkan dirinya. Tentu saja saat malam tiba jika kau ingin membunuhnya. Di dalam hatinya ia tertawa memikirkan tata cara untuk membunuh anak bangsawan tanpa ketahuan.
Itu akan menjadi skenario hebat jika ia melakukannya. Tapi ia masih sayang nyawa, dia tak akan melakukan hal itu.
...
..
.
Naruto dan Highschool DxD bukan punya saya.
Warning: OOC, Au/Isekai, Typo, and many more
Tags: Isekai, Adventure, Romance.
Pairing: ...
..
.
Magic x Fist
..
.
Chapter 2: Misi
Enjoy it!
Malam hari.
Naruto membaca secarik kertas yang diberikan kepala sekolah kepadanya. Dirinya sekarang berada di kamar asrama miliknya untuk menyiapkan beberapa perlengkapan saat akan melakukan sebuah misi. Pemuda itu menyimpan semua barangnya di dalam dimensi yang diciptakannya. Naruto memang tak perlu repot jika mau berpergian, karena dia menguasai sihir dimensi.
Ia pun mengambil pakaian serba hitam, serta sebuah topeng polos yang kemudian dipakainya. Dia pun membuka jendela kamarnya, lalu melesat menggunakan sihir miliknya. Ia melompati pepohonan serta bangunan-bangunan kerajaan seolah dirinya adalah Ninja. Naruto tertawa di dalam hati setelah ia berpikir bahwa dirinya memang benar-benar Ninja.
'Misi kali ini membunuh seekor Naga yang berada di timur kerajaan. Klienku adalah pihak kerajaan yang mendengar keluhan dari desa bagian timur kerajaan. Well, semoga saja tak sulit.'
Naruto terus melesat jauh, hingga dirinya sampai di sebuah desa. Di sana nampak sepi seolah tak ada penghuninya. Naruto mencoba merasakan aura kehidupan yang ada di desa tersebut, ada beberapa warga yang tinggal di sana, jumlahnya puluhan orang, dia masuk ke desa tersebut untuk menemui kepala desa.
Kedua mata birunya melihat sosok pria tua yang tengah duduk di sebuah rumah, pria itu seolah menikmati malam yang indah ini. Batin Naruto kembali tertawa saat tau malam ini begitu indah. Ia pun mendekati pria tersebut. "Apakah anda yang memintaku untuk membasmi naga di sekitar sini?"
Pria tua itu sedikit terkejut dengan sosok Naruto yang baru saja datang. "Kau orang yang dikirim Arc Academy? Kau terlihat masih sangat muda nak." Pria itu berdiri, lalu segera berjalan keluar dari teras rumahnya. "Dibagian timur, ada sebuah Gua, Naga itu bersembunyi di dalam sana, aku harap kau bisa menghabisinya. Para warga takut, serta hewan ternak kami banyak yang hilang karena dimakan oleh Naga tersebut."
"Baiklah kek, saya akan melaksanakan tugas itu. Mohon undur diri." Naruto sedikit menundukkan kepalanya, lalu pergi dari hadapan pria tua itu.
"Anak yang sopan."
Naruto memasuki hutan di timur desa, dia mengaktifkan sensornya untuk mencari aura Naga serta beberapa binatang buas lainnya. Dia takut jika ada yang mengganggu jalannya misi. Terlebih lagi, ini menyangkut seekor Naga.
Dia pun kembali melesat cepat untuk sampai di tujuannya. Naruto merasakan aura naga yang tak jauh darinya, dia terus mempercepat larinya hingga sampai di sebuha gua, pemuda itu mengobservasi mulut Gua, lalu masuk ke dalam gua tersebut. Naruto kembali menyalakan sensornya.
Bum!
Dengan reflek, ia menghindari hentakan yang dilakukan Naga tersebut. Mata birunya menajam saat itu juga, ia bisa melihat kedua mata Hijau tajam yang menakutkan di atas sana. Naruto berpikir jika Naga ini lebih besar dari yang dibayangkannya. Ia pun menciptakan sebuah belati untuk dilempar kepada Naga tersebut.
Satu persatu belati ia lemparkan pada Naga tersebut, sembari dirinya terus berlari mengitari Naga itu. Beberapa belatinya ada yang terpental lalu menghilang menjadi serpihan cahaya. Naruto melempar belatinya hanya untuk menguji kulit dari Naga.
'Ah, memang keras.'
Dia kembali menghindari serangan yang dilancarkan Naga tersebut menggunakan ekor, Naruto melompat tinggi kemudian menendang bagian kepala Naga itu menggunakan tumitnya, kepala Naga itu terjerembab di atas tanah saat Naruto menendangnya. Tak sampai disitu, ia mengompres mana miliknya menuju kedua tangannya dan mengepalkan kedua tangan itu.
Ia memukul punggung keras itu menggunakan kedua tangannya yang terkepal. Suara retakan dari kulit keras itu terdengar. "Kulitnya sungguh keras, sial."
[Berhenti!]
Naruto menghentikan pergerakkannya. Ia mendengar sebuah suara dari arah Naga tersebut. "Kau berbicara?"
[Ya, aku berbicara padamu! Namaku Ddraig, seekor Naga Langit. Kau mengincarku karena ada yang mengganggu Desa itu?]
Naruto menggangguk kecil mengiyakan pertanyaan naga itu. Ia pun berjalan mendekati Magical Beast tersebut. "Aku menerima misi untuk memusnahkan Naga."
[Tidak, tidak, aku bukan naga yang dimaksud. Naga itu ada dibalik gunung ini, sebelumnya...]
Nampak tubuh merah besar itu menyala terang, hingga Naruto menutup matanya karena cahaya yang begitu terang, hingga pada akhirnya Naruto melihat Grimore miliknya melayang dengan cahaya merah yang menyelimuti buku itu.
[Aku menemukan sebuah tempat untukku tidur. Manusia, kau akan menjadi Partnerku mulai sekarang!]
"Menjadi Partner?" Naruto mencubit dagunya, ia lalu membuka topeng polos tersebut. "Baiklah, kita akan menjadi Partner, lalu apa tujuanmu sekarang?"
[Aku tak tahu, tujuanku masih belum jelas, tetapi aku merasa kalau kita akan cocok sebagai Partner.]
Naruto tersenyum, lalu mengecilkan Grimore miliknya, dan membuatnya menjadi sebuah kalung. "Seekor naga Surgawi menjadi Partnerku, Y Ddraig Goch."
Ddraig yang berada di dalam buku itu sedikit terkejut karena Naruto mengetahui nama panjangnya. Tapi itu tak masalah, mungkin hanya Naruto saja yang mengetahui sejarahnya.
"Kita pergi!"
Naruto langsung menghilang dari tempatnya berdiri.
..
.
..
Kedua mata birunya menatap tajam para kawanan Wyvern. Naruto menautkan alisnya saat tahu bahwa Beast yang mengganggu warga desa, ia saat ini berada di atas sebuah gunung, mengawasi para Wyvern yang sedang memakan beberapa hewan ternak. "Ternyata bukan kau ya Ddraig?"
[Untuk apa aku memakan hewan ternak? Aku hanya menyerap energi mana dari alam, itu sudah membuatku kenyang untuk waktu yang lama.]
"Oke, oke, kita akan mengalahkan mereka, dan kita juga butuh sinkronisasi."
[Well, aku bisa menggandakan Mana jika kau mau. Itu salah satu kekuatanku, untuk yang lainnya masih belum saatnya.]
Naruto merenggangkan tubuhnya, lalu memakai kembali topeng polos tersebut, dia menyeringai di balik topeng itu. "Kita mulai!"
[Boost!]
Grimore itu menyala merah, Naruto merasakan tubuhnya menjadi ringan. Ia semakin melebarkan seringainya, lalu melesat kencang sembari menyiapkan sebuah pukulan.
Dugh! Bumm!
Sebuah kawah tercipta dengan Wyvern yang sudah tak terbentuk lagi, Naruto berdiri di kawah itu dengan wajah terkejut. "Ini akan sangat menyenangkan!"
[Boost!]
Ddraig kembali melipatgandakan mana milik Naruto, pemuda itu langsung menghilang dan mengincar beberapa Wyvern yang tersisa. Ia tak lupa menciptakan sebuah pedang untuk memotong kepala Wyvern tersebut, dan yang terakhir terbang tak jauh dari dia.
Naruto menghentikan pergerakkannya. Ia menciptakan busur beserta anak panahnya, ia mengompres mana miliknya pada anak panah tersebut, lalu menariknya pada busur itu. Pemuda itu melepas anak panahnya, melesat kencang hingga menembus tubuh Wyvern, busur itu menghilang setelah ia menembakkan anak panahnya.
"Ini hebat, terima kasih Ddraig."
[Tak masalah, partner!]
Naruto tersenyum menatap kilauan merah yang keluar dari Grimore miliknya. Ia menemukan itu di dalam kamar asramanya, dia berpikir jika Grimore tersebut milik penghuni sebelumnya, tetapi ia menepis pemikiran tersebut, karena ia menemukannya terjatuh dari langit-langit kamar. Naruto juga terkadang berpikir jika Grimore ini buku penyegel barang disekitarnya, namun semua itu terbantahkan karena Ddraig sang naga Surgawi itu berada di dalam Grimorenya.
"Aku beruntung mempunyai naga sepertimu, Ddraig."
..
.
..
Kembali ke desa, Naruto melaporkan semuanya kepada kepala desa, para hewan ternak mereka dimangsa oleh para Wyvern yang tak jauh dari gua itu. Tapi Naruto tak menceritakan bagian dimana Ddraig masuk ke dalam bukunya, akan sangat rumit baginya jika salah satu Naga terkenal menjadi Partnernya.
"Aku hanya memberikanmu ini anak muda, tak sebanding dengan kerja kerasmu, tapi semoga kau bisa menggunakannya dengan baik."
Naruto menaikkan sebelah alisnya, ia menerima sebuah tulang naga serta sebuah besi berwarna hitam. [Kau bisa menempanya dan membuatnya menjadi sebuah senjata, lagipula aku tak melihat senjata yang bisa kau gunakan.]
"Aku biasanya menggunakan tangan kosong, daripada sebuah senjata. Lebih efisien, tetapi aku bisa menggunakan beberapa jenis senjata, dan semua itu berada di dimensi milikku."
[Bocah, kau tak berhenti membuatku kagum, butuh beberapa tahun sehingga kau bisa membuat sebuah Dimensi milikmu sendiri. Tapi kau, spesial.]
"Kau bisa saja. Aku tak special kok." Naruto menerima kedua benda itu. "Aku terima keduanya, kek. Terima kasih."
"Terima kasih juga telah memebunuh beberapa Wyvern yang mengganggu kami nak, kau masih muda tapi sudah hebat seperti ini."
Naruto menggeleng kecil. "Aku tak terlalu kuat Kek, lagipula masih ada yang lebih kuat daripada aku." Ia pun membungkukkan badannya sedikit. "Aku pamit dulu, sampai bertemu kembali." Lalu pergi meninggalkan para warga yang berkumpul dibelakang Kakek kepala desa itu.
Dibalik topeng polos itu, Naruto tersenyum saat melihat warga desa itu yang terlihat sangat senang setelah dirinya membunuh hama yang meresahkan warga desa. Sungguh, dia sangat senang membantu membunuh para Wyvern tersebut.
..
Di dalam ruang kepala sekolah, berkumpullah beberapa pemegang kursi Ten Miracle, mereka semua memiliki aura yang sangat kuat, lalu dihadapan mereka ada kepala sekolah serta wakilnya.
Semua pemegang kursi itu diperintahkan berkumpul untuk membahas event yang akan datang beberapa bulan lagi. Sebuah event dimana para siswa/siswi Arc Academy akan bertarung satu sama lain, untuk memperebutkan kursi ten Miracle.
Hashirama menghela napas, beberapa dari pemegang kursi itu tak datang, mungkin mereka agak malas untuk membalas hal ini. "Baiklah, kita berkumpul disini untuk membahas event yang di adakan setahun sekali."
Semuanya mengangguk paham, tetapi rapat tersebut diganggu oleh seseorang yang tiba-tiba berada di samping Hashirama. Para pemegang kursi itu terkejut karena seseorang datang tepat di saat mereka sedang melakukan rapat.
"Saya sudah melaksanakan misi, laporannya berada di gulungan ini. Anda bisa membacanya."
Pakaian serba hitam, sebuah topeng polos, beberapa perlengkapan senjata yang berada di pinggang. Para pemegang kursi itu terheran-heran dengan sosok itu, mereka semua penasaran dengan sosok tersebut. Terutama pemegang kursi ketujuh, Uchiha Sasuke. Ia sungguh penasaran dengan sosok tersebut.
"Misimu telah selesai, aku salut kau bisa mengalahkan Wyvern peringkat A itu dengan cepat," puji Hashirama dengan bangga, dia memberikan reward berupa 25 keping koin emas. "Aku akan memanggilmu jika ada misi lain."
"Terima kasih, hamba mohon undur diri."
"Ya, kau boleh pergi."
Sosok itu sedikit membungkuk, kemudian menghilang tanpa jejak. Sasuke dan pemegang kursi terkejut dengan sosok tersebut, siapa pula orang yang berhasil mengalahlan Wyvern tingkat A dengan mudah? Harusnya Kakashi Hatake atau guru berlevel sama dengan Kakashi yang mengalahlan mereka.
"Ini pertama kalinya kalian bertemu dengan sosok itu. Dia biasa kupanggil Kitsune, aku tak akan memberitahukan identitas sebenarnya karena itu sangat dirahasiakan." Hashirama menatap para pemegang kursi dengan tajam, auranya sungguh menakutkan bagi para Murid itu. "Tenang saja, jika kalian tak membocorkannya, aku tak akan menghukum kalian."
"Hashirama, jangan bercanda."
"Maaf-maaf, Madara."
Salah satu dari pemegang Kursi itu berdiri, seorang pemuda yang membawa sebuah Tombak dengan aura suci di dalamnya. "Tapi, apa kami bisa melampaui dia, Hashirama-sama?"
Hashirama mengangkat sebelah alisnya mendengar pertanyaan dari pemuda itu. "Cao-cao, pemegang kursi kedelapan. Jika aku menjawab, kau akan percaya atau tidak?" Cao-cao mengangkat kedua bahunya tak tahu, ia belum mengetahui jawaban yang akan diberikan Hashirama. "Bisa, jika ia tetap berdiri dan tidak bergerak sama sekali, artinya jika ia tak melatih tubuhnya atau mengembangkan sihirnya, dia akan berada di bawah kalian, sebaliknya, jika dia sangat berambisi, bisa saja dia akan sejajar denganku, atau Madara."
"Yang kuketahui, dia jika sedang serius maka kekuatannya akan menyamai Kakashi yang ada di Ranking S. Itu jika dia serius, namun dia masih berada di ranking A." Madara melanjutkan penjelasan dari Hashirama.
Sang Rival mengangguk, "Kalau kalian ada yang bisa melampauinya, maka kursi pertama adalah jaminannya."
Sasuke meremas tangannya, masih ada yang melebihi dirinya. Ia tahu jika murid Academy ini banyak yang kuat, dan mereka bersembunyi tak menampakkan diri mereka, hanya para pemegang Kursi yang terkenal di Academy itu.
"Baiklah, rapat dilanjutkan!"
..
.
..
Kembali berfokus pada Naruto, saat ini pemuda itu berada di dalam kamar asramanya. Ia bereksperimen dengan tulang naga serta batu hitam pekat yang mengeluarkan aura tak mengenakkan. Grimore milik Naruto melayang di dekatnya, seolah penasaran akan apa yang dilakukan Naruto nantinya.
"Aku sudah punya bayangan bagaimana jadinya kedua benda ini bila dicampurkan nantinya, dan dengan sihirku yang lain, mungkin aku bisa membuat senjata."
[Kau bisa menggunakan Crafting kan? Kalau bisa, ubah saja kedua benda ini, serta campur keduanya menjadi benda yang kau inginkan.]
Naruto menaikkan sebelah alisnya, dia kemudian mengalirkan mana miliknya ke kedua tangannya, mencoba untuk menggabungkan kedua benda yang didapatkannya dari misi. Pemuda itu berkonsentrasi, memikirkan benda apa yang akan terbentuk dengan kedua benda tersebut, dirinya membayangkan sebuah senjata dari dunianya.
Naruto terus berkonsentrasi setelah kedua benda padat itu menjadi cairan, keduanya menyatu menjadi sati zat cairan. "Ugh, butuh konsentrasi tinggi kalau begitu."
Helaan napas keluar dari mulutnya, dia memenjamkan matanya seolah sedang bermeditasi, sembari terus membayangkan benda yang akan diciptakannya. Naruto menggerakkan kedua tangannya, membuat cairan itu berubah bentuk, lalu mengeras menjadi sebuah benda tajam.
Kedua benda tajam itu terjatuh setelah Naruto berhasil mengubahnya, ia langsung jatuh terduduk sembari mengambil napasnya banyak-banyak. Dia melihat hasil karya miliknya, dua buah senjata dengan warna hitam serta aura yang menakutkan. Tetapi aura tersebut langsung menghilang dalam sekejap.
Naruto pun menciptakan sebuah perban untuk melapisi bagian gagang dari kedua senjata itu. "Katana dan Wakizashi, akhirnya aku punya senjata original sendiri." Dia mengangkat kedua benda tersebut, pemuda itu tersenyum menatap kedua senjata miliknya, dia sungguh senang saat ini. "Ddraig, apa kau pernah memberikan sebuah aura ke dalam benda?"
[Sepertinya pernah, aku tak ingat akan hal itu. Tapi kedua senjatamu itu bisa kumasuki auraku, serta menambahkan daya bagi kedua benda ini.]
Naruto seolah tak mendengarkan penjelasan dari Ddraig, ia malah mengayunkan katana miliknya ke depan, seolah diterpa angin, vas bunga yang menjadi pajangan di kamar Naruto terbelah dengan halus. Membuat kedua mahkluk itu terkejut. "Kau mengirimkan auramu?"
[Tidak. Kau?]
"Tidak." Naruto langsung membuka Grimorenya, membiarkan buku itu melayang. "Seal!" setelah mengucapkan itu, kedua senjata tersebut masuk ke dalam Grimore tersebut. "Aku akan menyimpannya, jika sudah waktunya akan kugunakan."
Naruto pun duduk di atas kasurnya sembari memeluk kedua lututnya. [Kenapa kau malah seperti orang Depresi!?]
"Aku sedang memikirkan sesuatu, diamlah!"
..
Keesokan paginya.
[Sudah berapa jam? 9 jam penuh Naruto.]
"Sudah diputuskan!"
[Apa?]
"Aku tak akan ikut kelas hari ini. Aku mengantuk."
[...jadi ini alasanmu bergadang? Bocah bodoh.]
"Diam Naga busuk! Aku mencoba untuk memenjamkan mataku!"
[Lalu kau akan meninggalkan pelajaran!? Bangun kau sialan!]
"Demi celana dalam Ratu Kerajaan Archiman, diamlah Ddraig!"
...
..
.
To Be Continue!
...
..
.
Chapter kedua sudah rilis, terima kasih sudah mereview Fanfict saya, dan maafkan saya yang newbie ini jika ada kesalahan.
...
Btw, ten miracle ada di TWO?
Keterangan lain:
Salah satu murid itu sudah diperkenalkan lagi,
- Kursi pertama: -
- Kursi kedua: ...
- Kursi ketiga: ...
- Kursi keempat: ...
- Kursi kelima: ...
- Kursi keenam: ...
- Kursi ketujuh: Sasuke Uchiha.
- Kursi kedelapan: Cao Cao
- Kursi kesembilan: ...
- Kursi kesepuluh: ...
Well, saya sangat sangat berterima kasih.
Oke bye!
