white day
Noragami Adachitoka
warn : YatoRi, OOC, Future!AU, segala hal yg mungkin tidak kamu suka dalam cerita ini
"Yato-chaaan!!!"
Kalau bukan Kofuku yang tiba-tiba memeluk sosok Dewa bencana itu, siapa lagi? Yato—seseorang yang terlihat seperti pria umur 20an, tengah menikmati dango dari warung Daikoku dan Kofuku secara gratis, sambil menikmati angin musim semi yang baru datang.
"Ooh, darimana saja kau?" Tanya Daikoku pada Yato.
Pria itu memang sering berkelana. Kadang ia mampir ke Takamagahara hanya untuk memberi salam pada musuh-tapi-cintanya, Bishamon. Atau ditemukan bertengger di pohon yang ada di sekolah Hiyori untuk melihat gadis itu di titik buta penglihatannya.
"Biasa. Ngalong, Yukine ada di Takamagahara, belajar sama Kazuma," kata Yato santai.
"Kemarinkan White Day, Yato-chan udah valas coklatnya Hiyorin belum???"
White day?
Yato menoleh, "Apa tuh?"
"Kau gak tahu?" Tanya Daikoku, lagi.
Aku benar-benar enggak paham. "Enggak,"
"Iii Yato-chan! Gimana sih!" Kofuku kesal, mencubit pipinya Yato, "Padahal Hiyorin sudah susah payah buatkan coklat untukmu bulan lalu!!!!"
"Haa?? Emangnya aku harus apa?!"
"White day itu," Daikoku meletakkan asbak di samping tempat Yato duduk, lalu menyalakan rokoknya, "Hari dimana kau membalas apa yang sudah diberikan untukmu saat Valentine. Singkatnya, jika ia memberikanmu coklat pada Valentine, maka kau wajib membalasnya di White Day,"
"Ha..??? Apa lagi itu?"
"Yato-chan, benar-benar gak paham?"
Yato menggeleng. Aku buta informasi, tolong edukasi diriku yang bodoh ini.
"Hiyorin memberinu coklat kan?!"
Yato mengangguk.
"Itu artinya dia menunggu balasanmu!!"
"Hee? Memangnya coklat harus dibalas? Dia sering memberiku coklat, tanpa kubalas dia tetap baik-baik saja tu—AW!"
Daikoku melempar bungkus rokoknya tepat di kepala Yato, "Dasar bodoh,"
"Iya, Yato-chan bodoh,"
"H-hey! Jangan begitu!"
"HABIS!! HIYORIN HANYA MENCOBA UNTUK BILANG DIA SUKA PADAMU!!! KAU MALAH BODOH SEPERTI INI, YATO-CHAAANNN!!!!"
HAAAA????Apa sih?! Suka? Dia sering memberikanku makanan, bahkan yang lebih spesial dari hanya sebatang coklat—seperti nasi kotak yang dihias seunik mungkin, kue, atau bahkan sesimple sushi. Kenapa harus coklat yang aku balas? Apakah perasaan hanya disimbolkan dengan coklat?
Yato belum paham. Atau mungkin, ia sudah paham tapi tak mau menerima kenyataan. Lebih cocok ke situasi dimana : ha? Apa mungkin? Mana mungkin!
"Di hari Valentine itu, anak-anak muda mengungkapkan perasaan mereka dan disimbolkan dengan coklat. Itu seakan mereka bilang, 'aku suka padamu!' seperti itu. Karena itu kau harus m mmembalasnya sebulan setelahnya, yang harusnya itu kemarin karrna sekarang sudah tanggal 15 Maret, sih," jelas Kofuku.
"Jadi!!!!" Kofuku merangkul Yato, "Balas dong, perasaan Hiyorin. Kalau kau memang menyukainya, sih!"
Suka...?
Wajahnya memerah. Ia tak pernah merasakan hal percintaan atau serupa itu sebelumnya. Kalau menyangkut Bishamon, mungkin baginya karena ia pernah menyelamatkan wanita itu, jadi tumbuh rasa ingin melindungi. Tapi perasaan itu berbeda pada Hiyori.
Hiyori.. ya. Kalau dipikir-pikir, gadis itu hanya bisa menyusahkannya pada awal pertemuan mereka. Tapi tanpa disadari, sebenarnya dia yang kebanyakan menolong Yato. Saat ia bertemu Yukine, itu karena Hiyori sempat mengundang ayakashi dan sialnya Yato tak punya senjata suci saat itu. Lalu saat Yukine berbuat hal buruk dan menusuk Yato, Hiyori juga yang membantu mereka. Suaranya Hiyori bisa membuat pikiran Yato lebih tenang dan melepasnya dari insting Dewa Bencana. Gadis itu juga membuatkannya kuil kecil... Banyak hal yang gadis itu lakukan padanya, dan Yato berjanji akan membuat ia menjadi gadis yang paling bahagia di dunia ini.
Belum lagi hal-hal kecil yang membuat benaknya bergejolak! Seperti saat Hiyori bilang ia ingin bersama Yato lebih lama, dan saat di Capyper Land... Astaga, benar-benar, deh.
Apa kau yakin itu bukan cinta? Tentu saja itu cinta. Yato hanya tidak sadar akan perasaan itu pada Hiyori hingga sekarang. Dan ia ingin membalas segala curahan perasaan Hiyori yang telah ia tumpahkan padanya selama ini.
Malam itu, Hiyori tengah belajar. Kehidupan di universitas membuatnya harus bangun setiap saat untuk belajar, apalagi ia harus mendapatkan gelar dokternya sebentar lagi. Waktu memang berlalu cepat! Hiyori, 24 tahun, yang sebentar lagi dokter, dan masih bermain rumah-rumahan dengan seorang dewa dan shinkinya. Aneh gak, sih?
Sesekali ia melirik kuil mini yang ada di meja belajarnya, dengan wajah yang memerah sedikit sambil berkata, "Ah.. lupakan saja, orang itu mana—"
"HIYORIIII!!!!"
Suara itu membuat Hiyori terkejut. Ia melihat ke arah jendela, seorang pria tengah menyusup masuk ke kamarnya dan seperti biasa, Hiyori membiarkannya.
Itu Yato. Dengan jendela yang terbuka, gorden yang bertebangan karena angin, dan sinar bulan yang sedang terang-terangnya saat itu.
"Y-yato?!"
"Punya kuncir rambut, gak? Rambutku mulai panjang, aku juga gak bisa nguncir rambut dengan rapih, hehe~"
... Kebiasaan, deh. Batin Hiyori. Gadis itu bangkit dari duduknya, "Masuk aja, akan aku kuncir rambutmu,"
Yato masuk dengan tenang dan duduk di pinggiran kasur Hiyori. Setelah melihat gadis itu mencari sesuatu di meja riasnya, ia mengalihkan pandangan ke kuil kecil yang ada di meja belajarnya. "Ooh, jadi kau punya dua kuilku, ya?"
"Eh? Oh.. iya.. tidak adil rasanya bila hanya kau yang punya, aku juga ingin punya..."
"Harusnya aku daftarkan yang itu juga ke Takamagahara, dong,"
"Ha? Ngapain? Aku juga gak ada niat untuk mampir ke takamagahara, kok. Lagipula emang gak bisa juga, kan?" Tanya Hiyori.
"Kalau aku reinkarnasi, bisa saja aku lahir lagi di rumahmu—ADUH!!!!"
Hiyori mengencangkan salah satu karet kuncirannya, dan melemparkannya tepat ke mulut Yato, "Bilang sekali lagi seperti itu atau kau benar-benar ingin mati ya, Yato!"
Saat Hiyori berjalan mendekatinya, Yato tertawa kecil, "Bercanda kok, bercanda!"
Hiyori berdiri di samping Yato yang duduk menyamping di pinggiran ranjang Hiyori. Tangannya mulai menyisir rambut biru malam milik Yato yang kelihatannya baru saja dicuci tadi pagi karena aroma shampo milik Kofuku sangat tercium di indera penciuman Hiyori. Tapi Yato tetaplah Yato, wanginya Yato lebih nyaman untuk diingat ketimbang wangi yang lain—HIYORI! Sadarkan pikiranmu!
"Bisakah kau pergi ke salon saja? Potong rambutmu, gitu," kata Hiyori
"Hm? Aah.. biasanya Hiiro yang memotong rambutku, tapi karena aku tidak punya uang, aku biarkan panjang. Kalau Hiyori yang mau potong, gapapa deh!" Kata Yato. "Lagipula, kau tidak suka rambutku panjang, ya?"
"Hm? Bukan begitu, sih.."
"Terus?"
"Yato sering bertarung dengan Ayakashi, kan? Apa enggak ribet dengan rambutmu yang agak panjang begini?"
"Enggak. Tapi kalau Hiyori gak suka, besok aku potong kok!!"
Hiyori kaget, ia mulai mengambil beberapa helai rambut Yato. "E-eh??? Kenapa aku?! Yato harusnya potong rambut sesuai keinginanmu saja. Aku juga tidak masalah kalau itu tak menganggumu, sih," kata Hiyori.
"Hmm begituu,"
Suasana hening. Hiyori masih kerepotan untuk menguncir rambut Yato yang panjangnya nanggung ini.
"Aku tak melihat Yukine-kun. Kemana dia?"
"Hm? Dia kelelahan. Seharian ada di Takamagahara, terus belajar dan langsung tidur. Tadinya mau aku ajak ke rumahmu, tapi dia bilang sangat capek,"
"Ah.. dia sangat berjuang dengan keras, ya,"
Beberapa saat kemudian, Hiyori selesai menguncir rambutnya. "Sudah!"
"Ooh! Terimakasih, Hiyori!"
Gadis itu tersenyum, berdiri di samping Yato sambil melihat hasil kuncirannya.
Yah, nampaknya memang aku tak bisa marah dan berharap banyak pada orang ini, sih. Asal dia baik-baik saja, maka aku juga senang. Begitu pikir Hiyori ketika mengingat coklat yang ia buat sepenuh hati bulan lalu untuknya tanpa mendapatkan satu balasan. Selama Yato ada di sisinya dan tak pergi kemanapun, ia sudah tenang.
"Hiyori,"
Saat hendak berpaling, Yato mengenggam tangannya. Hal itu membuat jantung Hiyori hampir berhenti berdetak dan tak sanggup melihat manik mata biru terangnya.
"Y-ya..???"
"Duduk, deh,"
Kemudian cowok itu menariknya hingga membuat Hiyori duduk di sampingnya. Dengan wajah super merah, Hiyori menunduk, berusaha sebisa mungkin agar wajahnya tertutup oleh rambut panjangnya yang ia biarkan terurai seperti biasa.
"Aku mau tanya, memangnya coklat itu harus dibalas dengan coklat lagi, ya?"
Hiyori mendongak, "Ha? Maksudmu?"
"Hiyori memberikanku coklat kan, bulan lalu?" Wajahnya malu-malu tapi terlihat menyebalkan, begitu di mata Hiyori. "T-tapi aku lupa untuk memberimu manisan kemarin,"
Hiyori menghela nafas, "Duh, Yato. Tak perlu terlalu dipikirkan, lagipula coklat itu—"
Tidak terlalu penting?
Tidak. Coklat kemarin itu penting. Isinya adalah perasaan Hiyori kepada Yato yang tak mungkin terbalas juga. Karena itu Hiyori tak ingin menaruh harapan lebih lanjut pada Yato.
"Hiyori itu... Sebenarnya melihatku sebagai apa..?"
Dengan tangan yang masih saling menyentuh, mereka bungkam. hanya ada suara gorden yang tertiup angin pelan dan dentuman jarum detik pada jam dinding kamar Hiyori.
Melihat Yato? Sebagai apa?
"K-kenapa tiba-tiba?!" Tanya Hiyori.
"Jawab aja!"
Saat melihat ke raut wajahnya yang memerah, Hiyori juga ikut berdebar. Apa, ya? Wajah Yato terus terbayang di pikirannya.
Suka? Sama cowok yang otaknya gak beres ini? Sukanya anak kuliahan harusnya sama cowok teman sekelasnya, atau kakak kelasnya! Kenapa aku malah jatuh cinta sama Dewa, yang mereka saja seharusnya tak berhubungan langsung dengan manusia!
"Aku.. selalu.."
... Suka, nih?
"Aku selalu suka, padamu. Cuma aku tahu aku tidak boleh berharap banyak padamu..." Kata Hiyori, yang pada akhirnya memberanikan diri untuk mengungkapkannya.
Yato menoleh ke arah Hiyori yang menunduk, melihat ke arah bayangan kakinya sendiri. "Dan aku tahu, berharap untuk bersamamu adalah hal yang salah... Aku tak ingin melupakanmu, tapi aku malah tak bisa melupakan perasaanku juga... Karena melupakan perasaan berarti aku harus melupakan keberadaanmu, kan?"
Suara Hiyori mulai bergetar saat itu. Mungkin memang sakit rasanya, mengingat manusia dan dewa tak bisa saling mencintai. Karena cinta antara manusia dan cinta dewa kepada manusia berbeda satu sama lain.
Maukah kau hidup melupakannya, atau mati melupakannya?
Kedua pilihan itu mengharuskan Hiyori untuk melupakannya. Tapi ia tak ingin.
"Kazuma-san pernah bilang padaku,
Kalau Dewa tak bisa mencintai manusia. Aku tahu itu, aku paham, tapi... Sepertinya aku hanya pembangkang. Aku bahkan tak mendengarkan nasihat Tenjin-sama.."
Yato, sesungguhnya terkejut akan Hiyori yang bicara soal apa yang ia rasakan selama ini kepadanya. Ia jatuh cinta? Padaku? Apa? Kenapa?
Memang benar, cinta dewa kepada manusia bukan hanya memberi, tapi kadang juga merenggut. Yato tahu itu, karena ia juga sayang pada Hiyori, ia tak ingin merenggut apapun dari sisi Hiyori dan memilih untuk merelakannya hidup sebagai manusia biasa.
Yang akan meraih cita-cita, menikah dan punya anak, bahagia seperti yang lainnya. Yato hanya akan ada di sampingnya, memberkati yang terbaik untuknya. Itulah bentuk cintanya Yato kepada Hiyori.
Kalau tahu akan begini, kalau tahu Yato takkan tega meninggalkannya, bukankah lebih baik dari awal ia memutuskan tali hubungannya dengan Hiyori? Sebelum semua ini terjadi. Sebelum ia menyakiti Hiyori lebih jauh lagi.
Tapi apa yang akan terjadi bila..
Bila perkataan Kazuma salah, bahwa Yato bisa mencintainya seperti manusia mencintai satu sama lain?
"Hiyori,"
"Aku mencintaimu,"
Satu kecupan lembut yang mendarat di bibir mereka, menjadi tanda bahwa perkataan Kazuma yang pernah Hiyori terima adalah salah.
Itu salah.
Bagaimana bila kita abaikan kalimat Tenjin? Bahwa cinta seorang dewa tak hanya merenggut, juga dapat memberi.
Karena aku mencintaimu, sangat.Kau takkan melupakanku, aku juga takkan memutuskan tali hubungan ini.Karena aku hanya akan bahagia denganmu, begitu juga kau.Biarkan kita menyatukan darah ini, kau dan aku bisa menghadapi dunia.Dan karena aku sangat mencintaimu, apapun itu..Kita akan menghadapinya.
