Chapter 4 is here!
Way to Love You
Rated: T
Disclaimer: Bleach©Tite Kubo
Warning: OOC
"Tidak apa-apa, sayang!" sergah Rangiku, memberikan kembali kotak berisi telepon genggam mahal keluaran terbaru itu kepada Orihime. "Free upgrade dari telepon genggam lamamu. Jadi, terimalah!"
"Terima kasih banyak, paman Gin! Bibi Rangiku!" dia berdiri dan membungkuk sangat rendah kepada Gin dan Rangiku yang kelihatan puas.
"Anak baik," bisik Gin pada Rangiku.
Chapter 4 : "One Morning with Him"
"Nona, sudah dipasang semua." kata si petugas layanan internet kepada Rangiku setelah sekian lama ribut didalam maupun diluar apartemen Orihime.
"Terimakasih, this is a tip for you," dia memberikan sejumlah uang ke si petugas, yang menunduk tanda hormat kepada Rangiku-kemudian pergi.
"Sekarang kita coba!" seru Gin membuka notebooknya. "Aaah, sudah bisa. Aku harus segera kirim email ke Aizen-sama. Orihime-chan, cobalah notebook barumu."
"Ehm, baiklah," mau tidak mau dia bangkit dan mengambil tas biru kecil yang terletak di dekat tumpukan koper. Wow, pasti harganya sangat mahal, batinnya.
Dia menyambungkannya dengan Wi-Fi (karena sudah pernah diajari oleh Tatsuki). Karena tidak ada yang terlalu dimengerti Orihime, dia hanya mengutik-utik notebook itu sebentar, kemudian membiarkannya terbuka tanpa apa-apa.
"Eh, rasanya aku sudah mengantuk, Rangiku," sahut Gin kepada Rangiku setelah semua pekerjaannya selesai dilakukan. Memang, jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Toushiro bahkan sudah bergulung di sofa, dan Yachiru sudah terlelap di pangkuan Kenpachi yang kelihatannya juga sudah tertidur, di karpet.
"Paman dan bibi bisa tidur di kasur, biar nanti aku menggelar futon dibawah!" kata Orihime kepada paman dan bibinya.
"Kami saja yang tidur di futon, sayang! Kau kan tuan rumah, tidurlah di tempat tidurmu!" sergah Rangiku.
"Tidak usah! Futonku kecil dan sempit, jadi tidak muat untuk kalian berdua! Ayo, biar kuantar!" dia menyeret Gin dan Rangiku ke kamarnya.
"Wah, terimakasih ya Hime-chan! Ayo tidur, sayang!" seru Rangiku semangat kepada Gin yang hanya mengangguk lemah, menandakan bahwa memang dia sedang dikuasai oleh kantuk.
"Oyasumi, Orihime-chan!"
Orihime's POV
"Oyasumi, Orihime-chan!" aku masih bisa samar-samar mendengar suara Paman Gin yang mengucapkan selamat tidur kepadaku.
Ya. Bibi Rangiku dan Paman Gin yang baru saja pindah dari Amerika, menginap di rumahku. Bibi Rangiku adalah sepupu dari Sora nii-chan, namun karena umurnya yang lebih tua dari Sora-nii, aku memanggilnya bibi saat kami pertama kali bertemu dan terus memanggilnya seperti itu. Dulu namanya Rangiku Matsumoto. Oh, tidak, tidak! Mereka tidak tinggal hanya berdua! Mereka membawa Toshiro Ichimaru, anak pertama mereka, yang berarti secara teknis adalah keponakanku meskipun umurnya lebih mendekatiku daripada bibi Rangiku. Walaupun umurnya masih belia yaitu 12 tahun-memiliki kecerdasan diluar anak sebayanya.
Kemudian Yachiru Ichimaru, keponakanku juga yang merupakan anak kedua dari Bibi dan Paman. Yachiru aku akui adalah anak yang unik. Bibi pernah cerita saat umurnya masih satu tahun lebih, dia tiba-tiba menghilang dan kemudian pulang dengan diantar oleh seorang laki-laki yang berperawakan menyeramkan dan juga sangat tinggi, Kenpachi Zaraki.
Namun karena Yachiru menolak melepaskan genggamannya dari punggung Ken-chan-begitu dia memanggilnya-terpaksa Kenpachi harus menginap di rumahnya malam itu. Setelah berbicara serius dengan Paman Gin, Kenpachi bersedia menjadi pengasuh Yachiru-tanpa digaji.
Hehe, tanpa digaji! Itu karena Kenpachi tinggal sebatang kara, dan tinggal bersama keluarga yang lengkap, menurutnya, sudah lebih dari sekedar menerima gaji. Namun Bibi Rangiku bersikeras untuk tetap menggajinya.
Begitulah yang dikatakan Bibi Rangiku padaku. Bibi punya selera makan yang sama denganku! Namun, katanya sejak menikah dengan Paman Gin, dia tidak tega melihat wajah kurus Paman tampak lebih kurus karena lebih memilih mencari alasan "Sudah makan diluar" atau "Ditraktir teman kantor" daripada makan makanan buatan Bibi yang sebenarnya enak itu.
Enak bagi kami berdua, ya. Hihihi. Akhirnya dia memilih untuk mengikuti kursus masak dan berusaha memasak pada jalur yang dianggap orang lain yang menikmati masakannya, bisa disebut makanan yang rasanya 'normal'.
Sedangkan paman Gin Ichimaru, adalah suami Bibi Rangiku yang sangat ramah. Aku menyukai wajahnya yang selalu menyunggingkan senyuman yang khas, sedikit mirip rubah. Namun aku pernah melihat beberapa tatapannya kepada orang yang mencoba menggoda Bibi saat kami jalan-jalan dulu-atau yang baru saja terjadi—Toushiro yang keras kepala—sangat menyesakkan. Tapi, selebihnya, baik kok. Oh iya, Paman Gin juga bisa dibilang kaya karena pekerjaannya di Perusahaan Hueco Mundo, yaitu perusahaan raksasa yang didirikan oleh Sousuka Aizen atau entah siapa itu-menjabat sebagai Vice President. Vice President yang bisa mengatur tempat pekerjaannya, atau waktu kerjanya kapan saja dan dimana saja. Karena itulah Paman Gin bisa santai berpindah-pindah tempat kerja tanpa takut di-PHK atau terkena dampak buruk ekonomi lainnya. (A/N: Nama Sousuke Aizen sengaja dibuat typo karena ketidaktahuan Orihime)
Yah, sejauh itulah yang bisa aku ketahui tentang keluarga Ichimaru yang unik ini. Seunik apapun, aku tetap menyukai keluarga ini.
Dan juga, untuk yang pertama kalinya aku bisa merasakan kebahagiaan memiliki keluarga.
Sekarang kembali ke diriku sendiri. Yah, sebuah smartphone dan notebook-entah mengapa bisa aku miliki sekarang. Aku tidak pernah punya angan-angan untuk memiliki barang-barang mewah ini, namun, mau bagaimana lagi, aku telah memilikinya dalam jangka waktu yang singkat.
Aku membuka kotak berisi telepon pintar baruku itu dan mendapati sebuah telepon dengan layer yang besar. Besar dan Berat. Aku mengambil telepon lamaku dan mengambil simcardnya, kemudian memasangkannya ke telepon baruku. Untung saja aku tidak memasukkan telepon lamaku ke tas, karena pasti akan tertinggal.
"Hum... Dicas dulu saja," gumamku pelan sambil mengambil charger dari kotak itu lagi. Tapi kulihat ada sms di telepon genggam lamaku.
Lagi-lagi dari Ggio. Yah, sms ini tidak mungkin membuat perasaanku menjadi lebih buruk-jadi kubaca saja daripada besok dia mengamuk.
Orihime... Kenapa ngeloyor pergi begitu aja!
Kita kan rapat OSIS! Besok pagi ada kerjaan buatmu, ambil diruang OSIS ya... hehe XD
Selesaikan sebelum istirahat, jadi datanglah pagi-pagi, akan ada anak OSIS lain yang menemanimu!
Salam sayang dari Grimmjow :P
Aku betul-betul lupa hari ini ada rapat OSIS. Dan karena tidak mengadirinya, aku harus menyelesaikan tugas ini pagi-pagi dan sendiri? Baikalh, aku toh sudah pernah mengalami hal yang sama.
Tapi, kata Ggio akan ada yang menemani, mungkin begitu aku menelepon dia dan bertanya jawabannya pasti seperti itu!
"Temanmu ada di sebelahmu... Menunggu untuk menghisap darahmu!" aku menirukan gaya bicara Ggio yang sok mencekam, saat aku harus menyelesaikan tugas OSIS dipagi hari juga.
Yah, tidak apa-apa sih kalau mereka penghisap darah. Immortality, here I come.
~Way to Love You~
"Ggio, mana sih teman yang kaubilang mau menemani?"
"Temanmu ada di sebelahmu... Menunggu untuk menghisap darahmu!"
Telepon itu terjatuh. Di sudut ruangan berdiri seorang cowok-tampan, tinggi, dan sedikit pucat. Sedang tersenyum pada gadis berambut auburn yang baru menjatuhkan telepon genggam.
"Orihime... Maukah kau menjadi bagian dari kami?"
Gadis berambut coklat itu sedikit terperanjat, namun mengatakan hal yang mantap dari bibirnya.
"Ya-aku mau,"
"Bersiaplah..." kata cowok itu, bergerak bangat cepat dan mulai mendekati leher gadis itu. "Ini akan sangat sakit..."
Eh! Apaan sih aku ini! Kenapa malah menghayal yang tidak jelas! Sudah sudah sudah!
Dan kemudian aku sekali lagi mematung didepan notebook mungil berwarna biru langit yang masih kubiarkan menyala, yang entah mengingatkanku pada seseorang.
"Sora nii-chan..."
Tok Tok Tok! Pintu rumahku diketuk. Aku sekilas memandang jam dinding, dan mendapati bahwa jarum telah menunjukkan angka 11-yang berarti sudah diluar norma kesopanan seseorang untuk bertamu.
Tok Tok Tok! Lagi-lagi pintu itu diketuk. Mau tidak mau, harus kubukakakan, meskipun aku berharap kalau ternyata si Tamu salah alamat dan punya cukup alasan untuk bertamu ke rumah seorang manusia normal, selarut ini. Yah, itupun kalau yang ingin dikunjunginya adalah manusia. Bagaimana kalau dia vampir yang memangsa orang yang masih terjaga pada jam segini?
Aku menertawkan diriku sendiri, mana mungkin ada vampir yang mau memangsa harus mengetuk pintu korbannya terlebih dahulu? Bodoh...
Pintu kubuka-dan aku melihat sosok orang yang sangat aku sayangi. Orang yang selalu membela aku apapun resikonya. Sekian lama kami bertatapan tanpa sepatah kata pun.
Tatsuki's POV
Sudah gelap. Aku melirik jam beker yang terpasang di meja kamarku, dan angka digitalnya menuliskan 10.15 p.m.
Dengan langkah lunglai aku memakai jaketku dan keluar dari kamar.
"Okaa-san, aku mau pergi," kataku kepada Okaa-san, yang nampak heran.
"Eh? Kau mau kemana?"
"PRku ketinggalan di sekolah, aku baru ingat belum mengerjakannya," aku dengan mudahnya berbohong kepada Okaa-san.
Lalu aku menyusuri sepanjang jalan yang sudah terlihat sepi dan gelap. Rumah-rumah juga sudah terlihat mematikan lampu. Satu-satunya bangunan yang masih terang benderang adalah minimarket 24 jam. Aku menuju minimarket itu dan membeli satu bungkus onigiri, kemudian duduk di ayunan di taman.
Aku memakan onigiri itu, walau sebenarnya perutku masih merasa kenyang karena makan malam. Entah mengapa aku ingin sekali keluar rumah dan merasakan udara malam. Dan entah mengapa juga aku membawa tas sekolah Orihime secara tidak sadar. Aku memakan lagi onigiri-ku.
Aku tidak tahu harus melakukan apa sekarang. Mengunjungi apartemen Orihime untuk mengembalikan tasnya? Oh, sungguh tidak sopan bertamu ke rumahnya jam segini. Kalau aku pulang sekarang, Okaa-san pasti akan tahu kalau aku berbohong.
Jadi aku duduk sendirian di ayunan itu. Mungkin sekitar lima belas menit. Lalu aku berdiri dan memutuskan untuk pergi ke sana, ya, meskipun tidak sopan namun rasanya ada yang memanggilku untuk pergi kesana.
Kakiku menyusuri sepanjang jalan yang sudah sangat kukenal. Suasanya sepi, dan gelap. Kadang-kadang ada bunyi berkeresek, tidak tahu apa yang membuat bunyi itu. Dan akhirnya aku sampai. Aku lihat semua lampunya sudah dimatikan. Sedikit berharap agar tidak dibukakan, aku mengetuk pintunya.
Pintu kuketuk tiga kali, dan aku berhenti untuk mendengarkan apakah ada gerakan dari dalam situ. Tidak ada suara apapun, batinku. Sekali lagi aku mengetuk pintunya. Dan aku berhenti untuk mendengarkan sekali lagi. Dan kagetnya, pintu itu terbuka, dan dia berdiri di depannya, memandang dengan heran.
Begitu mata hazelnutku bertemu dengan mata abu-abunya, atmosfer rasanya langsung berubah menjadi sedingin es. (A/N: Makasih banyak buat Hyourinmarunya Hitsugaya-taichou yang udah mau jadi sponsor)
Normal POV
"Tatsuki-chan!" Orihime mnghambur kedalam pelukan Tatsuki, sambil menangis. Ya, menangis.
"Maaf..." mereke berdua berkata bersamaan.
Tatsuki membelai lembut punggung Orihime.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan darimu, Orihime. Akulah yang harusnya meminta maaf."
"..."
"Ya sudah. Ini tasmu," dia memberikan tas Orihime yang tertinggal padanya, dan melongok ke dalam apartemennya.
"Hei? Apa-apaan ini?" dia menghambur masuk kedalamnya. "Koper? Dan..."
Mata Tatsuki membelalak.
"Notebook? aPhone? Apa kau baru saja kedatangan Dewi Fortuna yang lagi mabuk lalu memberikan kau rejeki sebanyak ini?"
"Hehe," Orihime meringis tanpa dosa. "Apa kau ingat Bibi Rangiku dan Paman Gin? Mereka baru datang dari Amerika, jadi mereka memberi semua ini. Dan jangan berisik."
Dia menunjuk Toushiro, Yachiru dan Kenpachi yang sedang tidur. Tapi Tatsuki sudah tidak peduli lagi. Dia sekarang sedang mengutak-utik aPhone Orihime yang ternyata keluaran terbaru, atau lebih tepatnya mengaguminya.
"Iya, aku sedikit ingat... sepupumu yang jadi walimu, kan? aPhone ini baru saja keluar bulan lalu, Orihime! Mereka baik sekali."
"Hehe," lagi-lagi cuma bisa meringis, Orihime duduk di sebelah Tatsuki yang sedang melihat-lihat notebooknya.
"Oh iya, Orihime, kau tidak punya Anstagram kan? Sini biar aku buatkan," kata Tatsuki.
"Anstagram? Boleh! Pakai saja email yang kaubuatkan, Tatsuki-chan." kata Orihime.
"Um... Mau pakai username apa?" tanya Tatsuki, yang rupanya sudah ada di jendela pendaftaran untuk pengguna baru Anstagram.
~Way to Love You~
"Nah, sekarang follow aku." kata Tatsuki begitu akun Anstagram Orihime sudah berhasil dibuat.
"Banyak foto-foto kita bersama ya, Tatsuki-chan"gumam Orihime.
"Tentu saja," kata Tatsuki sembari melirik jam yang menunjukkan angka 12. "Aku pulang dulu ya, Orihime, sudah larut."
"Hati-hati di jalan, Tatsuki-chan!"
Orihime's POV
Tatsuki-chan pulang, dan ini sudah jam 12 malam. Tapi rasanya aku tidak mengantuk sedikitpun.
Mataku kembali menyusuri halaman Anstagram yang baru saja kujelajahi. Aku tahu, kalau hamper semua orang di sekolah memiliki akun Anstagram; bahkan mungkin hanya aku yang tidak memilikinya?! Untuk melihat siapa saja yang sudah bergabung di dalamnya, aku membuka followers Anstagram Tatsuki.
1.076 followers
Aku membukanya, dan sebuah nama menarik perhatianku.
Kurosaki Ichigo
"Ah..." desahku, dan membuka Profilnya.
Kurosaki Ichigo_Follow
This account is private. Follow this account to see their photos and videos.
"Oooh, baiklah kalau itu maumu," aku menggumam tidak jelas dan menekan tombol follow.
Kemudian aku menghabiskan beberapa menit untuk mengikuti nama-nama yang aku kenal. Betul saja, aku bisa menemukan hampir semua orang. Namun, ada satu nama lagi yang menarik perhatianku-aku agak malu mengakuinya.
Tapi aku toh membuka profilnya juga.
Grimmjow J_Follow
This account is private. Follow this account to see their photos and videos.
Yah, sedikit sangsi, aku juga mengikutinya. Hey, kami berada di organisasi yang sama, no biggie!
Mematikan notebookku dan memasukkannya kembali ke dalam tas. Jam dua pagi, tidak kusangka.
Baiklah, sekarang aku benar-benar mengantuk. Aku membawa telepon genggam lama dan baruku ke kamar dan menggelar futon dilantai. Sejenak, aku melihat Bibi Rangiku dan Paman Gin tidur. Bibir Paman Gin menempel ke dahi atas Bibi Rangiku-mesra sekali. Wajah mereka juga terlihat damai, mengisyaratkan bahwa hari-hari mereka diisi dengan kebahagiaan dan cinta, bersama anak-anak mereka.
Entah siapa yang akan memberikan aku kenyamanan seperti itu. Yah, suamiku?
Siapa suamiku?
Bodoh!
Terlalu cepat untuk memikirkannya!
Normal POV
"Orihime-chan."
"..."
"Orihime-chan."
"..."
"ORIHIME-CHAAAN!"
"A-A-APAAA!" gadis bermata abu-abu itu langsung terduduk bangun dan berteriak sejadi-jadinya. Mengira ada sesuatu yang terjadi dengan apartemen yang sangat disayanginya. Namun yang ditemukannya adalah wajah kerabatnya yang sangat dekat.
"T-toushiro! Kenapa membangunkanku?" Orihime bertanya, walaupun masih dalam keadaan 'setengah sadar'.
"Look what time it is," geramnya kesal, melirik ke jam dinding.
Orihime melongok sepenuhnya ke jam dinding yang bertengger di tembok apartemennya. Dan jam menunjukkan...
"Jam enam tiga puluh! Kerjaan OSIS-KU!" dia langsung melonjak ke kamar mandi dan menutup pintunya dengan keras, meninggalkan Toushiro yang agak shock.
Pintu kamar mandi terbuka lagi, dan kepala Orihime muncul dari baliknya, "Makasih sudah bangunin aku, Toushiro!"
BLAM. Pintu ditutup lagi dengan kasar.
"Mmm..." gumam Toushiro mengiyakan, lalu pergi keluar kamar dengan sikap cool.
~Way to Love You~
"Bibi! Aku berangkat dulu ya!" kata Orihime, yang sedang memakai kaus kaki kepada bibinya yang sedang memasak.
"Tidak sarapan dulu?" sahut Gin, yang sedang memangku Yachiru.
"Tidak apa-apa paman! Aku bisa sarapan di kantin!"
Secepat kilat dia sudah sampai di sekolah, yang untung masih sepi. Dan sudah tentu, tujuan utamanya.
Ruang OSIS.
Grimmjow's POV
GGIO VEGA! Kalau saja otakku sedikit lebih pintar, aku pasti akan membuatmu terkurung juga diruang aneh ini! Mengambil pekerjaan rumah-mu yang ketinggalan? Oh, sungguh ironis. Mengadakan permainan adu menghitung? Kau betul-betul tahu kelemahanku.
Dan disinilah aku; di ruang OSIS, mencari PR-nya si Ggio sialan itu.
"Aaah! Sampai juga! Aku harus selesai sebelum bel-!"
Aku mendongak. Melihat sosok seorang gadis yang sedang terengah-engah dan kelihatan habis berlari jarak jauh itu terdiam seperti patung begitu melihatku.
GGIO VEGA! AKU AKAN MEMBUNUHMU!
Normal POV
Hening. Tidak ada suara yang terdengar kecuali engahan nafas gadis itu. Ya, Orihime Inoue.
"Kau..." kata mereka berdua bersamaan, membentuk harmoni antara suara sopran dan bass.
"Grimmjow-kun," kata Orihime tanpa beban.
"Orihime Inoue," kata Grimmjow juga.
Seakan hanya bertemu seorang rekan kerja di ruang yang sama, Orihime langsung melesat masuk menuju meja bendahara umum, menutup pintu ruang OSIS dan menghadapi paperworks yang lumayan 'bertumpuk'. Dia mengeluarkan alat tulis dan mulai bekerja.
"Hei, onna," sahut Grimmjow pada Orihime. "Tahu tidak dimana Ggio menaruh PRnya?"
"Cari aja dimejanya Ggio, pasti nggak akan nyasar," jawab Orihime, tidak mengalihkan pandangannya sama sekali dari kertas dan terus menulis.
"Oh. Terima kasih," kemudian Grimmjow menuju ke meja Ggio-tapi aneh, PR itu tak kunjung ditemukan. Lalu dia mencari ke meja ketua, wakil ketua, bahkan sampai lemari arsip. Tapi hasilnya...
Nihil!
"Grimmjow-kun," kata Orihime melihat Grimmjow sudah mirip dengan pencuri yang agak 'bodoh'. "PR itu tidak mungkin jauh-jauh dari meja Ggio, mana mungkin dia membawanya sampai ke toilet."
Ternyata Grimmjow juga mencoba mencari paperworks itu ke toilet.
Sedikit merasa malu, Grimmjow kembali ke meja Ggio. Dan kini duduk di atasnya dan menatap Orihime dengan tatapan menuduh.
"Kalau begitu, dimana PR-nya?"
"Yah, mungkin di laci?" kata Orihime santai, walaupun tanpa mendongak dari paperwoksnya—menunjuk laci meja Ggio yang dia yakin belum diperiksa Grimmjow.
"Oh. Aku tidak melihatnya, maaf," sahutnya sambil lalu, kemudian membongkar laci itu.
Orihime tertawa kecil, tangannya masih menari lincah di atas kertas-kertas, mencatat laporan keuangan untuk beberapa event.
~Way to Love You~
"Grimmjow-kun," sahutnya, mengernyit pada satu lembar kertas.
"Hm?" terdengar respons samar-samar dari Grimmjow, yang masih tenggelam pada laci meja Ggio.
"Kenapa dengan peserta lomba kelas 1-6? Kekurangan satu orang," Orihime menuding kertas yang tidak bersalah dengan nada tidak sabar.
"Oh," Grimmjow ber-ooh ria. "Masukkan saja nama Chihiro Ogawa."
"Chi.. hi.. ro... O... ga... wa.." eja Orihime saat menulis. "Kenapa sih registrasi kelasmu sering bermasalah?"
"Mana kutahu."
"Kenapa jawabanmu seperti itu sih?"
"Because I don't give a shit, that is."
"Dasar."
"Hehe. Hei, Princess."
"Hmm?"
"Apa gosip itu benar?"
"Tentu saja tidak, Grimmjow-kun. Aku tidak menyukaimu seperti itu."
"Not that dumb gossip. Kau putus dengan Kurosaki?"
Orihime berhenti menulis.
"Ya. Grimmjow-kun tahu darimana?"
"Insiden pemukulan itu sudah menyebar luas, tahu tidak," jawab Grimmjow.
"Oh..."
Dia memaksakan suaranya agar tidak bergetar, dan sebisa mungkin menahan airmatanya tidak kekluar. Namun airmatanya kin menetes di kertas administrasi kelas 3-6.
"Hei, hei. Kau menangis, onna?" Grimmjow mulai sedikit panik melihat Orihime yang sedang menyeka airmatanya.
"T-tidak, Grimmjow-kun," sahut Orihime. "Mataku cuma keculek."
"Baguslah. Kau sudah selesai?" tanya Grimmjow yang entah mengapa-sekarang menghilang dibalik kursi Ggio.
"Ya. Sudah selesai. Aku duluan ya, Grimmjow-kun!" seru Orihime sambil mengemasi alat tulisnya.
"Nah! Ini dia!" Grimmjow menjerit kesenangan, akhirnya menemukan PR Ggio, yang entah mengapa bisa ada di bawah kursi. "Mau keluar bareng aja? Kayaknya diluar sudah mulai sepi, tuh. Tidak akan ada yang melihat."
"Iya, boleh, Grimmjow-kun. Eh..." Orihime memutar-mutar kenop pintu.
"Kenapa?"
"Grimmjow-kun... PINTUNYA TERKUNCI!"
"APA?" Grimmjow keras, lalu menghampiri Orihime dan pintu, kemudian mengambil alih memutar kenop.
"Ukh. Ada kunci cadangan di lemari dekat jendela, cepat ambilkan," kata Grimmjow sambil tetap memutar-mutar kenop.
Orihime mencari kunci di lemari yang ditunjuk Grimmjow, seingatnya, memang ada kunci cadangan di dalam ruang OSIS untuk mencegah hal seperti ini terjadi. Namun setelah beberapa lama mencari di tumpukan barang-barang dan berkas, kunci itu tidak ditemukan.
"Grimmjow-kun... aku tidak bisa menemukan kuncinya..."
Grimmjow beralih ke lemari yang kini terbuka lebar, turut mencari kunci itu. Sama seperti Orihime, dia tidak dapat menemukannya.
"Ggio sialan. Pasti dia yang mengunci kita disini. Aku bisa saja sih menendang pintunya sampai rusak, tapi aku sedang malas bertemu dan menjelaskan ke Ukitake," kata Grimmjow penuh dengan nada sarkatis.
"Dia kepala sekolah kita, Grimmjow-kun, setidaknya panggil beliau Ukitake-sensei," sahut Orihime yang masih bersikeras mencari kunci cadangan di seluruh penjuru ruangan.
Bunyi bel bergema diseluruh sekolah, menandakan jam pelajaran segera dimulai dan siswa-siswi untuk segera masuk kedalam kelas. Dimana Grimmjow dan Orihime masih terkunci di dalam ruangan OSIS.
"Orihime Inoue, fuck this, kita lompat dari jendela!" seru Grimmjow menghampiri jendela.
"T-tapi Grimmjow-kun... ini kan lantai dua!" seru Orihime juga, dengan nada protes.
"Don't be such a pussy. Aku akan menangkapmu dari bawah," kata Grimmjow tidak sabar, menarik tangan Orihime sekaligus pemilik tangannya makin dekat ke jendela.
Tangannya hangat sekali... pikir Orihime, namun segera membuang jauh-jauh pikiran itu. "A-apa? Baiklah, tapi..."
Tapi Grimmjow sudah bertengger di jendela, siap melompat.
"Apa Grimmjow-kun tidak apa-apa?" tanya Orihime.
"Ini bukan apa-apa. See you on the other side," sahut Grimmjow dari jendela, langsung melompat.
Orihime memekik kecil, berlari ke arah jendela dan melihat ke bawah. Grimmjow sudah ada di daratan dengan selamat.
"Onna! Cepat naik!" teriak Grimmjow tidak sabar dari bawah. "Not that I care, tapi jam pertamaku Kusaka-sensei!"
Dengan gugup, Orihime naik ke jendela.
"Aku hitung! Pada hitungan ketiga.. LOMPAT!"
"I-IYA!" teriak Orihime gugup.
"SATU.. DUA... LOMPAT!"
Ya Kami-sama... desah Orihime dalam hati, lalu melompat pasrah dari lantai dua.
Pluk!
Orihime mendarat luwes di dalam pelukan Grimmjow. Rona merah muncul dari kedua pipi mereka. Untuk beberapa lama mereka tetap mempertahankan posisi itu, namun ketika tersadar Orihime cepat-cepat turun dari pelukan Grimmjow.
"Eh.. terima kasih banyak, Grimmjow-kun!" dia membungkuk pada Grimmjow dan segera berlari ke kelas.
~Way to Love You~
"Hihihi... Lumayan buat hotnews di mading..." bisik seseorang dibalik keremangan pohon, membawa kamera.
"Hei. Ayo masuk kelas!"
"Iya!"
.
.
To Be Continued
Hime: Hehe, gimana chapter 4-nya? Ancur ya? Hehe, Hime lagi kosong nih, apalagi sebentar lagi udah masuk sekolah, setres!
Grimmjow: Woi. Kenapa gue bego banget sih disitu?
Hime: Kenyataannya kan. *PLAAAK!*
Orihime: Eh, eh. *narik lengan baju Hime* Yang ngunci kami siapa?
Hime: Kalo dikasihtau kan nggak seru ceritanya.
Grimmjow: Ggio ya? Yakan? Yakan?
Ggio: *salah tingkah* Apaan sih sebut-sebut nama gue!
GrimmHime: Hmm... kamu kan yang ngunci?
Ggio: Gak! Bukan aku!
Hime: Ya udah. Sekarang kita jawab aja review-review dari para readers, ok!
Shuei samehachi : Yup, ini udah diupdate kok ^.^
aRaRaNcHa : Emang sengaja Hime buat baik disini. Hehe. Ini updatenya :P
ruki4062jo : Haha, ini updatenya :D
: Haha, makasih Hina-chan. Kadang-kadang iri bisa buat kita berjuang lebih keras, lho.
ayano646cweety : Iya tuh, Tatsuki... Sabar ya... Tapi Tatsuki ama Orihime udah baikan kok, hehe.
Makoto-Kitty-Jeagerjaquez : Ini udah ada GrimmHime kok :D. Oh iya, yang susumu-susumu itu ceritanya Rukia salah lirik. Jadi suzume jadi susumu.
Riztichimaru : Grimm udah muncul di chapter ini kok, walaupun keadaannya memprihatinkan (?).
.
.
Akhir kata, Hime selaku author meminta maaf kalau ada salah dalam fanfic Hime.
Dan Hime mohon review-nya, agar Hime bisa bikin fanfic ini jadi lebih baik.
