Ch. 4: Night Elf (1)

Naruto menghentikan langkahnya. Tatapan dinginnya menatap ke arah pasukan berkuda hitam yang berlari kencang ke arah desa Fleur. Pasukan berkuda tersebut sedikit aneh, terdiri dari beberapa makhluk seperti kadal yang mengenakan zirah, yang mengendarai kuda lebih besar dari kuda pada umumnya.

—Dilihat dari kecepatan kuda, Naruto meyakini bahwa itu salah satu dari spesies monster.

"Kembali ke dalam desa, Yoshino-!" Perintah Naruto tegas. Gadis itu tak membantah, setelah melihat badai debu tak jauh di depannya, ia bisa menebak bahwa ada bahaya yang sedang mendekat. Yoshino pun berlari secepat yang ia bisa menuju bagian terdalam.

Naruto diam sejenak, sebelum menutupi mata. Ia telah lebih dari sebulan hidup di dunia ini, dan telah mengolah banyak energi primordial. Semua aspek dalam diri Naruto telah diperkuat sedemikian rupa.

Salah satunya jiwa. Naruto telah memperkuat jiwa selama lebih dari seratus tahun, karena pada hakikatnya jiwanya lah yang datang dari dunia shinobi, di tambah pengembangan jiwa dengan energi primordial dari dunia ini.

—Yang memiliki ketebalan energi primordial lebih tinggi dari dunia shinobi. Dengan semua hal tersebut, akhirnya kekuatan jiwa Naruto telah menembus suatu halangan besar.

Hal ini dinamai oleh Naruto dengan lautan jiwa. Dimana ia memiliki dunia dalam jiwanya, yang mampu menyerap dan menampung energi jiwa untuk lebih memperkuat jiwa tanpa energi primordial.

Aura asing menyebar di sekitar Naruto, setitik pendar gelap juga muncul dari tubuh Naruto.

"Dark Magic: Dark Soul!" Dengan kekuatan jiwa yang kuat, ditambah elemen gelap yang Naruto miliki, ia bisa memisahkan jiwa dari fisiknya. Terlihat sebuah hantu hitam mirip Naruto yang melayang di depannya, sedangkan tubuh aslinya tetap diam memejamkan mata.

—Mungkin ini juga salah satu kelemahan sihir ini, tidak bisa menggerakan tubuh asli saat digunakan.

Namun ini lebih cukup mengatasi beberapa ratus pasukan monster di depannya. Hantu Naruto pun melesat cepat, hanya sesaat Naruto telah muncul kembali ratusan meter jauhnya.

Dunia memiliki batasnya sendiri, begitu pun fisik dan jiwa. Serangan fisik tak akan mampu melukai jiwa, meski separah apapun luka fisik yang diterima. Begitu pun jiwa, yang hanya mampu melukai jiwa seseorang.

Jiwa Naruto terlihat menciptakan sesuatu di tangan kanannya, berbentuk pedang, namun sewarna dengan tubuhnya, ini temasuk menestifasi dari energi jiwa Naruto sendiri.

Slash!

Pasukan berkuda itu langsung berhenti bergerak setelah badai gelap menghantam mereka, badai dari hasil ayunan pedang jiwa Naruto.

Semua makhluk yang diterpa badai langsung mati ditempat, lebih tepatnya jiwa mereka terkoyak di hantam badai. Naruto langsung membatalkan sihirnya, sudut bibirnya terlihat mengeluarkan darah, beban mental yang diterima saat menggunakan jiwa masih belum sanggup di tanggung fisik lemahnya.

Namun meskipun begitu serangan seperti ini lebih menguntungkannya daripada berhadapan langsung dengan ratusan pasukan.

Naruto tersenyum puas, perkembangannya ratusan kali lebih cepat dibandingkan di dunia shinobi. Kemudian Naruto menghampiri mayat monster yang jatuh tergeletak di tanah, mereka mati dengan mata terbuka.

Naruto kemudian menyerap energi jiwa yang tersisa dari mereka ke dalam lautan jiwanya, memperkuat jiwa Naruto sekali lagi. Beberapa jiwa yang di serap Naruto memiliki informasi yang tertinggal dalam ingatan mereka, dari sanalah Naruto mengetahui rasa vampire berperang dengan werewolf.

"Hm? Perang ini sedikit menarik," Naruto bergumam, memikirkan kembali pasukan kerajaan werewolf memiliki selusin ras monster diantara mereka. Dan menurut informasi yang Naruto dapatkan, tak jauh dari desa Fleur ada satu devisi pasukan elit kerajaan werewolf mendirikan perkemahan.

—Pasukan itu dipimpin oleh seorang gadis yang berasal dari Night Elf.

Diantara sembilan element utama, juga memiliki pecahan yang lebih kecil dari element tersebut. Seperti elemen kegelapan yang nantinya bisa digunakan menjadi Magic Shadow, Magic Undead, Magic Ghost, dan masih banyak sihir lainnya.

Berhubung jika ia ingin meningkatkan efesiensi elemen kegelapan nya ia harus mendapatkan sebuah sumber kegelapan. Seperti Night Elf, jika Naruto berhasil merebut primordial yin perawan gadis Night Elf tersebut itu akan mempersingkat waktunya.

"Hehehe, aku akan menjemputmu wahai gadis manis." Naruto menyeringai, jiwanya memang bukanlah jiwa anak muda yang masih kuat untuk bersenang-senang, tapi ia memiliki jiwa tua yang licik.

—Segalanya boleh dilakukan asalkan mencapai puncak.

Naruto berdiam diri ditengah mayat monster tersebut selama beberapa menit, sebelum berhasil menyerap semua energi jiwa para monster. Setelah selesai dengan semua urusannya, Naruto pun kembali ke desa Fleur untuk menjemput Yoshino.

"Tuan, anda baik-baik saja?" Tanya Yoshino dengan raut cemas, Naruto hanya menyunggingkan senyum sambil melambaikan tangan. "Tak perlu mengkhawatirkanku-!"

"-Saat ini perang telah pecah antara vampir dan werewolf, kita akan terseret cepat atau lambat jika masih berada di wilayah kedua ras ini." Lanjut Naruto. Setelah pemikiran mendalam, ia juga tak mungkin menyusup ke perkemahan sepasukan elit dengan membawa Yoshino, dan meninggalkan gadis tersebut di situasi ini juga berbahaya bagi gadis tersebut.

"Aku juga memiliki suatu kepentingan, jadi aku akan bergabung dalam perang tapi hanya sebagai pencuri keuntungan. Lalu bagaimana denganmu?"

Yoshino terlihat berpikir, ini bukan pertama kali Naruto mengambil keuntungan dari sebuah bencana, biasanya siapapun akan menderita jika perang meletus, namun Naruto melihat celah keuntungan di baliknya.

"Apakah aku boleh ikut?" Tanya Yoshino dengan nada ragu, tentu ia akan menjadi penghambat Naruto.

"Boleh-! Tapi hati-hatilah, aku tak akan segan menjadikanmu umpan meriam jika kau menjadi penghalangku!"

—Dan Yoshino pun memasang wajah cemberut saat mendengar perkataan Naruto, ia kira Naruto telah lebih perduli padanya setelah beberapa hari tinggal bersama.

Ia tak menyangka sekali lagi penilaiannya salah. "Bagaimana tuan bisa tega menjadikan gadis imut sepertiku sebagai umpan?"

Naruto hanya mengangkat bahu cuek, sebelum melangkah kembali ke arah luar desa.


"Lapor Jendral-!" Seorang pria berkulit cokelat, telinga lancip menghadap pada seorang gadis yang memiliki ciri sama. "Unit pengintai menemukan pasukan vampir bersama yokai sedang menuju ke arah kita!"

Gadis itu cemberut setelah mendengarnya, diantara unit elit kerajaan werewolf pasukannya lah yang memiliki kemampuan menyelinap dan bersembunyi terbaik, ia cukup yakin tak akan mudah menemukan mereka.

"Apakah ada penghianat diantara kita?" Gadis tersebut bergumam. Ia mulai memikirkan rencana untuk melakukan serangan menyelinap, biar bagaimanapun mereka tidak berspesialisasi dalam konfrontasi langsung.

—Pasukannya terdiri dari ratusan pemanah handal dan assasin kelas tinggi.


"Tuan, kenapa kita datang ke sini?" Naruto membawa dirinya kembali ke gua yang Yoshino yakini tempat pertemuan pertamanya dengan Naruto. Pemuda itu baru saja mengatakan akan bergabung ke dalam perang, tapi ia merasa mereka kemari untuk bersembunyi.

"Dalam perang, kita harus memiliki sebuah markas untuk menyusun startegi bukan-? Inilah tempat yang cocok!" Nada Naruto terdengar datar seperti biasa.

"Strategi?" Yoshino bergumam heran, ia merasa Naruto bukanlah tipe yang mementingkan strategi karena ia kuat.

"Ya-! Dan strategi pertama adalah menyembunyikan mu di sini, aku masih ingin memiliki teman seperjalanan, jadi aku tak mau kau mati begitu cepat,"

Yoshino menatap Naruto dengan mata melebar, pemuda itu memalingkan wajah saat tatapan mereka bertemu. Gadis kecil itu tersenyum saat melihatnya, "Benarkah hanya itu? Tak ada maksud lain kan?"

Naruto terlihat acuh, tapi Yoshino melihat setitik kegugupan di sapphire biru tersebut. "Baik-baik saja kalau begitu."

Naruto melihat Yoshino tertawa kecil sambil berjalan ke arah mulut gua. Ia hanya menyunggingkan senyum tipis melihat kepergian Yoshino.

"Aku akan melindungi gua ini dengan sihir ilusi..."