Here is chapter 3, enjoy!
Way to Love You
Rated: T
Disclaimer: BleachTite Kubo dong pastinya!
Aku hanya bisa melihat punggungnya, mulai dari sekarang, dia membatin.
Dan Orihime bisa merasakan pegangan Tatsuki di pundaknya mulai mengencang.
"Aku akan menghajarnya, Orihime," dia berbisik pada Orihime.
"Jangan..." Orihime mencegahnya, namun terlambat.
BRUUGHH!
Chapter 3 : The Punch
Ichigo terjatuh ke lantai. Dipipinya ada lebam, bekas pukulan seseorang yang kelihatan masih baru.
Ya. Pukulan Tatsuki ke Ichigo telah mengena tepat pada pipi kanannya.
"Kau... cowok... b*j*ngan," katanya dengan memberi penekanan pada kata b*j*ngan. (Author: Mohon maaf, kata itu harus disensor karena agak kasar)
"Apa alasan kau memanggilku begitu?" Ichigo menjawab dengan dingin, walaupun dia tahu apa yang dibicarakan oleh Tatsuki.
Seisi kelas sekarang memperhatikan Tatsuki dan Ichigo. Bahkan geng Ggio yang terkenal ribut itu pun ikut mendongak.
"Kau!" pukulan Tatsuki sudah melayang lagi, dan kali ini mengenai hidung Ichigo. "Bodoh! Laki-laki macam apa kau ini? Kau bisa seenaknya memutuskan hubungan dengan orang yang sangat mencintaimu hanya karena kalah dua ranking? Kau tidak normal, kau..."
Dia menghujamkan satu lagi pukulan, namun dihalangi oleh Sado.
"Arisawa, jangan."
"PERGI! BIARKAN AKU MENGHAJAR COWOK HINA INI!" dia menarik tangannya dengan keras, dan melayangkan kembali pukulannya.
"Cukup, Tatsuki-chan. Tolong, biarkan dia..."
Suara lirih Orihime membuat pukulan Tatsuki berhenti di udara. Baru dia sadar bahwa yang akan dipukulnya bukan Ichigo, namun Orihime.
"Orihime! Kenapa kau masih melindunginya?" Tatsuki mengguncang-guncang bahu Orihime.
Airmata mengalir perlahan ke pipi Orihime, "Itu adalah... keinginannya, Tatsuki-chan. Apapun yang terjadi, apa yang dilakukan olehnya, Tatsuki-chan tidak berhak memaksakan keinginan Tatsuki-chan."
"Itu bukan keinginanku, Orihime! Semua itu demi kebaikanmu! Aku tahu kalau cowok itu telah membuatmu tersenyum dan tegar, namun sekarang dia membuatmu terpuruk!"
Dia mencoba untuk setidaknya bicara lebih lembut kepada Orihime, namun yang keluar dari tenggorokannya adalah teriakan.
"Tatsuki-chan..."
Kali ini Orihime betul-betul menangis. Tanpa membawa tasnya, dia keluar dari kelas bertepatan dengan masuknya Yoruichi-sensei.
"Lho? Inoue-san? Mau kemana kau?" tanyanya kepada Orihime yang sudah berlari di sepanjang koridor.
"Ada apa dengan Inoue-san?" tanyanya pada seluruh kelas. "Dan kau, Kurosaki? Kenapa mukamu lebam begitu?"
"Aku dirampok pulang sekolah kemarin," kata Ichigo tanpa menatap Yoruichi-sensei. Dia tahu bahwa mata Yoruichi bisa membaca pikiran seseorang.
"Inoue?"
"Dia ke ruang OSIS, ada keadaan darurat," kata Ggio membela.
"Yah... mau bagaimana lagi. Kalau begitu keluarkan buku kimia kalian, halaman 295 bagian A," kata Yoruichi-sensei.
"Baik, sensei..."
"Sssst... kenapa tidak ada orang sih?" kata seorang wanita berambut panjang.
"Duh, she must be at school, mom!" jawab anak laki-laki berambut putih, pendek. Sepertinya dia anak dari wanita tersebut.
"Mommy, where's my candies?" rengek seorang anak kecil yang bertengger di pundak laki-laki yang sangat tinggi.
"Your candies are carried by daddy, dear! Ayah masih membayar taksi, minta antar Kenpachi saja! Aha, aku tahu dia biasa menaruh kuncinya dimana..."
Tatsuki's POV
"Arisawa, perhatikan!" bentak Kusaka-sensei, membuyarkan lamunanku.
"Haik, sensei..." aku menyahut pelan, walaupun hanya menatap kosong kearahnya.
Orihime pasti marah padaku.
Sudah tentu dia marah, bodoh! Bisik sesuatu dalam hatiku.
"Sou ka..." tanpa sadar aku berbicara sendiri, sanget keras.
"Arisawa! Sudah kubilang jangan bicara didalam kelas! Berdiri diluar!"
"Haik..." jawabku lemas lalu keluar dari kelas diiringi tatapan matanya. Mungkin Kusaka-sensei ini mengerti kalau aku sedang tidak butuh pelajarannya. Paling tidak aku bisa berpikir lebih tenang tanpa bentakannya terus menerus.
Atau merenung, mungkin. Yah, entah apa yang akan dikatakan guru-guru yang lewat kalau melihat siswa kelas unggulan berdiri diluar. Namun jika mereka sempat melongok kedalam kelas untuk melihat siapa yang sedang mengajar, mungkin mereka hanya akan menggeleng kasihan pada murid tersebut.
Kusaka-sensei yang guru sosial, walaupun sedikit tampan namun galaknya bukan main dan juga agak paranoid. Perilaku siswa yang menurut guru lain wajar dilakukan seorang siswa di kelas, bisa dianggapnya sebagai tindakan yang serius dan patut diberi hukuman.
Mungkin seseorang yang sedang berbisik pada temannya untuk meminjam penghapus saat ulangan bisa dituduhnya menyontek dan pasti akan berakhir diluar kelas.
Dan disinilah aku berada. Berdiri di luar kelas, hanya karena bicara dua patah kata. Guru paranoid, umpatku dalam hati. Dari jendela aku melihatnya menjelaskan tentang circular flow diagram yang sudah aku pelajari dengan Orihime sekitar seminggu yang lalu. Yah, tidak mengikuti pelajarannya hari ini juga tidak masalah. Jadi, aku tidak perlu membuka kembali buku sosial-ku dan membacanya malam ini.
Dan, kembali ke persoalan Orihime. Sekarang harus aku apakan dia? Lebih tepatnya 'akan dia apakan aku' sih, tetapi Orihime sekarang sedang dalam keadaan labil. Mungkin aku memang sedikit berlebihan karena berteriak padanya tadi pagi, tapi kenapa dia semarah itu kepadaku? Memang aku agak merasa bersalah kalau berkata dia terlihat sangat marah, namun tingkahnya begitu saja berlari meninggalkan kelas sudah sedikit banyak membuat bukti bahwa dia marah padaku, tentu saja.
Ya, besok aku akan meminta maaf padanya.
Orihime's POV
Aku tidak tahu lagi kemana harus pergi saat ini. Belakang sekolah, taman, dan pinggiran sungai sudah aku datangi hanya untuk memperoleh kedamaian. Walaupun disana sangat sepi, tetapi denyutan rasa sakit di hatiku terus berlanjut. Mungkin aku akan sedikit lebih baik kalau pulang saja ke apartemen.
Langit sudah gelap, dan kantuk sudah menjalari pelupuk mataku. Perutku juga sudah memberi alarm peringatan untuk segera diisi. Ah, aku akan ke minimarket dulu untuk membeli beberapa bahan makanan untuk malam ini.
[-]
Aku berjalan lagi ke minimarket. Tetapi...
Astaga. Dompetku ada didalam tas yang kutinggalkan di kelas. Dan sekarang, sekali lagi aku menyusuri jalan dengan lunglai. Mungkin aku akan mencari bahan makanan yang tersisa di kulkas. Atau ke rumah Tatsuki-chan untuk makan.
Tatsuki-chan, ya. Aku lupa kalau dia marah padaku tadi pagi. Aku bukannya kekanak-kanakan seenaknya bolos sekolah tadi pagi, tapi aku benar-benar tidak tahan melihat orang-orang yang aku sayangi bertengkar bahkan sampai ada yang terluka. Aku pun melirik jam tangan yang ada di tangan kananku.
Jam 9 malam, tidak sopan jika bertamu ke rumah Tatsuki-chan sekarang. Mungkin aku akan meminta maaf padanya besok pagi saja.
Aku sudah berada di depan pintu apartemenku, siap untuk mencari kunci yang biasanya kutaruh dibawah pot tanaman. Tapi, rasanya ada suara-suara yang kudengar dari balik pintu. Pencuri, itulah hal pertama yang terpikirkan olehku saat mendengar suara itu. Tapi pencuri yang sangat gaduh dirumah korbannya pastilah sedang cari mati.
Akhirnya dengan mengumpulkan sedikit keberanian yang tersisa, aku pun membuka pintu.
Normal POV
"Orihime-chan..!" sebuah pelukan mendarat di badan Orihime Inoue.
"Bi-bi-bibi Rangiku!" katanya kaget, kemudian melihat siapa saja yang ada di apartemennya saat ini.
Bibirnya menganga.
"P-paman Gin!" serunya senang dan memeluk Gin, yang menyambut pelukan Orihime dengan hangat.
"Shiro-chan! Kau sudah besar ya! Terakhir kali kita bertemu saat umurmu masih 8 tahun, kan!" Orihime mengacak rambut Toshiro.
"Yeah, I'm 12 now," jawabnya cuek.
"Yachiru-chan!" dipeluknya Yachiru, kemudian matanya bertemu seseorang yang pernah dilihatnya.
"Em.. Kenpachi?" katanya setelah sekian lama menebak.
"Ya," orang itu menjawab singkat. Rupanya Kenpachi adalah pengasuh Yachiru dari kecil.
Dan dia melihat ke apartemennya. Masih ada beberapa koper, dan meja ditengah ruangannya sudah dipenuhi banyak makanan.
Dia duduk di depan meja sambil memangku Yachiru.
"Nah, bibi Rangiku kenapa tiba-tiba berkunjung ke sini? Bukannya bibi tinggal di Amerika?"
"Not anymore, dear!" jawab Rangiku sambil mengambilkan makanan untuk suaminya. "Kami memutuskan akan pindah lagi ke Jepang dan menetap, tapi karena belum ada persiapan jadi kami memutuskan untuk menumpang di rumahmu selama beberapa hari, karena disini tidak ada hotel penthouse dan Gin tidak mau jika kami pesan dua kamar secara terpisah. Gin juga sedang mencari rumah yang lumayan untuk ditempati. Boleh, sayang?"
"Tentu saja boleh, bibi! Selama apapun boleh!" jawabnya riang.
"A.. Ken-chan!" seru Yachiru pelan sambil melepaskan diri dari Orihime dan menuju ke Kenpachi yang sedang makan.
"Eh? Kenapa kau tidak makan Orihime-chan?" tanya Gin, karena sejak tadi melihat Orihime tidak menyentuh makanan siap saji yang kelihatannya masih panas itu.
"Ah! Ya! Terima kasih, paman Gin! Itadakimasu!" dia makan dengan lahap. Dia baru sadar bahwa perutnya lapar sekali.
"Eh, tunggu," katanya, berhenti memakan ayam gorengnya. "Kurasa akan lebih enak kalau kita tambahkan dengan sedikit strawberry! Bibi, ada strawberry tidak?" tanyanya kepada Rangiku yang sedang berdebat dengan Tushiro soal sekolah barunya.
"Tidak-pasti mereka mau menerima kelas akselerasi! Ya, ichigo? Kurasa sudah kutaruh di kulkas, hehe."
"Ichigo, ya," Orihime sedikit murung mendengar nama itu. "Ya, kurasa aku akan makan ayam ini dengan sedikit taburan ichigo."
Sementara Rangiku dan Toshiro masih melanjutkan debatnya tentang sekolahnya.
"Yah, baiklah! Kau sekolah di Karakura Gakuen saja! Aku yakin sekolah itu mau menerima kelas akselerasi!" Rangiku menepuk pundak Toshiro, yang masih terlihat tidak puas. Mulutnya sudah membuka, siap melawan.
"Mom! Academically, Osaka's high schools are better! Don't you want to-" namun segera disela oleh Orihime.
"Eh? Karakura Gakuen? Toshiro mau sekolah di SMA?"
"Yah, begitulah. Saat di US, dia masuk kelas akselerasi karena otaknya yang jenius ini dan sekarang seorang freshman di Sekolah Menengah Atas!" Rangiku memeluk Toshiro, sampai kepalanya terjepit buah dada ibunya yang besar.
"Wah, pasti mewarisi otak paman Gin ya!" jawab Orihime senang. "Freshman?"
"A freshman is a first year student," jawab Toshiro acuh tak acuh.
"First year? Hebat, Toshiro satu angkatan denganku! Sekolah di Karakura Gakuen saja, ya!"
"But, I want to study in high school in Osaka..." jawab Toshiro dingin.
"Shiro, sebaiknya turuti saja kata ibumu," Gin ikut nimbrung. "Ayah akan bekerja secara remote di Karakura dan tetap akan bolak-balik United States. Kalau kau sekolah di Osaka, your mom would be lonely at home only with Yachi and Kenpachi when I'm going to the States."
"Mom can take care of herself, dad. I can live in Osaka and go home on weekends!" lagi-lagi Toshiro bersikeras.
"Shiro. Go to school here, and I'll let you go to MIT for college. Alone." kata ayahnya menatap Toshiro tajam.
Tidak berdaya dibawah pandangan mematikan dari ayahnya, mau tidak mau dia mengangguk.
"Okay, I'll do it."
Terlihat puas, Rangiku memeluk pundak Gin yang sedang duduk dari belakang dan bicara pada Toshiro, "Nah, Shiro! Karena ini di Jepang, pakailah bahasa Jepang ya! Kurasa lahir dan besar di Amerika tidak akan membuat pelajaran bahasa Jepangmu luntur kan, sayang?"
"Ya. Ayah, ada yang mengetuk pintu," kata Toshiro menunjuk pintu apartemen Orihime.
"Eh, iya. Mungkin itu petugas pemasang telepon, tolong buka pintunya, Rangiku."
Rangiku membuka pintunya. Dan benar saja, dua orang yang memakai seragam layanan internet bicara kepada Rangiku sebentar.
"Iya. Memang makan waktu berapa lama untuk memasang jaringan internet?"
"Yah, paling lama 30 menit, Nona."
"Haha.. jangan dipanggil nona! Saya sudah bersuami!"
Potongan pembicaraan Rangiku dengan petugas layanan telepon rumah terdengar oleh Orihime.
"Eh? Internet?"
"Ya, Orihime-chan. Agar rumahmu lebih nyaman, jadi kami akan pasang jaringan internet. Yah, karena aku juga harus mengirim e-mail kepada atasan perusahaanku, jadi mau tidak mau harus memasangnya. Tidak apa-apa Orihime-chan?" kata Gin.
"Ta-tapi, Paman Gin... Tidak ada komputer disini."
Gin yang sekarang menyantap eksrim coklat memberikan senyumnya yang biasa pada keponakannya.
"Komputer? Tenang saja, Orihime-chan. Kan bisa pakai notebook-ku, atau Rangiku," Gin berhenti untuk menelan eskrimnya, "Atau pakailah notebookmu sendiri."
Orihime tersentak, "N-notebook? Aku tidak punya, paman!"
"Oooh, tidak, tidak," kali ini senyum yang selalu disunggingkan Gin makin melebar. "Kami menumpang di rumah ini untuk beberapa waktu, dan bayarannya anggap saja notebook itu! Tas kecil yang ada di ujung sana itu berisi notebook barumu!"
"Ya, betul!" tiba-tiba Rangiku muncul dan membawa sesuatu yang ada didalam kotak. "Dan ini juga kami berikan agar kau bisa selalu berkomunikasi dengan kami!"
Dia memberikan Orihime kotak tersebut. Ternyata isinya...
"Telepon genggam…" bisik Orihime, lalu memberikan kotak itu kembali pada Rangiku. "Tidak, terimakasih bibi. Tapi aku sudah punya telepon genggam, kok!"
"Tidak apa-apa, sayang!" sergah Rangiku, memberikan kembali kotak berisi telepon genggam mahal keluaran terbaru itu kepada Orihime. "Free upgrade dari telepon genggam lamamu. Jadi, terimalah!"
"Terima kasih banyak, paman Gin! Bibi Rangiku!" dia berdiri dan membungkuk sangat rendah kepada Gin dan Rangiku yang kelihatan puas.
"Anak baik," bisik Gin pada Rangiku.
To Be Continued
Review Responses:
hina-chan : Hehe, Hime udah seneng kok, yang penting Hina-chan udah review! :D
Shuei samehachi : Makasih pujiannya Shuei-san, ini udah tak update o
ayano646cweety : Salam kenal juga, Hime juga author baru kok!
ruki4062jo : Makasih sarannya, Ruki-san! Hime uda update...
aRaRaNcHa : Makanya Hime bingung ama Ichi-nya Hime, kok cuma mau konsen belajar musti putus? Ichi-nya Hime nih yang salah! / Iya Cha-san, kayaknya dipukul :P
Riztichimaru : Iya, Ruki tinggal serumah ama Ichi, cuman Ruki gak tidur di lemarinya kok!
Akhir kata, Hime selaku author meminta maaf kalau ada salah dalam fanfic Hime.
Dan Hime mohon review-nya, agar Hime bisa bikin fanfic ini jadi lebih baik.
