HAPPY READING

Seharusnya malam ini sepi, seharusnya dia tak perlu kembali. Ini menggangguku... mengganggu kedamaian hatiku.

"Yak! Kim Taehyung! Neo eodisseo? Yak!"

Benar. Meski sudah menikah, dirinya sama sekali tak menganggapku sebagai salah satu Jeon di sini. Padahal, kalau saja dia tahu, dia telah menghamiliku. Peristiwa yang terlalu cepat itu terjadi tiga bulan yang lalu. Saat seorang bintang kampus menjadi topik hangat di sekolah.

Benar. Berita tentang kami yang berhubungan intim. Dalam berita itu, namaku tentu tercoreng, tapi tak separah embel-embel yang diberikan padanya, si pencabul. Aku tahu kami sama-sama satu gender, tapi entah kenapa, malam itu, saat pesta berubah menjadi liar, dia yang notabene sainganku dalam mendapatkan tawaran model kampus menjadi tak terkendali.

Aku hanya anak seorang petani di Daegu, sedangkan dia anak seorang jutawan di Busan. Kenapa dia harus melakukan semua itu padaku? Aku ke Seoul untuk mengejar cita-citaku menjadi dokter dan aku mengikuti seleksi serta menjadi saingan modelnya hanya demi mendapatkan uang tambahan. Aku kuliah di sana bukan karena uang orang tuaku, melainkan beasiswa. Harusnya akulah yang pantas marah di sini. Namun, dia seolah satu-satunya orang yang paling hancur. Dia buta, dia tak tahu aku hamil. Dia tak tahu bahwa aku punya kelainan sejak lahir. Dia tak tahu... aku benci dirinya, tapi bayiku tak bisa berpihak padaku.

"Di sini kau rupanya. Tamparanku semalam membuatmu bisu ya?"

Aku diam. Bagaimana bisa aku menjawabnya kalau dia mencengkeram dagu dan mulutku dengan tangan kekarnya? Aku hanya lelaki lemah yang selalu tak stabil kondisinya. Aku benci laki-laki ini.

"Jawab, sialan!"

Ugh, perutku rasanya tidak karuan. Aku harus segera melepaskan cengkeramannya kalau tidak aku bisa muntah dan membuatnya semakin murka. Aku masih sayang nyawaku.

Orang tuaku tahu aku di sini, tinggal bersama lelaki ini, lelaki yang bersikeras menolakku yang telah ditidurinya. Aku tak ingat jelas, yang pasti, dia begitu kasar seolah melampiaskan segala kekalahannya padaku. Ya, aku yang seharusnya menjadi model kampus, tapi semua hancur gara-gara si Jeon ini. Alhasil kami berdua gagal karena berita itu menguar, enatah dari mana datangnya. Yang jelas, sebagian besar orang menganggap Jeongguk sebagai orang tak beradab, dan sedikit yang menganggapku jalangnya. Sedikit orang itu adalah penggemar Jeongguk di kampus tentunya.

Aku terkulai lemas, berkali-kali aku berusaha memuntahkan sesuatu tapi tak kunjung keluar. Hanya sesekali lendir putih. Ini sungguh menyiksa. Perutku sama sekali tak membaik bahkan ketika aku sudah mencoba mengeluarkan apa yang kurasa tak enak dalam perutku.

"Yak! Kim! Berani sekali kau menepis tanganku. Kurang ya tamparanku semalam? Kau-"

Aku melihatnya tertegun di ambang pintu. Aku tak peduli. Aku hanya ingin berbaring, aku rindu kasur tipisku di Daegu. Aku rindu ayah dan ibu. Kenapa aku begini? Kenapa aku harus mengalami hal buruk begini? Aku tak diinginkan, lalu untuk apa aku ada di sini?

"Aku ingin tidur, bisakah aku mendapatkannya malam ini, Jeongguk-ssi?"

Pagi yang damai. Selalu hanya di pagi hari. Jangan tanya kenapa, itu karena dia masih harus ke kampus dan menyelesaikan kuliahnya. Meski ayahnya murka, beliau tahu bahwa ia masih membutuhkan seorang penerus dan Jeongguk adalah anak satu-satunya. Jadi, beliau memberikan keringanan untuknya.

Saat pesta pernikahan itu terjadi tak ada satupun yang bahagia. Tidak aku maupun keluargaku. Kenapa? Karena ini adalah aib. Menikah dengan orang kaya tidak akan menghapus aib itu sendiri. Itu sebabnya aku ada di sini bersamanya. Orang tuaku tak mau menerimaku di sana, setidaknya dalam waktu dekat. Jujur, aku merasa sakit, tapi inilah yang memang seharusnya terjadi.

Berbeda dengan orang tuaku. Orang tua Jeongguk pastinya murka, tapi entah kenapa mereka menerimaku dengan baik. Tak ada sahutan atau teriakan yang tertuju ke arahku bahkan saat pertama kali aku menginjakkan kaki di mansion super megah keluarga itu. Aku disambut sangat hangat di sana. Kalau saja boleh memilih, aku benar-benar ingin tinggal bersama mereka di mansion itu. Bukan bersama makhluk super keji ini di sini.

Aku melongok ke arah dapur dan berjalan mendekat ke arah meja kecil di sudut ruangan. Aku menemukan sebuah note kecil yang ditempel pada klip obat. Jeongguk peduli padaku? Oh my, apa kepalanya terbentur sesuatu tadi pagi?

"Kenapa dia tidak memberiku alpukat saja? Itu jauh lebih baik daripada obat ini."

Tak sadar aku menarik sudut bibirku. Walaupun aku belum lulus, tapi aku tahu betul kandungan pirodixin yang ada pada alpukat mampu membuat mualku lebih baik. Kenapa juga dia memberikanku obat begini? Aku 'kan sedang hamil. Oh, aku lupa. Dia tidak tahu menahu soal ini.

Aku mengambil obat itu dan menyimpannya di lemari bajuku. Setidaknya aku tak mau dia melihat obat itu sama sekali tak kusentuh. Bisa babak belur lagi aku nanti malam.

Ponselku berdenting. Ah, Jimin. Lelaki itu mengajakku keluar mencari sesuatu. Sekalian saja, aku juga mau membeli buah. Bayi ini ingin sekali memakan banyak makanan sehat yang bergizi.

Aku bersiap dan berjalan keluar ke arah di mana halte terdekat berada. Aku tidak perlu menghampiri Jimin karena aku tahu Jimin akan lebih dulu menghampiriku. Benar saja, dia sudah berhenti di depanku dengan mobilnya yang menarik perhatian banyak orang sekitar. Ini hal biasa, anak-anak di fakultas kedokteranku memang sekaya ini.

"Hey, apa kabar Tae? Dua bulan tak bertemu kau agak sedikit berisi."

Aku tertegun sejenak. Jimin menyadari perubahanku. Aku mencoba tenang dan menatapnya dengan senyuman. "Kau juga lebih berisi, Jiminie..."

Jimin tertawa, matanya masih fokus ke jalanan yang lengang di depan sana. "Kau, bagaimana hidupmu dengan playboy sialan itu?"

Aku tahu Jimin kesal sekali. Lihat saja, cengkeraman pada setirnya semakin menguat. Aku mengalihkan arah pandangku menuju luar dan sedikit menurunkan kaca mobilnya. Aku butuh udara segar.

"Si playboy sialan itu suamiku sekarang, Jim."

"Ah, aku tak peduli soal fakta itu. Bagaimana kau menjalani hidupmu selama dua bulan terakhir bersamanya, TaeTae?"

Aku mendesah. Jimin masih memanggilku begitu padahal aku ini sudah jadi milik orang lain. Aku akui aku membenci fakta pernikahanku dengan Jeongguk, tapi aku adalah pasangan lelaki itu sekarang.

"Hilangkan panggilan itu, Jim. Kalau Jeongguk dengar bisa habis kita berdua."

Jimin mengernyit. Aku melihatnya dari rear vision itu dengan jelas. Sebentar lagi pasti Jimin akan bertanya sesuatu yang membuatku bungkam. Pasti. Aku yakin itu.

"Tae, kau tak bahagia bersamanya. Aku tahu itu. Pernikahan itu hanya sebuah kemuflase agar nama baik mereka tetap terjaga."

Salah, Jimin tak bertanya melainkan menyatakan pendapat yang benar adanya. Aku memang benci Jeongguk, tapi aku tak tahu kenapa aku tak suka seorang pun menjelekkan dirinya dan keluarganya. Ini pasti pengaruh bayi ini. Sekarang, aku merasa hilang pijakan.

"Si cabul itu sudah gila. Kalau aku ada di sana, aku akan menghajar si sialan itu sampai mati kalau perlu. Dia menyakitimu, Tae. Aku benarkan? Kau pasti disiksa olehnya di rumah itu. Laki-laki itu tak punya perasaan padamu. Si breng-"

"Diamlah, Jim. Atau aku tak jadi menemanimu membeli kado untuk Park eommoni."

Jimin diam. Aku rasa aku lebih sensitif sekarang. Maaf, Jim. Aku rasa aku mulai jatuh. Ini bukan mauku. Ini mau calon anakku. Maaf sekali lagi, Jiminie.

Peristiwa lusa lalu ternyata diketahui Jeongguk. Ia melihatku dan Jimin di mall. Aku tak tahu kenapa dia begitu marah. Aku seolah melihat kilatan api di matanya. Aku takut. Saat ini aku lebih takut dari waktu-waktu yang telah berlalu.

"Berani kau pergi keluar dengan lelaki lain. Dasar kau jalang! Tak cukupkah kau membuatku malu? Sekarang kau berulah lagi. Lihat, kau membuat namaku disebut-sebut oleh rekan ayahku!"

Aku meringkuk, memeluk lututku. Jeongguk baru saja menendang punggungku begitu saja. Sebelumnya ia mendorongku hingga aku tersungkur. Padahal dorongannya tak keras, entah kenapa aku menjadi lemah begini. Bibirku hanya mampu merapalkan kata maaf berulang kali.

"Arrgh! Sialan. Kenapa aku harus berakhir di sini bersamamu? Masa depanku masih panjang, masa mudaku masih perlu kunikmati lebih lama. Kau merusak segalanya, kau tahu itu, Kim!"

Kim, Kim, dan Kim. Aku ini Jeon Taehyung sekarang. Setidaknya akui aku sebatas nama, Jeongguk. Itu menyakitkan. Tidak, bukan untukku, tapi untuk bayi kita, itu menyakitinya.

Detak jantungku tak karuan sekarang dan nafasku memburu begitu melihatnya mendekat sambil melepaskan ikat pinggangnya. Aku takut dipukul dan disabet dengan sabuk itu. Biasanya Jeongguk akan puas setelah melihatku tak berdaya seperti ini. Penuh lebam di tubuh, luka di sudut bibir, dan lelehan air mata. Tapi, kenapa saat mataku yang bengkak ini menatapnya, dia tak berhenti juga?

"Aku mohon, Jeongguk-ssi, jangan mencambukku dengan sabukmu lagi..."

Aku memohon, mencoba meminta belas kasih padanya. Dengan napas tersendat, aku terus memohon padanya. Aku tak tahu apa yang membuatnya semarah itu padaku. Aku merasa tak ada yang salah. Aku sudah memberi kabar lewat note yang sengaja kutempel di depan pintu. Dia pasti membacanya. Tapi kenapa dia semarah itu? Apa benar hanya karena aku membuat namanya tercoreng? Bukan karena Park Jimin? Ah, tubuhku semakin berguncang hebat. Maafkan eomma, sayang. Appa mu tak akan cemburu karena itu. Maaf...

"Hey, buka matamu. Apa kau sudah tidur bersama Park Jimin, kekasihmu itu? Kau pasti memanfaatkan malam kemarin dengan baik karena aku tak pulang ke rumah lagi."

"A- apa katamu? Aku tidak sehina itu, Jeon!"

Refleks aku berteriak tepat di hadapan wajahnya. Aku terkejut. Dengan cepat aku membungkam mulutku. Aku tidak berniat mengatakannya sambil berteriak ke arahnya.

Aku melihat pandangan itu sangat kelam. Ia mencengkeram daguku dengan kuat kemudian tersenyum. Senyuman yang membuatku sangat terusik karenanya. Benar saja. Detik selanjutnya ia memciumku dengan kasar.

"Aneh. Rasa ciumanmu masih sama seperti saat pertama kali aku menciummu. Lumayan untuk jalang sepertimu yang kemarin sudah main di belakangku, Kim."

Aku hanya pernah ditiduri olehmu sekali. Bukan dengan orang lain sekalipun Jimin, mantan kekasihku. Sudah pasti hanya ada rasa bibirku dan bibirmu saja di sini. Dasar idiot. Aku sepertinya mulai mencintaimu. Gila.

"Ah, aku ingin melihat dan merasakan bagian lainnya. Mana tahu rasanya jadi berbeda."

Deg. Jeongguk adalah orang yang tak suka berbasa basi. Aku tahu betul maksud dari ucapannya adalah bercinta. Aku tak mau. Dia hanya ingin menyakitiku. Jeon sialan ini hanya bahagia dengan membuatku tersiksa. Aku harus pergi. Harus.

Aku mengumpulkan tenaga sebisa mungkin dalam waktu yang singkat. Aku melihat Jeongguk sedikit lengah, lalu aku tendang perutnya menggunakan lututku dan aku langsung bangkit dan berlari ke arah pintu kamar, mencoba menggapai tuasnya. Namun, tak sempat. Jeongguk lebih dulu menarik lenganku dan membantingku ke lantai beralaskan karpet.

"Jalang ini sudah banyak tingkah rupanya. Mau kuikat di ranjang ya?"

"Tidak. Jangan, Jeongguk..."

"Buja bajumu dan juga celanamu."

Titahnya harus kupatuhi. Jadi, dengan enggan aku melepaskannya perlahan. Tak ada lagi air mata. Aku hanya lelah dan semakin takut. Tatapannya seperti memburuku. Aku takut kalau aku melawan lagi, ia akan melukai calon anakku di sini.

"Cepatlah Jeon Taehyung! Suamimu ini tak suka menunggu."

Jeongguk menarik paksa atasan dan bawahan yang kupakai. Ia melihat dan memeriksa semuanya. Mungkin dia mencari-cari kissmark atau sesuatu yang ia ingin limpahkan padaku.

"Well, well. Kau bersih. Hanya ada bekas lebam saja. Yah, itu lebih baik daripada kissmark dari lelaki lain. Ah, kuperingatkan padamu. Jangan berulah lagi. Kalau aku mengetahuinya, matilah kalian."

Dua hari berlalu. Tubuhku masih tak bisa leluasa bergerak. Aku masih di atas karpet omong-omong. Bukan tidak bisa bergerak sama sekali. Aku bahkan masih bisa berjalan, tapi hanya untuk sebentar, seperti ke kamar mandi. Setelahnya aku hanya merebahkan diri lagi di atas karpet. Aku suka di sini ketimbang di atas kasur itu.

Sakit karena lebam tempo hari sangat dahsyat, terlebih lagi lebam-lebam dari perlakuan Jeongguk terdahulu juga masih belum hilang. Badan mulusku benar-benar kacau.

Aku benar-benar lapar. Lebih baik aku makan buah yang kubeli lusa lalu dengan Jimin. Aku menyetok lumayan banyak. Alpukat pastilah segar.

Aku berjalan dengan kaki yang masih harus kuseret. Aku mengambil 5 alpukat dari dalam kulkas. Aku tak tahu kalau ini sudah malam. Dan ya, Jeongguk masih tak terlihat. Mungkin dia disuruh ayahnya untuk membantu menyelesaikan urusan di kantor. Beliau dulu pernah bilang kalau Jeongguk tak pulang, itu artinya dia harus membantunya di kantor. Sekalian belajar mengelola usahanya, begitu kata beliau.

"Ah, enaknya alpukat ini... Aegi pasti suka sekali ini, 'kan? Makanlah yang banyak lewat eomma mu ini."

Aku menghabiskan 5 alpukat sekaligus. Alpukatnya besar-besar dan enak sekali. Aku menyukainya, sangat.

Aku melirik jam. Sudah hampir pukul 1 dini hari. Jeongguk mungkin akan pulang besok. Saat ini, aku harusnya bersyukur, 'kan? Karena dia tak akan menyakitiku malam ini. Tapi rasanya kenapa sedih begini ya? Aku merasa merindukan lelaki itu, suamiku.

Oh? Itu suara mobilnya. Dia sudah pulang. Aku akan membuka pintu kalau begitu. Aku berjalan ke arah pintu dan membukanya. Aku terkejut bukan main. Tidak, bukan karena Jeongguk luka atau apa. Dia bahkan baik-baik saja. Sangat baik, mungkin?

Aku melihat perempuan berpakaian minim dan sangat menggoda itu di sisi kiri suamiku. Aku menggeram. Aku kesal melihat hal itu. Mereka berjalan ke arahku dengan santai. Mata perempuan itu menatapku dengan sinis, gayanya saat melewatiku juga sangat pongah. Jeongguk juga sama saja, dia melewatiku seolah aku tak terlihat. Aku berusaha tak mempedulikannya. Aku hanya menutup pintu dengan perlahan.

Aku berbalik. Aku terkejut melihat Jeongguk mencium perempuan itu dengan sangat menuntut. Tangannya bergerilya ke mana-mana. Ciuman itu berpindah hingga ke dada si perempuan. Aku mendengar desahannya. Itu menyayat hatiku, Jeongguk. Kau menyayat hati kami.

"Oh, chagi. A room, please. Aku tak mau jalangmu melihat tubuh sintalku. Hanya kau saja, oke?"

Aku menatap Jeongguk dengan pandangan terluka. Aku berharap hatinya tergerak dan membatalkan kegiatan itu. Namun, aku salah. Ia malah menyeringai kearahku dan menggendong gadis itu ala koala sembari melanjutkan ciumannya. Ah, Taehyung. Kau ini bodoh atau apa? Aegi, maafkan eommma, ne?

Hari ini aku keluar rumah pagi sekali. Aku tak mau melihat dua sejoli itu menebar kemesraan di hadapanku. Aku mengunci pintu kamarku dan pergi dari rumah dan mengunjungi psikiater. Aku perlu beberapa obat tidur atau mungkin anti depresan.

"Pagi, Kim Taehyung. Bisa paparkan keluhanmu padaku?"

"Dokter. Bisa tidak kalau aku langsung meminta lexapro saja? Ah, pasti tidak bisa... Begini dok, sudah beberapa hari terakhir aku kesulitan tidur dan juga pikiranku cenderung berpindah-pindah tak sesuai porsinya. Maksudku, kadang aku memikirkan hal senang saat aku sedih dan sebaliknya. Aku juga tak bisa berpikir secara jernih di saat-saat tertentu. Aku merasa sangat tertekan, dok. Kepalaku terasa mau pecah. Aku tak bisa menahannya lagi."

"Seharusnya kau pergi ke dokter umum dulu, Tae. Lihat, kau banyak sekali lebam."

"Bagaimana kau-"

Ah, aku lupa. Aku melepas sweater ku tanpa sadar tadi. Dasar bodoh.

"Sebenarnya ada apa, Tae? Kau bisa cerita padaku. Rahasiamu aman. Aku tak akan bercerita pada Paman Kim."

"Tidak hyeong. Oh, ayolah. Berikan saja aku lexapro. Aku sudah bercerita padamu. Aku rasa itu cukup untuk menjadi alasan memberikanku anti depresan."

"Ya, ya. Biar kuperiksa dulu oke."

Aku merebahkan diri. Dokter ini adalah sepupuku, Kim Namjoon namanya. Sejujurnya dialah yang menjadi inspirasiku untuk menjadi dokter juga. Aku mengaguminya. Gelar itu terdengar keren ditelingaku.

"Tekanan darahmu rendah, Tae. Apa kau sering pusing?"

"Ya. Beberapa kali."

"Kau sedang hamil, 'kan?"

"Ah, itu..."

"Aku tak bisa memberikanmu lexapro, Tae. Itu tak baik untuk janinmu. Kau pasti tahu itu, kan?"

Aku mendesah. Aku tahu itu. Kenapa juga harus sepupuku ini yang bertugas? Aku jadi tak bisa berbohong begini. Oh, iya. Benar. Tidak ada yang tahu kalau aku hamil. Mereka hanya tahu dan mendengar kabar tentang video itu saja, 'kan?

"Hyeong salah. Aku sama sekali tidak hamil. Jeongguk memang meniduriku tapi aku tidak hamil sama sekali."

"Apa kau yakin? Kau tidak sedang berusaha membohongiku 'kan, Tae?"

Aku mengangguk dengan mantap. Aku perlu anti depresan itu kalau-kalau aku memerlukannya. Sepupuku itu mendesah dan menggoreskan tintanya di atas selembar kertas putih. Sepertinya aku harus beli di apotek besar di luar sana karena sepupuku memberikanku resep luar. Satu lagi, ada vitamin untuk kehamilan juga di sana. Ya ampun, padahal aku bilang kalau aku tak hamil.

"Minum vitaminnya, dan gunakan obat yang satunya dengan bijak, Tae, dan cepatlah sembuh."

"Terimakasih, Joonie hyeong. Sampaikan salamku untuk Jinnie noona."

Aku menutup pintu kaca itu dan berjalan melewati beberapa pepohonan yang berjajar rapi di tepi jalan. Aku melangkahkan kakiku lebih cepat ke arah apotek besar di ujung jalan. Untung saja tak jauh. Tapi, apa itu barusan? Aku melihat Jeongguk di seberang jalan sedang menatap ke arahku. Ah, mustahil. Untuk apa dia ada di sini? Paling-paling hanya halusinasiku saja. Aku harus segera mendapatkan lexapro itu.

"Selamat pagi. Ada yang bisa kami bantu, Tuan?"

"Iya, saya mau menebus dua obat ini."

Aku menyerahkan kertas resep luar tadi pada apoteker di sana. Aku menunggu sebentar dan setelah urusanku selesai, aku pergi dari sana dan segera kembali ke rumah.

Lelah sekali. Aku berhenti dan mengeluarkan minum dari tas. Sekalian saja aku minum lexapro nya. Aku ingin sedikit mengurangi beban pikiranku yang terkadang ke mana-mana.

Aku melihat mobil Jimin melintas. Spontan, aku memanggil namanya dan mobil itu pun mundur lalu berhenti di depanku.

"Oh, hai Tae. Sedang apa kau duduk di sana? Kau sakit?"

"Ah, aku hanya membeli vitamin sekalian habis dari tempat Joonie hyeong. Biasa, Jinnie noona menitipkan sesuatu padanya untukku."

"Oh, gitu. Kau mau kuantar pulang atau bagaimana? Kau memanggilku tadi, kau tahu."

"Aku pusing dan kebetulan kau lewat. Jadi, spontan aku memanggilmu. Maaf, Jim."

"Wah, apa yang si cabul itu lakukan sebenarnya? Kenapa tak becus menjagamu begini? Untung saja aku sedang membuka kaca mobilku tadi."

Aku tersenyum. Jimin bukanlah orang yang suka merutuki seseorang. Dia pria yang lembut dan sangat baik. Mungkin Jeongguk benar-benar orang jahat di matanya. Maka dari itu, Jimin seperti ini.

"Jangan begitu-"

"Iya, iya. Dia suamimu. Aku tahu itu, tak perlu kau bilang berkali-kali aku pun tahu kau miliknya sekarang. Setidaknya dulu kau masih milikku, jadi, aku pantas marah untuk apa yang dilakukannya pada kekasihku dulu."

Aku terkekeh. Raut wajahnya menyenangkan untuk dilihat saat ini. Ah, tiba-tiba saja aku merindukan Jeongguk. Aku merindukannya, sekalipun ia selalu jahat dan berjalan menjauh dariku.

Aku mengantuk. Aku memrjamkan mata dan tenggelam dalam kedamaian pagi itu.

Aku mengerjapkan mataku. Seseorang menepuk pipiku berkali-kali sambil memanggil namaku. Suara ini tak asing di telingaku. Suara milik Park Jimin, mantan kekasihku.

"Syukurlah akhirnya kau bangun juga, Tae."

"Ah, mianhe Jiminie. Aku ketiduran. Apakah lama?"

"Sekarang pukul sembilan lewat tiga puluh empat menit dua puluh dua detik dan kita sampai di sini sekitar jam sembilan kurang sepuluh menit. Aku tak tega membangunkanmu. Kau terlihat lelah sekali, Tae."

Aku menatap Jimin dengan penuh senyuman. Aku tak mau seorangpun mengkhawatirkanku. Biarkan ini menjadi masalahku seorang. Sudah cukup aib dan masalah yang kusebabkan, tidak ada lagi tambahan masalah.

Aku menggeleng. Memberi jawaban pada Jimin yang sepertinya jawaban itu tak diinginkan olehnya. Dia perlahan menyentuh lengan atasku dan tanpa sengaja aku mengaduh. Itu membuatnya menatapku penuh selidik.

"Aku curiga sejak aku mencoba membangunkanmu tadi. Sadar atau tidak, kau mengaduh seperti itu. Tak mau cerita padaku, Tae?"

"Bicara apa sih? Aku mengaduh karena kau tiba-tiba menyentuhku. Aku hanya terkejut."

"Hey, kita sudah pacaran hampir empat tahun. Aku tahu persis kebiasaanmu. Jangan memainkan jari di pipi saat kau berbohong, Tae."

Ah! Aku dengan cepat menghentikan gerakan jariku di pipi. Jimin benar. Dia tahu segalanya tentang diriku. Lalu apa? Memaksaku bercerita bukanlah haknya.

"Pokoknya aku baik-baik saja, Park Jimin. Urusilah hidupmu sendiri. Kau perlu move on dariku. Terimakasih untuk tumpangannya. Maaf, Jimin, tapi aku benar-benar tak bisa mengatakan apa-apa yang bukan hakmu."

Aku mendesah saat melihat raut wajah Jimin yang berubah sendu. Aku tahu dia hanya mencoba peduli dan merangkulku sebagai sahabat. Aku hanya tak bisa berbagai. Ini bukan sesuatu yang harus dibagi pada orang lain. Aku tak bisa membongkarnya. Itu sama saja aku membongkar aib keluargaku sendiri.

Aku melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah. Aku tak lagi melihat barang-barang perempuan itu semalam. Mungkin Jeongguk sudah mengantarnya pulang. Sekali lagi, hatiku terasa tersayat.

Aku mendengar seseorang membuka pintu. Itu Jeongguk. Tunggu. Ada apa dengan raut wajahnya yang sedingin es itu? Apa aku membuat kesalahan lagi? Apa? Tidak mungkin dia melihatku dengan Jimin, 'kan? Tidak mungkin dia orang yang melihatku di seberang jalan tadi. Mustahil. Dia bahkan seharusnya masih belum bangun pagi tadi.

Jeongguk berjalan melewatiku dan masuk ke kamarnya. Aku mendesah. Itu berarti aku bisa bernapas lega karena dia tak akan menyakitiku hari ini. Aku melangkahkan kakiku mendekati kamarku. Sekali lagi aku bisa bernapas lega, tapi sesaat kemudian Jeongguk tiba-tiba saja kembali lagi dan menarikku hingga aku jatuh tersungkur, membuat semua yang ada dalam tasku berhamburan keluar.

"Jalang. Aku sudah peringatkan sebelumnya. Jadi, jangan salahkan aku kalau kau berakhir mengenaskan hari ini."

Suara itu dingin sekali. Itu artinya Jeongguk mengetahui aku bersama Jimin tadi. Ya Tuhan, bagaimana ini? Aku harus kabur tapi perutku sakit sekali. Saat jatuh tadi, aku tak sengaja sedikit membentur ujung meja. Aegi, bertahanlah...

Aku melihat dengan jelas, dari balik tubuhnya, Jeongguk membawa seutas tali seperti tali untuk memacu kuda agar berlari lebih cepat. Perasaanku jadi tak enak. Aku takut pecut itu melukai janinku. Bagaimana ini? Bagaimana? Jeongguk semarah ini dan aku sangat ingin pergi dari sini. Pergi ke mana pun dan tak akan pernah kembali ke penjara ini lagi. Siapapun, siapapun tolong aku. Tolong calon anakku.

Jeongguk terus maju mendekatiku dengan seringainya yang seperti iblis. Aku lagi-lagi hanya bisa menangis. Kenapa tak ada yang bisa aku lakukan selain menangis? Jimin, salahkah aku kalau berharap Jimin akan datang menolong?

Jeongguk membunyikan tali itu dengan menyabetnya ke ruangan kosong. Suaranya memekakkan telingaku. Aku menatapnya, memohon dengan sangat.

"Jangan, Jeongguk... jangan mencambukku. Aku mohon, aku bisa gila bila cambuk itu menghujam tubuhku. Kau boleh lakukan apapun, asal jangan cambuk aku. Jeongguk, aku mohon padamu..."

Aku terisak pedih di hadapannya. Aku memohon untuk sesuatu yang harusnya ia lindungi. Harusnya saat ini kami bersama-sama melindungi calon malaikat kecil kami. Aku tahu aku salah karena tak memberitahukannya perihal kehamilanku. Tapi, apakah itu akan mengubahnya? Apa itu akan membuatnya berhenti menyakitiku dan mengasihaniku? Tidak. Aku tak ingin dikasihani. Kami ingin cintanya dengan tulus.

"Ah! Sakit Jeongguk... kumohon, ini sakit sekali. Hentikan ini, Jeongguk."

Aku memohon lagi. Mulutku tak henti-hentinya meraung kesakitan saat cambuk itu berkali-kali menghantam punggungku. Aku setengah mati meringkuk, mempertahankan serta melindungi janinku. Tapi bagaimanapun juga, aku lelah. Rasa lelah itu membuat pertahananku runtuh. Dan saat di mana Jeongguk membalikkan badanku, menghadap ke langit-langit rumah, aku menangis tanpa suara. Itu pertama kalinya aku merasakan sakit yang tak bisa kutahan lagi.

Jeongguk mencambuk perutku.

Aku tahu, Jeongguk, kau membenciku hingga mendarah daging. Tapi tahukah kau bahwa rasa benciku bahkan bisa menguap begitu saja karena satu benda bernyawa yang hidup di perutku? Aku selalu memohon dengan tatapan terluka padamu. Aku berharap dengan itu hatimu akan tergerak untukku dan melihatku sedikit berbeda. Aku tahu kau terluka karena insiden pesta itu. Aku tahu kau mabuk. Tapi mabuk bukan berarti kau tak memgenaliku dan melakukan hal seperti itu padaku. Aku hanyalah anak petani miskin. Aku punya cita-cita besar, tapi karena hal itu aku tak bisa melanjutkan beasiswaku. Kau kesal? Aku juga. Kau marah? Aku lebih marah. Aku membenci takdirku. Aku membenci diriku yang berbalik mencintaimu meskipun kau sekeji itu padaku.

Kau tahu? Jimin hanyalah mantan kekasihku. Dia sangat marah padamu bahkan ingin membunuhmu saat tahu kabar itu. Kau tahu tidak apa yang kulakukan padanya agar dia bisa mengerti dan berhenti merutukimu? Aku hanya memperingatkannya agar berhenti menjelekkanmu karena kau suamiku. Aku selalu membelamu. Bahkan saat ada kesempatan bagiku untuk pergi dari sisimu, aku tak mengambilnya barang sedikitpun.

Jeon Jeongguk, aku saat ini sedang berjuang untuk bisa menggapaimu. Tapi kenapa sesulit ini? Kau selalu menyiksaku dengan alasan yang bisa kau tanyakan baik-baik. Kau tetralu cepat mengambil keputusan di tengah amarahmu. Kau buta hingga tak sadar bahwa aku sudah benar-benar jatuh pada dirimu. Apa kau saat itu balas dendam padaku? Makanya kau membawa perempuan itu ke rumah dan bercinta di hadapanku? Itu menyakitkan Jeongguk. Itu menyakiti kami.

Aku...

"Ugh."

Sentuhan di jemariku terasa begitu lembut. Aku membuka mataku dengan sangat berat. Dengan sebuah lirikan, aku melihatmu di sana, seorang Jeon Jeongguk yang sedang menggenggam jemariku. Aku belum siap bertemu dengannya. Kenapa dia ada di sini? Dan aku di mana sebenarnya?

"Tae, kau sudah sadar?"

Aku melirik ke arah lain, itu Park Jimin. Bagaimana bisa mereka berdua ada di sini, bersamaan?

"Minggir kau, Jeon sialan!"

"Siapa yang kau panggil sialan? Aku suaminya."

Lelah. Aku sama sekali tak merasa bahagia dengan pengakuan itu. Aku sudah tak mengharapkan lelaki ini lagi. Yang terpenting hanya satu. Kebahagiaanku hanyalah anak yang ada di perutku. Aku-

Eh, kenapa rasanya tubuhku tak bisa digerakkan? Semuanya berat. Ugh, aku rasanya ingin menangis saja. Tidak. Jangan cengeng, Kim Taehyung.

"Tae, kau butuh sesuatu? Katakan saja."

"Lebih baik kau panggil dokter saja."

"Bukannya itu tugasmu, pak suami?"

"Di-am... Aku ingin bicara dengan Jeon Jeongguk. Bisa tolong tinggalkan kami, Jiminie?"

Aku lihat Jimin mengangguk paham. Raut wajahnya kacau sekali. Apa semua karena keadaanku yang begitu menyedihkan ini? Apa Jeongguk ke sini juga karena merasa kasihan padaku?

"Apa kau- kau kasihan padaku? Kau merasa menyesal melakukan ini?"

"Isi catatanmu di buku yang berserakan di lantai bersama dengan obat yang kuyakini asam folat dan juga anti depresan. Ada beberapa kulit alpukat di atas meja, dan beberapa kantung plastik alpukat utuh di dalam kulkas, juga obat mual dan hasil test pack di dalam lemari. Kau hamil dan itu anakku."

Aku menghela napas perlahan. Aku ragu, apa janinku masih utuh di dalam sana setelah kau mencambuk kami waktu itu?

"Kau mencambuk kami, kau ingat? Apa anakku masih ada dalam perutku? Aku bahkan tak mengaharapkan hidup kalau bayiku tak ada lagi di sana."

"Bayi kita kuat, Tae. Dia kuat menghadapi appa nya yang jahat ini. Maafkan aku, Jeon Taehyung."

Aku terkekeh dan tersenyum mengejek padanya. "Jangan mengasihaniku, Jeon Jeongguk..."

Satu fakta yang membuatku bahagia adalah calon anakku masih ada di sana. Ya, dia benar-benar kuat. Eomma harap kau lahir utuh tanpa kekurangan apapun, sayang. Eomma sangat menyayangimu. Bahkan melebihi cinta ini pada appa mu.

Jeongguk mengusap kepalaku berulang kali. Aku merasakan sentuhan hangatnya untuk pertama kali. Aku haus akan hal itu. Aku begitu mendambanya. Aku menginginkannya. Sangat.

"Jeon Jeongguk, bisa kau kabulkan permintaanku untuk pertama dan terakhir kali? Jika iya, berjanjilan lebih dulu."

Aku melirik, Jeongguk tampak gusar di sana. Aku paham apa yang sedang ada dipikirannya. Mungkin kalimat pertama dan terkhir kali itu mengganggunya.

"Bisa kabulkan permintaanku kali ini?"

Sekali lagi aku bertanya. Raut wajahnya sedikit lebih baik. Tapi aku tak tahu apakah ekspresinya akan lebih baik atau lebih buruk setelah aku mengatakan permintaanku.

"Ya... katakan, apa permintaanmu, Taeby?"

"Taeby?"

"Tae baby."

Aku tersenyum mendengarnya. Hatiku sedikit menghangat karena panggilan baru itu. Tidak ada lagi jalang. Hanya ada Taeby.

"Your words."

"Oke, aku berjanji. Kau bisa memegang kata-kataku."

Sekali lagi aku menatap mata hitamnya yang tak sekelam dulu. Matanya indah. Aku menyukainya.

"Aku ingin pisah darimu. Aku harap kau menepati janjimu, Jeongguk."

Hancur. Pasti begitu. Aku melihatnya tertegun, tak bergerak sama sekali setelah mendengar permintaanku. Dia dikekang oleh janji. Dan Jeongguk adalah orang yang sangat menepati janjinya, kecuali janji di atas altar waktu itu.

Aku melihatnya membuka mulut. Rupanya ia akan mengajukan protes padaku.

"Janjimu, Jeongguk."

"Persetan dengan janji, Tae. Aku tahu aku telat menyadarinya, tapi jangan hukum aku dengan cara ini."

"Aku tidak menghukummu. Kapanpun kau menyadarinya, aku memang harus pergi. Kau tahu, Jeongguk? Aku bukan tipe yang suka meninggalkan tanpa kabar dan tanpa jejak. Aku akan memberitahumu alamat rumahku, aku juga akan mengabari perkembangan anakmu dalam perutku. Aku pergi bukan untuk tak kembali. Aku hanya perlu waktu, Jeongguk. Kita sama-sama perlu waktu untuk menyadari perasaan masing-masing. Rasamu padaku apakah sekadar kasihan atau benar-benar lebih dari itu? Dan rasaku padamu apakah benar-benar cinta atau hanya karena tuntutan janin ini saja? Kita sama-sama tak tahu, Jeon. Mengertilah."

Jeongguk menunduk. Aku melihat airmatanya menetes di sana. Dengan cepat ia menghapusnya dan mengangkat wajahnya. Ia menunjukkan senyum terbaiknya. Aku tahu hatinya terkoyak, aku pun begitu. Tapi inilah yang harus benar-benar kami lakukan. Ketahuilah Jeongguk, aku selalu berdoa yang terbaik. Kalau dua tahun dari sekarang kita sama-sama merasa hampa, maka di saat itulah keluarga kecil kita akan bahagia.

END