"Kudeta? Hm, menarik, aku memang sangat curiga dengan gerak-gerik mereka saat lewat disekitarku. Nampaknya mereka memang merencanakan sesuatu. Tapi aku tak boleh mengetahuinya."

"Memang begitu sih," balas Naruto, ia kemudian meminum teh yang telah disediakan di meja ruangan tersebut. "Apa Madara-sama tak ikut Kudeta itu?"

Sebuah pertanyaan yang menggelitik telinga Madara, ia juga menyesap teh hangat miliknya. "Kau tahu, aku tak menginginkan jabatan apapun, seperti menjadi Raja ataupun yang lainnya. Menjadi guru ataupun Wakil Kepala sekolah seperti ini saja sudah membuatku senang. Orang-orang yang haus akan kekuasaan akan jatuh ke dalam kegelapan yang tak terbatas. Di dunia ini, konflik tak akan pernah berhenti, di dalam ataupun luar kerajaan."

"..."

"Ngomong-ngomong, hubungi kedua orang tuamu. Mereka akan sangat dibutuhkan disini nantinya."

Naruto mengangguk, lalu menghabiskan tehnya. "Baiklah, saya mohon undur diri dulu—"

"Kau belum meminta rewardmu setelah kemenangmu."

"Itu nanti saja, saya mau pergi mengirim pesan pada orang tuaku. Sampai nanti Madara-sama."

Madara tersenyum kecil melihat pemuda pirang itu, ia kemudian menatap langit-langit ruangan tersebut dengan kedua mata kelam miliknya. "Konflik akan berlangsung setelah ini."

..

.

Naruto dan Highschool DxD bukan milik saya.

Warning: OOC, Isekai, Typo, AU, dan lainnya.

Pairing: Naruto x Vira.

..

.

Magic x Fist

..

.

Chapter 8: Penyelidikan.

Enjoy it!

Vira berjalan menyusuri lorong Academy, dia memikirkan tentang identitasnya yang sebenarnya. Ia agak takut jika kembali ke Istana dan mengakui kalau dirinya putri kedua Raja Archiman, dia akan meninggalkan Naruto sendirian atau yang paling mengerikan adalah, ia harus memutuskan tali pertunangannya bersama Naruto.

Dia tak mau itu terjadi, tak akan mau. Dia sungguh mencintai pemuda yang mempunyai rambut pirang sama sepertinya, dia adalah segalanya bagi Vira. Orang yang sangat special baginya, Vira tak mau meninggalkan Naruto.

"Vira Lilie."

Langkah kaki Vira terhenti saat ada sosok pemuda dengan rambut raven, kedua mata Ruby miliknya menajam melihat sosok yang sangat ia benci sedari awal. Pemuda itu tak pernah kapok saat mendekatinya. "Apa maumu Uchiha?" Vira mundur sampai punggungnya menabrak dinding dibelakangnya.

Sasuke mencubit dagu Vira, mengangkatnya supaya ia bisa melihat wajah cantik nan anggun dari gadis itu. "Aku hanya ingin melihat sosok yang membuatku terpana. Sayangnya, kau milik si bodoh itu. Tapi setelah ini kau akan menjadi milikku."

[Chevalier!]

Beberapa Primal Bits milik Vira langsung menyerang Sasuke, membuat pemuda itu mundur beberapa langkah untuk menghindari serangan yang sama saat turnamen. "Kau sungguh menjijikkan tuan Uchiha. Aku tak tahu apa yang di ajarkan Ayahmu selaku pemimpin Clan pada anak bungsunya hingga seperti ini."

"..."

"Dan enyahlah dari hadapanku Uchiha, kau tak mau jika Naruto datang dan melenyapkanmu saat itu juga? Naruto bisa melenyapkan anggota Clanmu jika ia sangat serius." Vira berujar dingin pada Sasuke, perkataannya itu sangat serius serta tak mengada-ngada.

Sasuke mendecih kesal, ia kemudian pergi dari hadapan Vira yang saat ini sangat marah padanya. Padahal perempuan lain akan langsung terpesona pada kharismanya, kecuali Vira dan beberapa wanita yang lain.

Karena memang rencana Sasuke adalah menjadi seorang Keluarga Kerajaan, lalu ia dan Ayahnya akan mendapatkan apa yang di inginkannya. "Kukira lemah, tetapi dia kuat. Sial!"

Vira menatap punggung Sasuke yang menjauh dari dirinya, kedua matanya menggelap menatap kepergian Uchiha itu. Entah apa yang ada dipikiran Sasuke hingga pemuda itu berani menunjukkan batang hidungnya, padahal ia kalah oleh Vira saat turnamen, tapi...

"Aku benar-benar ingin membunuhnya." Kedua mata Vira berkilat marah, ia sungguh ingin menebas kepala Sasuke saat ini juga, tetapi ia tahu jika membunuh seseorang itu dilarang oleh Academy. Vira melepas gagang pedang miliknya, ia menghela napas untuk membuang semua amarahnya.

Gadis itu berbalik, dan berjalan pergi dari tempat ia berdiri, perasaannya masih kesal terhadap Sasuke.

..

.

..

Di sisi lain, Ajuka menyandarkan punggungnya di sebuah dinding, bersebelahan dengan sebuah restoran. Ia sedang menunggu seseorang yang akan datang sebentar lagi.

"Maaf membuatmu menunggu."

Kedua iris berwarna biru itu terbuka, ia menatap seseorang yang baru saja datang. "Shisui Uchiha, tak apa. Aku baru saja datang." Bohong jika Ajuka baru saja datang, ia sedikit kesal dengan keterlambatan Shisui. "Jadi apa yang sudah kau kumpulkan?"

Shisui memberikan sebuah perkamen berisi sebuah informasi. "Semuanya ada di dalam perkamen itu. Kau bisa membacanya."

Ajuka membuka perkamen tersebut, ia membaca semua isi dari Perkamen. Helaan napas keluar dari mulutnya, ia lalu menatap Shisui. "Kau benar-benar hebat saat mengintai seseorang. Info yang kau berikan sama dengan informasi dari Naruto dan Itachi, sepertinya kita akan menghadapi sebuah pemberontakan."

"Kudeta dari Bangsawan Uchiha. Sepertinya, Clanku tak puas dengan kebijakan dari Raja Archiman ketiga." Shisui tertawa kecil saat dia membicarakan tentang Clannya. "Tapi jangan khawatir, aku dan Itachi loyal terhadap kerajaan."

"Aku tahu akan kau yang sangat loyal pada kerajaan." Ajuka berbalik, ia menatap ujung gang yang dilewati orang-orang. "Tapi kalian harus menyiapkan pasukan untuk mengantisipasi hal yang tak di inginkan." Wajah Ajuka mengeras menatap para warga.

Shisui tahu nada bicara Ajuka sudah mulai serius, ia menggaruk tengkuknya. "Baiklah, jangan khawatir, Raja sudah bersiap akan hal ini. Ini juga masih di rahasiakan dari semua penjabat kerajaan, termasuk para pemimpin Clan."

"Shisui..."

"Ada apa Ajuka?"

Ajuka kembali berbalik, kedua mata birunya itu seolah menyala, ia menatap tajam Shisui. "Kau benar-benar Loyal terhadap Kerajaan?"

Shisui membuang napasnya kuat-kuat, ia memasang wajah serius pada Ajuka. "Aku bersumpah atas namaku sendiri, aku akan Loyal terhadap kerajaan!"

..

..

Di sebuah ruangan yang lumayan luas, Sirzech, Sairaorg, Serafall serta Naruto sedang berkumpul di sana. Tempat itu berada di asrama khusus untuk mereka. Keempat orang itu memasang wajah serius sesaat setelah mendengar beberapa penjelasan dari Naruto.

"Sepertinya Sasuke memang berencana untuk merebut Vira darimu, karena statusnya yang menjadi Putri kedua Raja Archiman. Si bodoh itu, tak kapok dengan kekalahan yang diperolehnya saat Turnamen." Sirzech terlihat memijit pangkal hidungnya, dia pusing akan anggota Ten Miracle yang menjadi bawahannya. "Dan setelah mendengar semua dari Naruto, aku ingin dia dipenjara."

"Tenanglah Sepupu, nanti dia akan mendapat ganjarannya kok. Aku yakin itu." Sairaorg mencoba menenangkan sepupunya itu. "Aku mendengar, beberapa anggota dari Ten Miracle dibujuk rayu oleh Sasuke Uchiha."

"Aku baru mendengarnya sekarang Sairaorg."

Naruto sedikit menguap bosan. "Aku benar-benar tak mengerti jalan pikirannya. Tapi yang jelas, beberapa Clan kecil yang mendukung Uchiha pun ikut serta, aku dan Itachi sudah menyelidikinya kemarin." Dia pun merilekskan badannya di kursi yang ia duduki. "Aku penasaran, Raja akan memberikan hukuman apa nantinya pada mereka?"

Serafall tertawa kecil mendengarnya. "Mereka pastinya akan langsung dijatuhi hukuman mati, karena memberontak pada kerajaan." Serafall menyanggah dagunya menggunakan telapak tangannya, ia terlihat bosan akan rapat mendadak ini. "Jadi apa ada informasi?"

"Ajuka memberikan sebuah info bahwa Shisui akan mengawasi gerak-gerik para Uchiha." Naruto memberikan sebuah kertas yang berisi daftar para pemberontak yang akan mengkudeta Kerajaan. "Beberapa dari mereka ada yang dari pejabat kerajaan."

Ketiga orang itu mengamati kertas yang diberikan Naruto dengan seksama. "Bangsawan kecil yang dimanjakan oleh Uchiha. Tidak mengherankan jika mereka ikut serta dalam Kudeta." Serafall berujar, ia terus membaca kertas tersebut hingga kata terakhir di sana. "Jadi yang kita lakukan sekarang?" tanya Serafall pada Naruto.

"Menyiapkan sebuah rencana." Naruto menyeringai sesaat, dia kemudian beranjak dari tempat tersebut. "Aku akan pergi sebentar, nanti akan kukabari rencananya." Dia pun menghilang dari hadapan ketiga temannya itu, meninggalkan seberkas debu yang terongok di atas lantai.

"Dia sudah kabur."

Sirzech menepuk dahinya, sementara Sairaorg tertawa keras.

..

.

Terlihat dua orang pria dan wanita dengan armor yang menutupi kedua tubuh mereka berjalan masuk ke dalam kerajaan Archiman. Keduanya tersenyum saat melihat orang berlalu lalang melintasi jalanan kerajaan.

"Sudah lama sekali."

"Kau benar."

Keduanya seolah bernostalgia saat melihat bangunan kerajaan yang mungkin saja berubah setelah mereka berdua pergi dari kerajaan.

"Setelah sekian lama, kita dipanggil lagi untuk menghadap."

"Kau benar."

Wanita itu mengerutkan dahinya, ia menatap pria yang berjalan bersama dirinya itu. "Kau tak ada jawaban lain?"

"Kenapa Kushina? Aku tak menemukan jawaban lainnya di otakku."

Wanita yang dipanggil Kushina menyipitkan kedua matanya menatap sosok pria pirang di sampingnya. "Kau payah Minato." Ia pun pergi dari hadapan Minato, berjalan menuju kastil kerajaan.

"Hey Kushina!" Minato juga mengikuti Istrinya pergi ke kastil.

...

..

.

TBC

AH, maafkan saya, ini lebih pendek dari kemarin. Yah, karena saya sendiri akan memikirkan chapter 9 besok, mungkin bakal dimulai, beberapa chara baru akan muncul.

Ofc, dari Granblue Fantasy.

Dan ini akan saya buat 12 Chapter. So, Kurang 4 chapter lagi.

Bye!