Online Ticket
Disclaimer: DMM.
Warning: OOC, typo, gaje parah, humor garing, dll.
Author tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfic ini. Semata-mata dibuat demi kesenangan pribadi, dan untuk event FFA bulan Oktober dengan tema "online shop".
Pada suatu hari Minggu yang tidak lagi mengambang seperti Senin, Akutagawa Ryuunosuke dan gawai di tangannya yang menanti seseorang kini sama-sama limbung, memperjelas yang datang dengan cepatnya itu, tetapi lebih cepat lagi dalam memiliki hati mereka.
Bahkan Akutagawa sudah merasa akrab dengan jarak, apalagi ketika ia mendekat dan bola matanya menyimpan kenang-kenangan, mengenai Masao Kume yang mengenakan pakaian kasual. Gawai yang salah tingkah bersamanya itu Akutagawa simpan agar tak terpeleset lagi. Untuk pertama kalinya Akutagawa berpikir ia membutuhkan fungsi kamera. Apalagi kalau bukan mengabadikan momennya bersama Kume?
"Akutagawa-kun menunggu lama?"
Lebih lama menunggu Kume menjadi satu-satunya, seharusnya. Pemikiran itu membuat Akutagawa melengkungkan senyum. Menggeleng pelan, sebelum menjawab menggunakan kata-kata.
"Aku juga baru tiba, kok." Setengah jam yang lalu sebenarnya Akutagawa sudah berdiri menanti Kume, tetapi ia merasa mengambang. Mengambang laiknya Senin yang tidak jelas, mengapa Akutagawa dapat memulainya dan mengakhirinya? Lalu berlanjut ke hari-hari berikutnya seolah-olah hidup tak memiliki apa-apa, kecuali nyawa Akutagawa yang masih menyala.
"Kita benar-benar menonton film horor? Kok aku merasa nyesel, ya?"
Memang selama menemani Akutagawa membelinya melalui sebuah situs, sampai berdebat dengan hangat mengenai kursi manakah yang akan mereka pilih, Kume merasa senang. Namun, sulit dipungkiri juga ia terus-menerus mengulangi bimbang lalu menyetujui saja. Firasatnya buruk. Perutnya mual-mual, tetapi sayup-sayup melihat Akutagawa nyaris menjatuhkan gawainya di kejauhan, Kume berpikir itu lucu. Ia agak melupakan penyesalannya, mungkin.
"Tiketnya sudah dibeli, lho. Kita membelinya bersama-sama malah."
Menggunakan laptop Kikuchi Kan yang sekaligus dimanfaatkan untuk presentasi sejarah, Kume-lah saksi pertamanya ketika Akutagawa membeli secara online. Yang pernah Kume sesalkan adalah ia terpengaruh bujuk rayu Dazai Osamu. Apa salahnya merasa ditakut-takuti hantu? Itu adalah hak semua manusia termasuk siswa kelas tiga SMA juga, akan tetapi Kume pun paling sadar bukan Dazai yang mengatainya cemen yang akhirnya membuat Kume setuju.
"Ayo masuk. Kamu pasti baik-baik saja, kok."
Jari-jari Kume hangat di dalam tangan Akutagawa. Langkah mereka berlari, dan terasa ringan sekalipun hiruk dalam bioskop memabukkan. Di sini pendengaran seolah-olah melihat, sedangkan pengelihatan pun seakan-akan mendengar, dan Kume bukan kedua-duanya, semenjak ia lebih merasai genggaman Akutagawa dengan hatinya.
"Tanganmu berkeringat banget. Kepanasan?" tanya Akutagawa polos. Seharusnya Kume melepaskan jaketnya. Ketika hanya sebelah tangan Akutagawa yang terulur ingin memperhatikan Kume, sementara lainnya ternyata lengket menggenggamnya, Akutagawa tertawa kikuk karena sungguh; ia tidak sadar.
Pagutan dilepas dengan canggung, dan Akutagawa diselimuti kekagetan yang penuh. Setelah duduk keduanya saling mengalihkan pandang. Tatapan Kume lari ke arah sepasang kekasih yang mesranya malu-malu. Kume justru berakhir dengan menundukkan muka, sebab melihatnya mengingatkan ia kepada Akutagawa dan dirinya sendiri–mirip-mirip, bukan?
"Film-nya mau dimulai, Kume." Suara Akutagawa berbisik. Kume agak tersentak gara-gara tadi melamun. Buru-buru menghadap layar bioskop yang memulai hitungan mundur.
Durasinya dua jam. Selama itulah Kume akan mencoba fokus, daripada memikirkan Akutagawa yang tepat di sampingnya. Kekhasannya belum menguar. Malah cenderung monoton ketika film berbaur dengan suasana bioskop yang sepi, meski Kume sadar bukan berarti pikirannya boleh melayang-layang–mendadak ia terkenang akan kalimat Dazai yang membawanya ke sini.
"Kalau nonton film horor bisa bermesraan sama Akutagawa-san, lho."
Bermesraan, katanya. Kume mendadak menghela napas. Bertanya-tanya sendiri, apa yang diharapkannya dari kalimat Dazai saat mendengarnya? Benarkah dia ingin bercinta-cintaan sehingga menyetujui ide film horor?
Mereka adalah teman yang kebetulan ber-alur serupa. Sama-sama menggubah cerita, berimajinasi, juga bahagia sekali sewaktu merumitkan diri dengan memilah dan menentukan diksi. Selama ini Kume hanya berpikir, ia senang menghabiskan hari-harinya bersama Akutagawa serta Kan. Sudah tak mengambang lagi. Sebuah hari tidak tahu-tahu berlalu lantas berganti, tanpa Kume ingat seperti apa rupa dari hari yang ia lalui.
(Di mana Akutagawa juga menjabarkannya dengan kalimat, "Tidak mengambang lagi". Namun, tanpa Kume ketahui Akutagawa sudah memperjelasnya, dengan melukis nama Kume setiap membawa idiom tersebut.).
Katakanlah, baik hati maupun akal milik Kume memang tidak pernah memerinci tentang Akutagawa, tetapi ternyata Kume mempunyai mata yang lebih peka dan tahu banyak cara, agar yang samar tak terhempas dan justru menjadi jelas. Kume menengok ke arah Akutagawa. Ia merasa menyukai wajah samping Akutagawa yang selalu teduh, walau kali ini ada kejanggalan yang bikin dahi mengernyit.
"Kok dia senyum-senyum gitu, sih?" batin Kume mati keheranan. Banyak teriakan yang hilir mudik. Tidak salah lagi yang keduanya tonton memang film horor, bukan komedi atau tengah terjadi sesuatu yang menggelikan.
Di adegan pembantaian massal Akutagawa tersenyum. Selanjutnya pula saat tokoh utamanya memenggal adik perempuannya–jujur saja Kume tak mengetahui posisi-posisi mereka, sehingga asal menamai–senyuman Akutagawa tetap belum luntur. Malah makin lebar tatkala menemukan skenario organ dalamnya dimakan mentah-mentah. Seketika Kume bergidik. Naasnya lagi telanjur ditemukan Akutagawa yang masih tersenyum.
"Filmnya seru, ya." Lagi-lagi terdengar polos. Padahal dalam hati Kume sudah memekik, "TERNYATA AKUTAGAWA-KUN PSIKOPAT!". Siapa menyangka inilah bagian dalam diri Akutagawa yang tak Kume ketahui.
Sementara sebenarnya Akutagawa tersenyum seperti ini, sebab ia dinasihati Dazai–S3 dalam menggait wanita, dimiliki atau enggak urusan belakangan–agar selalu terlihat keren di hadapan Kume.
"A–"
"Keren banget!"
Kira-kira begitulah cuplikannya. Maksud Akutagawa adalah, apakah jika tersenyum ia keren? Siapa tahu Dazai bisa telepati dan mengerti maksud Akutagawa, bukan? Akutagawa pun melatih senyumannya seminggu penuh, sampai-sampai orang tuanya berpikir anak mereka tertukar dengan orang gila di pinggir jalan.
Jadilah apa pun adegannya, Akutagawa akan tersenyum dengan membayangkan gambaran-gambaran menyenangkan.
Misalnya, Kume salah baca ketika presentasi sejarah tiga hari lalu, yakni pukul dua lewat lima belas menit. Kume mencetak gol di pelajaran olahraga tiga minggu lalu, tanggal lima November di hari Kamis, pukul sepuluh pagi di lima belas menit terakhir sebelum pertandingan usai. Lebih jauhnya lagi, 31 hari yang lalu Kume membawa bekal. Isinya adalah tamago, karage, tomati ceri, ditambah sekotak susu rasa stroberi yang dihabiskannya dalam delapan belas kali menyedot.
Semua sudah Akutagawa pastikan, kecuali kapan Kume buang air kecil atau besar. Lagi-lagi ini adalah kata Dazai bahwa wanita senang, apabila detail tentang dirinya diingat. Tololnya memamg Akutagawa lupa, Kume masih lelaki tulen.
Rupa-rupanya tersenyum selama dua jam itu melelehkan juga, Akutagawa pikir. Kursi di sampingnya masih kosong. Barusan memang Kume izin ke toilet, dan Akutagawa sempat menawarkan diri untuk menemaninya, tetapi ditolak mentah-mentah.
"Jangan-jangan Kume lupa toilet bukan milik nenek moyangnya."
Makanya Kume berlama-lama di sana, dan ia sedang mengobrol dengan nenek moyangnya. Namun, saat dicek ke toilet laki-laki, Kume tidak berada di mana pun. Mendapati satu-satunya yang menganggur hanya Akutagawa seorang, akhirnya ia memutuskan bertanya kepada om-om yang tengah buang air kecil di urinoar.
"Permisi, Om. Lihat Kume enggak?" Bahu kekarnya ditepuk lembut. Gara-gara kebanyakan tersenyum, datarnya Akutagawa mungkin tampak seperti mengajak ribut seseorang, sehingga
"Hah?! Ngapain nanya ke saya? Emangnya saya tahu apa?"
"Biar enggak menganggur aja, Om. Saya emang nyari Kume tapi."
"Yaudah. Kume siapa?"
"Calon pacar saya." Yang ditanya diam. Akutagawa juga hening seribu bahasa. Setelah ini Akutagawa memang berniat menembaknya. Kena tolak pun Akutagawa tetap menyebut Kume calon kekasihnya, karena perasaannya tanpa batas dan ia akan menyatakannya berkali-kali.
"Ciri-cirinya gimana maksudnya?"
"Imut dan cantik. Lagi kelilipan aja kayak sleeping beauty." Om kembali membisu memikirkan jawaban Akutagawa. Sepertinya ada yang salah. Mereka berpandangan sampai si Om lupa, ia tengah buang air kecil.
"Di toilet cowok mana ada yang cantik, goblok?! Anak zaman sekarang stres amat."
Pertanyaan Akutagawa berhenti diladeni. Selama pemuda berambut panjang itu sibuk mencari-cari Kume, yang dicemaskan malah curhat ke Kan bahwa Akutagawa psikopat. Kan geleng-geleng saja mendengarnya. Pasti Dazai mengatakan yang aneh-aneh pada Akutagawa, jadinya acakadut begini.
Tamat.
A/N: Pertama-tama dan yang terakhir aku minta maaf karena kume sama aktgw-nya OOC, terus belanja onlennya ga berasa pasti. aku tadi udah ngetik author note p x l, tapi ga ke save gegara inetnya eror. jadi aku gak mau nulis lagi. thx buat yang udah baca, fav, follow, review, atau numpang lewat doang. mari bertemu di kegajean selanjutnya.
