Cinta

Seorang servamp tidak boleh memilih eve yang berlawanan jenis, itulah saran yang di berikan Old Child atau sering di panggil Hugh kepada saudara-saudaranya. Bukan tanpa alasan. Secara alamai, tak dapat di sangkal bahwa laki-kali akan menyukai perempuan atau sebaliknya. Dan tak jarang, kedekatan seorang laki-laki dan perempuan membuat mereka saling jatuh cinta. Dan terus berlanjut hingga kejenjang pernikahan.

Seperti Hyde yang telah jatuh cinta pada Ophelia. Setelah Ophelia meninggal karena dieksekusi mati demi kedamaian dua buah negeri, Hyde tampak hancur dan tak ada harapan.

Oleh sebab itulah jatuh cinta adalah ancaman bagi para servamp. Namun, tampaknya itu tak berlaku pada Kuro.

Kuro mencintai Mahiru. Bukan cinta dalam hal romantis atau apapun, melainkan lebih kearah persaudaraan, dimana Kuro sudah menganggap Mahiru sebagai adiknya.

Mahiru sang eve-nya. Mahiru yang rajin, baik serta mandiri.

Mahiru yang telah memungutnya dengan tatapan iba serta bersahabat. Mahiru yang bersikap layaknya seorang adik yang setia pada kakaknya. Membuatkan minuman atau pun makanan jika Kuro meminta. Selalu bersih-bersih rumah dan menciptakan kenyamanan tersendiri pada tempat tinggal mereka.

Mahiru yang luar biasa. Mahiru yang mampu menariknya dari keterpurukan. Menariknya dari rasa bersalah yang dia buat di masa lalu.

Mahiru adalah pahlawan bagi Kuro. Pahlawan yang dia cintai. Ia senang dan bahagia karena Mahiru adalah eve-nya.

Tapi, rasa bahagia itu sekarang sudah musnah. Mahiru sang matahari bagi Kuro kini hanya tinggal kenangan. Mahiru meninggalkannya. Meninggalkannya untuk selamanya.

Kuro menatap gundukan tanah di depannya dengan berlinangan air mata. Orang yang ia cintai sekaligus orang yang ingin ia lindungi kini telah tiada. Ia gagal menjadi pelindung yang baik untuk Mahiru.

" Hiks... Mahiru,mengapa kau meninggalkanku... kenapa kau melindungiku? ", Kuro berucap di depan kuburan sang eve. " Kau idiot! Padahal jika pun pedang Tsubaki mengenai tubuhku, aku akan tetap hidup! Hiks..."

" Hiks... Mahiru..."

Teringat Kuro saat pertarungannya dengan adik bungsu si Tsubaki. Tsubaki nyaris menikamnya dengan kanata dan dengan idiotnya Mahiru mendorongnya dan yang terjadi Mahiru-lah yang di tikam.

Tak pikir panjang, akhirnya Kuro memghabisi Tsubaki hingga tak bernyawa lawaknya dia yang telah menghabisi pencipta servamp. Walau Tsubaki telah tewas, Kuro masih belum puas karena Mahiru pun ikut tewas.

Tentu saja ini salah Tsubaki! Salah Tsubaki!

Tapi tidak, ini salahnya. Seandainya ia tak bertemu Mahiru, maka hal ini tak akan terjadi.

Bukan, ini salah Mahiru sendiri yang telah memungutnya.

TIDAK! TIDAK! TIDAK!

Kuro tak tahu siapa yang harus di salahkan. Ini salah Tsubaki! Tidak, salahnya sendiri! Tidak, salah Mahiru. TIDAAAAAAAKKKKKKKK!!!!! SALAH SIAPA SEMUA INI?!!!!

" Hiks... Mahiru... Mahiru... Hiks...Hiks... Mahiru". Kuro memeluk nisan kuburan tersebut dan terus menangis memanggil nama sang eve. Rasa sesak tak tertahankan memenuhi dadanya. Rasa sakit seakan di iris-iris memenuhi dadanya. Ia merasa hancur.

Saudara-saudara Kuro serta teman-teman Mahiru hanya menatap Kuro dengan berlinangan air mata. Keheningan terjadi dan hanya menyisakan suara isak tangis menyayat hati. Hati mereka turut tak rela atas meninggalnya Mahiru, termasuk Sakuya.

Misono tak kuasa lagi melihat sikap Kuro. Ia menjadi turut sangat sedih. Air matanya tak henti-hentinya mengalir. Ia pun memutuskan angkat kaki dari pemakaman di susul yang lainnya hingga tersisalah Hyde dan Kuro.

Hyde menatap sang kakak sebelum akhirnya menyusul eve-nya, membiarkan Kuro sendirian untuk sementara.

" Mahiru, maaf... Maaf... Maaf karena aku tak mampu melindungimu. Maaf... Hiks.."

Tap!

Tepukan halus di pundak Kuro membiatnya terkaget. Refleks Kuro menatap orang yang telah menepuk pundaknya. Matanya terbelalak kaget. Rasa senang dan hati berbunga-bunga memenuhi hatinya. Langsung saja ia memeluk orang itu.

" Mahiru!"

" Eh..."

Kuro terbelalak kaget. Kenapa tubuh Mahiru tembus? Kenapa tubuh Mahiru mulai transparan? Rasa senang itu dalam sekejap menghilang.

" Mahiru... hiks..."

Mahiru tersenyum. " Kuro, aku mohon jangan menangis. Relakan saja aku... Aku berjanji selalu akan berada bersama denganmu walau di alam yang berbeda... Tolong relakan aku pergi. Biarkan aku pulang dengan tenang... Aku selalu akan bersamamu..."

Kuro menggigit bibir bawahnya. Air matanya semakin tumpah ruah. Rasa sesak semakin memenuhi dadanya. Perlahan Kuro mengangguk, bersamaan dengan itu, tubuh Mahiru yang transparan menghilang perlahan.

" Kuro, aku mencintaimu..., jadi jangan menangis...". Hal terakhir yang tampak dari Mahiru adalah senyuman indahnya, sebelum akhirnya tubuh itu menghilang menyisakan kristal-kristal sekecil debu yang berkilau-kilau dan berterbangan di udara.

Kuro menatap kristal-kristal itu. " Mahiru, aku juga mencintaimu... Selamat tinggal. Berbahagialah di sana..."

.

.

.

End


gimana ceritanya?