;;Naruto by Masashi Kishimoto;;

;;Highschool DxD by Ichiei Ishibumi;;

;;Granblue Fantasy by Cygames/Kimura Yuito;;

Magic x Fist

Warning: OOC, AR, Typo, Isekai, etc

Pairing: Naruto x Vira

..

.

Chapter 10: Kudeta dan Identitas Naruto bagian kedua.

Enjoy it!

Untuk kedua kalinya, Vira harus dihadapkan dengan sosok pemuda berambut raven model pantat bebek. Kedua mata ruby itu menatap bosan pemuda yang tengah berjalan ke arah dirinya. Dia sudah sangat muak dengan kehadiran pemuda itu, Vira benar-benar ingin membunuhnya. "Jadi kau ingin menghadapiku lagi? Ronde kedua?"

Blarr! Blarr! Blarr!

Beberapa ledakan muncul, Sasuke sedikit terkejut dengan ledakan itu. Tapi ia bisa menutupinya dengan ketenangan yang ia punya, kedua mata hitamnya menatap tajam Vira yang masih berdiri seolah tak terjadi apapun. Sasuke sedikit terheran dengan sifat dari putri kedua Raja Archiman itu.

"Sayang sekali, bukan aku yang akan menjadi lawanmu Sasuke Uchiha." Vira langsung melompat tinggi meninggalkan Sasuke yang terlihat melongo. "Selamat tinggal bocah!" Vira menghilang meninggalkan Sasuke.

"Bocah Uchiha yang manja serta arogan."

Sebuah suara mengintrupsi Sasuke, dia menatap sosok yang memanggil dirinya Bocah Uchiha. Kedua matanya membola sempurna saat dia bisa melihat seorang pemuda berambut pirang jabrik, tubuhnya sudah dilapisi armor yang sangat dikenalnya. "Ja-jangan bilang kalau kau—?!"

"Aku pemilik gelar Si Kilat Kuning Kedua." Pemuda itu melangkah maju, grimore yang dibawanya terlihat melayang di atas tangannya. "Naruto Namikaze, anak dari Minato Namikaze serta Kushina Namikaze. Salah satu dari kelima Ksatria Naga, dan tunangan dari Putri Kedua Raja Archiman."

Wajah Sasuke mengeras mendengar deklarasi yang dikemukakan oleh Naruto. "Jangan berbicara omong kosong, Healer pecundang!"

Naruto menyeringai kecil, dia langsung melesat, lalu telapak tangannya menyentuh bagian perut Sasuke, dengan sekali tarikan napas, Naruto mendorong tubuh Sasuke hanya dengan telapak tangannya. Pemuda Uchiha itu terdorong beberapa langkah dari tempatnya berdiri, dia sedikit shock saat merasakan sebuah dorongan dari telapak tangan Naruto.

"Kau ingin melawanku 'kan? Serta merebut Vira dari tanganku?" Naruto membuat sebuah kuda-kuda yang terlihat biasa (Read: Bajiguan/Li Shuwen). "Jika kau ingin merebutnya, lawan aku!"

Sasuke menggertakkan giginya, dia sungguh kesal saat Naruto dengan entengnya menantang dirinya yang seorang bangsawan. Tetapi, jika di tilik lebih lanjut, Naruto tak jauh berbeda daripada dirinya, kedua orang tuanya adalah orang yang berpengaruh di kerajaan Archiman. Siapa yang tak mengenal keluarga Namikaze?

Sebuah keluarga yang dibuat oleh Minato Namikaze, di sahkan oleh Raja ketiga, serta memiliki sebuah wilayah tersendiri untuk keluarga tersebut.

Sasuke pun menembakan beberapa bola api pada Naruto, pemuda itu tak bisa berpikir jernih saat ini, Uchiha jenius itu sudah jatuh ke dalam emosinya jauh dibawah sana, dia tak bisa mengontrol emosinya setelah melihat Vira yang digantikan oleh Naruto. Dirinya sungguh muak akan wajah dari pemuda pirang tersebut.

"Hey, apa hanya itu saja? Mana harga diri yang kau junjung tinggi? Kau adalah pewaris Uchiha, kemana sikap arogan yang kau tunjukkan pada Healer lemah sepertiku?" Naruto kembali memprovokasi Sasuke, dia masih tetap memakai Kuda-kudanya tadi. "Kalau tidak, aku akan menyerang terlebih dahulu."

Sasuke terus menatap tajam Naruto, dia sepertinya harus menggunakan kedua tangan dan kakinya untuk menyerang Naruto. Pemuda itu melesat berlari menuju Naruto sembari menyiapkan tinju miliknya.

Tap! Tap!

Naruto dengan mudah memblok beberapa serangan yang di arahkan padanya, ia lalu mendorong blokirannya, dan menyerang balik Sasuke dengan cara menendang perut pemuda itu. Tak sampai disitu, di saat tubuh Sasuke melayang, Naruto menarik kaki Sasuke, lalu membantingnya kebelakang tubuhnya. Naruto melompat mundur, dan menyiapkan kembali kuda-kuda miliknya.

Sasuke mencoba untuk berdiri, dia menyeka darah yang keluar dari mulutnya. "Sialan kau Namikaze!" kedua mata Sasuke berubah menjadi merah darah dengan tiga buah Tomoe di sana, lalu kembali berubah. "Mangekyou Sharingan!" Sasuke benar-benar muak saat ini. Aura berwarna ungu keluar dari sekitar tubuhnya, kedua tangannya diremas kuat hingga mengeluarkan darah.

"Susano'o!"

Sosok Astral keluar dari tubuh Sasuke, dan masih berbentuk setengah badan. Naruto sendiri mengubah sikap bertarungnya, kali ini kuda-kuda yang dipakainya lebih kuat dari sebelumnya. Kedua kaki Naruto bergerak, melesat menuju Sasuke, mana miliknya mengalir tepat di tangannya.

Bam!

Naruto memukul wujud setengah badan dari Susano'o milik Sasuke, tak ada retakan di sana, dan itu membuat Sasuke tersenyum arogan.

[Tak seperti kau melawan Hakuryuukou, ini lebih kuat daripada armor milik putih.]

"Kau benar, apa aku harus menggunakan yang lain? Ada saran?"

[One inch-punch? Siapa tahu bisa?]

"Itu jurus pemungkas."

Ddraig tertawa keras mendengar balasan dari Naruto. Pemuda itu melompat mundur, dia menghindari serangan balasan yang dilancarkan Sasuke, tubuhnya bergerak lincah saat pedang dari astral milik Sasuke mulai berayun untuk menyerang dirinya.

"Jangan terus menghindar, pengecut!"

Naruto menyeringai, dia melompat tinggi dan meluncur sebari mengarahkan kakinya ke kepala astral milik Sasuke. Naruto juga memompa mana miliknya ke bagian kaki, dan dia melakukan axe Kick untuk membalas serangan Sasuke barusan. Tendangan itu membuat bagian kepala Astral berwarna ungu tersebut retak, membuat Sasuke terkejut melihatnya.

Naruto melebarkan seringainya menatap bagian kepala Astral yang retak, dia kemudian melompat mundur. "Pertahanan kuat, pastinya ada kelemahan."

Sasuke mendecih kesal, dia memberikan tatapan tajam pada Naruto. "Kau benar-benar akan kubunuh!"

"Bring it on!"

...

..

...

Di tempat lain, Vira malah berlari masuk ke dalam istana. Dia sungguh penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi, apa dirinya itu benar-benar putri seorang Raja? Atau itu hanyalah bualan saja? Ayah dan Ibu angkatnya juga tak memberitahu dirinya tentang jati dirinya, serta jati diri Naruto.

Sedari mereka remaja, Vira tak tahu tingkatan kekuatan dari seorang Naruto. Statusnya yang sebagai tunangan Naruto pun tak diberitahu, Vira sungguh penasaran, hatinya risau akan rasa penasaran itu.

Vira langsung membuka pintu aula utama, tempat dimana sang Raja berada. Kedua mata Ruby miliknya melihat beberapa orang yang menjaga sang Raja, serta dua orang yang sangat ia kenal.

Minato dan Kushina Namikaze. Orang tua angkatnya sedari kecil.

"Otousan, Okaasan?"

Minato tersenyum tipis, sementara Kushina langsung berlari dan memeluk anak angkatnya itu. "Vira, Okaasan sangat senang bertemu denganmu!" wanita itu memeluk anak gadisnya itu dengan erat, dia sungguh merindukan Vira. "Oh iya, kenalkan! Ayah Kandungmu, Raja Romani [Solomon] Archiman III."

Sosok pria dengan rambut orange panjang itu tersenyum pada Vira, sebuah senyuman yang sangat menghangatkan hati. Vira terlihat mematung saat melihat ayah kandungnya itu. "Ayah..."

"Vira [Archiman] Lilie, kemarilah!"

Seolah dihipnotis olehnya, Vira berjalan mendekati sang Ayah. Hatinya bergemuruh saat dirinya berjalan mendekati sang Ayah. "Ayah!" Vira langsung memeluk sang Ayah dengan erat, dia merindukan sosok Ayah yang selama ini dia cari. "Ayah..." Vira kembali berucap, gadis itu memanggil sang Ayah.

Namun, adegan hangat itu ternodai oleh seseorang yang masuk secara sembarangan, sosok pria berambut hitam dengan wajah tua miliknya. pria itu masuk tak sendirian, dibelakangnya ada puluhan pengkutnya. "Reuni keluarga yang mengharukan. Tetapi, reuni itu akan hancur saat kami berhasil mengalahkan kalian."

Sang Raja menatap tajam Fugaku Uchiha, beliau mengangkat sebelah tangannya dan menjentikkan jari telunjuk serta jempolnya. Empat orang langsung muncul di hadapan raja itu. Romani tersenyum tipis melihat ksatria yang sangat setia itu berada tepat di hadapannya, berdiri dengan gagah untuk menghadang para pemberontak.

"Setelah sekian lama."

"Kau benar Lan-chan, ini membuatku bersemangat!"

"Vane, kau akan mendapatkan bagian nanti, tenanglah."

"Kalian bertiga, jangan terlalu gegabah."

Empat orang yang dipanggil oleh sang Raja adalah, empat dari lima ksatria Naga milik kerajaan Archiman. Sebuah kelompok yang dibentuk oleh Raja Archiman, untuk menjadi pengwal setia bagi kerajaan. Raja Archiman memang tak main-main jikalau dia membuat sebuah kelompok, seperti halnya Kushina dan Minato, kedua orang tua Naruto ini dimasukkan ke dalam satu kelompok bersama Uchiha Madara serta Hashirama Senju. Madara sangat mengenal kedua orang tua Naruto, begitu juga dengan Hashirama.

Kelompok itu selalu berada di barisan depan di saat perang dahulu.

Dan saat ini, Kushina serta Minato dipanggil kembali untuk datang ke kerajaan, Madara memanggil keduanya untuk mengantisipasi jikalau ada kerajaan lain yang ikut campur ke dalam masalah Kerajaan Archiman.

"Lancelot, Vane, Siegfried, dan Percival. Aku sebagai Raja Archiman III, memerintahkan kalian berempat untuk mengalahkan para musuh yang ada di depan sana!"

Keempat orang itu menyunggingkan sebuah senyuman, Lancelot bersiap dengan dua buah pedang pendek di kedua tangannya, lalu Percival bersiap dengan pedang merah panjang miliknya, Vane memutar kapak besar miliknya, sementara Siegfried sudah melangkah maju ke depan dengan pedang besarnya.

"Dilaksanakan! Kalian bertiga, serang ke segala penjuru!" Siegfried menyuruh ketiga anggotanya untuk pergi berpencar dan menghadang para pemberontak yang sudah masuk ke dalam aula istana kerajaan Archiman. "Raja, anda bersama Kushina-sama dan Minato-sama pergi ke tempat yang aman!"

Raja mengangguk paham, dia melihat kedua suami istri itu juga mengangguk. Keduanya pun pergi di ikuti dengan Vira serta Raja Archiman dibelakang mereka, meninggalkan keempat ksatria milik kerajaan Archiman.

"Naruto saat ini berada di garis depan, kita disini ditugaskan untuk menjaga sang Raja." Lancelot berujar sembari dirinya terus menebas para pemberontak.

Vane memenggal kepala salah satu pemberontak, dia kemudian tersenyum menanggapi pernyataan Lancelot. "Lagipula, Naruto memang berniat untuk menjadi seorang ksatria kerajaan seperti kita." Vane kembali menebas pemberontak lainnya.

"Kalian jangan banyak bicara, cepat selesaikan ini, dan kita akan mendapatkan jatah libur!"

"Percival, kau sepertinya agak malah saat ini."

"Aku muak dengan mereka, Siegfried."

Tawa kecil terdengar dari mulut Siegfried. "Baik, baik, kau menang. Bagaimana Fugaku Uchiha? Apa kau ingin dikalahkan dengan sekali tebas?"

"..."

Pria Uchiha itu tak menjawab, hanya sebuah tatapan tajam yang ia berikan pada Siegfried.

"Aku sendiri juga sudah muak dengan mereka, mari kita lakukan!"

Ketiganya mengangguk mengerti, lalu bersiap dengan senjata masing-masing. Keempat ksatria itu mengompres mana milik mereka.

[Know the full force of the Lord of Flames' blade!...] Percival mulai mengayunkan pedang yang diselimuti api miliknya. [Lohen Wolf!] Tornado api tercipta, membakar para pemberontak. Teriakan pilu dari orang-orang itu terdengar sampai ke telinga Percival.

Vane menyeringai, dia memutar kapak besarnya. [Loewen Vine Jagt!] kapak besar itu kemudian menghantam permukaan tanah, membuat sebuah retakan yang mengakibatkan tekanan dahsyat yang menyerang para pemberontak.

Lancelot berlari kencang, sekitar tubuhnya mengeluarkan aura es yang membuat beberapa pemberontak membeku. [Weissfluegel!] ia menancapkan kedua pedangnya ke dalam lantai aula tersebut, membuat es yang membekukan para pemberontak pecah berkeping-keping.

Siegfried berlari dengan kedua tangannya yang menggenggam pedang besar berwarna merah miliknya, ia mengayungkan beberapa serangan pada Fugaku, tetapi pria itu dapat menepisnya menggunakan pedang miliknya.

Jual beli serangan terjadi antara Siegfried serta Fugaku Uchiha. Walaupun begitu, Siegfried masih unggul jauh di atas Fugaku, seentara itu sang pria Uchiha itu sesekali melepas beberapa bola api pada Siegfried.

"Cukup sampai disini!"

"Kenapa kau membela Raja itu hingga sampai seperti itu?! Dia telah membuat kami sengsara, Clan Uchiha tak pernah merasakan—"

"Merasakan apa?" Siegfried bertanya dengan nada yang sangat dingin, ketiga rekannya pun menatap Fugaku dengan tatapan dingin mereka. "Aku tak mengerti jalan pikiran dari seorang pria arogan yang ada di depanku ini. Bisakah kau hentikan semua omong kosongmu? Sebelum aku memenggal kepalamu?"

"..."

"Aku tak main-main, Uchiha Fugaku."

Fugaku berdecak kesal, dia mundur beberapa langkah untuk kabur dari aula istana tersebut, tapi saat dirinya berlari menuju ke pintu aula, dirinya dicegah oleh Vane, di samping kirinya ada Percival, serta di bagian kanan ada Lancelot. Ketiganya menghadang Fugaku yang ingin kabur dari pertarungan.

"Itu sungguh tindakan seorang pengecut, Uchiha Fugaku. Kabur dari sebuah pertarungan setelah anak buahnya mati." Siegfried bersiap dengan pedang miliknya. "Sepertinya aku harus membunuhmu disini."

"Sialan kau Siegfried!"

[Schwarze Faengel!]

...

..

...

Dengan Sirzech, saat ini dia tengah duduk di sebuah kotak kayu dengan Rias yang tengah pingsan di atas tanah. Pemuda itu seolah menyesal karena menyakiti adik tercintanya. Dia menghela napas menatap sosok adik kecilnya itu.

"Sirzech."

Kedua mata hijau Sirzech bergulir melihat sosok gadis berambut perak panjang dengan pakaian khas seorang pelayan, dia adalah tunangan dari Sirzech, Grayfia Lucifuge. "Oh, sayang. Ada apa?"

Gadis itu bergerak mendekati Sirzech, dia memeluk kepala merah Sirzech, menenggelamkannya ke dalam belahan dadanya. "Menangislah, aku tahu kau sedih melihat pengkhianatan Rias." Pakaian yang dikenakan oleh Grayfia basah akibat air mata Sirzech, pemuda itu menangis karena telah melukai sang adik.

Penyesalan itu datang terakhir, dan Sirzech sungguh merasakan penyesalan yang sangat itu. "Apakah perbuatanku ini salah? Katakan Grayfia! Apa ini salah? Menghadang seorang adik yang mengkhianati kepercayaan orang tua?"

Grayfia mengelus kepala merah tersebut dengan lembut. "Setiap orang pasti memilih jalannya sendiri, Rias memilih jalannya dengan mengikuti Sasuke Uchiha hanya untuk membuat orang tuamu senang serta bangga, tetapi aku bangga kepadamu Sirzech, kau membuang semua egomu sebagai kakak, dan menghukum adikmu yang berkhianat."

"..."

"Calon suamiku tak akan mudah menangis seperti ini, kuatlah Sirzech." Grayfia mencium rambut merah Sirzech, ciuman itu seolah menenangkan Sirzech dari segala perasaan bersalahnya. "Suatu hari, Rias akan sadar jika kelakuannya ini salah."

Di lain tempat, Serafall mengelus pipi Sona dengan lembut, senyuman sedih dia tunjukkan pada Sona yang saat ini terjebak di dalam es buatan Serafall. "Hey, So-tan. Kakak mengerti bagaimana perasaanmu saat teman-temanmu mengejek diriku ini, tetapi perlu So-tan ketahui. Kakak menyembunyikan kekuatan untuk menyelidiki sesuatu, dan sesuatu itu adalah pemberontakan dari Uchiha." Tangannya beranjak menuju ke rambut raven milik Sona, dia mengelusnya dengan lembut. "Kakak tak akan tega menyakiti adiknya sendiri, Sona. Kau akan selalu menjadi adik tercinta Kakak." Setetes air mata meluncur mulus di pipi putih Serafall.

"Neesama..."

"Maukah kamu memaafkan Kakakmu yang lemah ini?"

Sona menutup kedua matanya, air matanya turun dengan deras membasahi wajah cantiknya, dia begitu menyesal setelah kalah bertarung dengan Kakak tercintanya, Sona sungguh menyesal saat dirinya terkena bujuk rayu dari Sasuke Uchiha untuk memberontak, dan mengalahkan kakaknya.

Ajuka tak jauh berbeda, dia menatap adiknya yang masih sadar, tetapi luka yang diderita sedikit lebih parah. Diodora masih mempertahankan kesadarannya, pemuda itu dihajar habis-habisan oleh Ajuka.

"Berdiri! Kau sebagai pewaris keluarga harus lebih kuat dari mantan pewaris keluarga Astaroth."

"Ta-tapi..."

"Tak ada tapi tapian Diodora! Kau yang diberi kepercayaan oleh Ayah serta Ibu dengan mudahnya mengkhianati seperti ini? Kau membuatku kecewa, Adik. Ini tak seperti yang aku harapkan sama sekali, jauh melenceng dari apa yang aku rencanakan."

Diodora terdiam, ia tak bisa mengeluarkan sepatah katapun, lidahnya kelu untuk membalas perkataan dari Kakaknya itu.

"Aku harap, Raja Archiman tak memberikan hukuman yang berat saat kalian ditangkap oleh pihak kerajaan." Ajuka mengangkat salah satu tangannya, lingkaran sihir berwarna hijau keluar dari sekitar Diodora. [Bind!] Rantai berpendar hijau muncul dari lingkaran sihir, mengikat tubuh Diodora dengan erat. "Kau sebaiknya jangan banyak bergerak, rantai itu akan mengeratkan ikatannya saat kau bergerak."

"Aju, kita akan menunggu sampai semuanya datang, atau..."

"Kita bawa adikmu dan adikku. Sirzech pasti akan sangat sedih melihat adiknya ikut serta pada pengkhianatan seperti ini."

Serafall menatap sedih adiknya yang masih terjebak di es miliknya. "Baiklah, kita bawa mereka."

...

..

...

"Sialan! Sialan! Sialan kau Vali!"

Vali berdiri di samping Athena, dia menatap datar Cao-cao yang tengah menyeka darah di mulutnya. "Kalian semua sungguh bodoh," balas Vali dengan nada datarnya. "Aku seorang pemegang Artefak Naga Surgawi. Kami tak sudi dijadikan budak oleh seorang Bangsawan. Seharusnya kau juga tahu Cao-cao, lihat tombak milikmu. Dia tak merespon perintahmu, tombak itu memiliki perasaan, kau harus tahu itu." Vali berbalik membelakangi Cao-cao.

"Mau kemana Vali Lucifaa?"

"Aku sudah cukup menghajar dia, Primal Beast Athena. Sekarang aku akan pergi."

"Ini permintaan dari Naruto karena kau kalah taruhan darinya?"

Vali menoleh sedikit ke Athena, sudut bibirnya melengkung ke atas, lalu terbang pergi menggunakan sayap mekaniknya.

Athena mengalihkan pandangannya kepada Cao Cao. "Yah, aku berterima kasih kepada Naruto karena dia menang taruhan akan berpihak mana dirinya. Setelah kalah dari Naruto, Vali malah memihak kami."

"Vali sialan!"

"Sekarang, biarkan aku mengikatmu!"

"Oh, Athena, kau sudah selesai dengan urusanmu?" Sairaorg tiba-tiba datang dengan dirinya yang menggendong Neji Hyuga di bahunya. "Ah, ronde kedua yang membosankan. Bahkan, aku tak menggunakan artefak milikku."

"Sairaorg, jangan sombong."

Sairaorg tertawa keras mendengar teguran dari Athena.

...

..

...

To Be Continue!

...

..

.

Naruto menatap Sasuke tajam, pemuda Uchiha itu seolah mendapatkan tambahan kekuatan dari kedua matanya, serta sosok yang baru saja datang. Sebuah sosok Primal Beast berwujud tengkorak yang sangat menyeramkan.

"Primal Beast, Lich."

Tawa menyeramkan keluar dari tengkorak tersebut, menggema di area tersebut.

[Sudah waktunya?]

"Sepertinya wujud nagamu yang harus keluar, Ddraig."

[Aku tak masalah dengan itu, Naruto.]

Naruto tersenyum, Grimore yang berada di lehernya pun terlepas dan melayang tepat di depan Naruto, pendar merah keluar dari buku tersebut. [Tunjukkan wujud sejatimu, Kaisar Naga Merah, Ddraig!] Buku itu terbuka, setelah Naruto mengucapkan mantranya. Sebuah cahaya keluar dari dalam buku tersebut, dan menampilkan sebuah wujud naga merah besar yang berada tepat dibelakang Naruto.

Sisik merahnya berkilauan dengan kedua mata hijau tajam miliknya.

"Ddraig, aku serahkan dia padamu." Naruto saat ini tengah memegang kedua senjatanya.

[Haha, aku akan menghancurkannya!]