karena hari ini hari spesial, w post chapter ini sebagai rasa terima kasih.
.
.
.
Kakashi tersadar dari tidur-tidak-tidurnya ketika suara-suara gemerisik terdengar dari balik pintu apartment. Ia memang sengaja tidak langsung tidur di kamar karena ia ingin memastikan Sakura benar-benar memegang janjinya untuk pulang satu jam setelah ia menelepon tadi.
Pria itu melirik jam dinding dan mendengus. Jam satu pagi. Matanya memperhatikan Sakura dan Kiba dari layar interkom dengan tatapan tidak suka.
Sementara itu Sakura tersenyum dan memberikan jaket yang dipinjamkan Kiba tadi.
"Terima kasih." Ujar Sakura pelan. "Hati-hati di jalan, maaf sudah merepotkanmu begini."
"Ini bukan apa-apa." Jawab Kiba sambil tersenyum. "Dan untuk terakhir kali, aku bersungguh-sungguh saat mengatakan kau perempuan yang sangat keren. Semua orang disana menyukaimu tadi, kau tahu?"
"Itu karena aku datang bersamamu." Sakura bergumam tidak jelas. "Kau ini, tadi begitu bersemangat sampai-sampai ada sisa confetti di rambutmu…"
Tangannya terulur untuk mengambil potongan kertas tersebut. Kiba tersadar dan menekuk lututnya sedikit, berusaha menjajarkan tingginya dengan gadis di depannya agar ia tidak terlalu kesusahan.
"Terima—"
Perkataannya tercekat di tenggorokan saat menyadari betapa dekatnya wajahnya dengan wajah Sakura. Sementara itu, Sakura menelan ludahnya sendiri. Apakah ia akan…
Cup.
…menciumku?
Sakura mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia bahkan masih tetap mematung saat Kiba sudah menarik dirinya kembali.
"Saku…ra?"
Wajah gadis itu memerah, namun sebuah senyuman terlihat di wajahnya.
"Ini baru kencan kedua dan kau sudah menciumku?" tanya Sakura.
"Apa kau marah?"
"Um… tidak juga." Jawab Sakura pelan. "Tapi akan lebih baik kalau kau memberitahuku lain kali…"
"Berarti ada lain kali?"
Sakura tidak sempat menjawab karena percakapan mereka terinterupsi oleh bunyi kunci pintu yang terbuka. Kakashi berdiri di ambang pintu, kedua tangannya terlipat di depan dada, dan Sakura bersumpah ia belum pernah melihat Kakashi seperti itu sebelumnya.
"Kakashi—"
"Masuklah. Ini sudah jam 1 pagi." Ujar Kakashi dingin.
Sakura sadar kalau tidak ada gunanya mendebat Kakashi. Ia mengatakan 'aku akan meneleponmu' ke arah Kiba tanpa suara, lalu masuk ke dalam apartment dengan perasaan campur aduk yang tidak bisa dideskripsikan.
Kakashi masih melipat kedua tangannya di depan dada. Tubuhnya yang lebih tinggi dibanding Kiba mau tidak mau membuat pria itu sedikit mengkerut.
"Kau juga." Ujar Kakashi pelan. "Hati-hati di jalan."
"Baik, Hatake sensei." Jawab Kiba sopan.
"Kau mengenalku?"
"Aku lulusan fakultas pariwisata, sensei dulu mengajar Bahasa Inggris umum untuk angkatanku." Ujar Kiba. "Apakah sensei dan Sakura…"
"Dia adalah sepupu jauhku."
Kiba mengangguk-angguk. "Baik… kalau begitu aku permisi, sensei."
Kakashi terus memperhatikan laki-laki itu bahkan sampai ia berbelok dan menghilang di ujung lorong. Ia masuk ke dalam apartment dan menatap Sakura yang sekarang sedang berdiri di dekat televisi, menatapnya dengan pandangan bersalah.
"Kau… marah padaku?" tanya Sakura takut-takut.
"Kau boleh pulang jam berapapun, Sakura, tapi jangan membohongi aku." Jawab Kakashi dingin. "Bagaimanapun juga kau adalah tanggungjawabku."
"Baiklah, aku minta maaf." Ujar Sakura menyesal. "Apa kau belum tidur dari tadi?"
Kakashi membalikkan tubuhnya. Ada perang batin singkat di dalam dirinya sebelum akhirnya pria itu menghela nafas.
"Sudah. Aku terbangun untuk mengambil air dan mendengar kalian."
"Oh… begitu." Sahut Sakura. "Baiklah, aku akan masuk ke kamar. Selamat tidur… Kakashi."
"Ya."
.
.
"Jadi… kau dan Kiba, huh?"
Sakura bersemu dan tidak menjawab. Disebelahnya, Ino dan Hinata terkikik kecil sambil terus menjahilinya.
"Kalian menyebalkan sekali." Bisik Sakura kesal. Namun seberapa besar keinginannya untuk tidak berekspresi, tubuhnya menolak dan mengkhianatinya. "Maafkan aku, aku hanya tidak bisa berhenti tersenyum…"
"Manis sekaliiii…" Ujar Hinata sambil tertawa.
Mereka terdiam saat pintu kelas terbuka dan Kakashi masuk ke dalam kelas. Sakura tanpa sadar menegakkan tubuhnya dan memandang lurus ke arah pria itu.
Kakashi tiba-tiba saja memperlakukannya dengan tidak biasa. Biasanya mereka akan sarapan bersama sebelum pergi ke kampus, namun sudah dua minggu belakangan ini Kakashi pergi awal dan tidak sarapan bersamanya. Ia hanya akan menjawab sekenanya kalau Sakura bertanya. Ia juga sudah jarang menjahilinya seperti dulu…
"Karui," panggil Kakashi dari depan kelas. "Kelompok berapa yang akan maju hari ini?"
"Kelompok 3, sensei."
Seluruh kelas menghela nafas hampir bersamaan, namun tidak dengan Temari, Tayuya dan Sai yang berdecak kesal. Walaupun terlihat tertekan, tiga orang itu maju ke depan membawa buku dan persiapan presentasi mereka. Kakashi meraih buku absen dan buku penilaiannya, berjalan dan duduk di bangku Tayuya, memperhatikan tiga orang itu dari belakang.
Sakura melirik Kakashi yang sekarang berada tidak jauh dari tempatnya duduk. Pria itu sama sekali tidak menoleh ke arahnya, ia tetap fokus memperhatikan tiga orang mahasiswanya yang sedang mempersiapkan file presentasi mereka. Matanya menatap lurus ke arah proyektor yang mengedip sementara kedua tangannya terlipat di depan dada.
Oke, sudah pasti ada yang salah dengannya, pikir Sakura dalam hati.
"Aku benar-benar tidak tahu kenapa sampai sekarang Hatake sensei melajang," bisik Hinata tiba-tiba. "Maksudku… lihat dia."
Ino mengikuti arah pandangan Hinata dan menggelengkan kepalanya sendiri. Tangannya bertepuk tanpa suara.
"Tuhan pasti sedang pusing saat itu sampai-sampai menjatuhkan malaikat sesempurna dia."
Sakura menoleh dengan pandangan mata tidak sukanya. "Kau berlebihan sekali."
"Kau sangat aneh, kau tahu?" balas Ino gemas sambil mencubit lengan Sakura. "Sebenarnya apa masalahmu dengan Hatake sensei? Sejak pertama kali bertemu dengannya, sepertinya kau tidak pernah menyukainya…"
Sakura sebenarnya ingin sekali bercerita pada kedua temannya tentang siapa Kakashi sebenarnya baginya. Namun karena ia berpikir itu semua akan terlalu rumit untuk dijelaskan, Sakura memilih diam dan membiarkan orang lain menilainya aneh. Gadis itu mengangkat bahu dan menopang dagunya dengan tangan, memperhatikan teman-temannya yang berada di depan kelas.
Seberapa keraspun usahanya untuk berkonsentrasi pada kelas, Sakura tetap tidak bisa menahan diri untuk tidak melirik Kakashi diam-diam. Pria itu masih pada posisinya yang sama, masih menunjukkan ekspresi yang sama—dia juga memakai celana jeans hari ini! Sakura baru menyadarinya dan menggelengkan kepalanya tidak habis pikir. Kakashi benar-benar sudah gila! Dia sendiri yang bilang kalau seorang dosen tidak boleh memakai celana jeans saat mengajar!
Dua jam ke depan berjalan sangat lambat bagi Sakura. Kakashi maju ke depan dan menyampaikan rangkuman dari presentasi kelompok tersebut, lalu meninggalkan kelas setelahnya. Beberapa anak sibuk mengomentari penampilannya—tidak terkecuali Ino dan Hinata yang tidak berhenti-berhenti bergosip tentang dosennya itu.
Sakura menggaruk kepalanya sendiri. Dia merasa tidak terlalu nyaman seperti ini.
"Dia benar-benar terlihat keren memakai celana seperti itu…" ujar Ino menimpali perkataan Hinata sebelumnya. "Bagaimana kalau siang ini kita makan di kedai Paman Akai? Dia memberikan beberapa voucher diskon untukku."
Sakura menggeleng. "Aku harus pergi ke suatu tempat. Mungkin besok?"
"Ah… kencan dengan Kiba?"
Sakura mengangguk sekenanya dan langsung menarik tas. Ia berjalan sedikit cepat—nyaris berlari, lalu benar-benar berlari menuruni tangga. Dengan sedikit terengah-engah, Sakura berhenti di depan ruang dosen dan mencari Kakashi lewat kaca di depannya.
"Sudah pergi? Cepat sekali." Keluh Sakura pada dirinya sendiri.
"Sakura?"
Sakura membalikkan tubuhnya. Ia menatap Kakashi yang berdiri di belakangnya, tangan pria itu memegang sebotol jus yang mungkin baru saja dibelinya dari kantin.
"Se… sensei." Ujar Sakura tanpa sadar. "Apa… sensei masih ada jadwal mengajar setelah ini?"
"Tidak. Ada apa?"
Sakura kehilangan kata-kata yang bahkan sebenarnya tidak pernah ia rangkai sebelumnya. Matanya masih menatap Kakashi lekat-lekat, sebelum akhirnya ia mengutarakan seruntutan kata asal dari bibirnya.
"Mau… makan siang denganku?"
.
.
Sejak kecil, keluarga Kakashi dan Sakura sering sekali mengadakan acara liburan bersama—dan mendadak—. Meskipun pilihan utama mereka lebih sering didominasi oleh villa di gunung, namun tidak jarang pula mereka akan pergi ke pantai dan taman.
Sakura teringat akan restoran sushi yang dulu sering didatangi keluarga mereka saat berjalan-jalan ke kota. Letaknya dekat pantai Odaiba, namun tidak banyak orang yang mengetahui tempat itu karena jalan masuk ke restorannyapun cenderung tertutup. Pemiliknya adalah teman baik Kizashi Hatake dan dari situlah mereka menjadikan restoran ini sebagai tempat yang harus dikunjungi setiap kali mereka ke kota.
Ketika tadi Kakashi bertanya dimana mereka akan makan siang, Sakura segera saja menyebutkan tempat itu. Setelah melakukan reservasi beberapa menit setelah mereka saling setuju, mereka langsung pergi ke tempat tersebut tanpa suara. Sekarang mereka sedang duduk bersisian di depan bar tanpa suara pula—sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Kakashi…"
"Ya?"
"Apa aku melakukan salah padamu?"
Kakashi mengangkat kepalanya. Ia memperhatikan Sakura yang bahkan tidak meliriknya saat ini.
"Kenapa kau bertanya begitu?"
"Karena kau terus-terusan mengabaikanku…"
Kakashi menelan ludahnya sendiri karena ia tidak tahu harus menjawab apa. Ia sudah berusaha menekan perasaannya sebisa mungkin, tidak membiarkan emosi pribadinya mengganggu hubungannya dengan Sakura, tapi ternyata gadis itu masih bisa meraskaannya.
"Katsuo."
Pandangannya teralih saat itamae di depan mereka meletakkan sebuah sushi. Sakura masih tidak memperhatikannya namun tangannya meraih sushi tersebut dan melahapnya. Kakashi melakukan hal yang sama, ia mengunyah potongan ikan segarnya dengan cepat lalu kembali memperhatikan Sakura.
"Aku tidak mengabaikanmu." Ujar Kakashi, nada suaranya melembut. "Maaf kalau kau merasa begitu."
Sakura menoleh sedikit namun ia tidak berkata apa-apa.
"Tako."
Itamae tadi kembali meletakkan sebuah sushi dengan gurita segar di depannya. Kakashi kembali memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya dan memperhatikan Sakura kembali.
"Sakura?" panggilnya.
"Baiklah kalau begitu… mungkin aku yang terlalu sensitif."
Sementara itu, dua buah sushi kembali diletakkan oleh sang itamae.
"Ika."
"Sebenarnya aku memang menjauhimu."
Kunyahan Sakura melambat ketika kata-kata tersebut keluar dari bibir pria di sampingnya. Kakashi menoleh ketika merasa Sakura menatapnya, dan sebuah tawa pahit menemani raut wajahnya yang sudah tidak terlalu dingin.
"Entahlah. Aku sedikit kesal karena kau mengencani Kiba."
Sial, cumi-cumi ini susah sekali ditelan, gumam Sakura dalam hati. Gadis itu menoleh takut-takut dan meringis kecil.
"…kenapa?"
Itamae di depan mereka—Minato—sudah selesai meramu sushi selanjutnya, namun percakapan dua orang di depannya terlihat cukup serius. Ada konflik batin di dalam dirinya. Selama dua puluh lima tahun menjadi sushi chef, ia selalu berhasil menghidangkan jenis demi jenis sushi yang dibuatnya tanpa interupsi. Kenapa sekarang sepertinya sulit sekali baginya menginterupsi pembicaraan kedua orang itu?
"Ma…guro." Ujar Minato takut-takut.
Kakashi dan Sakura tidak terlalu memperhatikan nada bicaranya dan kembali mengambil sushi di depan mereka. Kakashi menghela nafasnya, ia mengangkat bahu sambil menikmati rasa ikan tuna segar yang meleleh di mulutnya.
"Aku tidak tahu." Ujar Kakashi pelan. "Mungkin kau tahu?"
Sakura mengerutkan keningnya. "Kenapa aku mungkin tahu?"
Minato memutar matanya. Bahkan aku yang tidak mengenal mereka saja tahu… tapi aku tidak boleh mencampuri urusan pelanggan.
"Ohyo."
"Wow, Paman luar biasa cepat." Puji Sakura sambil tersenyum.
Itamae itu balas tersenyum. Ia kembali menatap ikan selanjutnya yang harus ia potong, berusaha untuk mengabaikan percakapan dua orang di depannya.
"Aku tidak tahu." Ujar Sakura sambil menggelengkan kepalanya. "Aku benar-benar tidak tahu. Kenapa aku harus tahu? Kau mendiamkanku selama dua minggu, demi Tuhan!"
"Aku tidak mendiamkanmu."
"Oh ya? Lalu kenapa tiap hari kau pulang malam sekali?"
"Kenapa kau bertanya seperti itu? Kau sendiri juga selalu pulang malam, 'kan?"
"Tapi kau pulang jam 2 pagi, Kakashi… setiap malam." Ujar Sakura kesal dengan penekanan pada dua kata terakhir. "Aku pulang malam karena aku harus mengikuti training sebelum benar-benar bisa magang di tempat Kiba bekerja, kau tahu?"
Dada Sakura naik turun menahan amarah. Kakashipun berusaha mati-matian menahan emosinya, tapi rahang pria itu mengeras dan pandangan matanya menajam. Ego mereka sama-sama besar disini. Satu menit terlewat tanpa ada satupun yang mau mengalah—aura ketegangan diantara mereka semakin lama semakin menebal.
Minato memandang keduanya dengan gugup. Tangannya perlahan meletakkan dua potong belut ke depan mereka.
"Una—"
"Kau benar-benar bertindak tidak rasional, Kakashi. Aku sangat kecewa padamu. Dan kau menyebut dirimu sendiri seorang dosen?!"
"Tentu saja kau menjadi lebih rasional—oh benar, kau sudah dua minggu menjadi trainee di perusahaan pariwisata itu."
"Jangan bawa-bawa Kiba dalam masalah ini!"
"Kenapa tidak boleh? Justru dialah yang membuat kita bertengkar seperti ini, kau tahu?"
Minato menatap istrinya yang memunculkan kepala dari balik pintu. Ia menggelengkan kepalanya bingung sambil memohon agar wanita itu membawanya pergi dari sini, tapi ia tahu ia harus menyelesaikan semua sushi sebelum ia bisa keluar dari ruangan panas tersebut. Kushina tersenyum menenangkan, memberi sinyal agar Minato cepat-cepat menyelesaikan sisa sushi yang harus dibuatnya.
"Kenapa Kiba yang membuat kita bertengkar? Kukira kau bilang tidak apa-apa bagiku untuk memiliki pacar."
Kakashi mengerutkan alisnya. "Benarkah? Kapan aku bicara begitu?"
"Saat ulang tahun Bibi Karura. Jangan pura-pura lupa."
Kakashi menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kecil. "Aku tidak pernah bilang begitu."
"Lalu maksudmu apa? Kau boleh punya pacar sementara aku tidak?"
"Um, maaf, apakah Paman harus meninggalkan kalian berdua?"
Kakashi dan Sakura menoleh ke arah Minato—pandangan mereka kemudian beralih pada tiga pasang sushi yang sudah selesai dibuat oleh itamae tersebut dari tadi.
Kakashi berdeham pelan. "Maaf Paman, tentu saja tidak apa-apa kalau Paman tetap disi—"
"Kusarankan Paman bisa mengasah pisau dulu dibelakang… aku ingin sekali mencungkil mata pria ini dengan sumpit."
Minato membungkuk dalam-dalam sebelum akhirnya mengikuti saran Sakura. Ia segera menghilang di balik pintu, terduduk lemas di atas kursi dapur dan menghapus keringat besarnya dari pelipis. Wajahnya hampir menangis saat Kushina datang dan mengusap bahunya dengan sayang.
"Aku benar-benar takut… gadis itu sangat menyeramkan." Adu Minato pada istrinya.
Sementara itu, Sakura sedang memasukkan kairui, kohada, dan tamago di depannya ke dalam mulut secara bersamaan. Set edomae sushinya sudah habis ia lahap, sekarang waktunya untuk membersihkan tangan dan menyesap teh hijau hangat di depannya. Rasa gurih yang meleleh di mulutnya cukup untuk mengalihkan perhatiannya sejenak dari Kakashi, sampai pria itu membuka mulutnya lagi.
"Kau makan seperti monster."
"Kau cari mati, hah?!" jerit Sakura marah. Ia menarik sendok besar di depannya yang berisi wasabi hijau terang dan memasukkannya tanpa ampun ke dalam mulut Kakashi. Wajah Kakashi segera saja berubah menjadi merah padam—Sakura tahu kalau ia memang tidak bisa memasukkan apapun yang pedasnya lebih dari satu buah cabai, dan sekarang gadis itu menyuapinya dengan sesendok penuh wasabi.
"Kau… pheremphuan thidhak wharhas!" kata Kakashi kesal.
"Ya? Ya, terus saja tes emosiku karena aku masih punya satu mangkuk lagi di belakang konter itamae!" jerit Sakura sambil berlari ke belakang konter.
Kakashi dengan cepat menahan gadis itu. Kedua tangannya memegangi lengan Sakura dengan erat sementara ia memperhatikan Sakura lekat-lekat. "Baiklah, baiklah, Sakura… maafkan aku. Kalau aku tahu akan seperti ini jadinya, aku sudah pasti tidak akan membuatmu marah karena ternyata tidak hanya kau makan seperti monster, tapi kau sendiri adalah monster!"
Kakashi mencubit lengan Sakura cukup keras dan segera berlari meninggalkan ruangan tersebut. Sakura menjerit dan segera berlari menyusul Kakashi, namun pria itu terlalu cepat sampai-sampai ia sudah berada di mobil sekarang.
"Kurasa latihan jiu jitsu tiap hari memang berguna bagiku." Gumam Kakashi pada dirinya sendiri sambil menyalakan mesin mobil.
Pria itu tersentak ketika suara berdebam terdengar di depan mobilnya. Disana ada Sakura, memaksakan diri untuk memanjat kap mobil sedan tersebut dengan ekspresi kesetanan.
"TURUN DARI MOBIL SEKARANG!" jerit Sakura. "ATAU AKU AKAN MEMATAHKAN WIPER-MU!"
Kakashi tertawa kecil. "Coba saja kalau kau bera—HEI, SAKURA!"
Kakashi sontak keluar dari mobil saat wiper kirinya dengan mudah dipatahkan oleh Sakura. Tanpa basa-basi ia meraih pinggang gadis itu, menariknya menuju ujung kap mobil dan menguncinya dengan kedua tangan.
"Kau sudah gila, ya?! Kenapa kau melakukan drama seperti ini?"
Sakura menatap pria di depannya tidak percaya. "Tidak ada orang disini!" bisiknya sinis.
"Baiklah, lalu kenapa kau mematahkan wiper mobilku? Harusnya aku yang mematahkan kakimu karena membuatku hampir mati dengan sesendok penuh wasabi!"
"Berhati-hati saja mulai sekarang… karena aku akan selalu memasak makanan yang super pedas!"
Kakashi menggelengkan kepalanya dengan kesal. Sakura saat masih kecil adalah perempuan paling keras kepala yang pernah ia temui… sampai saat ia berhadapan dengan Sakura dewasa yang sekarang.
"Sekarang," ujar Kakashi berusaha tenang. "Apa maumu?"
"Jangan campuri urusanku dengan Kiba, atau siapapun yang akan kukencani besok." Jawab Sakura. Ia masih memperhatikan Kakashi dengan serius, bertolak belakang dengan rambutnya yang sudah acak-acakan sekarang. "Seperti yang kubilang, kau tidak berhak memperlakukanku seperti ini hanya karena aku mengencani seseorang. Percakapan kita di dalam tadi adalah percakapan yang terlama selama dua minggu terakhir ini, kau tahu?"
Kakashi menghela nafasnya. "Baiklah."
"Baiklah?"
Kakashi mengerutkan keningnya. "Bukankah itu yang kau mau?"
"Tidak, aku hanya…" gumam Sakura, namun menghentikkan perkataannya sendiri. "Baiklah kalau begitu. Berjanjilah padaku."
Kakashi menganggukkan kepalanya. "Aku berjanji."
Sakura menghela nafasnya. Ia mendorong dada Kakashi pelan, memberi akses bagi dirinya sendiri untuk turun dari kap mobil dan masuk kembali ke dalam restoran dan mengambil tasnya yang masih berada disana. Kakashi sendiri langsung masuk ke dalam mobil, menyandarkan dirinya sendiri sambil berusaha mengatur nafasnya yang masih sedikit terengah-engah.
Sakura masuk beberapa menit kemudian. Mereka melambaikan tangan pada Minato dan Kushina yang tersenyum takut-takut, lalu keluar dari area restoran tersebut dengan perasaan campur aduk.
Langit sudah dipenuhi rona jingga pekat saat mobil mereka berjalan dengan kecepatan sedang dengan pantai Odaiba di sebelah kiri. Sakura lagi-lagi membuka kacanya sehingga mobil dipenuhi oleh rona jingga tersebut. Kakashi membuka dasbor mobil, mengambil kacamata hitamnya dan kembali mengendarai mobil tanpa suara.
"Kakashi."
"Ya."
"Apa masih ada lagi yang ingin kau katakan padaku?" tanya Sakura pelan.
Kakashi menoleh. Pria itu menggelengkan kepalanya dan kembali fokus ke jalanan lengang di depannya. "Tidak."
"Kau berbohong." Gumam Sakura. "Aku bisa merasakannya…"
"Sekarang kau yang beritahu aku," ujar Kakashi akhirnya. "Menurutmu apa masih ada lagi yang ingin kukatakan padamu?"
Sakura melirik Kakashi sekilas dan menghela nafas. Dirinya sudah lama sekali berpikir seperti ini, tapi ia selalu mengelak dan merasa hal tersebut tidak mungkin…
"Sakura?"
"Apa… kau cemburu?"
Kakashi tidak langsung merespon, tapi cengkramannya pada stir mobil menguat dan rahangnya kembali mengeras. Sakura tidak memperhatikan hal tersebut karena wajahnya bersemu setelah bertanya dan ia memilih untuk menatap pantai Odaiba yang sekarang memantulkan cahaya keemasan. Terdengar hembusan nafas Kakashi, sebelum akhirnya pria itu menjawab.
"Ya."
Saat itulah ada sebuah suara gemuruh besar yang muncul di dalam dada Sakura—seolah-olah sebuah dinding besar yang menjulang antara dirinya dan Kakashi runtuh tanpa sisa. Sakura menolehkan kepalanya dengan pandangan kaget, namun ia tidak bisa membaca air muka pria itu karena kacamata hitam menutupi kedua matanya.
Seolah ada dorongan besar dari dalam dirinya, Sakura menarik kerah kemeja pria itu dan mengecup bibirnya singkat. Kakashi sontak saja terkejut—mobil mereka kehilangan keseimbangan selama beberapa saat sebelum akhirnya menabrak pembatas jalan.
Kakashi memandang Sakura dengan tatapan tidak percaya. "Kau sudah gila?"
"Iya…" jawab Sakura hampir menangis.
Pandangan matanya melembut. Tangannya terulur untuk mengusap pipi Sakura lembut sementara bibirnya tersenyum kecil. "Kau salah—kau tidak seharusnya melakukan itu, bagaimana kalau kita menabrak pengendara lain?"
"Aku tahu—maafkan aku."
Sakura memandang pria di depannya dengan tatapan sayu. Ia melihat tangan Kakashi yang menghela nafas, ia lalu menepikan mobilnya dan menekan tombol hazard.
"Kalau kau ingin melakukan sesuatu yang salah…" gumam Kakashi lirih sambil menutup jarak diantara wajah mereka. "Lakukan dengan benar."
Sakura menutup matanya saat bibir Kakashi menyentuh bibirnya. Hangat, manis… dan anehnya tidak terasa salah, kontra sekali dengan kalimatnya tadi. Kakashi menarik pinggang gadis itu dan berusaha untuk kembali mendekatkan dirinya dan Sakura—yang sebenarnya sudah sangat dekat. Ada sebuah perasaan di dalam hatinya kalau mungkin saja ciuman ini akan menjadi ciuman pertama dan terakhir diantara dirinya dan Sakura…
Sementara itu Chouji turun dari mobil dengan sedikit terburu-buru saat melihat mobil sedan di depannya berhenti dengan kedua sisi lampu berkedip-kedip. Ia memang pria yang sangat baik hati—ia sudah menyiapkan kotak pekakasnya, barangkali ada yang bisa dibantunya untuk memperbaiki mobil itu, sampai ketika ia berhenti di samping kaca pengemudi mobil tersebut.
"Baiklah…" ujar Chouji dengan wajah memerah. "Kurasa tidak ada yang rusak, silakan lanjutkan kegiatan kalian."
.
.
Kakashi tidak melepas genggaman tangannya pada tangan Sakura semenjak mereka turun dari mobil. Wajah gadis itu bersemu tidak karuan sepanjang jalan, sementara Kakashi tersenyum tidak ada henti-hentinya. Mereka sekali lagi berciuman di dalam lift sebelum akhirnya berjalan ke lorong lantai tujuh dan menemukan seorang wanita terduduk di depan pintu unit mereka.
"Kashi!" ujar wanita tersebut dengan gembira.
Kakashi mematung. Begitu juga dengan Sakura, saat merasakan hatinya mencelos. Satu sama lain bisa merasakan tubuh mereka yang sama-sama menegang melihat sosok tersebut di depan unit apartment.
"Mei…?"
.
.
