Fugou Keiji : Balance Unlimited belongs to Yasutaka Tsutsui

Story by RenYueLiu

Genre : Friendship/Hurt

Rated : T

Warning : Canon, Typo(s)

.

.

"Khh..."

Haru menggantungkan dirinya di ujung jembatan setelah ia berhasil keluar dari mobil yang sengaja dijatuhkan untuk menghindari ledakan bom ke sungai. Dahinya sedikit terluka.

Haru memandang keatas dimana ia melihat dengan jelas wajah Daisuke yang menatapnya. Tidak melakukan apapun. Hanya tersenyum.

"Kkkh... shhh..."

Tangan Haru semakin melemah dan ia pun jatuh ke sungai.

Sial. Kambe Daisuke. Apa dia sengaja melakukannya?

.

.

.

"Oi! Apa maksudmu ha?!" Haru datang ke atap gedung menemui Daisuke. Setelah kejadian di jembatan itu, Daisuke bergabung dengan rekan Divisi Kejahatan Modern.

"Apanya?"

"Bukan begitu cara polisi menyelesaikan masalah! Kau bukan pahlawan! Nyawa banyak pun tidak ada artinya!" Haru tidak bisa menahan perasaan kesalnya.

"Begitu..." jeda Daisuke, ia menatap Haru yang terlihat marah padanya, "Berapa maumu?"

Berapa maumu?

Membayarnya?

Menyuap?

"SIALAN KAU!"

.

.

.

Diatas rooftop sebuah tower yang tinggi, suara gemuruh semakin mendekat. Helikopter itu terbang disana. Bersama Suzue yang mengendalikannya.

Pintu helicopter itu terbuka. Menunjukkan seseorang yang sangat Haru kenali.

"Ka-Kambe Daisuke!" Pekik Haru.

"Pembelian Tower selesai. Balance : Unlimited." Begitu suara HEUSC, AI andalan milik Daisuke setelah mentransfer sejumlah uang untuk membeli tower yang akan dirusakkan.

Daisuke menembakkan gas dari dalam helikopter yang terbuka, gas itu cukup membuat orang yang menghirupnya pingsan dan tidak sadarkan diri untuk sementara waktu.

Tembakan itu berhasil menembus kaca gedung sehingga membuat orang yang disana seketika pingsan menghirupnya.

"A-apa ini...?"

Seperti yang lainnya, Haru jatuh pingsan.

.

.

.

Setelah kasus pimpinan kriminal narkoba terungkap, Haru semakin kesal dengan Daisuke.

"Aku tidak suka," ungkap Haru.

"Apa?" Daisuke tetap tenang.

"Orang sepertimu menjadi polisi!" kilat kemarahan Haru pun tercetak jelas di raut wajahnya.

"Lalu kenapa kau jadi polisi?" masih dengan wajahnya yang datar, Daisuke balik bertanya.

Pertanyaan bodoh, sekiranya itu yang dipikirkan Haru. "Sudah jelas untuk menangkap penjahat!" Haru memberi jeda, "tapi tidak menggunakan uang sepertimu!"

"Kau dulu pernah di divisi satu, 'kan?"

Mata Haru membulat mendengarnya, Daisuke sialan. Dari mana dia tahu tentang hal itu?

"Tapi saat penyanderaan, kau salah tembak dan korban terluka parah. Sejak saat itu, kau tidak bisa menggunakan pistol, lalu kau dipindahkan dari divisi satu."

Haru menarik kemeja Daisuke dengan kencang, ia mencengkramnya dengan memberikan tatapan kesal.

"Sialan!"

.

.

.

Malam ini Haru Kato larut dalam pikirannya. Mantan anggota divisi satu kepolisian itu sedang dalam kondisi terpuruknya. Ia tahu bahkan meminum alkohol tidak akan menyelesaikan masalahnya. Namun, itu cukup untuk membuatnya melupakan sejenak permasalahannya.

"Hik..."

Ini adalah salah Daisuke Kambe. Polisi jutawan itu lah sumber masalahnya. Sejak pertemuan pertamanya dengan Daisuke, Haru sudah sangat membencinya.

Baginya, Daisuke sama sekali tidak pantas untuk menjadi seorang polisi. Haru sangat membenci orang yang mengandalkan segalanya dengan uang, dan itulah yang membuat Haru semakin hari semakin membenci Daisuke.

Apalagi ketika Daisuke mengungkit permasalahannya saat ia dipindahkan dari divisi satu. Daisuke tidak tahu rasanya gemetar saat mengangkat pistol, dan bagaimana rekan-rekannya selalu merendahkannya.

Haru percaya bahwa uang bukanlah segalanya. Sampai Daisuke menggunakan kekayaannya untuk menyelesaikan setiap kasus yang ia tangani.

Ingatan-ingatan Haru tentang bagaimana ia bekerjasama dengan Daisuke terus terngiang.

"Sialan... Kambe... hik..." gumamnya.

Di apartemennya yang sempit, Haru menghabiskan beberapa botol sake. Haru tahu dia lemah dalam hal ini. Tapi ia terus meneguknya sampai wajahnya memerah dan sepertinya sebagian kesadarannya perlahan menghilang.

Kepalanya menjatuhkan kepalanya di meja, berat dan pusing.

"Kato..."

Rasa kebenciannya sangat dalam sampai hampir setiap hari ia bahkan bisa mendengar Daisuke menyebut namanya.

Rasanya sangat nyata.

Bahkan suara langkah kaki yang semakin mendekat itu Haru benar-benar mengetahuinya.

"Kato-san? Kau mabuk?"

Sialan. Suara itu lagi. Apakah Daisuke tidak bisa pergi sebentar dari pikirannya? Haru memegang kepalanya. Berharap bisa meredakan rasa pusingnya.

"Kau terlalu banyak minum,"

Lagi lagi suara itu.

"Kambe... pergi dari pikiranku, sialan!" gumam Haru dengan nada yang kencang.

Pada kenyataannya, Daisuke memanglah disana. Haru hanya tidak menyadarinya. Ia mabuk berat.

"Kau tidak mengunci pintumu, kenapa?" Daisuke datang dan duduk tepat di depan Haru. Ia masih mengenakan jas serba hitamnya. Berkat bantuan Suzue tentunya, mudah bagi Daisuke untuk menemukan tempat tinggal Haru.

"Aku sangat membencimu Daisuke..." gumam Haru.

Daisuke diam, ia tidak menanggapi. Membiarkan Haru mengatakan apa yang ingin dia katakan. Biasanya orang mabuk tidak sadar saat dalam kondisi seperti ini.

"Kambe... kau sangat buruk!"

"Buruk?" Daisuke menggumam, ia mengulanginya dalam hati.

"Kau sering membahayakan nyawaku... hik," Haru menjeda, "sangat buruk, sialan..." lanjutnya.

Nyawa ya...

Sudah berapa kali nyawa Haru terancam gara-gara tindakan Daisuke?

Menjadi polisi, nyawa memanglah dipertaruhkan. Tapi siapa sangka, rekanmu lah yang mengancam nyawamu sendiri. Bukan lawan.

Daisuke memanglah berbeda prinsip dengan Haru. Daisuke punya segalanya, kalau bisa diselesaikan dengan uang, kenapa tidak? Saat ini kekuatan tertinggi adalah orang yang bisa berkuasa. Kalau sudah begitu, apa artinya sebuah keadilan? Keadilan yang dipegang teguh oleh Haru.

Tapi Daisuke tidak memandang Haru itu lemah.

"Kato-san, kau bisa melindungi dirimu sendiri, kau bisa menyelamatkan dirimu sendiri."

Daisuke hanya menggunakan alat-alat mekanik yang dibuat Suzue, membeli semua yang diperlukan untuk melancarkan eksekusi, menggunakannya sesuai rencana, bukankah hal itu menyenangkan?

"HEUSC, sambungkan aku dengan Suzue."

.

.

.

"Hoaahm..." gumam Haru. Sudah pagi ternyata. Sinar matahari menembus jendela yang masih tertutup tirai biru mengenai wajah Haru yang tertidur pulas.

Haru bangkit dari tempatnya, ia sadar tidak pindah dari mejanya. badannya sedikit kaku dan pegal.

"HA?! Apa yang kau lakukan disini?!" Haru terkejut melihat Daisuke yang berada di sana dengan penampilan seperti biasanya, mengenakan kemeja.

"Kau sudah bagun, Kato-san?" gumam Daisuke. Daisuke mengenakan apron dan melanjutkan kegiatannya. Ia sudah menonton beberapa tutorial memasak dari beberapa situs dan dengan dibantu HEUSC untuk menyelesaikannya.

"Tsk! Apa yang kau lakukan di tempatku? Bagaimana kau tahu apartemenku?" Haru benar-benar terkejut, kenapa orang ini bisa berada di tempatnya? Padahal ia sama sekali tidak pernah memberitahunya.

Sekarang, orang kaya itu sedang memasak pula.

"Mudah saja, kau juga tidak mengunci pintu mu semalam,"

"Se-semalam?"

Haru tidak tahu apa-apa semalam, orang ini datang secara paksa tidak di undang. Dasar tidak sopan.

Daisuke memindahkan natto yang sudah ia buat ke semangkuk nasi dan memberikannya sedikit kecap.

"Aku membuatkanmu sarapan." Ucap Daisuke dengan memberikan semangkuk nasi dengan natto.

Haru menatapnya heran, "Apa yang ingin kau lakukan? Kau tidak memberikannya racun, 'kan?"

"Tidak."

"Baiklah, setelah ini pulanglah!"

"Ya,"

Daisuke tersenyum tipis, sangat tipis. Setidaknya, Haru mau memakannya saja sudah cukup.

Bukan niat Haru benar-benar mengusirnya, tapi karena kondisi tempat tinggal mereka yang berbeda jauh. Tapi, semalam katanya. Apa orang kaya ini tidak pulang? Lantas dia tidur dimana?

Mereka pindah ke ruang tengah, masih ada sisa-sisa botol disana. Lalu Haru menyingkirkannya.

Haru menyantap sarapan buatan Daisuke. Rasanya tidak buruk. Haru menyukai natto karena itu baik untuk kesehatannya.

"Kau tidak memakannya?" tanya Haru.

"Aku tidak suka."

"Ha?! Kau hanya membuatnya untukku? Padahal rasanya lumayan,"

"Iya."

Haru mendengus, lalu menyantapnya habis. "Terimakasih,"

Meski Haru memang membenci Daisuke, bukan berarti ia tidak menghargai pemberian Daisuke. Apalagi itu adalah buatannya sendiri.

"Pulanglah!" usir Haru. Laki-laki berumur 29 tahun itu tak ingin Daisuke lama-lama di tempatnya.

"Kau sangat membenciku, Kato-san?" gumam Daisuke.

"Ha?!" pekik Haru. "Kau ini sebenarnya kenapa?" Haru sebenarnya bingung harus menjawab bagaimana. Hubungan mereka memang sedang tidak baik, tapi ia tidak ingin meperkeruhnya. Lebih baik menghindari saja.

"Aku mendengar semuanya, tentang kau yang sangat membenciku, dan aku adalah orang yang buruk," ungkap Daisuke. Raut wajahnya tetap tenang.

Haru tersentak, jadi benar Daisuke semalam memang datang ke apartemennya, ternyata itu bukan khayalannya saja.

"Begitu... kurasa aku dalam keadaan tidak sadar, apa yang sudah ku katakan? Haha..." Haru tertawa canggung.

"Aku hanya ingin menjadi partner yang baik. Bekerjasamalah denganku,"

"Ha?!" pekik Haru.

"Aku memang buruk,"

"Yes, you are the worst." Haru tersenyum, orang kaya ini akhirnya sadar juga. "Kau tidak bisa hidup tanpa HEUSC dan uangmu, 'kan?"

"Izinkan aku tinggal disini selama dua minggu," pinta Daisuke.

"HA?!" Teriak Haru. "A-apa maksudmu? Bukannya kau punya tempat tinggal yang mewah? Kenapa kau ingin tinggal di tempatku? Sebenarnya apa yang kau rencanakan?"

"Belajar hidup, aku tidak akan menggunakan HEUSC dan uangku, kau yang mengaturnya." Daisuke diam setelah mengatakannya, antara malu dan sepertinya sulit untuk membuang harga dirinya. Tapi, satu hal yang ia mau adalah agar Haru tidak lagi membencinya.

Lalu sebuah ide muncul dari Suzue. Dan begitulah, kerabat Daisuke itu menyarankan agar bisa memahami prinsip Haru dengan cara tinggal bersama dengannya.

Haru memasang raut wajah bingung, ada apa dengan polisi jutawan ini?

"K-kau serius? Apa kau bisa hidup tanpa mereka? Kurasa kau akan mati."

"Ya."

Dua minggu... apakah cukup untuk Daisuke belajar memahami seseorang? Dan orang itu yang memiliki prinsip berbeda jauh dengannya.

Haru tersenyum lebar, "Baiklah, kau yang belanja, memasak, mencuci...—"

"Akan kulakukan." Potong Daisuke.

Tidak apa, jika itu bisa membuat Haru mengakuinya. Mungkin setelah ini, Haru akan benar-benar mengajari Daisuke tentang prinsipnya.

Bersiaplah Daisuke.

.

.

FIN

.

.

A/N :

Wkwkwkwk APA INI?!

Hallo fans FKBU! Join fandom nya boleh lah ya? Btw, maaf ya bagi yang berharap ini BL wkwkwk sorry banget aku belum kepikiran buat bikin romance cowok. HAHAHAHA. Belum berani wkwkwk, buat yang straight aja masih sulit. Tapi aku suka lihat doujin mereka ahahaha Daisuke x Haru emang best!

Anggap aja ini persembahan dariku karena aku suka banget sama FKBU. Sebenarnya udah lama aku buat ini tapi baru aku publish hehehe XD

Yaudah segini aja, bye!

Regards, RYL

2 November 2020