Ikanai de

Warning! OOC, typo, bahasa amburadul, alur yang nggak jelas dan lain-lain. Hambar.

Dilarang plagiat!

Nande mo nai to kuchi wo tsugunda..Hontou wo chotto ashi wo tometakute..

Guren terdiam sejenak mendengar kenyataan itu.

"Oh, jadi begitu," untunglah Tuhan menganugerahkannya wajah yang selalu terlihat datar. Semoga makhluk manis didepannya tak menyadari perubahan air mukanya tadi.

Shinya--ya, makhluk manis yang kumaksud barusan adalah Shinya-- tersenyum seperti biasa. Agaknya ia bahagia dengan berita ini. "Ne, ne, kalau aku pindah nanti jangan sampai melamun karena kesepian ya," godanya.

"Apa-apaan itu?" Guren mengelak, beranjak pergi. Ah, pastilah Guren akan seperti itu jika Shinya benar-benar pindah nanti.

Shinya tergelak kecil, mengejar langkah Guren.

"Untung saja pindahannya setelah festival musim panas," ujar Shinya.

"Apakah tidak terlalu tanggung? Tinggal setahun lagi kita lulus lho," gumam Guren.

Shinya terbeliak selama seperempat detik. Lalu tertawa. "Hee, kau memikirkannya? Ternyata kau tidak ingin aku pergi ya??"

"Urusai," umpat Guren.

"Tsundere," olok Shinya.

"Diam,"

Shinya menutup mulut sambil tersenyum-senyum.

"Jadi, kapan tepatnya?" Tanya Guren setelah jeda semenit.

"Pindahan?" Sahut Shinya. "Tepat sehari setelah festival," suara Shinya terdengar muram.

Guren melirik dengan ujung mata, wajah Shinya agak ke bawah. Menatap langkah.

"Yah, sebenarnya aku tidak ingin pindah sih," aku Shinya.

Guren tak menanggapi. "Sial. Panas benar hari ini," keluhnya.

Shinya melirik Guren dengan tatapan tak terdefinisikan. Ada sesuatu yang bergejolak dihatinya. Entah apa.

Guren hanya menatap langit biru. Sewarna dengan iris Shinya yang cerah. Sial. Setelah ini..

"Musim panas kali ini benar-benar panas ya~" senyum Shinya.

Apa-apaan senyum itu? Tidak tulus sama sekali.

Guren melihat ke arah Shinya yang tengah berbicara. Entahlah. Guren rasa ia tak mendengar apapun dari Shinya sekarang selain, "selamat tinggal, aku akan pergi,". Cih, menyakitkan.

.

.

.

"Gureeeeen~~"

Satu-satunya makhluk yang bisa memanggil Guren dengan nada seperti itu. Tanpa berfikirpun kurasa Guren mengenalnya.

"Apa?"

Andi terkekeh. "Temani aku. Mahiru memintaku membeli majalah kesukaannya,"

Dahi Guren mengernyit.

"Nanti kutraktir ramen deh~"

Bahu Guren terangkat. "Mau bagaimana lagi," Mereka berdua mulai berjalan.

Shinya bersorak kecil. Remaja 17 tahun itu tertawa.

"Yah, sekalian aku mau mencari komik baru." Gumam Guren. "Komik favoritku baru saja tamat," keluhnya. "Aku tidak puas dengan endingnya," ia menggerutu.

"Aku tahu komik yang tidak terlalu terkenal tapi ceritanya bagus," Shinya menyebut sebuah judul. "Gambarnya juga keren,"

"Ah, itu. Aku sempat melihat covernya beberapa kali tapi tak pernah terfikir untuk membeli,"

"Coba baca dulu, sepertinya genrenya cocok denganmu,"

"Boleh juga,"

Jarak antara asrama-toko buku tidaklah dekat, namun entah mengapa rasanya singkat sekali jika berjalan bersama. Kemanapun, rasanya sebentar saja.

Kalau Shinya sedang tidak jail, sebenarnya mereka adalah teman ngobrol yang cocok. Mereka selalu membicarakan banyak hal tanpa kehabisan topik.

Bahkan di toko buku, mereka masih sempat sedikit berdiskusi tentang buku apa yang akan dibeli kali ini. Ditambah lagi, majalah pesanan Mahiru habis, jadi mereka berfikir kira-kira buku apa yang akan dibelikan untuk Mahiru agar tidak pulang dengan tangan kosong. Bisa-bisa nona besar itu marah nanti.

"Entah kapan lagi kita bisa bersama-sama seperti ini," celetuk Shinya setelah membayar.

Guren terkesiap sejenak, lalu tersenyum tipis. "Hm," gumamnya setuju.

"Guren, ayo singgah ke taman sebentar!" Usul Shinya tiba-tiba.

Apapun untukmu, malaikatku. Guren membatin seraya mengangguk. "Boleh saja," jawabnya.

Shinya bersorak kecil.

Padahal apalah yang akan mereka lakukan ditaman. Paling-paling duduk di kursi panjang. Lalu diam. Selalu seperti itu. Atau, mengobrol seperti biasa. Namun entahlah. Baik Shinya atau Guren jika datang ke taman atau pantai, mereka memilih diam sambil melihat-lihat sekitar. Saling merasakan keberadaan masing-masing. Itu saja.

Shinya lebih banyak diam sekarang. Meskipun terkadang masih menjahili Guren. Namun tidak sesering biasanya. Guren sebenarnya penasaran kenapa, namun jika ditanya Shinya hanya menjawab, "Daijobu." Guren mana puas.

Pun di jalan, Shinya lebih banyak diam daripada berceloteh. Dia memegang kantung belanjaan dengan dua tangan, melihat-lihat sekitar seolah baru pertama kali datang.

Tidak. Shinya hafal tempat ini. Ia hanya ingin mengingatnya lebih detail lagi sebelum pergi. Shinya tersenyum, menemukan sesuatu.

"Ne, Guren,"

"Hm,"

"Kau ingat ayunan itu?" Shinya menunjuk ayunan di sisi kiri mereka.

Guren melihatnya, lalu tertawa. "Tempatmu menangis kalau sedang kesepian tanpaku," ujarnya narsis.

Shinya meninju pelan bahu Guren sambil mendengus. "Bukan itu maksudku," gerutunya.

"Haha, ingat kok. Pertama kali kita bertemu aku menemukanmu sendirian disini kan?"

Shinya terkekeh. "Sudah berapa lama ya?"

"Umur kita masih 5 tahun waktu itu.."

"Wah, 12 tahun!" Seru Shinya.

"Lama sekali ya," Guren bergumam. "Perasaan baru kemarin aku melihatmu menangis sendirian di sini," mood Guren sedang bagus, jadi dia balik menggoda Shinya.

Shinya mendelik.

"Waktu itu kita masih kecil. Pendeknya semana, ya? Apalagi waktu itu kau cuma sebahuku," ganggu Guren sambil duduk disalah satu ayunan.

"Hee, tapi sekarang tinggi kita sama," Shinya tak terima.

"Tidak ah, aku lebih tinggi 3 centi,"

"Cuma 3 centi," Shinya ikut duduk di ayunan yang lain.

"Setidaknya lebih tinggi darimu,"

Shinya manyun. Guren tertawa. Wajah itu. Wajah yang hanya muncul jika Guren mengganggunya. Guren selalu suka.

"Ya,ya,ya. Terserahmu,"

"Uhuk, ciee merajuk,"

Shinya sensitif soal tinggi badan. Pasalnya waktu kecil dia pernah bilang akan lebih tinggi dari Guren. Namun nyatanya dia selalu kalah soal ini. Makanya si surai putih itu kesal.

"Kalau kita bertemu lagi nanti, kujamin aku lebih tinggi darimu, Ichinose-sama,"

"He? Baiklah, kupegang kata-katamu, Hiiragi-sama," Guren terkekeh-kekeh.

Diam.

"Kau benar-benar akan pindah, ya.." Guren berkata setengah bertanya.

Shinya sadar dari lamunan, lalu terkikik. "Ternyata Ichinose-sama tidak menginginkanku pergi," oloknya. Dalam sudut hati ia senang.

Guren hanya menatap Shinya datar. Shinya berhenti terkikik. Jika digoda dan Guren tak bereaksi, artinya dia serius. Menarik nafas pelan, Shinya mengangguk.

"Apakah aku terlihat berbohong, Guren?"

Guren diam. Hanya menatap kedalam iris biru hangat itu. Shinya terpaku. Terkunci dalam manik keunguan Guren. Tak Guren temukan sesiratpun ragu dalam netra senada langit ini.

Guren mengalihkan tatap ke atap bumi.

Shinya tiba-tiba berdiri. "Titip barang sebentar, tunggu di sini."

"Eh?" Belum sempat bertanya, pemilik iris biru langit itu sudah 'terbang' entah kemana. Guren membuang nafas malas. Apa yang dipikirkan Shinya?

Bagaimana perasaan Shinya sekarang? Bahagiakah? Ah, mungkin saja iya. Semoga ditempat baru nanti Shinya dapat berbaur dengan keluarga Hiiragi dengan baik dan tidak kesepian lagi. Anak angkat keluarga Hiiragi itu sangat.. ah.

Shinya, dibalik senyumnya, menyimpan luka sepi dihatinya. Namun ajaibnya ia dapat bertingkah seolah beban duka tak pernah hinggap di pundaknya. Dan Guren benci itu.

"Jika kau terus memendamnya tanpa henti, suatu saat beban itu akan meledak, baka. Jadi," nafas. "Aku akan menemanimu. Jadi, berjanjilah untuk membagi kesedihanmu. Jangan kau pendam terus,"

Memori Guren berkelana. Kata-kata itu ia ucapkan saat mereka duduk dikelas 1 SMP. Waktu itu Guren kesal melihat Shinya menangis di taman, tapi saat didatangi tak mau mengaku kalau dia kesepian. Sejak saat itu Shinya selalu bercerita tentang apapun yang ia rasakan pada Guren. Menelpon sebelum tidur, bercerita disekolah. Sampai akhirnya mereka masuk SMA dan tinggal diasrama, mereka mencari cara agar bisa sekamar. Dan Shinya semakin sering bercerita.

Semenjak itu Sinya semakin ceria. Entahlah, tapi Guren berharap ia sudah mengobati sedikit kesepian itu dengan kehadirannya.

Karena Shinya adalah segalanya bagi Guren. Entah bagi Shinya Guren itu apa, Guren ragu. Namun sepanjang ia masih bisa melihat Shinya tertawa, itu sudah cukup.

Tapi, beberapa minggu lagi manik kebiruan itu akan pergi..

Ah, Guren membuang nafas lagi.

"HYA!"

Guren tersentak kaget, menoleh. Shinya tergelak keras.

"Hahahah, lihat wajah terkejutmu, Guren! Kau melamunkan apa sih?" Tawa Shinya.

Guren memasang wajah kesal. "Apa,sih," 'Tentu saja kau, sialan!'

"Tehee~ jangan marah dong! Ini aku belikan eskrim cokelat." Shinya mengulurkan cup eskrim seraya tersenyum manis.

Guren menerimanya. "Terimakasih," ujarnya sebelum ditagih.

"Terima kasih sudah menjaga barangku, Guren!" Shinya kembali duduk di ayunan yang ada di samping Guren. Lalu menyantap eskrim vanilla ditangannya.

Guren tersenyum. Saat Shinya memakan eskrimnya, ia selalu terlihat seperti anak kecil. Sekarang saja ada setitik krim di kuncup hidungnya. Guren merogoh tissue saku dan menyodorkannya ke Shinya.

"Hidungmu juga ikut makan tuh. Mau membersihkannya sendiri atau kubersihkan?"

"Eh?" Shinya terkekeh konyol. "Sendiri, lah," ia mengusap hidung.

"Seperti anak kecil saja," ledek Guren sambil memakan eskrim cokelatnya dengan tenang.

Shinya meleletkan lidah tak peduli.

Mereka terdiam. Guren yang menatap langit dan Shinya yang menunduk. Saling memikirkan tanpa saling mengetahui. Guren yang memikirkan Shinya, dan Shinya yang memikirkan manik keunguan itu. Membiarkan angin musim panas membelai anak-anak rambut di dahi masing-masing.

"Ne, Guren," / "Shinya,"

Mereka memanggil bersamaan. Lalu saling menatap karena kaget. Kemudian tertawa lepas.

"Douzo," Guren mengalah.

"Kau dulu, aku penasaran dengan isi kepalamu,"

Shit,Guren mengumpat dalam hati. "Kau saja. Sepertinya penting."

Shinya tertawa. "Biar kutebak isi kepalamu,"

Alis Guren bertaut.

"Mahiru-chan?" Terka Shinya dengan alis dinaikkan. Seraya tersenyum lebar, yakin dengan apa yang ia ucapkan.

Namun ucapan itu menuai sentilan didahi Shinya.

"Berapa puluh kali kubilang padamu.. Aku. Tidak. Tertarik. Pada. Adik. Angkatmu!" Guren gemas.

Shinya mengusap dahi, berakting kesakitan dengan wajah sok imut agar Guren tak meluncurkan sentilan berikutnya.

"Tehe~.. jadi apa?"

"Tidak jadi. Kau sendiri mau bilang apa?"

Shinya meringis. Bimbang mengatakannya atau tidak.

Ia lalu memikirkan hal lain.

"Kalau aku pindah nanti kau akan sekamar dengan siapa?" Untung saja kepikiran tepat waktu.

Sebenarnya Shinya ingin mengatakan semuanya tadi. Perasaannya, keinginannya untuk tetap disini, semuanya. Namun,.. ah.

"Oh, itu. Ya jelas sendiri lah." Guren pikir Shinya akan mengatakan apa. Ternyata hanya ini.

"Kau berani sendirian malam-malam?"

"Bukannya yang takut gelap itu kau,ya?"

Senjata makan tuan. Skak.

"Itu kan waktu kecil!" Shinya berusaha menahan rona merah muncul di wajah.

Guren tertawa. "Mengkhawatirkanku, ya? Terima kasih," ucapnya.

Shinya terpaku. Barusan Guren berterimakasih dengan ringan. Menatap iris tegas itu, Shinya mencari sirat keengganan dalam ucapannya barusan. Namun di iris pekat Guren, Shinya hanya mendapati ketulusan.

Mendengarnya, Shinya merasa ingin menangis saja. Ia menunduk.

Seharusnya ia senang Guren mengatakan terima kasih padanya dengan tulus. Itu sangat jarang terjadi. Semestinya, jika benar Shinya sedang baik-baik saja, ia tertawa kecil sambil mengatakan, "Hee, kau bisa berterima kasih setulus itu rupanya." Namun, yah, memang benar iris biru itu tidak baik-baik saja. Bagaimana ia bisa disebut baik-baik saja jika ia akan meninggalkan spektrum ungu ini sebentar lagi?

Maka ketika ia mendengar ucapan terima kasih itu, Shinya tergugu. Karena mungkin ia tak akan pernah lagi mendengarnya langsung dari si pemilik iris ungu. Sebab itu Shinya mematung, menahan matanya agar tidak mendung.

Shinya akan sangat merindukannya nanti.. Sangat.

"Ne,.."

Shinya tak bereaksi.

"Ditempat yang baru nanti.. jangan lupakan aku, ya."

Suara Guren terdengar basah. Shinya mati-matian menahan matanya agar tak mengembun.

Tidak mungkin. Tidak mungkin aku lupa padamu. Batin Shinya menjerit ingin berkata. Namun bibir pucatnya hanya terkatup rapat tak bersuara.

"Di langit musim panas yang senada dengan matamu, mungkin ini terakhir kalinya kita berbincang hangat tentang hal-hal remeh dalam hidup kita. Tapi kumohon jangan lupakan saat ini..Karena bagiku ini sangat berharga."

"Dibelai angin musim panas kita saling tertawa. Mengolok-olok kelakuan konyol kita. Kutatap matamu yang terlihat menawan seperti biasa. Kau tersenyum, mengibaskan poni hitammu dengan sengaja sambil tertawa.Mungkin ini terakhir kalinya kita bersama ditempat ini..Jangan lupa kenangan kita selama disini, ya. Saat aku pergi nanti, datanglah kesini sambil mengenang semua yang kita lakukan disini.Karena bagiku, itu semua berharga.."

Batin mereka menjerit bersamaan. Namun nyatanya mereka hanya saling diam. Guren yang memejam mata, menikmati semilir angin yang menerpa. Dan Shinya yang menatap bisu sekelilingnya.

"Ayo pulang, sudah mau sore. Aku ada piket jam 5 nanti," Guren bersuara setelah setengah jam hening.

Shinya mengangguk. "Ke toko ramen di depan stasiun dulu."

"Oh iya, aku hampir lupa traktiranmu," Guren setengah tertawa. Berpura-pura terlihat baik-baik saja.

"Hmm.. seandainya aku tidak mengingatkanmu tadi," Shinya berpura-pura menggerutu.

Guren menepuk pucuk kepala Shinya, terkekeh. "Itu hutang, lho,"

"Ya, ya. Baiklah Ichinose-sama,"

Mereka berjalan beriringan. Kali ini Shinya kembali ke sifat asalnya yang terus berceloteh tanpa henti. Melirik dengan ujung mata, Guren tersenyum.

Dalam hati, mereka sama-sama berharap. Semoga semuanya baik-baik saja.

.

.

.

Malam itu, Guren terbangun. Ada suara yang mengusik tidurnya. Guren duduk. Melihat ke bawah.

Shinya.

Tengah menyusun barang. Guren tersenyum miris.

"Kenapa tengah malam?" Ia bertanya.

Shinya terkesiap. Menoleh ke Guren dengan wajah yang tak terlalu jelas sebab lampu yang dipadamkan. Namun samar Guren dapat melihat cengiran kikuk Shinya.

"G-gomen. Aku berisik ya?"

"Aku bertanya, Shinya,"

"S-soalnya.." Shinya menunduk. "Soalnya.." kepalanya berfikir mencari alasan lain yang logis, namun otaknya seakan tak bekerja. Tak ada alasan. Selain karena ia tak sanggup menyusun barang ketika Guren melihatnya. Entah kenapa. "Aku.. tidak bisa menyusun barang kalau kau melihatku," ungkap Shinya pelan.

Guren sedikit terkejut mendengarnya. Ia lalu tersenyum. "Kau memang begitu, ya.." Guren turun dari kasurnya yang ada di atas kasur Shinya.

"Eh? Kenapa turun?"

"Aku tidak bisa tidur lagi. Lagipula kalau aku melihatmu kau tidak bisa mengepak barang kan? Jadi aku akan membantumu," Guren meraih beberapa buku. Menyusunnya di koper Shinya.

Shinya terpaku. Ada yang mengembun di matanya.

"Aku sudah tahu kau akan pindah, jadi kenapa kau masih tidak bisa mengepak barang kalau ada aku?" Guren bertanya.

Shinya kembali melipat baju. "Entahlah.." gumamnya. "Mungkin.. karena.." Guren menyimak. ".. sebenarnya.. aku tidak ingin pergi?"

Si iris ungu tertawa kecil mendengarnya. "Lalu apa hubungannya denganku, bodoh?" Sebenarnya Guren ingin lanjut bersandiwara, namun matanya mendapati Shinya menunduk tak wajar dengan bahu berguncang pelan.

Shinya menangis.

Guren tergugu. 12 tahun ia mengenal Shinya, mungkin sudah ratusan kali ia melihatnya menangis. Namun setiap kali melihatnya, Guren tak pernah suka. Ia benci. Benci melihat bibir pucat itu melengkung ke bawah. Benci melihat iris biru itu mendung. Benci melihat pipi putih itu basah.

Dan kali ini, entah apa yang membuat mata Guren ikut mendung. Namun Guren menahannya.

"Shinya?"

Shinya buru-buru menyeka pipi. Terkekeh kikuk. "Ahaha, aku lebay, ya.."

Guren pura-pura tertawa, berusaha merubah keadaan kikuk ini dengan meledek Shinya. Meski Guren tahu, Shinya hanya akan ikut bersandiwara. "Yah, itulah Shinya."

Sesuai perkiraan Guren, Shinya lalu berakting kesal. Mereka terlalu mengenal satu sama lain, sehingga tahu apakah ini drama atau bukan. Namun mereka meilih pura-pura tidak tahu. Menyembunyikan perasaan sebenarnya dihati.

Guren yang datar. Dan Shinya ceria. Mereka memang berkebalikan dalam hal sifat. Namun mereka memiliki kesamaan. Dengan sifat mereka, Guren dan Shinya sering berusaha menutupi perasaan mereka yang sebenarnya.

Dan itu terjadi sekarang.

"Saat festival nanti, kau mau memakai yukata tidak?" Shinya menemukan bahan pembicaraan.

"Ogah ah,"

"Seperti biasa, ya, Guren," kekeh Shinya.

Guren lanjut menyusunkan buku.

"Sudah memesan tiket?"

Shinya tertusuk mendengarnya. "Hm. Sudah. Sejak minggu kemarin." Jawabnya pelan.

"Hmm," Guren manggut-manggut.

"Ne, Guren,"

"Hm?"

Shinya terdiam. Tenggelam dalam keraguan.

Guren mengangkat kepala. Menatap Shinya. Menanti apa yang akan ia katakan.

"Su..ki," Shinya menggumam pelan sekali, menahan rona merah muncul.

"Tsuki? Ada apa?" Guren menyangka Tsuki yang Shinya maksud adalah bulan.

"B-bukan apa-apa," Shinya memilih mundur. Ah, tidak lucu mengatakannya malam-malam begini.

Guren lalu teringat sesuatu. "Ah, kau benar! Hari ini purnama!" Pemilik surai legam itu berdiri, membuka tirai jendela, mengintip bulan.

Shinya menghela nafas, antara lega dan kecewa. Ia lalu terkekeh melihat antusiasme Guren pada bintang dan purnama. Guren memang sangat menyukai bulan dan bintang. Shinya ikut berdiri disamping Guren.

"Kirei," gumam Shinya kagum. Teringat sesuatu, Shinya tertawa lalu menarik tangan Guren tiba-tiba. "Kalau di balkon lebih jelas lho!"

Guren terkesiap. Meringis, namun menyadari Shinya tak lagi bersandiwara, ia tersenyum. Mengikuti langkah Shinya yang lebar dan cepat.

Shinya tertawa. Melepas lengan Guren begitu dekat balkon.

"Whoaa.." binar kekaguman kentara sekali di mata Shinya.

Guren ikut menatap langit musim panas yang cerah.

"Shinya,"

"Ya?"

"Di tempatmu nanti, jangan lupa sesekali melihat bulan, ya." Guren berkata tanpa mengalihkan atensi dari bulan.

Shinya menoleh. Menyadari pergerakannya, Guren ikut menoleh sambil tersenyum. Tak lebar, memang. Namun tetap spesial di mata Shinya.

Shinya tersenyum miring. "Tentu saja. Aku akan melihat bulan jika aku merindukanmu nanti,"

Gawat. Shinya keceplosan. Namun Guren hanya terkekeh kecil seraya mengelus pucuk kepala Shinya.

"Kalau begitu, aku akan melakukan hal yang sama,"

Di bawah langit musim panas malam itu. Mereka telah berjanji menjadikan bulan sebagai salah satu perantara rindu.

.

.

.

TbcA/N :Fanfic Ikanai De ini terinspirasi dari lagu 'Ikanai de' nya Kaai Yuki dan (khusus chap ini) lagu 'Sayonara Dake ga Jinsei Da' nya Ito Kashitaro.Alur fanfic diambil dari lagu Ikanai de. Tapi bumbu konflik di chap ini diambil dari lagu Sayonara Dake ga jinsei Da. Seperti ucapan Guren tentang kesepian, itu adalah apa yang saya tangkap ketika mendengar lagunya.

Intinya, fanfic ini adalah hasil interprestasi saya dari kedua lagu diatas. Tentu saja inspirasi fanfic ini tidak hanya berasal dari 2 lagu barusan. Tetapi secara garis besar, alur dan isi fanfic ini berasal dari sana.

Semoga bisa menghibur. :) maafkan jika ternyata feelnya tidak tersampaikan dengan baik :')

Jangan lupa berbahagia.

Salam,Elkan