"Sakura!"

Sakura mengangkat kepalanya bingung. Ia sedang mengerjakan pekerjaan rumahnya dengan santai ketika Kakashi tiba-tiba saja menarik tangannya. Pria itu tidak mengatakan apa-apa, ia hanya mendorong Sakura masuk ke dalam kamarnya dan membereskan barang-barang Sakura yang ada di ruang tengah apartment mereka—laptop, buku-buku, selimut merah, dan bahkan cangkirnya yang berisi susu—lalu mengunci pintu tersebut dari luar.

"Jangan mengeluarkan suara dulu." Ujar Kakashi, lalu pergi meninggalkannya begitu saja.

Sakura menahan dirinya untuk bertanya lebih jauh saat ia mengenali sebuah suara yang kemudian muncul.

"… tidak usah repot-repot, sensei…"

Hanare?! Ujar Sakura kesal pada dirinya sendiri, tanpa suara. Pantas saja Kakashi langsung menyuruhnya masuk ke kamar seperti ini. Hanare pasti akan panik kalau melihatnya berada di rumah yang sama dengan Kakashi dan langsung memberitakan hal ini ke seantero kampus sehingga kuliahnya dan pekerjaan Kakashi nantinya akan terancam.

To : Koharu

Apa yang dia lakukan disini?

Sementara itu, Kakashi memaksakan senyumnya ke arah Hanare yang sekarang sedang memperhatikan apartment-nya. Pria itu merogoh ponselnya yang berada disaku dan segera menelepon Sakura saat menerima pesan dari gadis itu.

"Kenapa dia ada disini?!" cecar Sakura langsung.

"Pelankan suaramu!" ujar Kakashi setengah berbisik. "Aku tidak tahu, aku baru saja sampai di lobi bawah saat dia tiba-tiba saja muncul di—"

"Apakah sensei sudah makan siang?"

Kakashi tersentak. Ponselnya ia simpan kembali di saku, lalu pria itu tersenyum.

"Sudah… di kampus tadi. Dan ini," ujar Kakashi, memberikan sebotol air mineral dingin ke arah Hanare, lalu menggiringnya ke ruang tengah. "Apa yang membawamu kemari, Hanare? Bukankah kita bisa bertemu di kampus saja, besok?"

Sakura memutar bola matanya. Percakapan mereka memang terdengar lebih jelas karena Kakashi belum mematikan sambungan telepon. Kalau saja pintu itu tidak dikunci oleh Kakashi, sudah pasti ia akan merangsek keluar dan memberikan pelajaran bagi perempuan yang tiba-tiba muncul dan menganggu waktu santainya ini.

"Tidak bisa, sensei, kukira akan lebih baik jika sensei membacanya sekarang…" ujar Hanare sambil memberikan sebuah surat ke arah Kakashi. "Aku diminta langsung oleh ketua himpunan untuk memberikannya ke sensei, apakah sensei bisa datang ke malam penutupan festival jurusan dua minggu lagi?"

"Masih dua minggu lagi, tentu saja tidak akan terlalu berbeda jika kau memberikannya besok." Ujar Kakashi sedikit kesal, namun ia sangat menjaga ekspresi wajahnya. "Baiklah, aku akan datang."

Hanare tersenyum lebar. "Apakah aku boleh makan siang disini, sensei?"

"Hah?"

"Ah, itu… aku belum sempat makan siang, dan aku memiliki penyakit maag," ujar Hanare pelan. "Aku membawa makananku sendiri, tapi sensei boleh memakannya kalau mau."

Tanpa menunggu persetujuan Kakashi, Hanare mengeluarkan kotak makan berwarna biru pastel dari dalam tasnya dan menunjukkan tiga buah onigiri yang tersusun rapi di dalam sana. Kakashi tersenyum tidak enak, menolak tawaran Hanare saat gadis itu menawarkan makanannya, lalu meraih ponselnya.

"Aku harus mengangkat telepon—kau makan saja dulu disini. Nikmati waktumu." Ujar Kakashi, tersenyum ke arah Hanare.

"Tapi tidak ada bunyi dering ponsel? Apa sensei yakin—?"

"Mode getar." Potong Kakashi cepat.

Ia berjalan melewati lorong pendek apartmentnya dan membuka pintu kamar Sakura. Gadis itu langsung saja melompat ke arahnya, namun Kakashi dengan cepat menahannya agar tidak keluar dari kamar tersebut.

"Aku ingin buang air!" ujar Sakura kesal. "Sampai kapan pacarmu duduk disitu?!"

"Tahan sebentar, dan dia bukan pacarku." Kakashi berujar malas. "Sekarang bantu aku. Bagaimana caranya agar aku bisa mengusirnya dengan sopan? Dan jangan berikan saran bar-bar, karena aku adalah dosennya."

Sakura mendengus dan kembali duduk di atas tempat tidurnya. Ia menatap Kakashi sekilas, lalu menggelengkan kepalanya.

"Tidak tahu. Kau pikir saja sendiri."

"Hei… bantu aku." Kakashi berujar setengah putus asa, mengikuti Sakura dan duduk di samping gadis itu. "Aku minta maaf karena telah menganggu waktumu seperti ini. Aku juga ingin sekali istirahat, aku tidak menyangka Hanare akan datang…"

Kakashi menghela nafasnya. Pria itu terdiam ketika Sakura mengambil tangannya dan memijatnya dengan pelan. Meskipun tidak saling mencintai, bagaimanapun juga mereka tumbuh bersama. Kakashi adalah sosok kakak idamannya sedari dulu. Tentu saja sangat menggelikan bagi Sakura harus menikahinya—tapi bukannya ia tidak menyayangi pria itu.

Huh… ia bisa apa.

"Kita diam saja disini, biar Hanare pulang sendiri." gumam Sakura.

Kakashi menoleh. Bibirnya tersenyum kecil, sementara tangannya yang bebas menyentil dahi Sakura.

"Menarik, tapi tentu saja tidak mungkin." Ujar Kakashi pelan. Ia menarik tangannya dari tangan Sakura meski sebenarnya ia masih ingin berada disini, meninggalkan Hanare sendirian disana. Kakashi mengeluarkan ponselnya dan mengacungkan benda tersebut ke arah Sakura.

"Aku tidak mematikannya. Keluarlah saat Hanare sudah pulang nanti."

Sakura mengangguk dan menutup pintu kamarnya dan kembali mengerjakan tugasnya.

Sementara itu Hanare tersenyum sumringah ke arah Kakashi yang kembali muncul di hadapannya. Onigiri yang tadi dengan bangga ia tunjukkan pada Kakashi hanya tergigit kecil di bagian atasnya. Hanare membetulkan posisi duduknya—antara sengaja dan tidak—sehingga rok sebatas lututnya tertarik sedikit keatas.

"Sensei tinggal sendirian disini?"

"Ya." Ujar Kakashi singkat. Ia tahu Hanare tidak akan semudah itu untuk diusir, sementara ia juga kasihan pada Sakura yang ingin buang air, entah benar entah tidak. "Tiba-tiba aku merasa lapar lagi. Maukah kau menemaniku makan siang? Ada restoran enak di sekitar apartment ini, kita bisa berjalan kaki kesana."

"Oh, tentu saja aku mau!" jawab Hanare senang. Ia dengan cepat membereskan kotak makannya, sementara Kakashi menarik ponselnya keluar dan mengirimkan pesan singkat pada Sakura.

"Ayo, sensei. Nanti bisa-bisa sensei juga terkena maag sepertiku!"

.

.

Kakashi tersenyum kecil ke arah Hanare yang tidak juga selesai melambaikan tangan ke arahnya. Ketika akhirnya gadis itu benar-benar masuk mobil dan meninggalkan area parkir gedung, Kakashi menghela nafas panjang dan segera masuk ke dalam gedung kembali.

Ia tidak menyangka akan menghabiskan waktu empat jam sendiri hanya untuk meladeni segala rayuan Hanare sore tadi. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam—sudah waktunya untuk beristirahat dan bersantai.

Kakashi mengangkat sebelah alisnya saat mendapati Sakura berada di posisi awalnya tadi, masih berkutat dengan laptop. Selembar masker tipis menempel di wajah datarnya saat ia menatap Kakashi yang baru saja datang. Pria itu berjalan mendekat, duduk di atas sofa abu-abu apartment mereka dan menatap layar laptop Sakura.

"Kau mengerjakan tugasku?" tanya Kakashi, sedikit geli.

"Tidak usah bersikap menyebalkan begitu. Mata kuliahmu susah, kau tahu?" balas Sakura sedikit jengkel. "Dan apa-apaan sistem pengundianmu itu? Benar-benar membuatku naik darah."

"Kalau tidak seperti itu tentu saja kalian akan bermalas-malasan." Ujar Kakashi singkat. Ia masih mengenakan kemeja dan dasinya tadi pagi. Pria oti menyandarkan dirinya ke atas sofa, memijat keningnya yang terasa sangat sakit karena harus mendengarkan Hanare seharian seperti tadi.

Sakura menoleh sekilas, lalu menghela nafasnya. "Aku turut prihatin karena kau harus bersamanya selama itu."

"Ya? Kau tidak akan pernah bisa membayangkannya." Balas Kakashi. "Rasanya aku ingin memotong telingaku sendiri dan mencampurnya dengan onigiri yang ia bawa tadi."

"Seburuk itu, eh?"

Tatapan kuyu Kakashi menjawab semuanya. Hanare benar-benar kompeten dan rajin, tapi sikapnya bisa berubah menjadi lebih menyebalkan seratus delapan puluh derajat hanya karena ia tertarik pada Kakashi.

"Kenapa kau bersikeras mengerjakannya walaupun aku sudah berjanji memberikanmu A?" tanya Kakashi.

"Aku juga butuh ilmu. Aku tetap harus belajar." Jawab Sakura singkat. "Janjimu itu hanya sebagai jaminan IP-ku tidak jelek."

Kakashi tersenyum kecil. Ia menarik mug milik Sakura dan menyesapnya pelan.

"Kau tidak bisa buat sendiri?" tanya Sakura.

"Tidak. Begini lebih enak." Jawab Kakashi pelan.

Sakura memutar bola matanya. "Alasan seorang pemalas."

"Hmm, galak sekali, apa tidak mau kubuatkan ramen?"

Sakura terdiam sebentar, lalu tersenyum susah payah ke arah Kakashi. Pria itu menelan ludahnya. Sakura terlihat menyeramkan dengan seringai anehnya itu, apalagi wajahnya yang sekarang terlapisi masker tipis. Sakura meletakkan kepalanya ke pundak Kakashi dan mengusap-ngusap tangan pria di sampingnya.

"Buatkan aku ramen, lalu bantu aku mengejakan tugasmu ini." ujar Sakura halus.

"Kau menggodaku sekarang?"

"Tidak, aku meminta bantuanmu." Jawab Sakura sambil tersenyum kecil.

Kakashi balas tersenyum, melirik gadis itu sekilas. "Lalu kau akan menciumku?"

"Buatkan saja ramen untukku atau kedua matamu akan kucungkil."

Pria itu tertegun dan menghela nafasnya. Ia bangkit berdiri tanpa memikirkan Sakura yang sekarang terjatuh ke sofa. Meskipun berhasil membuat Sakura terjatuh, tetap saja Kakashi takut karena gadis itu benar-benar bisa mencungkil bola matanya keluar.

Sakura tersenyum jengkel. "Kau benar-benar mau mati, ya?"

.

.

"Ugh, ular betina itu! Aku benar-benar muak mendengar suaranya seharian ini!"

Sakura mengaduk jus stroberinya dengan tidak bersemangat. Karena tidur nyaris subuh untuk mengerjakan tugas Kakashi, ia jadi kesiangan dan tidak sempat membawa bekal. Sekarang ia tengah duduk di salah satu meja kantin bersama Hinata dan Ino, memandang malas ke arah Hanare yang tidak berhenti-berhenti bercerita tentang kencannya bersama Kakashi kemarin.

"Aku berani bertaruh, Hatake sensei pasti menganggapinya hanya karena kasihan." Gumam Hinata pelan. "Aku benar-benar lelah hanya dengan melihatnya."

Sakura tersenyum kecil saat mengingat wajah kuyu Kakashi kemarin. "Akupun lelah mendengarnya terus. Tidak bisakah kita pindah dari sini?"

"Bagaimana kita bisa tahu akhirnya kalau kita meninggalkan tempat ini sekarang?!" bisik Ino kesal. "Tahan, sebentar lagi. Kurasa ia akan segera selesai."

"Ino… kau sudah mengatakan hal itu setengah jam yang lalu…"

Kelas selanjutnya dimulai dua menit lagi dan Sakura sudah tidak bisa menoleransi suara Hanare lagi. Ia menenggak sisa jus stroberi di gelasnya dan bangkit berdiri, bersiap-siap untuk berjalan kembali ke ruangan kelas selanjutnya.

"Sakura… mau kemana?"

Ino cepat-cepat bangkit meskipun matanya masih terpaku pada Hanare dan tiga orang temannya di sudut ruangan. Ia menarik Hinata untuk ikut, lalu mereka berjalan di samping Sakura yang sudah kelihatan lelah.

"Kau mau kopi?" tanya Ino menawarkan.

"Aku sudah minum tadi pagi dan sekarang kepalaku berdentum keras sekali." Gumam Sakura. "Aku ingin sekali bolos, tapi… kalau aku bolos lagi, aku bisa mendapatkan C. Kalau aku tertidur di kelas, bisa-bisa kepalaku dipukul."

Hinata mengusap bahu Sakura pelan. "Ya sudah, hanya satu setengah jam. Tahan saja."

Langkah kaki mereka berhenti ketika seorang laki-laki berjalan lurus ke arah Sakura.

"Sakura Haruno?" tanyanya memastikan.

Sakura mengangguk. "Ya…?"

"Hatake sensei memintamu untuk menemuinya di ruang 203." Ujar laki-laki itu singkat. "Aku hanya menyampaikan pesannya."

"Oh, ya. Terima kasih."

Sakura tersenyum singkat ke arah orang itu dan menatap kedua temannya. "Aku akan menemui sensei dulu. Apa kalian bisa menjawab Morino sensei saat dia menanyakanku?"

Ino dan Hinata mengangguk nyaris bersamaan, sementara Sakura segera melangkahkan kakinya ke lantai dua gedung tersebut untuk meminimalisir keterlambatannya. Ia masuk ke ruang ketiga di sebelah kiri koridor dan mendapati Kakashi disana, sedang mengoreksi pekerjaannya yang menumpuk di atas meja.

"Ada apa?" tanya Sakura, mendudukkan dirinya di kursi seberang meja Kakashi.

"Kemarilah."

Sakura meletakkan tasnya di atas kursi dan berjalan mendekat ke arah Kakashi. Pria itu mengerling ke arah tas hitamnya yang terletak di pinggir meja seakan meminta Sakura untuk membukanya.

"Apa ini?" tanya Sakura pelan sambil menarik keluar botol minumnya. "Kenapa kau memakai botol minumku?"

"Aku tidak memakainya. Itu untukmu." Ujar Kakashi pelan. Ia lalu menatap Sakura lewat kacamatanya yang hanya ia pakai saat mengajar. "Kau pasti sangat tersiksa sekarang. Aku sudah berbicara pada Ibiki kalau aku membutuhkan bantuanmu selama setengah jam, jadi duduklah, dan perbaiki dulu dirimu."

Sakura tersenyum kecil. Ia membuka botol minum berwarna kuning tersebut dan mencium aroma jahe kuat yang menguar dari sana.

"Teh jahe?" tanya Sakura. "Perhatian sekali."

"Dan lemon. Kau ingat saat kau memuntahkan seluruh teh jahe yang kubuatkan padamu, saat kau di sekolah menengah?" Kakashi menutup satu lagi buku yang sudah ia selesai koreksi dan memusat perhatiannya pada Sakura yang sekarang sedang asyik meminum teh jahenya. "Ibu meneleponku seperti jarinya terpotong saja saat itu. Ternyata ia hanya memintaku untuk mengantarkan teh jahe padamu karena kau mengeluh bisa pingsan kapan saja saat itu."

Sakura tertawa kecil. "Aku benar-benar ingin pingsan saat itu. Aku terlalu senang sampai-sampai tidak bisa tidur sehari sebelumnya."

"Kau memang tidak pernah tumbuh besar, Sakura. Siapa yang tidak bisa tidur hanya akan pergi ke taman kota seperti itu?"

Sakura tidak menanggapi dan kembali menenggak teh jahe-lemon yang entah kapan dibuatkan oleh Kakashi itu. Ia mendongak saat Kakashi bangkit dari duduknya dan berpindah duduk di sebelahnya.

"Kau tidak takut orang lain akan melihat…" gumam Sakura pelan. "Hatake sensei?"

Kakashi terdiam sebentar. Beberapa saat kemudian, ia menyentil kening Sakura lumayan keras.

"Sudah kubilang jangan memanggilku seperti itu saat kita berdua saja." Gumamnya dengan nada malas, tidak mempedulikan Sakura sekarang yang sedang mengusap-usap keningnya yang sedikit memerah. "Kelas terakhirmu jam berapa?"

"Tidak usah bicara padaku!" balas Sakura ketus.

Kakashi menghela nafasnya. "Jawab aku. Kalau tidak kau akan kusentil lagi."

"Ugh… ini kelas terakhir." Jawab Sakura akhirnya.

"Baiklah. Nanti sore tolong temani aku pergi sebentar," ujar Kakashi sambil bangkit berdiri dan kembali duduk di mejanya. "Kau tidak ada acara, 'kan?"

"Ummm… aku sudah berjanji untuk menemani Ino dan Hinata—"

"Jangan berbohong."

Sakura mengerucutkan bibirnya. "Baiklah! Dasar menyebalkan."

.

.

Sakura tersenyum masam. Aku benar-benar akan membunuh Hatake sialan ini nanti.

Sudah dua jam lebih Sakura berdiri di samping pria itu, menebar senyuman palsu pada beberapa orang yang mengajaknya bicara. Sebentar menurut Kakashi ternyata berbeda dengan sebentar yang diketahuinya. Sakura benar-benar mengira mereka hanya akan keluar selama setengah jam saja—maksimal—, namun sampai sekarang belum ada tanda-tanda Kakashi akan mengajaknya pulang.

Banner besar-besar bertuliskan Reuni SMA Sugure Angkatan 55 terpasang indah ditengah-tengah ruangan. Sakura sedikit bersyukur karena setidaknya ia tidak berpakaian memalukan saat ini. Sepertinya Kakashi benar-benar ingin mengerjainya—pria itu tidak ada mengatakan apapun kepadanya semenjak mereka ada di apartment tadi.

"Kakashi," panggil Sakura sambil menarik lengan baju pria itu. "Aku ingin ke toilet sebentar."

"Baiklah, aku akan mengan—"

"Tidak perlu." Tukas Sakura sedikit ketus. Ia langsung pergi meninggalkan pria itu dan berjalan menuju kamar kecil terdekat.

Sakura masuk ke dalam dan meletakkan tasnya di atas wastafel. Ia menatap wajahnya yang terlihat kuyu, menimbang sejenak apakah ia perlu menyapukan blush on lagi agar ia tidak terlihat terlalu pucat.

"Kakashi itu, dia memberikan teh jahe padaku tapi memaksaku untuk berdiri selama ini…" gumam Sakura geram sambil tangannya mencari-cari lipstick di dalam dompet.

"Sakura?"

Sakura mengangkat kepalanya. Ia melihat seorang wanita berambut bob biru tua lewat cermin di depannya. Wajahnya benar-benar tidak familiar.

"Ya?" jawab Sakura pelan. "Kau… mengenalku?"

"Tentu saja aku mengenalmu!" ujarnya dengan nada girang. "Wah, tentu saja kau tumbuh menjadi gadis secantik ini. Apa yang sedang kau lakukan disini? Kau ikut reuni juga?"

Sakura tersenyum. "Tidak, aku lulusan SMA Togo…"

"Lalu?" gumamnya bingung. "Oh, jangan bilang kau menemani Kakashi! Dia sudah datang?'

Sudah, sejak dua jam yang lalu, gumam Sakura sedikit jengkel dalam hati.

"Kau masih berteman dengan Kakashi rupanya!" ujar wanita itu, masih dengan nada gembira yang tidak dibuat-buat. "Hei, Kure—Kurenai! Cepat keluar, kau tidak akan percaya siapa yang sedang berbicara denganku!"

Sebuah bilik terbuka beberapa saat kemudian dan seorang wanita berambut hitam panjang keluar dari dalam sana. Ia memiliki ekspresi terkejut yang sama seperti si wanita bob biru tua, namun ia menyempatkan diri untuk mencuci tangan sebelum memperhatikan Sakura baik-baik.

"Jangankan aku, semua orang diluar sepertinya tahu kau membicarakan Sakura." Ujarnya tenang. Kepribadiannya sudah bisa dipastikan berbeda seratus delapan puluh derajat dengan wanita berambut bob tersebut. "Lama tidak berjumpa, Sakura."

Sakura mengangguk kepalanya sopan, namun kemudian ia melontarkan pertanyaan yang sama.

"Kau mengenalku?" tanyanya pelan.

"Ya, aku adalah teman Kakashi." Ujarnya sopan. "Namaku Kurenai, dan ini Anko."

"Haiiiii Sakura…" ujarnya, seperti melihat seorang bayi.

Sakura tersenyum kecil. "Senang bertemu denganmu, Kurenai-san, Anko-san—"

"Hah, apa-apaan kau ini?" potong Anko cepat. "Panggil aku Anko-nee."

"Diamlah. Kau tidak lihat kalau dia takut padamu?" ujar Kurenai. "Apa yang sedang kau lakukan disini, Sakura? Kakashi memintamu untuk menemaninya?"

Sakura mengangguk pelan. "Ya. Dia ada diluar."

"Kenapa kau mau menemaninya? Hubungan kalian masih dekat, ya?"

Sakura menimbang sebentar di dalam hati. Apakah ia harus jujur kalau ia adalah istri Kakashi sekarang? Dua orang di depannya ini terlihat sangat mengenalnya dan juga Kakashi. Ditambah, sedari tadi Kakashi terus memperkenalkannya sebagai istri, bukan sepupu ataupun adiknya.

Pada akhirnya Sakura mengatakan dengan jujur bahwa dirinya dan Kakashi sudah menikah sekarang. Yang tidak disangkanya adalah, Kurenai dengan cepat keluar dari kamar mandi dan pergi menemui pria itu sesegera setelah ia mengatakan hal tersebut.

Sakura dan Anko mengekor di belakang. Meskipun memakai sepatu berhak tinggi, langkah Kurenai lebar-lebar dan sangat cepat. Cukup susah untuk mengekor di belakang wanita itu. Sakura menelan ludahnya sendiri saat melihat ekspresi terkejut Kakashi. Apakah salah, ia mengatakan bahwa ia sudah menikah dengan pria itu sekarang?

"Hei, dimana akal sehatmu?!" cecar Kurenai langsung. Beberapa orang tidak terlalu memperhatikan karena mereka berada di sudut ruangan sekarang. "Kenapa kau menikahi Sakura, hah? Jelas-jelas Mei masih meneleponku setiap hari, memintaku untuk memastikan kau tidak mendekati wanita lain!"

.

.

Sakura menjatuhkan dirinya di atas sofa dan menghela nafas. Hari yang benar-benar melelahkan. Setelah Kurenai memaki-maki Kakashi selama lima menit penuh, Anko berinisiatif untuk membawanya pergi dan mengantarnya pulang. Tentu saja Sakura dengan senang hati menerima tawaran tersebut. Kepalanya sudah berdentum sedari tadi.

Anko lalu mentraktirnya makan malam di sebuah restoran sushi mahal. Sakura benar-benar tidak mengerti, kenapa sepertinya Anko dan Kurenai sangat mengenalnya? Satu-satunya kemungkinan yang bisa dipikirkannya adalah, mereka pernah pergi ke rumah Kakashi dan melihatnya pada saat itu. Ditambah lagi, rumah Kakashi adalah rumah kedua bagi Sakura saat ia masih kecil dulu. Pekerjaan favoritnya adalah menemani Kakashi, apapun yang dilakukannya dulu, sampai-sampai ayahnya harus selalu menjemputnya setiap sore agar ia mau mandi.

Bunyi klik kunci pintu depan membuat Sakura mengangkat kepalanya. Kakashi muncul dari sana dengan wajah lelah. Gadis itu melirik jam di tangan kirinya dan mengangkat alis—jam setengah sembilan. Cukup lama ternyata ia keluar bersama Anko.

Sakura memejamkan matanya cepat-cepat saat langkah kaki Kakashi terdengar mendekat. Ia terlalu lelah untuk bicara, dan berbicara dengan Kakashi pastinya akan membuatnya emosi.

Sakura menahan diri untuk tidak membuka mata ketika Kakashi duduk disampingnya. Bunyi antukan kecil terdengar—pasti ia meletakkan kakinya diatas meja lagi. Entah berapa lama ia sibuk menerka-nerka kegiatan Kakashi selanjutnya, sampai ia tidak sadar kalau nafasnya juga mulai teratur dan pikirannya meringan…

.

.

Kakashi terbangun dengan rasa sakit luar biasa di kepalanya. Ia ingat Asuma memaksanya untuk minum kemarin. Pria itu tersentak pelan saat menyadari kepala Sakura tengah bersandar di bahunya. Aku lupa kemarin aku tertidur disini, pikirnya sendiri. Dengan gerakan perlahan, ia berusaha bangkit dari sofa dan mengganjal kepala Sakura dengan beberapa bantal.

Kakashi mandi selama beberapa saat, sebelum akhirnya ia termenung di atas meja kamarnya sendiri. Pada akhirnya ia menarik ponselnya yang tergeletak diam di atas meja dan menekan nomor yang sudah diingatnya sedari dulu.

"Nghh…"

Kakashi tersenyum. "Kau belum bangun? Ini sudah siang."

"Tapi… inikan hari Jumat…" gumam suara dari seberang sana dengan nada tidak terima. "Ada apa, Kashi?"

"Kemarin aku pergi ke reuni sekolah," ujar Kakashi pelan, memandang lurus ke jendela sementara pikirannya melayang ke kejadian kemarin hari. "Kurenai benar-benar marah aku menikahi Sakura. Aku tidak bisa menjelaskan dengan rinci kenapa aku melakukannya, dan ia kira kau tidak tahu tentang hal ini."

Terdengar suara tawa dari seberang sana. Mau tidak mau, hati Kakashi ikut hangat mendengarnya.

"Baiklah, aku akan menjelaskannya pada Kure." Wanita itu berkata pelan. "Tapi kau benar-benar tidak menyukai Sakura, 'kan? Aku membiarkanmu melakukan ini karena aku tahu kau tidak mungkin jatuh cinta padanya…"

"Tentu saja tidak. Dia sudah seperti adikku sendiri." ujar Kakashi menenangkan. "Makanya, kau harus cepat kembali ke sini. Sepulang kau nanti, aku akan langsung pergi menemuimu dan melamarmu."

"Kau benar-benar pria yang manis, Kashi-kun." Puji wanita itu.

Kakashi tersenyum kecil. "Baiklah. Kau sepertinya butuh tidur lagi. Tolong jelaskan pada Kurenai, ya? Kau lebih dekat dengannya, sementara aku selalu takut padanya bahkan saat di sekolah dulu."

"Aku mengerti. Kalau begitu aku matikan dulu, ya? Aku ingin tidur lagi…"

"Ya… baiklah. Aku mencintaimu."

"Aku juga… Kashi…"

.

.

halo! senang sekali melihat apresiasi buat fanfic baru aq yg sangat mniezzzzzzz

maaf ya buat segala kekurangan fanficnya. w juga seneng banget ngeliat akun akun lama yang kembali bermunculan...w gak pernah nyapa kalian secara bener, kalo gitu sekarang bakal w sapa secara bener yaa. halo *insert love* *uwu intensifies*

lalu w akan tanggepin komen komen dari chapter pertama nichhh

Ashley Chen16: thank u so much for the review! aku menyadari banyak sekali kesalahan tata bahasa dan antar kalimat kadang gak saling komplimen... mohon maaf ya untuk kamu dan pembaca lainnya huhu. terlepas dari semua kekurangan, semoga tetap menikmati. p.s.: aku suka bgt sama kata nafas, jd kalo di chapter yg lain ada nafas dan bukan napas... maaf bgt yaaa huhu. ini nih, udh kebiasaan jd tuman

NominJJ: thank u so much for the review! iya sengaja aku buat yang rada uwu, karena pengen beda dari yang sebelumnya... kasian sakura selalu menderita dan menangis. pengen kasih dia uwu uwu juga sekali kali

Leavendouxr: thank u so much for the review! sori bgt tbj gak dilanjuttttt saking lamanya udh lupa sendiri draftnya kemana, dan feelnya juga mulai ilang. semoga menikmati just friends aja yaaa. p.s. kalo dosennya sekeren kakashi dan blm punya istri...gas sj bos.

maggiellezk: thank u so much for the review! senang sekali kamu menemukan fic ak yang apa adanya iniiiii...terima kasih, kamu jg semangat!

Zaidah: thank u so much for the review! iya mereka uwu, tapi mereka juga gak segan segan ngebotakin satu sama lain ini sebenernya hmmm

Mirzaa: thank u so much for the review! just make sure you keep updated so u wont miss a thing!

selebihnya terima kasih teman teman yang sudah baca... mari lintas negara sebentar, saranghae