Summary: Sekelumit kisah yang tak diceritakan, tentang malam sebelum eksekusi Akutagawa shinshokusha di dalam bukunya Kikuchi Kan.
Bungou To Alchemist disclaimer to DMM Games.
Malam sebelum eksekusi Akutagawa shinshokusha, tidak ada satupun bungou di pustaka itu yang bisa tidur dengan tenang. Terutama dari kedua pihak yang masih berbeda pendapat.
"Lakukan itu, Kan."
"Tidak perlu kau suruh."
Dazai bisa melihat kedua tangan Kan yang terkepal ketika menegaskan itu, membuatnya jadi semakin tidak tahu mesti berbuat apa.
Dazai tahu dengan jelas apa yang diinginkannya. Dia mau buku Akutagawa selamat, pun sosok yang sudah berulang kali menyelamatkannya itu. Dia tidak masalah dengan eksistensi dua Akutagawa di pustaka. Namun, pemikiran naifnya yang egois itu tampaknya sulit diraih.
Daripada sulit, mungkin nyaris bisa dibilang tidak mungkin. Kalau Akutagawanya sendiri juga mendukung pendapat Kan, dia mesti bagaimana?
"Pembaca tidak pernah salah."
Shimazaki mengatakan sederet hal rumit padanya. Dazai hanya bisa menangkap samar-samar, bahwa pria itu diam-diam mendukung untuk berbuat sesukanya saja.
Itu memang sesuai dengan Dazai. Meski Akutagawa Shinshokusha menolak eksistensinya, dia tetap akan berkeras bahwa mereka adalah teman. Bahwa dia adalah bagian dari mereka.
"Ango, apa kau akan ikut?"
Jadi, Dazai mendatangi kamar rekan Buraihanya itu tepat tengah malam, menuturkan gagasan untuk menggagalkan eksekusi Akutagawa Shinshokusha.
"Tentu saja, aku juga berhutang budi ke dia." Ango mengusap kepala Dazai, sekaligus mengacak rambutnya. "Lagipula sudah kubilang tadi kan, aku di pihakmu."
"Makasih, Ango!"
"He eh, berikutnya kau mau ke kamar Odasaku?"
"Iya!"
"Aku yakin dia juga bakal setuju, sih. Baiklah, aku lanjut tidur dulu."
"Iya!"
"Kau juga begitu selesai, buruan tidur. Kalau besok kesiangan, bisa-bisa telat, lho."
"Hm, aku bakal begadang sampai pagi saja kalau begitu!" sahut Dazai antusias.
Ango hanya menggeleng. "Bukan gitu, Dazai."
Seperti yang diduga Ango, Oda juga mendukung. Pria berambut panjang dikepang itu masih sibuk menulis ketika didatangi Dazai.
"Kau bekerja terlalu keras, Odasaku."
"Bukan, bukan, aku sedang enggak ngantuk makanya mending nulis." Oda menukas.
"Hee ..." Dazai tetap menampilkan ekspresi tidak setuju.
"Ngomong-ngomong, Dazai-kun." Oda mengalihkan topik. "Waktu itu, kurasa Akutagawa-sensei tulus ingin membaca bukumu. Makanya, aku dan Ango benar-benar kaget pas jadinya malah begitu."
Paginya, Akutagawa masih dengan sungguh-sungguh bertanya soal orang seperti apa Dazai Osamu. Tentunya mereka tidak mengira kalau tahu-tahu pria itu akan melontarkan komentar yang terhitung kejam begitu muncul lagi, masih pada hari yang sama.
"Akutagawa-sensei ingin mengenalmu lebih jauh. Katanya pula, cara terbaik untuk mengenal penulis adalah dengan membaca karyanya."
Mendengar cerita itu sekarang, Dazai jadi tidak bisa merasa senang secara normal. Ada sesuatu yang mengganjal, entah apa..
Baru ketika Akutagawa Shinshokusha memarahinya di Haguruma, Dazai sadar alasan dari dia gagal tersenyum ketika mendengar tuturan Oda.
Pasalnya, berapa kalipun dia membaca ulang karya Akutagawa, Dazai tetap gagal memahami sosok sebenarnya dari sang idola.
Dia hanya bisa menyelami unsur intrinsik karya-karya Akutagawa, tetapi tidak dengan unsur ekstrinsiknya. Alasan cerita-cerita itu ditulis, bagaimana situasi sebenarnya Akutagawa, Kikuchi Kan dan teman-temannya yang dibilang Dazai baru datang itu, jelas lebih tahu.
Bahkan meski Dazai benci mengakuinya, tetapi dia juga terpaksa menerima bahwa kata-kata Shiga memang benar. Soal dia yang tidak tahu apa-apa tentang Akutagawa semasa hidupnya. Karena itulah, Dazai lanjut main pukul saja setelah mendengar perkataan itu. Habis, dia tidak punya sangkalan, dan diingatkan kenyataan tersebut membuatnya kesal.
"Dan,"
Dazai tidak perlu menjelaskan apa-apa. Dia cuma memanggil nama itu sekali, lalu Dan membuka pintu dan tersenyum paham.
"Kau mau menyelamatkannya, kan?"
Dazai mengangguk.
"Kalau begitu aku ikut. Lagipula, dia yang sudah membawaku ke sini." Dalam kasus hampir lenyapnya Ningen Shikkaku, Dan bisa dibilang adalah kunci penting suksesnya proses pembersihan. Sementara alasan dirinya bisa tertransmigrated adalah berkat usaha Akutagawa shinshokusha.
"Bagaimana mengalihkan perhatian kucing ituu~" Dazai gemas sendiri, mengintip Neko yang duduk menonton Yuugaisho, padahal biasanya Shuusei yang disuruh mengawasi, sementara dianya nyantai di ruangan alkemis.
"Apa yang bisa mengalihkan perhatiannya, ya?" gumam Oda.
"Lemparin ikan tuna?" usul Ango. "Bentar, kuambil dulu ke dapur." Benar-benar langsung direalisasikan.
"Jangan, Ango," cegah Dan. "Kurang bagus kalau berpencar sekarang. Kita mesti mengincar kesempatan untuk masuk ke sana bersamaan."
"Ah," cetus Dazai, "Kalau gitu, kita ikutan Ango bareng ke dapur? Terus sama-sama juga balik ke sini. Lemparint tunanya, kemudian--"
Serius, kalau Ango sama Dazai sedang sama-sama kacau, bahkan Oda jadi bingung harus mulai komentar dari mana.
"Payah."
Suara ejekan itu bukan berasal dari salah satu dari mereka berempat. Itu Chuuya, yang entah sejak kapan turut mengintipi ruang penyucian buku.
"Chuuya-kun," sebut Oda. "Kabur dari ruang perawatan, yak?" Siapa sangka Chuuya yang membantunya kabur dulu rupanya sekarang juga melakukan hal serupa.
"Aku sudah sembuh, bodoh," sangkal si penyair. "Biar kualihkan perhatian kucing itu. Kalian buruan delving begitu dia keluar."
"Chuuya ..." Baik Ango, Dan, juga Dazai, sama-sama tidak menyangka bahwa Chuuya akan turun tangan.
"Apaan, hah?"
"Enggak. Uhm, makasih."
"Haha, aku punya alasanku sendiri."
Begitulah, Chuuya melenggang masuk, mengatakan sesuatu yang membuat Neko bergegas keluar, lalu Buraiha langsung saja menerobos masuk ke dalam buku.
End.
Omake (?) 1
"Wah, gak nyangka mudah juga masuk ke sini," komentar Ango.
"Iya ya, kirain bakal ribet kayak masuk ke Jigokuhen." Dazai sepakat.
"Atau ada jebakannya, kayak ... pas di buku Saku-sensei," Oda mengingat-ingat. Dalam kasus yang satu itu, semua bungou bisa masuk, tapi langsung dilumpuhkan.
"Mungkin karena buku ini sebenarnya enggak kena shinshokusha biasa?" Dan berpendapat. "Di sini, jiwa penulis enggak sedang butuh untuk diselamatkan, kan ya?"
"Atau juga ..." Dazai ragu-ragu, "Sesedikit apa pun itu, Kikuchi-sensei pengen dihentikan, sebenarnya."
"Eh?"
"Habisnya mereka teman dekat kan? Walaupun itu bukan Akutagawa-sensei yang asli, mengeksekusi sosok teman itu tetap menyakitkan gak, sih?"
"Iya, yah ..."
Omake (?) 2
"Ngomong-ngomong Chuuya, alasanmu bantuin waktu itu apa?" ungkit Dan ketika dia dan Chuuya ngobrol di lantai dua, sambil menonton Shuusei dan yang lainnya sibuk bekerja di bawah.
"Aku kurang cocok untuk ikutan masuk. Jadi ya, mengalihkan perhatian Neko lebih gampang."
"Soal senjata, kah?"
Pertarungan antara Dazai dkk dengan Kan dkk tentunya tidak akan terelakkan. Dan bisa dibilang mereka yang terlibat dalam perkelahian itu semuanya memakai senjata jarak pendek atau menengah.
"Itu juga. Tapi bukan itu saja."
"Hm, lalu apa lagi?"
Chuuya tersenyum tipis. "Melakukan hal-hal gila seperti itu, paling cocok kalau kalian yang beraksi."
Gila memang, membela seorang shinshokusha apapun alasannya. Melawan para bungou yang lebih senior juga terhitung nekat. Dan tema-tema penentangan semacam itu, memang Buraiha sekali.
