Ch. 2: Yoshino

Ia pingsan karena shock, baru membuka mata setelah beberapa jam berlalu setelah kejadian penyerangan desanya oleh segerombolan werewolf. Ketika ia membuka mata, ia sadar saat ini dia berada di sebuah gua yang sangat minim cahaya, meski demikian gua gelap itu menjadi terang saat seorang pemuda duduk tenang dengan mata terpejam memancarkan cahaya emas dari tubuhnya.

Sebagai seorang gadis berusia 12 tahun tentu normal jika ia mulai mengagumi pemuda tampan; seperti pemuda di depannya. Rambut pirang cerahnya melambai-lambai di sisi wajah saat partikel kecil mulai memasuki tubuh pemuda tersebut, pakaiannya yang sederhana tak dapat menutupi tubuh kekar yang terlatih dimilikinya, bagi sang gadis ia bagaikan pahlawan dari langit khusus datang untuknya.

Rasa penasaran mulai tumbuh saat ya terus memandangi sang pemuda, ia pun merangkak ke arah pemuda berharap dapat menyentuh partikel yang melayang di sekelilingnya. Partikel emas yang tadinya mengarah pada sang pemuda, berhenti bergerak ketika ia menjangkaunya dengan tangan, meskipun tak memasuki tubuhnya seperti yang terjadi pada sang pemuda, partikel itu mulai berputar di sekitar tubuh gadis.

"Aku baru sadar, tubuhmu sepertinya cukup spesial gadis muda."

Naruto yang merasakan adanya pergerakan di sekitarnya, telah membuka mata dan mengamati tindakan gadis yang baru saja ia tolong. Gadis bersurai biru langit itu tersentak kaget saat suara Naruto menyela, partikel emas yang tadi mengelilinginya melesat langsung ke arah Naruto dan lenyap di tubuh sang pemuda, cahaya emas pun lenyap seketika.

Tik. Naruto menjentikkan jari, dan mengeluarkan api yang membakar di udara, menerangi dengan cahaya remang gua gelap tersebut. "Bagaimana keadaanmu?" Tanya Naruto tiba-tiba.

"Aku..."

Gadis itu hanya bergumam pelan sebelum menunduk, kemudian berbisik lirih. "Apa kau yang menyelamatkanku dari monster itu?"

"Ya. Tapi sayang aku tak berhasil menyelamatkan seluruh desa, orang tua mu pasti telah mati." Naruto sedikit prihatin ketika tubuh gadis sedikit bergetar, Naruto tahu perasaan putus asa tersebut. "Apa rencanamu kedepannya?"

Setelah dipikir-pikir pasti merepotkan jika ia harus merawat gadis kecil ini, walaupun Naruto sendiri tak tega menelantarkannya. Namun jika situasi dunia ini lebih kacau dari perkiraannya, maka tugasnya mengumpulkan energi primordial akan benyak hambatan, apalagi jika ditambah masalahnya mengurus sang gadis.

Ia hanya hening setelah Naruto bertanya, sesaat kemudian ia mengangkat kepalanya, menatap mata sapphire Naruto seakan ia memohon. "Tidak bisakah, aku mengikutimu tuan? Aku janji akan melakukan apapun untuk membayarnya... Asalkan aku bisa membalas perbuatan monster tersebut."

Tentu setelah semua ia sadar tak akan mampu melakukan apapun untuk membalas perbuatan monster yang telah membunuh keluarganya, ia hanya seorang gadis biasa. Tetapi berbeda dengan Naruto yang mampu menciptakan api dari ketiadaan, ia yakin Naruto merupakan salah satu makhluk yang disebut supranatural oleh warga desanya.

"Kau boleh mengikutiku, tapi jika kau nantinya akan menghambat rencanaku, aku tidak akan segan mencampakkan mu!"

"Terimakasih, tuan!" Nada tegas Naruto sama sekali tak berpengaruh baginya, ia melompat kegirangan dengan wajah penuh senyum kebahagiaan. Naruto hanya tersenyum tipis saat melihat raut sedih gadis itu lenyap, entah kenapa hatinya pun merasa hangat melihat senyum kebahagian itu.

"Jadi siapa namamu?"

"Oh, maaf karena lupa mengenalkan diriku. Namaku Yoshino, saat ini aku masih 12 tahun... Jadi itu... Jika ingin itu... Paling tidak tunggu beberapa tahun lagi ya, tuan..." Yoshino menahan dirinya untuk tidak melarikan diri dan menyembunyikan wajahnya yang telah memerah, namun ia memberanikan diri untuk mengintip gimana reaksi Naruto.

"Tenang saja. Tipeku wanita dewasa yang sudah menikah, gadis kecil sepertimu takkan membuatku bergeming." Naruto menjawab dengan acuh, kemudian ia melangkah menuju mulut gua, Yoshino mendengus kesal atas jawaban Naruto, sebelum pergi mengikuti langkah Naruto.

'Lihat saja, lima atau empat tahun lagi kau akan meneguk liur saat melihat tubuhku.'


Diperjalanan Naruto menanyakan nama desa yang dulu ia tinggali, "Desa fleur. Diberi nama karena setiap musim semi semua jalan dan kawasan desa akan ditutupi oleh ragam macam bunga yang indah," begitulah Yoshino menjawab dengan semangat karena mengingat rumahnya dikelilingi oleh bunga pada saat musim semi.

Yoshino kebingungan ketika melihat desa Fleur dari jauh, tentu saja kebingungan Yoshino disadari oleh Naruto, dengan tenang ia menjawab. "Jika kita berhasil menemukan beberapa warga aku bisa menyerahkanmu pada mereka." Jawab Naruto sekenanya.

"Tu-tuan..." Yoshino ingin protes, tapi ketika melihat ketidakpedulian Naruto ia menelan kata-katanya kembali.

Saat mereka memasuki desa Fleur, bau amis darah memenuhi sekeliling desa, potongan tubuh warga berserakan di sekeliling, rumah-rumah kayu para warga juga menyisakan puing-puing meskipun ada beberapa yang masih ditinggali. Raut wajah Yoshino berubah saat melihat gelimpangan tangan maupun kepala yang tergeletak di tanah.

Whoos. Naruto mengibaskan tangannya saat aliran energi primordial melonjak, api beterbangan ke bagian-bagian tubuh di tanah, mengubahnya menjadi debu. Yoshino mual saat bau terbakar itu menusuk hidungnya. "Tunggulah di sini! Aku akan membersihkan desa dari semua mayat."

"Tuan, mohon tunggu!" Naruto yang telah berjalan menjauh menghentikan langkahnya, menatap Yoshino dengan alis yang terangkat. "Bisakah tuan mengubur mayat atau organ tubuh itu?"

"Sayang sekali, waktuku tidak cukup layak untuk orang asing." Jawab Naruto cuek, lalu melanjutkan langkahnya dengan cepat. Yoshino terdiam saat melihat sikap Naruto, penilaian pribadi Yoshino memburuk saat mengetahui bahwa pemuda itu sebenarnya hanya seorang yang egois, seperti orang-orang berkuasa yang pernah ditemuinya.

"Aku kira dia berbeda, tapi sepertinya penilaianmu salah Yoshino,"

Tempat tinggal Yoshino terletak di dekat pintu masuk desa, sembari menunggu Naruto melakukan pembersihan, ia pun menuju rumah yang hanya menyisakan puing dan satu ruangan yang kehilangan satu dinding. Yoshino terisak saat melihat seonggok tubuh lelaki dewasa, dilihat dari pakaiannya Yoshino meyakini itu merupakan jasad sang ayah.

Yoshino berteriak histeris, meratapi nasib keluarga kecil mereka.


Sejak kepergian Naruto, telah lewat beberapa jam. Yoshino yang telah selesai mengubur mayat sang ayah mulai ketakutan menunggu kedatangan Naruto, ia sedih keluarganya telah tiada, tapi Yoshino lebih takut jika pemuda pirang itu pergi, karena Naruto satu-satunya tempat buat dia bersandar di dunia ini.

Merasa tak tahan, Yoshino pun pergi lebih dalam menuju desa Fleur. Setibanya di lokasi yang paling padat perumahan, Yoshino merasakan aura yang tidak mengenakan di sekelilingnya, aura yang sama saat ia dimangsa oleh werewolf, aura kematian. Napas Yoshino tertahan pada saat menengok ke arah kanan, di sana terdapat ratusan potongan mayat segar membentuk gunung, dengan seorang pemuda duduk tenang di sisinya.

Terlihat aura merah kehitaman memancar dari gunung mayat yang menyeruak ke atas lalu berkumpul dan bergabung dengan aura emas yang dilancarkan oleh sang pemuda. Udara beriak di sisi sang pemuda, Yoshino yang melihat dari jauh tanpa sengaja mundur karena shock oleh pemandangan tersebut.

Suasana tersebut bertahan hingga beberapa saat, sebelum akhirnya sisa tubuh yang berbentuk gunung itu berubah menjadi debu, menyisakan energi kemerahan yang dilahap habis oleh tubuh Naruto.

Krak. Tanah yang diduduki Naruto retak saat energi kemerahan lenyap, walaupun tak mengetahui apapun, Yoshino tahu bahwa Naruto bertambah kuat dari yang sebelumnya. Perlahan Naruto membuka mata, ia hanya melempar senyum saat tatapannya bertemu dengan Yoshino.

"Sudahku putuskan, aku akan tinggal di sini untuk sementara waktu!"


Jauh di belahan dunia lain, tepatnya di ufuk timur, pedalaman hutan rimbun bagian wilayah Shogun Tokugawa Leyasu. Hutan ini diduduki oleh pemimpin tertinggi Youkai, Kyuubi sang rubah ekor sembilan. Saat ini makhluk yang paling ditakuti wilayah timur menjelma sebagai seorang pria paruh baya, dengan rambut jingga kehitaman tergerai panjang melewati pundak, para wanita pasti gila saat melihat pria tampan ini.

Di hadapannya berdiri seorang gadis yang selalu menampilkan senyum manis kepada pria berwajah garang yang tengah duduk di singgasananya. Alice, perwakilan dari bangsa vampir, ia mencoba bernegosiasi dengan rubah ekor sembilan tersebut.

"Jadi, pihak vampir mencoba menarik kami ke dalam perang dengan dalih memusnahkan bangsa nggak jelas itu?"

Kyuubi menekuk kepalanya kesamping dengan tangan sebagai tumpuan, nada sarkasme khas miliknya keluar setelah mendengar penjelasan panjang dari Alice. Inti dari kedatangan Alice ialah meminta bantuan mereka untuk berperang menghadapi werewolf, yang pada hakikatnya aib bagi Youkai. Alice menggunakan fakta tersebut untuk memanas-manasi rakyatnya, agar mereka bergerak ke medan perang.

Akan tetapi Kyuubi bukanlah seorang pemimpin yang mendapat jabatan karena hasil kekuatan mutlak saja, tapi ia juga dipenuhi dengan kelicikan. Kyuubi bisa menyusun rencana dengan kerugian seminimal mungkin bagi rasnya, jadi hal ini bukanlah bukanlah sesuatu yang menarik minatnya.

"Pihak kami tentu telah menduga jawaban dari anda yang mulia, maka raja kami Dracula telah memberikan penawaran yang pasti menggiurkan bagi anda." Senyum manis masih terukir dari wajah cantiknya.

"Oh, katakan apa itu?"

"Yin Primordial Body," —Dan wajah dengan tampang meremehkan itu lenyap, digantikan dengan wajah penuh kejutan.


Saya tuh nulis hanya ketika gabut, jadi kebanyakan pendek dan cerita hanya ngayal di saat itu juga. Kalo bagus tolong dihargai dengan sedikit Fav & Follnya, jika ada yang ngeganjel atau salah dsb bisa langsung kritik di Review, gratis kok.

Sebenarnya saya tuh ingin sekali membuat cerita genre misteri, tapi kayaknya terlalu berat untuk otak saya.

—Dan timeline dari cerita ini ialah, zaman kerajaan. Atau bisa dikatakan saat-saat para pemimpin fraksi memperkuat pijakan Ras masing-masing di dunia. Bisa dikatakan zamannya para monster tua masih muda, dan perang ada dimana-mana.

Thanks for Read.