Author: Ritsuya gum

Katekyo Hitman Reborn milik Akira Amano-sensei

Warning: Mungkin ada typo karena author terlalu malas membaca ulang, OOC

.

.

.

Chapter 2

Pagi hari

Pusat Perbelanjaan

"Untuk apa kita kesini Reborn…-san?"

Reborn melihat Tsuna yang baru saja memanggil namanya, itu adalah pertama kalinya Tsuna memanggil namanya walaupun Tsuna sedikit canggung.

"Kita akan membeli pakaian untuk mu, kemarin kau tidak banyak membawa pakaian jadi hari ini kita akan membelinya"

Tsuna ingat kemarin dia hanya membawa tas berukuran sedang dan itu pun isi nya tidak terlalu banyak.

Reborn sedang melihat-lihat toko yang akan mereka datangi sedangkan Tsuna hanya duduk dikursi mobil sambil berkutat dengan pikirannya.

Tsuna POV

"Harusnya aku memanggilnya dengan sebutan ayah kan? Atau papa? Aku sudah diadopsi oleh nya, dia juga bilang kalau aku adalah anaknya. Tapi dia belum menyuruh ku untuk memanggil nya dengan sebutan ayah"

Mungkin akan kucoba.

"Untuk apa kita kesini Reborn…-san?"

"Shit, kenapa aku malah memanggil namanya" kata Tsuna mengutuk diri sendiri dalam hati.

.

.

.

Normal POV

Tsuna dan Reborn saat ini sedang berada di toko yang terbilang cukup mahal.

"Apa aku akan membeli baju disini? Semua harganya sangat mahal"

"Apakah ada baju yang menarik perhatianmu? Pilihlah semua yang kau mau" kata Reborn.

"Apakah kita tidak bisa memilih toko lain?"

"Kau tidak menyukai toko ini?"

"Aku menyukainya… tapi harga pakaian disini yang tidak kusuka"

Reborn hanya tersenyum mendengar perkataan Tsuna.

"Pilihlah yang kau mau, aku yang membayar semua. Atau kau mau aku membeli toko ini agar kau tidak perlu khawatir tentang harga pakaian disini?"

Tsuna shock mendengar perkataan Reborn. Reborn hanya menyeringai dan ingin beranjak pergi tapi Tsuna menghetikannya.

"T-tunggu, baiklah-baiklah aku akan memilih pakaian nya jadi jangan membeli toko ini"

Reborn tersenyum penuh kemenangan.

"Ambillah sebanyak mungkin, aku akan menunggu"

Dan setelah nya, mereka akhirnya keluar dari toko itu dengan membawa tiga tas penuh.

"Kau belanja banyak juga ya ternyata" kata Reborn mengejek.

"Ini karena kau selalu memaksa ku memilih baju lagi ketika menurutmu itu masih sedikit" kata Tsuna mengumpat dalam hati.

"Sudah waktunya makan siang, taruh barang-barang mu di dalam mobil dan kita makan di cafe seberang sana"

Tsuna dan Reborn pun makan di sebuah cafe yang terlihat cukup klasik tapi banyak menarik pengunjung kesini. Mereka menunggu makanan datang dalam keheningan.

"Besok kau sudah masuk sekolah kan? Mau ku antar ke sekolah?" tiba-tiba Reborn memulai pembicaraan.

"Eh? Tidak perlu, lagipula jarak rumah mu lebih dekat dari sekolah daripada jarak dari panti" tolak Tsuna.

"Kalau begitu pulang sekolah aku akan menjemputmu"

"Ti-tidak apa-apa Reborn-san, aku bisa berjalan kaki" tolak Tsuna lagi.

"Apa kau mau menaiki sepeda? Aku bisa membelikan mu kalau kau ingin"

"Sepeda? Untuk apa?"

"Untuk mu pergi ke sekolah, jadi kau tidak perlu berjalan"

"Kau sudah menghabiskan banyak uang untuk membeli pakaian ku dan sekarang kau masih bisa menawarkan ku untuk membeli sepeda? Se-kaya apa dia sebenarnya" kata Tsuna heran dalam hati.

"Diam berarti iya, aku akan memesankan mu sepeda dan besok kau sudah bisa memakai nya"

Tsuna semakin shock ketika Reborn mengatakan itu, Tsuna ingin menolak tapi sudah terlambat. Reborn sedang menelfon seseorang dan berkata dia ingin membeli sebuah sepeda.

"Sepertinya aku akan kena serangan jantung kalau ini terus berlanjut" kata Tsuna dalam hati.

Reborn sudah selesai berbicara dengan orang di telepon tadi dan dia tiba-tiba teringat sesuatu.

"Kau tidak punya handphone kan? Kita akan membelinya setelah ini agar aku bisa menghubungimu dengan mudah"

Sepertinya Tsuna akan mati muda karena shock berkelanjutan ini.

.

.

.

Hari ini Tsuna akan pergi ke sekolah, selama seminggu ini Tsuna selalu ke sekolah menggunakan sepeda yang dibelikan Reborn.

"Tsuna, jangan lupakan handphone mu" kata Reborn diruang tamu.

"Tsuna menghampiri Reborn yang berada diruang tamu dan mengambil handphone nya yang ada di meja.

"Kau selalu melupakan handphone mu ya, aku jadi tidak bisa menghubungi mu kalau kau tidak membawa handphone mu"

"Maaf, aku tidak akan melakukannya lagi. Aku berangkat sekolah dulu Reborn-san"

Sebenarnya Tsuna ingat untuk membawa handphone nya, tapi Tsuna tidak mau membawanya ke sekolah karena takut pada saat anak yang menindas Tsuna mengetahui dia punya handphone mereka akan merusaknya.

Tsuna selama seminggu ini juga datang ke sekolah lebih awal agar dia tidak ketahuan membawa sepeda. Tapi hari ini Tsuna kesiangan dan dia berharap para berandalan itu tidak melihat Tsuna menaiki sepeda hari ini.

Sekarang Tsuna juga tau sifat-sifat Reborn, dia ternyata lebih pendiam dari yang Tsuna bayangkan. Tapi entah kenapa dia bisa bawel kalau Tsuna tidak menuruti perkataan nya. Reborn juga bisa memasak, bahkan sangat pandai.

Tapi Tsuna belum tau apa pekerjaan Reborn, karena ketika Tsuna berangkat dan pulang sekolah pasti Reborn sudah ada dirumah, Tsuna bahkan tidak tau kalau Reborn sebenarnya pergi bekerja atau tidak.

Tsuna juga mengetahui kalau ternyata Reborn tinggal sendiri. Tsuna awalnya berfikir kalau Reborn itu sudah menikah, tapi ternyata tidak. Tsuna berfikir kenapa Reborn tidak menikah saja dan mempunyai anak dari darah daging nya sendiri bukannya malah mengadopsi anak.

Sesampainya Tsuna di sekolah dia buru-buru memarkirkan sepeda dan berlari ke tempat loker untuk menaruh sepatu.

"Huftt… aman" kata Tsuna.

"Apanya yang aman dame-tsuna?"

Tsuna langsung melihat kearah orang yang baru saja berbicara di belakang nya itu dan ketika berbalik itu adalah si trio yang suka menindas dia.

"Jadi kau menaiki sepeda ya sekarang" kata Hiro sinis.

Tsuna hanya menunduk berharap mereka tidak akan melakukan apa-apa terhadap sepeda yang diberikan Reborn.

"Kapan-kapan aku boleh meminjam sepeda mu kan dame-tsuna?" tanya Hiro menyeringai.

Tsuna hanya diam sambil memegang tas nya erat.

"Belikan makanan, aku lapar"

"Tapi sebentar lagi pelajaran akan dimulai"

"Memangnya aku peduli hah?" kata Hiro sedikit menekan perkataannya.

Tsuna akhirnya menurut saja tidak ingin mencari masalah lagi dan akan pergi ke kantin.

"Siapa bilang kau pergi ke kantin sambil membawa tas mu, berikan tas mu dame-tsuna"

"Untuk apa?" tanya Tsuna curiga.

"Oh? Ada apa ini? Tidak biasanya kau menanyakannya. Apa ada sesuatu yang penting didalam tas itu?"

"Oh tidak" kata Tsuna dalam hati.

"Biarkan kami melihat tas mu"

"Ti-tidak boleh"

"Oh? Kau menolak? Sepertinya harus ada yang diberi pelajaran" kata Hiro menyeringai.

Hiro dan kedua temannya membawa Tsuna ke halaman belakang dan mulai menggeledah isi tas Tsuna. Mereka menemukan handphone milik Tsuna.

"Jadi karena ini kau tidak mau memperlihatkan tas mu hah?" kata Hiro.

"Darimana kau mendapatkan handphone ini dame-tsuna, handphone ini harganya sangat mahal. Bagaimana bisa seorang yatim piatu sepertimu membeli handphone ini" kata Hiro menekan perkataan nya.

Tsuna hanya diam tidak menjawab pertanyaan Hiro, dia hanya pasrah berharap barang pemberian Reborn tidak dirusak Hiro.

"Tidak bisa menjawab nya ya? Jangan-jangan kau mencuri handphone ini ya" kata Hiro menyeringai.

"Tidak! Aku tidak mencurinya!" teriak Tsuna.

"Tidak mungkin dame-tsuna, siapa yang akan mempercayai perkataan mu itu, karena ini adalah hasil curian seharus nya ini tidak pantas untuk dipegang siapapun kan?"

"Eh? Apa maksud-"

Tsuna kaget ketika melihat Hiro menghancurkan handphone milik Tsuna.

"KENAPA KAU MELAKUKAN ITU!"

"Sudah berani meninggikan suara seperti itu kepada ku ya kau sekarang dame-tsuna. Jangan bilang kalau sepeda yang kau pakai juga hasil curian mu"

"Bukan! Aku tidak mencurinya!"

"Sepertinya aku berubah pikiran, aku akan meminjam sepeda mu sekarang, boleh kan dame-tsuna?" kata Hiro menyeringai.

"Jangan!" Tsuna ingin melawan dengan memukul Hiro, tapi Hiro menghindar dan memukul Tsuna di pipi nya.

"Kau mau menyerangku? Berani sekali kau dame-Tsuna"

Seketika Hiro dan kedua temannya memukuli Tsuna sampai babak belur. Mereka pun meninggalkan Tsuna karena Tsuna sudah tidak berdaya.

Tsuna melihat kearah handphone dia yang sudah rusak karena perbuatan Hiro.

"Pasti Reborn-san akan memukul ku ketika tau handphone dan sepeda nya tidak ada"

Tsuna hanya tersenyum miris membayangkan yang akan terjadi. Tsuna sudah tidak bisa mengikuti pelajaran hari ini karena dia sudah babak belur dan bajunya kotor. Tsuna memutuskan untuk pergi keluar sekolah entah kemana.

Hari sudah sore dan murid-murid sudah pulang daritadi, tapi Tsuna tetap duduk di ayunan taman tidak berniat untuk beranjak dari sana.

"Sepertinya aku harus pulang sekarang"

Di pejalanan pulang Tsuna hanya tersenyum miris dan pasrah dengan apa yang akan terjadi ketika Reborn mengetahui barang yang diberikan oleh nya menghilang.

Ketika sampai di depan rumah Tsuna menghela nafas berat dan membuka pintu rumah. Disaat bersamaan Reborn juga ada di depan pintu rumah ingin membuka pintu tersebut.

Tsuna dan Reborn sama sama kaget ketika melihat satu sama lain.

"Kenapa handphone mu mati? Aku menelfon mu berkali kali" Reborn pertama kali memecah keheningan.

"Maaf…"

Setelah mengatakan itu Tsuna hanya diam dan menunduk, Reborn memperhatikan Tsuna dari atas hingga bawah dan dia menyadari seragam Tsuna kotor.

"Kenapa seragam mu kotor?"

Tsuna semakin menunduk tidak mengatakan apapun. Reborn pun menyuruh Tsuna masuk kedalam dan mereka duduk di ruang tamu sekarang.

"Tsuna, tatap mata ku dan katakan apa yang terjadi"

Tsuna ragu ingin bicara tapi diam juga tidak akan menyelesaikan apapun.

Tsuna pun memberanikan diri untuk menatap Reborn, dan Reborn kaget karena baru sadar dimuka Tsuna terdapat luka.

"Maafkan aku Reborn-san, soal aku tidak menjawab telepon mu karena handphone ku dicuri orang, sepeda dari mu juga dicuri" bohong Tsuna.

"Dicuri? Bukan kah kau pergi ke sekolah?" tanya Reborn.

"Iya aku ke sekolah dan pada saat pulang sekolah ada yang berusaha merebut sepeda dan handphone ku" kata Tsuna menunduk.

Reborn hanya diam mendengar perkataan Tsuna.

"Aku menelfon mu pada saat jam makan siang tapi handphone mu sudah mati"

Tsuna kaget mendengat perkataan Reborn.

Tsuna ingin berbicara tapi Reborn sudah mengelak nya.

"Sudahlah, aku akan mengambil P3K dulu untuk mengobati luka mu"

Tsuna melihat kearah Reborn yang sedang mengambil P3K, dan pada saat Reborn kembali Tsuna masih tetap melihat kearah Reborn.

"Ada apa?" Reborn sudah berada di depan Tsuna sambil mengeluarkan apa saja yang akan Reborn pakai untuk mengobati Tsuna.

"Kau tidak akan memukul ku?"

Reborn melihat kearah Tsuna setelah Tsuna menanyakan hal tersebut.

"Untuk apa?" Reborn bertanya balik.

"Karena aku sudah menghilangkan sepeda dan handphone dari mu"

Reborn hanya menatap Tsuna dan mulai mengobati luka nya, ketika selesai barulah Reborn berbicara.

"Aku tidak peduli dengan sepeda atau handphone yang dicuri itu, aku bisa membelikannya lagi untuk mu, asal bukan kau yang dicuri dan kau tidak kenapa-napa itu sudah cukup" kata Reborn sambil menatap Tsuna.

Tsuna pun ikut melihat kearah Reborn yang sedang menatap nya. Tidak lama Reborn mengelus kepala Tsuna.

"Ahh… perasaan nyaman ini lagi" kata Tsuna dalam hati.

"Sekarang ganti baju mu dan makan, setelah itu beristirahatlah"

Tsuna hanya mengangguk dan untuk kesekian kalinya dia menuruti perkataan Reborn.

.

.

.

Dua hari berlalu semenjak kejadian handphone dan sepeda Tsuna diambil oleh Hiro dan dua temannya, Tsuna masih merasa bersalah karena sudah berbohong kepada Reborn.

Tapi Tsuna masih takjub dengan kekayaan yang Reborn miliki, dia tetap membelikan Tsuna sepeda dan handphone baru keesokan harinya, jadilah hari ini Tsuna membawa sepeda ke sekolah.

"Reborn-san akan curiga kalau kejadian seperti itu terulang lagi, aku harus lebih berhati-hati sekarang" kata Tsuna dalam hati.

Tsuna masih tidak berani membawa handphone nya ke sekolah jadi dia menyimpan handphone nya dikamar agar Reborn tidak melihat handphone nya tidak dia bawa lagi.

Pada saat bel masuk berbunyi semua murid mulai duduk di kursi nya karena sebentar lagi guru akan datang. Tidak lama datang seorang wali kelas Tsuna, padahal sekarang bukan pelajaran dari wali kelas nya.

"Hari ini kita kedatangan murid baru" kata wali kelas tersebut.

Seketika kelas menjadi ramai dan mulai menebak-nebak murid baru itu laki-laki atau perempuan, apakah dia cakep atau tidak dan lain lain.

Ketika wali kelas Tsuna menyuruh seisi kelas untuk diam, beliau menyuruh murid pindahan tersebut untuk masuk ke dalam kelas. Ketika masuk seisi kelas berbisik melihat penampilan murid baru tersebut yang ternyata adalah laki laki, memiliki rambut silver, baju tidak dimasukan, dan memakai cincin dan berpenampilan seperti seorang preman.

"Satu lagi berandalan muncul" kata Tsuna dalam hati sambil memutar bola matanya malas.

"Perkenalkan dirimu"

"Nama ku Gokudera Hayato, aku siswa pindahan dari Italy"

Seketika kelas semakin heboh karena orang yang bernama Gokudera itu datang dari Italy.

Wali kelas Tsuna kemudian menyuruh Gokudera untuk duduk dan kursi yang kosong hanyalah di sebelah Tsuna. Gokudera pun berjalan dan melihat kearah Tsuna yang sudah tidak memperhatikan ke depan lagi dan sekarang sedang memperhatikan langit.

"Cih, merepotkan"

Tsuna melihat kearah Gokudera ketika Tsuna mendengar Gokudera berbisik, Tsuna menyadari perkataan barusan ditunjukan untuknya.

"Orang aneh" kata Tsuna dan Gokudera bersamaan dalam hati.

.

.

.

TBC