Naruto mengusap kedua matanya, ia menguap sembari merenggangkan otot tubuhnya, semalam adalah hal yang paling menyenangkan baginya. Dia tersenyum sebelum akhrinya menatap Vira yang masih memenjamkan matanya. Naruto tahu kalau Vira masih kelelahan akibat misi serta kejadian semalam, jadi ia tak mau membangunkan Vira.
Pemuda pirang itu beranjak dari tempatnya tidur, dia pergi ke kamar mandi yang menyatu dengan kamar asramanya. Sebenarnya, kamar Asrama milik Naruto dan Vira itu letakkan jauh dari Asrama putra dan Asrama putri. Naruto berinisiatif untuk membuat sebuah asrama campuran, di sana ada beberapa kamar untuk beberapa orang saja.
Termasuk Anggota Khaos Brigade.
Beberapa saat Naruto berada di kamar mandi, pintu itu terbuka menampilkan Vira yang menguap lebar, gadis itu berjalan menuju wastafel untuk membasuh wajahnya.
"Pagi Naruto."
"..."
Kedua ruby itu langsung terbuka lebar, ia melihat Naruto yang tengah telanjang bulat, air shower mengucur membasahi tubuh atletis pemuda itu. Wajah Vira merona seketika saat melihat kucuran air yang melewati tubuh atletis Naruto.
"Vira, hidungmu berdarah."
"Ah, eh, ada apa!? K-kok bisa!?"
Naruto menyipitkan kedua matanya, ia melihat Vira yang mulai panik dengan hidungnya, pemuda itu berjalan mendekati Vira. Ia mengusap darah yang keluar dari hidung gadis itu.
"Nah, sudah hilang."
"..."
"Ada apa?"
"Kau tak memakai pakaian," gumam Vira, ia kemudian menutup wajahnya menggunakan tangan putihnya. Vira berlari keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sangat merah, tak seperti Naruto. Ia malah tersenyum menatap kelakuan dari kekasihnya itu.
...
..
.
Naruto dan Highschool DxD bukan milik saya.
Warning: OOC, AU, typo, Isekai.
Pairing: Naruto x Vira
..
.
Magi x Fist
..
Chapter 5: Turnamen.
Enjoy it!
Naruto menghela napas untuk kesekian kalinya, ia saat ini dijauhi oleh Vira. Entah kenapa, gadis itu menjauhinya setelah keduanya keluar dari asrama, diperjalanan mmenuju Academy pun Vira tak mau mendekati Naruto. "Vira." Naruto kembali memanggil nama gadis itu, saat ini ia menghentikan langkahnya menuju Academy. Kedua Iris biru itu menatap Vira yang juga menghentikan langkahnya.
"A-apa?!"
"Aku tak mengerti, tapi kemarilah!" Vira menggeleng kuat, ia tak mau mendekati Naruto. Tetapi pemuda itu tak kehilangan akal, ia melesat cepat menuju Vira. "Hey, kenapa kau menundukkan kepala? Wajahmu juga memerah? Apa kau sakit?" tanya Naruto bertubi-tubi. Sebenarnya, ia tahu reaksi dari Vira setelah melihatnya mandi. Jadi Vira tak mau mendekatinya karena ia merasa malu saat itu.
"..."
Vira tak menjawab, ia berusaha pergi dari hadapan Naruto. Namun, Naruto menghentikan pergerakan Vira, tangan pemuda itu menyentuh pipi Vira dengan lembut, membuat sebuah sensasi hangat di pipi Vira, ia sangat menikmati sentuhan yang diberikan Naruto saat ini.
"Aku tahu kau sedang malu, tapi jangan menjauhiku seperti ini."
Vira sedikit tersentak, sensasi hangat itu mulai menghilang. Kedua Ruby Vira menatap Naruto yang saat ini tengah menatap lembut dirinya. "Maafkan aku."
Naruto masih tersenyum menatap Vira, tangan lebarnya itu mengusap kepala pirang milik gadis itu. Dia lalu membungkukkan badannya, untuk mengecup lembut bibir plum Vira. "Kenapa harus minta maaf begitu? Bilanglah kalau kau masih malu," ujarnya pada Vira, pemuda itu kemudian menarik tangan Vira untuk kembali melangkah menuju kelas.
Wajah Vira merona, ia tak habis pikir. Bagaimana caranya Naruto untuk menaklukan dirinya yang anti terhadap lelaki? Bahkan pernah sekali ia melukai seorang lelaki karena ingin mendekati dirinya. Tapi ia masa bodoh dengan itu, hal paling penting baginya adalah Naruto menjadi kekasih bagi dirinya, dan ia ingin dilamar oleh lelaki pirang itu setelah ini.
Di dalam kelas, Naruto dan Vira menatap para murid lain yang sedang berkerumun di papan tulis. Pelajaran saat ini sedang diliburkan, tapi murid masih bisa ke kelas hanya untuk berkumpul atau sekedar diskusi, Vira dan Naruto menggangguk kecil, mereka berdua berjalan ke papan tulis yang ditempeli sebuah kertas.
[Diberitahukan, Naruto Uzumaki dan Vira Lilie akan di ikut sertakan pada Turnamen Ten Miracle.]
Naruto mengerutkan dahinya, apa ini tak berlebihan? Dirinya di ikut sertakan pada Turnamen? Vira juga!? "Ini tak adil!" Naruto berujar kesal. "Aku yang seorang Healer disuruh ikut serta ke Turnamen kursi bodoh itu!"
Vira tahu kalau Naruto sedang berpura-pura kesal.
"Lagipula aku tak punya kemampuan lain selain menjadi penyembuh."
Para murid lain menyetujui perkataan Naruto barusan, mereka sangat heran karena para guru memasukkan Naruto Uzumaki ke dalam daftar para Murid yang bertanding di Turnamen.
"Oke cukup!" seorang pria dengan luka melintang di wajahnya masuk ke dalam kelas. "untuk Uzumaki Naruto, kami para guru memang bersepakat dengan kau yang kami masukkan ke dalam peserta, itu juga usulan dari salah satu pemegang kursi, mereka juga memiliki wewenang untuk mendaftarkan seseorang tanpa persetujuan orang tersebut."
Naruto terdiam, batinnya mengutuk siapa saja yang mendaftarkan dirinya serta Vira ke dalam Turnamen, dia lalu menatap Vira yang saat ini tengah menggigit kuku jarinya disertai dengan sebuah senyuman yang tak biasa. Naruto menghela napas melihat sikap Vira itu, ia tahu jika gadisnya itu seorang maniak bertarung.
Pemuda itu menghela napas, lalu pergi meninggalkan kerumunan tersebut, ia berencana untuk menemui kepala sekolah. "Naru!" Vira berlari mengejar Naruto, gadis itu agak khawatir karena si pirang jabrik itu seolah tak mau ikut.
"Ada apa?"
"Kau mau ke kepala sekolah?"
Naruto mengangguk kecil, ia memang berencana menemui Hashirama untuk membicarakan tentang dirinya yang diikut sertakan dalam Turnamen. Dirinya tak mau mengikuti Turnamen itu karena memang ia tak mau bertarung dengan yang lain, ia tak menginginkan sebuah pengakuan.
Yang penting baginya, ia melakukan misi dan mendapatkan uang.
"Ya, ini membuatku kesal. Aku tak ingin mengikuti turnamen tersebut," ujar Naruto, ia melanjutkan langkah kakinya menuju ruang kepala sekolah, Vira sendiri mengikutinya dari belakang.
Sesampainya di ruang kepala sekolah, Naruto langsung masuk nyelonong ke dalam ruangan tersebut, ia melihat sosok yang dikenalnya sedang berdiri dengan kedua tangannya dilipat didepan dada. Sosok pemuda berambut merah panjang dengan aura yang tegas.
"Sirzech?"
Sirzech melihat Naruto yang baru saja masuk ke ruangan tersebut. "Kau datang ternyata." Sirzech tersenyum pada Naruto, ia melihat kawannya itu datang dengan wajah kesal. "Kau pasti terkejut dengan namamu di kertas pengumuman? Aku juga terkejut, Naruto." Naruto menaikkan sebelah alisnya, Sirzech tak mengetahuinya? Bagaimana bisa? Dia pemimpin serta kursi pertama Ten Miracle, kan? "Aku tak ada saat rapat berlangsung, mereka rapat tanpa aku. Jadi kita cukup terkejut dengan apa yang ada di kertas tersebut."
"Mereka seenak jidat memasukkan aku ke dalam Turnamen. Hashirama-sama!"
"Tidak Naruto, aku tak bisa menolak usulan dari Ten Miracle. Mereka menginginkanmu ikut ke dalam Turnamen tersebut."
Naruto mendecih tak suka, ia tak menyangka jika dirinya akan dijebak seperti ini. "Lalu siapa saja yang akan ikut dari kelompok kita?"
"Kau, Vira, aku, dan Sairaorg. Sisanya masih bersembunyi menunggu aba-aba dari kau untuk menunjukkan jati diri."
Naruto terduduk di atas lantai, ia menghela napas lelah setelah tahu bahwa Sirzech serta Sairaorg ikut berpatisipasi. "Vira, sepertinya kita akan kembali ke asrama." Vira menatap Naruto sendu, ia sedikit kasihan dengan kekasihnya itu.
"Ya, kita ke asrama sebentar lagi."
...
..
...
Beberapa minggu berlalu, event tahunan dimana para Murid bertarung memperebutkan sebuah kursi dimana mereka bisa menguasai ataupun memerintah murid lain sesuka hati. Para murid itu akan dipilih 10 orang oleh para pemegang kursi untuk bertarung melawan mereka, jika sang murid yang keluar menjadi pemenang, maka kursi itu akan menjadi miliknya. Tetapi jika sang pemegang kursi yang menang, maka Murid itu harus menuruti beberapa permintaan dari pemegang Kursi.
[Pertandingan kali ini akan segera dimulai, sepuluh murid dipilih oleh pemegang kursi untuk bertarung melawan mereka. Kesepuluh kursi itu telah memilih para petarung dari murid lainnya.]
Suara sorak sorai menggema di stadion tersebut. Sosok guru bermasker tengah membacakan pidato awalnya untuk membuka turnamen tersebut. Sementara itu, Naruto menatap tajam dari ruang ganti para murid. Dirinya tak tahu siapa yang akan dihadapinya nanti, dan turnamen ini cukup membuatnya repot.
Dia ingin menyerah karena memang dia tak mau menunjukkan apapun pada khalayak umum, di sisi lain, jika ia kalah maka dia harus menuruti semua permintaan dari pemenang. Jadi, dia harus menang. Terpaksa mengeluarkan kekuatannya untuk membungkam para pemegang kursi sombong itu.
Kecuali Sirzech tentunya.
Naruto menatao para murid lainnya yang mengikuti turnamen ini, di sana ada Sairaorg yang tengah duduk dengan kedua kakinya bergetar. Naruto tahu kalau dia sedang berpura-pura takut sebelum pertandingan dimulai.
[Pertandingan pertama: Vira Lilie!]
Semua bersorak, Vira pun mendongak melihat para murid lain yang tengah menonton. Ia membuang napas lelah setelah tahu bahwa dirinya dipanggil untuk bertarung. "Naruto."
"Vira, semoga kau berhasil!" Pemuda itu memeluk tubuh Vira dengan lembut, ia memberikan sebuah semangat pada gadis itu. "Jangan lupa, tolak kursi itu jika kau menang."
"Pasti."
Sebuah suara siulan menggema di ruang ganti itu, Sairaorg telah berdiri dan berjalan mendekati Naruto serta Vira. "Yah, aku sudah menduga jika kalian sepasang kekasih, selamat berjuang Vira!"
"Terima kasih dukunganmu, Sairaorg."
Vira melepas pelukannya kepada Naruto, ia berbalik dan berjalan keluar stadion.
[Dan lawannya adalah, Uchiha Sasuke.]
"Shit, si manja Uchiha."
"Kau benar, dia cowok manja."
"Vira harus menang kali ini. Jika tidak, Si Uchiha itu akan meminta Vira untuk menjadi tunangannya."
..
.
..
Di depan Vira terlihat sosok Sasuke dengan wajah arogan miliknya, kedua ruby itu menatap dingin pemuda yang setahun lalu memaksanya untuk menjadi tunangan dia. Lalu sekarang ia bertemu dengan sosok paling dibencinya itu.
"Jadi Uchiha-sama menantangku untuk bertarung? Apa alasan anda menantang saya? Atau jangan-jangan Anda ingin melamar saya kembali seperti saat itu?"
Sasuke tertawa keras mendengarnya. Dia sudah menebak jika Vira tau akan tujuannya. "Yah, kau tahu. Aku sangat menyukai tubuh indah milikmu itu," balas Sasuke.
Vira memasang wajah jijik kepada Sasuke. "Lebih baik simpan permintaanmu itu, karena aku akan mengalahkannya sekarang juga, Uchiha Sasuke." Kedua Ruby itu menajam setelah ia mengeluarkan pedangnya, kali ini Vira akan serius melawan Bangsawan Uchiha itu.
"Mari, rayakan kekalahanmu sekarang juga, Vira Lilie!"
[Mulai!]
Sasuke melesat untuk menyerang Vira menggunakan pedang di pinggangnya. Setahunya, Vira adalah Knight lemah yang berada di rank E. Tetapi aura yang dipancarkan gadis itu seolah ia berada di rank A. Pemuda itu juga menggunakan Sharinggan untuk membaca gerakan Vira. "Terimalah."
Dum!
Vira menahan serangan yang diberikan Sasuke padanya, dia menggunakan pedang merah miliknya untuk memblok serangan tersebut, dua ruby Vira menatap tajam Sharinggan milik Sasuke. Sungguh, saat ini ia tengah marah besar pada pemuda didepannya.
Gadis itu pun langsung menendang perut Sasuke, membuat pemuda itu terdorong beberapa langkah kebelakang, Vira melompat tinggi, pedang merahnya mulai mengeluarkan sinarnya.
[Frantict Thrust!]
Pedang merah raksasa muncul dari ketiadaan, melesat untuk menerjang Sasuke. Beruntung ia memilik Sharinggan, pemuda itu menghindarinya dengan mudah. Vira saat ini berdiri tegap, genggamannya terhadap pedang merah itu sangat kuat. "Aku benar-benar ingin...membunuhmu, Sasuke Uchiha!" Senyuman kejam terpampang manis di wajah cantik Vira, tubuh gadis itu melayang, beberapa benda melayang mulai mengitari tubuhnya. Primal Bits miliknya berkumpul.
Gadis itu melesat kencang bersama dengan Primal Bits. Laser-laser ditembakkan melalui Primal Bits untuk mengecoh Sasuke, sementara Vira berada di dekat Sasuke.
Ia melukai beberapa bagian tubuh Sasuke, memberikan luka sayatan di pipi, badannya serta kakinya. Kecepatan Vira tak bisa diprediksi oleh Sharinggannya. "Keh!"
Sasuke terjatuh berlutut, sementara Vira berada di belakangnya dengan sebuah seringai kejam miliknya. "Bagaimana? Kau puas? Kau puas dilukai oleh orang yang kau sukai?! Kau puas!?" Vira tertawa menatap Sasuke yang saat ini tengah meringis merasakan lukanya. Dirinya tak tahu jika Vira akan secepat ini.
"Kau bercanda kan? Kukira kau lemah, ternyata kau menyembunyikan semuanya. Hasratku untuk mendapatkanmu semakin besar." Sasuke memenjamkan matanya, lalu membuka kedua iris merah yang sudah berubah pola. [Illusion!]
Deg!
Kedua mata Vira membulat sempurna, saat ia melihat pola mata Sasuke yang berbeda. Tetapi, ilusi Sasuke tak bertahan lama. Primal Bits milik Vira melindunginya dari Ilusi itu. "Chevalier..." Gumamnya memanggil Primal Bits itu, Primal Beast itu mendekati pipi Vira seolah ia tengah mencium pipi Vira. "... Terima kasih."
Vira menghela napas, Primal Beast itu segera bergerak lagi. Tubuh Vira kembali melayang untuk kesekian kalinya. Armor ditubuhnya mulai berubah, cahaya menyinari sekitar tubuh Vira. Pedang yang dibawanya pun berubah menjadi kapak biru raksasa yang digunakannya untuk melawan Sandalphon.
Vira menatap tajam Sasuke yang saat ini tengah terkejut, ia merasakan bahaya berada tepat didepannya. "Kau... Berubah!?"
Tatapan Vira sangat datar saat Sasuke terkejut, dirinya tak menyangka jika gadis lemah itu berubah menjadi sosok yang berbahaya. "Aku berubah atau tidak, itu bukan urusanmu. Lagipula ini akan berakhir sebentar lagi." Wajah Vira mengeras menatap Sasuke. "Aku ingin sekali menendang bokongmu! Membuatmu tak bisa berjalan, atau membuatmu lumpuh. Aku muak dengan wajah Bangsawanmu itu, Uchiha!"
[Terima ini! Blade of Light!]
Teriakan Vira menggema di stadion itu.
..
.
To Be Continue
.
..
Iya, ini saya bagi dua bagian. Biar saya bisa memikirkan adegan pertarungan di chapter depan. Mohon maaf jika ada kesalahan, dan ada beberapa Flashback antara mereka berdua.
Untuk fict ini, tak ada Arc, jadi akan menjadi Fict Isekai biasa. Tanpa Arc. Saya sendiri punya rencana membawa Fict ini hingga chapter belasan saja. Yah, setidaknya begitu rencananya.
Oke bye!
