"Sakura."

Sakura menoleh. Ia mendapati Kakashi ada di belakangnya, rambutnya basah sehabis mandi.

"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Kakashi sambil memposisikan diri di sebelah Sakura.

"Bermain dengan Pakkun."

"Kau tidak kedinginan?" tanya Kakashi lagi.

Sakura menggeleng. Langit kota Mabara sangat bersih malam ini—banyak bintang di atas mereka yang bersinar dengan angkuh. Gadis itu menengadah dengan masih membelai Pakkun yang mulai tertidur. Pikirannya melayang ke peristiwa beberapa saat lalu, saat ia duduk sendirian dan Bibinya menghampirinya disini.

"Bibi mulai sakit-sakitan." Gumam Sakura sedih. "Kau benar. Bibi tidak seburuk yang kukira."

Kakashi menghembuskan nafasnya. Ia tidak mengerti kenapa Sakura bisa tidak kedinginan.

"Yang lain sudah tertidur. Kau tidak mau masuk?" tanya Kakashi.

"Aku masih mau disini, tapi…" gumam Sakura terhenti, melirik Kakashi sekilas. "Kalau kau mau tidur juga tidak apa-apa. Kau pasti lelah karena tadi menyetir jauh."

"Baiklah, aku akan menemanimu."

Sakura tersenyum. Dari ia masih sangat kecil dulu, Kakashi tidak pernah meninggalkannya sendirian. Apapun yang dilakukannya—memanjat pohon, mencari kupu-kupu… Kakashi akan selalu menemaninya. Bahkan ketika ibunya marah besar saat Sakura datang dengan luka menganga di lututnya, Kakashi juga akan tetap berada disampingnya, menemaninya yang saat itu habis-habisan dimarahi ibunya.

Halaman belakang rumah Karura dan Rasa sangatlah luas dan hijau. Sakura sangat menyukai hal tersebut, ia merasa betah duduk berlama-lama dan tidak melakukan apa-apa. Ia lalu tertegun ketika sebuah benda diletakkan di atas punggungnya.

"Hei," ujar Sakura pelan. "Kapan kau mengambil selimut?"

"Baru saja. Ada satu di ruang tengah." Jawab Kakashi.

"Kau tidak mau pakai juga?"

Kakashi tersenyum dan menggeleng. "Tidak—"

"Kemarilah."

Kakashi pada akhirnya menurut dan mendekat ke arah Sakura. Tangan gadis itu berusaha untuk menyampirkan sisa selimut ke punggung Kakashi, namun tangannya yang pendek tidak terlalu bisa melakukannya. Kakashi akhirnya menarik sisi selimut tersebut dari Sakura dan membungkus mereka berdua dalam satu selimut.

"Pakkun sudah tertidur." Gumam Sakura pelan, mengerling ke arah anjing yang berada di atas pahanya.

"Kau tidak mengantuk?" tanya Kakashi.

"Tidak." Jawab Sakura singkat. "Sebentar lagi aku harus melakukan intern, Kakashi, tapi aku tidak tahu harus mendaftar dimana."

"Tidak coba ke pusat bahasa pemerintah?" tanya Kakashi.

Sakura menggeleng. "Banyak sekali yang mendaftar ke situ. Aku tidak yakin akan diterima."

Sakura terdiam sesaat ketika panas dari lengan Kakashi menyentuh lengannya. Pria itu tampak biasa saja dan tidak bereaksi apa-apa. Tanpa disangka, rona panas menjalari pipinya seketika itu juga.

Wah, apa-apaan ini? pikir Sakura sedikit panik.

"Kakashi," panggil Sakura. "Kenapa kau bekerja menjadi seorang dosen?"

Kakashi menoleh singkat dan tersenyum. "Pertanyaan macam apa itu? Random sekali."

"Hanya ingin tahu saja. Cepat jawab aku."

Kakashi menghela nafas. Ia menatap langit di atasnya dengan pandangan kosong.

"Aku tahu ayahku akan memintaku untuk bekerja di perusahaan, cepat atau lambat." Gumamnya pelan. "Sebelum waktu itu tiba, aku ingin memastikan aku bisa bekerja di bidang yang kusukai."

"Memangnya apa yang kau sukai?"

Kakashi menoleh. "Belajar."

Sakura mengangguk-angguk. Ia jadi teringat, waktu itu orangtuanya sampai-sampai mengajak mereka sekeluarga untuk berlibur bersama di tepi pantai. Malamnya, mereka sibuk makan daging dan bernyanyi, merayakan Kakashi yang lulus dengan nilai tertinggi di sekolahnya dan masuk ke perguruan tinggi ternama.

Sakura menguap dan menggelengkan kepalanya. "Ternyata aku sudah mengantuk. Aku akan tidur sekarang."

"Baiklah, biar aku yang meletakkan Pakkun."

Sakura memberikan anjing kecil itu ke arah Kakashi dan berjalan menuju kamarnya yang berada di tempat terpisah dari bangunan utama dan mendahului Kakashi. Kakashi sebelumnya sudah berbicra dan melakukan kesepakatan akan tidur bersama Sasori dan Gaara—karena mereka ingin banyak berbicara dengan Kakashi, dan juga karena akan sangat canggung kalau ia tidur bersama Sakura dalam satu ruangan yang sama.

Sakura baru saja selesai membersihkan wajah dan mengaplikasikan krim malam ketika sebuah ketukan terdengar. Kakinya melangkah malas ke arah pintu dan alisnya segera bertaut mendapati Kakashi berdiri di depannya.

"Ada apa?" tanyanya bingung.

"Gaara dan Sasori mengunci pintu."

"Lalu?"

Kakashi masuk tanpa mengucapkan sepata katapun. Ketika pria itu menghempaskan dirinya di atas kasur, Sakura cepat-cepat menghampirinya dengan dua tangan terlipat di depan dada.

"Bagus. Sekarang kau akan tidur disini?"

"Kau ingin aku mati kedinginan?"

Sakura menggeram pelan dan berjalan untuk menutup pintu yang tadi bahkan tidak ditutup Kakashi. Ia melepas ikat rambutnya dan meletakkannya di atas nakas lalu naik ke atas kasur. Setelah menata guling di tengah-tengah mereka, Sakura merebahkan tubuhnya di atas kasur.

"Sasori-nii dan Gaara-nii pasti sengaja mengunci pintu. Sore tadi mereka tidak berhenti-berhenti berbicara tentang keponakan—sungguh tidak masuk akal." Keluh Sakura pelan. "Maksudku, tentu akan lucu sekali kalau aku mengaku pada semua orang kalau kita menikah bukan untuk hal yang seperti itu, 'kan? Aku jadi hanya bisa diam saja ketika mereka berbicara seperti itu."

"Apakah kau menyesal, membantuku seperti ini?"

Sakura menoleh. Kakashi tengah menatapnya dan lengan mereka kembali bersentuhan. Rasa panas yang dirasakannya tadi kembali menjalar ke seluruh wajah, membuat Sakura harus mengalihkan pandangannya.

"Tidak. Aku dengan sadar membantumu," ujar Sakura. "Aku sebenarnya juga merasa tidak enak pada keluargamu dan keluargaku kalau sampai mereka tahu tentang ini. Terlebih lagi, aku merasa benar-benar tidak enak pada pacarmu."

Kakashi mengerutkan keningnya. "Mei?"

"Iya. Mei-nee." Gumam Sakura pelan. "Tentu saja aku tidak akan suka kalau pacarku harus menikah dengan orang lain, apapun alasannya. Tapi Mei-nee sangat perhatian dan suportif, aku jadi merasa bersalah."

Pria itu menghela nafasnya dan memejamkan mata. "Tidak usah begitu. Lagipula kita juga tidak melakukan apa-apa."

Sakura tidak menanggapi. Pikirannya campur aduk sekarang—ia bahkan tidak yakin kalau otaknya sekarang bisa mencerna situasi aneh yang terjadi diantara Kakashi dan dirinya. Keheningan duduk di antara mereka selama beberapa saat sebelum akhirnya Sakura kembali angkat suara.

"Berarti aku boleh punya pacar juga, 'kan?"

Kakashi kembali membuka matanya. Sontak ia menoleh ke arah Sakura.

"Apa maksudnya?"

"Apa maksudnya apa? Kau, 'kan, juga memiliki seorang pacar…" kata Sakura langsung. "Maksudku, kalau ada laki-laki yang menyukaiku, aku boleh mengencaninya, 'kan? Aku tentu tidak mau kau tiba-tiba datang dan mengaku-aku sebagai suamiku."

Kakashi tersenyum jengkel. "Tapi aku memang suamimu, 'kan?"

"Hei, Kakashi, aku belum mau minum obat darah tinggi di usiaku sekarang…" Sakura berujar kesal sambil mencubit lengan pria itu. "Seharusnya aku tidak perlu bertanya. Aku punya atau tidak punya pacar adalah hakku."

"Sungguh memalukan, omongan itu keluar dari seseorang yang sudah menikah."

"Kakashi!"

Sakura tanpa sadar menjerit dan sekarang gadis itu sudah menegapkan tubuhnya, memandang Kakashi yang sekarang balik menatapnya dengan tatapan menantang. "Siapa yang lebih memalukan, aku yang bahkan belum mempunyai pacar atau kau yang berkata seperti itu padahal kau sendiri punya pacar saat menikahiku?!"

"Kecilkan suaramu…"

"Jawab aku!" jerit Sakura tanpa ampun.

Kakashi berdecak, ia dengan cepat bangkit dan mengunakan kedua tangannya untuk menutup mulut Sakura. Hal itu tidak semudah kedengarannya, tentu saja, saat Sakura dengan lancar menggigit tangan Kakashi dan membuat erangan pria itu terdengar memenuhi kamar mereka.

"Kakashi, kami tadi tidak sengaja mengun—"

Sakura dan Kakashi berhenti bergulat saat suara Gaara terdengar. Mereka berdua sontak menoleh ke arah pintu dan mematung begitu melihat ada Sasori dan Gaara disana.

Kedua pria itu tanpa basa-basi membungkukkan tubuh mereka dengan canggung, seolah-olah mereka baru saja menyaksikan apa yang tidak boleh dilihat.

"Maafkan kami, kami tidak akan mengganggu lagi." Ujar Sasori cepat sambil menyeret Gaara.

"Nii! Nii! Bawa saja laki-laki sialan ini dari sini!" jerit Sakura marah.

"Sakura, kalau kau terus berteriak seperti itu, tetangga-tetangga Bibimu akan datang kesini dan mengarakmu ke laut." Bisik Kakashi sinis sambil kembali berusaha membekap mulut gadis itu.

Kakashi menjatuhkan tubuh Sakura ke atas kasur dan mengunci kedua tangan gadis itu dengan tangannya. Ia terlihat superior sekali sekarang, terbukti Sakura yang kelihat kaget sekali menatapnya dari bawah seperti itu.

"Apa kau bisa diam sekarang?" tanya Kakashi. Nada suaranya berat dan dalam, membuat Sakura sedikit bergidik.

"Kau harus melarat kata-katamu dulu sebe—"

Perkataan Sakura terhenti saat Kakashi mendekatkan wajahnya. Kakashi bisa melihat kedua pupil mata di depannya yang melebar perlahan-lahan, mau tidak mau membuatnya nyaris saja tertawa.

"Aku akan diam." Ujar Sakura. "Tolong lepaskan aku."

Kakashi tersenyum dan melepaskan kedua tangannya. Sakura cepat-cepat menarik dirinya sendiri ke tepi kanan kasur, memunggungi Kakashi yang berada di sebelahnya. Ia mati-matian berdoa semoga saja debaran jantung tidak karuannya ini hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri, jangan sampai Kakashi juga mendengarnya.

Ia tidak tahu sejak kapan Kakashi jadi sekuat itu. Saat mereka masih kecil dulu, ia akan dengan mudah membuat wajah Kakashi memerah menahan tangis karena berhasil menggigit tangannya dan menjambak rambutnya. Sementara tadi, untuk melepaskan diri dari cengkraman pria itu saja dirinya tidak bisa. Sakura menggelengkan kepalanya dan berusaha untuk berkonsentrasi tertidur.

"Sakura?" panggil Kakashi pelan.

Sakura tidak menjawab. Ia tidak mau menjawab.

"Sakura?"

"Diamlah, aku sudah tidur."

Pria itu tertawa kecil. Ia memiringkan tubuh ke kiri, lalu memejamkan kedua matanya.

.

.

Rona jingga memenuhi seluruh sudut bangunan tua di kota Mabara itu. Sasori dan Gaara bangun nyaris bersamaan ketika rona daging panggang menyeruak masuk ke indera penciuman mereka. Setelah merenggangkan tubuh selama beberapa menit, dua pria berambut merah itu keluar dari kamar mereka dan berjalan menuju halaman belakang.

"Kenapa kalian melakukan barbeque di pagi hari?" tanya Sasori bingung. "Tidak takut kolestrol naik?"

"Justru kalau melakukannya di malam hari, dagingnya akan menumpuk dan tidak terbakar. Cepat panggil Sakura dan Kakashi untuk bergabung." Ujar Karura bersemangat.

Sasori dan Gaara saling melempar pandang. Masih teringat jelas dipikiran mereka tadi malam suara Sakura dan Kakashi dari dalam kamar dan apa yang sedang mereka lakukan ketika pintu kamar terbuka. Sasori menggaruk tengkuknya sendiri dengan canggung sementara Gaara sibuk berdeham, tidak tahu harus mengiyakan atau tidak.

"Kalian akan diam saja disitu sampai kapan?"

"Ah, ya, benar." ujar Gaara sedikit gelagapan. "Ayo."

Mereka berjalan selambat mungkin ke bangunan kecil di bagian Timur dan menatap pintu geser di depannya dengan perasaan campur aduk. Mendengar pernikahan Sakura dan Kakashi saja sudah sangat aneh bagi mereka—sekeren apapun Kakashi di pikiran mereka—, apalagi harus menyaksikan aksi mereka kemarin malam.

"Sakura?" panggil Sasori. "Sakura, kau dan Kakashi-nii sudah ditunggu oleh semua orang…"

Tidak ada jawaban dari dalam kamar. Sekali lagi bertukar pandang, mereka berdua memutuskan untuk menggeser pintu kamar.

Sasori dan Gaara mematung di tempat. Mereka terperangah melihat dua orang tersebut selama beberapa detik, lalu memutuskan untuk kembali menutup pintu kamar tanpa suara dan membalikkan badan.

"Ingatkan aku untuk mencuci sprei dan menjemur kasur itu nanti." Ujar Sasori syok, tengkuknya sampai terlihat merah sekali akibat terlalu sering digaruk.

Sementara itu, Sakura mengerjapkan matanya ketika suara-suara dari kejauhan mulai mengganggu tidurnya. Keningnya berkerut saat bantal yang ia tiduri tidak seempuk yang ia rasakan kemarin. Bantalnya keras, hangat, dan terasa seperti kulit.

Kulit?! Pikir Sakura kaget, segera membuka matanya lebar-lebar dan menoleh.

"!"

Kakashi terkejut dan cepat-cepat membuka matanya. Belum sempat ia bereaksi, pukulan dan cubitan bertubi-tubi dari Sakura sukses dilayangkan gadis itu ke lengan dan perutnya.

"Hei, hentikan!" ujar Kakashi kesal.

"Dasar mesum sialan, kau pikir kau bisa seperti ini hanya karena aku mengijinkanmu tidur disini, hah?!" jerit Sakura marah. Cubitan dan pukulan sudah berubah menjadi lemparan barang, guling, dan juga isi tasnya sekarang—bedak, lipstick, bahkan botol parfum beling setengah penuhnya—. "Dan kenapa kau tidak memakai baju? Tidakkah kau malu pada dirimu sendiri?!"

"Aku memang selalu tidur seperti ini. Lalu, kau yang datang kepadaku, kau tahu?"

Sakura menghentikan niatnya untuk melempar dompet ke arah Kakashi. Ia menatap kasur di hadapannya, menyadari kalau apa yang dikatakan Kakashi benar. Tempat tidur bagian kanan terlihat rapi dan tidak berpenghuni, sementara tempat tidur bagian kiri terlihat cukup berantakan.

"Ugh!"

Gadis itu cepat-cepat mengikat rambutnya dan pergi keluar kamar mendahului Kakashi. Sama sekali tidak ada keinginan di hatinya untuk kembali lagi ke belakang untuk mengambil sikat gigi, karena sekarang dirinya ingin sekali melompat ke arah Kakashi dengan sebilah belati di tangan.

Sasori dan Gaara memutuskan untuk berpura-pura tidak tahu ketika Sakura muncul di hadapan mereka dengan wajah merah padam. Kakashi datang tidak lama kemudian, pria itu tersenyum sopan kepada semua orang seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Melihat hal tersebut, Sasori dan Gaara akhirnya pergi menjauh dan bermain dengan Pakkun.

"Kenapa kau baru bangun sekarang, pemalas sekali." Ujar Mebuki sambil merapikan piyama Sakura yang sedikit berantakan. "Bantu Ibu menata makanan ini di piring."

Sakura menurut tanpa banyak menjawab. Biasanya kalau ibunya berbicara seperti itu, ia akan dengan senang hati membantah dan menjelaskan bahwa ia masih butuh banyak tidur, bla bla bla… Sekarang otaknya sedang tidak bisa mencerna berbagai macam alasan. Ia hanya berpikir bagaimana caranya ia bisa menghabisi Kakashi.

"Pulanglah nanti siang. Ibu dan Ayah akan kembali nanti sore, tapi kami tahu kau masih harus kuliah besok dan Kakashi juga harus mengajar." Ujar Ibunya, disahuti oleh anggukan Mari dan Karura.

"Tidak apa-apa, aku masih bisa disini sampai sore." Sahut Sakura pelan.

"Gaara akan kembali setelah ini, tidak perlu merasa tidak enak." Ujar Mari menenangkan. "Lagipula perjalanan kalian cukup jauh, 'kan?"

"Hanya satu setengah jam, Bibi." Jawab Sakura.

"Kakashi pasti akan sangat lelah kalau harus kembali sore nanti. Pulanglah siang ini."

Sakura pada akhirnya hanya bisa mengangguk. Ia masih sangat ingin berkumpul dengan keluarganya, tapi ia juga tahu kalau menyetir adalah hal yang melelahkan. Ditambah, ibunya sepertinya lebih menyayangi Kakashi dibandingkan dirinya sendiri.

Beberapa menit kemudian Sakura bergabung dengan keluarganya di ruang makan besar rumah tersebut. Ia baru saja ingin duduk di sebelah Sasori, namun Gaara menggelengkan kepalanya dan menyuruhnya untuk duduk di sebelah Kakashi dengan gerakan mata. Gadis itu mengerucutkan bibir dan berdecak.

Kakashi mencondongkan tubuhnya ke Sakura. "Saku—"

"Diam. Aku tidak mau berbicara denganmu."

Sakura tidak terlalu fokus makan karena Kakashi terus-terusan menjahilinya sepanjang waktu. Pria itu akan dengan sengaja menjatuhkan saus ke lengan bajunya, menendang kakinya, atauh bahkan memasukkan bubuk cabai ke dalam nasinya. Apa yang dilakukan Kakashi saat ini sebenarnya sangatlah disayangkan, karena Sakura benar-benar bisa membunuhnya kapan saja.

"Kami sering liburan seperti ini dengan keluarga Kakashi dulu, sebelum Kakashi pergi kuliah." Ujar Kizashi tiba-tiba, membuka bahan pembicaraan. "Kami akan menyewa villa di gunung dan membiarkan Sakura dan Kakashi bermain. Kakashi benar-benar baik, sebenarnya. Ia mau menjaga Sakura, sementara para orang tua bersantai."

Suara tawa terdengar dari dalam ruang makan tersebut, tidak terkecuali Kakashi. Ekspresi kesal belum lepas dari wajah Sakura. Kakashi begini, Kakashi begitu… kenapa mereka tidak mengadopsi Kakashi saja dan mengirimku pergi?

"Jujur saja aku sempat kaget mendengar Sakura akan menikah waktu itu," ujar Haruhito. "Kupikir, 'Apa yang dilakukan anak itu? Dia bahkan masih terlalu muda untuk menikah.'. Aku mengatakannya pada Karura dan Sasori saat itu, betul?" tanyanya, disambut oleh anggukan dari Karura. "Tapi saat kudengar kalau ia akan menikah dengan Kakashi, entah kenapa aku jadi tidak terlalu khawatir."

"Ya. Aku juga sangat lega waktu itu." Timpal Karura.

Berbeda dengan Sakura yang merasa kesal mati-matian, Kakashi merasakan perasaan tidak enak kembali muncul lagi di hatinya. Pria itu tersenyum kecil sambil berusaha menelan daging di depannya yang terasa sangat keras.

"Tapi bukankah saat itu kau masih mempunyai pacar, Kakashi?" tanya Mebuki penasaran. "Beberapa minggu sebelum kau datang dan ingin menikahi Sakura, kau juga datang bersama pacarmu, 'kan? Siapa itu, wanita dengan rambut cokelat—"

"Iya, Ibu, mereka belum—"

"Sakura, nasimu jatuh." Potong Kakashi sambil menunjuk nasi di sekitar mangkuk Sakura. "Kami berpisah beberapa saat setelah itu, Ibu."

Kakashi merasakan jantungnya berdebar tidak karuan. Sakura hampir saja membongkar kebohongan mereka, dan gadis itu tampaknya tidak menyadarinya. Untung saja semua orang disana hanya mengangguk-angguk mengiyakan perkataannya. Tentu saja Kakashi akan dihabisi kalau mereka tahu ia dan Mei masih berpacaran.

Sisa makan pagi mereka dihabiskan dengan cerita-cerita nostalgia oleh orang-orang tua. Sakura dan Kakashi bungkam satu sama lain, berperang dengan perasaan dan batin mereka masing-masing. Pada akhirnya mereka kembali masuk ke kamar dan bersiap-siap untuk mengemasi barang-barang mereka.

"Kau tidak mau mandi dulu?" tanya Kakashi.

"Tidak. Nanti saja begitu sampai. Lalu aku akan langsung tidur."

Kakashi terdiam sebentar. Pria itu kemudian duduk di sebelah Sakura.

"Dengar, kalau kau memang masih mau disini, aku bisa menjemputmu nanti sore." Ujar Kakashi. "Tapi aku harus kembali karena ada pekerjaan yang harus kulakukan."

"Tidak apa-apa. Aku juga masih harus mengerjakan tugas." Jawab Sakura.

"Apa kau marah padaku?"

Sakura menoleh singkat. Ia menghela nafasnya, tapi tidak mengatakan apa-apa.

"Sakura?"

"Aku hanya tidak tahu sampai kapan kita membohongi Ayah dan Ibu kemarin, kau tahu?" gumam Sakura pelan. Sebuah senyuman miris terlihat di wajahnya, sementara ia menatap Kakashi. "Dosaku pada mereka begitu besar sampai-sampai untuk menelan makananpun aku tidak sanggup."

Ternyata bukan hanya Kakashi yang merasakannya. Pria itu menghela nafas dengan lunglai.

"Lalu yang membuatku lebih kesal lagi, seluruh keluargaku sangat…" ujarnya frustasi. "Sangat menyukaimu."

"Maafkan aku."

Kakashi tidak mengerti harus mengucapkan apa lagi selain permintaan maaf. Sakura benar-benar terlihat kebingungan sekarang. Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tidak berpikir sepanjang ini saat itu. Yang tidak disadarinya adalah, semakin dekat hubungan antara keluarganya dan keluarga Sakura, semakin besar jugalah rasa sakit yang akan mereka terima nanti begitu tahu kalau semua yang mereka lakukan ini adalah kebohongan.

"Kita pulang sekarang?" tanya Kakashi pelan.

Sakura mengangguk. Ia mengusap tangan Kakashi beberapa kali dan lalu bangkit dari duduknya. "Aku akan menunggumu di ruang tengah."

.

.

"Jangan lesu seperti itu. Kau mau es krim?"

Sakura menggelengkan kepalanya. "Berhenti memperlakukanku seperti anak kecil."

"Baiklah, jangan minta kalau nanti aku akan membelinya."

"Ugh… baiklah! Belikan aku juga."

Kakashi tersenyum kecil. Ia melirik Sakura di sampingnya dan kembali fokus ke jalanan di depannya. Sepanjang perjalanan tadi, Sakura tidak membuka bibirnya sama sekali. Keheningan dan suara GPS-lah yang terdengar dari dalam mobil tersebut sampai-sampai Kakashi benar-benar merasa bersalah dibuatnya.

Lima menit kemudian mobil tersebut terparkir manis di sebuah kedai es krim bertuliskan SERA-CHAN's besar-besar. Sakura turun dari dalam mobil dengan sedikit bersemangat, langsung saja pergi ke depan konter dan memperhatikan berbagai rasa di depannya.

"Bolehkah aku memilih yang itu?" tanya Sakura sambil menunjuk cup besar dengan tulisan 'HALF GALLON SIZE'.

"Tidak, terlalu banyak. Seperti kemarin saja."

"Ugh, Kakashi! Sepertinya kau tidak serius meminta maaf."

Kakashi tersenyum jengkel. Ia mengalihkan pandangannya ke arah pegawai kedai tersebut yang sedang menunggu mereka. "Quart size. Take away."

"Baiklah. Untuk rasanya?"

Sakura tidak terlalu marah lagi, setidaknya pria itu menaikkan ukuran cup es krimnya menjadi lebih besar.

"Berry strawberry, vanilla chocochips, dan cheesecake." Ujar Sakura.

"Kau sepertinya memikirkan ini sepanjang perjalanan, huh?"

"Omong kosong. Aku baru saja melihat varian rasanya tadi." Jawab Sakura mengelak.

Pegawai kedai itu dengan cepat menyelesaikan pesanan mereka dan memberikan cup besar tadi ke arah Sakura. Melihat gadis itu yang langsung saja berlalu tanpa mengucapkan apapun, Kakashi tersenyum masam sambil memberikan kartu ke arah wanita di depannya.

"Kau sepertinya bahagia sekali." Kata Kakashi saat mereka berdua sudah kembali duduk di dalam mobil.

"Tentu saja. Aku lebih bahagia saat bersama es krim ini dibandingkan saat bersamamu."

"Balasanmu boleh juga. Bagaimana kalau nilaimu F semester ini?"

Sakura berdecak kesal. Pria di sebelahnya benar-benar menyebalkan.

"Nanti aku akan pergi bersama Asuma dan pulang malam. Jangan biarkan siapapun masuk." Ujar Kakashi, lalu membelokkan mobilnya ke jalan arteri kota Shibuya. "Kerjakan juga tugasmu dengan baik."

"Kau akan pergi kemana?" tanya Sakura.

"Asuma mengajakku ke tempat ini, aku tidak tahu pasti…" gumam Kakashi tidak terlalu jelas. "Ia ingin mencoba jiu… jiu jitsu? Kalau tidak salah. Dia memintaku menemaninya."

"Aku belum bertemu dengan Asuma-nii kemarin."

Kakashi menoleh sekilas, lalu tertawa. "Dibanding memanggilnya seperti itu, bukankah lebih cocok kalau kau memanggilnya Paman?"

"Kau serius?" Sakura balas tertawa. "Bukankah kalian seumuran?"

Kakashi tersenyum jengkel. Ia tidak menanggapi, menyadari kalau dirinya baru saja kalah dari gadis yang berusia jauh… lebih muda darinya.

.

.