Suasana kampus terlihat ramai. Beberapa mahasiswa pengurus himpunan sudah menghias area sekitar kampus dengan bendera warna-warni dan spanduk cerah yang tidak terhitung banyaknya. Malam ini adalah malam pembukaan festival jurusan, dan selama satu bulan ke depan berbagai acara akan diselenggarakan oleh mahasiswa-mahasiswa.
"Jangan tawari aku, aku sama sekali tidak berniat mengikuti acara… dalam bentuk apapun itu." Ujar Sakura, bahkan ketika Ino baru saja membuka mulutnya. "Tapi aku akan dengan senang hati menyemangatimu dari jauh."
"Ino baru saja akan menawarimu untuk ikut audisi pentas," ujar Hinata dengan nada geli. "Dia ingin sekali mendapatkan peran utamanya."
"Diam, Hinata. Aku akan mendaftar walaupun kalian tidak mendaftar!" kata Ino. "Padahal pentas ini pasti akan sangat menyenangkan. Kalian nanti akan iri padaku karena menertawakanku seperti ini—"
"Bilang saja kau ingin dekat dengan ketua komunitas drama."
Sakura mengerling ke arah seorang laki-laki yang berdiri tidak jauh dari mereka yang sedang menempelkan sebuah kertas dengan tulisan AUDISI besar-besar di papan pengumuman jurusan. Ino merasakan wajahnya memerah; ia lalu mencubit lengan Sakura dan mengajak kedua temannya untuk segera berlalu dari sana.
"Oh, ya, apa kalian sudah tahu? Hatake sensei adalah dosen pendamping tahun ini, loh!" ujar Hinata, saat mereka tidak sengaja melihat Kakashi dan Hanare sedang berjalan bersama. "Maksudku, sudah pasti ada konspirasi yang dilakukan oleh Hanare senpai. Hatake sensei tidak pernah mau menjadi dosen pendamping acara apapun, 'kan?"
"Ugh, jangan memanggilnya senpai seperti itu. Panggil saja Hanare gatal." Keluh Ino.
Sakura memperhatikan Kakashi dan Hanare selama beberapa saat sebelum akhirnya mengalihkan pandangan karena Kakashi membalas tatapannya. Mereka berlalu tanpa suara, berpura-pura tidak saling mengenal seperti biasanya, dan Sakurapun kembali mendengarkan ocehan teman-temannya.
"Apa kita harus naik sekarang?" tanya Ino. "Kalau tidak, kita bisa dapat kursi bagian depan lagi…"
"Betul, kita naik sekarang saja."
Mereka masuk ke dalam gedung dan melangkahkan kaki menuju lantai atas. Hanya ada satu mata kuliah lagi hari ini, tetapi Sakura sudah benar-benar mengantuk dan ingin pulang saja. Mereka memposisikan diri di baris kedua paling belakang sebelum akhirnya beberapa orang mulai masuk dan mengisi bangku-bangku kosong.
"Benar-benar. Semuanya datang awal agar tidak mendapat kursi depan." Bisik Hinata sambil sedikit terkikik. "Kekuatan mengajar Umino sensei memang tidak bisa diremehkan."
"Ya. Saking kuatnya, aku bisa tertidur hanya dalam waktu lima menit." Balas Sakura ikut berbisik, kemudian tertawa bersama teman-temannya.
Sepuluh menit kemudian, seorang pria masuk ke dalam kelas. Tubuhnya sudah bungkuk dan harus dibantu tongkat untuk berjalan. Sementara itu, seorang laki-laki muda beralan dibelakangnya, tangannya penuh dengan peralatan mengajar pria tua tadi—buku-buku tebal, tas tangan berukuran besar, dan juga sebuah laptop.
"Jadi…"
Sakura, Ino dan Hinata hampir saja tertawa mendengar suara Umino sensei yang langsung memulai kelas tanpa melakukan kegiatan pre-perkuliahan terlebih dahulu.
"Pride and Prejudice merupakan…" ujar Iruka Umino sambil berusaha duduk di atas kursi dosen. "Salah satu karya terbaik dari… Jane Austen. Novel tersebut… juga… bisa dikategorikan sebagai karya tulis… yang paling dikenal… diantara para awam…"
Yang benar saja. Suara Umino sensei lebih merdu dibandingkan suara ibuku saat menyanyikan lagu pengantar tidur dulu, keluh Sakura dalam hati.
"Elizabeth Bennet… adalah protagonis utama dalam cerita ini…"
"Aku benar-benar bisa gila. Kalau saja ini bukan salah satu kelas wajib semester ini, aku pasti sudah dengan senang hati mengambil dua kelas grammar sekaligus." Bisik Ino kesal, sampai ada beberapa kerutan terlihat dihidungnya. "Kupastikan seekor kura-kura bisa berjalan bolak-balik Tokyo-Osaka pada saat Umino sensei selesai menjelaskan nanti."
Sakura meringis kecil. Masuk akal, tapi tetap menyeramkan kalau harus terperangkap disini selama itu.
"Fitzwilliam Darcy…" Iruka membuka mulutnya lagi. "Merupakan pria terpandang… yang juga memiliki status sosial tinggi..."
"Hei, lihat! Itu Hatake sensei!"
Sakura mengangkat kepalanya dan memperhatikan Hinata dengan bingung. Gadis itu mengerling ke luar kelas, dimana Kakashi terlihat sedang berdiri dan berbicara dengan seseorang tepat di depan pintu kelas mereka.
"Lalu?" tanya Sakura. Ia kemudian melirik ponselnya yang bergetar.
From : Koharu
Butuh bantuan?
Sakura tersenyum dan kembali menatap ke arah Kakashi. Pria itu sekarang sedang membalas senyumanya sambil mengangkat bahu.
To : Koharu
Ya. Tolong aku
"Astaga, apa kau lihat Hatake sensei tersenyum ke arah sini?" bisik Hinata histeris.
Ino cepat-cepat melihat ke arah luar kelas lagi, namun sekarang Kakashi sudah kembali menatap ke arah lain dan tidak lagi tersenyum. "Kau mengada-ada. Jelas-jelas Hatake sensei sedang tidak melihat ke sini."
"Hei, aku serius! Sakura, bantu aku."
"Um…" sakura berujar ragu. "Aku—"
Perkataannya terpotong ketika sebuah ketukan terdengar. Seisi kelas sontak menoleh ke arah pintu—seolah-olah suara ketukan itu jauh lebih menyenangkan untuk didengar dibandingkan nada monoton Iruka. Kakashi muncul dari balik pintu dan tersenyum ke arah Iruka sebelum akhirnya memberikan senyum juga ke seluruh kelas.
"Segar sekali." Ujar seorang gadis yang duduk tidak jauh di depan mereka, membuat Sakura menahan tawanya.
Kakashi berjalan langsung ke meja Iruka dan tampak cukup serius berbicara dengannya selama beberapa saat. Iruka menganggukkan kepalanya sepanjang Kakashi masih berada di dekatnya sambil sesekali berujar 'ya' untuk menanggapi perkataan Kakashi.
"Sakura… Haruno…?"
Mata Sakura terbelalak kaget. Semua orang yang cukup jeli bisa melihat sebuah seringai tipis di bibir Kakashi. Ketika sadar ia harusnya maju ke depan, Sakura menepuk bahu kedua temannya dengan senyuman rasa bersalah-tak bersalahnya dan berjalan lebar-lebar menuju ke depan.
"Hatake sensei bilang… ia membutuhkan bantuanmu…" ujar Iruka. "Jangan lupa… untuk melakukan presensi online…"
Sakura hanya bisa mengangguk-angguk dan cepat-cepat kembali ke kursinya untuk mengambil tasnya. Gadis itu tertawa senang tanpa suara ke arah Ino dan Hinata yang menatapnya dengan iri—ralat, seluruh kelas menatapnya dengan iri—lalu pergi mengikuti Kakashi ke luar kelas.
Kakashi tersenyum saat Sakura tanpa basa-basi langsung memeluknya. Pria itu melirik keadaan sekitar dan menepuk-nepuk pundak Sakura agar gadis itu melepaskan pelukannya. Meskipun lorong lantai tiga ini kosong, beberapa orang bisa saja tiba-tiba muncul dari ujung lorong dan melihat mereka.
"Terima kasih sekali…" ujar Sakura saat mereka berjalan menyusuri lorong. "Aku benar-benar berhutang satu padamu."
"Kupikir-pikir, justru aku yang seharusnya mulai lebih baik lagi padamu. Aku yang sangat berhutang padamu." Gumam Kakashi pelan.
Sakura mengikuti Kakashi tanpa banyak bicara. Mereka masuk ke ruangan dosen yang sekarang sudah nyaris kosong karena sangat jarang ada dosen yang mau mengajar di jam terakhir seperti ini. Sakura membungkuk sopan ke arah Ibiki Morino yang tersenyum ke arah mereka berdua, ia terlihat akan segera meninggalkan ruangan itu juga.
"Kakashi," panggil Sakura, saat hanya ada mereka berdua di ruangan itu. "Apakah kau benar-benar membutuhkan bantuanku?"
"Oh, iya." Jawab Kakashi. "Apa kau mengenal Karin Uzumaki?"
"Karin?" tanya Sakura. "Satu tahun diatasku?"
Melihat anggukan Kakashi, Sakura tersenyum masam. "Tentu saja aku mengenalnya. Ia hampir membunuhku di tahun pertama."
"Apa?"
"Kau ingat Sasuke, yang kukencani saat awal masuk dulu?" tanya Sakura. "Karin benar-benar menyukainya dan ia membuatku sengsara selama setahun penuh. Kertas ujian grammar satuku dihilangkan olehnya. Dia juga pernah mengunciku di kamar mandi sendirian. Saat itu ada acara di kampus, dan hanya sedikit sekali orang yang masuk ke toilet."
Kakashi mengerutkan keningnya. "Benarkah?"
"Sungguh. Ia juga pernah terang-terangan memakiku," ujar Sakura masam. "Di tengah kelas."
Kedua alis Kakashi bertaut. Ia memperhatikan gadis di depannya yang tampak tidak merasa sedih sama sekali.
"Kenapa kau tidak pernah bilang padaku?"
Sakura mengangkat kepalanya. Ia sempat tertegun selama beberapa saat sebelum akhirnya tertawa.
"Untuk apa? Agar kau bisa menegurnya?" tanya Sakura pelan. "Aku sudah melupakannya. Lagipula hal itu sudah lama sekali berlalu."
Sebuah perasaan tidak enak menjalar di dada Kakashi. Bagaimanapun juga perkataan Sakura ada benarnya. Mengadukan tindakan Karin padanya adalah hal percuma, meski ia adalah dosennya sekalipun.
"Sayang sekali. Padahal nilainya cukup tinggi." Gumam Kakashi pada diri sendiri.
"Kenapa kau menyakannya? Apa dia terlibat masalah lagi?"
Kakashi menggeleng. "Aku berencana untuk mengganti asistenku. Hanare benar-benar menggila."
Sebuah senyuman lebar terlihat di wajah Sakura. "Apa yang dia lakukan padamu?"
"Dia terus menerus menghubungiku, bahkan ketika tidak ada hal mendesak yang harus dibicarakan. Dia juga bercerita tentang kejadian kemarin—saat aku mengajaknya makan siang—pada, kau tahu, semua orang." ujar Kakashi kesal. "Dan entah bagaimana dosen-dosen lain mendengar cerita tersebut. Citraku benar-benar menjadi buruk."
"Ah, ya. Dia tidak berhenti bercerita tentang hal itu di kantin, dulu."
Kakashi tersenyum jengkel ke arah Sakura. "Kau tahu dan tidak memberitahu hal ini padaku?"
"Um…" gumam Sakura gelagapan. "Aku pikir… akan lebih seru kalau dosen lain tahu?"
Pria itu menghela nafas lelah. Ia kembali mencoret nama lain dalam buku catatannya.
"Aku tidak bisa mengambil resiko lagi," gumam Kakashi lelah. "Apa kau punya rekomendasi, siapa yang bisa kujadikan asisten pengganti?"
Sakura menggelengkan kepala. "Maaf, sensei, tapi aku hanya berteman dengan Ino dan Hinata. Aku bisa menanyakannya pada Ino, kalau kau mau."
"Sudah kubilang jangan memanggilku seperti itu." Kakashi berujar pelan. "Baiklah, aku akan bertahan tanpa asisten karena akhir semester sudah dekat. Kecuali…"
Ucapan pria itu terhenti ketika ia menyadari sesuatu. Di depannya duduk seorang gadis yang cukup pintar dan pastinya bisa ia andalkan kapan saja. Ia juga tidak mungkin melakukan hal macam-macam padanya karena mereka berdua menyimpan rahasia besar terhadap satu sama lain.
Seakan tersadar, Sakura cepat-cepat menggelengkan kepalanya. "Tidak mau!"
"Saku—"
"Hei, kau sudah terlalu banyak meminta bantuanku." Bisik Sakura dengan kesal. "Tidak cukupkah kau merecokkiku seperti ini? Tolong jangan tambah lagi bebanku."
"Pekerjaannya tidak berat. Aku juga bisa membantumu kapan saja, 'kan?" ujar Kakashi sedikit memohon. "Ayolah. Tolong aku."
"Bagaimana dengan perkataanmu barusan, kau bisa bertahan karena akhir semester sudah dekat?"
"Tentu akan lebih ringan kalau seseorang membantuku." Kata Kakashi. "Lagipula, kau kan istri—"
Pria itu menahan teriakannya sendiri ketika Sakura tanpa ampun menarik rambutnya. Wajah Sakura merah menahan marah dan tarikannyapun tidak main-main. Kakashi memegang tangan Sakura dengan kedua tangannya sambil memohon gadis itu untuk melepaskan cengkramannya.
"Jangan berani-berani berkata seperti itu," bisik Sakura mengancam. "Atau tidak kepalamu akan kubotaki."
.
.
"Sakura, berapa lama lagi?"
"SUDAH KUBILANG LIMA MENIT! LIMA MENIT, KAKASHI—UGH, APA PERLU KITA BERHENTI DULU KE RUMAH SAKIT UNTUK MEMERIKSA TELINGAMU?!"
Kakashi menutup kedua matanya dan menghela nafas sabar. Ia kembali mendudukkan diri di atas sofa, memandang ke arah televisi dengan pandangan mata kosong. Kalau orang-orang bertanya padanya suatu saat nanti kenapa ia tidak pernah benar-benar menikahi Sakura, Kakashi tidak tahu harus menjelaskan seperti apa.
Suara kunci terbuka terdengar dan Kakashi segera bangkit. Ia meraih kado cukup besar dari atas meja makan dan berjalan menuju bagian depan kamar Sakura.
Gadis itu keluar dan tersenyum manis ke arah Kakashi. Kakashi menanggapinya malas, berjalan meninggalkannya keluar dari apartment sementara Sakura mengikutinya dengan wajah ditekuk. Ia memastikan kembali barang-barang yang dibutuhkannya sudah ia masukkan ke dalam tas dan pada akhirnya menghela nafas sendiri.
"Ada apa?" tanya Kakashi.
"Tidak apa-apa. Aku hanya sedang ingin sekali makan es krim."
"Kau ingin membelinya di jalan nanti?" tanya Kakashi. Ia membiarkan Sakura masuk ke dalam lift terlebih dahulu sebelum mengikutinya di belakang.
Sakura menggeleng. "Tidak perlu."
Kakashi tersenyum kecil. "Baiklah…"
Satu jam kemudian mereka berdua menepikan mobil di pinggir jalan, menikmati satu cup es krim ukuran besar yang dibeli Kakashi sepuluh menit sebelumnya.
"Kenapa kau juga ikut makan? Kukira tadi kau tidak mau es krim." Sindir Kakashi.
Sakura menoleh kesal. "Diamlah."
Ponsel gadis itu kemudian berdering. Sakura menyerahkan es krim tadi ke tangan Kakashi dan menjawab teleponnya.
"Ya, Ibu?" sapanya pelan.
"Kalian sudah dimana?" tanya Mebuki langsung. "Bibi sudah menunggu kalian sejak tadi…"
"Um, kira-kira dua puluh menit lagi, Ibu." Jawab Sakura setelah melirik GPS di mobil Kakashi. "Apa yang lain sudah datang? Aku dan Kakashi… um, kami terjebak macet…"
Kakashi tertawa tanpa suara, menatap jalanan di depannya yang lengang.
"Ya, tinggal kalian berdua saja. Kalau begitu cepatlah. Hati-hati, Sakura."
"Baik, Ibu."
Sakura menutup ponselnya dan menghela nafas. "Aku sebenarnya tidak suka sekali ke rumah Bibi Karura. Tapi Paman sendiri yang memintaku untuk datang, aku tidak mungkin tidak datang, 'kan?" tanya Sakura. Tangannya merebut es krim dari tangan Kakashi tanpa sedikitpun melirik pria itu.
"Memangnya kenapa kau tidak menyukainya?" tanya Kakashi.
Mobil mereka kembali masuk ke jalur utama sementara Sakura menghela nafasnya. "Dibandingkan Paman Hito, Bibi Karuralah yang paling pemarah. Dia pernah memarahiku karena aku ketahuan mencuri kue di dalam kulkas rumahnya…"
"Sepertinya kulkas rumah Bibi itu bukan satu-satunya kulkas yang kau jarah." Timpal Kakashi pelan.
"Kau mau kuceritakan atau tidak?"
"Maafkan aku."
Sakura menyuap sesendok es krim lagi ke dalam mulut dan melanjutkan. "Ia juga pernah memarahiku karena aku lupa membawa bekal dan minum ke sekolah. Saat itu ia tinggal selama beberapa minggu di rumahku karena sedang menemani Gaara-nee ujian di kota. Hei, seharusnya kau pernah melihatnya, kalau begitu."
"Apakah dia memakai kacamata bulat kecil?" tanya Kakashi.
"Iya! Iya, itu adalah Bibi Karura." Ujar Sakura.
"Oh, dia sangat baik dan menyenangkan." Gumam Kakashi pelan.
Sakura menoleh kesal. "Huh, kau hanya bertemu dengannya beberapa kali, 'kan? Tiga minggu Bibi Karura tinggal di rumah, tiga minggu juga aku tersiksa." Ujar Sakura. "Untung saja Gaara-nii sangat baik."
"Itulah kenapa kau sempat menghilang selama tiga minggu." Kakashi berujar setelah mengingat-ingat. "Kupikir-pikir, kau hanya pergi ke rumahku saat kau tidak punya teman lain."
Sakura tidak menanggapi. Mobil Kakashi berhenti perlahan ketika lampu berubah warna menjadi merah. Kakashi melirik Sakura sekilas, lalu tersenyum kecil.
"Kau sudah berubah menjadi jauh lebih dewasa sekarang, Sakura. Aku yakin kau juga akan mengerti kenapa Bibimu bersikap seperti itu." Ujar Kakashi. "Ditambah lagi, kau sangat menyukai paman dan kakak sepupumu itu, 'kan? Kau harus bersikap baik nanti."
"Aku tahu, aku tahu. Kau terdengar seperti ayahku saja." Cibir Sakura.
Kakashi tersenyum masam. Tangannya bergerak untuk mengambil cup es krim dari tangan Sakura, namun lampu yang berubah menjadi hijau kembali mengurungkan niatnya.
Pria itu tertegun pelan ketika tangan Sakura berada di depannya, memegang sendok es krim yang terisi cukup banyak. Kakashi sempat bingung apakah ia harus menerima es krim tersebut atau tidak.
"Cepatlah, tanganku sakit, tahu?"
Seakan tersadar, Kakashi pada akhirnya menyambut es krim tersebut dan memfokuskan pikirannya kembali ke jalan lebar di depannya. Lautan biru terlihat jelas di depan mereka, sangat cantik dengan pantulan cahaya matahari di atasnya. Sakura tersenyum. Ia membuka jendela mobilnya dan membiarkan angin masuk ke dalam.
Mereka melanjutkan perjalan tanpa suara sampai akhirnya mobil Kakashi berhenti di depan sebuah rumah tradisional besar. Beberapa mobil lain sudah terparkir rapi disana mendahului mereka. Sakura turun dari mobil dan membuang tempat es krimnya ke tong sampah terdekat, sementara Kakashi mengambil hadiah yang sudah mereka bungkus sebelumnya dan menyusul Sakura di gerbang utama.
"Sakura!"
Sakura mengangkat kepalanya dan tersenyum senang. "Gaara-nii!"
Sakura memeluk pria di depannya dengan erat.
"Kau benar-benar sudah besar sekarang, ya?" tanya Gaara. Seakan tersadar, ia melihat Kakashi dan membungkukkan tubuhnya. "Kakashi-nii. Senang sekali bertemu denganmu lagi."
Kakashi tersenyum. "Senang bertemu denganmu juga."
"Aku sangat merindukan Paman dan Bibi! Aku akan masuk terlebih dahulu."
Sakura berjalan melalui mereka. Kakashi lalu melangkah masuk mengikuti Gaara dan sempat terperangah melihat banyaknya orang disana. Ia kira hanya akan ada keluarga Sakura dan keluarga Gaara, namun ternyata ada keluarga lainnya yang juga datang.
"Ah, Kakashi sudah datang!"
Kakashi tersenyum kecil dan berjalan ke arah Mebuki yang memandangnya dengan senang. Sakura sudah menghilang entah kemana, sementara Kizashi juga langsung menghentikan percakapannya dengan seorang pria lain ketika mendengar suara Mebuki. Pria itu berjalan ke arah Kakashi dan menepuk punggungnya beberapa kali.
"Terima kasih sudah menyempatkan untuk datang, Kakashi." Ujar Kizashi tulus. "Aku tahu pasti sangat sulit bagimu untuk datang karena hari-harimu yang padat."
"Tidak sama sekali, Ayah. Aku senang bisa datang." Balas Kakashi sopan.
Gaara dan bergabung bersama mereka di kursi ruang utama. Ia tersenyum ke arah Kakashi, seperti senang sekali melihat orang yang sudah lama tidak dilihatnya.
"Aku masih tidak percaya Sakura sudah menikah." Ujar Gaara, membuka percakapan. "Sayang sekali saat itu aku tidak bisa datang. Maafkan aku, Kakashi-nii. Aku sedang berada di Kyoto dan tidak bisa mendapatkan tiket pulang…"
"Tidak apa-apa." Kakashi berujar tenang. "Yang penting kita bisa bertemu lagi disini."
"Kakashi, ini kakak laki-lakiku dan istrinya," ujar Mebuki sambil menunjuk dua orang di sebelahnya. "Haruhito dan Mari."
Kakashi membungkukkan tubuhnya sedikit. "Salam kenal, Paman, Bibi. Waktu itu kita tidak sempat berbicara banyak."
"Tentu saja, kalian pasti sangat sibuk…" ujar Mari. Suaranya sangat lembut. "Kami adalah orang tua Sasori…"
Kakashi kembali mengangguk saat sebuah figur laki-laki berambut merah terlintas di benaknya. "Aku mengerti."
"Terima kasih sudah menjaga Sakura dengan baik, Kakashi." Ujar Haruhito kemudian. "Sakura adalah satu-satunya anak perempuan digenerasinya… aku sempat khawatir tentang masa depannya, jujur saja. Untung saja dia menikah dengan orang baik sepertimu."
Pandangan Kakashi bergerak ke arah Gaara yang sekarang sedang berbicara dengan Sakura dan Sasori di halaman belakang. Rasa bersalah menguar ke hatinya, membuatnya tidak terlalu nyaman. Untung saja Kakashi tidak harus menanggapi perkataan Haruhito karena seorang wanita datang ke ruang utama tersebut. Kondisinya terlihat terlalu baik—ada seorang pria disebelahnya dengan sabar memegangi tangan wanita itu agar tidak terjatuh.
"Kakashi." Ujarnya dengan nada senang.
"Bibi Karura." Balas Kakashi, segera berdiri dan memberikan hadiah tadi ke arahnya. "Selamat ulang tahun."
"Kenapa kau sampai repot begini?" tanya Karura sambil tertawa kecil. "Dimana Sakura?"
"Itu dia, sedang berbicara dengan Sasori dan Gaara." Ujar pria di sebelahnya. "Kakashi, apa kabar?"
"Baik Paman." Jawab Kakashi singkat.
Kakashi memutuskan untuk bergabung ke halaman belakang. Sulit baginya untuk memutuskan kemana ia harus pergi; ruang tengah yang dipenuhi orang tua, atau halaman belakang yang berisi anak-anak yang usianya berada jauh di bawahnya. Karena suasana di ruang tengah terasa terlalu berat baginya, pada akhirnya Kakashi bergabung dengan Sakura dan sepupu-sepupunya.
"Wah, aku sangat menyukai orang ini." ujar Sasori tanpa basa-basi. "Apa kabarmu, Kakashi-nii? Aku benar-benar ingin berbicara denganmu saat itu, tapi aku sadar kau sangat sibuk."
"Baik, terima kasih. Kita punya banyak waktu untuk berbicara sekarang, untungnya." Ujar Kakashi pelan.
"Hei, nii, uang Kakashi sangat banyak. Kenapa kau tidak meminta bantuannya saja untuk membiayai cicilan-cicilanmu? Kau bilang kau ingin membeli motor baru…"
Sasori mengerjapkan matanya tidak percaya dan langsung mengetuk dahi Sakura. "Sakura! Kenapa kau berbicara seperti itu?"
"Sebenarnya aku bisa merekomendasikan pekerjaan di perusahaan Ayah, kalau kau mau." Ujar Kakashi. "Kau bisa bekerja dari rumah dan uangnyapun lumayan. Kalau pekerjaanmu baik, kau mungkin bisa menjadi pegawai tetap disana."
"Apa kubilang… manusia ini sangat keren." Kata Sasori senang.
"Memang. Dia benar-benar seperti sosok laki-laki yang tidak pernah kita miliki." Timpal Gaara.
Sakura tersenyum masam. Kakashi ini… kulihat dia baru saja berbicara dengan orang tua disana, kenapa ia harus kesini sekarang? Sasori-nii dan Gaara-nii malah lebih bersemangat untuk berbicara dengannya daripada berbicara denganku!
"Hei, kau mau pergi kemana?" tanya Kakashi saat melihat Sakura membalikkan tubuhnya.
"Bermain dengan Pakkun!" sahut Sakura ketus. "Hanya Pakkun yang senang bertemu denganku!"
