"Bagaimana rasanya?"
"Enak sekali." Jawab Sakura, matanya berbiinar-binar. "Kau harus mencobanya."
Ino menggigit ikayaki yang ada di tangan Sakura dan ikut tersenyum. "Kau benar!"
Selepas kelas terakhir tadi, Hinata langsung bergabung dengan komunitas musiknya sementara Ino dan Sakrua sibuk menjelajahi kedai-kedai makanan kecil yang sudah berbaris rapi mengelilingi halaman utama kampus. Beberapa anak dari jurusan lain juga terlihat memenuhi acara tersebut—waktu yang tepat bagi beberapa mahasiswa untuk mulai mencoba peruntungan mencari pacar. Malam nanti akan ada acara besar untuk menutup rangkaian festival ini dan seharian Kakashi terlihat menempel dengan Hanare… ia benar-benar tidak bisa ditemui.
"Kau akan datang nanti malam?" tanya Ino.
"Sebenarnya aku tidak suka keramaian seperti ini, tapi aku terlalu menyayangimu dan Hinata sampai-sampai aku harus menonton pentas kalian."
Ino terkekeh dan memeluk Sakura sekilas. Mereka tersenyum kompak ke arah seorang perempuan yang datang membawakan piring berisi choco banana.
"Aku mengundang beberapa temanku datang," ujar Ino. "Kau bergabung saja dengan mereka, daripada sendiri?"
"Jangan khawatirkan aku. Kenapa kau tidak berlatih?" Sakura bertanya sambil menggigit pisang di depannya.
"Menghemat energi. Tiga jam lagi akan ada latihan singkat di gedung E." ujar Ino.
Sakura mengangguk-angguk. Ia melihat keadaan sekeliling yang semakin sore semakin ramai. Kedai makanan memang magnet yang bagus untuk menarik perhatian banyak orang. Di ujung lapangan, lusinan orang sedang berkumpul dan berusaha untuk memasang besi-besi penyangga panggung yang lumayan besar.
Sakura tidak pernah tertarik untuk terlibat dalam acara-acara seperti ini. Saat masih SMA dulu, ia akan lebih memilih untuk bersembunyi di dalam kostum maskot kelas dibandingkan bersosialisasi dengan orang lain. Namun saat masuk kuliah, ia menjadi sedikit terbuka karena berteman dengan Ino—Ino adalah temanmu yang memiliki sekurang-kurangnya satu orang teman di setiap jurusan. Setidaknya ia sudah memiliki beberapa teman jauh dari jurusan yang berbeda. Sakura meringis pelan, memaklumi kehidupan sosialnya yang tidak terlalu bagus.
Ponsel Ino berdering. Gadis itu mengerutkan keningnya.
"Kenapa ia meneleponku?" gumamnya tidak jelas. "Ada apa?"
"Kami sudah berada di depan kampusmu sekarang." Ujar suara dari seberang sana.
"Hei, aku, 'kan, sudah bilang jam delapan nanti! Kenapa kalian datang sekarang?" tanya Ino, kesal campur senang. Ia kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Sakura. "Aku akan kembali sebentar lagi, teman-temanku ternyata sudah datang."
Sakura menganggukkan kepala dan membiarkan Ino pergi. Matanya menangkap sosok perempuan berambut merah yang sedang memandanginya dari jauh. Bibirnya berujar sinis, tentu saja tidak terdengar, sementara mata perempuan itu kelihatan tidak suka sekali padanya.
Seorang laki-laki datang ke sebelahnya dan tampak tidak menyadari pandangan perempuan itu. Sakura menghela nafas dan mengalihkan pandangan. Ia sudah tidak mau lagi cari urusan dengan Karin. Kalau saja Ino tidak menemukannya waktu itu, sudah dipastikan ia akan menjadi makanan empuk hantu-hantu toilet.
Ino datang tepat sepuluh menit kemudian dengan beberapa orang di belakangnya.
"Ini Sakura, yang aku ceritakan." Ujar Ino ceria. "Tolong temani dia."
"Ino, apa yang kau katakan…" bisik Sakura dengan wajah merah padam.
"Tidak apa-apa, Sakura. Mereka semua teman dekatku." Kata Ino menenangkan. "Tentu saja tidak sedekat kita, tapi mereka cukup dekat denganku."
Sakura melemparkan senyumnya ke arah orang-orang tersebut dan bergeser, memberikan tempat lebih bagi Ino untuk duduk.
"Banyak sekali makanan disini. Apa ada yang menjual taiyaki?"
"Ada, di kedai paling ujung sana." Ujar Sakura. Matanya tidak sengaja bertabrakan dengan mata orang yang bertanya itu, lalu ia merasakan wajahnya memerah.
Sial, tampan sekali, gumam Sakura kesal dalam hati.
"Aku akan menemani Tenten mencari yakitori, kau pergi saja dengan Sakura dulu." Ujar Ino kemudian sambil menggandeng lengan gadis bercepol dua di sebelahnya. "Kalian juga, kenapa tidak mencari camilan dulu?"
Semua orang mengangguk-angguk dan pergi dari meja tersebut beberapa menit kemudian, menyisakan Sakura bersama laki-laki tadi yang mencari taiyaki. Sakura berdecak pelan. Ia sangat tidak hebat bersosialisasi seperti Ino, dan bisa-bisanya Ino meninggalkannya sendirian seperti ini sekarang?!
"Ino pernah bercerita kalau ia mempunyai teman yang sangat canggung dan malu ketika berhadapan dengan orang lain," ujarnya tiba-tiba, membuat Sakura mengangkat kepala dengan cepat. "Apakah… kau orangnya?"
Sakura tertawa canggung. "Ya. Kau menebak dengan hebat."
"Kalau begitu, tidak perlu malu."
Sakura tersentak pelan saat laki-laki itu bergerak untuk pindah duduk di sampingnya.
"Namaku Kiba."
.
.
"Tidak mungkin. Kau sedang berbohong."
"Aku serius." Ujar Kiba dengan nada jenaka. "Tidak ada yang tahu sampai sekarang… kecuali kau."
Sakura tertawa mendengarnya. Ia benar-benar terpana pada cerita Kiba.
"Bukankah kau ada di semester akhir, sekarang? Kau akan melakukan internship, berarti?"
Sakura mengangguk. "Ya, tapi aku benar-benar bingung harus mendaftar kemana."
"Kenapa tidak di tempatku saja?" tanya Kiba. "Kau hanya perlu menghapal materi dan bisa langsung bekerja. Ada uang tunjangan juga untuk mahasiswa intern, meskipun tidak terlalu banyak."
"Aku tidak tahu, Kiba, pekerjaanmu sepertinya cukup sulit…"
"Tentu saja sulit. Apalagi, kau harus menjelaskannya dalam bahasa Inggris." Ujar Kiba jenaka. "Tapi coba kau pikirkan. Kau bisa berinteraksi langsung dengan turis—yang kurasa adalah tujuan utama jurusanmu—dan kau juga bisa pergi ke berbagai tempat saat melakukan magang. Ini akan jauh lebih menyenangkan dibandingkan duduk seharian di pusat bahasa."
"Harus kuakui kau benar…" gumam Sakura. "Apakah Ino tidak menanyakan hal ini padamu?"
Kiba menggeleng. "Dia masih akan melakukan intern semester depan. Semester ini terlalu penuh baginya."
Sakura mengangguk-anggukkan kepala. Langit kota Tokyo sudah sepenuhnya gelap sekarang dan panggung utamapun penuh dengan lampu keemasan yang berpendar mewah.
"Baiklah…" ujar Sakura akhirnya. "Tolong bantu aku."
"Tentu saja. Apapun untuk perempuan cantik sepertimu."
Sakura merasakan wajahnya memerah. Dengan gugup, ia menggigit taiyaki di hadapannya dan berpura-pura tidak mendengar perkataan Kiba barusan. Untung saja Ino dan beberapa temannya datang dua menit kemudian. Kiba melepaskan pandangannya dan kemudian tersenyum ke arah Ino.
"Aku akan pergi sebentar lagi," ujar Ino. "Sakura, kau benar-benar tidak apa-apa kutinggal, 'kan?"
"Iya." Jawab Sakura.
Ino menepuk pundak beberapa temannya dan pergi berlalu.
Meja mereka berada cukup dekat dengan panggung utama. Sakura bisa melihat jelas Hanare yang sedari tadi berjalan tidak tentu arah—namun tidak mengerjakan apa-apa—, dan juga beberapa orang yang sekarang sedang berdebat dengan Shikamaru, si ketua komunitas drama. Kalau sedang seperti ini, rasanya ia ingin bergabung ke satu atau dua organisasi kampus, tapi mungkin sudah cukup terlambat…
"Ingin menemaniku mencari minum?"
Sakura tersadar dan memandang Kiba di hadapannya yang sudah berdiri. Gadis itu tersenyum dan mengangguk, lalu mengikuti langkah Kiba.
"Kau tahu, suaramu terdengar lumayan familiar," ujar Sakura saat mereka sedang menyusuri kedai-kedai minuman. "Apakah kita pernah bertemu di suatu tempat?"
"Aku meragukan itu… tapi aku adalah seorang penyiar di malam hari." Kiba tersenyum kecil dan mengalihkan pandangannya ke arah seorang perempuan di balik konter. "Teh lemon dua."
"Penyiar?"
Kiba mengangguk. "Wakamono?"
"Oh, aku sering mendengarkannya saat belajar!" Sakura berujar senang. Ia kemudian menerima gelas plastik pemberian Kiba, lalu kembali menatap laki-laki itu tidak habis pikir. "Bagaimana caramu mengatur waktu? Maksudku, menjadi pemandu wisata pasti melelahkan, 'kan? Kau masih punya tenaga untuk shift malam?"
"Tentu saja. Kalau tidak, bagaimana bisa aku bertahan hidup?"
Sakura tersenyum, terpana pada orang disebelahnya.
Mereka berdua sontak menoleh ke arah panggung ketika suara musik besar-besar terdengar dari sana. Seorang perempuan dan seorang laki-laki muncul dari balik tumpukan speaker besar, menyapa seluruh orang yang berkumpul di halaman utama kampus dengan suara ceria mereka.
"Kau tahu, aku sangat merindukan suasana kampus." Gumam Kiba pelan.
"Benarkah? Kau lulusan mana?"
Pria itu tertawa kecil, lalu menggaruk kepalanya. "Aku kakak tingkatmu, Sakura."
Suara riuh rendah dari orang-orang yang berada di halaman membuat Sakura tidak sempat bereaksi. Ia kembali menatap panggung dan menganggukkan kepalanya. Kakashi muncul disana, dan hampir semua perempuan menggila karenanya.
Apa-apaan dia, kenapa memakai celana jeans seperti itu? Pikir Sakura tidak suka.
"Hatake sensei masih sangat terkenal." Ujar Kiba. "Hei, tidak usah merasa bersalah begitu. Kampusku bukan disini, kau tahu? Aku lulusan fakultas pariwisata."
"Oh… pantas saja aku tidak pernah melihatmu. Aku langsung pulang ketika selesai kelas." Ujar Sakura sambil meringis kecil. "Tetap saja aku merasa bersalah karena tidak mengenalimu dari awal."
"Tidak perlu merasa bersalah seperti itu."
Sakura tidak bisa mendengar jelas apa yang dikatakan oleh Kakashi karena suara orang-orang di sekitarnya begitu dominan sampai-sampai menutupi suara pria itu. Ia memusatkan perhatian kembali ke Kiba yang sekarang sedang memainkan ponselnya.
"Kalau begitu, boleh aku meminta kontakmu?" tanya Sakura. "Untuk kegiatan intern."
"Ya. Tentu saja." Jawab Kiba.
Sakura tersenyum dan mengeluarkan ponselnya.
Kiba baru saja mengetikkan nomornya ketika ponsel Sakura berdering.
"Um, Sakura? Ko… haru meneleponmu."
"Oh, sebentar."
Sakura berjalan menjauhi kerumunan dan berhenti di sebelah kedai paling ujung. Kedai itu hanya menjual beberapa souvenir kecil seperti gelang dan gantungan kunci, sehingga sedikit sekali orang yang berada disana. Setelah memastikan tidak ada orang banyak disekitarnya, Sakura mendekatkan ponselnya ke telinga.
"Ada apa?" tanyanya langsung.
"Ayo pulang bersama."
"Huh? Tiba-tiba sekali." Gumam Sakura bingung. Ia menoleh sekilas ke arah Kiba yang sedang memandang ke arah panggung, lalu tersenyum kecil. "Tapi kurasa aku akan pulang sedikit larut malam ini, tidak apa-apa, 'kan?"
Kakashi tidak langsung menjawab. Sakura harap-harap cemas dibuatnya, gadis itu sampai harus berputar—mencari-cari dimana Kakashi sekarang.
"Aku akan pulang… bersama Ino?"
"Baiklah." Ujar Kakashi akhirnya. "Jangan pulang terlalu malam."
"Aku mengerti."
.
.
"Sakura, tolong bantu aku sebentar."
Kakashi masuk ke dalam kamarnya dengan setumpuk kertas dan sebuah kursi. Sakura refleks menggeser posisi duduknya, memberikan tempat bagi Kakashi di meja belajarnya.
"Bisakah kau konversikan nilai-nilai ini?" tanya Kakashi. "Aku masih harus mengerjakan hal lain."
"Ya, tidak apa-apa." Jawab Sakura sambil menaikkan kacamatanya dan membuka aplikasi kalkulator di ponselnya.
Kakashi memberikan satu bundel kertas ke depan Sakura dan membaca bundel lainnya.
"Sekarang jawab dengan jujur, Kiba. Kenapa kau sepertinya senang sekali akhir-akhir ini?"
"Ah, bagaimana bisa aku menceritakannya disini…"
Sakura tertegun mendengar percakapan tersebut. Ia melirik radionya dengan takut-takut. Kalau ia mematikan radionya tiba-tiba, Kakashi pasti akan curiga dan bertanya. Tapi kalau tidak…
Tunggu, kenapa aku jadi takut begini? Pikir Sakura bingung.
"Beberapa hari yang lalu aku pergi ke acara di kampusku dulu, karena seorang teman mengundangku…"
"Dimana itu?"
"Universitas Minami."
"Ah, aku mengerti. Lalu?"
"Yah… aku bertemu dengan gadis ini."
"Lalu?"
"Apa yang kau lakukan, kenapa kau malah mewawancarai aku?" ujar Kiba sambil tertawa. "Dia perempuan yang sangat hebat. Kalau dia mendengarkan, aku hanya ingin memberitahunya bahwa dia keren sekali saat itu. Aku benar-benar menikmati waktu bersamanya…"
"Benarkah? Siapa namanya?"
"Kak—"
"Oh, ayolah. Tidak mungkin, 'kan, hanya ada satu nama seperti itu di seluruh Jepang?"
Kakashi masih tidak menyadari kalau wajah gadis di sebelahnya sudah semerah udang rebus sekarang. Pandangannya masih fokus mengkalkulasi nilai-nilai mahasiswanya, sebelum akhirnya tangannya berhenti bergerak mendengar perkataan Kiba.
"Aku… masih menunggu pesan darimu. Sakura."
"Sakura?"
Sakura menutup kedua matanya. Rasanya seperti ketahuan berkencan oleh ayahnya.
"Apa dia sedang membicarakanmu?"
Sakura menggelengkan kepala. "Tidak. Kenapa bisa aku?"
"Tadi dia bilang acara di Universitas Minami, 'kan?" tanya Kakashi. "Wajahmu merah sekali sekarang, kau tahu?"
Mata Sakura melirik kaca yang terletak di meja belajarnya dan menyadari perkataan Kakashi benar adanya. Gadis itu membalik kacanya cepat-cepat, berusaha mengatur nafasnya yang entah kenapa sekarang terengah-engah. Ia tidak menyangka Kiba akan berbicara seperti itu di stasiun radio nasional.
"Kau kenapa, Sakura?" tanya Kakashi setengah tertawa.
"Aku… takut kau akan marah."
"Karena?"
Sakura menoleh dan mengangkat bahunya. "Tidak tahu…"
"Ah, anak ini." ujar Kakashi sambil mengacak rambut gadis di sebelahnya. "Tentu saja aku tidak akan marah. Kenapa aku harus marah?"
Sakura terdiam. Dirinya bingung sekali sekarang. Sebagian hatinya merasa lega, tapi kenapa sebagiannya lagi merasa… kecewa?
"Sudahlah. Nanti kau harus langsung menghubunginya, setelah selesai membantuku tentu saja." Kata Kakashi.
"Baiklah..."
.
.
"Kau akan pergi bersama Asuma-nii sebentar lagi, 'kan? Apakah harus kubuatkan makan malam?"
Kakashi mengangkat kepalanya bingung. "Memangnya kenapa?"
"Aku akan pergi bersama Kiba malam nanti. Aku akan pergi ke kantornya dan mendaftar magang disana." Ujar Sakura. Ia mengisi botol minumnya, lalu melirik Kakashi sekilas. "Maksudku, kalau memang kau akan makan disini, aku bisa membuatkanmu makanan."
"Sepertinya aku akan makan bersama Asuma nanti." Gumam Kakashi pelan. "Kau akan pulang jam berapa?"
"Jam 10. Mungkin. Atau jam 11?" tanya Sakura, lebih pada dirinya sendiri.
"Kenapa malam sekali?"
"Karena—"
Perkataannya terhenti saat bel apartment mereka berbunyi. Sakura melirik layar interkom dan terkejut sendiri saat melihat wajah Kiba disana.
"Kenapa dia cepat sekali…" ujar Sakura, memasukkan lipstick dan bedak di depannya ke dalam tas. "Jangan keluar! Aku tidak bilang padanya kalau aku sudah… kau tahu, menikah, bla bla bla…"
Kakashi memutar matanya. Ia terenyum sekilas saat Sakura melambai ke arahnya dan menghilang dari balik pintu. Ponsel pria itu berdering beberapa saat kemudian.
"Ya." Jawab Kakashi.
"Kashi?"
Kakashi sontak menegakkan tubuhnya mendengar suara Mei. "Ya, Mei?"
"Sepertinya aku akan pergi ke Jepang beberapa minggu lagi…"
Kakashi sedikit terkejut dan memutuskan untuk duduk di atas sofa yang berada tidak jauh di dekatnya. "Ada apa?"
"Ayah… keadaannya membaik, Kashi." Ujar Mei, suaranya terdengar senang. "Aku sudah bilang pada Judith bahwa aku mungkin akan pulang, dan dia memperbolehkanku untuk kembali. Aku hanya bingung, apa yang akan kulakukan disana begitu sampai."
Kakashi mengerutkan keningnya. "Apa maksudmu?"
"Kau lupa, ya, kalau aku sudah tidak punya rumah?"
Tentu saja ia ingat. Ia ingat saat itu, memeluk Mei seharian, saat gadis itu ditendang dari rumahnya sendiri akibat hutang besar ayahnya yang tidak terbayar. Ayahnya sendiri terkena koma akibat pukulan keras yang diterimanya saat bertengkar untuk mempertahankan rumah tersebut, sementara ibunya sudah pergi meninggalkan mereka beberapa bulan sebelumnya.
"Kenapa kau mengkhawatirkan itu?" tanya Kakashi lembut. "Ada aku."
Hanya keheningan yang didengarkan oleh Kakashi. Mei tidak menanggapi selama beberapa saat sebelum akhirnya gadis itu menghela nafas.
"Ada Sakura disana, 'kan?"
"Lalu?" Kakashi berujar lagi. "Sakura adalah Sakura, Mei. Sudah kukatakan, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, 'kan? Dia sangat mengerti—bahkan ia sendiri yang bilang padaku kalau ia sangat kagum padamu, karena mengijinkan aku untuk menikahnya."
Mei tertawa kecil. "Benarkah?"
"Tentu saja. Kau wanita yang luar biasa, Mei." Ujar Kakashi. "Kau harus bersemangat."
.
.
"Bersemangat sekali hari ini."
Kakashi menoleh sekilas ke arah Asuma dan kembali mengatur nafasnya. "Tidak tahu. Aku sedang merasa kesal saja."
"Kenapa? Tadi kau bilang Mei menghubungimu sebelum aku datang, 'kan?"
"Iya… entahlah."
"Wow, badanmu sudah keras seperti ini ternyata." Ujar Asuma sambil memukul-mukul lengan dan perut Kakashi. Beberapa orang menoleh kebingungan ke arah mereka, namun Kakashi tidak terlalu peduli pada tindakan temannya. "Padahal kau baru beberapa kali berlatih, 'kan? Selama ini apa yang kau lakukan, pergi ke gym?"
Kakashi mengangguk. "Tidak terlalu sering. Mungkin dua kali seminggu."
"Wah, tapi badanmu sudah bagus sekali." Puji Asuma.
"Diamlah. Kau benar-benar menggelikan." Ujar Kakashi sambil menghindar dari sentuhan Asuma selanjutnya. Pria itu bangkit dan berjalan menuju ruang loker, mengambil peralatan mandinya dari sana dan masuk ke ruang shower.
"Harus kuakui, Kakashi, kau luar biasa karena menempatkan dirimu ke dalam situasi serumit ini hanya demi Mei."
Kakashi tidak menanggapi. Ia menutup mata saat dinginnya air turun dari atas dan membasahi tubuhnya.
"Dan Sakura juga hebat karena ingin membantumu. Maksudku, ia tentu saja sangat menyukaimu sampai-sampai mau membantumu seperti itu." Ujar Asuma sambil tertawa kecil. "Gadis itu… dari kecil sudah membenci Kurenai dan Anko hanya karena mereka bermain bersamamu, 'kan? Sangat posesif."
Kakashi tersenyum. "Dia memang anak yang sangat baik."
"Aku sempat sakit hati karena kau tidak mengundangku ke pernikahanmu, kau tahu?" ujar Asuma. "Aku paham kenapa kau tidak mau mengundang yang lainnya… tapi aku? Aku teman dekatmu. Aku tidak mungkin memberitahukannya kalau kau memintaku."
"Kau bicara apa. Kurenai bisa membuatmu mengatakan apa saja, aku tahu itu." Tukas Kakashi cepat. "Aku pasti akan mengundangmu ke pernikahanku selanjutnya. Aku berjanji."
"Kau tahu, kau benar-benar terdengar menyeramkan, Kakashi."
Tawa Asuma menggema di ruang shower tersebut. Kakashi tersenyum kecil, menyelesaikan mandinya beberapa saat kemudian dan mengenakan pakaiannya yang baru dan bersih. Asuma menyusulnya keluar beberapa menit kemudian dan merekapun keluar dari gedung pelatihan tersebut bersama-sama.
"Kau mau makan dimana?" tanya Kakashi sambil mengeluarkan mobilnya dari tempat parkir.
"Entahlah… aku sedang ingin sekali minum-minum. Kau mau menemaniku?"
"Kau tidak minum bersama Kurenai saja?" tanya Kakashi.
"Tidak… dia bahkan marah kalau aku ketahuan minum." Ujar Kakashi. "Ayo ke tempat Bibi Haruka."
Mobil sedan tersebut berjalan mulus ke arah kota Sumida, membelah jalanan Tokyo yang masih cukup padat meskipun waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Saat mereka masih di sekolah menengah dulu, Asuma akan menjemputnya dan mereka akan pergi ke kedai minumna Bibi Haruka bersama, menaiki motor tua milik ayah Asuma yang sering sekali tiba-tiba mati di tengah jalan. Ada sebuah kebahagiaan kecil di hati mereka karena bisa pergi minum bersama lagi dengan nyaman seperti ini.
Mereka sampai di pinggir timur sungai Sumida setengah jam kemudian dan memberhentikan mobil di samping sebuah kedai minum tua yang kelihatan bisa ambruk kapan saja. Ada beberapa orang yang sedang bernyanyi sekitar tiga ratus meter dari sana—mereka juga menyalakan kembang api, menghidupkan suasana kota yang sebenarnya masih cukup ramai. Kakashi dan Asuma masuk ke kedai tersebut dan merasakan atmosfer nostalgia yang kuat di dalam sana.
"Kau masih merokok, Kakashi?" tanya Asuma, saat pria itu mengeluarkan kotak rokoknya.
Kakashi mengangguk bingung. "Bukankah aku pernah merokok di depanmu?"
"Kemarin-kemarin kau sempat tidak merokok, jadi kukira kau sudah berhenti."
"Oh, aku hanya membiasakan diriku sendiri untuk tidak merokok dihadapan Sakura." Ujar Kakashi pelan. Ia memandang seorang pria yang memberikan dua botol hijau ke hadapan mereka beserta dua sloki kecil, memberikan senyuman terima kasihnya pada pria itu.
"Kau sangat peduli padanya, eh?"
"Tentu saja… dia sudah seperti adikku sendiri."
Kakashi melirik jam tangan hitam di pergelangan tangan kirinya. Sudah hampir jam sepuluh namun Sakura tidak juga mengirimkan pesan apapun padanya. Gadis itu biasanya akan menghubunginya kalau ia akan pulang, apakah ia memang belum mau pulang sekarang?
Layar ponselnya menyala dan Kakashi tersenyum. Bingo.
"Kakashi?"
"Ya." Jawab Kakashi.
"Aku akan pulang satu jam lagi," ujar Sakura dari seberang sana. Suaranya tidak terlalu jelas karena terdengar banyak sekali suara orang bernyanyi disana. "Kau tidak perlu menungguku, ya. Aku akan diantar Kiba sampai ke depan pintu."
Kakashi terdiam. Bukan karena perkataan Sakura tentang dirinya yang masih akan berada diluar selama satu jam ke depan, tapi karena latar suara telepon mereka yang terdengar sangat familiar. Pria itu berjalan keluar dari kedai dan menatap lagi kerumunan orang yang berada beberapa ratus meter dari tempatnya berdiri.
Disana berdiri Sakura yang sedang menutup telinga dengan satu tangan.
"Kakashi?" panggil Sakura lagi. "Kakashi, apa kau mendengar—"
Gadis itu berhenti berbicara saat seorang laki-laki datang menghampirinya dan memberinya kue kacang merah.
"Baiklah kalau begitu, aku akan menutup teleponnya."
Sambungan telepon mereka terputus. Sakura menerima uluran tangan dari laki-laki itu, lalu mereka berdua bergabung dengan kerumunan orang yang sekarang sudah berganti judul lagu.
Kakashi masih berdiri di tempatnya. Ia familier dengan perasaannya sekarang ini. Rasa tidak enak ini bukanlah rasa yang ia rasakan saat di rumah Bibi Karura kemarin, tapi rasa ini sangat sama seperti saat ia memperhatikan Sakura dan laki-laki yang sama itu tertawa bersama di depan kedai teh lemon.
Sudah seperti adik sendiri, eh, Kakashi?
"Sialan." Gumam Kakashi pada dirinya sendiri, menyadari sesuatu.
